Ada banyak cerita dalam tiap hidup manusia yang berbeda-beda bentuk, jalan, cara, dan hasilnya. Begitupun dengan ku, Hai aku Arira dan ini kisahku. Aku adalah putri tunggal dari orang tuaku. Papaku hanyalah dosen di salah satu universitas ternama di kota ku, dan mamaku hanyalah ibu rumah tangga biasa saja yang memiliki hobby membuat cake cantik. Dari kecil hidupku normal normal saja bahkan sampai aku kuliah. Bahagia dalam pelukan hangat orang tua ku tapi sayangnya semua itu rusak dan hancur dengan hadirnya seorang pria dalam hidupku.
Dave, ya namanya Dave, dia masuk ke dalam hidupku dengan sejuta kata-kata manis dan segudang mimpi yang membuatku melayang setinggi-tingginya. Kala itu Dave memperkenalkan dirinya seorang SPV gudang di salah satu perusahaan yg ternama di kotaku dan dia mengaku memiliki penghasilan tetap yg mampu menghidupi keluarganya. Dia 2 bersaudara dan dia anak pertama sedangkan dia punya adik perempuan. Parasnya sungguh sangat menawan dan membuatku sangat terpesona padanya, perhatiannya sangat membuatku merasa bahagia tak terkira. Tapi tidak dengan orang tuaku, mereka memiliki firasat yang buruk dan tidak suka dengan hubungan antara aku dengan Dave. Sering kali mereka mengatakan bahwa Dave bukan orang baik - baik. bahkan sampai dibilang aku hanya dimanfaatkan oleh Dave. Mereka melarang ku karna pertama aku dan Dave berbeda keyakinan, kedua karna semua yang dikatakan Dave bisa jadi semua adalah kebohongan karna dijaman sekarang tidak ada tuntutan pekerjaan di sebuah perusahaan yang mewajibkan seluruh karyawannya wajib gadget terbaru dan itu tidak mungkin. Sebab papaku melihat HP yang aku gunakan bukan HP yang bukan mereka belikan untukku, HP yang kugunakan saat itu adalah tipe lama milik Dave yang saling bertukar karna Dave ingin HP yang aku gunakan sebab Dave tidak mau dipecat dari perusahaan karna gadget gak update maka akhirnya kuberikan HP padanya. Orang tuaku marah besar padaku Tetapi semua itu tak ku hiraukan bahkan aku melawan pada mereka dan mengatakan bahwa mereka hanya mengada - ada ttg semua itu. Tak lama berselang mulai uang yang ia minta alasannya macam - macam seperti gajinya habis, belum gajian, uangnya kurang, banyak kebutuhan, menyimpan uang buat lamaran nantinya, dan masih banyak lagi lainnya. Hingga akhirnya saat orang tuaku mulai memperkecil uang mingguan ku demi Dave berhenti meminjam dan meminta uang dariku. Tapi tetap saja membuat Dave tak berhenti dan kehabisan akal untuk mendapatkan uang. Dimulai dengan dataku yang digunakan untuk pinjaman online sampai kredit barang sampai akhirnya berujung pada kemarahan orang tuaku saat ada debt collector datang kerumah dan menagih uang pembayaran cicilan.
" Ra, sejak kapan kamu pintar kredit - kredit barang dan totalnya ini gak main- main... Siapa yang ajari kamu tentang hal ini? " bentak papa ku.
" Bilang donk sayang jangan buat papa makin emosi..." bujuk mamaku
dan akupun menjawab dengan ketakutan" Da.... Da.... Dave pa ma....", " Apaaaaa....!!!! " bentak papa
" Kamu ini gak mikir atau gimana sih Ra. Aduh papa sampe gak habis pikir. Cinta boleh bego jangan apalagi tolol, kamu ini" oceh papa
"Tapi semua ini Ra lakukan demi Dave. Biar dia naik jabatan pa!! " jelas ku. " Dave?!! Pembual itu?!! Ya ampun Ra, mama kan udah bilang Dave itu bohong. Kamu lihat papamu jadi dosen dari HP yg biasa sampe sekarang HP udah canggih baru sekali papa kamu ganti HP. Liat donk papa yang dosen saja HP belum update masih bisa dipakai kerja loh. Dave itu apa? cuma SPV dia HP canggih buat apa? " jawab mama. " Sedangkan aku kn mahasiswa ma tapi aku lengkap banget gadgetnya. "tukasku. "Ya kalo kamu kan tanggung jawab mama sama papa, ya wajarlah. Jangan disamakan sama Dave. Lagipula Dave kan kerja kenapa bukan dia aja yang kredit barang malah kamu." kata papa.
" Dave namanya udah blacklist pa karna mantan pacarnya " jawabku. "Trus?? sekarang dia mau buat nama kamu jadi blacklist juga gitu. Licik itu namanya!!! " tukas mama. "Udahlah mama papa jangan ikut campur, bilang aja papa sama mama benci sama Dave. Dave itu baik pa ma, kenapa sih papa sama mama gak bisa liat kebaikan dari Dave." teriak aku. Plaaaak...."Arira sejak kapan kamu berani ngelawan mama dan papa" bentak papa setelah papa menamparku. "Papa dan mama gak paham mauku. Ra benci papa sama mama... Ra benci kalian" aku mengucapkan kata-kata yang tak sepantasnya pada mereka sambil berlari ke kamar dan menangis sekencang kencangnya. membenamkan wajahku di bantal sambil berteriak tidak jelas.
Sungguh kini kata - kata itu telah aku sesali karena mengucapkannya pada mereka. Aku tahu aku sangat menyakiti perasaan mereka entah apa aku bisa melihat mereka, memandang mereka? Sudikah mereka memaafkanku ? Dan disuatu sore Dave mengajakku bertemu di sebuah cafe, dan cafe itu adalah cafe favoritku. Dave mulai menanyakan tentang hubungan kami.
"Ra, masak iya kamu gak bisa tegas sama orang tua kamu sih, sayang? Ini hidup milik kamu loh masak mereka ikut campur sih tentang perasaan kamu, bukan mereka" kata Dave sambil menatapku dengan tegas dan meyakinkan.
"Dave, bukan gitu tetap aja kan papaku nantinya yang jadi wali aku kalau kita nikah... "
"Yakin kamu kalo papa kamu bakalan mau dan ijinin kamu jadi istri aku. Kamu tahu kan mereka benci sama aku dan hubungan kita karna apa? " sela Dave.
"Iya aku tahu karna itu aku masih mau meyakinkan papa dan mama aku kalo aku gak akan pindah...!! " jawabku
"Whaaaat??? Apa Ra??? Kamu tahu kan syarat kita bisa nikah karna kita harus seagama sayang. Lagipula keluargaku gak akan izinin kalo kamu gak seagama sama aku. Pokoknya aku gak mau tahu kita harus nikah dengan agama aku." bentak Dave.
Whaaaat??? Baru kali ini aku lihat keegoisan Dave. Tak terasa menetes air mataku dipipiku. Aku pun berdiri dan berkata pada Dave "Ntar aku pikirin dulu Dave gimana caranya bilang sama papa dan mama ku tentang ini. Lagi pula aku juga harus memikirkan semua ini ditambah aku juga masih kuliah butuh uang untuk nantinya bayar semester dan lain-lain" jawabku dan berjalan menjauh dari meja ku dan Dave. Baru berjalan beberapa langkah tangan ku ditarik dan Plaaak... Dave menampar ku dihadapan banyak pengunjung cafe dan berteriak padaku sambil mencaci maki aku" LU SIAPA BOLEH NINGGALIN GUE DI SINI KAYAK GUE ORANG BEGO... HAK LU APA... HAH???!! CUMA GUE YANG BOLEH NINGGALIN... LU GAK ADA HAK SAMASEKALI... DASAR LU CEWEK GAK GUNA... TOLOL LU...!!! "
Dia pun pergi meninggalkan aku dalam perasaan shock yang teramat sangat. Dave yang ku kenal selama ini siapa? Kenapa berbeda sekali dengan Dave yang ku kenal?
Segera aku tersadar dan pergi dari cafe itu berjalan di tengah hujan deras tanpa tau kemana arahku berjalan dengan berfikir yang tak tentu arah.
Dalam benakku bertanya-tanya tentang semuanya serta saling beradu pemikiran. Tak terasa kakiku melangkahkan aku ke tepi danau lalu akupun terduduk di sisi danau sambil menangis. Dan akupun tertunduk, menghela nafas dan bangun meninggalkan tas kecil ku di sisi danau lalu berlari ke arah danau dan menjatuhkan diriku ke danau. Perasaan ku sungguh tak karuan dan sedikit tenang akupun melihat ke atas dimana banyak orang berkerumun untuk melihat kondisi ku. Tapi semakin lama akupun semakin jauh ke dalam danau itu.
"Eh ada yang jatuh ke danau.... cepet tolongin keburu orangnya mati..." kata wanita itu, " Mana bisa gue, gue kagak bisa berenang mau bunuh gue lu " jawab si pria itu. " Ya udah telpon polisi aje ye... bentar gue telponin tuh amanin tas cewe itu." tukas wanita itu.
Si pria tersebut membuka tas kecilku berharap menemukan identitas ku dan nomor yang bisa dihubungi sedangkan si wanita menghubungi polisi. "Ett... buset ada suratnye noh ada namanye. " kata si wanita. " BUAT MAMA DAN PAPA. BUAT DAVE... lah ini siapa?! " kata si pria. " Makanye bego jangan dipelihara udah jelas itu bakal nyak ame babenye... " , " Nyang ntu gue paham yang ne BUAT DAVE itu maksud gue?!!! " sentak si pria. "Mane aye tau bang, oh iye aye udah telpon polisi bentar lagi juga dateng. Ya Allah bang kalo si eneng itu kenape kenape gimana tuh bang?? Kesian amat dah...?? " tukas si wanita.
20 menit kemudian polisi datang dan mengevakuasi tubuh Arira dari dalam kolam. Kondisi Arira saat ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Lalu tubuh Arira pun dibawa ke RS untuk diautopsi.
"Eh pak polisi, nee saya temuin dimari. Aye liat dalemnye ade dompet trus surat ame HP udeh kagak saya bongkar lagi. Ya ini saya serahin ye aye cuma mau kasih tau itu aje. pak polisi aje nyang ngecek ntarnye ye!! " jelas si pria.
" Baik pak Terima kasih. Saya Terima barang bukti ini jika dibutuhkan keterangan tambahan mohon untuk bersedia memberikan. " jelas si polisi
"Iye dah pak, aye siap pa tapi nyang aye tau aje ye... " jawab pria itu.
Polisi pun segera pergi dan kembali ke kantor polisi dan mulai memeriksa isi dalam tas Arira. Ditemukan surat, Dompet, dan HP. Segera pihak kepolisian menghubungi keluarga Arira untuk memberitahukan bahwa Arira telah meninggal karna bunuh diri serta menyerahkan surat untuk yang bersangkutan.
Mendengar kabar tersebut mama Arira langsung menangis histeris lalu pingsan sedangkan papa Arira mencoba menguatkan sang ibu walaupun ia juga terluka dan membantu menyadarkan si ibu. Tak lama setelah sadar merekapun diminta untuk segera ke rumah sakit tempat jenazah Arira berada. Sang mama menangis tak ikhlas melihat putri semata wayangnya telah terbaring kaku, sementara si papa tertunduk lemas melihat putri kecilnya sudah tak bernyawa. Meneteskan airmata penyesalan karna tak bisa membuat putrinya bahagia.
"Pak, kami dari pihak kepolisian turut berbela sungkawa atas kehilangan putri bapak. Semoga bapak dan ibu tabah menghadapi ini semua. Dan ini saya berikan pula barang milik korban yang ditemukan oleh warga tempat putri bapak melakukan bunuh diri. Mohon diterima pak. Isi semuanya lengkap dari surat , dompet, dan telpon seluler, sekali lagi kami turut berdukacita pak."
kata bapak polisi pada Papa Arira.
"Terima kasih pak. Segera saya urus jenazah putri saya. Sekali lagi Terima kasih. " jawab papa Arira.
Tak lama waktu berselang pemakaman Arira pun di lakukan , banyak yang tidak menyangka bahwa Arira akan pergi meninggalkan mereka semua. Ada yang menangis dan ada yang tak bisa berkata apa-apa. Tak nampak Dave di pemakaman tersebut karna Dave memang tidak tahu kalau Arira telah tiada. Berulang kali Dave menghubungi Arira tapi tidak diangkat. Dihubungi di WA juga tidak dibalas maupun diangkat. Beribu kata maaf terketik beribu kata sayang dilontarkan tapi belum juga dibaca oleh Arira.
Setelah pemakaman Arira selesai dilakukan, sang papa mulai melihat ruangan kamar sang putri kecil duduk di ranjang putri tercintanya dan tertunduk menyesalkan kepergian sang putri. Sambil melihat barang terakhir yang dikenakan oleh sang putri, dan teringat bahwa sang putri meninggalkan surat untuknya dan sang istri. Surat itupun diambil dan dibacanya.
Teruntuk papa dan mamaku tersayang.
Maafkan Arira pa, ma. Mungkin saat papa dan mama membaca ini Arira sudah tiada. Maaf pa ma, Arira melakukan hal ini. Arira lakukan ini karna Arira sudah gak sanggup lagi menjalani semuanya. Tekanan dari Dave dan memahami maksud mama dan papa. Ra tahu mama dan papa bermaksud baik pada Ra, tapi Ra sedang dimabuk cinta pa sampai sampai Ra tidak tahu mana yang baik untuk Ra. Semua batasan telah Ra lewati dan Ra malu banget pa, ditambah lagi sekarang Ra sedang mengandung anaknya Dave. Ra makin bingung pa ma, dan ini jalan yang Ra pilih. Maafkan Ra pa ma.
Ra udah bikin malu papa sama mama. Maafkan Ra pa ma Ra gak pamit baik-baik ke mama dan papa. Terima kasih udah menjadikan Ra putri yang paling bahagia memiliki papa dan mama. Terima kasih pa ma telah hadir dalam hidup Ra. dan Terima kasih karna sangat menyayangi Ra. I LOVE YOU PAPA MAMA FOREVER.
ARIRA DRAMA PUTRI, PUTRI KALIAN.
Tangis kembali pecah dari sang Papa. Tulisan tangan sang putri telah membuatnya merasa gagal menjadi orang tua. Dipeluk eratnya bantal serta surat sang putri hingga tertidur dalam kesedihan yang mendalam.
Tak lama sang papa terbangun melihat nanar ruangan sang putri yg telah tiada. lalu memandang ke telepon seluler sang putri membaca pesan satu persatu dari Dave lalu membalas pesan tersebut.
"Ayo ketemu. Hari ini di taman dekat rumahku jam 3. Aku tunggu. " isi pesan tersebut lalu dikirimkan.
Tring... Tring... bunyi ponsel Dave dan dia membacanya lalu terlintas raut bahagia dari wajah Dave. tanpa pikir panjang dia segera bersiap seletah melihat jam. lalu pergi untuk menemui sang pujaan hati.
Sesampainya disana Dave mulai mencari wajah Arira dan yang mengejutkan bahwa papa Arira lah yg ada disana.
"Om... Ari... "
" Shutsss... ssst... " potong papa
tanpa banyak bicara diserahkannya surat yang tertulis nama Dave di amplopnya. dan menyerahkan sepucuk kertas kecil bertuliskan sebuah alamat.
"baca lalu temui Arira dialamat itu dan minta maaf lah sama dia. Ini pertemuan kita yang terakhir besok dan lain hari saya tidak mau melihat muka kamu lagi. Paham kamu Dave??!! " ucap papa
Hanya anggukan yang diberikan oleh Dave dan akhirnya papa berlalu.
Segera Dave membuka amplop untuknya dan menemukan isi didalamnya adalah testpack dengan dua garis biru dan foto hasil USG. Dave terkejut dan perasaan nya campur aduk lalu segera dia berlari menuju alamat yg tertulis karna jaraknya cukup dekat dari tempatnya sekarang, tapi dia bingung bukan main karna alamat tersebut adalah TPU.
"Apa-apaan sih ini... " dan setengah emosi dia masuk mencari sosok Arira tapi tak ditemuinya melainkan batu nisan bertuliskan nama Arira serta sepucuk surat, hasil otopsi, dan selembar kertas.
Surat tersebut adalah surat dari Arira untuk orang tuanya semua tumpahan perasaan ketakutan, kekhawatiran tertumpah disana. Dave pun membaca hasil otopsi Arira serta selembar kertas yang ada disana yg bertuliskan...
"Jika dengan ini bisa memuaskan dan membahagiakan kamu makan sudah kamu dapatkan. Andai kamu tidak memanfaatkan putriku mungkin akan aku serahkan putriku dan kucarikan jalan keluar untuk kalian. Tapi malah kamu melakukan hal yang bahkan tidak menunjukkan kamu seorang gentleman. Saya dan istri saya akan pergi dari sini, Satu-satunya harapan dan cita-cita kami telah pergi untuk selama-lamanya beserta dengan calon cucu kami. seterusnya ingatlah ini tentang apa yang telah kamu lakukan. Hanya di batu nisan ini kamu bisa meminta maaf pada Arira. Selamat Tinggal"
TAMAT