Satu! hanya satu kata.
Cukup untuk membunuh hati manusia.
***
"Eh Chika, kamu gendutan ya sekarang!" tegur Rani dengan kekehnya.
"Iya nih, aku lagi datang bulan soalnya, makanya nafsu makanku tinggi," jawabku berusaha tenang, dengan dihiasi senyum kecut.
"Pffft... pantesan!" Rani menepuk bahuku pelan.
"Ya sudah aku mau ke toilet dulu," ucapku sembari beranjak pergi meninggalkan Rani.
Aku mendengus kencang menatap pantulan di cermin. Benar seperti yang dikatakan Rani. Aku gendut! bagaimana ini? padahal besok ada jadwal tampil di catwalk bersama designer ternama Ivan.
Ini aneh, padahal dulu sebanyak apapun asupan makanku. Tubuh ini tetap kurus saja, tapi kenapa sekarang...
Aku rasa semuanya gara-gara Zoya. Dia sahabatku yang akhir-akhir ini sering mengajak makan bersama.
Drrt... Drrt...
Ponselku tiba-tiba bergetar, dan seperti yang diduga. Itu adalah pesan dari Zoya. Gadis berperawakan bak kuda nil tersebut kembali mengajakku makan malam.
'Oke, sampai ketemu nanti malam.' Begitulah aku membalas pesannya. Aku berjanji malam ini adalah yang terakhir.
***
"Mas aku mau pesan, pizza, burger, terus es krimnya juga!" titah Zoya pada salah satu pelayan.
"Ya, banyak amat sih pesannya!" kritikku dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa Ka? bukankah kamu sudah biasa lihat aku begini, kok tiba-tiba ditegur! kamu bilang yang penting aku bisa bahagia, iyakan?"
"Tapi kalau berlebihan nggak bagus juga kan? berat badanmu sudah hampir 100 kg loh!"
"Belum kok! baru 89 kg!" Zoya menggertakkan giginya.
"Terserah kamu deh..." aku ciut seketika. Gadis itu memang selalu tampak menyeramkan bila marah.
"Ngomong-ngomong, kamu juga mulai agak gendutan tuh! bukannya kamu yang harusnya khawatir? kamu kan model Ka!" ucap Zoya yang sontak membuat hatiku terasa sesak. Diri ini benar-benar benci, kala seseorang melayangkan kata 'gendut' kepadaku.
Brak!
"Ini kan gara-gara kamu!" pekikku sembari memukul meja dengan keras. Zoya yang melihat, langsung membulatkan matanya.
"Ch-chi-chika, aku tidak bermaksud..." tanpa pikir panjang, aku pun segera melangkahkan kaki untuk meninggalkan Zoya.
"Aaaaarkkhh!!!" aku berteriak kesal di depan cermin toilet umum. Bahkan diri ini tidak mempedulikan lagi orang-orang yang lalu lalang di belakang. Terserah mereka mau menatapku sinis atau apa, yang jelas aku ingin diet mulai sekarang.
Keesokan harinya, di sebuah ruang ganti nan mewah. Aku hanya bisa duduk mematung. Kala itu Dena sama sekali tak hirau. Wanita tersebut bilang, saat ini keadaanku sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk bisa berjalan di catwalk.
Sudah puluhan kali aku memohon padanya. Namun dia tetap menolak. Dena memang selalu menjadi orang yang kejam jika terkait masalah pekerjaan. Bahkan pernah ada seorang model yang langsung dipecat, gara-gara tidak mendengarkan arahannya.
Dena adalah salah satu manajer dari perusahaan tempatku bekerja. Hari ini ada lima model yang dipilih untuk tampil mengenakan baju rancangan designer Ivan. Termasuk diriku.
"Dena kumohon, ijinkan aku tampil juga..." sekali lagi aku mencoba.
"Chika! sudah berapa kali ku-bilang, kamu tidak bisa tampil hari ini. Kamu tidak bercermin ya akhir-akhir ini?" Dena menarikku ke depan cermin, dia kembali berkata, "Tuh lihat! pipimu tembem sekali, terus perut agak mulai buncit lagi! kamu nggak jaga asupan makan? hah? kamu itu seorang model, kenapa asal-asalan!"
Setelah puas mengkritik beberapa bagian tubuhmu, wanita itu langsung melingus pergi. Sedangkan aku hanya kembali mematung menatap pantulan diriku di cermin.
"Sudah ku-bilang dari kemarin kan, kamu itu gendutan, lebih baik diet mulai sekarang deh Ka," ujar Rina yang sedikit terkekeh.
Nafasku mulai naik turun, rasa kesal dan amarah kembali memenuhi hati ini. Aku tidak kesal pada Dena atau Rani, tetapi pada diriku sendiri. Pokoknya mulai besok aku tidak akan membiarkan sedikit pun makanan masuk ke dalam perut!
***
Dena sangat senang dengan keputusanku untuk diet. Bahkan wanita itu membiarkanku libur beberapa hari. Toh dia bilang dengan penampilanku yang agak gendutan sekarang, tidak akan bagus jika memaksakan diri berjalan di catwalk.
Hari pertama, aku sengaja menahan diri untuk makan. Hanya bermodalkan air putih untuk melewati tiap detiknya. Bahkan aku sengaja membuang semua makanan yang ada di rumah, agar tidak mudah tergoda.
Hari kedua, rasa lapar mulai menghantui. Mataku bahkan mulai berkunang-kunang, akibat kurangnya asupan gizi. Meskipun begitu, aku tidak ingin menyerah.
Hari ketiga, tubuh ini terasa sangat lemah. Sumpah! aku merasakan lapar yang teramat sangat.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Alhasil aku pun segera menengok siapa yang tengah datang bertamu. Aku berjalan dengan sempoyongan kala itu.
Ceklek!
"Chika! selamat ulang tahun! yeaay! nih aku bawakan kue untukmu! maaf juga ya yang kemaren..." Zoya terlihat memegang kue ulang tahun, dan itu tampak begitu lezat. Akibat rasa lapar yang tak tertahankan, mataku tak hentinya memandang kue yang berbalut cream vanila tersebut.
Entah apa yang merasuki diri ini, hingga membuatku merebut kue dari Zoya dengan beringas. Tanpa pikir panjang, aku pun memakan kue itu langsung dengan tangan.
"Chi-chi-chika... kamu seharusnya memotong kue dengan pisau..." mata Zoya membola. Sebab dia tidak pernah melihatku begini. Sekarang mulut dan tanganku belepotan dengan cream vanila.
"Chika, ayo makan di dalam saja!" Zoya menyeretku kembali ke rumah, gadis itu terlihat khawatir.
***
"Chika apa yang terjadi padamu?" tanya Zoya.
"Aku lapar Ya... banget!" sahutku yang masih memakan kue dan cream dengan beringas.
"Lapar? emang kamu nggak makan?" Zoya seakan tak percaya.
"Sudah tiga hari Ya!"
"Hah? kenapa? gila kamu Ka! aku pesankan makanan karbohidrat ya biar cepat kenyang!" usul Zoya, yang langsung mendapatkan anggukan kepala dariku.
Hari itu aku seolah lupa dengan dietku, dan begitu menikmati makanan yang dipesankan oleh Zoya. Kami makan dengan begitu lahap sampai tidak ada yang tersisa.
"Chika aku pulang sekarang ya!" ujar Zoya sembari merapikan tas selempangnya.
Prang!
Tiba-tiba botol sejenis obat terjatuh dari tasnya. Sontak aku pun mencoba mengambilnya. "Apa ini Ya?" tanyaku seraya mengamati botol itu dengan seksama.
"Oh itu namanya Etil Klorida, Dokter Charli tadi yang menyuruhku membelinya," sahut Zoya santai. Wajar saja, dia adalah seorang perawat.
"Etil Klorida?" aku mengerutkan dahi.
"Itu sejenis obat bius Ka, orang yang disuntikkan pakai itu kulitnya akan mati rasa," jelasnya lagi, aku pun hanya mengangguk pelan. Namun hari itu, karena tergesak-gesak Zoya tidak sengaja meninggalkan Etil Klorida-nya di rumahku.
***
Keesokan harinya, aku begitu dibuat kaget saat melihat tampilan diriku di cermin. Semakin GENDUT! sontak aku benar-benar merasa syok. Padahal hari ini ada jadwal pemotretan. Gila! Dena pasti akan sangat marah!
Aku akhirnya mencoba memberanikan diri untuk pergi ke pometretan. Benar saja, semua orang tampak terkejut dengan penampilanku. Diri ini hanya bisa menundukkan kepala saat melangkah.
"Chika?! itu kau?" Dena membulatkan matanya.
"I-i-iya ini aku..." lirihku.
"Nggak bisa! ini nggak bisa! lebih baik pulang kamu sekarang, aku akan memanggil Rani untuk menggantikanmu!" Dena terlihat sedang mengutak-atik gawainya, yang sontak membuatku segera mencegahnya.
"Dena kumohon... kali ini saja! soalnya sudah satu minggu lebih aku tidak bekerja..."
"Kamu gila ya Chika! kalau memaksakan diri dengan tampilan begitu, mana laku baju-baju designer kita!" Dena mengernyitkan dahinya, lalu langsung membalikkan badan.
"Tunggu Dena! kumohon!" rengekku sembari memegangi lengan Dena.
"Eh! begini ya kamu Chika! oke, mulai hari ini kamu dipecat!!!" pekik Dena seraya menghempaskan tanganku dengan kasar. Alhasil diri ini hanya bisa mematung, karena merasa tidak percaya dengan perlakuannya.
***
Sesampainya di rumah, aku kembali menatap cermin, dan mengamuk. Segala produk kosmetik dan benda-benda di sekitar menjadi korban amarahku. Jengkel sekali rasanya melihat betapa gendut dan jeleknya diri ini sekarang.
"Aaaaaarkkhhhh!!!" aku berteriak histeris sambil mengacak-acak rambut pendekku.
Kala itu mataku tidak sengaja melihat Etil Klorida yang sudah tergeletak di lantai. Aku segera mengambilnya, dan pergi ke kamar mandi. Tanpa pikir panjang aku suntikkan cairan Etil Klorida pada badan ini.
Setelah itu, aku mengedarkan pandangan untuk mencari benda tajam. Hingga akhirnya tampak silet bekas alat cukur di dekat cermin.
Perlahan badanku mulai merasakan reaksi cairan Etil Klorida. Sontak diri ini pun segera mencari bagian tubuh yang dipenuhi lemak.
Pertama-tama bagian paha, aku mengirisnya dengan pelan. Sekarang cairan kental berwarna merah mengalir deras. Karena tidak merasakan sakit, aku semakin menyayatnya dengan brutal. Kulit pahaku tampak menggelambir menjadi beberapa bagian.
Aku memandang pantulan ke cermin dan sedikit lega. Sekarang tampilan kedua pahaku lebih bagus.
Kedua, aku membidik bagian lengan. Kali ini aku menyayatnya dengan beringas, dengan tawa geli yang terasa melegakan.
Set! Set! Set!
Entah sudah berapa kali aku menyayat bagian lengan. Darah juga perlahan menciprat ke wajahku.
"Hahaha! Hahaha!" lucu, lucu sekali rasanya.
Ketiga, sekarang bagian perutku. Siletnya begitu tajam, sampai-sampai aku bisa mengiris kulit perut dengan lancar. Darah perlahan merembes keluar dari bekas sayatan. Namun diri ini tetap bersikeras membuang lemak yang begitu mengganggu!
"CHIKAA!!!" entah sejak kapan Zoya datang, tetapi dia langsung berteriak kala melihatku sedang diet.
"Chika! Apa yang kau lakuakan?!!!" Zoya menatapku dengan penuh ketakutan. Tubuhnya terlihat gemetaran.
Aku tersenyum melihatnya, dan berucap, " Zoya, ayo kita diet!"
~TAMAT~
●Note : LOVE YOURSELF!