Kata Kunci : Detektif, Ruang waktu lain, dan Mall.
***
Manusia terus bertambah.
Tetapi kebutuhan semakin berkurang.
🏙🏙🏙
[Seting cerita ini berlatar di tahun 2289]
Langit biru dengan pancaran menyilaukan dari sang surya berhasil menambah panas yang menyengat. Terutama untuk kota besar bernama Seagan. Tempat perdaban dengan beraneka ragam teknologi canggih itu sangat gersang. Segala keperluan hidup pun semakin mahal, termasuk kebutuhan primer.
Sekarang soda dengan harga terjangkau tengah digandrungi oleh kaum kelas bawah. Hari yang panas terus menerus membuat mereka tidak tahan akan godaan kesegaran minuman berbuih itu. Namun tidak untuk Okto Baskara, detektif paruh baya tersebut tidak bisa meminum soda akibat penyakit diabetesnya.
Okto sedang dalam perjalanan untuk memecahkan kasus pembunuhan. Dia baru saja kembali bertugas, setelah terlalu lama terbaring di rumah sakit. Baju yang dikenakannya terlihat lusuh dan jadul.
"Bagaimana keadaan mayat korban?" tanya Okto yang baru saja datang ke tempat kejadian perkara. Tepatnya di sebuah mall mewah yang ada di kota Seagan.
"Satu-satunya alasan kematian korban adalah karena keracunan! tetapi untuk memastikannya, kami harus membawa jenazah ke laboraturiom!" terang Agusta, bagian forensik yang tengah turun ke lapangan.
"Baiklah! kalau begitu aku akan menyelidiki orang-orang terdekat korban!" ungkap Okto sembari melangkah mencari dua tersangka pembunuhan, yang tidak lain adalah teman dekat korban sendiri.
***
"Aku ingin mendengar alibi kalian! sekarang jelaskan dengan detail!" Okto menyilangkan tangan di dada, lalu menatap Mei dan April secara bergantian. Mereka sedang duduk di salah satu cafe di sudut mall.
"Aku sama sekali tidak tahu! hiks... hiks... kumohon jangan tanyakan tentang Mareta lagi... dia sahabat terbaikku!" ujar Mei dengan isakan tangisnya.
Okto yang melihatnya hanya bisa melayangkan binar tajam di matanya. Dia mencoba menilik segala gerak-gerik yang diperlihatkan oleh Mei. Kemudian beralih menatap ke arah April dan berucap, "Bagaimana denganmu?"
"Cih! dasar detektif jadul! ngapain sampai di selidiki dengan cara kuno begini sih, bukankah ada robot detektif yang sedang beroperasi?" sinis April.
"Apa kamu bilang?" geram Okto yang tidak terima.
"April benar! seharusnya kita serahkan saja semuanya pada robot detektif! kita tidak perlu repot-repot di interogasi begini! di tempat umum lagi!" timpal Mei yang ikut menyudutkan Okto, kemudian menghapus air mata yang menetes dipipinya.
BRAK!
Okto memukulkan tangannya ke meja. Wajahnya mulai memerah dengan urat-urat leher yang menegang.
"Dasar pembunuh!" ujar Okto yakin. Dia sangat tahu betul, bahwa semua robot detektif selalu dikendalikan oleh orang-orang kelas atas. Tampaknya Mei dan April adalah bagian dari orang-orang elit tersebut, karena itulah mereka bersikap begitu santai.
Mei menyeringai, perlahan dia berjalan mendekati Okto dan berbisik, "Tuan Okto Baskara... seharusnya anda pensiun sejak robot detektif diciptakan..." dengan sedikit kekehnya, Mei dan April pun segera beranjak pergi meninggalkan Okto.
Untuk sekian kalinya, Okto harus kembali menerima hinaan oleh orang-orang kelas atas. Dia sekarang hanya bisa mematung di tempat dengan pikiran yang berkecamuk.
"Tuan Okto!" Septa berjalan menghampiri Okto, detektif pemula itu tampak tergesak-gesak.
"Septa? ada apa?" Okto menatap Septa dengan dahi yang berkerut.
"Ada yang ingin aku bicarakan, tetapi kita harus menjauh dari keramaian, ini soal..." jeda Septa, lalu mendekatkan mulutnya ke kuping Okto dan berbisik, "ini tentang kaum elit..."
Okto membulatkan mata, dia segera bergegas mengikuti rekan terpercayanya tersebut. Hingga tibalah keduanya di basemen mall, yang merupakan satu-satunya tempat aman dari kamera pengawas dan keramaian.
"Ini gila! kasus pembunuhan terjadi dimana-mana! dan yang paling aneh adalah... semua tersangkanya adalah para kaum elit!" ucap Septa dengan raut wajah panik.
"Sudah ku-duga ada yang aneh dengan pembunuhan Mareta! ternyata memang Mei dan April-lah pembunuhnya, tetapi kenapa? apa alasan mereka?" Okto bertanya-tanya.
"Entahlah... yang pasti Mareta berasal dari kelas menengah, berbeda dengan Mei dan April!... lagi pula kita tidak akan pernah bisa menginterogasi mereka, karena robot detektif pasti memihak kaum elit!" Septa merasa miris dengan apa yang telah terjadi.
"Hmmm... ini benar-benar aneh... apa mau kaum elit sebenarnya? sepertinya mereka merencanakan sesuatu!" Okto mencoba berpikir keras.
Biiip... Biip...
Tanda peringatan berdering, baik di ponsel Okto maupun Septa. Keduanya segera memeriksa pesan yang tidak lain adalah pemberitahuan datangnya bencana.
"Tsunami? 10 menit lagi! ayo! kita harus mencari tempat yang tinggi!" ujar Septa seraya berlari menuju elevator. Alhasil Okto pun mengekori dari belakang.
***
Septa dan Okto telah sampai di atap mall, keduanya dikejutkan dengan keramaian. Sehingga mereka harus masuk dengan berjejalan di antara orang banyak.
"Septa! kita harus cari tempat lain!" ungkap Okto yang sedang menarik lengan Septa.
"Kamu ingin cari mati? kita tidak akan sempat melakukannya!" Septa mengernyitkan dahi.
Okto dan Septa terus berjejal untuk menuju tempat terdepan. Keduanya ingin melihat laut yang berada tidak jauh dari mall. Setelah berjuang lama, akhirnya mereka sudah berdiri paling depan. Menunggu laut beraksi untuk meninggikan ombaknya.
"Wah! lihat ombaknya membesar!"
"Aaarkkhh!!"
"Mengerikan sekali!"
"Ya Tuhan... selamatkanlah aku dan anak-anakku..."
Suara panik dari orang-orang saling bersahutan, termasuk dari Septa. Dia terlihat terhipnotis dengan apa yang sedang dilihatnya.
"SEPTA! SEPTA!" Okto mencoba memanggil rekannya yang mematung.
'Astaga! ada apa ini? kenapa semua orang begitu panik? padahal tidak ada apa pun yang terjadi. Laut bahkan tampak tenang' Okto bertanya-tanya dalam benaknya. Sekarang dirinya mengguncang badan Septa. Namun lelaki itu tetap bergeming.
"Aaaaaarkkkkhhh!!!" sekarang Okto dikejutkan dengan kepanikan orang-orang di atap. Mereka yang tadinya diam di tempat, sekarang berlarian tidak karuan dan berhambur kemana-mana. Bahkan banyak orang yang terjatuh ke bawah tanpa sengaja.
Bruk! Bruk! Bruk!
Okto bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri mayat-mayat segar yang berhamburan di bawah. Warna merah bahkan mulai menggenang di aspal. Tumpukan manusia seakan seperti tumpukan sampah dijalanan. Anehnya, robot detektif tampak begitu tenang menghadapi keadaan itu.
Ternyata kepanikan tidak hanya terjadi di atap, tetapi juga kepada semua orang yang ada di kota Seagan. Jika dilihat dengan seksama, keriuhan manusia-manusia persis seperti kumpulan orang gila yang depresi.
Saat Okto sedang berpikir dalam kepalanya, tiba-tiba saja tubuhnya tidak sengaja terdorong oleh salah satu orang di belakang. Lantas dia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh, tetapi untung saja tangannya dengan cekatan berpegangan. Sekarang Okto harus bertahan dengan mengandalkan kedua tangannya.
"SEPTA!!!" sekali lagi Okto mencoba memanggil rekannya.
"Tidaaak! ombaknya sangat besar! kita tidak mungkin selamat!" Septa memekik tidak karuan, dan tanpa diduga dia melangkahkan kaki ke udara, yang sontak membuatnya langsung terjatuh.
"SEPTAAAA!!!" Okto berteriak histeris, saat dirinya gagal meraih tangan Septa.
Bruk!
Badan Septa tersentak ke aspal dengan kepala yang pecah bersimbah darah.
Satu per satu orang-orang berjatuhan. Hingga hanya menyisakan Okto yang masih bergelantungan. Dia terus mencoba mengangkat badannya naik ke atas.
Deg!
Jantung Okto mulai berpacu lebih cepat. Keringat pun mulai menetes dari sekujur tubuhnya. Hembusan angin berhasil mengibaskan baju yang tengah dikenakannya. Setelah lama berjuang, akhirnya dia berhasil kembali naik ke atap.
Okto menangis sejadi-jadinya, karena sudah kehilangan satu-satunya orang terpercaya dalam hidupnya. Dia memandang mayat Septa dari atas dengan air mata yang berlinang.
Sekarang matanya mengedar ke seluruh sudut kota, keriuhan perlahan mereda. Dikarenakan orang-orang yang tadinya panik telah berubah menjadi mayat.
Okto terkesiap, saat baru menyadari kalau orang-orang yang panik hanya kaum kelas bawah. Dia sekarang yakin, bahwa semua yang terjadi ada hubungannya dengan kaum elit.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan langsung membuat Okto berbalik. Dia melihat Mei dan April yang tersenyum jahat.
"Ini ulah kalian kan?!!!" geram Okto dengan nafas yang naik turun.
"Kamu memang detektif yang hebat dan sangat beruntung!... oh iya, aku mau mendengar penjelasan darimu dulu, sebelum aku beritahukan yang sebenarnya!" ujar April santai.
"Kamu... kalian telah menjebak kaum kelas bawah dengan soda itu! dengan minuman tersebut mereka akan berhalusinasi tingkat tinggi..." Okto melotot ke arah April yang perlahan mendekat.
"Pintar sekali! maaf, kami harus mengorbankan kaum kelas bawah untuk mengurangi populasi. Agar semua kebutuhan kita bisa mencukupi, kamu beruntung bisa selamat. Padahal juga termasuk salah satu dari mereka kan!" Mei menyahut dengan sedikit terkekeh
"SIALAN KALIAN!!!" Okto berlari untuk menyerang, namun April tiba-tiba lebih dahulu mendorong.
Okto hanya bisa membelalakkan mata, kala dirinya lupa bahwa tidak ada sama sekali pijakan di belakangnya. Alhasil dia pun sekali lagi terjatuh dari atap. Kali ini tangannya tidak mampu meraih dinding.
Bruk!
Okto terjatuh dari ketinggian. Tubuhnya tergeletak di jalanan dengan darah yang menggenang.
April tersenyum dan berucap, "Menyenangkan sekali berada di puncak! kita bisa memiliki segalanya! bahkan aku bisa melihat si Mareta tersiksa!"
"Kamu seharusnya berterima kasih padaku, karena tanpaku kamu tidak akan bisa mengajak Mareta jalan-jalan!... ngomong-ngomong, kenapa kamu ingin membunuhnya?" sahut Mei dengan pertanyaannya.
"Karena... dia kurang ajar! padahal kelasnya lebih rendah dariku! aku hanya ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!" April mengukir seringai diwajahnya.
~TAMAT~