⚡Bloody Honeymoon (Part 1)
#PetualanganBertahanHidup
#CeritaHoror
#Cerpen
Maya dan Jorge pergi ke sebuah bukit hijau bernama Heaven Green. Mereka baru saja menikah. Pria bertubuh tinggi tegap dan rambut pirang itu mengendarai mobil mini van hitam miliknya seraya bersenandung. Sesekali ia kecup punggung tangan istrinya sambil menyetir.
"Ini akan menjadi bulan madu terindah untuk kita sayang," ucap Maya. Rambut cokelat sebahu yang tergerai itu bergerak seiring embusan angin yang menerpa.
"Pasti sayang, aku akan membuatmu terus mengenang bulan madu kita. This will be the best in our life."
Jorge menjawab dengan penuh semangat. Sang istri juga menghadiahi kecupan di bahu bidang pria itu.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka memilih penginapan yang berada di dekat puncak perbukitan itu. Seharian mereka menjelajahi bukit dengan seorang pemandu wisata dan beberapa turis di sana untuk menikmati kebun buah yang segar.
Namun, sesuatu yang tak diinginkan mulai terjadi. Maya dan Jorge terpisah dari rombongan sampai mereka masuk ke hutan lebih dalam. Di tengah suasana ketakutan dan kebingungan karena tersesat, wanita itu lantas mencengkeram tangan suaminya dengan erat kala ia melihat sesuatu.
"Apa itu, Sayang?" tanya Maya, kedua kaki rampingnya melangkah ke arah sepatu yang terlihat dari balik pohon pinus. Ia menarik lengan suaminya itu.
Jorge mengikuti langkah istrinya, keduanya mendekat dan langsung terperanjat kala melihat jasad seorang anak kecil di sana.
Perut anak itu berongga, semua organ dalam tubuh anak itu tak lagi terlihat. Mereka hanya melihat tulang punggung dan rusuk yang tampak di sana. Mata anak kecil itu masih mengeluarkan plasma merah yang berbau anyir.
Sontak saja Maya langsung ketakutan dan membalikkan tubuhnya bersembunyi di balik tubuh Jorge.
"Apa ada hewan buas yang memakannya, sayang?" Bibir Maya bergetar saat mengatakannya.
Belum sempat Jorge menjawab, ia dihantam kayu besar sampai tak sadarkan diri. Maya berteriak kala itu tetapi punggungnya juga dihantam sebuah kayu besar. Ia sempat melihat sepasang suami istri yang sudah tua sebelum ia tak sadarkan diri.
Wanita dan lelaki paruh baya itu menyeret tubuh Maya dan Jorge. Sungguh kekuatan yang tak disangka - sangka. Mereka membawa kedua tubuh itu menuju ke dalam rumah kayu yang berada di dalam hutan.
Di dalam sana, ternyata banyak tulang belulang manusia. Mereka merupakan korban keganasan nenek dan kakek tua yang tinggal di dalam hutan itu. Sifat kanibalisme yang mereka miliki sampai membuat keduanya sangat menyukai daging manusia terutama yang masih anak-anak. Mereka memilih para korban yang tersesat masuk ke dalam.
Di saat sang nenek sedang merebus air dalam kuali besar, si kakek pergi ke luar mencari kayu bakar. Maya yang baru saja sadar langsung menatap ke arah Jorge. Ia berusaha menendang bahu suaminya sampai pria itu membuka mata.
Wanita itu berusaha membuka ikatan tangannya dengan menggesekkan tali yang mengikatnya naik turun di sebuah paku. Setelah terlepas, llalu ia bebaskan tangan Jorge perlahan-lahan.
Mereka bangkit dan berusaha mendekati si wanita tua itu. Jorge langsung mendorong nenek itu sampai jatuh ke kuali besar. Air mendidih itu menyiram tubuh sang nenek yang langsung melepuh.
Nenek itu berteriak sekuat tenaga. Namun, Maya segera membekap mulut wanuta tua tersebut agar si kakek tak datang menolong. Maya dan Jorge mendadak terperanjat kala melihat nenek itu mengubah wujudnya menjadi makluk yang menyeramkan dan berbintil - bintil. Ia bangkit dan mencoba menyerang.
Jorge langsung meraih pisau yang tergeletak di atas sebuah meja. Ia lantas menebas leher nenek itu dan membuat makhluk itu terbunuh. Darah segar menyembur dari leher nenek itu sampai membasahi wajah Maya.
"Makluk apa ini?" gumam Jorge.
"Entahlah, kita harus segera pergi dari sini, nanti kakek yang tadi akan kembali lagi ke sini dan tahu kalau kita sudah membunuh pasangannya," ucap Maya.
Jorge menurut, lalu ia mendobrak pintu kayu itu dan pergi ke luar. Maya berusaha menggeser tulang belulang yang tak sengaja terinjak olehnya. Ditengoknya sebuah jasad manusia tanpa kepala, tanpa kulit, dan hanya menyisakan setengah tubuh itu.
"Maya! Ayo, cepat kita pergi dari sini!" seru Jorge.
"Oke, baiklah!"
Kedua berlari dan mencoba ke luar dari dalam hutan itu. Mereka berharap menemukan bantuan kala itu. Setelah lelah berlari dan tak juga menemukan bantuan, mereka berhenti di tepi sungai.
"Sayang, aku butuh minum," ucap Maya.
Pria itu lantas mencari daun besar yang ia bisa gunakan untuk meraih air di sungai untuk sang istri. Lalu ia menyerahkan air tersebut. Setelah cukup minum menghilangkan dahaganya, Maya tergoda dengan ikan salmon besar yang berlompatan.
"Aku mau ikan salmon itu, Sayang!" pinta Maya.
"Sayang, kita harus pergi dari sini!"
"Tapi, aku lapar, aku mau ikan itu!" Maya masih merengek pada suaminya.
"Baiklah, aku akan berikan untukmu," sahut Jorge akhirnya menyerah dengan rengekan sang istri.
Setelah percobaan yang kesekian kalinya, ia berhasil menangkap ikan salmon dan mendapatkan satu ekor untuk Maya. Herannya wanita itu langsung melahap ikan mentah tersebut begitu saja dengan lahap.
"Maya, apa yang kau lakukan?" Jorge bertanya dengan panik.
"Huek...!" Maya langsung memuntahkan ikan mentah itu dari mulutnya.
"Maaf, aku tak sadar kenapa aku bisa seperti ini," ucap Maya panik seraya menangis.
Jorge memeluk istrinya itu untuk memenangkannya.
"Tak apa, tenanglah," ucap Jorge berusaha menenangkan istrinya.
Pria itu lalu melihat seorang pemburu mengendarai mobil yang sedang melintas. Ia melihat ke arah tangan Jorge yang sedang melambai.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya pemburu itu.
"Kami tersesat dan tolong bawa kami kembali ke hotel," pinta Jorge.
"Ayo, naiklah!" ucap pemburu tersebut.
Pemburu itu melajukan mobilnya dan membawa keduanya ke petugas hutan.
Jorge menceritakan kejadian yang dialaminya kepada petugas, dan dugaan keterlibatan si nenek dan kakek tadi perihal para anak-anak dan para wisatawan lainnya yang hilang dalam hutan.
Mendapat laporan dari Jorge, pihak berwajib membawa pria itu untuk kembali ke dalam hutan. Sementara Maya kembali ke hotel. Anehnya setibanya para petugas kepolisian dan Jorge di rumah kayu tadi, jasad nenek tadi menghilang.
Pencarian tersangka terus berlanjut, beberapa petugas berwajib memutuskan untuk menghabiskan malam di tenda darurat dekat hutan untuk melanjutkan pencarian keesokan harinya. Akan tetapi Jorge memilih untuk kembali ke penginapan.
***
Di bawah sinar bulan purnama itu, Jorge dan Maya yang sedang berada di beranda lantai tiga penginapan tersebut saling berpandangan. Mereka memeluk satu sama lain dan bersyukur dapat selamat dari makhluk menyeramkan tadi.
Namun, nan jauh di seberang sana seseorang memandangi Maya dan Jorge dari luar penginapan di atas pohon pinus dalam hutan. Sosok suami dari nenek kanibal tadi sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan tatapan geram penuh emosi dan marah. Pria paruh baya itu ingin menuntut balas pada suami istri itu.
*** Tamat ***
Find me more on IG @vie_junaeni