Orang bilang aku ini batu.
Patung.
Robot.
Atau apapun yang mendefinisikan bagaimana diriku terlihat dalam kehidupan sosial.
Tetangga di sekitar rumahku begitu mengenal ku, bahkan mungkin tidak ada yang tidak tahu siapa aku.
Aku begitu terkenal, tentu saja.
Aku tidak pernah menyapa mereka saat bertemu di jalan.
Aku tidak suka basa basi dengan pemilik toko di sebelah rumahku, atau dengan Ibu-ibu pengajian yang kadang sibuk ber-gosip di depan taman Bunga Ibuku.
Intinya, aku terlalu malas untuk masuk dalam lingkup mereka. Dan itulah yang membuat ku dikenal mereka. Aku jutek, cuek, dingin, tidak ramah dan semua hal yang menjurus ke satu arti yang sama, aku bukanlah sosok manusia asli pada umumnya.
Aku batu.
"Saras! Udah sore jangan di kamar terus! Sapu halaman depan! Bangun kamu, tiduran terus gak capek apa? Sekolah enggak, kerja enggak, diem aja di rumah"
Jangan terkejut. Aku sudah terbiasa mendengar omelan Ibuku, biasanya sih lebih parah dari yang ini.
"Nonton drama Korea terus, emang kamu mau jadi apa?"
"Jadi penulis terkenal lah, atau jadi produser musik lagu Kpop" sahut ku santai, menghiraukan Ibuku yang kini sudah ada di dalam kamar ku.
"Kalau mimpi ya jangan tinggi tinggi Saras. Enggak tercapai nanti malah gila" ucap Ibuku dengan langkah yang mengarah ke pintu kamar ku.
"Ibu lupa? Gak ada yang gak mungkin di dunia ini Bu. Selama kita mau berusaha dan berdoa, pasti bakalan terwujud gimana pun caranya. Aku yakin kok, suatu saat nanti aku bisa kuliah ke Korea. Ya, kalaupun gak ke Korea pasti..... Aku pasti bisa kuliah ke luar negeri" jawabku dengan begitu yakin.
Ibuku menggelengkan kepalanya pelan dan berkata. "Mau bayar pakai daun kuliah nya"
Ya. Satu fakta yang ku lupakan, aku ini berasal dari keluarga miskin. Apa itu terlalu kasar? Baiklah kita ganti dengan kata 'Sederhana'.
Tapi apa itu salah? Memang nya mimpi hanya milik mereka yang kaya, tidak kan? Lagi pula kalau aku yakin aku bisa, kenapa tidak ku coba?
Aku pintar, kreatif dan memiliki sikap yang baik selama di Sekolah. Semua Guru di Sekolah-sekolahku sebelumnya selalu menyukai ku, dan aku juga selalu mendapat beasiswa sejak menginjak SMP dan SMA. Jadi aku benar-benar masuk dalam kategori berbakat bukan?
Yah, meskipun beasiswa yang ku dapat juga termasuk beasiswa siswa miskin. Tapi ya sudahlah, tidak ada yang perlu di masalah kan dengan terlahir miskin.
"Kenapa kamu lemot banget sih Hp? Perasaan udah aku benerin deh kemarin pengaturan internet nya? Kenapa lagi coba jadi hilang gini koneksi nya?" keluh ku pada benda kecil berwarna pink gelap yang saat ini tengah berada di genggaman tanganku.
Oh, terlihat pas di genggaman tanganku dan juga terasa sedikit hangat. Maklum saja, yang kumiliki hanyalah Hp second hand, bekas di pakai orang, yang sinyal nya masih 2G. Hanya ini yang ku miliki, ini pun ku dapat setelah aku menduduki peringkat ke-tiga di kelas. Ayah membelikan nya untuk ku, katanya untuk membantu ku dalam belajar.
Dan Ayah ku memang benar, aku suka semua hal yang berhubungan dengan teknologi. Dan aku ahli dalam bidang itu.
"Nah! Udah lancar lagi internet nya. Awas kamu ya kalau lemot lagi"
Aku mengelus nya pelan, bagiku Hp murah ini sangat berharga dalam hidupku. Karena dari sinilah aku mencari dan mengumpulkan informasi beasiswa keluar negeri yang aku incar dari dulu. Aku harus cepat menemukan solusi hidup ku, atau kalau tidak nanti bisa-bisa aku di jodoh kan dengan Om-om bagaimana? Kan menakutkan. Lagi pula yang ku dengar, kalau anak gadis sudah lulus sekolah dan tidak melanjutkan kuliah, biasanya akan berakhir di pelaminan. Mana mau aku kalau harus menikah secepat itu!
"Saras!!! Buruan nyapu!"
"Aishh! Iya Bu! Habis ini!" balas ku dengan teriakan juga. Biarlah, lagi pula Ibu ku memang cerewet sekali.
***
Sore ini sehabis ikut menonton upacara kemerdekaan di lapangan umum desa, aku kembali ke rumah bersama Ibu, Nenek dan Adik ku. Sebenarnya tadi Bapak juga ikut bersama kami tapi tiba-tiba pergi setelah menerima telefon. Mungkin Bapak mendapat pekerjaan atau ada orang yang membutuhkan Bapak untuk menjadi Ojek pengantar? Entahlah, aku tidak peduli.
Bapak itu pekerja serabutan, tidak punya pekerjaan tetap. Dan Bapak saat ini mengalami kecacatan setelah kecelakaan 2 tahun yang lalu. Kata Dokter, ada bagian saraf nya yang terjepit, jadi terkadang Bapak akan tertawa tanpa bisa mengontrol nya untuk berhenti. Tapi biarpun begitu, Bapak lah yang selalu mengantar ku ke sekolah.
"Itu udah pulang" tunjuk ku pada motor tua yang ter-parkir di depan rumahku. Bapak sudah pulang ternyata.
***
"Ras, sini duduk dulu" panggil Bapak ku.
Aneh, pikir ku.
Biasanya kalau ada apa-apa juga langsung ngomong, ini kenapa pakai harus duduk segala sih.
"Sini. Bapak ada berita bagus buat kamu" ucap Bapak dengan wajah yang bahagia, dan aku hanya diam menunggu kelanjutan kalimat yang akan Bapak ucapkan.
Bapak terlihat sibuk membuka tas kecil yang selalu di bawa nya kemana-mana itu, lalu mengeluarkan kertas yang ter-lipat menjadi dua.
Kusut tuh kertas, batinku miris melihat kertas yang tidak rapi lagi yang kini Bapak ulur kan padaku.
Aku dengan ragu menerima kertas itu.
"Dibaca dulu coba" perintah Bapak padaku.
Aku dengan malas membuka lipatan kertas itu. Aku mengerutkan kening ku begitu melihat tulisan bercetak tebal yang tertera di bagian atas kertas. Tanganku langsung terasa dingin dengan darah yang berdesir mengalir ke jantung ku, membuat jantung ku ikut berdetak cepat.
Aku menggigit bagian dalam bibir ku untuk menghilangkan rasa gugup dan juga menahan senyuman lebar yang siap tercipta di bibir ku.
"Aku baca dalam hati? Apa aku baca keras?" tanya ku pada Bapak dan Ibu yang sedari tadi begitu penasaran melihat ke arah ku.
"Ya di baca yang keras lah Ras, Ibu kan juga mau dengar" sahut Ibuku, dan dengan begitu aku menghela nafas ku. Bersiap membaca setiap tulisan yang ada di atas kertas.
PROGRAM KULIAH MAGANG S-1 TEKNIK DAN KEPERAWATAN KE LUAR NEGERI (TAIWAN)
Syarat dan kententuan :
1. Merupakan WNI
2. Memiliki serifikat kelulusan SMA/SMK atau se-derajat
3.Transcript nilai rapor dan ijazah
4.KTP, PASPOR, Akta kelahiran
5.Sehat jasmani&rohani.....
"....Ini beneran?"
Tanyaku ragu pada Bapak yang tersenyum bahagia ke arah ku. Bapak menganggukkan kepalanya dengan yakin, Ibu yang juga mendengar apa yang ku baca tadi kini melihat ke arah ku dengan pandangan berbinar.
"Cita-cita mu Ras" ucap Ibu padaku.
Kedua orang tuaku terlihat begitu bahagia, sementara aku? Aku hanya bisa tersenyum sinis menatap kertas pada genggaman tangan ku. Bersikap acuh, padahal dalam hati aku begitu bahagia. Dengan ekspresi datar ku, aku kembali menyerahkan kertas itu pada Bapak.
"Nanti aku cari informasi nya dulu di internet, kalau beneran itu ada dan bukan penipuan. Ya nanti aku mau ikut daftar" ucap ku santai dengan kaki yang kini meninggalkan ruang tamu.
Aku berjalan cepat memasuki kamar ku, mengambil Hp ku dan membaringkan diriku di kasur tipis milikku.
Dengan gugup dan semangat aku melakukan pencarian detail di internet mengenai info beasiswa yang kemungkinan sama persis dengan apa yang barusan aku baca tadi. Biar bagaimana pun, se-ambisius apapun aku untuk kuliah ke luar negeri. Aku masih lah memiliki pemikiran yang cerdas, aku tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah dan berakhir menyesal di kemudian hari. Terlebih negara tujuan nya bukanlah Korea, jadi aku harus memikirkan nya 2 kali.
Semua website sudah ku buka, dari pencarian terlama sampai terbaru aku baca semua. Tapi aku tetap tidak memberikan jawaban apapun pada Bapak ku, entah itu jawaban iya atau pun tidak.
Aku butuh meyakinkan diriku.
***
"Bu.... Kalau jadi perawat itu enak gak sih? Terus, Ibu yakin gak sama program nya?" tanya ku pada Ibu yang saat ini tengah menikmati acara FTV.
Ngomong-ngomong ini sudah masuk bulan Oktober, artinya sudah 1 bulan lebih berlalu setelah aku mendapat info kuliah itu. Lama sekali ya ternyata bagiku membuat keputusan.
"Enak atau enggak nya kan nanti kamu yang tahu sendiri. Tapi, jadi perawat itu pekerjaan yang mulia karena merawat orang sakit. Dan yang paling penting berdoa aja Ras, serahin semuanya sama Allah"
Mendengar jawaban Ibuku membuat hatiku terenyuh. Perkataan Ibu ada benarnya juga, lagi pula aku dulu juga sempat ingin mengambil jurusan Psikologi. Meskipun perawat dan jurusan Psikolog itu beda, anggap saja sama supaya aku bisa menjadi berguna untuk orang lain.
"Kalau gitu aku ikut daftar deh!" ucap ku dengan semangat.
Ibu menoleh padaku dengan raut wajah terkejut.
"Kamu yakin? Kalau enggak yakin jangan di paksain. Kuliah nya bukan seminggu dua minggu Ras, tapi 4 tahun. Kamu yakin betah disana?"
"Ibu ini gimana sih? Aku udah mau daftar, Ibu sendiri yang malah ragu" sahutku pelan.
"Kalau aku kuliah di luar negeri, nanti Ibu punya anak yang bisa di banggain. Nanti tetangga-tetangga juga enggak nge-rendahin Ibu lagi. Wahyu kan juga udah gak sekolah, cuma aku yang bisa lanjut sampai lulus SMA. Jadi ada kesempatan kek gini di coba aja dulu Bu" lanjut ku.
Ibu terlihat menghela nafas pelan dan terdiam, mungkin dalam hati membenarkan ucapan ku barusan. Pada kenyataannya Aku adalah anak pertama, dan Wahyu adalah adik ku satu-satunya. Dia tidak meneruskan sekolahnya lagi saat SD, tepat setelah Bapak mengalami kecelakaan. Adik ku mogok masuk sekolah, entah apa alasannya tapi yang jelas adik ku selalu marah saat kami membujuknya untuk kembali ke sekolah.
Sudah miskin, memiliki anak yang pendidikan nya rendah. Aku rasa itu cukup, aku tidak ingin melihat lagi kedua orang tua ku yang selalu menundukkan kepala mereka di hadapan publik, merasa kecil karena tidak memiliki apapun untuk di bangga kan. Padahal aku bahkan tidak pernah peduli dengan bagaimana orang sekitar menilai ku.
Mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk membuat bangga orang tua ku. Aku lah harapan satu-satunya mereka, aku lah yang akan membuat mereka bahagia. Jadi apapun resiko nya, aku sudah siap.
***
Sejak hari dimana aku membulatkan tekad ku untuk mengambil program magang kuliah itu, aku selalu belajar bahasa mandarin di rumah. Aku belajar dengan antusias, melakukan cek kesehatan, mengurus paspor dan semua dokumen yang di butuhkan. Selama itu pula, Bapak lah yang dengan senantiasa menemani ku pergi kesana kemari mengurus dokumen-dokumen itu.
Tapi seperti yang sudah ku katakan di awal, aku ini batu. Jadi tersandung batu di tengah jalan juga bagian dalam hidup ku. Contohnya seperti sekarang, aku gagal masuk ke-perawatan karena tinggi badan ku yang tidak memenuhi syarat. Kesal? Tentu saja. Marah? Itu pasti. Kecewa? Aku sudah bosan di kecewa kan, jadi pada akhirnya aku terlempar pada jurusan Teknik. Lebih tepatnya, Teknik elektro.
Takdir memang benar-benar luar biasa. Aku memang suka dan ahli untuk teknologi, tapi jangan lupa jika aku selalu mendapat nilai di bawah 5 saat ulangan pelajaran Matematika, Fisika atau Kimia. Apapun itu yang berhubungan dengan perhitungan, aku selalu kalah. Dan sialnya, jurusan teknik adalah tempat dimana kalkulus, aljabar dan teman-temannya berada.
Apa yang harus ku lakukan?
"Bu, jurusan teknik bisa bikin robot kan ya?" tanya ku asal pada Ibu.
"Emang kamu mau bikin robot apa?" tanya Ibu balik.
Aku tertawa pelan dengan tangan yang ikut bertepuk tangan kecil.
"Bikin robot masak, atau bikin robot pengangkut genting. Biar Ibu sama Nenek gak angkat-angkat genting lagi" jawabku dengan percaya diri tinggi. Ibu menatap geli padaku.
"Bikin robot masak, nanti masakan nya kebanyakan garam gimana?"
Aku menoleh kebelakang saat mendengar sahutan yang keluar dari mulut adik ku yang kini berdiri di depan jendela. Baju nya terlihat kotor karena tanah, dan di tangan nya ia memegang kantong plastik transparan yang di dalamnya berisi jambu air.
"Maling jambu darimana kamu?" ledek ku pada Wahyu, mengabaikan sahutan nya tadi.
Adik ku masuk ke rumah dengan ekspresi kesal.
"Maling kepalamu Mbak" sungut nya kesal dan aku pun tertawa.
Begitulah keluarga kami, dengan hal sederhana pun kami bisa bahagia. Meskipun kadang ada waktu dimana pertengkaran kecil terjadi di tengah keluarga kami.
***
"Ya Allah Saras, dokumen mu ada yang enggak lolos satu" lirih Bapak dengan wajah lesu nya.
Ini sudah memasuki bulan februari, dan bulan maret adalah bulan keberangkatan ku ke Taiwan. Tapi apa lagi ini? Kenapa dokumen ku ada yang bermasalah.
"Apa nya yang salah, Pak?"
"Ini liat, namamu yang di Akte sama Kartu keluarga ternyata tanda spasi nya beda" jawab Bapak sambil menunjukkan Akte dan Kartu keluarga nya padaku.
Di Akte nama ku tertulis 'Saras Puspitasari' sementara di Kartu keluarga tertulis 'Saras Puspita Sari' . Nama 'Sari' harusnya tidak terpisah spasi, tapi ini? Kenapa baru ketahuan sekarang? Padahal tinggal hitungan minggu dan ini adalah dokumen terakhir pembuatan Visa.
"Lah terus gimana Pak? Aku gagal ya? Atau masih bisa di kejar?" tanyaku. Jujur aku tidak ingin putus asa dan menyerah secepat itu. Ayo lah, setelah serangkaian panjang proses yang ku jalani haruskah aku gagal hanya gara-gara spasi? Aku tidak ingin melenyapkan harapan ku begitu saja.
"Masih bisa, kalau buat Kartu keluarga baru. Tapi waktunya cuma seminggu ini" ucap Bapak ku.
Aku mengangguk paham, dan mulai berpikir untuk mencari solusi tercepat. Masih ada waktu, meskipun hanya seminggu. Yang artinya juga masih ada harapan untukku berjuang.
"Ya udah Pak, besok kamis minta tolong sama Om Wawan lagi buat anter aku ke Kabupaten lagi. Berangkatnya Shubuh aja biar sampai sana belum banyak yang antri urus dokumen" ucap ku yakin. Bagiku sejauh apapun itu jarak untuk mengurus dokumen nya, aku tidak masalah. Demi membuat orang tua ku bangga, akan ku lakukan. Aku tidak ingin menghancurkan harapan yang mereka gantungkan pada ku.
"Ya udah mas, coba telefon Wawan buat anter Saras besok kamis" sahut Ibu ku.
***
Aku menatap sendu lemari pakaian ku, mengamati sekeliling kamar ku yang terlihat usang di beberapa bagian. Aku gemetar ketakutan dan gugup, perasaan ku terlalu meluap-luap hingga sulit ku jelaskan dengan kata-kata.
"Saras... Ada Nenek nih" suara Ibu ku terdengar dari ruang tamu.
Aku menghembuskan nafas ku perlahan, mengedipkan mata ku beberapa kali supaya air mataku tidak jadi keluar.
Di ruang tamu aku melihat Nenek tersenyum bahagia sekaligus haru. Nenek menggenggam tangan ku begitu aku berada di dekatnya.
"Jaga diri baik-baik disana. Jangan lupa sholat, dan telefon rumah kalau ada apa-apa. Sekolah yang bener dan doa'in juga Nenek masih bisa liat kamu sampai kamu lulus nanti ya" ucapan Nenek membuat ku sedih, tapi aku tidak ingin menunjukkan itu padanya. Jadi aku tersenyum dan membalas ucapannya dengan tenang.
"Iya Nek. Amin, semoga Nenek selalu sehat dan aku juga bakalan belajar yang rajin di sana"
Pada akhirnya, aku berhasil lolos dan menyerahkan dokumen yang benar untuk pembuatan Visa. Dan besok adalah hari dimana aku pergi meninggalkan Indonesia. Harapan ku hanya satu, aku ingin membuat bahagia keluarga ku.
Dan dengan harapan itu, aku akan kembali menjadi pribadi yang hebat nantinya.
***
"Suoyi, wo jueding....."
"Ya Allah, ini beneran Saras? Wah hebat ya Saras sekarang. Udah berani ikutan lomba pidato bahasa mandarin"
"Iya gak disangka ya, padahal kan Saras kelihatannya anak nya pendiam gitu tapi ternyata... Pinter banget"
"Hebat banget anaknya, Mbak"
"Iya allhamdulillah kalau begitu. Kata nya kemarin pas Saras nelfon rumah, dia mau ikutan lomba pidato. Aku kira dia cuma bercanda tapi ternyata beneran"
NGINGGG
Telinga ku berdenging, apa tetangga-tetangga ku yang di Indonesia sedang ber-gosip tentang ku lagi? Ya ampun, ku harap kali ini aku di gosip kan untuk hal-hal yang baik.
CKLEKK
"Ras? Lagi ngapain kamu?"
Aku menoleh saat pintu kamar ku terbuka.
"Udah pulang kamu Ran?"
"Iya, ujian nya cuma satu tadi. Kamu lagi ngapain?" tanya Rani padaku. Dia adalah teman sekamar ku.
"Lagi nulis cerpen hehe. Biasa mau coba-coba ikut lomba, siapa tahu dapet uang hehe" jawabku dengan cengiran
"Huuuuu dasarr"
Tunggu..... Jalan ku masih panjang, seiring dengan banyaknya keinginan yang ingin ku lakukan. Ini baru di mulai, jadi ayo semangat!