Inilah kisah tragis yang terjadi antara aku dengan cinta pertamaku. Awalnya aku tidak mengerti apa itu cinta, namun ketika cinta itu datang aku pun jadi terlena dengan senyuman manisnya. Senyum indah yang selama ini terarah padaku, seketika sirna di saat aku mengetahui siapa sebenarnya orang itu.
Sebelum masuk ke bagian cerita, akan kuperkenalkan siapa diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Bella Feyana dan biasa dipanggil dengan sebutan Fey. Aku adalah putri tunggal seorang pemilik perusahaan penyedia jasa keamanan ternama yang biasa disebut SC. Penyedia jasa keamanan ini hanya terlihat dari kesan luarnya, namun jika ditelisik lebih dalam ada beberapa divisi yang dikategorikan sebagai pembunuh bayaran.
Sebenarnya pewaris perusahaan ini diutamakan bagi anak laki-laki dari sang direktur utama, namun karena ayahku hanya memiliki seorang putri maka aku lah yang nantinya akan mewarisi perusahaan tersebut. Sering kali kemampuanku diremehkan hanya dengan alasan kalau aku ini adalah anak perempuan. Karena cibiran itulah aku mengikuti berbagai macam pelatihan hingga di usia 21 tahun ini aku sudah mencapai tingkat kemampuan level tinggi di SC.
Selama ini aku terlalu fokus mengikuti latihan sehingga sampai di usia kepala dua ini pun aku tidak begitu peduli dengan masalah asmara. Banyak juga sih pria dari keluarga ternama mendatangiku berulang kali dan berusaha untuk mendapatkan hatiku. Namun, di balik itu semua pun aku sudah tahu selalu saja ada udang di balik batu. Kedatangan mereka sama sekali tidak disertai ketulusan. Sebab, selalu saja ada niatan dalam hati mereka untuk mendapat keuntungan besar jika antara aku dengan salah satu dari mereka menjalin suatu hubungan.
Pilihan untuk hidup menyendiri tanpa adanya seorang kekasih selalu aku lakukan. Yah, lebih baik fokus kepada tugas yang diberikan lah. Itung-itung itu pun bisa mendatangkan penghasilan besar yang bisa memenuhi isi brangkas pribadiku. Meskipun aku ini adalah putri kandung sang direktur, tapi tetap saja aku harus bekerja keras terjun langsung dalam tugas untuk mendapatkan uang.
Namun, suatu hari prinsip untuk hidup menyendiri ini mulai goyah saat aku bertemu dengan seorang pria yang istimewa di mataku. Kejadian itu terjadi sekitar 5 bulan yang lalu saat aku sedang lari pagi di sekitar taman kota. Tanpa sengaja aku melihat seorang pria yang tengah membagikan bunga mawar gratis di hari kasih sayang. Banyak wanita dan anak-anak yang senang mendapat pemberian mawar gratis dari pria itu. Setelah diamati cukup lama, aku pun juga tertarik untuk mendapatkan satu tangkai mawar darinya.
Perlahan kaki ini melangkah ke arahnya, "Permisi! Bisakah aku mendapatkan satu tangkai mawar terakhir itu?" tanyaku dengan senyum manis.
Pria itu pun menoleh ke sumber suara dan mendapati aku yang berada di sampingnya, "Oh tentu. Ini nona mawar terakhir khusus untuk anda!"
Aku pun menerima mawar itu, "Terima kasih. Mawar ini sangat harum dan cantik." ucapku sembari menghirup aroma mawar tersebut.
"Mawar itu sama cantiknya seperti nona."
Aku pun terkejut mendengar ucapan itu, "Benarkah?" pria itu pun merespon dengan anggukan disertai senyuman manis di wajahnya. Selama ini kecantikanku selalu dibandingkan dengan sesuatu yang bernilai mahal seperti halnya emas, permata, intan, ataupun berlian. Namun, batu kali ini ada yang mengatakan kalau diriku secantik bunga, apalagi ini bunga gratisan. Entah kenapa meski terkesan sederhana namun terasa istimewa.
"Oh iya, siapa namamu?" tanyaku penasaran.
"Namaku Tristan Oliviandra. Dan biasanya aku dipanggil dengan Andra."
"Nama yang bagus. Oh ya kenalin aku Bella Feyana. Panggil saja aku Fey!" ucapku sembari menjulurkan tangan sebagai salam perkenalan. Andra pun menerima salam perkenalan dariku dengan menggenggam telapak tangan yang lebih dulu aku ulurkan padanya.
Sejak itulah kami berteman. Setiap lari pagi aku sempatkan untuk menemuinya sebelum menjalankan tugas. Beberapa hari kemudian aku mengetahui kalau ternyata Andra memiliki usaha toko bunga. Usaha miliknya terbilang lancar karena setiap hari banyak pembeli yang datang untuk mendapat karangan bunga darinya. Kebanyakan sih para pembelinya itu wanita. Ya maklum saja, siapa sih yang tidak terpikat untuk membeli bunga dari penjualnya yang tampan dan juga ramah?
Rupanya aku pun juga termasuk dari salah satu pembeli yang mulai terpikat. Seperti lebah yang datang hinggap ke bunga untuk mencari madunya. Ilustrasi itu pun mirip denganku yang selalu datang bertemu Andra untuk mendapat hatinya. Namun, terkadang sempat terpikirkan dengan sikap ramahnya kepada semua orang akankah aku ada peluang untuk terlihat istimewa di matanya?
Pertanyaan itu pun terjawab di saat musim semi yang begitu indah dia menembakku dengan panah asmaranya. Di dalam toko bunga saat pembeli sedang sepi, tanpa diduga Andra berlutut di depanku sembari mengatakan, "Fey, maukah kamu menjadi kekasihku?" seketika aku seolah mati kata.
"Jika kamu menerima mawar ini sama halnya kamu menerima cintaku yang tulus terhadap dirimu." Andra masih berlutut di depanku sembari menyodorkan satu buket bunga mawar merah muda dan nampak berharap aku akan menerimanya.
Tanpa pikir panjang karena aku juga menyukainya, maka tidak perlu alasan lain pun aku langsung menerima pernyataan cinta itu. Perlahan aku mulai meraih buket bunga mawar itu dari tangannya, "Iya aku mau."
Andra nampak sangat senang dan langsung memelukku erat. Baru pertama kali aku menerima pelukan dari seorang pria dan ini terasa sangat hangat. Rasanya jantung ini hampir meledak dan pasti sekarang wajahku pun semerah tomat rebus. Sebaiknya aku tenangkan diri dulu dalam pelukan ini supaya Andra tidak tahu kondisiku sekarang yang sedang tidak menentu.
"Terima kasih ya, akhirnya kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu. Sudah sejak lama aku menyukaimu, tapi aku selalu ragu untuk menyatakan perasaan ini padamu. Takutnya jika aku jujur kamu malah menjauh dariku." ucap Andra yang kini merasa lega bisa memiliki Fey.
"Aku kira hanya aku saja yang menyukaimu. Jujur, aku sangat senang setiap kali melihatmu tersenyum. Tapi, karena kamu selalu senyum kepada siapa saja aku pun berpikir kalau peluangku sangat kecil untuk bisa terlihat spesial di matamu." tanpa sadar aku menyatakan apa yang selama ini aku pendam kepadanya.
"Eh, iya kah?" aku pun membalasnya dengan anggukan ringan. Rupanya selama ini kami berdua saling menyukai satu sama lain secara diam-diam. Namun, ketika semuanya sudah terungkap tidak perlu ada hal yang disembunyikan lagi.
Tiba-tiba ponselku berdering. Setelah aku jawab, panggilan itu berasal dari ayah. "Iya ayah, ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu sekarang ada di mana?" tanya Pak Bey.
"Oh, aku sedang berjalan-jalan di sekitar kota. Apakah ada perlu denganku?"
"Temui ayah di perusahaan sekarang juga! Ada yang mau ayah sampaikan padamu."
"Iya ayah aku akan segera ke sana."
Setelah panggilan berakhir, tidak ada pilihan lain aku harus pergi menemui ayah meski ini hari pertamaku jadian dengan Andra, "Maaf ya aku harus pergi sekarang."
"Iya tidak apa-apa." jawab Andra memaklumi.
Tanpa sadar buket bunga pemberian Andra ini aku bawa sampai ke perusahaan. Saat tiba di tempat tujuan, aku langsung menuju lantai teratas gedung SC tempat terdapatnya ruang direktur utama. Rupanya ayah masih menunggu kedatanganku sembari minum teh di meja kerjanya.
"Kamu sudah datang?" ucap Pak Bey saat mendapati putrinya sudah ada di sana.
"Iya. Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kemarilah sebentar!" aku pun langsung mendekat ke meja direktur utama. Pak Bey langsung memberikan laporan hasil kerja Fey selama menjalankan tugas. Dalam laporan tersebut membuktikan bahwa kinerja Fey sempurna.
"Selamat berkat dirimu semuanya jadi berjalan lancar." tidak biasanya Pak Bey memuji pekerjaan orang lain jika tidak karena itu benar-benar memuaskan dirinya. Mendapat pujian itu pun Fey hanya merespon dengan senyuman.
"Tapi, ini baru awalan saja. Tetap pertahankan hasil ini sampai tugas yang akan menanti kedepannya!"
"Siap ayah!" ucapku sembari memasang sikap hormat.
"Kamu pasti lelah. Sebagai hadiah aku akan memberimu cuti selama tiga bulan. Kamu bisa berlibur ke tempat manapun yang kamu suka. Bahkan jika itu ke luar negeri pun tidak masalah."
Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan, namun kali ini aku hanya ingin tetap berada di sini karena seseorang. "Sebelumnya terima kasih atas apa yang telah ayah tawarkan kepadaku, itu tadi sungguh penawaran yang bagus. Tapi sepertinya kali ini aku hanya akan bersantai di sekitaran kota ini saja."
"Baiklah kalau itu yang kamu mau."
"Ya sudah, aku permisi dulu ya ayah." Pak Bey meresponnya dengan anggukan.
Saat Fey berbalik badan dan mulai melangkah pergi, Pak Bey melihat buket bunga yang dibawa Fey. "Tunggu! Bunga dari siapa itu?"
Langkahku pun terhenti. Perlahan aku kembali berbalik untuk menjawab pertanyaan ayah, "Oh ini tadi aku beli di toko bunga dekat taman kota." jawabku dengan gugup.
"Tumben sekali kamu membeli bunga. Biasanya meski diberi pun kamu tidak suka." Pak Bey mulai curiga.
"Oh mungkin itu dulu, tapi akhir-akhir ini aku mulai tertarik dengan bunga." jawabku seolah menyakinkan supaya beliau tidak semakin curiga.
"Hmm... Begitu rupanya. Ya sudah lanjut saja kalau kamu kamu pergi!"
Aku pun segera melanjutkan langkah keluar ruangan. Rasanya sudah tidak sabar untuk menjalani hari liburku bersama dengan dirinya. Rasa senang yang tidak bisa terbendung ini membuatku berjalan sembari bersenandung ria. Beberapa pasang mata orang di perusahaan pun terarah padaku karena bagi mereka ini adalah momen langka yang sangat jarang terjadi.
Malam hari selesai mandi aku hendak bermain game sebentar di ponsel. Tapi saat kubuka kunci layar ada notifikasi panggilan tidak terjawab sebanyak tiga kali dari nomor tidak dikenal. Merasa tidak mengenali nomor tersebut, ya sudah aku abaikan saja.
Tak lama kemudian, ada panggilan masuk dari nomor yang sama. Karena penasaran coba aku terima saja panggilan itu, "Halo... Ini dari siapa ya?"
"Masa kamu sudah lupa sih sama aku?"
"Hei, jangan main-main denganku ya! Ini siapa?"
"Hahaha... Kamu begitu saja langsung ngegas. Ini aku, pria yang tadi siang menyatakan cintanya padamu."
"Andra?"
"Iya, sayang."
Seketika jantungku rasanya mau copot. Baru kali ini aku dipanggil sayang oleh seorang pria. Tapi, justru aku merasa senang jika dia memanggilku seperti itu. Efek dari terkejut ini membuatku terdiam beberapa saat.
"Kamu tidur ya sayang?" tanya Andra yang merasa sunyi saat Fey tiba-tiba terdiam.
"Oh nggak kok. Ada perlu apa menelfon malam-malam begini?"
"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suara manismu saja." ucap Andra dengan lembut.
"Ih, apaan sih?" aku pun jadi tersipu malu. Lalu, aku pun teringat ada hal yang aneh dengan ini. "Oh ya, ngomong-ngomong kamu dapat nomorku dari siapa? Perasaan aku tidak pernah memberitahumu soal nomorku."
"Kamu nggak ingat ya? Waktu itu kamu sendiri lho yang memberitahu nomormu padaku."
"Eh iya kah? Kapan? Aku tidak ingat."
"Waktu kita berdua membantu anak kecil yang kehilangan kucing kecilnya. Kita berdua kan berpencar dan kamu kasih tahu nomormu supaya mudah untuk komunikasi saat kucingnya sudah ketemu." jelas Andra.
Seingatku memang dulu aku pernah pergi bersama Andra mencari kucing yang hilang, tapi aku tidak ingat jika aku memberitahu nomorku padanya. Atau jangan-jangan aku sudah lupa ya? Memikirkan keanehan ini aku pun kembali terdiam.
"Nah kan diam lagi."
Aku pun terkejut, "Eh iya maaf."
"Kalau kamu nggak ingat tidak perlu diingat-ingat lagi terlalu dalam. Yang terpenting kan sekarang kita berdua sudah saling tahu nomor masing-masing."
Kecurigaanku pun perlahan luluh dengan suara lembutnya Andra. Rasanya sangat nyaman bisa rebahan sembari mengobrol dengannya. "Oh iya, aku punya berita bagus."
"Berita bagus apa?" Andra nampak penasaran.
"Akhirnya aku dapat cuti panjang selama tiga bulan kedepan." ucapku penuh semangat.
"Wah, selamat. Enak tuh buat liburan."
"Oh iya, kamu mau menemaniku liburan nggak? Kita pergi saja ke tempat wisata terdekat saja." aku sangat berharap Andra bisa meluangkan waktu untuk bersamaku saat liburan.
"Kalau untuk waktu dekat ini nggak bisa aku."
"Yah, kenapa?" aku merasa sedikit kecewa.
"Ada banyak pesanan karangan bunga buat nikahan. Sudah dua minggu ini pesanan selalu saja datang."
"Hmm..."
Tidak ingin membuatku kecewa lebih dalam, Andra menawarkan sebuah ide, "Bagaimana kalau liburan bersamanya di akhir bulan ini saja?"
"Yah, kan masih dua minggu kedepan. Nunggu kelamaan yang ada aku malah bosan."
"Iya. Sembari nunggu buat liburan daripada bosan, kamu bisa lah bantu-bantu buat karangan bunga."
"Eh beneran aku boleh bantu? Aku kan belum pernah coba, nanti yang ada malah aku ganggu pekerjaanmu."
"Nggak kok, coba saja dulu siapa tahu kamu nanti malah jago ngerangkai bunga."
"Iya deh nanti aku coba."
Obrolan kami ini pun berlangsung hingga berjam-jam. Meski topik pembicaraan ringan namun terasa sangat nyaman. Tanpa sadar aku tertidur lelap dengan sendirinya karena hanyut dengan suara lembut Andra.
Keesokan harinya di hari pertama cuti, aku langsung pergi ke toko bunga guna membantu Andra membuat pesanan karangan bunga. Andra mengajariku dengan sangat sabar mulai dari memilih bunga sesuai konsep pernikahan, warna yang tepat dengan dekorasi sekitar, serta tata letak rangkaian bunga supaya terlihat rapi dan indah.
Dua minggu berlalu dengan membantu Andra menyelesaikan pesanannya, inilah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu liburan bersamanya. Kami berdua memutuskan untuk pergi ke tempat wisata di daerah pegunungan karena hawanya yang sejuk.
Kebetulan saat kami ke sana, malam harinya ada festival bulan purnama dengan pesta menerbangkan ribuan lampion secara bersamaan. Aku dan Andra pun tidak mau ketinggalan festival menyenangkan ini. Kami pun membeli dua buah lampion untuk diterbangkan nanti malam.
Saat malam telah tiba, para wisatawan serta penduduk sekitar berkumpul di tanah lapang dekat sungai tempat diadakannya festival. Tempat itu terlalu ramai dan dipenuhi banyak orang. Raut wajahku sangat bisa terbaca kalau sebenarnya tidak menyukai keramaian. Andra pun dapat menyadari hal itu.
Lalu, ia pun mengajakku, "Sayang... Bagaimana kalau kita naik perahu yang ada di sana? Sepertinya menyenangkan."
"Ayo!" seketika moodku mulai membaik dengan ide Andra itu.
Kami berdua pun naik ke perahu. Perlahan Andra mendayung perahu dan mengarahkannya ke tengah sungai. Sekarang posisi kami tepat berada di titik pusat sungai yang disinari cahaya bulan purnama. Pantulan cahaya dari bulan membuat air sungai nampak lebih jernih serta berkilauan.
"Indah sekali pemandangan di sini." ucapku takjub.
"Kamu menyukainya?"
"Tentu saja. Apalagi bersamamu semua menjadi sempurna. Bahkan cahaya bulan saja kalah dengan cahaya yang terpancar dari dirimu."
"Yang benar saja? Sejak kapan belajar kata-kata gombalan seperti itu?"
"Ini bukan gombalan tapi kejujuran."
"Terima kasih atas kejujurannya."
"Umh... You're my light! It's you and only you!" kami berdua pun saling tersenyum setelah mendengar ucapanku ini.
"Oh ya jam berapa festivalnya dimulai?" tanya Andra.
"Jam sembilan malam sepertinya. Masih ada waktu sepuluh menit lagi." jawabku sembari melihat jam tangan yang kukenakan.
"Sepuluh menit menunggu mau ngapain nih?" tanya Aslan meminta pendapatku. Namun saat ini hanya ada satu hal yang ingin aku lakukan yaitu, "Aku hanya ingin memandangimu dengan begitu waktu akan cepat berlalu."
"Memandangiku? Emang aku lukisan ya? Hehehe..."
"Kamu lukisan terindah yang pernah aku lihat." aku pun mulai fokus menatap Andra dengan dagu wajah tertopang oleh kedua telapak tanganku.
"Eh jangan gitu juga lihatnya! Aku jadi malu." Andra langsung menunduk menyembunyikan wajahnya setelah aku pandang dengan seksama.
"Ih jangan gitu dong! Sini biar aku lihat wajah tampan kekasihku!" aku mendekat ke arah Andra untuk mengangkat wajahnya yang masih tertunduk di antara kedua pahanya.
Ternyata pergerakanku membuat keseimbangan perahu menjadi goyah. Aku pun hampir terjatuh karena perahu oleng ke arah kanan. Tapi untung saja Andra dengan sigap meraih tanganku hingga aku tidak jatuh ke air. Kondisi perahu pun kembali normal setelah aku diam di depan Andra. Posisi kami yang saat ini terlalu dekat hingga aku pun bisa merasakan deru napasnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Andra padaku.
"Oh... Iya, aku tidak apa-apa." di posisi yang sedekat ini aku terlalu sulit untuk mengatur detak jantungku yang semakin tidak karuan hingga aku pun memilih untuk memalingkan wajah ke sebelah kanan.
Dari seberang aku melihat satu persatu cahaya mulai naik ke udara dan lama-kelamaan menjadi semakin banyak. Sepertinya festival menerbangkan lampionnya sudah dimulai. "Hei, lihat itu!"
Andra menengok ke arah yang aku tunjuk, "Sepertinya festivalnya sudah dimulai."
"Iya, ayo kita juga menerbangkan lampion kita." Saat hendak mengambil lampion, tangan Andra menahanku untuk beranjak dari tempat, "Kamu di sini saja biar aku yang ambilkan!" aku pun menurut. Mungkin dia takut jika perahu menjadi tidak seimbang lagi jika aku kebanyakan gerak.
Setelah selesai mempersiapkan lampion untuk diterbangkan, Andra memberikan satu padaku. "Nah, ini punyamu!"
Aku pun menerimanya dengan senang, "Terima kasih. Oh ya kita terbangkan bersamaan ya!"
"Oke. Sebelum diterbangkan buat dulu permintaan atau harapanmu di lampion itu!"
"Harapan? Apakah harus disertai dengan itu sebelum menerbangkannya?" tanyaku heran.
"Nggak juga sih. Tapi ada yang bilang harapan yang terbang bersama lampion ini sebagian besar bisa menjadi kenyataan." jelas Andra.
"Eh iya kah? Aku baru mengetahuinya. Soalnya ini kali pertamaku mengikuti festival seperti ini."
"Iya. Coba saja!"
Aku dan Andra pun terdiam sejenak untuk mengucapkan harapan yang kami inginkan pada lampion masing-masing dari dalam hati. Setelah selesai, kami pun saling memandang untuk memberi aba-aba saat menerbangkannya. Satu, dua, tiga lampion kami berdua pun perlahan naik ke udara.
"Kalau boleh tahu apa permintaan yang kamu buat di lampion itu?" tanyaku penasaran dengan apa yang Andra harapkan. Apakah itu ada kaitannya dengan diriku.
"Sebaiknya hal itu dirahasiakan supaya bisa menjadi kenyataan yang sesungguhnya."
"Oh begitu ya."
Setelah menerbangkan lampion, kami berdua masih mengobrol sejenak di atas perahu dan baru kembali ke penginapan pada pukul sebelas malam.
Setelah momen romantis itu hubunganku dengan Andra semakin dekat. Rasanya tidak ada lagi rahasia yang ingin aku sembunyikan darinya. Lagipula sepertinya Andra bukan orang yang berbahaya dan selalu jujur padaku apa adanya. Sampai hal yang seharusnya aku rahasiakan pun perlahan mulai aku ceritakan kepada Andra mengenai perusahaan serta siapa diriku yang sebenarnya. Untung saja dia tidak takut kepadaku yang merupakan pembunuh bayaran ini.
Dua bulan sisa cuti pun aku habiskan semua waktu itu bersama dengan Andra. Entah itu membantunya bekerja di toko bunga atau pergi ke suatu tempat yang terpenting selalu bersama dengan dia. Jujur rasa nyamanku terhadapnya melebihi rasa nyaman dengan keluargaku sendiri. Aku pun juga mulai menghiasi ruang apartemen tempat tinggalku dengan beraneka macam bunga yang cantik dan beraroma sedap.
Waktu berlalu cepat saat aku menghabiskan waktu dengannya. Tidak terasa waktu cuti diriku telah habis. Yah, memang kesenangan itu berlangsung singkat. Sekarang aku harus kembali fokus dalam menjalankan tugas. Mengikuti kegiatan perusahaan yang begitu padat membuatku menjadi memiliki waktu sedikit untuk berjumpa dengan Andra. Itu pun berjumpa lewat panggilan telfon atau pesan singkat.
Suatu ketika aku dipanggil oleh direktur utama ke ruangannya. Setelah tiba di sana, beliau langsung melemparkan beberapa foto Andra di meja. Aku terkejut dan hanya bisa menelan ludah. Bagaimana ayah bisa tahu soal Andra? Apakah selama ini dia membuntuti diriku?
"Siapa pria itu?" tanya Pak Bey dengan nada serius.
"Dia adalah temanku!" jawabku bohong.
"Teman? Yakin kalau dia hanya seorang teman bagimu?" tanya Pak Bey yang nampak tidak mempercayai jawaban putrinya.
"Iya." aku masih belum bisa untuk berkata jujur.
"Tapi sepertinya dia bukan seorang teman biasa. Sepertinya dia menemanimu di sepanjang liburan kemarin dan bahkan kamu pun sempat mengajaknya pergi ke apartemenmu. Bukankan itu benar?"
"Ayah mengikutiku selama ini?"
"Iya. Kamu pantas untuk dipantau setiap saat, karena sepertinya sikap kewaspadaanmu kini mulai goyah."
"Apa maksud ayah?" aku mulai merasakan suatu firasat buruk.
"Apa kamu tahu siapa pria itu sebenarnya?"
"Dia hanya seorang pria biasa yang memiliki toko bunga di sekitaran taman kota." aku pun menjawab seperti apa yang selama ini aku ketahui tentang Andra.
Pak Bey tertawa lepas mendengar jawaban Fey, "Bwahahahahaha..... Bodoh! Sepertinya matamu mulai buta! Bagaimana bisa kamu tidak mengenali musuh terbesarmu sendiri padahal dia selalu dekat denganmu?"
Aku pun jadi bingung dengan apa yang dikatakan ayah, "Apa maksud ayah?"
Pak Bey melempar sebuah berkas data pribadi ke meja tepat di depanku, "Bacalah!"
Foto profil yang tertera dalam berkas tersebut mirip dengan Andra, namun aku masih tidak yakin kalau itu adalah dia. Karena yang aku baca saat ini adalah data pribadi direktur utama Perusahaan CB yang merupakan musik bebuyutan perusahaan milik ayahku.
"Kamu sekarang sudah tahu siapa sebenarnya pria itu kan?"
Aku masih tidak percaya atau lebih tepatnya tidak mau mempercayai fakta ini, "Tidak ayah, ini semua tidak benar. Pasti mereka berdua adalah orang yang berbeda. Lagipula nama mereka tidak sama! Waktu itu aku pernah menyelinap ke CB untuk melihat sendiri bagaimana wajah asli direktur utamanya dan wajahnya tidak mirip dengan foto yang ada di sini."
"Dia hanyalah direktur pengganti alias palsu. Yang asli adalah orang di data itu sekaligus orang yang selama ini selalu berada di dekatmu!"
Aku sudah tidak sanggup mendengar fakta mengerikan ini lagi. Aku pun jadi terdiam mengingat kembali sosok Andra yang ternyata dari balik sikap baik dan senyumannya itu ada rahasia besar tersembunyi dan baru aku ketahui sekarang ini.
"Kamu ingin tahu kan apa alasan dia mendekatimu?" Pak Bey berjalan ke arah putrinya. Lalu setelah berdiri di tepat di hadapan Fey, beliau mendekatkan bibirnya ke telinga Fey, "Dia tidak lain hanya ingin balas dendam!"
"Balas dendam?" tanyaku yang masih tidak memahami situasi.
"Iya balas dendam. Dahulu akulah yang menghabisi nyawa direktur utama CB yang tidak lain itu adalah ayah dari Eric. Eh bukan, maksudku Andra! Bukankah itu namanya saat bersama denganmu?"
Aku terdiam bisu menatap sembari mendengarkan cerita ayah yang sepertinya masih berlanjut.
"Setelah menjadi direktur utama menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal, nampaknya dia mulai merancang rencana untuk menghancurkan SC sebagai wujud pembalasan dendam ayahnya. Sudah berulang kali dia mengirim beberapa orang CB untuk menggagalkan misi atau menyelinap masuk ke SC. Namun, semua usahanya itu gagal. Tapi ternyata dia tidak menyerah begitu saja dan mulai cara lain yaitu dengan mendekatimu. Dari awal sepertinya dia sudah tahu kalau kamu adalah putriku sekaligus pewaris tunggal perusahaan ini."
Aku benar-benar terkejut mendengar fakta ini. Tubuhku terasa begitu lemas serta mulutku mulai kaku seolah mati kata. Beliau pun nampaknya akan menjelaskan ini semua secara tuntas.
"Awalnya aku kira kamu akan cepat menyadari hal ini, namun sayang sekali kamu malah jatuh hati dengan pria itu. Bagaimana bisa putri yang selama ini sangat aku banggakan membuatku kecewa hanya karena lengah sedikit saja dan membiarkannya menjadi lubang kekecewaan yang semakin membesar hingga sekarang?" Pak Bey mengambil beberapa lembar foto dan diperlihatkannya kepada Fey. Foto-foto itu berisikan gambar jasad anggota SC yang berada di bawah pimpinan Fey.
"Lihat saja! Setelah dekat denganmu dia dengan mudah menggali informasi perusahaan dan mulai menghabisi satu persatu anggota kami. Bukankah semua korban itu adalah bawahanmu?"
Aku sangat terkejut mengetahui bahwa anggota yang berada di bawah pengawasanku yang selama ini belum kembali dari menjalankan misi ternyata dihabisi oleh pihak CB. "Tidak mungkin... Jadi selama ini mereka sudah meninggal?"
"Sebagai pimpinan bagaimana bisa kamu tidak mengetahui kondisi bawahanmu sendiri? Karena kelangahanmu lah mereka semua tewas." Pak Bey kembali mendekat dan membawa Fey ke pelukannya.
Sembari membelai rambut putrinya beliau berkata, "Dengarkanlah ayah, kamu adalah hal terpenting dalam hidup ayah. Jika kamu sampai mati maka hidup ayah juga akan hancur. Sepertinya dia pun tahu hal ini dan yang paling ayah takutkan nantinya jika dia juga akan membunuhmu. Kamu tahu kan apa maksud ayah ini?"
"Iya, ayah memintaku untuk menghabisinya bukan?" ucapku yang masih berada di pelukan ayah.
"Cepat tanggap juga kamu rupanya. Seharusnya jika dari awal kamu tidak lengah maka hal ini tidak akan pernah terjadi. Namun, karena sudah terlanjur maka ayah akan memberimu satu kesempatan untuk mengakhirinya sendiri!"
"Iya ayah."
"Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin! Ini semua juga demi masa depanmu dan perusahaan yang nantinya akan jatuh ke tanganmu."
Aku segera melepaskan diri dari pelukan ayah, "Iya ayah aku mengerti. Sepertinya aku harus permisi keluar sebentar!"
"Iya silahkan!"
Aku langsung berlari meninggalkan ruang direktur utama sekaligus pergi dari area perusahaan. Susana hati yang begitu kacau membuatku ingin berlari ke suatu tempat untuk sembunyi dan menangis sepuas hatiku.
Di sisi lain, saat ini Andra sedang duduk santai sembari membuat karangan bunga. Nampaknya dia tidak begitu fokus dalam melakukan kegiatan itu hingga bisa-bisa ujung jari telunjuk kanannya tertusuk duri mawar. "Awh..." ia pun langsung menghisap darah yang keluar dari sobekan luka kecil di ujung jari tersebut. Ternyata pikirannya saat ini sedang teringat dengan momen saat bersama dengan Fey. Tepatnya di festival bulan purnama dua bulan yang lalu.
Andra teringat dengan pertanyaan Fey tentang apa permintaan yang dibuatnya pada lampion yang akan ia terbangkan. Permintaan itu sangat diluar dugaan dengan jalannya asmara mereka. "Aku harap kamu juga bisa untuk membenciku!" begitulah permintaan Andra yang masih terngiang-ngiang di kepalanya sampai sekarang. Karena itulah waktu Fey bertanya dia tidak bisa mengatakannya dengan jujur. Biarkan saja hal ini tetap menjadi rahasia dan terwujud dengan sendirinya.
Permintaan Andra itu mulai menjadi kenyataan. Setelah sampai di rumah, Fey pun langsung menghancurkan semua benda yang dia dapatkan dari kekasihnya, termasuk beberapa vas berisi bunga yang ia dapatkan dari toko milik Andra. Emosi yang meluap dan tidak bisa terkendali membuatnya ingin menghancurkan segala yang ada di sekitarnya.
"Kenapa? Kenapa jadi begini?" aku benar-benar tidak ingin mempercayai kebenaran mengerikan ini. Bagaimana mungkin kekasihku sebenarnya adalah musuh terbesarku? Tapi bagaimanapun itu aku harus memastikannya sendiri! Dan jika itu benar apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan membunuhnya sesuai janjiku pada ayah?
Aku benar-benar merasa delima bingung harus berbuat apa. Tanpa sadar pun aku meremas bunga mawar hingga duri di tangkainya pun meninggalkan bekas luka tusuk di tangan kananku. Darah pun mengalir deras dari luka yang timbul namun aku sama sekali tidak bisa merasakannya. Rasa sakit di dalam hatiku jauh lebih menyakitkan dari apapun untuk saat ini.
Segera aku mengambil ponsel untuk menghubungi Andra. "Halo, Andra..."
Andra pun menjawab, "Iya ada apa sayang?"
"Nanti malam datanglah ke apartemenku! Ada hal yang ingin kusampaikan padamu."
"Oke baiklah."
Panggilan itu langsung aku matikan setelah mendapat jawaban kalau dia akan datang. Seharusnya aku segera menyusun langkah berikutnya untuk menghabisi pria itu. Berulang kali aku sudah mahir dalam menyusun rencana pembunuhan, namun kali ini bagaimana caranya bagiku untuk membunuh kekasihku sendiri? Apakah aku bisa melakukannya? Atau malah mengacaukan janjiku kepada ayah?
Apapun itu aku tidak ingin melakukan apapun untuk sejenak, supaya isi pikiran ini bisa jernih. Dengan begitu aku tidak bertindak gegabah. Antara cinta dan benci, dari kedua itu manakah yang akan aku wujudkan kedepannya?
Malam harinya, Andra tiba di apartemen. Aku hanya mendengal bel dan pintu terbuka, mungkin saja itu Andra dan ternyata benar. Aku belum bisa berbalik untuk melihatnya karena masih sibuk membuatkan dua cangkir kopi. Tanpa menoleh aku menyapanya, "Kamu sudah datang?"
"Iya. Ini aku bawakan pizza!"
"Letakkan saja pizza-nya di meja!" perintahku yang masih membelakanginya.
Andra nampak penasaran dengan apa yang dilakukan Fey. Ia pun perlahan mendekat dengan membawa sebuah buket mawar merah muda yang tersembunyi di balik punggungnya. "Kamu lagi buat apa sih?" Andra memelukku dengan satu tangan dari belakang. "Ini loh aku lagi buatin kopi!"
"Oh iya aku ada sesuatu untukmu!" ucap Andra.
"Apa itu?"
"Coba berbaliklah dulu!"
"Ih apa sih?" aku pun berbalik dan Andra langsung menyodorkan buket mawar merah muda itu padaku. "Wow!" aku pun bertingkah seolah senang dengan pemberiannya.
"Kamu suka?" tanya Andra.
"Tentu saja aku suka. Terima kasih." ak langsung memeluk Andra dengan erat. Andra pun membalas pelukanku. Tapi, inilah saatnya untuk menjalankan rencanaku. Perlahan aku mulai merogoh saku rok yang kukenakan guna mengambil jarum suntik yang tersimpan di sana. Tanpa menunggu lama lagi, langsung aku tancapkan jarum suntik itu ke leher sebelah kanan Andra.
Seketika Andra kaget dan melepas pelukannya padaku. "Fey, apa-apaan ini? K-kau..." perlahan pandangan Andra mulai kabur. Ia mundur beberapa langkah dan mencoba untuk tetap membuka matanya guna menatap Fey. Namun, efek dari obat yang disuntikkan padanya terlalu kuat hingga tak butuh waktu lama lagi kesadaran Andra hilang sepenuhnya. Tanpa berkata-kata, Fey hanya bisa menatap tubuh kekasihnya yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak di lantai.
Satu jam kemudian efek obat bius dalam diri Andra hilang hingga kini ia sudah mulai sadarkan diri dan perlahan membuka kedua matanya. Entah di mana sekarang ini dia berada, tapi yang jelas di sekelilingnya gelap gulita tanpa sedikitpun cahaya. Andra pun juga tidak bisa berkutik karena kaki dan tangannya terikat di sebuah kursi. Mulutnya pun tertutup lakban sehingga ingin berteriak minta tolong pun mustahil.
Tiba-tiba lampu gantung yang berada tepat di atas tubuh Andra menyala. Silau dari lampu itu membuat Andra sejenak memejamkan matanya. Lalu, terdengar langkah kaki yang kian mendekat dari arah depan. Awalnya hanya bayangan yang nampak, namun ketika semakin mendekat muncullah sosok Fey di hadapannya. "Kamu sudah bangun?" tanyaku dengan senyum sinis. Mata Andra terbelalak saat melihatku. "Kamu terkejut? Cih!" dengan cepat aku melepas lakban yang menempel di mulut Andra. "Bicaralah! Ada yang ingin kamu katakan?" aku agak membungkuk menatap Andra guna mendengarkan dengan seksama apa yang ingin dia katakan.
"Apa-apaan ini sayang?"
Aku sedikit membuang muka saat mendengar kalimat yang pertama kali Andra ucapkan setelah kubuka lakban di mulutnya. "Sayang? Seharusnya dari awal aku tidak membiarkanmu untuk memanggilku seperti itu!"
"Siapa dirimu yang sebenarnya?" tanyaku tegas.
"Apa maksudmu?" Andra masih bertingkah seolah tidak tahu apa-apa.
"Aku tanya siapa sebenarnya dirimu itu?"
"Aku? Tentu saja aku ini Andra, kekasihmu!"
"Hahaha... Sepertinya kamu terserang amnesia dadakan di saat identitas aslimu mulai terancam!" mendengar ucapanku Andra masih saja mengambil sikap diam seolah tak ingin buka suara. Tanpa ada pilihan aku semakin mendekatkan diri ke Andra dan berbisik pelan di telinganya, "Tapi... Meskipun kamu diam saja dan tidak ingin memberitahuku siapa dirimu, aku sudah lebih dahulu mengetahuinya. Ternyata nama Tristan Oliviandra hanyalah sebuah cangkang! Bukankah itu benar Eric Watson?" perlahan aku mundur untuk melihat reaksi yang timbul di wajah Andra.
"Jadi selama ini kamu sudah mengetahuinya? Sejak kapan itu?" nampak raut wajah Andra dapat dikontrol dengan baik sehingga masih tetap bisa terlihat tenang. Karena kini identitas aslinya sudah terbongkar, mengelak pun juga percuma.
"Kamu tidak perlu tahu sejak kapan aku tahu hal itu!"
Nampaknya Andra dapat membaca situasi dalam diri Fey, "Hmm... Sepertinya belum lama nih! Atau jangan-jangan kamu baru mengetahuinya hari ini?" Andra memperlihatkan senyum sinis di akhir ucapannya.
"Diam kau!" amarahku kian memuncak, namun aku harus menahannya karena masih ada hal yang ingin aku dengar langsung darinya. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Sebenarnya aku sudah mendengarnya dari orang lain, namun aku juga ingin mendengarnya langsung darimu! Jadi cepat katakan sekarang juga! Apa benar kamu melakukan ini semua hanya untuk balas dendam?!"
"Hmm..." Andra nampak menunda jawaban supaya emosi Fey kian menjadi.
"Cepat jawab!"
"Kamu benar! Maaf jika selama ini cintaku padamu itu ternyata palsu. Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, tapi aku sangat membencimu!"
"Kenapa kamu sangat membenciku?"
"Bukankah kamu sendiri sudah tahu jawabannya? Kasihan sekali dirimu, sudah tahu jawaban pun masih mencoba memastikan langsung padaku. Jangan menatapku dengan wajah seperti itu! Kamu pasti bingung kan harus benci tapi kamu sendiri masih sangat menyukaiku?"
"Diam!" aku hanya bisa berteriak keras sebagai respon atas ucapan yang mungkin adalah kebenaran yang ingin aku sangkal.
"Tentu saja aku membencimu karena kamu itu adalah putri dari direktur utama SC dan juga satu-satunya pewaris perusahaan itu. Tentu saja jika ingin menghancurkan perusahaanmu guna membalas dendam ayahku, aku tidak akan gegabah menyerang langsung direktur utama yang tidak lain adalah ayahmu. Setelah dipikirkan lagi rupanya ada hal yang sangat berharga bagi direktur utama SC yang tidak lain adalah putrinya sendiri. Jika aku menghabisimu maka balas dendamku akan sempurna. Ayahmu kehilangan dirimu juga perusahaan akan kehilangan pewaris tunggalnya. Menarik bukan?"
Aku pun mulai menyamarkan rasa amarah dengan senyuman. Emosi tidak stabil ini harus aku redakan lebih dulu karena aku tidak ingin terintimidasi lebih jauh lagi di hadapannya. "Huft... Jadi begitu rupanya. Tapi sayang, sepertinya Dewi Fortuna masih berpihak padaku. Rencana balas dendam yang sudah kau persiapkan sejak lama akan berakhir hari ini juga!"
Andra nampak paham dengan apa yang akan aku lakukan, "Kamu akan membunuhku?"
"Eum... Sepertinya begitu. Seharusnya kamu sudah membunuhku sejak awal jika sudah tahu akan begini jadinya ketika niat balas dendammu ketahuan!" pistol yang tersimpan dari balik saku blazer pun akhirnya aku keluarkan. Peluru untuk menembak sudah siap. Sekarang hanya perlu menekan tombol pemicu maka semuanya akan berakhir.
"Yah, seharusnya begitu. Tapi setelah tahu kamu ini orangnya menarik juga, jadi ya rencanaku agak tertunda begitu panjang. Dan kalau memang ini akhirnya, aku pun rela mati di tangan kekasihku sendiri! Silahkan saja kalau kamu mau menembakku sekarang!"
Ucapan Andra berhasil membuatku agak goyah. Tanganku mulai gemetar untuk menembak. "Jangan panggil aku dengan sebutan kekasih jika selama ini kamu sama sekali tidak mencintaiku!"
"Andaikan saja kita tidak bertemu dengan kondisi seperti ini mungkin saja hubungan kita berjalan lebih baik."
"Diam! Jangan melantur! Hal itu tidak akan pernah terwujud!"
"Kamu ingin mewujudkannya? Okelah jika kamu menginginkannya, segera tembak aku! Di detik-detik terakhir kematian aku akan membuat sebuah permohonan jika aku terlahir kembali di kehidupan selanjutnya maka aku akan meminta untuk menjadi kekasihmu yang sesungguhnya. Seorang kekasih yang akan mencintaimu dengan penuh ketulusan dan bukan dengan kebencian seperti ini."
Entah kenapa aku jadi semakin ragu untuk menghabisi nyawanya. Aku takut jika nanti hanya berujung pada penyesalan. Selama ini aku benar-benar mencintainya bahkan setelah tahu dia tidak mencintaiku rasa ini tidak bisa pudar begitu saja. Sakit hati memang iya, tapi aku masih berharap ada kesempatan untuk tetap bersamanya.
Genggaman pistolku pun semakin melemah. Tanpa disadari air mata mengalir deras tanpa pemberitahuan. Dadaku semakin terasa sesak hampir tidak bisa bernapas. Tekat kuat yang selama ini tertanam pada diriku untuk menyelesaikan setiap misi dengan sempurna hancur berantakan di depan musuh terbesarku sendiri. Kepalaku semakin tertunduk serta tanganku tiada henti memukul dada yang rasa sesaknya kian menjadi-jadi.
"Kamu kenapa malah menangis? Jangan menyesal hanya karena diriku ini! Kamu sudah tahu sendiri kan kalau aku ini adalah orang yang seharusnya kamu habisi secepat mungkin!"
"Tidak! Aku tidak bisa!" entah kenapa aku mengatakan hal itu. Tapi yang pasti memang itu yang kurasakan saat ini.
"Bodoh!" ucap Andra lirih.
Namun, tiba-tiba....
"Doorr..."
Aku mendongak kepala yang sebelumnya tertunduk dan di situlah aku melihat darah Andra memuncrat tepat mengenaiku. Mata terbelalak serta mulut menganga menyaksikan ini pada akhirnya. Aku lihat dengan mataku sendiri Andra sudah tertunduk tak bernyawa setelah peluru dengan kecepatan tinggi melesat dan bersarang di kepala bagian belakangnya. Aku pun terduduk lemas tak berdaya.
"Tidak! Tidaakkk!!!" aku berteriak sekencang mungkin seolah tidak percaya ini semua terjadi. Ini kah akhirnya? Andra benar-benar mati? Bukan aku pelakunya! Lalu siapa yang menembaknya?
Jawaban pun muncul sendiri pada akhirnya. Sosok bayangan yang kian terlihat sosok aslinya memperlihatkan kalau itu ternyata Pak Bey. "Ayah..." ucapku sembari geleng-geleng kepala.
"Sudah ayah beri kesempatan, ternyata kamu masih mengecewakan!"
"A-aku..." ucapanku terputus karena tidak tahu ingin mengatakan apa.
"Buang jasadnya!" Pak Bey memerintah anak buahnya untuk membuang tubuh Andra.
"Tidak!" aku merangkak meraih kaki ayahku dan memohon untuk tidak melakukannya, "Tidak ayah! Kumohon jangan lakukan itu! Kumohon!"
Pak Bey menendang putrinya sendiri untuk membebaskan diri, "Dasar tidak berguna! Bawa dia menjauh dari sini!"
Dua orang pengawal pun membawa tubuhku menjauh dari lokasi. "Tidak! Tidak! Lepas! Lepaskan aku!" aku meronta untuk lepas sekuat tenaga namun percuma, tubuhku sudah begitu lemas. "Lepas! Lepas! Aku bilang lepaskan!" mereka sama sekali tidak mendengar perintahku.
Aku pun menyaksikan tubuh Andra yang dibawa pergi oleh anak buah ayah yang lain. Entah kemana mereka akan membawanya pergi? Ingin kucegah tapi aku tidak kuasa. Aku pun hanya bisa berteriak, "Tidaakkkk!!!" lama-kelamaan pandanganku mulai kabur hingga akhirnya aku pingsan.
Itulah saat terakhir bagiku untuk berjumpa dengan Andra di dunia ini. Meski dia dipenuhi dengan kebohongan namun aku benar-benar mencintainya. Aku harap Andra sempat mengucapkan permohonan itu sebelum ia meninggal di tangan ayahku. Sungguh suatu keajaiban jika di kehidupan selanjutnya aku masih bisa bersamanya. Semoga saja angan-angan ini menjadi kenyataan.
~Selesai~