Pagi itu udara dingin menerpa wajahku, matahari mulai meninggi, orang-orang memulai kesibukan mereka. Aku berlari sekuat tenaga menuju ke sekolah. Sekarang tepat pukul 07.00 dan kurang 5 menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Berhubung jarak rumah dan sekolahku cukup dekat, aku sengaja berangkat mepet jam.
Akhirnya sampai..
Di depan gerbang, terlihat penjaga sekolah yang mulai menutup gerbangnya. Aku berteriak sekeras mungkin untuk menghentikannya.
" Tunggu bentar!! Jangan ditutup dulu pak!! " teriakku terengah-engah.
" Cepet.. " jawab penjaga dengan muka datarnya.
Penjaga itu sudah terlalu sering mengingatkanku untuk datang lebih awal, tapi tetap saja aku tak menghiraukannya sama sekali.
Setelah berjalan melewati koridor sekolah, akhirnya aku sampai di kelas. Baru saja masuk kelas, kedua sahabatku langsung menghampiriku.
" Baru datang lo, Rin? Udah jam berapa? Hobi telat kok diterusin sih Rin? " cerocos Nayla.
" Hehehe.. ya maaf, kan semalem hujan jadinya tidur nyenyak banget deh. Lagian belum ada gurunya juga kok. " jawabku dengan senyum meledek.
" Ya jangan keterusan juga sih Rin. "
" Iya iya, Nay. "
" Ekhemm ekhemm "
" Lah ada lo, Gas. Sejak kapan lo ada disini? " ledekku pada Bagas.
" Sejak zaman purba. Lo tu ya Rin, kalau udah fokus ke Nayla enggak pernah tu merhatiin kehadiran gua. " jawab Bagas dengan senyum kecutnya.
Rasanya begitu bahagia bisa memiliki kedua sahabat yang begitu peduli terhadapku. Setiap hari kami tertawa bersama. Kami bertiga adalah teman sekelas sejak kelas 5 SD, dulu aku adalah murid pindahan yang tak mempunyai teman. Tapi mereka berdua mau menjadi temanku, bukan mereka adalah sahabatku.
Waktu istirahat kami selalu berkumpul bersama.
" Eh, Gas. Gimana sih caranya lo bisa paham banget pas diterangin guru tadi? " tanyaku.
Kebetulan tadi adalah pelajaran yang menurutku sangat sulit.
" Lo tu ya Rin, selalu aja merendah. Lo juga gampang paham kok. " jawab Bagas cuek.
" Enggak, Gas. Lo itu beda dari cowok-cowok lain. Jadi makin bangga deh punya sahabat sepintar lo."
" Ah, lo tu selalu aja gini Rin. Nanti kalau gua baper gimana? Lo mau tanggung jawab?" godanya.
" Ekhemm, kayaknya bentar lagi ada yang jadian nih. Hahahaha.. " ucap Nayla.
" Udah deh, Gas. Buruan deh jadiannya keburu diduluin yang lain loh. " tambah Nayla.
" Ih.. apaan sih! Kita itu udah lama sahabatan dan gua itu udah nganggep kalian tuh kayak saudara gua sendiri. Jangan ada cinta-cintaan deh diantara kita. Iya kan, Gas? " elakku.
" Hehe.. iya Rin. " jawab Bagas dengan senyum masam.
Sepulang sekolah, kami bertiga janjian akan pergi bersama. Setelah kita bertiga berkumpul ditempat janjian, kami pun mulai bermain di taman kota. Aku begitu bahagia dengan keadaan yang sekarang ini, hingga tak sadar aku sudah melamun cukup lama.
" Ngelamun aja neng, lagi patah hati? " ucap Nayla memecah lamunanku.
" Eh.. liat deh, Nay. Senja tuh nikmat banget dipandang, kenapa ya? " tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Halah udah deh Rin, enggak usah ganti topik. " jawab Nayla.
" Ekhemm.. gua dilupain lagi. Dahlah gua pulang aja. " ucap Bagas yang hendak beranjak pergi.
" Gas, gua mau ngomong penting sama lo. Jangan pergi dulu ya? " kata Nayla.
Seketika perhatian kami tertuju pada Nayla.
" Gas, lo tau enggak kalo gua suka sama lo? " ucap Nayla.
" Taulah Nay, gua juga sama lo kok. Tapi sebagai sahabat. " jawab Bagas.
" Tapi gua enggak sebagai sahabat tuh. "
" Eh, jangan dong Nay. "
" Dengerin gua dulu nerocos aja. Gua tuh suka sama lo sebagai pengawal, kerja lo lumayan juga sih. Kan gua sama Rin jadi enggak ada yang gangguin. " jawab Nayla diakhiri tawanya.
Seketika kami bertiga tertawa terbahak-bahak, hingga tak sadar ada orang yang merasa terganggu oleh tawa kami bertiga.
" Lo banci ya, Gas? " ucap siswi sekelas kami.
" Nantang? " tanya Bagas santai.
" Udah udah, kita pergi kesana aja yuk. " ajak Nayla.
Kami bertiga akhirnya pergi ke tempat lain. Daritadi aku memperhatikan kedua sahabatku ini, dan menyadari bahwa Nayla tak seceria biasanya. Dia yang biasanya sangat suka menanggapi ejekan orang, sekarang malah menghindar. Entah kenapa sekarang aku bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
" Lo kenapa, Nay? Kalo ada apa-apa cerita aja."
" Gua gapapa kok. " jawab Nayla sambil tersenyum palsu.
" Lo itu nganggep kita apaan sih, Nay. Kan kita ini sahabat, jadi udah seharusnya saling terbuka. "
" Bener tuh kata Rin. " tambah Bagas.
Tanpa aba-aba, Nayla memeluk erat tubuhku dan menangis sejadi-jadinya. Aku kira dia adalah seorang yang begitu ceria, sering tersenyum, bahkan seperti tidak memiliki beban hidup sama sekali. Ternyata bisa sesedih ini.
Suasana begitu hening karena aku dan Bagas menunggu sampai Nayla merasa tenang, dan mau menceritakan masalahnya sendiri tanpa paksaan.
" Orang tua gua mau cerai, padahal mereka enggak pernah kelihatan ada masalah yang serius, Rin, Gas. Gua udah enggak tau mau gimana lagi, keluarga gua udah hancur lebur. Bahkan rumah yang dulunya tempat gua ngerasa aman, nyaman, sekarang malah jadi kayak penjara tau nggak. " jelas Nayla dengan sendu.
" Kita akan selalu ada buat lo, Nay. " ucap Bagas menenangkan.
" Iya, Nay. Kalo lo ada perlu apa-apa jangan sungkan-sungkan ya, Nay. Kita ini saudara. " tambahku.
Setelah hari itu, Nayla sering bolos sekolah. Bahkan ketika aku menghubunginya, responnya pun cukup lama bisa sampai 2 hari baru dibalas. Karena rasa cemas, aku dan Bagas datang ke rumah Nayla untuk melihat keadaannya.
Ketika kami sampai, pembantu Nayla tampak begitu sedih. Dia bercerita tentang kondisi Nayla yang semakin mengkhawatirkan, katanya Nayla tidak mau makan beberapa hari terakhir ini. Dia bahkan terus-terusan mengurung diri di kamar.
Karena semakin khawatir, kami semua segera menuju kamar Nayla. Dan betapa terkejutnya kami, baru saja membuka sedikit pintu kamarnya. Kami sudah melihat rambut pirangnya berserakan di lantai.
Dan semakin mengejutkan lagi, saat kami masuk kami melihat tubuh Nayla yang telah tak bernyawa sedang gantung diri. Sungguh membuatku tak tahan, aku sampai tak bisa menangis karena tak percaya akan apa yang aku lihat. Gadis periang yang begitu tak peduli dengan masalah kehidupan, justru mengakhiri hidupnya sendiri.
~Tak peduli seceria apapun orang itu didepan kita, kita tak akan pernah tau apa yang orang itu rasakan dan sembunyikan dalam dirinya, bahkan kebanyakan orang yang nampak begitu bahagia dan hidup seperti tak memiliki beban justru adalah orang yang memiliki beban hidup begitu berat~
~Hargai selagi ada, sayangi selagi bisa~