Saat itu kedua orang tua kami sedang pergi ke Karangasem, termasuk aku juga ikut karena aku masih terlalu dini jika tinggal bersama kakak ku, apalagi usia kami yang terpaut tidak terlalu jauh. Aku adalah anak terakhir dari empat bersaudari, dalam artian aku tidak memiliki adik ataupun kakak laki-laki. Ayahku berpesan kepada kakak kedua ku, sebut saja kak Pande, untuk menjaga rumah, merawat ternak, serta menjaga kakak ketiga ku yang masih berusia lima tahun bernama Utami.
Tepat pada malam harinya yaitu bertepatan menjelang hari raya Siwaratri (hari suci umat hindu), setelah seharian kak Pande beraktifitas menjalankan tugas yang diberikan ayah bersama kak Utami, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar. Malam yang gelap namun suasana masih ramai, karena masih ada beberapa orang yang berlalu lalang di sebuah jalan setapak yang mirip seperti jalan tikus.
Hari semakin gelap, kak Pande dan kak Utami sedang riang gembira di dapur membuat cemilan berupa keripik yang terbuat dari biji nangka. Mereka menikmati keripik itu seraya menonton TV agar rasa takut dalam hatinya menghilang, bagaimana mereka tidak takut jika mereka harus tinggal di sebuah rumah yang terletak jauh dari jalan raya dan tetangga, hanya ada pohon cengkeh yang menjulang tinggi di sekitar rumah kami.
Sekitar pukul 22.00, rasa kantuk mulai melanda kak Pande dan kak Utami, ditambah lagi dengan hembusan angin malam dan hujan gerimis membuat mereka memutuskan untuk tidur, namun saat akan beranjak dari kursi tempat mereka menonton TV tadi, Byett!!! Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita karena entah kenapa tiba-tiba lampunya mati. Rasa cemas dan takut kembali dirasakan oleh kedua bocah yang masih berusia 9 dan 5 tahun itu, apalagi belakangan ini mereka sering diteror cerita-cerita seram oleh mereka yang tau kalau kak Pande dan kak Utami tinggal berdua. Dengan perlahan tanpa punya ponsel di zaman itu, kak Pande mencari-cari sebuah lampu pelita yang berbahan bakar minyak tanah, ia mencari hanya dengan bantuan cahaya korek api per batang.
Hati yang tenang, suasana gembira dan percaya diri akan melewati malam itu dengan perasaan berani, namun tiba-tiba hal itu berubah menjadi perasaan khawatir, takut, dan cemas akan hal-hal yang berbau negatif. Kak Pande sebagai seorang kakak mencoba untuk bersikap tenang seolah tidak akan terjadi apa-apa meskipun suasana hatinya sedang gundah, ia tidak mau membuat kak Utami semakin takut, ia memeluk kak Utami sembari menceritakan cerita-cerita konyol untuk menghibur kak Utami.
Malam semakin larut, sudah hampir tengah malam mereka belum juga bisa tidur karena semakin mendekati pukul 00.00, semakin banyak terdengar suara-suara aneh yang membuat mereka ingin menangis meraung-raung dan berteriak kencang. Angin yang semula tenang mendadak berhembus kencang serta lolongan anjing yang terdengar bersahut-sahutan, sehingga suasana semakin mencekam, tiba-tiba kak Pande mendengar suara gemuruh, situasi mendadak ramai, terdengar suara orang teriak panik, bunyi kentongan , dan suara kendaraan yang berlalu lalang.
Kak Pande tidak berani keluar sama sekali, ia sangat takut jika seandainya di luar terjadi sesuatu, dia dan kak Utami tidak akan bisa dengan cepat menyelamatkan diri karena tidak ada kendaraan sama sekali, meskipun ada, kak Pande belum bisa mengendarai sepeda motor. Sekian menit berlalu, namun suara itu tak kunjung hilang, malah suaranya semakin jelas dan tentunya semakin banyak. Tubuh mereka gemetar, keringat dingin membasahi tubuhnya, bahkan hawa dingin yang tadi mereka rasakan berubah menjadi panas dan gerah. Kak Pande mengira kalau dirinya hanya berhalusinasi dengan suara-suara itu, lalu dia bertanya kepada kak Utami dan dia menjawab kalau dia juga mendengarnya, berarti hal itu memang nyata dan bukan ilusi. Detak jantung mereka sudah tidak beraturan, bahkan telinga mereka sampai panas karena terlalu lama bersembunyi di bawah selimut, mereka sama sekali tidak berniat untuk melihat keadaan sekitar, apalagi kamar mereka terdiri dari beberapa jendela yang tidak dipasangi tirai.
Di tengah ketakutan yang menyelimuti mereka, sayup-sayup terdengar seperti suara sirine ambulance yang semakin dekat dan semakin jelas, bahkan mereka merasa kalau suara itu seperti berputar-putar mengitari rumah, belum lagi atap rumah kami seperti ada yang mencakar sehingga menimbulkan suara khas karena terbuat dari seng. Kak Pande mengira jika ada kebakaran atau ada pasien gawat darurat, karena kebetulan kerabat kami ada yang sedang hamil tua, ia berdoa semoga saja itu bukan mobil jenazah.
Kurang lebih setengah jam, perlahan suara-suara aneh tadi berangsur menghilang, hanya terdengar suara hembusan angin yang sudah tenang dan suara jangkrik di area rumah. Kak Pande pun mulai tenang dan mencoba untuk benar-benar memberanikan diri untuk tidur.
Keesokan paginya, sesampainya kak Pande di sekolah, ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi malam kepada salah satu teman sekelasnya. Temannya itu pun bingung sekaligus heran setelah mendengar cerita kak Pande, karena ia mengatakan kalau tadi malam tidak ada mati lampu, bahkan dia menceritakan kalau dirinya sampai bisa begadang tengah malam karena menonton sinetron favoritnya. Dia juga mengatakan kalau tidak mendengar suara sirine ambulance, apalagi kebetulan letak rumahnya itu di pinggir jalan raya. Ia menatap tak percaya kepada kak Pande, lalu ia memutuskan untuk bertanya ke teman-temannya yang rumahnya sama-sama di dekat jalan raya, namun ternyata jawaban yang diperoleh adalah sama, mereka mengatakan kalau malam tadi tidak ada peristiwa yang mengejutkan atau bisa dikatakan kalau pada malam itu sama seperti malam sebelumnya.
Kak Pande kembali mengingat kejadian tadi malam, seketika bulu kuduknya langsung berdiri, ia masih bingung, apakah kejadian itu adalah ke isengan makhluk berbeda alam yang mengendalikan pikirannya? Namun ia bersyukur karena ia dan kak Utami dalam keadaan baik-baik saja.
---TAMAT---