"Rumi...sebenarnya orang yang aku cinta itu Risya..." ada jeda dalam penjelasan Arka "karena dia sudah dilamar Yuda dan orang tuaku memaksaku agar segera berkeluarga jadi..." terjeda lagi "maafkan aku" akhirnya kata maaf juga yang keluar dari mulutnya. Ditatapnya gadis di depannya yang sudah berstatus istrinya itu. Menghembuskan nafasnya frustasi Arkapun berdiri dan meninggalkan Rumi sendiri di kamarnya.
Gadis itu masih mematung, pikirannya kesana kemari. Rasa takut mennggelayuti hatinya. Kenangannya mem-flashback ulang ketika ayahnya memutuskan menikah lagi. Bukannya dia tidak rela atau tidak senang melihat ayahnya mempunyai pendamping pengganti ibunya. Tapi perlakuan ibu sambungnya membuatnya merasa di singkirkan dari hati ayahnya. Merasa terbuang, tidak dipedulikan dan dianggap tidak penting. Itu semua yang dirasakanya setelah mempunyai ibu tiri. Lalu ia mencoba mandiri menghidupi dirinya sendiri. Sebab apapun yang diterima dari ayahnya, sedikit saja perhatian ayahnya, ibu tirinya pasti cemburu. Lalu berlagak ngambek dan akhirnya timbul pertengkaran ayah dan ibunya itu. Rumi tidak mau itu, Rumi ingin ayahnya selalu bahagia. Ayah adalah cinta pertama putrinya, laki laki yang diandalkannya untuk melindungi seluruh kehidupannya. Tempat dimana segala keluh kesah tercurah, dan obat lelahnya setelah letih menghadapi dunia. Ayah segalanya bagi Rumi. Namun setelah ada ibu barunya, ayah tak lagi sama. Makanya saat Arka melamarnya secara tiba-tiba, padahal mereka pun tidak saling kenal sebelumnya, Rumi menerimanya dengan berpikir positif bahwa inilah jodohnya, inilah waktunya dia pergi untuk mandiri dan memiliki rumah tangganya sendiri. Tak disangka ternyata suaminya sebenarnya tidak mengharapakanya. Dirinya hanya pelampiasan, pengganti atau hanya topeng agar Arka tidak lagi dipaksa atau dituntut macam macam. Bayangan akan dirinya yang akan di abaikan, tak dianggap penting dan disingkirkan atau bahkan mungkin akan terbuang menghantui jiwanya. "Mengapa aku harus merasa seperti ini lagi ya tuhan...belum puaskah kau mencobaku dengan ibu tiriku dan sekarang suamiku...?" rintihnya dalam doanya di kesendirian.
"Mas...kita harus bicara!" Rumi akhirnya memutuskan bicara dengan suaminya. Dia tidak mau diperlakukan seperti orang yang tidak ada artinya.
Arka duduk disofa di depan Rumi, siap mendengarkan apa yang akan di katakan Rumi. Dirinya sadar telah melukai perasaan gadis di depannya ini.
Beberapa menit berlalu keduanya masih diam larut dengan pikirannya masing masing.
"Mas, sebenarnya aku pun belum menyukaimu". Rumi memecah kesunyian."Aku sendiri bingung harus berkata atau bersikap seperti apa setelah pengakuanmu kemarin.Terus aku berpikir kenapa harus aku yang kamu pilih, kenapa bukan gadis lain. Apa aku pantas menerima semua ini? apa salahku sampai kamu tega buat aku jadi tameng dihadapan keluargamu." Rumi mencoba mengeluarkan semua yang dirasakannya. "Aku juga ingin bahagia mas...mungkin saja kan ada lelaki yang tulus cinta sama aku yang mungkin akan melamarku...tapi semuanya ga mungkin lagi. Tidak akan ada lagi yang mau melamarku karena kamu sudah melakukannya mas...tapi kamu melakukannya karena tidak mau terus didesak kan?! atau karena frustasi tidak bisa lagi mendapatkan wanita yang kamu suka? aku ga peduli apapun alasanmu mas...aku ga mau ada perceraian...keluargaku dan keluargamu ga boleh sedih hanya karena keegoisanmu mas" Rumi mengepalkan tangan di pangkuannya menahan emosi. "Terserah kamu akan memperlakukanku seperti apa...hanya seorang teman, pengganti, atau mau menganggap aku tidak ada aku tidak peduli mas. Aku akan melakukan kewajibanku sebagai istrimu karena memang sudah terjadi demikian... apapun yang terjadi statusku adalah istrimu. Maka aku minta padamu bertanggung jawablah atas kalimat yang kamu ucapkan dihadapan penghulu dan ayahku terlebih lagi di hadapan tuhan...jangan jadi pengecut" Rumi berdiri dan meninggalkan Arka yang makin tertunduk mendengar semua yang dikatakan Rumi.
******
Hari berganti bulan, Rumi benar benar melakukan kewajibannya sebagai istri. Melayani Arka layaknya seorang istri. Menyiapkan makan dan minum, mencucikan bajunya, membereskan rumahnya, selalu tersenyum dihadapan Arka, kecuali melayaninya di tempat tidur. Karena selain dirinya belum ada pengalaman, Rumi terlalu minder jika meminta duluan apakah Arka berselera dengan dirinya yang seperti itu.
Arka sendiri masih belum bisa memandang Rumi dengan tatapan cinta. Egonya masih terlalu besar untuk melakukan itu. Tapi untuk uang kebutuhan sehari hari setiap bulan selalu diberikannya pada Rumi, yang tentu saja diterima Rumi dengan senyuman manisnya.
"Assalamualikum" Arka baru pulang dari bekerja seperti biasa.
"Waalaikum salam mas, sudah sampai" Rumi menyambutnya dengan senyumannya sambil membukakan pintu. "Bersih bersih dulu mas, aku siapin meja makan habis itu kita makan malam bareng" katanya lagi masih dengan senyum.
"Hhmm" sahut Arka sambil berlalu menuju kamar tidur.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju santai rumahan Arka keluar menuju meja makan yang sepertinya sudah siap tersaji makanan kesukaannya disana. Sayur capcai tanpa udang, karena Arka alergi udang serta ikan kembung goreng. Arka mulai menyuap makanannya. "Enak banget" batinnya. Tidak bisa menolak makanan dihadapannya Arka terus makan hingga tandas.
Begitulah Arka masih bersikap dingin, seolah belum bisa menerima Rumi sebagai istrinya. Dia belum bisa melupakan wanita impiannya yang sekarang juga telah menyandang status sebagai istri temannya sendiri. Berbeda dengan Rumi yang menjalani harinya dengan antusias. Setiap menit dalam biduk rumah tangganya diisi dengan senyuman secerah mentari. Rumi baru tau kalau Arka punya alergi udang, dengan tubuhnya yang tegap dan gagah itu Rumi ternganga dengan kenyataan bahwa dia paling tidak suka susu putih, lebih memilih susu rasa coklat atau buah. Arka juga sangat menyukai warna putih atau warna soft ketimbang cowok kebanyakan yang suka warna hitam atau biru biar terkesan macho. Setiap pagi menuju kantor Arka selalu mampir di pinggir jalan, berhenti di depan kios sederhana milik seorang nenek penjual pecel. Sekedar membeli 2-3 bungkus dengan uang yang berlebih tanpa mengambil kembaliannya, maksud bersedekah tanpa menyakiti harga diri sang nenek. Lalu dibagikannya pecel itu untuk OB di kaantornya, dan berkata 'tadi belinya kebanyakan' agar si OB mau menerimanya. Bagaimana Rumi bisa tau? karena rasa 'kepo' nya yang tinggi dia mengikuti suaminya tanpa sepengetahuan Arka, tentu saja pakai sepeda motor matic kesayangannya hadiah dari ayahnya dulu. Rumi tidak pernah banyak tanya atau berbicara dengan suaminya. Ia hanya mengamati dan memperhatikan tingkah laku serta apa yang dipilih suaminya itu, jadilah setiap hari seperti seorang detektif yang mencari tau kesukaan suami demi merebut hatinya. Kenyataan-kenyataan yang di temuinya setiap hari membuat hatinya bergetar dan gembira bisa mengetahui sisi lain suaminya.
Arka sebenarnya bukan lelaki berhati dingin dan tidak perhatian. Hanya saja dia terlanjur jatuh cinta pada kawan masa kecilnya Risya, yang ternyata lebih dulu dilamar oleh kawannya sendiri Yuda yang juga suka pada Risya. Sialnya Risya menyambut perasaan Yuda dan merekapun menikah. Bukannya Arka tidak melihat usaha Rumi untuk memasuki kehidupannya, hanya saja rasa yang ada masih tetap untuk Risya sang pujaan hati.
******
Malam ini Rumi membuka kerudungnya dan memakai piama berbahan kain tipis. Sengaja dia berpenampilan seperti itu, bukannya dia murahan tapi kalo menggoda suami sendiri halal saja kan. Walaupun wajahnya tidak secantik Risya, body-nya pun tidak semolek Risya, tapi secara keseluruhan Rumi memiliki tubuh yang porposional dan enak di pandang.
Arka masuk ke kamar mereka dan sedikit terperanjat dengan penampilan Rumi sekarang. Biasanya Rumi tetap memakai kerudungnya walaupun ia mau tidur. "Kamu ga pake kerudung?" tanya Arka pada Rumi.
"Nggak mas, sebenarnya dulu sebelum nikah aku kalo tidur memang ga pake kerudung kok, setelah menikah aku...malu mas kalo buka kerudungku" jawab Rumi sambil tertunduk malu.
"Ternyata rambutnya panjang dan lurus...lihat lehernya yang jenjang...dan...bagian itu ternyata punyanya cukup besar juga...hah...apa yang aku pikirkan...sadar kamu Ar...eeh.. tapi kan dia istriku...semua itu halal kan buatku" Arka bergulat dengan fikirannya sendiri. "Ekhhm...khmm..." dan yang keluar dari mulutnya hanya deheman saja.
"Kenapa mas, kamu batuk?" kata Rumi
"Nggak...nggak kok...ini..cuma agak gatel tenggorokanku" jawab Arka gelagapan.
"Mau kuambilin minum mas?" Rumi tersenyum tipis seperti mengerti yang di pikirkan Arka.
"Nggak usah...nggak perlu..."tolak Arka
"Ehhmm...mas maaf ya aku tanya..." Rumi mendekatkan dirinya duduk di samping Arka, Arka semakin menegang.
"M-mau t-tanya apa?" jawabnya terbata
"Apa...mas Arka gak mau meminta hak mas...di tempat...tidur..." lanjut Rumi dengan wajah yang bersemu merah menahan malu. Arka agak kaget dengan pertanyaan Rumi, dipandanginya wajah yang memerah karena malu itu
"Kok dia manis sekali..." batin Arka
"Sebenarnya...aku....siap...jadi istrimu...seutuhnya...mas..." kata Rumi sambil memalingkan wajahnya karena terlalu malu.
"Apakah malam ini aku boleh meminta hakku dan menjalankan kewajibanku memberimu nafkah batin?" tanya Arka sambil menatap lekat wajah istrinya. Rumi hanya mengangguk dan tersipu malu, wajahnya sudah memerah sampai ke telinga. Tapi anehnya itu malah membuat Arka semakin gemas.
Disentuhnya rambut hitam lurus milik Rumi lembut, lalu tangannya beralih ke dagunya membuat Rumi sedikit mendongak, lalu dengan lembut bibir Arka menyentuh bibir Rumi. Semakin dalam dan lama, selanjutnya adegan dewasa ala orang dewasa berlanjut. Itulah malam pertama Rumi dan Arka setelah 6 bulan pernikahan mereka.
*****
Pagi hari seperti biasa Rumi sedang menyiapkan sarapan di dapur. Hanya saja pagi itu senyum penuh kebahagiaan selalu menghiasi bibirnya. "Apakah ini awal pernikahan kami menuju kebahagiaan" pikiran Rumi masih pada malam panjang mereka tadi malam.
Arka keluar dari kamar sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Menuju ke dapur pandangannya menghangat "Inikah gadis yang sudah ku sia-siakan, yang rela memenuhi kebutuhanku, dan akulah laki laki pertama yang menyentuhnya" terbayang oleh Arka yang terjadi malam tadi, dialah laki-laki pertama dan satu-satunya bagi Rumi.
"Mas, sudah siap? sarapan dulu mas" sapa Rumi setelah menyadari suaminya telah berdiri di samping meja makan.
"Iya...ayo sarapan sama-sama" balas Arka dengan senyuman. Rumi terpana melihat senyuman Arka. Iya, ini pertama kalinya Arka tersenyum dengan tulus padanya.
Ddrrt..dddrrrtt...
Ponsel Arka berbunyi, terpampang nama Risya di sana. Arka ragu untuk menjawab panggilan itu. Tak lama panggilan berhenti. Lalu berganti bunyi pesan masuk. Dilihatnya layar gawainya, lalu menyudahi sarapannya.
"Rum...aku berangkat dulu ya.. assalamualaikum"
"Waalaikumsalam...hati-hati mas"
Rumi tau Risya yang menghubungi suaminya itu. Dan dari ekapresi suaminya tadi dapat di pastikan mereka akan bertemu di suatu tempat. Setelah di pastikan suaminya sudah memacu sepeda motornya. Rumi menggunakan masker dan mengambil motor maticnya mengikuti suaminya dengan jarak tidak terlalu dekat agar suaminya tidak curiga.
Benar dugaannya mereka bertemu di sebuah rumah makan tidak jauh dari kantor tempat suaminya bekerja. Terlihat Risya bergelayut di lengan Arka dan seperti habis menangis mengutarakan uneg-uneg di haatinya. Rumi hapal betul sifat Risya yang manja dan selalu ingin di perhatikan. Mereka bersahabat sudah 4 tahun setelah Risya pindah ke kota ini dan satu kelas dengan Rumi.
Terlihat Arka dengan penuh perhatian mendengarkan keluhan Risya. Risya bercerita tentang rumah tangganya yang tidak seperti diharapkannya. Yuda memang pemuda yang tampan dan bersahaja, hanya dia terlalu dingin dan kurang perhatian pada istrinya.
"Sya...pernikahan itu menyatukan 2 orang yang berbeda dalam satu rumah. Pastinya akan ada perbedaan pendapat tapi disitulah bagaimana caranya kita bisa tetap asik dengan perbedaan itu, bisa tetap menghargai dan menyadari bahwa diri kita pun membuatnya tidak nyaman dengan segala tingkah laku kita" nasehat Arka
"Iya aku ngerti, tapi dia ga pernah mau ngertiin aku. Ga kayak kamu Ka, kamu tu perhatian sama cewek baik, pasti seneng jadi istri kamu" Risya mulai menggoda
"I..iya syukur kalo istri aku seneng, kan kalo istri seneng kita juga dapat servisan yang baik kan?" balas Arka
"Iya sih, bener kamu Ka..he hehe... makasih ya Ka kamu mau dengerin curhatan aku" kata Rasya
"Iya sama-sama, tapi sekarang aku harus ngantor dulu ya...kapan kapan mampir ke rumahku aja...Rumi ada kok dirumah" kata Arka pamit karena harus bekerja
"Oke, kapan kapan aku mampir ya" saut Risya
******
Malam hari menjelang waktu tidur Rumi memberanikan diri untuk menanyakan semuanya pada suaminya. Dia sudah duduk di tempat tidur menunggu suaminya yang masih menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
Arka keluar dari kamar mandi dengan setelan piayama dan menyusul duduk di samping istrinya.
"Hhmm...mas boleh ga aku tanya sesuatu sama mas?" Rumi memberanikan diri bertanya
"Iya tanya apa?" saut Arka sambil menoleh ke arah istrinya
"Tadi pagi aku lihat mas ketemuan ya sama Risya?"
"Loh...kok kamu tau sih, tau dari mana?" jawab Arka cuek
"Ish...ga penting aku tau dari mana...emang kalian ngomongin apa aja?" Rumi mulai kepo
"Kenapa pengen tau, jangan bilang kamu cemburu ya?" Arka menggoda istrinya ingin melihat sejauh apa istrinya menyukainya.
"Ga..gak gitu juga sih...tapi kan aku tu udah lumayan lama sahabatan sama Risya. Kalo dia mau curhat atau cerita kan bisa sama aku mas, kenapa juga harus hubungi suami aku. Nanti kalo mas jadi suka lagi sama dia, aku gimana mas?" wajah Rumi sudah memerah menahan kesal dan cemburunya. Arka tidak bisa menahan senyum di sudut bibirnya melihat kecemburuan istrinya "Kenapa dia semakin manis kalau lagi cemburu gini" batinnya
"Denger ya mas...aku tau kamu nikah sama aku tanpa rasa suka, aku bisa terima mas. Kamu ga peduli sama aku, aku juga bisa terima mas, aku sudah terbiasa kok diperlakukan seperti itu dari dulu. Tapi kalo sampe kamu tergoda sama wanita lain dan berusaha menyingkirkan aku dari pernikahan ini aku ga akan tinggal diam mas" Rumi kembali meluapkan isi hatinya
"Kenapa? kamu bisa cari lelaki yang beneran suka sama kamu kan, lagipula apa yang bisa kamu lakuin" Arka semakin tertarik dengan jawaban istrinya
"Pertama perceraian memang tidak dilarang tetapi di benci Allah mas. Kalo sampe kamu tergoda sama wanita yang lain mas, aku akan lebih menggoda kamu di rumah. Ya aku memang tidak secantik dan sesexi Risya, tapi aku bisa memperlihatkan seluruh tubuhku hanya di depanmu mas, aku akan kasih pelayanan yang paling prima buat kamu"Rumi mengatakannya dengan menggebu-gebu
"Buahahaha...ha..ha..." Arka tidak bisa lagi menahan tawanya
"Yee...malah ketawa, aku serius mas, dari awal pernikahan kita aku sudah menetapkan hatiku bahwa kamulah suamiku, jodoh yang dikirim tuhan untukku, sekarang semua kesalahan dan dosaku kamulah yang akan bertanggung jawab, dan dengan adanya suami maka seorang istri dapat meraih surganya. Karena surga seorang wanita yang telah menikah adalah suaminya. Jadi mas kamulah jembatan surgaku, yang akan mengirimku ke surganya Allah. Makanya apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan jembatan yang sudah diberikan tuhan padaku" jelas Rumi panjang lebar. Arka terdiam dengan penjelasan Rumi diraihnya tubuh istrinya itu di peluk erat, diciumnya pucuk kepala istrinya lama.
"Terima kasih sayang, karena mau bersabar untukku. Terima kasih masih mau menjalani jembatan yang jelek kayak aku. Mulai sekarang kita jalani rumah tangga kita dengan baik supaya bisa masuk ke dalam surga Allah bersama sama dan jadilah bidadariku di surga nanti" kata Arka sambil terus memeluk istrinya
Dan malam panjang pun berlanjut....
TAMMAT
BERI komen dan saran ya genks...