"Sebelum kita pulang, Ibu mau mengingatkan bahwa mulai besok bagi yang terpilih untuk mengikuti lomba antar sekolah minggu depan, wajib membawa bekal makan siang sekaligus baju ganti. Jelas ya?" ujar Bu Mia mengingatkan anak didiknya sesaat sebelum pulang sekolah.
"Baik Bu" sahut para siswa kelas satu sekolah menengah itu menyahut dengan kompak.
Setelah semuanya berdoa lalu mereka mulai beranjak dari kursi dan keluar kelas dengan tertib.
Alika, salah satu siswi yang terpilih mengikuti lomba antar sekolah itu. Dia bersama lima rekannya akan bertanding demi mengharumkan nama sekolah mereka. Alika begitu bersemangat menyongsong kegiatan lomba tersebut.
Dia berjalan menuju gerbang sekolah untuk melihat apakah ibunya sudah datang menjemputnya, dan ternyata sudah.
Ibunya sedang asyik berbincang dengan sesama wali murid yang juga sedang menunggu anaknya keluar kelas.
"Bu, yuk pulang?" ajak Alika pada Ibunya.
"Eh, sudah keluar kamu Ka? Ibu sampe ngga tau gara-gara keasikan ngobrol" sahut Bu Kanya, ibunya Alika.
"Ibu ngobrolnya seru banget sampe ngga liat anaknya nongol" protes Alika seraya naik ke punggung motor, membonceng di belakang kemudi ibunya.
Ibunya hanya tergelak lirih, lalu mulai menjalankan motor untuk pulang.
"Bu, mulai besok aku pulangnya sore soalnya mau latihan buat lomba. Kan tinggal seminggu lagi waktunya" ujar Alika dalam perjalanan pulang.
"Oh, emang sampai jam berapa?" tanya Bu Kanya.
"Belum tau juga sih Bu, tapi yang pasti aku harus bawa bekal makan siang sama baju ganti tiap hari"
"Ya udah, yang penting kamu jaga kesehatan dan hati-hati ya Ka?" pesan Bu Kanya.
"Pasti dong, Bu" sahut Alika ceria.
***
Esok hari, seperti biasa Alika diantar ibunya pergi ke sekolah karena jarak tempuh dari rumahnya terbilang cukup jauh.
"Ka, kamu nanti nunggu Ibu di dalam aja ya? soalnya kan kamu sama anak-anak yang ikut lomba pulangnya sore, sekitar sekolah udah sepi" ujar Bu Kanya mewanti-wanti Alika.
"Iya Bu. Nanti aku kirim pesan ke Ibu kok kalo udah selesai latihannya" sahut Alika sembari mencium punggung tangan ibunya, kemudian ia bergegas masuk ke dalam halaman sekolahnya.
Jam pulang sekolah pun tiba, berarti sudah waktunya Alika dan teman-temannya bersiap untuk latihan.
Alika, Tari, Septa, Maya, Ochie, dan Reggie bersama-sama menuju toilet untuk mengganti baju. Seperti kebiasaan anak seusianya, mereka berjalan bersama sembari bercanda ria dan tertawa.
Namun saat mereka masih beberapa meter lagi menuju toilet, Alika melihat seorang gadis muda sebaya dirinya melintas dan masuk ke dalam toilet.
Alika terdiam ketika yang lain masih bersenda gurau dan tertawa. Dia mulai berpikir, "siapa gadis muda itu?" . Alika melihat gadis itu memakai baju warna biru muda, berambut panjang sebahu, dan memakai bawahan rok warna hitam.
"Eh Ka, kok diem aja sih? awas kesambet lho! Ni sekolah udah sepi, cuma ada kita berenam sama guru-guru. Itu juga guru-guru adanya di kantor" ujar Septa mengagetkan Alika yang tengah terdiam.
Alika gelagapan, dia hanya tersenyum menanggapi omongan Septa. Sejurus kemudian mereka berenam sampai di toilet khusus siswi. Ada tiga bilik di dalam satu area toilet itu.
"Kita ganti-gantian aja deh masuknya" ujar Reggie.
"Eh, ntar dulu! Barangkali di salah satu bilik lagi ada orangnya, jangan asal masuk aja" sergah Alika serius.
"Orang?? Siapa Ka? Orang anak-anak lain udah pada pulang semua. Toilet khusus guru kan ada sendiri" timpal Ochie keheranan.
Alika tak menyahut, dia justru melangkah mendekati pintu-pintu bilik toilet yang tertutup itu satu per satu. Alika mendekatkan telinganya ke pintu bilik, seperti sedang coba mencari dengar sesuatu.
"Ngapain sih Ka?? Aneh deh! Udah yuk ganti baju? ntar dimarahin pelatih lho!" tukas Ochie sembari membuka pintu bilik ketiga, lalu disusul Maya di bilik kedua, dan Reggie di bilik pertama.
Aneh, mereka semua masuk tanpa ada yang melihat seseorang di dalam bilik masing-masing. "Lalu, kemana gadis berbaju biru tadi?" , pikir Alika heran. Sedangkan jelas-jelas Alika melihatnya berjalan masuk ke dalam area toilet itu.
Kejadian janggal itu masih tetap menagih jawab di benak Alika namun dia berusaha tak peduli. Setelah dia berganti baju untuk mulai latihan, dia bergabung bersama teman-teman dan pelatihnya.
Latihan baru saja selesai tepat pukul 15.30. Sore itu awan mendung menggelayut manja di bahu langit, pertanda suasana akan menjadi syahdu dengan turunnya hujan.
Alika dan teman-temannya bergegas membereskan perlengkapan masing-masing. Maya, Reggie, Septa dan Ochie beruntung karna sudah dijemput oleh ayah atau ibunya. Tinggal Alika dan Tari yang masih menunggu ibunya menjemput.
Pesan sudah dia kirimkan pada ibunya, tetapi ibunya menjawab ban motornya bocor dan sedang di bengkel tetapi di area dekat rumah Alika sudah turun hujan lebat disertai angin kencang. Ibunya terpaksa menunda untuk menjemput Alika sembari menunggu ban motornya beres.
Tari pun tak lama sudah dijemput oleh papanya. Alika termangu sendiri di teras depan kelas. Rintik hujan mulai turun dengan lebat disertai angin, menambah kenelangsaan Alika yang sendirian.
Alika berpindah tempat karena tubuhnya terkena hempasan air hujan yang terbawa angin. Dia kembali terdiam sembari memandangi hujan yang seakan tumpah dari langit.
Dalam diamnya, Alika baru sadar kalau dia sedang duduk di depan ruang serbaguna yang tengah direnovasi dan daun pintunya sedang tidak dipasang.
Dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang serbaguna itu karena mulai merasa kedinginan jika terus berada di teras.
Alika kembali mengirimkan pesan pada ibunya agar segera menjemputnya karena dia sudah merasa tidak nyaman dan lelah.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia melihat sebuah objek dari ekor matanya. Alika pun menoleh ke arah objek tersebut, dan dia terkejut!
Objek yang dia tangkap di sudut matanya ternyata gadis berbaju biru yang tadi dia lihat. Alika terhenyak, dia menatap gadis yang sedang duduk di sudut ruangan itu dengan seksama.
Ada rasa penasaran bercampur ragu di hati Alika namun fokusnya seperti dipaksa untuk terus memperhatikan sosok gadis itu.
Entah sadar atau tidak, tapi tiba-tiba kaki Alika perlahan mulai melangkah mendekati gadis itu. Langkah demi langkah, sangat perlahan.
Setelah berjarak sekitar setengah meter dari tempat gadis itu duduk, langkah Alika terhenti. Kakinya seperti tercekat untuk terus mendekat.
Alika terdiam sejenak, dia pandangi gadis itu yang tetap pada posisinya tanpa bergerak sedikitpun.
Dengan berbekal rasa penasaran, Alika memberanikan diri untuk menyapa gadis yang tak dikenalnya itu.
"Hai, ka-kamu ... siapa?" tanya Alika agak ragu.
Suasana hening, tak ada sahutan dan tak ada tanggapan. Yang terdengar hanya suara derasnya hujan di luar. Alika merasa tingkat keberaniannya mulai menurun, nyalinya menciut.
Ingin rasanya dia cepat keluar dari ruangan itu namun kakinya seperti terpatri di situ. Keringat dingin mulai mengucur, nafasnya memburu. Ingin berteriak pun seperti tak ada tenaga lagi, namun Alika berusaha agar tak hilang kesadaran.
Saat dia sudah merasa tak sanggup lagi, kakinya pun mulai lemas tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara di belakangnya.
"Alika, kamu di sini ternyata? Ibu kamu sudah njemput lho itu di halaman, dari tadi nyariin kamu ke kelas tapi ngga ada" ujar Bu Mia yang berdiri di depan ruangan itu.
Alika tersentak kaget, seakan dunianya telah kembali. Kakinya yang tadi terasa tak bertulang kemudian bisa kembali merasa berpijak di bumi.
"Oh, i-iya Bu, saya kedinginan tadi di luar terus jadi saya ke sini" sahut Alika kikuk.
"Ya sudah, temui ibu kamu ya? Kasian sudah dari tadi nyari kamu sampe ke halaman belakang sekolah. Tadi ibu kamu ke kantor guru tapi sudah sepi, saya juga lagi ke toilet dan baru ketemu ibu kamu barusan" terang Bu Mia.
"Baik, saya pulang ya Bu?" sahut Alika yang tampak tergesa-gesa.
Dia berjalan cepat menuju akses keluar ruang itu, namun sebelum benar-benar meninggalkan sekolah dia menoleh ke sudut ruangan untuk memastikan apa yang dia lihat tadi.
Alika kembali terkejut karena gadis itu sudah menghilang!! Tak tampak sedikitpun sosoknya, bahkan bayangannya pun tidak ada.
Sontak dia berlari menghampiri ibunya yang sudah tampak menunggunya dengan mengenakan jas hujan.
"Eh, nanti kamu di situ aja Ka!" seru Bu Kanya menghentikan langkah Alika.
Bu Kanya mendekat sambil.membawakannya jas hujan. Setelah dipakai, mereka pun bergegas pulang ke rumah.
"Kamu kenapa Ka? kok tadi lari kayak ketakutan gitu? kamu dimarahi Bu Mia?" tanya Bu Kanya.
"Euh? Ngga kok Bu, Alika capek, bete dari tadi nungguin ibu sendirian di sekolah" elak Alika berusaha menutupi fakta.
"Oh, iya. Maaf ya, Ibu tadi ngga berani nerjang hujan yang segitu derasnya, apalagi campur angin kencang juga tadi. Ini aja udah reda anginnya baru Ibu nekat jemput kamu, kepikiran sama kamu Ka" terang Bu Kanya.
"Ngga papa Bu, yang penting aku udah ketemu Ibu udah seneng banget" sahut Alika sambil memeluk pinggang ibunya dari belakang.
Bu Kanya agak heran, namun dia tepis kan saja keheranannya itu. Dia tersenyum karena merasakan rasa sayang dari putri tunggalnya itu.
Motor melaju ditemani hujan yang tak kunjung reda. Alika bersyukur bisa kembali pulang bersama ibunya, walaupun kejadian tadi masih lekat di benaknya.
Namun dia memutuskan hanya akan menyimpan cerita itu, tanpa bercerita dan tanpa rasa penasaran ingin mencari tahu. Biarlah itu menjadi bagian pengalaman hidupnya dan menjadi rahasia..
---------------------------------- S E K I A N ----------------------------------