Akan kuceritakan kejadian mengerikan yang pernah kualami pada tanggal 14 Februari atau lebih tepatnya hari Valentine.
Namaku Ahra, panggil saja begitu. Aku punya seorang kekasih, dia baik dan periang. Itu dulu, sebelum lelaki itu membunuhnya. Lelaki egois yang ingin memilikiku seutuhnya.
-13 Februari-
Malam itu, dia dulu datang ke rumahku saat hujan turun. Dia bilang, dia merindukanku dan dia ingin aku melihat untuk terakhir kalinya. Aku merasa aneh dengan perkataannya itu.
"Aku senang bisa melihatmu, Ahra," ucapnya dengan senyuman di wajahnya, tapi entah kenapa senyuman itu berbeda.
Aku mencoba tersenyum meski kebingungan, "Aku juga senang, Amar." Amar nama kekasihku, tapi seketika aku tak enak hati.
-14 Februari-
Dia menelponku saat tengah malam. Aku terbangun karena nada dering ponselku berbunyi.
[Ahra ....]
Aku mendengar suaranya yang parau.
"Iya?"
[Selamat hari valentine, Aku mencintaimu.]
"Maksudmu apa Amar?"
[Aku benar-benar mencintaimu.]
"Iya, Aku tahu. Tapi ...."
Dia menangis? Kenapa? Ini aneh, padahal sepanjang hari kita berdua pergi bersama. Tapi kenapa sekarang dia mengatakan semua itu?
[Maaf]
Ucapannya terdengar lirih. Saat aku akan menanyakan apa maksudnya sambungan ponsel terputus. Ada apa ini? Aku menelpon balik padanya, tak di angkat. Begitu terus tanpa henti.
Tak lama, ada panggilan masuk, 'Maja'. Mau apa laki-laki itu menelpon?
Sebelum Aku memakinya, dapat kudengar suara tawa yang mengerikan dari sana. Ada apa dengannya? Dia benar-benar gila.
[Ahra bagaimana kabarmu?]
Aku kesal mendengar suaranya yang menyebalkan.
"Bukan urusanmu!"
Aku sangat muak dengannya, lelaki brengsek.
[Kabarku baik, tapi ....]
Aku tak menanyakan kabarmu, dasar brengsek.
[Pacarmu tidak.]
Seketika tubuhku kaku, apa maksudnya?
"Apa maksudmu?"
Aku sedikit takut dengan perkataannya, jangan bilang ....
[Kau mau aku menguburnya dimana?]
Dasar gila, jadi dugaanku benar. Dia melakukannya lagi, ini tidak mungkin, tanpa sadar air mataku terjatuh.
Dia pernah melakukan hal yang sama pada pacarku dulu, Dani. Maja adalah pacar pertamaku saat SMA, alasanku putus dengannya karena dia gila.
Dia memang laki-laki brengsek. Gara-gara dia, setiap tahunnya aku harus mencari laki-laki baru. Sial, ke mana lagi aku harus mencari pacar baru?