Lelaki itu tampak kuyu. Wajahnya persis mayat. Pucat, dengan kantung mata hitam yang menggantung tebal. Matanya merah dengan bercak iritasi di sekitar lingkaran hitam pupilnya. Rambutnya panjang, berantakan, dan lepek. Ia kurus, tampak akan terbang jika diterpa angin. Satu hal lagi, ia seperti tak memiliki jiwa.
Sedari tadi yang dilakukannya hanya diam. Sedikit linglung kemudian mengamati kaleng biskuit di depannya. Jarak satu meter. Ia duduk di kursi putar dengan pemandangan komputer yang menyala di belakang punggungnya. Sisanya, hanya ruangan berkarpet dengan beberapa furnitur khas kamar pribadi. Dindingnya dipenuhi wallpaper anime dan poster-poster idol negeri ginseng. Tidak terlalu luas untuk tempat menampung kumpulan kotak kardus di pojok ruangan bekas paket barang yang ia beli secara online. Juga tidak terlalu bersih atau rapi ketika barang-barang di dalamnya ditempatkan tidak pada tempat yang seharusnya.
Sekilas, pemandangan ini menyimpulkan keadaan si pemilik kamar, lelaki itu, Juna. Dia tak akan bertahan lama dengan situasi itu. Dipandanginya terus kaleng biskuit yang menjadi awal mula semua ini terjadi. Semua hal tak masuk akal meskipun ia pernah percaya karena fanatiknya pada anime shoujou yang biasanya memiliki sihir. Tapi, ketika terjadi di dunia nyata, ia masih ingin melarikan diri karena terlalu mengerikan.
Dengan keraguan paling mendasar dan rasa putus asa, ia berniat mencobanya sekali lagi sebelum benda itu hilang dari pandangannya. Segera, ia mendekat ke arah kaleng biskuit. Tangannya gemetar, tidak tahu lagi jenis tremor apa yang mempengaruhinya. Semua bercampur menjadi satu dalam kalut batin dan fisiknya yang lelah.
“Aku akan bertaubat jika bisa kembali.”
Juna membuka tutup kaleng biskuit itu dengan sisa tenaga yanga ada. Bibirnya bergumam dengan niat sungguh-sungguh dalam batinnya. Dan ketika setitik cahaya muncul dari dalam kaleng biskuit lalu menyebar ke segala penjuru ruangan, Juna tenggelam dengan senyuman pasrah.
***
41 jam yang lalu...
Juna baru saja membuka mata ketika gedoran di pintu kamarnya terdengar. Suara lembut yang samar memasuki indera pendengarannya. Ia terduduk dari posisi kepala yang diletakkan di meja komputer. Lalu ia melihat sesuatu melintasi lubang kecil bertirai di bawah pintu. Lubang khusus sejenis pintu masuk hewan peliharaan yang kini menjelma menjadi tempat pertukaran barang antara ia dengan orang-orang di luar kamarnya. Hal-hal yang normal dilakukannya selama satu tahun terakhir.
Itu sebuah kaleng biskuit dengan logo dari merek terkenal yang selalu muncul di tv saat perayaan hari raya islam. Juna yang telah bangun sepenuhnya, melirik sekilas sebelum menggerakkan mouse dan mengetuk ikon percakapan online dengan orang yang baru saja memberinya sekaleng biskuit itu; mamanya. Dengan ketikan cepat di keyboard seolah telah terbiasa, ia menuliskan permintaannya di kolom percakapan.
[Ma, ada keripik sama soda?]
Dalam beberapa menit, mamanya mengirim kedua benda itu melalui lubang kecil. Juna mengangguk puas dan mulai menjelajahi laman anime. Ia tidak peduli dengan jam yang menunjukkan pukul 17.30. Ia tak ingat mandi apalagi menjalankan ibadah yang mulai ia tinggalkan sejak dua bulan lalu. Ia mandi pun hanya beberapa hari sekali jika dirasa badannya benar-benar gatal. Satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah event-event anime yang diadakan secara online selama pandemi berlangsung. Dan itu sudah satu tahun lamanya. Dari satu tahun yang lalu pulalah ia mengunci dirinya di dalam kamar tanpa berniat keluar sedikit pun. Apalagi fasilitas dalam kamarnya sangat mendukung seperti kamar mandi dalam, alat elektronik lengkap dengan jaringan intenet yang lancar, penghangat atau pendingin ruangan yang tersedia di dindingnya, dan kenyataan bahwa mamanya sudah menyerah untuk memarahi atau membujuknya keluar sehingga ia tak punya pilihan selain menyediakan apapun untuk putranya melalui lubang kecil bertirai itu. Itu kesepakatan yang telah dianggap normal oleh keluarganya.
Juna mengambil dua makanan itu lalu berpikir untuk membuka kaleng biskuit yang sepertinya membuatnya sedikit ingin makan sesuatu yang manis. Ia meminum sodanya sebelum membuka kaleng itu. Lalu, segala sesuatu terjadi dengan tidak semestinya.
Sebuah cahaya muncul sangat terang dari dalam kaleng biskuit. Hal itu membuat Juna mundur karena kaget dan menutup mata karena silau. Selang beberapa detik, semuanya kembali normal. Juna berkedip bingung dan melongok ke dalam kaleng biskuit yang kosong.
“Yang benar aja! Masa dikasih kaleng kosong?”
Juna berdecak kesal dan membuka obrolannya kembali dengan mamanya. Protes dengan hal yang diberikan kepadanya.
Juna mendengus ketika tak mendapati balasan. Ia dengan marah membuang kaleng itu sembarangan. Tidak peduli dengan suara keras yang ditimbulkan akibat benturan kaleng dengan lantai marmer. Ia makan keripik dengan tenang dan kembali fokus pada layar komputernya.
Selama berjam-jam ia bertahan dalam keadaan seperti itu. Hanya untuk menunggu saat perutnya sedikit perih karena lapar. Ia melirik jam di pojok komputer dan segera menuju kolom obrolan dengan mamanya. Meminta dikirimkan makanan karena ini sudah agak larut. Tetapi, sekali lagi tak ada tanggapan.
Juna mulai mengirim pesan spam. Bertubi-tubi, tidak hanya kepada mamanya, tapi juga pada kakak perempuan dan ayahnya. Dia terus begitu hanya untuk kembali kesal karena tak ada satu pun di antara keluarganya yang menanggapi pesannya. Hingga akhirnya, Juna berhenti. Ia kesal dan lapar.
Dengan sisa suara yang hampir tak pernah keluar dari tenggorokannya selama satu tahun ini, ia berteriak keras memanggil anggota keluarganya.
“MA! MAMA! AKU LAPAR!!”
“AYAH! KAKAK!!”
Sudah lima menit. Semakin keras ia memanggil, semakin serak suaranya, semakin kuat gelombang kecemasan datang pada dirinya. Dia tiba-tiba menyadarinya. Sejak sore tadi, keadaan begitu tenang. Tidak ada suara-suara samar yang biasanya berasal dari luar kamarnya. Entah itu suara ayahnya yang sedang mendikte kakaknya belajar, suara oseng-oseng atau peralatan dapur karena mamanya sedang memasak makan malam, atau pun suara-suara kendaraan lalu lalang di depan rumahnya. Ini terlalu senyap.
Juna terserang kecemasan yang sangat besar secara tiba-tiba. “Nggak mungkin!” gumamnya frustrasi. Lalu jari-jarinya berselancar di atas keyboard hanya untuk memastikan bahwa seseorang akan merespon pesan spam-nya di forum anime. Dan hasilnya nihil. Tidak seorang pun online. Padahal biasanya di jam tengah malam seperti ini, para penggemar anime itu berkumpul. Membahas anime yang baru saja dirilis.
Tubuh kurus Juna terkulai lemas. Ia menatap nanar sekitarnya sebelum berfokus pada pintu kamarnya yang tak pernah terbuka. Pikirannya mulai kacau.
“Haruskah aku keluar?” tanyanya skeptis.
Keengganan dan rasa takut muncul merambati hatinya yang cemas. Ia semakin berkecamuk antara batin dan pikirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain bertanya-tanya “kemana semua orang pergi?”
Akhirnya Juna menunggu pagi. Membiarkan dirinya kelaparan di bawah selimut yang sudah satu bulan belum ia kirim keluar untuk dicuci oleh mamanya. Membiarkan otaknya berspekulasi liar bahwa umat manusia sudah punah kecuali dirinya sendiri. Terus begitu hingga pagi hari tiba.
Juna menatap layar komputer yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dengan langkah ragu dan rapuh, lelaki kurus itu berdiri di depan pintu. Memutar kunci yang sedikit macet dan menarik pintu hingga terbuka. Lurus, ruang keluarga yang sedikit banyak telah berubah dari yang terakhir kali ia ingat. Ia berjalan keluar, menuju dapur hanya untuk menemukan kekosongan bahan makanan. Hanya ada air galon dan keripik sisa di kulkas. Sisanya benar-benar tak ada apapun.
Ia minum dengan rakus karena haus di saat yang sama. Memakan keripik sisa dan mulai memutar otak untuk memecahkan hal pelik ini. Ia sangat lapar, sedangkan semua orang menghilang. Kesunyian ini juga perlahan mencekiknya. Membuat Juna berjalan perlahan ke arah ruang tamu, berniat keluar dan membeli sesuatu di minimarket samping rumahnya. Juga berharap akan menemukan tetangganya atau orang di jalan.
Namun, sepi. Jalanan benar-benar tanpa kendaraan, orang-orang tak terlihat sejauh mata memandang, dan dia sendirian dengan perasaan mencekam. Ia mulai berlari ke minimarket dan mendapatinya tutup. Kembali ke rumah karena menyerah dengan kengerian sekitar. Saat sampai, ia benar-benar bertahan hanya dengan air minum dan beberapa butir permen yang ia temukan di toples ruang tamu. Dia putus asa, menjadi tak dapat tidur, frustrasi, dan kekurangan gizi. Hingga satu hari satu malam sudah berlalu.
Tiba-tiba, sebuah gagasan masuk ke kepalanya. Ia menyeret langkahnya ke dalam kamar. Menutup pintu dan meraih kaleng biskuit yang kini tutupnya telah kembali di tempatnya. Benar, semuanya bermula pada kaleng itu.
***
Juna melebarkan tatapannya. Menatap sekitar yang tetap pada tempatnya. Saat telinganya mendengar suara samar dari luar, ia tak dapat menahan diri untuk berjalan dengan gontai dan meraih gagang pintu hingga terbuka. Menampilkan penampakan keluarganya yang sedang menonton tv bersama di ruang keluarga. Ketiga orang tersebut menoleh hanya untuk terkejut mendapati pemandangan langka.
“Astaga! Akhirnya setelah sekian purnama, adikku satu-satunya keluar dari gua!” jerit kakak perempuannya antara sinis, heran, dan takjub.
“Juna?! Ya ampun, Nak, kenapa penampilanmu kucel begitu?” histeris mamanya.
Setelah beberapa detik, Juna menangis dan jatuh terduduk di lantai. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Tak peduli tatapan bingung dan cemas keluarganya yang mengira bahwa ia memiliki sedikit gangguan jiwa setelah terisolasi. Pada kenyataannya, dia memang hampir depresi beberapa menit yang lalu.
***
TAMAT.