Seorang pemuda berparas bocah sibuk mengotak-atik handphonenya. Sesekali mata nya diam-diam melirik ke arah meja yang ada di sampingnya. Pemuda itu diam-diam memperhatikan seorang gadis berambut coklat kemerahan yang sedang menikmati manisnya donat coklat dengan segelas vanilla milkshake.
Pemuda itu adalah Cetta Aquamarine. Pemuda berwajah imut dengan surai sehitam bulu burung gagak dengan mata sebiru samudra. Cetta memang terlihat seperti manusia biasa. Namun sebenarnya dia adalah siren sekaligus calon Raja Lautan.
Cetta terus memperhatikan gadis itu. Sayangnya, gadis yang sudah dua jam diikutinya ini tidak peka dengan keadaan sekitar. Gadis itu malah asyik membaca novel misteri karya Agatha Christie. Kepekaan gadis itu memang di bawah rata-rata. Tapi gadis itu rupanya termasuk jajaran siswi yang berprestasi di sekolah mu.
"Maaf, mau pesan apa?"
Cetta tersentak dari lamunannya. Ia melirik tajam ke arah pelayan perempuan yang sekarang menatap genit ke arahnya. Bukannya takut pelayan itu tetap bersikap genit ke arah Cetta. Pelayan itu menggigit bibir nya berusaha menggoda pemuda imut di hadapannya.
"A..aku pesan satu espresso saja," jawab Cetta sembari menahan rasa jijiknya.
"Mm... hanya itu saja?"
Cetta mengangguk.
"Apa tidak ada yang menemani anda?"
Lagi-lagi Cetta mengangguk..
"Mau kutemani?"
Gadis yang diperhatikan Cetta tadi rupanya merasa terganggu dengan obrolan genit pelayan itu. Gadis itu sangat kesal dengan pelayan perempuan yang genit itu. Ingin sekali ia mengusir pelayan perempuan itu agar dapat kembali membaca novel dengan tenang.
"Benar-benar sangat mengganggu," gadis itu bergumam kasar. Pelayan itu tidak mendengar ucapannya tapi Cetta mendengar suara lembutnya itu. Cetta tertawa dan membuat pelayan genit itu bingung. Gadis itu akhirnya melirik ke arah Cetta yang sedang tertawa. Kebetulan Cetta juga sedang memandang gadis itu juga. Gadis itu terpana dengan mata Cetta yang berwarna biru itu.
"Maaf, tapi aku sudah ada yang menemani," kata Cetta kepada pelayan itu. "Nona yang duduk di meja sebelah akan menemani ku."
Gadis yang masih memandang Cetta merasa bingung. Yang duduk disamping meja pemuda imut itu hanya gadis yang berambut coklat kemerahan tadi. Ingin rasanya gadis itu bertanya kepada pemuda imut yang belum kamu ketahui namanya. Tapi, gadis itu terlalu malu untuk memulai percakapan dengan orang asing.
"Ah, apa aku boleh duduk bersama mu, Nona?" Tanya pemuda itu kepada mu.
Pipi gadis itu merona. Sepertinya gadis itu ketahuan memandanginya. Tanpa menunggu jawabannya, pemuda itu sudah duduk di depannya.
"A..aku be..belum menjawab mu," balas gadis itu lirih.
Pemuda itu menyeringai lalu menopang dagunya sembari menatap mu dengan intens, "Anggap saja ini bayaran untukku karena kau terus memandangi wajah tampanku ini, manis."
Glek.
Gadis itu menelan salivanya gugup. Pemuda itu memanggilnya 'manis'. Pipinya memanas. Padahal dirinya sudah sering mendengar gombalan receh dan pujian dari teman-teman sekelasnya.
"Jadi, siapa nama mu, manis?" Tanya Cetta yang masih menopang dagunya. Sebenarnya Cetta sudah mengetahui semua tentang gadis itu termasuk namanya. Bahkan ia juga tahu nama orangtua gadis itu. Tetapi, jika dirinya langsung memanggil nama asli gadis itu, bisa dipastikan gadis itu segera menjauhinya.
"Leoni," bisiknya pelan.
Untuk ukuran manusia suara Leoni tadi sangat kecil. Untung saja Cetta adalah siren yang mempunyai pendengaran yang tajam.
"Nama yang cantik. Kalau Leoni Aquamarine pasti lebih cantik."
Leoni menaikkan sebelah alis bingung. Siapa itu Aquamarine? Menurutnya itu nama yang cukup aneh.
"Nama ku Cetta Aquamarine, Leoni."
Leoni mengangguk paham. Beberapa detik setelah mengangguk, kamu merasa ada satu kejanggalan. Apa maksudnya dengan Leoni Aquamarine. Apa jangan-jangan...?
"EH? LEONI AQUAMARINE MAKSUDNYA APA? JANGAN-JANGAN KAU ITU PENCULIK, YA?"
Leoni berteriak sangat amat keras. Dan teriakannya itu sangat-sangat ambigu. Sekarang Leoni dan Cetta menarik perhatian pengunjung lain. Orang-orang di sekitar mereka berdua mulai berbisik-bisik. Cetta mengusap wajahnya menahan malu. Kemudian pemuda imut itu berdiri.
"Maaf, aku dan is.. maksud ku kekasih ku ini sedang bertengkar."
Lalu Cetta kembali duduk dan menyeringai ke arah Leoni. Leoni balas menatapnya tajam. Rasanya Leoni sangat ingin mencekik pemuda yang baru ia kenal ini. Tapi, karena Leoni tidak ingin populasi pemuda tampan bonus imut berkurang, ia terpaksa menahan hasrat sadisnya itu.
"Aku bukan kekasih mu," kata Leoni.
"Mau jadi kekasih ku?"
"Tidak."
"Oke."
Ini cukup. Leoni benar-benar ingin marah sekarang. Bukan, Leoni memang sudah marah. Pemuda di hadapannya ini dengan seenaknya duduk bersamanya lalu mengklaim dirinya sebagai kekasih.
"Pergi dari sini. Kau mengganggu ku membaca novel."
Cetta kembali menyeringai, "Kau mengusir ku? Aku ini lebih tua darimu, loh."
Leoni mendengus kesal lalu menyibakkan rambutnya yang berwarna coklat kemerahan itu. Tanpa sadar, ujung telinga Cetta agak memerah. Laki-laki itu terpesona dengan kecantikan matenya ini.
"Paling hanya beberapa bulan saja."
Cetta tertawa, "Aku 25 tahun."
Mata Leoni terbelalak kaget. Usianya baru 19 tahun dan baru saja masuk semester 3 kuliahnya. Leoni merasa tertipu dengan wajah Cetta yang seperti seumuran dengannya itu. Ah, tidak. Bahkan wajah Cetta terlihat lebih muda.
"Kalau begitu biar aku yang pergi," ucap Leoni dengan cepat.
Sayangnya Cetta menarik tangan Leoni supaya kembali duduk. Ia memandang gadis itu dengan tatapan bersalah. Leoni menatapnya tajam lalu menghempaskan tangannya. Cetta menatapnya sedih karena matenya ini menolaknya.
"Cukup sulit jika mempunyai mate dari kalangan manusia," Cetta bergumam tanpa sadar.
Dahi Leoni berkerut. "Mate?"
Cetta tertawa gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Diam-diam ia merutuki mulutnya yang suka asal bicara. "Mate? Apa itu mate?"
"Ta-"
"Tuan, ini pesanan anda."
Untuk pertama kalinya Cetta bersyukur dengan kehadiran pelayan genit tadi. Ingatkan Cetta untuk berterima kasih kepada pelayan itu nanti.
"Tuan, apa ada pesanan lain?" Pelayan itu mengerlingkan matanya ke arah Cetta.
Oke. Cetta tarik perkataannya tadi. Tolong ingatkan dia untuk menenggelamkan pelayan genit itu ke samudra artik.
"Sepertinya ti-"
Ucapan Cetta terhenti ketika melihat kursi di hadapannya kosong. Ketika pelayan itu datang, Leoni segera memanfaatkan waktu untuk pergi sejauh mungkin dari cafe itu.
"Mau bermain-main denganku, Leoni?"
***
Leoni duduk di atas ayunan. Menikmati keindahan langit sore yang sebentar lagi berganti malam. Moodnya benar-benar jelek sekarang. Sebenarnya Leoni pergi ke kafe untuk meredakan amarahnya terhadap kekasihnya yang brengsek itu karena berselingkuh dengan perempuan lain. Ah, laki-laki bermuka dua itu tidak pantas lagi disebut sebagai kekasih. Laki-laki itu telah menduakan Leoni.
Tapi, Leoni malah bertemu dengan pemuda berusia 25 tahun berwajah tampan bonus imut yang sangat berisik. Pemuda bernama Cetta itu benar-benar mengganggu ketenangannya. Dan itu membuat Leoni sedih karena ia selalu teringat dengan Dean yang selalu berisik saat berkencan dengannya.
Dean merupakan kekasih pertama Leoni. Dia pemuda yang sangat baik dan dia selalu memperlakukan Leoni dengan sopan. Tidak pernah sekali pun Leoni dan Dean berciuman. Selama ini kontak fisik yang mereka berdua lakukan hanya sebatas bergandengan tangan saja. Tapi, ketika pulang kuliah tadi Leoni melihat Dean dan seorang perempuan sedang melakukan adegan panas di ruang kesehatan. Leoni melihat Dean dan perempuan itu berciuman. Bahkan Leoni melihat kalau Dean sedang berusaha membuka kancing seragam perempuan itu. Leoni benar-benar sedih, kecewa dan jijik ketika melihat adegan itu.
"Dasar laki-laki brengsek," bisik Leoni tanpa sadar.
"Aku tidak suka jika permaisuri ku nanti mempunyai mulut yang kasar."
"Eh?"
Leoni mendongakan kepalanya. Ternyata pemuda yang ia temui di kafe itu sedang berdiri tepat di belakang mu. Jarak di antara Leoni dan Cetta sangat dekat. Bahkan Leoni bisa mendengar suara hembusan napas dan detak jantung pemuda itu. Cetta memeluk Leoni dari belakang. Posisi Leoni saat ini sedang duduk di atas ayunan dan Cetta sedang berdiri tepat di belakangnya.
Entah mengapa jantung Leoni berdetak sangat kencang. Lututnya lemas dan suhu tubuhnya tiba-tiba memanas. Sekarang Leoni yakin kalau wajahnya terlihat seperti tomat busuk.
"Walaupun tomat busuk, aku tetap suka, kok."
Butuh waktu sekitar setengah menit untuk Leoni mengerti perkataan Cetta. Dan sayangnya ia salah menangkap maksud dari perkataan Cetta.
"ASTAGA! SUDAH KUDUGA! PASTI KAU ITU ADALAH SINDIKAT PENCULIKAN GADIS DI BAWAH UMUR, YA!"
Leoni berteriak histeris. Pikirannya mulai kotor. Cetta tertawa senang. Bagi Cetta, sangat lucu melihat matenya ini berpikir yang aneh-aneh. Ini merupakan hiburan tersendiri bagi pemuda berparas tampan itu.
"Kau mau aku culik? Tenang saja, aku akan memperlakukanmu dengan lembut dan menjadi penculik yang baik," kata Cetta.
Cetta menyeringai dan itu membuat Leoni bergidik ngeri. Leoni mundur dan Cetta maju. Setiap Leoni mundur Cetta selalu mendekatinya. Leoni mundur dua langkah, Cetta maju dua langkah. Begitu seterusnya sampai akhirnya Leoni tiba-tiba terjatuh.
Leoni jatuh dengan posisi duduk roknya terbuka sehingga memperlihatkan celana dalam bercorak polkadot. Cetta memalingkan mukanya. Pipinya merona. Leoni yang melihat Cetta jadi gemas sendiri. Ingin rasanya ia memeluk pemuda berwajah imut itu.
"Ekhem.."
Cetta mengulurkan tangannya ke arah Leoni tanpa melihat gadis itu. Leoni menerima uluran tangan itu. Setelah Leoni berdiri, pemuda imut itu akhirnya berani menatapnya. Samar-samar rona merah dipipinya masih terlihat.
"....mu..?"
"Eh, apa?"
Leoni memiringkan kepala bingung. Suara Cetta tidak begitu terdengar. Leoni sibuk berpikir tanpa menyadari kalau jarak antara kamu dengan Cetta semakin dekat.
Ketika Leoni mendongak, Cetta sudah menatap dirinya dengan intens. Leoni terhanyut dalam tatapan dalam Cetta. Wajah mereka berdua semakin dekat. Leoni menutup matanya.
Cup~
Pemuda yang baru Leoni kenal itu merebut first kissnya. Cetta mencium bibir Leomi dengan lembut. Ia mencium bibir bawah dan atasmu secara bergantian. Cetta menggigit bibir bawah Leoni. Mulutmu terbuka dan Leoni membiarkan lidah Cetta masuk dan menari-nari di dalam mulutnya. Tubuh Leoni lemas sekali. Leoni mengalungkan kedua tangan dileher Cetta. Sedangkan tangan Cetta memeluk pinggang matenya dengan erat.
"Leoni!"
Suara yang saat ini tidak ingin Leoni dengar tiba-tiba mengganggunya. Cetta melepaskan ciumannya. Leoni mengerang kesal dan membuat Cetta terkekeh.
"Kenapa kau kesini, Dean?" tanyamu sinis.
Dean menatap Leoni kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan emosi. Sebenarnya ia mencintai Leoni, dan perbuatan bejat yang Leoni lihat di ruang kesehatan itu memang murni kesalahannya.
"Kenapa kau berciuman dengan pemuda asing itu?"
Dean menekan tiap kata pada ucapannya.
Leoni menatapnya sinis. "Kalau begitu, kenapa kau mencium perempuan lain di ruang kesehatan? Bahkan aku melihat kau membuka kancing perempuan itu. Dasar bejat!"
Dean menatap Leoni terkejut. Matanya kemudian beralih menatap Cetta dengan tajam. Sepertinya Dean tidak mau Leoni direbut oleh Cetta.
"Leoni, ini hanya salah paham. Perempuan itu yang menggodaku duluan!"
Leoni berdecih. Ia tidak percaya omongan yang dikatakan 'mantan' pacarnya ini. Leoni memikirkan kata-kata yang pedas untuk membalas Dean. Tapi, belum sempat Leoni membalas kata-kata Dean, Cetta sudah membalasnya dengan dingin.
"Hei, Dean lebih baik kau menjauh dari gadisku ini. Hanya aku laki-laki yang pantas untuknya."