Seorang Jendral yang bernama Jendral Salman, hidup di abad 19 dia seorang pemimpin dan banyak orang yang mengikutinya.
Saat itu Jendral dan rakyatnya sangat terhimpit karena adanya perang yang terus terjadi dan ada beberapa rakyatnya yang mati karena ikut berperang.
Jendral yang melihat keadaaan rakyatnya mengambil keputusan untuk segera mengungsi ketempat yang lebih aman. Jendral Salman membawa rakyatnya pergi kearah padang (padang pasir)
Jendral dan rakyatnya membuat tenda-tenda untuk tempat mereka tinggal dan tenda khusus untuk makanan. Jendral menugaskan beberapa prajuritnya untuk menjaga setiap tenda
Waktu sebulan sudah berlalu, tempat yang ditinggali Jendral Salman dan rakyatnya aman tidak terjadi apa-apa.
Dan suatu saat di malam hari ketika semua orang tidur termasuk penjaga (prajurit) tenda, ada seseorang yang menyelinap masuk ke tenda makanan untuk mengambil makanan, dan sesudah itu dia keluar dan kembali ke tempatnya.
Besok harinya ketika para penjaga terbangun untuk mengambil makanan yang harus dibagikan kepada rakyat, penjaga tersebut menghitung makanan dan merasa aneh dengan kekurangan makanan tersebut
"Makanan kok berkurang, siapa yang mengambilnya?" tanya penjaga yang satu kepada penjaga yang lain
"Wah saya tidak tahu, lebih baik saja kita beritahu kepada jendral" jawab penjaga itu
Akhirnya berita kehilangan makanan itu di beritahukan kepada Jendral
"Jendral, mohon saya melaporkan apa yang terjadi tadi malam" kata Penjaga yang menjaga tenda makanan
"Ada apa?" Tanya Jendral
"Kita kehilangan makanan, padahal kita kekurangan makanan" lapor penjaga
"Siapa yang mengambilnya?" tanya Jendral
"Maafkan kami Jendral, kami Tidak Tahu" jawab penjaga
Ketika Jendral melihat mata kedua orang penjaga dan tidak terlihat kebohongan pada mereka. Dan akhirnya Jendral mengeluarkan suatu perintah yaitu:
"SIAPA YANG KEDAPATAN MENCURI MAKANAN AKAN DICAMBUK 50 KALI" ucap Jendral
"Tolong sampai kan kepada Rakyat" lanjut Jendral.
ketika mendengarkan keputusan Jendral kedua penjaga (Prajurit) itu mengumumkan kepada rakyat keputusan Jendral.
Selama beberapa hari tidak terjadi pencurian makanan.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengendap-endap di sekitaran tenda makanan melihat bahwa penjaga sedang tertidur.
Orang itu berencana mengambil makanan, dan tiba-tiba kepalanya ditutup pakai karung, karna penjaga hanya pura-pura tidur. Kemudian penjaga menahannya sampai pagi hari.
Laporan penangkapan pencuri telah sampai kepada Jendral.
Jendral menyuruh untuk membawa Pencuri ke tengah lapangan untuk melakukan eksekusi kepada pencuri.
Akhirnya penjaga membawa pencuri itu ketengah lapangan dengan kepala yang ditutup pakai karung.
Jendral memakai baju kebesarannya masuk ketengah lapangan, setiap orang (rakyat) juga sudah berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan besar.
"Algojo bawa alat cambukan mu kesini dan bawa pencuri itu kemari" titah Jendral
Algojo datang lengkap dengan alat cambuknya, penjaga menyeret pencuri itu ke lapangan.
Ketika hendak mencambuk pencuri itu
Sang Jendral berkata "Buka lah dahulu karung itu, aku ingin melihat wajah pencuri itu"
Penjaga itu akhirnya melepaskan karung dan ternyata orang yang mencuri itu adalah.
"IBU... " Teriak Jendral
"Apa yang ibu sudah lakukan?" kata Jendral yang tak menyangka bahwa ibunya lah yang menjadi pencuri..
Tetapi ada beberapa orang berteriak
" Hey Jendral undang-undang telah Engkau keluarkan dan itu tidak bisa dihentikan, demi KEADILAN, tetap jalankan hukum cambuk itu"
Tetapi ada beberapa orang juga mengatakan
"Hey Jendral, itu ibumu yang melahirkan engkau dimana rasa KASIHMU sebagai seorang anak, masakan engkau harus mencambuk ibumu."
Rakyat berteriak-teriak menyatakan pendapat mereka..
Jenderal menjadi dilema karna keputusan yang dia keluarkan.
"Aku telah mengeluarkan keputusan dan aku harus adil, tapi aku juga mengasihi ibuku" Batin Jendral
Akhirnya.....
Jendral dengan suara yang kuat mengatakan kepada rakyat.
"Benar KEADILAN HARUS DITEGAKKAN DAN KASIH KEPADA IBUKU JUGA HARUS KULAKUKAN"
Jendral membuka baju kebesarannya dan mengangkat ibunya ketempat duduknya dan memberikan baju kebesarannya kepada Ibunya, dan Jendral menggantikan posisi ibunya untuk di hukum cambuk.
"Sekarang cambuk lah aku, menggantikan ibuku" perintah Jendral
"Tapi Jendral...... " kata Algojo yang tidak mau.
"Cepat lah" perintahnya lagi..
Banyak rakyat yang menyaksikan Jendral mereka di cambuk sampai 50 kali dan akhirnya Jendral kehabisan nafas menahan rasa sakit akibat cambukan dan lalu mati.
Banyak rakyat yang menangisi kepergian Jendral, termasuk ibunya.
Demikianlah Kasih dan Keadilan dapat bersatu karena adanya PENGORBANAN