Di sudut lapangan basket sekolah dibalik pohon beringin yang menghalangi pandangan dari lapangan. Tiga gadis sedang mengintip sang idola, siapa lagi kalau bukan Bagas Armada.
"Aduh ganteng banget ya". Naura jinjit dengan berpegangan pada bahu Risa. Memaksimalkan jangkauan jarak pandang melihat Bagas.
"Sakit tahu bahu Ku makanya duduk dong di kursi penonton masa sembunyi gini". Risa menyingkirkan tangan Naura dengan kesal.
"Tau nih Naura, mana gatel lagi di gigit nyamuk". Merry menggaruk kedua betisnya dengan wajah manyun.
"Lihat saja di sana ada Lusi. Aku gak pede". Naura menunjuk kearah Lusi and ganknya yang duduk di kursi penonton dengan bibirnya. Sepertinya dia lupa guna jari telunjuk untuk menunjukkan sesuatu.
"Sudah tahu saingannya Lusi masih saja ngebet sama Bagas". Merri duduk di rerumputan menyandarkan diri di pohon beringin yang tumbuh rindang menaungi pinggir lapangan basket. Kedua tangannya sibuk mengolesi lotion anti nyamuk ke seluruh tubuh.
"Bagi Aku dong". Risa ikutan duduk di samping Merri. Tinggal Naura yang masih setia dari balik pohon memandang Bagas.
Bagas Armada siswa populer SMA 12. Hampir semua siswi berharap menjadi kekasih Bagas. Sang kapten basket sekaligus juara Olimpiade matematika.
Bagas tidak pernah memiliki kekasih. Sikap acuhnya semakin membuat para siswi di sekolah menggila. Termasuk si cantik jelita Lusi. Tak heran jam ekstrakurikuler basket banyak di datangi para siswi untuk melihat Bagas dan teamnya latihan.
Hari ini saja penonton lebih sedikit karena cuaca sedikit mendung walapun lapangan lebih sepi Naura masih belum berani melihat Bagas latihan dari kursi penonton. Dia selalu grogi berhadapan dengan Bagas bahkan hanya melihat dari jauh
"Tapi Bagas emang ganteng banget ya kalau dia mau sama Aku gak bakal nolak". Merri terkekeh sebelum kepalanya di jitak Naura.
"Canda, Nau". Merri mengelus kepalanya.
"Cari gebetan laen, Dasar". Naura kembali ke posisi awal, setengah wajahnya ditutupi akar gantung dari beringin. Matanya tak lepas dari Bagas yang masih bermain basket bersama teamnya.
"Eh kok tiba-tiba wangi dan aromanya menyakitkan hidung Ku. Apa dari lotion ini ya? BPOM gak sih?". Risa memeriksa botol lotion sambil membolak-balikkan mencari kode BPOM. Dia mengangkat botol di atas kepalanya agar lebih jelas.
"Huaaaaaaahhhhhhhhh". Risa menjerit sekuat tenaga, refleks Merri menutup mulut Risa dengan kedua tangannya.
"Apaan sih, Ris. Mau kasih tahu satu lapangan kita ngintip disini". Naura berkacak pinggang dan mendelik.
" Tau nih Risa". Merri melepaskan kedua tangan setelah yakin Risa bisa tenang. Wajah Risa tampak pias. Dia segera mengalihkan pandangan dari atas beringin lalu berdiri di samping Naura.
"Lain kali bawa teropong deh buat kalian berdua. Aku mau santai, eh aduh sakit.. sakit". Merri setengah berteriak sambil lompat panik dari posisinya. Dia merasakan rasa sakit gigitan binatang di betisnya. Naura segera menarik Merri kembali ke balik pohon tempat bersembunyi.
"Ealaah kalian berdua bisa diam gak sih?". Kali Ini Naura melotot ke arah kedua temannya yang mengkeret.
"Naura.. eehh Aku tadi lihat sesuatu diatas". Risa berkata lirih.
"Betis mulus Ku lebam dan ada bekas gigitan nih". Merri mengangkat kakinya ke arah Naura dan Risa. Dia mengabaikan perkataan Risa.
"Itu pasti efek dari lotion palsu ini". Naura melirik acuh, dia tampak kesal daripada perduli dengan keadaan temannya.
Naura lalu fokus kembali ke arah lapangan. Dia sedang mempertimbangkan untuk duduk di bangku penonton atau hanya berdiam diri di bawah beringin, tiba-tiba Naura merasakan ada jari-jari kasar membelai tengkuknya. Dia menoleh ke arah Risa dan Merri tapi kedua temannya tidak ada ditempat.
Gadis berambut panjang lurus hampir menyentuh pinggang ini merasakan tubuhnya mematung tak dapat digerakkan walaupun angin bertiup tidak kencang, rambutnya berkibar ke segala arah.
Jari- jari yang terasa dingin tersebut mulai mencengkram tengkuknya perlahan. Naura melirik ke arah lehernya dari belakang tampak jari panjang serupa tulang berbalut kulit menghitam membelai pipi Naura cengkraman di tengkuk beralih ke arah pipi Naura. Kuku panjang hitam menggores perlahan pipi mulus Naura. Meneteskan darah segar ke arah tubuh Naura. Gadis itu memejam mata sambil merapalkan semua doa yang dihapalnya.
Plaaaaaaaaakkkkkk. Naura merasakan daerah wajahnya sangat sakit dia merasakan hantaman keras di wajahnya. Gadis itu terduduk sambil memegang kepala.
"Naura.. Naura kamu tidak apa-apa?". Suara Risa terdengar khawatir.
"Bolanya kok bisa nyasar kemari". Suara Merri kedengaran marah seiring langkah kaki berlari menghampiri mereka.
"Maaf.. maaf ini tidak disengaja. Aku juga gak tahu kenapa bolanya bisa nyasar kesini. Apakah kamu baik-baik saja?". Bagas duduk bersimpuh mensejajarkan Naura yang masih berusaha memulihkan kesadarannya.
"Kenapa kalian ada di bawah pohon beringin?". Lusi bertanya heran.
Naura tidak menjawab. Dia tiba-tiba berdiri dan menyeret kedua temannya berlalu dari hadapan Bagas melupakan tujuan utamanya bertemu Bagas dengan kondisi takut ditambah rasa sakit serta wajahnya yang tampak kacau. Naura memilih kabur dari hadapan Bagas.
*************
"Ada pesan dari Naura dia masuk hari ini. Eh kemarin beneran lho Aku melihat bayangan hitam di atas dahan pohon beringin. Iihh".
"Iya berarti benar rumor sudut lapangan itu angker, Aku pikir di daerah gudang karena disitu gelap. Taunya dibawah beringin. Kaki pun baru sembuh nih dari lebam". Merri memamerkan betisnya.
Pandangan kedua gadis itu beralih ke arah pintu ketika melihat Naura. Keduanya tampak bersemangat. Naura membanting kan diri di kursi. Dua hari dia harus memulihkan diri dari shock dan rasa sakit karena cakaran serta terkena lemparan bola.
"Nau, kamu tahu gak dua hari ini Bagas bolak balik menanyakan teman kita yang satu lagi. Itu pasti kamu, dia khawatir sama keadaan Kamu kan kita berdua baik-baik saja".
"Eh wajah mu kena bola kenapa seperti bekas cakar?". Merri bertanya heran tapi diabaikan Naura.
"Serius?". Naura membulatkan kedua matanya. Ekspresi bahagia tampak di wajahnya. Tak perduli makhluk apakah itu atau kena lemparan bola yang penting bisa mengambil perhatian Bagas.
"Panjang umur". Risa berbisik dan menunjukkan dengan dagu arah pintu masuk.
"Kamu tidak apa-apa?". Bagas berdiri menatap Naura lalu Risa dan Merri.
"Tidak Bagas cuma luka dikit". Naura tersenyum malu-malu.
"Eh teman kalian satu lagi mana?". Bagas tidak merespon jawaban Naura.
"Haah, teman yang mana?".
"Itu yang rambut panjang dan bermata coklat, kulitnya putih. Aku belum pernah melihat dia, cantik sekali. Dia berada dibelakang mu saat itu". Bagas menunjuk ke arah Naura.
"Kami.. Kami cuma bertiga". Suara Merri bergetar diiyakan dengan anggukan Risa dan Naura.
"Tidak kalian berempat, dia menggunakan dress putih. Siapa dia?". Bagas bertanya setengah menuntut.
"Huaaaahhh kami tidak tahu siapa dia".. Merri, Naura dan Risa berteriak histeris.
"Siapa dia?".
**
Disudut kelas sesosok makhluk kasat mata memandang Bagas. "Itu Aku, Gas kamu jadi manusia ganteng amat sampai Aku ikutan naksir dan berdandan secantik mungkin demi kamu lho hihiiiiii".
_End