kini, hari ini, sampai akhir nanti
aku, akan membawamu pergi menuju masa paling kalian kenang. Bukan masa anak – anak, remaja, dewasa bukan juga berjuang berpandang mata untuk indonesia. Melainkan masa rumit yang sang sang kakekku yang berumur delapan puluh tiga tahun yang memiliki rasa perjuangan yang berat, tidak pernah runtuh walau terpenuhi beban kegelapan dunia, dan membuat rasa percaya bahwa cahaya tidak akan pernah meredup
Awal mula cerita ini merupakan kisah sang kakek dan hanya memiliki sepatah kata yang dapat kalian rasakan didalam raga kalian
“ Semenjak rasa ramah terlalu tercampakan , dan menjadi halauan rasa persaudaraan, mereka hanya akan menjadi cemaran kehidupan”
Itu adalah tulisan pertama dibuku kuno kakek yang berdebu, kemudian aku membawa buku kuno antik tersebut kepada sang kakek dan menginginkan kakek berbincang mengenai cerita masa muda dan masa perjuangan sang kakek.
itulah kata yang bisa didengar melalui otak kakekku lalu menceritakan permasalahan kakek semasa muda sebelum menikah. Setelah berbincang dengan kakek, Ayah dan Ibuku ikut serta sembari menepuk pundakku. Sekeluarga kami berbincang mengenai cerita kakek semasa muda dan tidak menggoyahkan rasa percaya diri Bumi Pertiwi. Bukan berperang, bukan juga berprilaku nasional namun untuk perjuangan merangkai kata – kata kerja keras.
Aku mendengar cerita yang sang kakek katakan, dan kakek pun tersenyum sembari menceritakan masa hidupnya selama ini, yang seolah – olah terasa seperti pintu beraroma bawang dan dan terasa seperti cabai. Yang ternyata membawa rasa hampa mengira ia akan musnah diterjang pukulan berkali – kali hentangan bagaikan air terjun yang jatuh ribuan kali tampa henti.
Saat sang kakek terlahir, ia merasa beruntung mempunyai Ibunda dan Ayah yang pengertian. Setiap nafas selalu dipandang, setiap luka selalu terpandang. Hanya terlahir dari orang sederhana, namun nampak bahagia. Seolah didunia ini hanya keluarga mereka yang tersenyum, walaupun banyak rintangan masih beranjak entah itu berat ataupun ringan.
Saat kakek berusia beranjak sebelas tahun ia tidak bersekolah, rasa bercanda ria di rumah tempat belajar terbayang dibenaknya. Ia berharap bahwa bersekolah adalah hal yang besar untuk menggapai mimpi, terbayang rasa suka ria, canda tawa di sekolah bersama teman dan melewati sawah perkebunan yang rimbun akan menambah rasa bersyukur kepada Dewi Pertiwi karena badai selama berabad – abad, pembantaian keras menompang jiwa dan raga sudah tiada pergi beranjak seolah seperti angin yang reda setelah hujan.
Setelah ia merenungkannya, ia juga merasa bersyukur akan hadirat tuhan .
“ setidaknya, aku hidup bersama sesama. Bermimpi saja sudah cukup bagiku, karena tidak ada ruginya tidak bersekolah aku juga bisa membantu kedua orang tuaku untuk menggampai tujuanku selama ini sebelum orangtuaku tiada nanti!,” katanya sembari mengangkat padi dekat sawah milik juragan kaya dipediamannya.
Karena ia membantu juragan tersebut, ia mendapat sejumlah upah yang tak sebanding dengan kerja kerasnya, yang cukup untuk membeli segelas teh hangat dan beras segenggaman tangan. Lalu pergi menuju rumah untuk memasak.
Saat beranjak pergi kerumah, ia mendengar percakapan didekat pekan raya dengan sekumpulan orang – orang yang meminum minuman keras.
“ Sudarma sungguh gila, bekerja keras demi menyekolahkan anaknya , anaknya itukan sudah besar dan jika disekolahkan ia tak akan mengerti apa – apa disana, hanya membuang – buang hasil kerja saja,” kata seorang peminum tersebut.
Dengan penuh tangis ia beranjak pergi dengan hati – hati supaya segengam beras yang ia bawa tidak terberak diatas tanah.
Didapur, ia melihat tungku yang kosong yang habis dicuci. Rasa lapar membuat ia merasa sesak karena tangis
“ Mengapa ini terjadi pada keluargaku?!, rakyat disana yang berkecukupan masih memandang hasil kerja keras kami sebagai sarana mulut mereka! , apakah engkau merasa tidak cukup untuk melihat kedua orang tuaku untuk mencari nafkah dengan terik panas matahari buatanmu?,” katanya sembari mengambil topi dan cangkul kepada ayahnya.
Hanya rakyat biasa yang tau apa yang dirasakan ketika kedua orang tuanya bekerja keras. Pernah terbayangp rasanya hidup layak dan berkecukupan, tidak merasa terbebani akan kerja panting tulang demi mencari sesuap nasi dan tiba – tiba kakek tergelak dalam dada dan merasa satu langkah maju untuk berjuang atau bisa dikatakan ribuan langkah bagi sekumpulan kaum semut untuk mencari sebuah gula murni.
Tahun demi tahun berlalu, kedewasaan kita seperti kuburan bagi hatinya. Kesan memori tersimpul dalam benaknya. Satu persatu kasih sayang pergi bersama orang yang telah tiada. Sesungguhnya ia tidak pernah terlihat tersenyum dalam sepi dan tidak pernah merintih tangis dalam senyuman ramai.
Saat sang ia beranjak remaja, kedua orang tuanya pergi untuk selamanya karena penyakit yang menyerang organ dalamnya. Kisah kejenakan berubah menjadi mengeraskan. Tidak ada kisah canda tawa dikediamannya dan tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Mimpi kakek untuk membahagiakan kedua orang tuanya hangus terbawa kobaran api.
Rumah yang kosong seperti goa, kelelawar bagai peralatan rumah, kedua orang tua bagai bekas jejak tanah , dan kakek seperti dinding goa yang kokoh walau diterjang badai. Gelap malam tercampur suram. Ia tak bisa tertidur, termenung sembari mengenang dan melihat dapur tempat rasa lapar hilang karena masakan ibunda dan tempat tidur yang terlihat ingin rubuh akibat diterjang hujan yang dikarenakan atap yang bocor.
Sawah tiada yang membuat semangat, Makanan tidak ada yang membuat nikmat. Patah hati dan merakit hening dalam kematian. Tetapi ia teguh untuk menggapai cita untuk menjadi orang yang sukses.
“ Kedua orang tuaku mungkin telah tiada dan tenggelam0 didasar laut. Tapi jiwa kedua orang tuaku akan bangkit bagai bintang dimalam hari ,“
Bergegaslah terbit matahari untuk memulai hari yang baru dan bekerja mandiri untuk masa depan nanti. Usaha tak akan pernah sia – sia.
Setiap pagi, ia pergi ke sawah untuk mengusir burung yang memakan padi. Takkan ada kata bosan dan malas dalam pundakknya. Teguh melawan tangis membuat kakek merasa tenang. Ini hanyalah bumi, bukannya surga yang
tidak ada kata kerja keras dan bukan neraka yang tidak pernah ada kata senyuman.
Setiap sisa upah, ia berikan untuk berdoa dikuburan orang tuanya agar senantiasa diberikan rezeki olehnya. Tampa ada rasa takut kakek membuka kuburan kedua orang tuanya, bukan untuk hal buruk tapi hanya mencari kaki sang ibu dan ayah dan menaruhnya dikepala hasil dari kandungan ibunya yang merasakan sakit dan penderitaan.
Ia tersenyum dan mengubur kedua orang tuanya lagi dan tiba – tiba ada suara yang ia kenal ya itulah suara sang ibunda dan ayahnya.
“ manusia memiliki tujuan yang berbeda, tapi dari sisi lain hanya ada tiga kegiatan utama yang bersumber dari tuhan. Anakku Ibu dan ayah bangga padamu ,” entah dari mana suara itu berasal , tetapi kakek merasa beryukur dan mengerti apa yang beliau katakan
“ Ibu, engkau berkata ada tiga kegiatan utama yang berasal dari tuhan , yaitu diciptakan lalu hidup dan mati. Aku merasa bersyukur untuk dasar kemanusiaan yang ibu berikan . Terimakasih bu aku beruntung mempunyai ibu dan ayah selama ini" katanya didalam hati sembari mencakupkan tangan .
Setelah berdoa dan memohon perlindungan kepada kedua orang tuanya , Lalu pergi menuju rumah, membawa kain sutra jahitan ibunya dan sejenis cangkul lalu membawanya pergi ke tempat peristirahatan kedua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya lalu membawa jarum, benang dan topi untuk disimpan didalam peti.
Setelah melakukan kegiatan tersebut, ia menunggu seharian penuh di kuburan tersebut dan menginap disana setiap bulan untuk mengingat masa kejadian yang penuh duka tersebut. Kobaran jiwa penuh untuk kerja keras, tak kenal menyerah demi putus asa dan tak mengeluh untuk keadaan yang abadi.
Begitulah perjuangan sang kakek, makhluk yang pantas disebut manusia dibandingan manusia lain yang bersifat seakan tidak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kecil walau dia sendiri manusia. Manusia yang tidak memiliki rasa manusiawi dan kemanusiaan karena memandang remeh karena selembar kertas, sebuah benda, dan sebuah rasa penuh ketempurukan.