What's doesn't kill you make you strongger.
Korban bully, tak banyak yang tahu kalau saya adalah korban bullying di sekolah baik di sekolah umum maupun sekolah madrasah.
Cukup banyak rasa sakit yang saya terima baik verbal terkadang fisik. Menjadi anak pendiam dan memiliki tubuh paling tinggi diantara teman sebaya terasa menjadi kutukan diwaktu itu.
Disetiap jam istirahat sekolah saya selalu memisahkan diri dari teman-teman sekolah dan menyendiri di ujung balkon perpustakan sekolah duduk di kursi yang hanya ada satu disudut balkon dan selalu memandang ke arah bawah lantai satu. Mencari-cari sosok pria berkaki panjang yang terkadang selalu mampir ke sekolah untuk melihat anak gadisnya bersekolah.
Yaa dia Adalah ayah, My Dad is My hero. Setiap kali kulihat jaket berwarna merah itu hadir di lapangan sekolah sekonyong-konyong aku akan berlari kencang dari lantai tiga menuju lantai satu untuk berlari kepelukan Ayah 😘😘😘 yg akan selalu menyambutku dengan penuh kehangatan dan uang jajan tambahan pastinya.
Karena sosok yg gagah inilah, semua bullying yg kudapat tidak terasa menyakitkan. Karena tak ingin senyum di wajah ayah berubah menjadi lengkungan sedih kuputuskan waktu itu untuk tidak mengadu dan menghadapi semuanya sendiri.
Tetap bertahan pasti bisa berlalu, waktu itu pasrah menerima segala bentuk kekerasan verbal dan fisik adalah cara terbaik untuk berdamai dengan rasa takut-ku.
Bertahun-tahun di sudut balkon itu, selalu mengumpulkan kekuatan untuk bertahan. Yah bisa dibilang sudut balkon itu adalah tempat bersemedi untuk mengumpulkan kekuatan untuk bertahan dari kejahatan mereka.
Sampai pada akhirnya kuputuskan melawan ketika mereka mulai berani memfitnah ku mencuri sesuatu. Barang kepunyaan teman sekelas bahkan mereka menaruh barang tersebut di laci meja kelas ku.
Dan membuatku terlihat seperti pencuri. Pada saat itu aku benar-benar menangis . Disakiti secara verbal dan fisik aku masih sanggup untuk menahannya. Tapi dilabeli pencuri benar-benar membuatku marah dan hilang akal, dengan langkah yang sigap kudatangi ketua geng bullying dan mulai menjambak rambutnya kemudian ku lempar ke lantai, dan ku duduki badannya yg sudah rebahan terjatuh ke lantai.
Dengan ganas aku tampar pipinya lalu aku berdiri meninggalkan dia yg menangis dan teman-temannya yg nampak ternganga dengan sorot sinar mata yg ketakutan.
Setelah kejadian itu, satupun tidak ada yang berani lagi melakukan bullying kepadaku. Yah terkadang bereaksi untuk membela diri itu perlu meski diam lebih baik.
What doesn't kill you make strongger. Merasa bersyukur bisa melewati masa itu dengan baik, merasa bersyukur karena ternyata di masa itu Mental berdikari ku sedang dibentuk untuk masa kini. Alhamdulillah saat ini selain menjadi wanita Karir tak disangka bisa memiliki dua usaha .
Apa yang terlihat buruk untukmu belum tentu hasilnya buruk untukmu.