Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat. Membuat segerombolan mahasiswa menghentikan proses pencarian data untuk keperluan tugas KKN mereka.
"Kami pulang duluan ya Kak, ini sudah keburu sore banget!" ujar Menik sembari merapikan tas ranselnya.
"Hah? ya sudah!" sahut Ivander, Kakak tingkatnya Menik. Lelaki itu memang sengaja berlambat-lambat pulang karena tengah menunggu kekasihnya Whidie.
"Nik! ayo cepat!" desak Cera seraya mencoba meraih lengan Menik.
"Nik! yakin kamu berani pulang?" tanya Ivander, yang sontak membuat Menik menoleh ke arahnya.
"Yakin kok! orang aku nggak sendirian!" tepis Menik, dahinya berkerut. Ivander pun hanya bisa mengangguk pelan.
***
Menik dan Cera menyusuri jalanan setapak. Hari semakin gelap, keduanya hanya memiliki satu senter sebagai penerang jalan. Ponsel mereka telah mati akibat terlalu sering dipakai untuk keperluan penelitian.
"Cer! kok aku merinding ya?" ujar Menik sembari memegangi bagian leher belakangnya.
"Cera?" Menik begitu dibuat kaget tatkala dirinya tidak melihat keberadaan Cera lagi. Sekarang dia sendirian di tengah jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rindang.
"Sialan! pantas saja tadi si Ivander terus mencegahku pulang, ternyata sedari tadi aku sendiri! lalu dimana Cera?" gumam Menik sambil mengedarkan senternya ke segala penjuru.
Keringat mulai menetes di pelipis Menik, gadis berjilbab itu sudah tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perjalanan pulang. Toh Ivander dan yang lain pasti sudah beranjak pergi dari tempat mereka.
"Cih! pasti Ivander sedang berkencan sama Whidie!" gerutu Menik sembari kembali melangkahkan kaki lagi. Ke-iriannya kepada pasangan yang tengah dimabuk cinta berhasil sedikit menghilangkan rasa takutnya.
"Menik!" tiba-tiba terdengar dari belakang Cera tengah memanggil. Tetapi suaranya begitu berdengung dan sedikit memekakkan telinga. Karena merasa berfirasat buruk, Menik sama sekali tidak berniat menoleh ke belakang.
"Menik..." kali ini suara tersebut memanggil dengan nada lembut. Tubuh Menik mulai gemetaran, bahkan senter yang sedang dipegangnya menjadi bergetar tidak karuan.
"Menik... hihihi..." makhluk bersuara seperti Cera tersebut sekarang menambahkan cekikikannya. Namun Menik tidak gentar, dia tetap bertekad tidak berbalik ke belakang.
Setelah merasa berjalan agak jauh, Menik akhirnya menghentikan langkah. Gadis itu berusaha mengatur deru nafasnya. Dia berhenti tepat di bawah pohon yang begitu rindang.
Menik memejamkan matanya sejenak sembari mendengus lega, karena suara berdengung yang sedari tadi mengganggunya sudah menghilang. Namun ketika dia kembali membuka mata, jantung Menik serasa disambar petir tatkala dirinya melihat rambut berwarna putih menjuntai menyentuh wajahnya.
Ssst... Ssst... Ssst...
Rambut itu semakin turun ke bawah, perlahan Menik mulai bisa melihat wajah makhluk tersebut. Mata Menik langsung membelalak saat melihat rupa bermata merah hanya berjarak satu inci dari wajahnya. Mulut makhluk tersebut menganga dengan pelan dan memperlihatkan susunan gigi taringnya yang runcing.
Tenggorokan Menik tercekat, dia tidak bisa mengeluarkan suara. Seakan dirinya benar-benar terancam dengan makhluk misterius di depannya. Karena saking takutnya tubuh Menik mematung, dia bahkan kembali memejamkan mata.
"Menik!" tiba-tiba terdengar kembali suara orang memanggil dari belakang.
Deg!
Jantung Menik berdegub kencang saat sebuah tangan menyentuh salah satu bahunya.
"Aaaarkkkhh!!!" Menik menjauhkan tangan itu sebisa mungkin, dan tanpa sadar dirinya jatuh ke tanah.
"Menik! ini aku Cera!" ucap Cera yang kebingungan melihat gelagat Menik.
"Menik! kamu nggak apa-apa?" Dewi yang sedari tadi berjalan di belakang ikut menghampiri Menik.
"Aku tidak apa-apa..." sahut Menik seraya bangkit dari tempatnya, dia akhirnya lega setelah melihat kedua temannya.
"Apa yang terjadi? sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu?" terka Dewi yang khawatir melihat ekspresi Menik.
"Iya! beritahu kami Nik!" sambung Cera yang juga penasaran.
"Nanti aku akan ceritakan, tapi tidak di sini!" ucap Menik sambil kembali berjalan menuju arah pulang.
***
Menik, Cera dan Dewi sekarang menyusuri area persawahan warga. Mereka berjalan dengan cara beriringan, karena jalanannya hanya muat dijalani satu orang.
Tiba-tiba Menik menghentikan langkahnya, karena melihat padi-padi bergoyang sendiri. Padahal kala itu tidak ada angin sedikit pun yang berhembus.
"Nik kenapa berhenti?" tanya Dewi yang sedang berjalan paling belakang.
"I-i-itu... kalian lihat nggak!" Menik menunjuk helaian daun padi yang sedang bergoyang.
"Kok padinya goyang-goyang gitu?" Cera merasa bergidik ngeri.
"Astaga! ayo lebih baik kita lari saja, sebelum makhluknya nongol, aku takut!" Dewi menarik-narik lengan baju Cera.
"Benar! ayo!... huwaaaaa!!!" ucap Menik yang diakhiri dengan teriakan histerisnya, dia berlari lebih dulu. Alhasil Cera dan Dewi ikut berlari dari belakang. Ketiganya bahkan tidak peduli lagi dengan lumpur yang membasahi sepatu mereka.
***
Setelah melewati area persawahan, akhirnya Menik, Cera dan Dewi tiba di depan rumah penginapan mereka. Kala itu Menik langsung menceritakan kejadian mengerikan yang telah dialaminya.
"Wah! apes sekali kamu Nik!" kata Cera dengan meringiskan wajahnya.
"Iya! kamu termasuk berani loh!" sambung Dewi.
"Eh guys! Kak Bright!... Kak Bright ke sini!" ujar Cera sembari merapikan pakaiannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Menik, karena dia sudah lama mengagumi kakak tingkatnya itu.
"Dewi! kamu nggak apa-apa? aku mencarimu!" Bright berjalan menghampiri Dewi.
"Tidak apa-apa Kak! aku kan baru pergi sebentar, udah khawatir aja! idih!" Dewi tersipu malu, kala Bright menatapnya dengan binaran mata penuh arti.
"Kita kan baru jadian, ya iyalah aku khawatir!" balas Bright lembut.
Kala itu Menik menatap tajam ke arah Dewi. Raut wajahnya tampak cemberut, dia merasa telah dikhianati oleh teman baiknya sendiri.
"Kalian cium bau pesing nggak?" Cera angkat bicara, saat penciumannya mulai terganggu.
"A-a-aku... masuk duluan guys!" Menik tiba-tiba lari kocar-kacir sembari memegangi celananya yang terlihat agak basah. Gadis itu baru menyadari, kalau tadi dia terkencing di celana akibat sangat ketakutan.
"Sialan! kenapa baru sadar saat Kak Bright datang sih!" Menik menepuk jidatnya saat sudah berada di dalam kamar mandi.
***
● EPILOG
[Di Sawah]
"Wat! kalau sudah selesai goyangkan daun padinya ya!" titah Whidie yang berada tidak jauh dari Wati.
"Bisa diam napa Whid! aku lagi konsentrasi mengeluarkan telur emasku nih!" gerutu Wati.
Tidak lama kemudian akhirnya Wati selesai. Dia pun segera menggoyangkan helaian padi di sekitarnya beberapa kali.
"Huwaaa..." dahi Wati mengernyit saat melihat ketiga temannya lari terbirit-birit.
"Apaan sih! Menik, Cera, sama Dewi memang selalu aneh!" gumam Wati seraya berdiri menarik celananya ke atas.
"Hiyaaaakkk!!! aku bilang kalau sudah selesai, goyangkan saja padinya, markonah!" geram Whidie ketika melihat Wati tidak sengaja menoleh ke arahnya.
"Astagee Whid, maafkeun aku yang sudah tidak sengaja melihat pantatmu... hiyaaakkk!" ucap Wati sambil berusaha menahan tawanya.
"Dasar teman kampret!!!" pekik Whidie.
~TAMAT~