Sore menjelang malam itu Balairung ramai dipenuhi praja, ada acara "Pentas Seni Madya Praja".
Setiap Madya Praja yang di dalam tubuhnya mengalir darah seni, tampak sibuk mempersiapkan diri untuk tampil sesuai agenda yang sudah ditetapkan panitia dari jauh hari. Ada yg bergabung dalam sebuah band, ada yang membaca puisi, ada yg menari (tari daerah maupun modern dance) dan lain sebagainya. (keterangan: Balairung = salah satu gedung terbesar di komplek ksatrian sekolah kedinasan di lembah Manglayang, Jatinangor dan bisa menampung sampai dengan 10.000 orang, karenanya diperuntukkan sebagai gedung pertemuan; Praja = murid sekolah kedinasan tersebut, ada 4 tingkatan, yaitu: Muda Praja/tk 1, Madya Praja/tk 2, Nindya Praja/tk. 3 dan Wasana Praja/tk 4).
***
-TIWI-
Sebagai bagian dari Madya Praja, Dwi Prastiwi/Tiwi bersama Dina, teman se-wismanya, juga hadir di sana, tapi bukan untuk mempertunjukkan bakat seni mereka (Ibunda Tiwi selalu berkata kalau pada dasarnya Tiwi memiliki bakat seni, namun sayangnya dasar bakat tersebut terletak terlalu dalam, sampai² tidak kelihatan di permukaan.. 🤭).
Jadi murni kehadiran Tiwi dan Dina adalah perwujudan rasa ingin tahu dan Korsa mereka terhadap rekan-rekan seangkatannya semata.
(Korsa = rasa kebersamaan, persaudaraan yang tercipta bukan karena aliran darah, tapi tetesan keringat yang dicapai sebagai rekan sepenanggungan).
Di tengah keramaian itulah ku lihat sosoknya mencuri perhatianku sepenuhnya. Dia tampak khusuk memainkan drum bersama band mereka yang diberi nama Blueband.
"Woi.. segitu terpesonanya?" tiba² sebuah suara cempreng, yang tak lain adalah Dina, membuyarkan lamunanku.
Aku hanya nyengir mengangguk malu namun mengiyakan. Lalu berkata: "Itu yang lagi main drum siapa namanya Din?"
"Cie..cie..cie.. si-dingin Tiwi sudah mulai tertarik sama praja ya?" ledeknya lagi demi melihat mimik wajahku yang mulai terasa panas.
Memang inilah kali pertama aku merasa tertarik, dalam arti yang sesungguhnya, sama makhluk yang berstatus praja. Entah mengapa, sikap duduknya yang gagah dan cara dia memegang stik drum itu serta senyum manis yang senantiasa terkembang di wajahnya, sempat-sempatnya memberikan kesan yg sangat mendalam di hatiku.
Jarak kami, para penonton ini dan panggung sebenarnya cukup jauh dan para seniman di panggung itu pun tersorot lampu terang, jadi seharusnya kami memang dapat dengan jelas melihat segala gaya mereka namun tidak sebaliknya.
Tapi untuk beberapa saatnya tadi, tatapan mata kami tampak terpaku bersama dan dia sempat menyapa "hai.." dengan senyum dikulum, tapi mungkin juga itu hanyalah khayalanku semata.
"Kamu kenal dia ga Dina?" tanyaku lagi.
"Mau tau aja apa mau tu banged?" kembali Dina menggoda.
"Mau tau banged.. puas?" tanyaku mulai menunjukkan kekesalan hati ini.
Aku dan Dina sudah jadi rekan sebelah bed (tempat tidur) sejak awal kami Muda Praja. Dina gadis yang pendiam dan cenderung tertutup. Hanya sedikit saja yang diketahui teman-teman tentang dirinya.
Namun selain karena sebelah bed, kami juga sama-sama gadis pendiam dan berstatus anak kedua, ada aura kecocokan diantara kami sejak pertama kali berkenalan, jadi dibandingkan dengan teman-teman lainnya, hanya aku lah yang bisa digolongkan sebagai teman terdekatnya.
Walau selalu menunjukkan wajah dingin dan menjaga jarak dari seluruh dunia ini, Dina sebenarnya adalah teman yang baik hati dan penuh pengertian. Dina juga gadis yang cerdas dan berpengetahuan luas, tapi memang Dina sesekali juga suka usil dan menggoda ku.
"Ish, gitu aja ngambek, gede diambek deh dikau Tiwi" katanya lagi sambil menyentuh pipiku yang aga cemberut.
"Tiwi, dia itu teman sekelasku.. namanya Bagas.. orangnya baik dan ga pelit ilmu, hayu aku kenalin kalau nanti band-nya selesai manggung ya.." katanya sambil menarikku ke belakang panggung.
"Eh, apaan seh Din, enggak usah lah.." kataku kemudian, mengingat kalau statusku saat ini sudah memiliki pacar, yang notabene seorang senior juga di ksatrian ini.
'Pacar terpaksa yang seringnya ga nganggep aku pacarnya' batinku mengingat bagaimana senior asal pendaftaran yang sama itu menyatakan cintanya di masa cuti kenaikan pangkat lalu.
"Kakak sayang banget sama kamu Tiwi, izinkanlah kakak jadi pacarmu ya!" masih terngiang permintaan yang seperti perintah itu dilayangkannya di bus yang kami tumpangi bersama satu kontingan lainnya, setelah apel pelepasan cuti lalu.
Perhatian dan intensitas pertemuan kami pun sering sekali terjadi pada masa-masa cuti itu. Akhirnya, walau belum merasakan hal yang sama yang dia rasakan, seminggu sebelum cuti berakhir, aku mengiyakan permintaan/perintahnya tersebut.
'Witing trisno salarang soko kulino' batinku waktu itu, berharap kebersamaan kami akan menumbuhkan benih-benih cinta nantinya.
Tapi harapan memang seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Selama lebih dari 2 bulan kami kembali ke ksatrian, intensitas pertemuan kami bisa dihitung jari. Dia sibuk dengan jaga image-nya sebagai Wasana Praja (katanya seh itulah cara dia menjaga kedamaian hidupku, karena kalau sampai tersiar berita aku memiliki pacar senior, maka bisa saja memicu kemarahan senior-senior putri lainnya terhadapku, apalagi dari senior putri yg pernah punya asa terhadap pacarku ini).
Pertemuan kami hanya sesekali saja, seperti ketika dia memintaku (lewat teman seangkatanku yang ikut club karate) untuk mendukung dia dan tim-nya bertanding di kota Bandung. Tidak ada yang spesial.. seakan-akan kehadiranku sebagai tim sorak untuk timnya, bukan spesifik untuk dia seorang.
Pernah sekali juga kami janjian di Warnet pada jam pesiar sabtu itu (pesannya di secarik kertas tentang lokasi dan waktu kami bertemu, dititipkan kepadaku ketika kami berpapasan di Menza), lalu kami hanya sempat duduk bersebelahan sambil berpegangan tangan sesaat, karena ternyata di warnet itu juga banyak praja lainnya.
Bagaimana mau tambah sayang coba kalau begitu situasi dan kondisinya? Jadi wajar kan aku merasa tertarik pada sosok yang lain?
Tapi enggak kog, aku bukan pribadi yang sedemikian buruk, suka menduakan hati. Karena statusku masih pacar seseorang, maka setertarik apapun aku pada seseorang, rasa dan asa itu akan ku tekan semaksimal mungkin.
***
-BAGAS-
Tatapannya menarik perhatianku. Walau penerangan di bangku penonton aga temaram, ketajaman matanya sempat membuat kesan yang sangat mendalam di pikiran ini. Wajah manisnya juga melekat erat di hatiku.
Sempat kehilangan 1 tempo (yang membuat vocalis kami menoleh ke arahku), kembali ku kumpulkan konsentrasi yang sempat terburai ketika mengatakan "hai" dari jauh kepadanya sambil tersenyum.
Madya Praja memang waktunya kami mencari cinta, setelah melewati masa Muda Praja, dimana kami merasa sangat menderita.. 🤭
Sekilas ku lihat gadis itu datang bersama Dina teman sekelasku. Kepribadian mereka sepertinya cocok. Baguslah, aku memang menyukai gadis yang pendiam dan ga banyak maunya. Gadis yang ceria dan cerewet memang biasanya lucu dan bisa lebih menceriakan hari, tapi mereka suka baper (banyak permintaan) dan merepotkan.
...
"Dina.. siapa nama temanmu kemaren ketika nonton pentas seni?" tanyaku tanpa basa-basi sembari menjejeri langkahnya memasuki kelas.
"Ya ampyun kaget aku 'gas.." jawabnya sambil memegangi dadanya. "Kasih salam dulu keg atau kasih coklat lebih bagus lagi, baru nanya yang macem-macem" tambahnya kemudian sambil menunjukkan senyum manis, yang sangat jarang dilihat orang itu.
"Selamat pagi Dina.." kataku cepat sambil membukakan pintu kelas yang berada di lantai 3 gedung ini.
"Telat keles.." katanya tak kalah cepat.
"Siapa nama gadis manis itu? Kalian tampak akrab waktu membicarakanku di bangku penonton malam kemaren.." kataku lagi sambil duduk di sebelah bangkunya.
"Ish geer.." matanya berputar indah, mengejek.
"Kalau mau infonya, kasih aku sebatang silverquin dulu, hard to get hard to lose bro.." lanjutnya.
(Hard to get hard to lose = semakin sulit didapat akan semakin sulit untuk dilepas).
"Iyah, nanti aku belikan di koperasi jam istirahat nanti.." kembali aku mencoba untuk bernegosiasi.
"Sory, no silverquin no info.." tegasnya.
Ish, ingin rasanya segera berlari ke koperasi, namun apa daya mereka baru buka sekitar jam 9an, sekarang baru juga 07.48 wib, sekitar 12 menit lagi bel tanda masuk kelas akan berbunyi. Maka dengan langkah diseret dan wajah cemberut, aku pun beranjak ke bangku bagian belakang dan mulai menulis puisi.
HAI KAMU YANG BERWAJAH MANIS..
TATAPAN TAJAM-MU MALAM TADI MELEKAT ERAT DI PIKIRANKU..
SENYUM AMBIGUMU NEMPEL DI HATIKU SEAKAN TAK MAU PERGI KE HATI YANG LAIN..
APAKAH INI YANG NAMANYA JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA?
APAKAH INI YANG DIRASAKAN PARA TOKOH DI NOVEL-NOVEL PERCINTAAN ITU?
APAKAH RASA INI MILIKKU SEORANG?
AKANKAH KAU MENJAWABNYA? (B)
Jam pertama perkuliahan pagi ini tanpa kusadari sudah terlewati. Dan tepat setelah dosen meninggalkan kelas, aku pun berlari sekencangnya menuju koperasi dan membeli 2 batang coklat silverquin, yang langsung ku kantongi demi menghindari tatapan² celamitan teman² ku.
Untunglah sampai di kelas, dosen pengajar berikutnya belum hadir (mungkin bahkan sedang berhalangan). Duduk persis di depan Dina, ku sodorkan sebatang coklat itu di hadapannya.
Dina tampak kaget sesaat, namun segera sadar diri dan secepatnya memasukkan coklat tersebut ke dalam tas-nya.
"Serius juga ya kamu 'gas.." katanya kemudian.
"Dua rius Dina.." jawabku sigap dan segera menambahkan: "Jadi..."
"Ish ga sabaran banged seh.. Ok, namanya Dwi Pratiwi, biasa dipanggil Tiwi. Dia teman sebelah bed ku.. ada lagi yang perlu dikau tau?" tanyanya kemudian sambil melipat kedua tangannya kalem.
"Aku mau tau semua hal tentang dia. Asal kontingen mana dia? Rumahnya dimana? Hobby-nya apa? Apa yang dia suka atau tidak sukai? Kapan hari ulang tahunnya? Dan yang paling penting, apakah dia sudah punya pacar atau belum?" tanyaku bertubi-tubi.
"Wow.. wow.. wow.. satu-satu bro.. jangan buru-buru. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, jadi jangan memaksakan diri ya.." katanya dengan mimik sebijaksana mungkin.
"Dina, please deh.." kataku semakin tidak sabar.
"Okey.. okey, satu-satu ya aku coba jawab.. apa tadi yang pertama ya? Oh iya, Tiwi itu kontingen Jawa Timur, kalo ga salah tinggal di kota Surabaya. Dia suka membaca walau tidak se-kutu buku aku. Tiwi juga suka coklat dan paling anti sama kekasaran, orangnya lembut banged seh. Kalau dia sudah punya pacar atau belum, aku juga kurang tau deh, sebaiknya kamu aja yang tanya langsung, takutnya aku salah kasih info.." walau panjang lebar kalimatnya menjelaskan, namun semua info itu ku simpan baik-baik di memory ini.
"Ada lagi yang bisa saya bantu bapak Bagas yang terhormat?" tanyanya kembali dengan kalem.
"Nanti setelah pembelajaran, aku nitip sesuatu buat Tiwi ke kamu ya.." pintaku sambil menangkupkan kedua tangan ini.
"Siap bos." jawabnya singkat.
Kembali ke mejaku karena dosen kami tampak berjalan memasuki kelas, aku pun kembali membuka lembaran puisi tadi, menambahakan
'Dear Dwi Prastiwi...' di bagian atasnya dan 'Ps. Boleh menularkan sedikit kebahagiaan kepadaku dengan pesiar bareng sabtu nanti?' di bagian paling bawah. Lalu kupakai kertas berisi puisi itu untuk membungkus sebatang coklat yang satu lagi. Nanti akan ku titip lewat Dina di akhir perkuliahan hari ini.
Memang kalau lagi 'on', darah seni ini suka mengeluarkan kegombalan-kegombalan yang terkadang membuat diriku sendiri kagum.. 😅
***
-TIWI-
"Hei gadis manis.. bengong ajah, ntar kesamber loh.." suara lembut Dina membuyarkan perhatianku dari buku yang sedang ku pegang.
"Siapa yang bengong? Aku kan lagi baca buku rekomendasi-mu neh.." kataku sedikit dijudes-judesin sambil memperlihatkan buku berjudul 'Tujuh Musim Setahun' karya Clara Ng ke depan wajahnya.
Dina tersenyum geli, lalu berkata: "Baca kog satu halaman terus ga dibalik-balik?"
'Ups.. ketauan ya bohongku.. memang Dina ini terlalu cerdas untuk dikibuli.' batinku lirih.
"Udah deh, ga usah ditekuk gitu wajahnya. Aku punya hadiah neh buat dikau." katanya menarik pandanganku penasaran.
Lalu Dina mengeluarkan sesuatu dari tasnya..
Bentuknya seh sebatang coklat, tapi kan kita ga akan tau sebelum membukanya. Dan yah benar saja, sebatang coklat silverquin kesukaan ku (mungkin juga kesukaan hampir sebagian besar praja).
Tapi yang lebih menarik adalah kertas pembungkusnya. Ada sebuah puisi tertulis didalamnya, ku baca perlahan:
Dear Dwi Prastiwi,
HAI KAMU YANG BERWAJAH MANIS..
TATAPAN TAJAM-MU MALAM TADI MELEKAT ERAT DI PIKIRANKU..
SENYUM AMBIGUMU NEMPEL DI HATIKU SEAKAN TAK MAU PERGI KE HATI YANG LAIN..
APAKAH INI YANG NAMANYA JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA?
APAKAH INI YANG DIRASAKAN PARA TOKOH DI NOVEL-NOVEL PERCINTAAN ITU?
APAKAH RASA INI MILIKKU SEORANG?
AKANKAH KAU MENJAWABNYA? (B)
PS. Boleh menularkan sedikit kebahagiaan kepadaku dengan pesiar bareng sabtu nanti?
"Dari siapa ini Dina?" tanyaku penasaran.
"Siapa lagi?" Dina menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.
"Bagas? Seriusan ini Din?" tanyaku kembali masih tidak percaya.
"Percaya syukur, tak percaya pun terserah.." katanya lagi sambil mengedikkan bahunya.
"Ok.. tq ya Dina manies.. btw, nanti sehabis apel malam, kita ngerembes coklat inj bareng ya!" kataku setelah sempat terdiam beberapa saat.
(ngerembes = istilah ngemil makanan secara sembunyi-sembunyi, seharusnya tidak boleh dilakukan sesuai Peraturan Urusan Dinas Dalam/PUDD kehidupan Praja)
"Sip deh.. aku juga kebagian 1 batang neh dari dia, upah bagi-bagi info tentang dikau."
***
-BAGAS-
Tak sabar deh menunggu Apel Persiapan Pesiar ini selesai. Tadi sebelum apel, aku sempat melirik kehadirannya di samping Dina. Tambah manis wajahnya, tampak aga sumringah ketika tatapan kami sempat bertemu.
"... Ingat ya dek.. setiap koreksi ada konsekuensi. Jadi baik-baik kalian menjalankan pesiar. Saya ga mau dengar ada laporan/aduan terkait kelakuan kalian di luar sana yang bisa mempermalukan lembaga dan ksatrian kita ini. Ingat untuk kembali tepat waktu dan jangan sampai terlambat apalagi tidak hadir di Apel Pengecekan Personel setelah pelaksanaan pesiar ini berakhir..."
'Entah apa-apa saja deh yang diomongkan kakak senior pejabat kami yang menjadi pembina apel ini. Semua terdengar samar dan bukan hanya aku seorang yang tampak tidak memperhatikannya, lalu kenapa ya masih repot-repot mereka melakukannya?' batinku lirih, sesekali kembali melirik ke barisan putri.
Akhirnya selesai juga apelnya dan satu persatu pasukan kami kembali berbaris rapi menuju gerbang depan. Setelah melewati portal, kami pun membubarkan diri dan bergerak menuju tempat tujuan pesiar masing-masing.
Ku tunggu sosoknya membubarkan diri dari barisannya. Lalu ragu-ragu menyapanya: "Hi.."
"Hi juga.. kemana kita?" tanyanya kalem.
Ish manisnya senyum itu, membuat anganku melambung tinggi.. lalu setelah terdiam beberapa saat, aku menjawab: "Tiwi mau kemana?" hm.. namanya pun terasa manis di bibir ini. 🥰
"Nonton yuk, ada film bagus ga ya?" jawabnya.
"Hayuk.. film sejelek apapun akan terlihat bagus kalau nontonnya bareng Tiwi" gombalku.. Uhui..
Tiwi hanya tersenyum manis.. "Udah dong Tiwi, jangan senyum semanis itu terlalu sering, aku bisa kena diabetes neh.." gombalku lagi.. Uhui lagi..
'Ach, indahnya dunia.. mungkin ini adalah hari yang paling indah dalam masa hidup ku yang 19 tahun ini' batinku sambil mengarahkannya ke seberang jalan untuk naik angkot yang membawa kami ke arah BIP.
***
-TIWI-
Indah sekali hari ini. Walaupun kami tidak jadi nonton bioskop dan hanya bersendagurau di cafe depan mall tadi, tapi semuanya terasa indah.
Bagas adalah pasangan yang sangat baik. Dia selalu memposisikan dirinya di sisi yang melindungi. Dia selalu mendahulukan kepentingan dan keinginanku sebelum menyampaikan keinginannya. Kata-katanya selalu lembut berbumbu gombalan-gombalan yang selalu dapat memancing senyumku merekah.
Tapi pertemuan kami ini sungguh di waktu yang tidak tepat.
Semalam, aku telah menulis selembar kertas untuk mempertegas kalau untuk saat ini hubungan kami tidak akan bisa lebih dari sekedar teman, atau kalaupun lebih yah mungkin sahabat.
Setertarik apapun aku akan dirinya, namun selingkuh bukanlah sifatku.
Maka, sesaat setelah apel pengecekan personel akan dilakukan, aku menyelipkan surat itu ke lengannya. Dia pun hanya tersenyum.
***
-BAGAS-
Hari ini adalah hari terindah, bisa bercengkrama bebas dengan belahan jiwa ini, sekaligus hari terburuk juga dalam hidup ini.
Ketika tangan mungil itu menyelipkan sepucuk surat (yang rasanya sudah dipersiapkannya sejak sebelum pesiar), hati ini sempat terlonjak ke langit ke tujuh sangking bahagianya.
Sama sekali jauh dari bayanganku kalau itu surat penolakan, menilik betapa sumringahnya senyumannya menanggapi lelucon ataupun gombalan-gombalanku yang tidak berkesudahan. Rasa ketertarikan itu menguar jelas di sela-sela percakapan dan sentuhan-sentuhan kecil kami.
Namun ketika sampai di wisma, membuka lipatan surat mungil itu dan membacanya:
DEAR BAGAS YANG BAIK HATI,
TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN DAN CURAHAN PERASAAN-MU.. SESUNGGUHNYA AKU PUN MERASAKAN HAL YANG SAMA..
TAPI UNTUK SAAT INI, AKU MOHON MAAF KARENA KITA TIDAK BISA MENJALIN HUBUNGAN YANG LEBIH DARIPADA SEKEDAR SAHABAT.
AKU TELAH MEMILIKI PACAR. DIA SALAH SEORANG SENIOR KITA JUGA.
MAAFKAN DIRI INI, YANG SEPERTI TELAH MEMBERI HARAPAN PALSU KEPADAMU. TIDAK ADA SAMA SEKALI NIATAN DIRI UNTUK ISENG APALAGI MENGHINA MU, HANYA SAJA WAKTUNYA YANG TIDAK TEPAT.
SALAM HORMAT (T)
PS. MUNGKIN HARI INI ADALAH KESEMPATAN PERTAMA DAN TERAKHIR KITA PESIAR BERSAMA. AKU BAHAGIA DAN MENIKMATINYA. TERIMA KASIH..
Seketika itu juga bumi seakan terbelah dan aku terjerembab masuk ke dalamnya.
Digulung senior separah apapun itu, tidak ada bandingannya dengan rasa sakit yang kurasakan menekan dada ini.
Tanpa sadar, aku memakai sepatu olah ragaku dan mulai berlari mengelilingi ksatrian. Mencoba menghalau kepedihan hati dan melupakan sejenak rasa sakit ini.
Entah sudah berapa putaran lapangan parade ku putari dengan berlari. Sampai kaki ini akhirnya menolak dilangkahkan lagi. Aku terduduk di ujung terbawah tangga seribu. Merebahkan diri dan mencoba mengatur nafas.
Tiwi adalah seorang gadis manis, baik hati yang cerdas dan tegas. Seumur hidup ini, baru dia yang bisa begitu melekat di hati ini. Suratnya itu bukan surat penolakan, tapi lebih sebagai penjelasan.
Kejujuran dan keputusan bijaksananya untuk tidak dulu membalas perasaanku, adalah bukti kebaikan hatinya. Perempuan seperti ini lah yang layak ditunggu. Maka ku bulatkan hati ini untuk menunggunya.
Surat tadi yang sempat kuremas dan masih ku kantongi, ku buka lagi sesaat, mencoba merapikannya dan ku lipat baik.
Aku akan menyimpannya dalam dompetku, sebagai kenangan. Pengingat akan asa yang belum kesampaian.
Hanya waktu yang belum tepat, maka akan ku tunggu sampai masa itu tiba. Pencerahan ini tiba-tiba menghampiri pemikiran ini dan senyum ku kembali tercipta.
Walau badan dan kaki terasa lemah, tapi pikiran dan hatiku sudah tercerahkan.. 'Terima kasih Tuhan.. akan ku tunggu dia sesuai waktu-Mu..' batinku sambil berjalan kembali ke wisma.
Ku tunggu putus-mu.. 😍 #Romansa
***
Terima kasih sudah membaca, kisah ini adalah fiksi berdasarkan penggalan peristiwa nyata.
Sekedar info, kedua pasangan di atas (Bagas dan Tiwi, bukan nama sebenarnya), saat ini sudah berumah-tangga dengan 3 orang anak, dipenuhi kebahagiaan yang hakiki dan semoga langgeng sampai maut memisahkan ya..
Jangan ragu² untuk kasih ♥️ supaya tambah semangat ini untuk berkarya.. God bless us all.. 🙏🏻 amin..