Semua orang menatap ke arah pinggir jalan, dimana di sana adalah pemakaman. Tatapan mereka tidak luput dari pria kecil yang duduk di sebuah kuburan di pemakaman tersebut.
Semua orang yang berjalan melewati pemakaman tersebut, heran melihat pria kecil tersebut. Meraka bertanya - tanya, ada apa dengan pria kecil itu? kenapa dia duduk di kuburan itu terus?. Itulah yang ada di pikiran orang-orang yang melintasi pemakaman tersebut.
Pria kecil itu duduk di sebuah kuburan, entah apa yang dia lakukan di sana. Hari-hari nya dia lewati di kuburan itu. Dia sama sekali tak pernah bergeming dari posisinya.
Dia hanya duduk terpaku di sebuah kuburan dengan kain putih yang melilit di sekujur tubuhnya. Tatapannya kosong ke depan, sampai tak berkedip. Sekujur tubuhnya kotor di penuhi tanah kuburan. Entah berapa lama dia duduk di kuburan itu sampai tubuhnya kotor di penuhi tanah.
Seringkali orang-orang yang melihatnya lari ketakutan karna tampangnya yang buruk. Semua orang tak berani mendekatinya. Kanra mereka takut dengan pria kecil tersebut.
.
.
Pagi ini hujan sangat lebat, pria kecil itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya sekarang. Dia hanya fokus menatap kuburan yang ada di depannya.
Dari kejauhan terlihat seorang gadis kecil berjalan menghampiri pria kecil tersebut sambil membawa payung untuk melindunginya dari lebatnya hujan.
Gadis kecil tersebut berdiri tepat di samping pria kecil itu, sambil memayunginya agar tidak di kehujanan.
Tetap saja pria kecil itu tak bergeming juga dari posisinya. Dan tatapannya masih sama, luruh ke depan. Dia sama sekali tidak menghiraukan gadis kecil tersebut, dia menganggap tidak ada siapa-siapa di sana. Hingga akhirnya gadis kecil itu mencairkan suasana.
"Kenapa kau duduk disini?" ucap gadis kecil tersebut. Pria kecil itu sama sekali tak menghiraukan perkataan gadis kecil tersebut.
Gadis kecil itu hanya menghela nafasnya dan langsung duduk di samping pria kecil tersebut. Hujan juga sudah mulai reda, jadi dia menaruh payung yang dia bawa di sampingnya.
"Kenalin namaku Chika, nama kamu siap?" ucap gadis kecil bernama chika itu sambil mengulurkan tangannya ke arah pria kecil tersebut.
Dan lagi lagi pria kecil tersebut tidak menanggapi Chika. Dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"yasudah kalau kau tak mau memberi tau nama mu" ucap chika sambil menurunkan tangannya dengan perasaan sedikit kecewa.
"tapi setidaknya bilang kenapa kau duduk di sini?" sambung chika. Tapi pria kecil itu juga tidak menanggapinya.
"Kalau kau ada masalah sebaiknya kau ceritakan padaku, aku akan menolongmu jika aku mampu, jangan pendam masalah itu sendiri, karna itu akan menjadi beban bagi mu dan bisa menyakiti diri mu sendiri" ucap chika.
Mendengar perkataan chika barusan pria kecil itu langsung menoleh ke arah chika dengan pelan. Rasanya lehernya sangat kaku, bagimana tidak selama ini dia hanya menghadap ke depan saja.
Pria kecil itu menatap chika dengan tatapan yang susah untum di artikan.
"Apa kau tak takut melihatku" ucap pria kecil tersebut akhirnya angkat bicara.
Chika hanya terkekeh mendengar ucapan pria kecil yang ada di sampingnya."kenapa kau tertawa seperti itu" sambung pria kecil itu.
"Aku tertawa karna perkataan mu itu sangat lucu" ucap Chika sambil terkekeh. "maksudnya??" ucap pria kecil itu kebingungan dengan penuturan chika.
"perkataan mu itu sangat lucu,, mana mungkin aku akan takut dengan manusia, alam kita juga masih sama" ucap Chika.
"Aku kira kau akan takut melihatku" ucap pria kecil tersebut. Chika hanya diam sambil mencerna perkataan pria kecil itu.
Dia masih bingung, kenapa dia harus takut dengannya. Memang pria kecil itu sedikit terkejut dengan keberanian chika Ya memang sebelumnya tidak ada yang berani mendekatinya.Semua orang takut melihatnya.
"nama kamu siapa" ucap chika. "apa urusannya dengan mu" ucap pria kecil itu.
"supaya aku bisa memanggil mu dengan nama mu sendiri" ucap Chika. Pria kecil tersebut seperti berpikir sesuatu setelah mendengar perkataan chika.
"n-nama ku....." pria kecil tersebut menghentikan pembicaraannya dia sekarang sedang memikirkan sesuatu. Dia masih ragu untuk mengatakannya.
"Siapa?? " ucap chika. Pria kecil tersebut masih memikirkan sesuatu dengam tatapan kosong ke depan.
"N-nama ku m-miko" ucap pria kecil itu dengan sedikit gagap dan pandangan matanya masih ke lurus ke depan.
"owh.. nama yang bagus, mau kah kau menjadi temanku" ucap chika sambil mengulurkan tangannya.
"t-teman?" ucap miko tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sangat senang ternyata ada juga yang mau berteman denganya. Tapi apakah dia tidak berbohong?, itulah yang sekarang ada di pikiran miko.
"iya miko mau kan jadi temen chika" ucap chika.
"benarkah" ucap miko masih tak percaya.
"iya.. aku tak pernah berbohong" ucap chika sambil tersenyum manis ke arah miko.
Entah kenapa miko merasa chika hanya bersandiwara. Dia masih nggak percaya, mana mungkin ada yang mau berteman dengan pria seburuk dirinya, itulah yang terus terngia-ngia di pikirannya sekarang.
"bagaimana, apa kau mau jadi temanku" ucap chika kembali meyakinkan miko.
"apa kau yakin mau berteman dengan ku, aku sangat jelak dan buruk rupa, apakah kau tak kan malu berteman denganku" ucap miko sambil menatap chika. Chika hanya tersenyum mendengar perkataan miko.
"teman itu tidak memandang fisik, mau jelek atau pun tampan aku akan menerimanya apa adanya, karna berteman itu pertemanan itu tergantung dari ketulusan kejujuran dan kesetianan" jelas chika meyakinkan miko.
"jadi bagaimana? " sambung chika, tapi miko masih tampak berfikir.
"mungkin ini jalan takdir mu berteman dengan ku" ucap Chika yang membuat miko menatapnya.
"mungkin apa yang dia bilang itu benar" batin miko sambil berpikir.
"iya aku mau jadi teman mu" ucap miko yang membuat chika tersenyum bahagia.
"Nah sekarang kan kita sudah berteman, jadi kau bisa menceritakan masalah mu ke pada ku.. tentang kenapa kau duduk di sini selama berbulan bulan" ucap chika.
Miko berfikir sejenak, apakah dia akan menceritakannya atau tidak. "mungkin dia benar benar mau mendengarkan ku, dan sepertinya dia juga orang yang baik" batin miko.
Miko menghela nafasnya dalam.
"orang yang ada di kuburan ini adalah ibu ku,, dia meninggal saat aku berumur 5 tahun" ucap miko mulai bercerita kepa chika. Chika dia hanya duduk manis sambil mendengarkan miko.
"sejak saat itu aku tak punya siapa siapa, aku kesepian, semua orang tidak mau berteman dengan ku karna aku jelek dan buruk rupa" sambung Miko.
"hingga suatu saat aku di usir dari desa ku, karna waktu itu ada seorang anak yang meninggal saat bermain bersama denganku" ucap miko.
"sejak saat itu aku di asingkan dan di usir dari desa, mereka semua menganggapku pembawa sial, padahal bukam aku yang membunuhnya" ucap miko terhentin.
"lalu siapa? " tanya chika yang begitu penasaran.
"dia meninggal karna nggak sengaja makan buah beracun yang ada di pinggir lapangan. Aku sudah melarangnya tapi dia tak mau mendengarkan ku" sambung miko.
"saat itu aku tak punya siapa siapa dan tempat tinggal,sedangkan ayahku entah kemana dia, selama ini dia menghilang. aku berusaha mencari pekerjaan tapi tak ada yang mau menerimaku dan akhirnya aku memutus kan untuk menemani ibuku di sini sampai sekarang aku telah menginjak umur 8 tahun" ucap miko yang membuat chika terkejut.
"jadi kamu 3 tahun duduk di sini" ucap chika tidak percaya.
"iya.. mungkin kau tak kan percaya, dan mungkin ini juga sudah Jalan Takdir Ku" ucap miko seraya mengangkuk kecil.
Chika terdiam sesaat memikirkan sesuatu.
"apakah kau mau tinggal bersamku di panti asuhan" ucap chika.
"ibu panti pasti senang dengan kehadiranmu" sambung chika.
"tidak aku mau di sini saja menemani ibu ku.. karna aku tau tak ada yang mau menerimaku" ucap miko seraya memandang kuburan ibunya.
"kenapa kau berpikir seperti itu.. ibu panti pasti menerima mu" ucap chika seraya tersenyum.
"dan kamu tau nggak, ibu panti lah yang menyuruhku untuk menjemput mu, dia bilang kalau dia yang menjemput mu kamu nggak bakal mau" sambung chika.
Miko terdiam sejenak sambil mencerna penuturan chika.
"bagaimana kamu mau kan? *ucap chika.
Melihat wajah miko yang seperti tidak yakin, "Mungkin ini Jalan Takdir Mu yang membawa mu beretemh dengan ku, dan mungkin ini lah jalan takdir mu yang membawamu untuk ikut bersamku ke panti asuhan" ucap chika meyakinkan miko.
"tidak aku tak akan pergi, mungkin ini juga sudah jalan takdir ku untuk menemani ibuku di sini " ucap miko.
chika menghela napasnya kasar, dia berpikir kenapa susah banget si membujuk miko.
"kamu tau nggak aku jug seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa siapa lagi di dunia ini, dulu aku jug sepertimh sering di bully, tapi itu tak memutuskan semangatku" ucap chika yang membuat miko merenung.
"aku juga seperti mu jelek, bahkan aku sangat bau, sampai sampai semua orang menjauhi ku, tapi itu jugak tak mematahkan semangat ku." ucal chika.
"aku terus berjuang dan berusaha , sampai akhirnya ibu panti mau menerima ku, dia mengubah ku, dan sekarang aku tidak bau lagi dan semua orang mau berteman denganku" sambung chika.
"jadi, kamu jangan frustasi seperti ini, kamu harus berusaha supaya hidup mu nggak seperti ini, aku yakin kalau kamu berusaha kamu akan sukses, tapi kalu kamu hanya berdiam di sini, hidup mu nggak akan berubah, jadi berjuanglah untuk memperbaiki hidup, karna usaha tak kan pernah menghianati hasil"ucap chika yang membuat miko menjadi yakin.
"jadi bagaiman ? " ucap chika.
"ya aku mau ikut dengan mu untuk memperbaiki hidup ku yang suram ini" ucap miko dengan tekad dan semangat yang bulat.
"nah gitu dong ,, ayo" ajak chika.
"hmm.." ucap miko seraya berdiri.
Akhirnya Miko bisa mengubah hidupnya bersama dengan Chika.
amanta : jadi menurut cerita di atas kalian jangan
mudah frustasi dengan keadaan kalian,
seburuk apa pun hidup ini, kalian harus
berjuang untuk memperbaikinya. Dan
jangan hiraukan orang yang membicara
kan kalian, karna mungkin kalian lebih
baik dari mereka sehingga mereka
membicarakan kalian. Dan satu lagi
jangan pernah iri kepada orang lain.
~TAMAT~
maaf kalau ada yang kurang jelas 🙏