Zahwa POV
Alunan musik itu pun saling bersahutan membentuk melodi yang sangat merdu, sengaja ku nyalakan sound di kamarku agar menambah kenyamananku saat menorehkan tinta hitam di atas kertas HVS yang masih belum tercoret apapun, ditemani dengan cokelat hangat disampingku agar menetralisir segala rasa yang berkecamuk. Malam ini aku merasa kehilangan inspirasi, kata yang aku tulis adalah tentang makalah fisika, ya.. pelajaran yang paling aku hindari karena angka-angkanya, juga guru yang super killernya nya minta ampun.
Kini aku berusaha untuk mengerjakan makalah itu, di bagian awal masih bisa ku jamah. Namun saat menginjak di bagian rumus, please! aku angkat tangan, akhirnya ku putuskan untuk menghubungi Ryan temanku yang sangat gemar bergelut dengan rumus-rumus. Telefon kami pun tersambung. "Hallo Ryan.." sapa ku terlebih dulu "Iya hallo wa, ada apa? tumben malem-malem gini telfon?" sahut Ryan, "Yan gimana rumus fisikanya? aku udah nggak kuat nih" keluhku, "Zahwa Zahwa.. kamu ini ya, kalo tentang rumus aja pasrahnya minta ampun, tapi kalo buat puisi satu buku aja bisa habis sehari" celutuk Ryan, "Udah ah yan, nggak usah kelamaan, langsung aja send rumus dan jawabannya ke kontak "Zahwa" okey?" langsung kumatikan sambungan telefon kami secara sepihak.
Ryan POV
'Nggak habis fikir aku sama keunikan kamu yang satu ini wa, haha' bantinku sembari mencari kontak Zahwa. Namun, setelah ku geser seluruh kontak, tak kunjung ku menemukannya. Panik? iya. Bagaimana bisa baru saja aku bertelefon dengannya, kenapa kontaknya bisa hilang? ku geser lagi kontrakku dari atas, dan.. Ah ternyata aku lupa telah me-rename kontak Zahwa dengan nama perangkai kata😅 karena dia terlalu pandai jika tentang merangkai kata-kata menjadi tulisan cantik. Setelah kutemukan kontak Zahwa langsung ku kirim apa yang Zahwa minta via WhatsApp.
Zahwa POV
Setelah menerima pesan WhatsApp dari Ryan, aku pun langsung melanjutkan makalahku untuk segera menyelesaikannya dan aku bisa tidur dengan tenang tana memimpikan rumus-rumus yang membuat kepala ini semakin berdenyut-denyut. Aku langsung tidur tanpa terbayangkan dirimu fisika.. huft batinku, saat ku mulai memejamkan mata tiba-tiba ponselku bergetar dan spontan aku langsung membukanya, ternyata isinya adalah pesan dari Ryan. "Hah ku kira siapa'" ku buka pesan wa dari Ryan dengan perasaan kesal, karena pesan darinya telah menggangguku saat mulai merajut mimpi.
_Ryan_
-Selamat tidur perangkai kata, semoga tidurmu tak memimpikan rumus-rumus, tapi mimpikan aku saja😊-
'Hah? kenapa dengan anak ini? Malam-malam ngelantur nggak jelas' batinku kesal, aku pun membalas pesannya.
-Oke.. aku juga berharap semoga Tuhan cepat memberi kesembuhan untuk penyakit kurang jelasmu itu!-
Lalu langsung ku tarik selimut tipis untuk melanjutkan mimpiku dan ku hiraukan balasan pesan dari Ryan yang nggak begitu jelas. Zzzz..
***
Pagi yang begitu cerah menambah sumringah suasana hatiku, makalah sudah selesai, mimpiku pun juga tidak terlalu buruk, kubuka gordyn yang melekat di jendela kamarku agar cahaya bisa langsung masuk ke kamar tanpa adanya penghalang, dan aku mengecek ponselku apa balasan Ryan tadi malam. Namun tak ku sangka baterai nya habis, langsung ku mengechargenya agar baterai terisi kembali. Setelah itu ku lanjutkan aktifitasku, mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah..
Aku langsung menuju kelas yang terletak tidak jauh dari gerbang. Baru saja ku langkahkan kaki ini di depan kelas, terdengar kelasku yang begitu gaduh dan mereka yang terus berkutat dengan laptop masing-masing. 'Ada apa' batinku, sebelum aku bertanya ke salah satu temanku, Ryan sudah menghampiriku yang masih terpaku di depan pintu, "Zahwa! kamu tadi malem kemana sih? Aku wa, aku telfon nggak ada respon sama sekali?" Celoteh Ryan yang masih ku hiraukan, "Aku udah tidur" jawabku dengan entengnya, "Kamu tau? makalah fisika yang tadi malem kamu anggep udah selesai harus di Scan dan di kirim lewat E-mail, dan deadlinenya pagi ini jam 07.00 Zahwa!!" aku tercengang mendengar seluruh penjelasan Ryan, "Serius?" kagetku hingga sukses membuat kedua alisku bertaut, "Kalo nggak serius, gue harus ngomong apa? tadi malem aku lembur dan aku telfon kontak kamu berkali-kali sama sekali nggak ada respon, aku tau problemmu dengan rumus wa, makanya aku mau bantuin kamu, tapi kamu ya malah.." Ryan tidak melanjutkan kata-katanya dan Bu Maria sudah masuk ke kelas kami, sontak semua murid pun langsung menuju bangkunya masing-masing. Dan Bu Maria pun mengawali pelajaran pagi ini.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sapa Bu Maria
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab kami serentak
"Sudah tau kalau deadline makalahnya pagi ini?" tanya Bu Maria, " Iya Bu.." semua anak menjawab kecuali aku, "Ada yang belum mengumpulkan?" tambah Bu Maria. aku dan beberapa anak lainnya mengacungkan tangan, ketika aku melirik kearah Ryan sudah kudapati dia menoleh ke arahku dengan wajah khawatir tapi aku meyakinkannya semua akan baik-baik saja. Lalu Bu Maria memanggil kami yang belum mengumpulkan makalah fisika dan beri hukuman pada kami tergantung sampai mana kami mengerjakannya, dan diantara semua anak yang mendapatkan hukuman, hanya aku yang mendapatkan hukuman yang paling ringan karena aku sudah mengerjakannya dalam bentuk hard file dan tinggal menggantinya menjadi soft file juga dalam bentuk PowerPoint ditambah dengan 10 soal fisika. Oke masih bisa aku terima, PowerPoint bisa aku kerjakan sendiri, dan 10 soalnya aku akan meminta bantuan kepada Ryan istirahat nanti.
Bel istirahat berbunyi, Ryan langsung menanyaiku apa hukumannya dan bersedia membantu untuk mengerjakannya, kami sengaja mengerjakannya di perpustakaan agar lebih fokus. Dan di sela-sela kami mengerjakan soal fisika, aku memulai pembicaraan "Ryan.. soal tadi malam.. aku minta maaf ya, namanya juga orang tidur kan nggak denger telfon dari kamu" dengan ada yang sedikit memohon, "Ya.. kalau sebenarnya aku sih nggak papa, aku tuh cuma khawatir nggak tega ngelihat kamu di hukum terus wa.." jelas Ryan. "Hehe.. iya sih yan, aku juga makasih selama ini udah bantuin aku ngerjain rumus-rumus itu, dan udah sering juga ngerepotin kamu" imbuhku, "Udah lah, nggak usah di bahas lagi, nih udah selesai soalnya", "yaudah, kalo gitu kita ke kelas yuk?" Ajakku, "Power pointnya nggak sekalian?" tawar Ryan lagi, seketika kedua alisku pun langsung bertaut, 'ini anak emang mau bantuin apa doyan fisika sih?' aku terus membatin, "nggak ah yan, aku bisa sendiri kok" sahutku, setelah itu kami kembali ke kelas dan saat bel pulang berbunyi aku langsung pulang untuk mengerjakan power point fisika dan besok bisa langsung ku serahkan ke Bu Maria agar aku bisa lepas dari hukuman itu dan aku juga berharap rumus itu tidak mengahmpiri mimpiku.
The End