Jika dunia yang kita tinggali ini...
Juga banyak yang mungkin kita tidak ketahui tentang dunia-dunia yang ada selain yang kita ketahui ini... (seperti setan, iblis, malaikat)
Namun, nyatanya dunia yang *Para Dewa* ciptakan lebih dari itu...
Mereka berhasil menjaga sebuah dinding antar dimensi dunia yang satu dengan yang lain, supaya tak terjadi hal yang tak diinginkan, seperti halnya perang antar dunia...
..
Selama ini.... Ribuan tahun lamanya...
*Para Dewa* berhasil menjaga semua itu, dan mereka menyebutnya *Keseimbangan*..
Layaknya seorang bayi, yang jika tak diberi makan secara teratur, diberi makanan seperti orang dewasa dengan porsi yang banyak dan memiliki banyak efek negativ juga...
Dan jika itu diberikan... Apa yang akan terjadi?..
Bayi itu akan merasa mual, sakit dipencernaan yang tak mampu menahan makanan orang dewasa makan, menangis, dan mungkin akan mati...
Itulah yang akan terjadi jika sebuah *Keseimbangan* ini goyang atau berbentur antara satu sama lain...
Dan hal itu, dianggap lelucon untuk semua para makhluk yang bernama *MANUSIA*...
Mereka hanya memikirkan kepentingan mereka saja, entah itu nafsu akan harta, wanita, takhta, kehancuran seseorang, dan masih banyak lagi, namun mereka tak berfikir jika sebuah legenda, dongeng, atau cerita yang para leluhur mereka pernah katakan akan terjadi disaat para manusia berfoya-foya, bermain wanita, menipu, merampok, membunuh, dan melakukan banyak hal buruk lainnya, namun sedikit orang yang berbuat baik didunia ini...
Pada akhirnya, cerita atau karangan atau mungkin kenyataan yang dicatat disebuah buku yang berjudul *Dimensi AntarDunia* ini ditemukan oleh anak muda yang tak sengaja menjatuhkannya saat ingin mengambil buku yang ia inginkan...
*Bukk...*
"Apa ini?... Apa aku salah mengambil buku?.. Rasanya tadi aku menyentuh, serta meraba buku yang benar, malahan aku lihat terlebih dahulu dan aku yakin letak bukunya... Tapi..." Anak muda tersebut mempunyai hobi menonton anime bergenre isekai, magic, fantasi, dan karena hal itu dia kini sulit untuk memandang tinggi wanita didunia ini sebagai pujaan hatinya...
"Aku merasa harus membaca buku ini... Buku *Dimensi AntarDunia*?.. Sungguhkah?!.. Apa benar orang ini menuliskan hal-hal semacam ini tanpa memikirkan apa pikiran orang tentangnya nanti?.." Anak muda tersebut memutar-mutar bukunya, dan anak ini bernama Ritsu Pratama January..
Dia adalah seorang anak blasteran dari Jepang ibunya dan Indonesia ayahnya...
Dia tak pernah malu untuk memakai nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya tersebut..
Dia tak pernah menyesal sedikitpun, walau kedua orang tuanya meninggalkannya saat diumur 6 tahun yang dimana dia sudah masuk sekolah untuk pertama kalinya, merasakan yang namanya pertemanan, dan juga merasakan bagaimana kehilangan orang yang paling menyayangi diri kita tanpa peduli keadaan atau kondisi mereka...
*Swusshh....*
[4-Maret-2013, Rumah Sakit CitraMutiara]
*Nitt..... Nitt..... Nitt.....*
"Huaaaa.... Biarkan aku bertemu mereka... Biarkan aku bertemu.. Huaa..." Ritsu mencoba meraih pintu ruangan UGD dimana kedua orang tuanya dioperasi...
"Bersabarlah nak... Mereka akan baik-baik saja..." Suster tersebut menggendong Ritsu dan mencoba membawanya menjauh agar tak mengganggu proses operasi..
*Tap.. Tap..*
"Siapa anak ini?.. Kenapa dia berisik sekali dirumah sakit?!.. Apa kau tahu sekarang para pasien sedang beristirahat nak?!!" Seorang pria tua yang sedang menjenguk pasien rumah sakit keluar dan memarahi Ritsu..
"Anak ini... Maafkan anak ini, Tuan.. Dia hanya sedang mengkhawatirkan orang yang berada didalam ruangan UGD tersebut.. Cup, cup, cup.. Jangan menangis lagi ya?..." Suster itu mencoba menenangkan Ritsu...
"Hei anak kecil!.. Kau tahu sekarang jam berapa?!.... Para pasien sedang tertidur dan juga palingan orang yang didalam sana adalah kedua orang tuamu bukan?!.. Mereka akan mati, tenang saja!.." Pria tua itu bersikap tanpa memikirkan perasaan, atau hati orang lain disaat merasa terpuruk yang bahkan masih diumur masih sangat muda atau belia.
"Mereka.... Mereka... Mereka adalah orang tuaku..." Ritsu melepaskan tangan suster tersebut dan menangis lebih kencang dan berlari menuju ruangan UGD..
"Mereka... Mereka takkan meninggalkanku!!.. Mereka akan terus tertawa, bermain, dan bahagia bersama denganku!!..." Ritsu membuka pintu dan mencari ayah dan ibunya..
"Ibu?!... Ayah?!... Jangan tinggalkan Ritsu sendiri... Ibu?!... Ayah?!..."
"Ritsu?!.. Kemarilah, ibu disini sayang..." Suara yang tak asing memanggil dirinya dan dia segera menghampirinya, dan itu membuat dirinya lega walau ITU HANYA SESAAT...
"Ibu?!.. Apa ibu baik-baik saja?.. Bagaimana dengan ayah?.. Dimana dia?... Hiks..." Ibu Ritsu mengelus kepalanya dan tersenyum karena melihat anaknya ini sangat khawatir kepada kondisi kedua orang tuanya, dan itu membuatnya bangga...
"Ayahmu disebelah sini... Bukalah gordennya..." Ritsu menariknya dan melihat ayahnya juga..
"Ayah!... Ayah... Aku ternyata benar... Tuhan tak pernah melupakan ucapanku..." Ritsu memeluk ayahnya dan tangan kanannya menggenggam tangan ibunya...
"Apa yang ucapkan memangnya Ritsu?.." Ayah nya mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya...
"Seorang paman tadi mengatakan jika ayah dan ibu akan mati tak lama lagi... Dan hal itu membuatku takut dan khawatir, maka dari itu aku mengucapkan sebuah keinginanku sambil meminta dalam hati 'Aku ingin orang tuaku bisa bersamaku selamanya..'.. Dan Tuhan mendengarkanku ayah, ibu.." Ritsu menggenggam kedua tangan orang tuanya dan dia merasakan sedikit aneh...
"Ayah?.. Ibu?... Kenapa tangan kalian dingin sekali?!... Kak Dokter!! Kak Dokter!!..." Ritsu segera pergi dan mencari dokter untuk mengecek kondisi kedua orang tuanya...
*Tap.. Tap..* .. *Dughh..*
"Aduh... Aku... Aku harus mencari kakak dokter!.." Ritsu berusaha berdiri walau kakinya terluka karena dia masih sangat kecil dan sebuah kecelakaan kecil dapat membuatnya terluka dengan mudah..
"Hei nak!.. Tunggulah, kenapa kamu terburu-buru?.. Jika kau mencari dokter, aku adalah dokter utama disini... Ada apa denganmu?.. Eh kakimu terluka, sebaiknya kuobati terlebih dahulu..." Dokter tersebut berusaha membawa Ritsu ketempatnya, namun Ritsu menolak dan malah menarik baju dokter tersebut dengan tangisan yang kini mengalir...
"Ada apa nak?!.. Kenapa kau menangis?!.."
"Ayahku dan ibuku... Tangan mereka berdua dingin sekali tiba-tiba saja... Kita harus kesana sekarang kak dokter..." Dokter tersebut merasa jika Ritsu tak sedang berbohong dan dia langsung menggendong Ritsu hingga keruang UGD..
"Dimana ayah serta ibumu dirawat?!..." Dokter tersebut menengok kekanan dan kiri dengan cepat untuk mengecek, karena dirinya merasakan firasat buruk dari perkataan Ritsu tadi...
"Apa gorden yang sudah terbuka sedikit itu tempat ayah dan ibumu?.." Tanya dokter tersebut sembari
berlari..
"Iya, Hikss..."
*Ctashh!*
Ritsu dan sang dokter yang memasuki tempat tersebut, dikejutkan dengan pemandangan mengerikan, yang dimana ayah Ritsu menghilang dalam kejapan mata dan berubah menjadi pecahan kaca biru...
.
.
"A... Ayah... Ayah kemana?... Ayah kemana bu?.. Dokter ayah saya hanya sedang ingin membuatku bingung sajakan?.. Ya kan?...." Ritsu mencari-cari ayahnya disekitar tempat diterbaring dan diluar jendela, dan berusaha menahan tangisnya air mata karena tak ingin percaya dengan apa yang ia lihat saat itu...
"..." Dokter tersebut hanya bisa diam, tak berkata dan tak bisa memikirkan jawaban apapun yang tepat untuk Ritsu saat itu.. Karena dirinya pun terkejut hal yang tak masuk akal saat dia melihat ayah Ritsu menghilang saat itu...
[Ibu Ritsu menarik lengan baju sang Dokter]
Dokter tersebut merasa paham dengan apa yang diinginkannya, tanpa mengucapkan dengan kata sekalipun, dan menyuruh seorang suster menenangkan Ritsu diluar ruang UGD...
"Jadi... Anda adalah ibu Ritsu dan..." Tak selesai mengucapkan perkataannya, ibu Ritsu menggenggam tangan Dokter tersebut dengan kuat...
"Mungkin Dokter takkan percaya.. Dengan perkataan saya... Uhuk, uhuk... Tapi sebelum ayah Ritsu menghilang, kami berdua seperti merasa ditarik dari atas dan tiba-tiba saja berada ditempat luas yang dihiasi bintang-bintang dan planet-planet.." Dokter tersebut mengambil kursi dan mendengarkan dengan cermat perkataan ibu Ritsu saat itu...
"Apa ibu tahu mengapa ibu merasakan hal tersebut?.."
"Y.. Ya.. Dan yang kami lihat bukanlah kami berdua saja disana, namun ada sekitar ribuan orang berkumpul dan setelah itu, muncul sesosok yang besar, dan mulia itu menyebut dirinya *Dewa*.."
"Dewa?!.."
"Dia mengatakan 'Maafkan aku, yang kini entah mengapa tiba-tiba saja sudah tak sanggup menjaga *keseimbangan* yang berada didunia ini... Dan mungkin diantara kalian akan ada yang dinamakan *Benturan Distorsi Ruang* yang mengakibatkan kalian menghilang dari dunia ini'... " Dokter itu terkejut dan merasa bahwa perkataan ibu Ritsu tak ada yang dilebih-lebihkan atau seolah itu benar adanya...
"Jika seperti itu!?.. Berarti ada kemungkinan ibu juga akan ikut menghilang seperti ayah Ritsu?!.." Dokter tersebut menyadari hal penting saat itu...
"Ternyata Dokter memang pandai.. Jadi, aku ingin meminta pertolongan pada Dokter.. Tolong jaga anakku dan cari tahu mengenai hal 'Keseimbangan', 'Dewa', 'Benturan Distorsi Ruang', dan kemungkinan munculnya makhluk lain.." Dokter tersebut dikejutkan dengan perkataan ibu Ritsu yang menyebutkan 'Makhluk Lain'..
"Apa maksud ibu?!.."
"Aku dan ayah Ritsu bekerja sebagai peneliti yang mencari tahu mengenai apa ada hukum sebab-akibat diruang waktu atau tanah yang kita pijak ini.. Dan saat itu, kami pernah menemukan sebuah kejanggalan yang dimana saat itu kami tak sengaja menginjak sebuah jalan menuju peninggalan gua rahasia... Dan kami menulisnya... Uhuk, uhuk.."
"Apa ibu tidak apa?!.." Dokter tersebut membantu ibu Ritsu bangun dari kasur...
"Kami menulis semua yang kami lihat, temukan dan teliti di sebuah buku berjudul 'Dunia Lain?', dia rak A4, pintu 4b, disebuah Lab. S. W. (Secret World).." Dokter tersebut menulis apa yang ibu Ritsu katakan...
"Dokter... Bisa panggilkan Ritsu kesini?.. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya dan juga memberikan hadiah perpisahanku untuknya..." Dokter itu bergegas pergi dan membawa Ritsu ketempat ibunya...
"Ibu!.. Hiks.." Ritsu segera berlari memeluk ibunya dan menangis..
"Sepertinya aku lebih baik tak mengganggu pertemuan terakhir mereka.." Gumam Dokter itu dan lekas pergi..
"Ritsu.. Ibu dan ayah minta maaf karena tak bisa bersamamu lebih lama lagi.. Ibu ingin kamu hidup dengan kasih sayang orang tua, namun ibu sangat meminta maaf karena ibu akan meninggalkanmu sebentar lagi.. Jadi, nanti Ritsu jadilah anak baik dan penurut saat tinggal bersama Dokter ya?.." Ibu Ritsu mendekap Ritsu dengan tangisan yang ditahan agar Ritsu tak menyadarinya...
"Kenapa ibu berbicara seperti itu!?.. Apa alasan ibu?.. Apa ada yang melakukan sesuatu pada ibu dan ayah sehingga harus meninggalkan diriku tanpa kalian!?.. Hiks, hiks... Ayah, ibu jahat!" Tak tahan setelah mendengar perkataan anaknya yang tak ingin ditinggalkan oleh mereka, ibu Ritsu akhirnya bergelinang air mata...
"Maafkan ibu dan ayah, Ritsu... Ritsu harus berusaha untuk hidup tanpa ayah dan ibu... Dan mungkin kamu harus menjaga dirimu, orang yang berharga untukmu, kamu sayangi dan cintai dimasa depan nanti..." Ibu Ritsu segera mengambil sesuatu dari bawah selimutnya..
"Simpan dan jaga baik-baik benda ini... Bawa kemanapun kamu pergi Ritsu... Ini akan menjaga dan memberimu kekuatan untuk melindungi hal-hal yang penting bagimu suatu saat nanti..."
Disaat yang bersamaan...
{Berita Niw.. Kabar misterius,serta duka terjadi diseluruh dunia saat ini... Ratusan orang terkonfirmasi menghilang begitu saja dan nampaknya hanya meninggalkan serpihan kaca biru... Dan... Maaf terganggu, kami menerima kabar baru bahwa kasus orang menghilang diseluruh dunia mencapai ribuan orang atau lebih tepatnya 2.879 jiwa}
*Duak..*
Sang Dokter yang melihat berita tadi, segera berlari menuju tempat ibu Ritsu berada, namun hal itu sudah terlambat... Karena...
"Ritsu!.. Apa kau...." Dokter itu hanya melihat Ritsu yang menangis sembari memukul kaca biru dikasur ibu Ritsu, dan hal itu membuat hatinya terluka, dan segera memeluk dan berusaha menenangkan Ritsu...
"Berhenti nak... Menangislah, dan berteriaklah, luapkan rasa sedihmu... Namun jangan menyakiti diri sendiri saat orang terluka... Karena hal itu hanya akan membuat dirimu terluka dan orang yang terluka akan semakin bertambah parah rasa sakitnya..." Dokter tersebut memukul pundak Ritsu perlahan dan mengelus rambutnya untuk menenangkan Ritsu..
"Huaa... Huuuaaaa... Hiks.. Hiks.... Ibu!!... Ayah!!..."
[4-Maret-2024, Perpustakaan Cantique]
"Hah... Itu hanya masa lalu... Aku harus segera melupakan rasa sedihku saat ini..." Ritsu membawa buku yang ia baca tersebut dan meminjamnya ke pustakawan...
*Tap.. Tap... Tap...*
"Mengapa hari ini terasa seperti ada yang aneh ya langitnya?.. Mungkin hanya perasaanku saja..." Ritsu melihat langit berawan, namun hal itu hanya menutupi tempat ia berada yakni Perpustakaan Cantique, dan daerah lainnya cerah seperti biasa...
"Aku pulang... Paman, apa ada dirumah?"
(Paman:Dokter)
"Ya... Apa kau melihat langit didaerah Perpustakaan Cantique?.."
"Ya?.. Aku melihatnya, karena aku baru saja habis dari sana..."
"Begitukah?.. Yasudah, kau segeralah bersih-bersih dan mandi... Paman ingin keluar sebentar..." Dokter itu mengambil beberapa senjata api pistol yang ia simpan untuk berjaga-jaga dirumahnya...
"Baiklah.."
*Ctrakk...Ctrakk...* *Jduar!*
.
.
.
.
.
*Ctashh!... Ctashh!..*
Sebuah langit diatas Perpustakaan Cantique saat itu, terpecah dan menjatuhkan sesuatu dari atas sana.. Karena hal aneh yang terjadi itu, Dokter tersebut bergegas kembali kerumahnya...
"Ritsu!.. Ritsu!..." Dokter itu sangat panik dan mencari barang penting dengan tergesa-gesa...
"Ada apa paman?.. Mengapa paman terburu-buru seperti itu?.. "
"Aku tidak ingin banyak bicara, namun apa kau ingat kejadian 4-Maret-2013?.." Dokter itu akhirnya menemukan barangnya yang berupa flashdisk dan memasukkannya kelaptop..
"Ada apa memangnya paman!?... Apa ini mungkin ada kaitannya dengan hilangnya ayah dan ibuku?!.." Ritsu mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga untuk menahan emosinya saat itu..
"Ya... Dan ibumu mengatakan jika dia dan ayahmu bertemu dengan sesosok *Dewa* dan ia mengatakan 'Maafkan aku, yang kini entah mengapa tiba-tiba saja sudah tak sanggup menjaga *keseimbangan* yang berada didunia ini... Dan mungkin diantara kalian akan ada yang dinamakan *Benturan Distorsi Ruang* yang mengakibatkan kalian menghilang dari dunia ini'... Dan hal itu membuatku yakin dengan kejadian ini ada kaitannya dengan 4-Maret-2013 saat itu..." Dokter tersebut memutar rekaman cctv dari jalan raya yang merekam kejadian disaat langit diatas Perpustakaan terpecah...
*Dumm!.. Dumm!..*
*Roarrhh!!... Akhirnya kami menemukan tempat tinggal baru, Huga!!*
*Huga!*
*Huga!*
*Kyaa!... Ada monster!*
*Ho?.. Makhluk apa ini?.. Apa ini adalah makhluk dimensi gerbang ini?.. Aku sebenarnya tak ingin membunuhmu, namun kau mengatakan kami monster, maka dari itu kau atau kalian semua akan mati!*
*Craatt!...*
-Selesai-
| Gimana ceritanya?.. Aku butuh pendapat kalian nih untuk iseng-iseng membuat novel baru yang berjudulkan ini jika kalian suka... kalo kalian gak suka, maka ini hanya akan menjadi cerpen saja..
Oh ya, cuman pengen ngasih tau kalo cerita novelku ini diambil dari sebuah teori Multiverse yakni
*Teori Pararel Universes*
penjelasan: Parallel universes atau dunia paralel cukup heboh dibicarakan beberapa kurun waktu terakhir. Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain.
Para ahli kuantum percaya bahwa setiap hari (setiap detik, bahkan) sebuah dunia paralel tercipta. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya dan tidak ada yang dapat memastikan dunia mana yang sebenarnya nyata.
Jadi gitu guys.. Aku butuh vote kalian nih untuk cerpen ini dijadikan novel atau tidak.. caranya
Pilih Yes atau Not, lalu ketik alasan kalian kenapa ingin dijadikan novel atau kenapa tidak ingin dijadikan novel... kata-kata bebas ya, jangan terlalu formal kakak-kakak pembaca sekalian...|