"Liazi!" teriak seseorang yang sumber suaranya dari arah dapur.
"Cepat kemari! Ini masakannya kenapa tidak ditunggu, kan jadi gosong begini," ujarnya lagi.
"Apa, Bu?"
"Masak lagi dua kali lipat! Ibu mau belanja dulu. Jangan sampai gosong lagi!"
"Tapi banyak banget itu buat siapa, Bu?"
"Jangan banyak tanya, dan kerjakan dengan baik!" kata Ibu lalu meninggalkan Liazi di dapur sendirian.
*
"Bu!"
"Apa? Ibu lagi sibuk. Kenapa?" sambil mengurus adik Liazi yang kedua.
"Aku mau ikut lomba boleh? Dapat iPhone kalau aku menang," ujar Liazi dengan penuh harap.
"PENULIS LAGI! Kapan kamu berhenti dari duniamu sendiri!? Lebih baik belajar dengan rajin biar jadi sukses! Bukannya menulis, hanya membuang-buang waktumu!" jelas Ibu dengan tak suka.
Liazi memang tak pernah dimanja dan diberi keadilan sejak ia sudah memasuki usia remaja. Dirinya harus mandiri dan harus berusaha bekerja keras dengan usahanya sendiri. Namun sekali-kali ia diberi uang jajan dan menabung.
Liazi pun kembali ke kamarnya dan merenungkan nasibnya. Menangis sejadi-jadinya karena ia tak ada penopang dikala ia sedih. Ia anak tertua.
"Semua gak boleh! Kenapa!? Aku jadi yakin kalau aku bukan anak kandung. Ya. Aku hanya anak angkat. Dan dia bukan Ibu kandungku. Tak mungkin jika mereka menyayangiku dengan seperti itu," ucap Liazi menahan air matanya agar tidak jatuh lagi. "Aku tak boleh nangis hanya karena ini! Tak guna!"
*
"Liazi!"
"Ya?"
"Piringnya kamu pecahkan!?"
"Iya."
"Kamu kenapa pecahkan semua?! Ini piring dari Ibu mertua!"
"Mampus!" ucap Liazi menyalahkan dirinya sendiri karena memecahkan tiga piring sekaligus.
Rasa bersalah ada, namun ia juga sedih karena bukannya mengkhawatirkan dirinya, apakah tangan atau kakinya terkena pecahannya, malah mengkhawatirkan piring barang mati itu.
"Benar-benar lebih berharga piring daripada diriku!" geramnya di kamar sendiri.
*
Saat Liazi hendak berangkat ke studio bersama teman-temannya, ia justru dibantah oleh Ibunya. "Bisa kamu membantu Ibu mengurus adikmu ini? Ibu mau bekerja dulu. Pekerjaan numpuk."
"Huh! Sabar! Kapan aku bisa bebas dari sini ya? Ingin sekali aku membunuh diriku yang selalu di dalam sangkarku. Toh juga tak ada yang peduli. Tidak! Aku masih peduli diriku."
*
"Assalamu'alaikum!"
"Liazi itu siapa yang datang?"
"Gak tau."
"Samperin!"
Liazi menghampiri tamu itu dengan kaki yang malas. Ia belum menyelesaikan tugas sekolah sampai selesai dan berakhir dengan melayani tamu. "Wa'alaikumussalam."
"Ini ada paket untuk Anda."
"Saya? Saya tak pernah memesan paket, Pak."
"Tapi di sini tertulis nama Anda. 'Liazi'," jelasnya untuk memahamkan Liazi.
"Oh, ya," jawabnya singkat sambil menerima paket itu lalu membawanya ke dalam rumah.
"Siapa?" tanya Ibu ketika Liazi melewatinya.
"Pak pos."
"Siapa yang kirim? Jika ada pacar sembunyi-sembunyi, akan Ibu hukum kamu!"
"Aku gak ada pacar! Cuma teman. Gak tau siapa pengirimnya. Untukku."
Liazi pergi begitu saja dan membukanya di kamar sendirian. Membuka dengan hati-hati dan perlahan. "Laptop?" Ia kebingungan dengan paketnya. Sebenarnya siapa yang dengan tulusnya mengirimkan ia laptop begitu saja. Apa ada tujuan tersembunyi? Namun jika Ibu mengetahui hal ini, bisa saja laptop itu akan direbut darinya dan disita selama ia masih sekolah menengah.
"Liazi! Apa isinya?" seketika Ibu berjalan ke kamarnya.
Liazi segera menyembunyikan di bawah bantalnya dan menggantinya dengan barang lain. "Bolpen!" Menunjukkannya kepada Ibu. Dua bolpoin dengan kepala harimau dan kelinci yang barusan ia beli tadi pagi.
"Gak mungkin cuma itu. Tadi kotaknya besar dan gepeng."
"Iya. Sama buku tulis, dan novel," ujarnya lalu menutup mulutnya.
"Apa!? Mana novelnya! Mana!" Mengobrak-abrik barang Liazi dan akhirnya Ibu menemukan novel setebal 10,5 cm dan mengambilnya.
"Jangan dibuang, Bu!" Liazi mencegahnya namun tak berhasil.
"Ibu gak akan buang."
"Iyakah? Terima kasih kalau begitu," ucapnya senang.
"Tapi Ibu bakar!"
"Uwaaa! Jangan, itu mahal!"
"Biar! Siapa suruh tak patuh," ujar Ibu lalu pergi dari kamar Liazi dan hendak membakar buku itu.
Liazi sedih dan ia harus kecewa, karena itu buku yang selama ini ia mau dan ia koleksi. Namun dengan mudahnya Ibu membuangnya bahkan membakarnya.
"Aku yakin!"
*
Ayah Liazi pulang dari kota seminggu lalu. Liazi sudah akan kuliah namun ia tak ada biaya yang cukup untuk kuliahnya. Jika ia mengambil jalur beasiswa, ia harus jauh dari ayah yang paling ia sayangi.
Sampai suatu hari,
"Yah!"
"Hmm?"
"Ayah rela jauh dariku?"
"Sebenarnya tidak. Tapi karena itu untuk masa depanmu yang baik, lakukanlah. Ayah akan selalu menghubungimu."
"Ayah!"
"Hmm?"
Liazi berbisik kepada Ayah, "Apa aku anak kandung?"
Ayah tentu saja tersentak karena pertanyaan itu. Apa yang dipikirkannya sekarang hingga ia dapat melontarkan kalimat yang membuat jantungnya susah memompa dengan baik.
"Ayah, jawab! Aku gak akan marah sama Ayah." Liazi merengek dan hampir ia menangis.
"Tidak."
"Tidak? Jadi aku kandung kalian?"
"Hmm."
Liazi tersenyum. Sedikit keganjalan saat itu. Bagaimana bisa, ia terus dibohongi seperti ini.
"Siapa!?" teriaknya di antara rumput-rumput hijau dan angin sejuk.
Ya. Sekarang ia berada di sawah belakang rumahnya. Ia merenung sendiri di sana. Membawa laptop dan mengutak-atiknya. Sampai saat ini orangtuanya belum mengetahui jika Liazi memiliki laptop.
"Aku harus ahli dan bisa. Agar aku tau, siapa sebenarnya orangtuaku dan maksud dari semua ini."
*
Selama ia kuliah dengan sambilan kerja, ia sudah menjadi seorang yang pandai dalam bidang IT. Liazi mulai mencari informasi dengan mencuri beberapa data mengenai masalah ini.
Akhirnya ia menemukan dan mengetahui yang sebenarnya terjadi. Ia mendaftar kerja tambahan di pembuatan film yang ada di negaranya. Ia ingin skenarionya terpilih dalam pembuatan film kali ini.
Akhir yang ditunggu. Naskahnya diterima dan bulan depan ia harus ikut untuk merundingkan masalah ini di luar kota.
"Bu! Yah! Aku mau pergi ke kota. Aku akan merantau. Mungkin akan lama jika kembali. Jaga kesehatan kalian."
Liazi juga sedih jika harus meninggalkan mereka. Walau sebenarnya ia sudah tahu jika mereka bukan orangtua kandungnya, dan memperlakukannya sedikit tak adil, tapi merekalah yang merawat dan menjaganya hingga sekarang.
'Jangan egois dan kurangi amarahmu'. Itulah yang dikatakan Ayah untuknya.
Sebulan selesai ia membincangkan masalah perfilman dan juga syuting mereka, ia akan kembali ke desanya. Namun sebelum itu ia izin berdiskusi dengan para pemain kembali.
Nyonya Renita. Seorang aktris ternama di negara ini sekaligus penulis lirik lagu yang lagunya dimainkan sebagai soundtrack film tahun lalu.
"Nyonya."
"Oh iya! Silakan masuk! Kita akan membicarakan hal ini. Bagaimana kabar nona Liazi?"
"Panggil saja Liazi, nyonya. Saya baik. Bagaimana dengan Anda?"
"Lumayan baik. Tapi akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu."
"Oh, mungkin itu masalah pribadi Anda. Tidak payah menceritakan kepada saya, nyonya."
"Haha, baiklah. Saya juga berpikir begitu. Tapi ada apa Liazi kemari? Apa ada rencana kerja sama kembali?"
"Saya berpikir untuk dapat mengenal nyonya lebih dekat lagi melalui kerja sama kemudian hari dan kemungkinan saya juga akan ikut dengan pembuatan naskah filmnya. Saya harap akan berjalan dengan mudah."
"Oh, begitu. Kebetulan syuting di bulan ini sudah selesai. Tinggal bulan depan perusahaan akan mengadakan film lagi. Jika Liazi tidak keberatan, bisa menyiapkan naskahnya dan nanti akan kami seleksi kembali."
"Baiklah. Saya berterima kasih atas kesempatan ini. Sebelum saya pergi, boleh saya bertanya sesuatu kepada nyonya?"
"Oh iya silakan."
"Apa nyonya mempunyai anak perempuan?"
"Anak perempuan saya hilang delapan belas tahun lalu. Kini hanya anak laki-laki saya. Dia bekerja di luar negeri dan mempunyai perusahaan sendiri di dunia hiburan."
"Maafkan saya."
"Tidak masalah. Melihatmu saya menjadi senang, seperti berhadapan dengan anak saya sendiri. Dia mirip sepertimu. Dulu sebelum dia sempat hilang, saya melihatnya ada tahi lalat di beberapa bagian wajahnya. Entah kenapa tempat itu sama seperti yang Liazi miliki. Mungkin hanya kebetulan."
"Nyonya, boleh saya menanyakan lagi kepada Anda?"
"Tidak masalah. Lanjutkan saja! Kebetulan saya juga jarang ada yang menemani untuk berbincang dengan santai begini."
Liazi terkekeh, ia melanjutkan pertanyaannya. Sebenarnya ia merasa sangat nyaman jika berbicara dengan orang di depannya ini. Biasanya ia akan sulit untuk beradaptasi dengan orang baru dan lumayan gugup. Namun perasaan ini berbeda.
"Apa yang akan Liazi tanyakan, tanyakan saja. Saya merasa bisa terbuka untukmu. Dan kamu bisa melakukan itu juga."
"Apa anak perempuan nyonya hilang saat nyonya keluar dari rumah sakit, dan anak itu bergolongan darah Rh-null?"
"Iya betul! Saya saat itu mencarinya dan mengerahkan beberapa polisi untuk melacak keberadaannya, namun tak ada hasil yang pasti. Ada apa dengan pertanyaanmu?"
"Itu saya."