Raka, spesies yang aneh. Hingga bisa buat aku menaruh hati untuk dia. Sosok yang buat aku seperti sekarang.
Jujur, kehadirannya terlalu singkat. Tapi, aku tau dia juga butuh berkelana menjelajahi dunia yang luas ini. Bukan, bertahan bersama aku yang si lemah.
Raka, mendengar nama saja membuat aku berdebar. Saat kata usai terucap, tak ada penyesalan di antara kita. Maukah kalian membaca ceritaku tentang Raka? Spesies yang berharga bagiku.
Raka Azkya, cowok biasa biasa saja, tapi lain lagi di mataku. Bagiku, ia lebih dari biasa. Apakah kalian percaya cinta pandangan pertama? terdengar konyol tapi itu nyatanya.
Aku melihatnya di koridor kelas sewaktu SMP awal. Dalam hati berkata, “Siapakah dia?” Aku bertekad, setidaknya aku harus menjadi temannya. Bukankah teman bisa menjadi lebih dari teman?
“Hallo, Kamu Raka ya?” tulisku di dalam pesan itu. Yap, tekad ku sudah bulat, aku ingin menjadi temannya. Aku meminta kontak BBM pada temanku yang sekontaknya, dan yash aku berhasil sekontak dengan Raka. Tinggal aku beranikan saja mengirim pesan terlebih dahulu.
“Kayla, kelas 7-3?”, balasnya.
“Yap, Raka kelas 7-2?”
Entah dari sejak kapan, kita telah menjadi teman beberapa hari kedepannya. Terkadang menyapa, bercanda bersama. Uh, sosok yang membuatku nyaman. Dalam benakku, aku selalu mengingatkan diriku, “Aku tidak boleh terlalu serakah, kau sudah bahagia menjadi temannya. Kenapa harus menginginkan yang lebih.”
“Kay, kamu lagi deket ya sama Raka anak Musik?” tanya Ayara penasaran.
“Dibilang deket sih engga, cuman kebetulan lagi akrab aja.” ucapku tersenyum.
“Kan, aku satu eskul sama dia, kamu masa lupa.” Tanisha mulai menggosip, “Dia, kalau di eskul selalu ngomongin tentang mylopelope, kayaknya yang di maksud itu kamu ya?” lanjutnya.
“Ah, masa sih. Kan dia lagi iseng mungkin, Raka itu orangnya humoris, suka bercanda. Lagian cewek yang akrab sama dia kan bukan aku aja.”
Aku hanya tersenyum getir. Kay, kamu jangan baper dulu. Nanti hati kamu malah sakit, jangan berharap lebih Kay. Begitulah Raka, humoris, perhatian aku berfikir jika suatu saat dia mengungkapkan perasaan, apakah akan dianggap sebuah candaan.
Raka, kamu itu susah banget digapai. Hah, Cape juga ya menyimpan rasa, apalagi orangnya udah sedekat ini.
“Kay, aku suka sama kamu.”
Kaget? tentu. baru saja beberapa waktu yang lalu, beropini bahwa dia susah digapai. “Hah? Apa? Eh, bentar-bentar aku mau ngurusin eskul dulu udah mau mulai, nanti lanjut lagi.”
Ya Tuhan, semoga itu bukan candaan, jika itu sebuah candaan, oh hati semoga kau bisa kuat untuk menerima. Waktu cepatlah berlalu, rasanya aku ingin sekali melanjutkan perbincangan.
“Kay, udah selesai?”
“Hah? eh iya udah selesai.”
“Jadi? Gimana?”
“Oh yang tadi? kamu cuman bercanda kan, tenang aku ga akan baper kok.” Bohong banget sih Kay, kalau kamu ga baper. Jelas jelas baper gitu.
“Aku ga bercanda.”
Waktu terasa terhenti sejenak. Apakah cintaku terbalaskan?
“Mulai hari ini kita jadian.”
“Eh, kok gitu sih belum juga dijawab.”
“Oh, jadi gamau.”
“Hah? iya iya.”
“Iya apa?”
“Iya, aku mau.”
Ya Tuhan, Apakah ini mimpi? eh ini nyata.
Semenjak hari itu masa SMP ku lebih berwarna, dari ketemuan di perpustakaan. Aku merasa aku bukan hanya mendapatkan sosok Pacar. Raka juga bisa menjadi Sahabat dan sosok pendengar yang baik. Setidaknya, saat kata usai terucap aku masih bisa menganggapnya sebagai sahabat. Aku tak akan kehilangan dia. Egois? kurasa tidak.
Aku ingin bersamanya lebih banyak waktu. Sampai-sampai aku memilih hari waktu piket sama dengannya. Saat itu hujan,
“Desah, adalah frekuensi yang tidak teratur.”
“Astaga mulutnya, Raka temen kamu gabisa dijaga omongannya.”
“Abaikan aja dia. Aku antar kamu sampai rumah.”
“Yaudah ayo.”
Nyaman, itu yang aku rasakan. Raka, bisa juga menjadi sosok pelindung bagiku. Aku tak ingin pisah.
Sepertinya aku membuatnya berubah. Entah aku yang terlalu dingin padanya atau bagaimana, niatku baik. Aku tak ingin mengekangnya, aku tak ingin dia karena aku dia membatasi pertemanannya. Hubunganku dengannya berjalan baik baik saja, pertengkaran kecil menghiasi ditiap tiap harinya. Hingga, kesalahpahaman terjadi. Dia menganggap, aku deket dengan lelaki lain. Hari makin hari kita menjadi semakin jauh. Kurasa aku salah, komunikasi di antara kita tak berjalan dengan baik.
“Raka, ayo kita selesaikan.”
“Apa yang kamu mau selesaikan Kay? Masalah kita, atau hubungan kita?”
“Kok, kamu ngomongnya gitu sih. Yaudah, terus kamu maunya gimana?”
“Lebih baik kita usaikan saja Kay, daripada saling menyakiti. Lagipula, masa depan masih panjang. semoga bisa bertemu di lain waktu.”
“Terima kasih untuk semuanya Kay.”
Akhirnya, kata Usai telah menjadi jawabannya.
Kita memang berpisah secara baik baik, tapi. Entahlah, rasanya masih asing saat tak ada dirinya. Ada yang hilang. Aku dan dia menjadi lost contact. Aku benci situasi ini. Menyesal? tidak. Hanya belum terbiasa.
“Eh, Kay kamu tau ga gosipnyaa Raka, kalau dia lagi deket sama anak Paskibra. wagelaseh.” Ucap salah satu temanku.
Tenang, Kayla itu masih gosip. Kay, masa depan kamu masih jauh, kamu harus bisa lebih layak lagi di samping Raka. kamu harus bisa Kay. Tak ada yang tau masa depan.
Raka, kamu sosok yang paling bermakna. Kamu bisa membuat tersenyum. Kamu bisa membuat aku semangat. Makasih banyak untuk sebagian waktunya.
Perjalanan kita belum selesai, mungkin baru saja dimulai. Sekarang kita lihat apakah kita akan dipertemukan kembali, atau hanya sebatas menyapa saja.
Raka, kamu harus bahagia. Terlepas dengan siapa, dan bagaimana.
Raka, aku menceritakan sosokmu saat ini. Apakah kamu akan marah? Maaf jika aku tak meminta izin darimu. Aku hanya ingin pembaca tau bagaimana sosok dirimu bagiku. Bagiku, masih sama seperti awal kita bertemu, Raka Azkya.
Ruang luas yang terbentang di atas bumi,
Begitu menawan kala itu.
Telah ku abadikan,
Melalui potret hari itu.
Tak terduga menjadi rasa yang kentara.
Mesti usai tak ada kita.
Meski masih membuat berdebar.
Tapi tak pernah terasa hambar.
Menilik gelagatnya, semakin jauh.
Memandangnya tak pernah membuat bosan
Nyatanya, semua tinggal kenangan semata.
Yang berlalu, yang berada masa lalu.
Belum tentu bersama mengarungi hidup baru.
Terimakasih telah menyempatkan waktu,
Yang kini hanya potret semu.
~Katahani