Malam ini langit tidak seperti biasanya,turun ribuan tetes air bening dari atas langit yg gelap...
Dan angin sangatlah kencang semua orang mungkin sedang mencari kehangatan dengan berlindung di dalam rumah mereka, namun tidak dengan seorang gadis yang sedang berdiri di bawah guyuran hujan lebat dengan berurai air mata menatap mata seorang lelaki yang berdiri di hadapannya, "apa keputusanmu sudah benar revan" ucap gadis ini pada kekasihnya yg sedari tadi hanya menunduk tak berani menatap mata gadisnya yg berurai air mata, "maafkan aku ra, aku tidak ada jalan lain selain menerima perjodohan yg diberikan oleh ibuku, maafkan aku" jelas revan kepada gadisnya yg bernama laura itu. "Revan tatap aku!" Bentak laura kepada revan karna kesal dengan revan yg hanya menunduk sejak awal mereka berbicara.
Mendengar perintah laura, revan pun mengangkat kepalanya seketika dan mata mereka saling menatap, revan melihat beribu-ribu kesedihan di dalam mata gadis yang di cintanya itu, "hapus air mata mu laura jangan membuatku tersiksa dengan menunjukan air matamu" ucap revan meminta laura menghapus air matanya.
"Apa kau mencintaiku revan?" Laura mengabaikan ucapan revan dan menanyakan hal yg membuat hati revan semakin hancur, "laura dengarkanlah ini kita tidak berjodoh laura meskipun kau mencintaiku tapi kita tidak ditakdirkan untuk bersama" jelas revan dengan nada lirih, sebenarnya dia ingin sekali mengucapkan bahwa dia masih sangat sangat mencintai kekasihnya itu. "Aku hanya bertanya kau mencintaiku apa tidak?!!! Jawablah dengan ya atau tidak revan!" Bentak laura dengan menatap revan penuh amarah bercampur kesedihan dia bingung karna menurutnya jawaban revan belum menjawab pertanyaan nya dengan sempurna. Namun revan hanya diam dia kembali menunduk matanya mulai memerah menahan genangan air yg sudah menumpuk di kelopak mata nya. "JAWAB AKU REVAN, KITA SUDAH PACARAN SELAMA LIMA TAHUN!!, LIMA TAHUN BUKANLAH WAKTU YG SEBENTAR REVAN dan skrng kau memintaku melupakanmu revan kau tau aku sangat mencintaimu, melupakanmu itu adalah hal mustahil bagiku" laura yg awalnya bicara dengan membentak namun dia merubah nada bicara dengan nada sendu ketika mengingat hubungan yg selama ini mereka bangun dan mempertahankannya tiba-tiba saja revan ingin memutuskan semua nya hanya dalam satu hari. Mendengar ucapan laura revan pun tak bisa menahan diri lagi, dia menarik badan laura yg sudah basah kuyub ke dalam pelukannya, revan memeluk erat tubuh mungil laura, "aku mencintaimu laura sangat sangat mencintaimu tapi kau tau aku gak bisa berbuat apapun" tanpa sadar revan mengeluarkan air mata nya saat mengucapkan kata kata itu pada laura, "kau tau, walaupun aku mengucapkan pada dunia kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, itu gak akan mengubah apapun laura" jelas revan dengan lirih.
Laura yang berada dalam pelukan kekasihnya itu mendengar segala kata kata yg di ucapkan revan perlahan-lahan timbul seuntai senyum di bibir tipis laura, laura pun melepaskan pelukan revan dan menghapus air mata revan dengan tangannya. "Aku tau revan, aku tau ini semua gak akan merubah apapun,terima kasih sudah berani mengatakan bahwa kau mencintaiku" ucap laura dengan tersenyum sangat lembut, sementara revan sangat heran dengan maksud ucapan laura itu belum sempat revan bertanya laura kembali mengeluarkan kata kata nya. "Pergilah walaupun kau bilang kalau kau gak akan kembali kesini tapi aku yakin kau akan kembali ke sisi ku suatu saat nanti" ucap laura melanjutkan kata katanya dengan penuh keyakinan. Revan yg mendengar lanjutan kata laura sungguh benar-benar membuat revan sangat merasa bersalah karna tidak bisa berbuat apapun pada perjodohan yg di berikan orang tuanya itu, karna menurut revan ucapan laura itu adalah mustahil baginya untuk kembali lagi kemari setelah menikah nanti, revan pun segera meraih kedua tangan laura dan menatap mata laura dalam dalam "laura dengarkan aku, aku gak akan pernah kembali jangan buat hidupmu tersiksa hanya dengan menungguku, carilah pengganti ku laura cari yg lebih baik dari ku, aku sungguh gak pantas untuk gadis mulia seperti mu" jelas revan walaupun hatinya hancur dengan mengatakan itu sama saja dengan revan memberi laura pada orang lain, tentu saja bukan ini yg diinginkan revan namun dia bisa berbuat apa....
Laura tersenyum mendengar penjelasan revan
"Aku tak peduli apapun van, aku sudah bersamamu selama lima tahun, aku yakin entah kapan itu entah minggu depan, bulan depan, tahun depan atau bisa saja bertahun-tahun kemudian, aku akan tetap disini menunggumu SELAMANYA" ucap laura dengan nada sendu namun ada keyakinan di setiap ucapannya. Revan sama sekali tak mampu melihat keyakinan gadis yg sangat di cintanya itu,diapun melepas tangannya yg memegang tangan laura, dan menatap mata laura. "Laura aku harus pergi jAGA dirimu baik-baik, dan ingat aku tak akan pernah kembali" ucap revan dengan nada sendu dan air mata yg terus mengalir tak kuasa menahan tangis perpisahan mereka ini, revan pun segera membalikkan tubuhnya membelakangi laura dan berjalan menjauhi laura, namun baru berapa langkah revan pergi laura kembali berteriak dan membuat nya menghentikan langkahnya yg hendak pergi. "KAU jUGA PERLU INGAT, AKU MENCINTAIMU REVAN SANJAYA, DAN AKU MENUNGGU MU DISINI" teriak laura sambil berlinang air mata membasahi pipi mulusnya melihat punggung kekasihnya itu semakin jauh dari pengelihatan nya. Sementara revan yg mendengar itu pun berkata dalam hati "aku juga sangat mencintaimu laura,maafkan aku, aku adalah lelaki terburuk di dunia ini maafkan aku" ucap batin revan, tanpa menoleh lagi ke laura revan kembali pergi dari tempat dimana laura berdiri.
Sementara laura melihat kepergian revan pun terduduk lemas di tanah tempat dia dan revan berdiri tadi, "aku memang yakin kamu akan kembali revan, tapi kuharap kamu datang gak terlambat, kembalilah secepatnya revan aku gak mau kamu merasa menyesal nantinya" kata laura dengan bibir bergetar setelah itu pun laura menangis sejadi-jadinya di temani guyuran hujan yg sangat lebat seolah-olah hujan itu menutupi Isak tangis laura dari manusia yg berada di sekitarnya.
3 tahun kemudian
-----------------------------------------
Di sebuah ruangan yang di penuhi dengan peralatan medis terlihat sesosok tubuh gadis yang terbaring lemah dengan bantuan alat pernapasan dan banyak selang menancap di tubuhnya gadis itu sedang melamun menatap atap atap ruangannya itu...
Tiba tiba suara pintu terbuka dan membuyarkan lamunan gadis yg terbaring lemah dan memakai alat bantu pernapasan itu gadis ini pun dengan perlahan memutar sedikit kepalanya ke hadap pintu masuk agar bisa melihat siapa yg datang menjenguknya, gadis itu melihat sesosok wanita yang sudah berumur namun masih terlihat awet muda sedang masuk dan memberikan senyum hangat kepada gadis yg melihatnya itu. "Ibu" ucap gadis ini dengan nada yg sangat kecil karna dia benar-benar tak sanggup buat berbicara, ya wanita itu adalah ibunya, ibunya pun menghampiri anaknya dan duduk di samping anaknya yg sedang terbaring lemah itu, "nak gimana keadaan kamu, kamu harus kuat nak lawan penyakit kamu" ucap wanita itu pada anaknya dengan penuh kasih sayang, gadis itu hanya tersenyum tipis, "ibu, waktuku tinggal sedikit lagi, dan revan masih belum datang." Ucap gadis yg bernama laura itu, ya gadis yg sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit itu adalah laura dan wanita itu adalah ibu yg selama ini merawatnya di rumah sakit, ibu yg mendengar ucapan anak perempuan nya pun merasa sangat prihatin dengan kisah cinta anaknya itu. "Nak jangan bicara seperti itu, kamu masih muda nak banyak yang belum kamu lakuin jangan pergi secepat ini kalau kamu gak mau di menyesal" jelas sang ibunda kepada anaknya
Laura hanya tersenyum mendengar penjelasan ibundanya tersayang, tiba-tiba saja dada laura sesak dan membuat dirinya kejang kejang, sang ibunda yg melihat itu pun segera memanggil dokter, dan setelah dokter datang ibu laura pun keluar dan membiarkan dokter untuk memeriksa anaknya.
"Laura ibu mohon kamu bertahan nak, ya allah jangan ambil nyawa putriku secepat ini" wanita itu berdoa pada tuhan dalam hatinya sungguh sangat khawatir melihat keadaan laura saat kejang-kejang tadi. Setelah lima belas menit kemudian dokter pun keluar dari ruangan laura dan menghadap ke ibunda laura, "dok bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya wanita itu pada dokter dengan nada khawatir. "Maaf bu sepertinya waktu hidup laura sudah tidak lama lagi dalam 2 jam kedepan laura akan meninggal dunia karna penyakit kanker nya benar benar sudah tidak bisa di selamatkan, sekali lagi maafkan saya bu" jelas dokter dan pergi dari ruangan laura karna masih harus melayani pasien lain, sementara sang ibu bagai di sambar petir di siang bolong mendengar penjelasan sang dokter tadi "tidak mungkin an.. anaku laura" ibu laura menutup mulutnya masih tidak percaya dengan semua ini. Dia pun masuk ke dalam ruangan putrinya itu di liatnya laura yg terlihat menutupkan matanya wajahnya tampak teduh dan damai dalam tidurnya itu, dengan tangan bergetar sang ibu membelai rambut putri satu satunya itu. "Nak jika memang kamu sudah gak kuat ibu ikhlas kalau kamu harus pergi asalkan kamu bahagia disana" ucap sang ibu dengan penuh air mata membasahi pipi dan air mata sang ibu pun jatuh ke kening laura dan membuat laura tersadar dari tidurnya.
"Ibu jangan menangis" ucap laura lemah dengan tersenyum lembut untuk sang ibu.
"Tidak nak ibu tidak menangis" dengan cepat ibu laura mengelap air matanya
"Bu laura mau pergi, apa ibu mengizinkan laura?" Pinta laura dengan menatap mata ibunya
"Pergilah nak jika itu membuat semua sakit di tubuhmu hilang" ucap sang ibu yg mencoba tersenyum walaupun kelopak mata sudah siap air yg akan terjun ke pipi sang ibunda.
Laura tersenyum mendengar jawaban ibunya
"NGGAK!"
tiba-tiba suara teriakan datang dari pintu masuk ruangan laura,
Suara itu!, suara yang sangat dirindukan Laura akhirnya kembali dia dengar. Seketika membuat laura dan ibunya menghadap ke pintu masuk.
Terlihat sesosok tubuh seorang pria yg masuk dengan penuh air mata di wajahnya menatap penuh kerinduan ke mata gadis yang sedang terbaring lemah di sana.
Laura tersenyum dan mengeluarkan air mata dengan sangat deras melihat pria yg dicintainya akhirnya kembali kesisinya.
"Aku tidak mengizinkan mu pergi laura!!" ucap lelaki itu sambil menangis dengan memegang tangan laura.
"Aku tau kau akan datang Revan" lirih Laura yg mencoba mengatur nafasnya yg sudah mulai sesak.
"Ya aku datang Laura, aku datang ucapan mu benar aku gak akan meninggalkan mu lagi jadi bertahanlah jangan pergi kumohon" pinta revan pada gadis yg sangat di rindukan nya itu,
Ya lelaki itu adalah Revan pria yg sudah tiga tahun ditunggu laura.
Revan kembali karna semua perjodohan nya dibatalkan karna selama ini revan mencari tau siapa wanita yg akan dinikahkan dengannya tapi setelah lama baru di tau kalau ternyata calon istrinya adalah seorang pelacur. Dan dia dapat kabar tentang penyakit laura tanpa memikirkan apapun dia kembali menemui laura.
Namun sepertinya revan terlambat.
"Maaf revan aku harus pergi, terima masih sudah mau membuktikan keyakinan ku, maaf aku gak bisa bertahan lebih lama lagi."
Kata-kata Laura yg membuat jantung Revan berdetak kencang dia takut laura akan pergi...
"Tidak laura kau mencintaiku kan jadi kau harus berada disisiku laura!" pinta revan pada laura
Dia sungguh tak mampu jika hidup tanpa gadis itu.
Laura lagi lagi tersenyum.
"Ibu terima kasih sudah merawatku selama ini"
Ibu Laura yg dari tadi menangis melihat mereka berdua kini tambah menangis tersedu-sedu mendengar ucapan anaknya itu.
"Cukup nak," sang ibu sungguh tak mampu mengatakan apapun saat ini dia hanya bisa menangis.
"Apa yg kau katakan laura kau akan disini menjaga ibumu, dan kita akan kembali bersama lagi kan laura kumohon jangan pergi" revan mencium punggung telapak tangan Laura.
"Maaf van, tugasku menunggumu sudah selesai kini aku harus pergi, aku mencintai mu Revan Sanjaya. " Laura tersenyum sebentar lalu setelah itu matanya perlahan menutup.
Revan yg melihat itu pun berteriak,
"LAURA BUKA MATAMU!"
Ia mengira Laura hanya berpura-pura saja namun suara yg dia dengar membuatnya berpikir kalau ternyata laura sudah tiada
Titttttttt........
Dokter pun masuk bersama para suster dan memeriksa denyut nadi laura.
Setelah itu dokter pun mengatakan
"maaf bu, tuan, pasien sudah meninggal dunia" ucap dokter itu.
Ibu Laura yang mendengar itu pun hanya bisa terduduk lemas di lantai ruangan itu, sementara Revan, dia sudah menangis sejadi-jadinya memeluk tubuh Laura dengan sangat erat
"terima kasih laura, terima kasih karna kau sudah mencintai ku sejauh ini, aku merasa gak berhak memiliki cinta mu laura, kau mengambil keputusan yg benar" ucap revan sambil terus menangis dia tak peduli orang lain menganggapnya lelaki lemah.
Setelah kejadian itu...
Ibunda laura memberikan secarik kertas yang berisi tulisan tangan kepada revan dan mengatakan bahwa surat itu untuk nya dari Laura saat dia masih hidup..
Revan pun membuka surat nya dengan tangan bergetar..
"Hai revan sanjaya, pria yang kucintai selama delapan tahun ini, aku tau Revan mungkin saat kau membaca ini aku sudah di atas sana...
Kau ingat Revan aku pernah bilang bahwa aku sangat mencintaimu dan aku memaksa mu memilih antara iya dan tidak, tapi aku sungguh bersyukur kau menjawab, bahwa kau sungguh mencintaiku.
Aku sangat bahagia Revan, jangan pernah menyesal atas kepergian ku, sebenarnya aku sudah lama ingin pergi namun aku berusaha sekuat mungkin untuk menunggumu agar kau tak menyesal jika saat kau kembali aku sudah tiada.
Jika nanti ada gadis yang akan mengisi hatimu lagi selalu yakinlah dengan cinta nya Revan, dan jaga keyakinan nya, kekuatan cinta itu ada, jangan ragu berjuang bersama, dan kau harus ingat!
AKU SANGAT MENCINTAIMU, DAN MENUNGGU ADALAH TUGASKU, ITU MEMBUAT KU BAHAGIA TERIMA KASIH REVAN.
untuk sang pemilik hati... Revan sanjaya.
Revan memeluk surat itu lalu berkata
"Aku juga sangat mencintaimu Laura, semoga kita bisa berjumpa lagi disana nanti" ucap Revan sambil tersenyum memandang langit langit di atas sana.
Sekian terima kasih
Jangan lupa like ya dan kalau dirasa kurang bagus tolong kasih saran ya karna ini yg pertama kali buat cerpen😅