Hai namaku Cika, umur 17 tahun. Apa kalian tahu hari Valentine? Hari dimana semua orang mengungkapkan seberapa besar cinta mereka kepada pasangan. Dengan cara memberi bunga, coklat atau makan malam romantis. Tapi semua itu tidak berlaku untukku. Kenapa? Karna di hari kasih sayang ini aku diberi hadiah tak terduga dari pacarku.
Pada malam hari, dua hari sebelum Valentine. Aku datang ke rumah pacarku, rencananya kami akan makan bersama di puncak sambil menikmati pesta kembang api yang biasa diadakan pada malam-malam istimewa seperti ini. Pesta kembang api berlangsung selama lima hari dengan puncaknya pada hari ketiga. Sungguh indah bukan. Tapi semua itu hancur. Mengapa tidak, aku tanpa sengaja memergoki pacarku bemadu kasih dengan gadis lain di atas ranjang. Dan aku menjadikannya secara langsung. Yang lebih menyakitkan lagi ketika aku tahu siapa gadis itu. Dia adalah sahabat baiku.
Aku pulang dengan hati hancur. Rasa sakit yang kurasakan seperti belati mengoyak-ngoyak jantung. Apa salahku selama ini? Kenapa mereka begitu tegah melakukan semua itu padaku? Kenapa?!! Kami sudah menjalankan hubungan ini hampir lima tahun lamanya. Tapi yang kulihat hari ini... Aku hanya... Hanya bisa menangis di kamarku. Ingin rasanya tubuh ini mati saja. Tidak! Kenapa aku harus mati? Yang salahkan mereka. Jika aku mati, ini tidak adil.
Puncak pesta aku sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya perlu mengundang mereka. Di sebuah gedung tua. Aku telah mengikat mangsaku. Mau tahu bagaimana aku mengundang mereka? Itu mudah, aku hanya memberi mereka coklat yang manis berisi obat bius. Tidak lama kemudian mereka bangun.
"Hai pasangan kekasih," sapahku pada mereka yang sudah aku ikat kuat. Keadaan mereka seperti bintang laut.
"Apa yang terjadi?" tanya Sindy dalam keadaan hampir pulih dari pengaruh obat bius.
"Cika apa-apaan ini sayang?" kata Audy ketika melihatku tersenyum padanya.
"Kalian mau tahu?" aku mulai memainkan pisauku. "Kenapa kalian tidak tanyakan pada pisau ini saja," aku mulai membuat goresan tanda cinta di masing-masing pipih mereka. Darah mengalir indah disana menetes sampai baju mereka.
"Aaauuu..........!!! Cika apa yang kau lakukan?!!" teriak Sindy. Sepertinya ia suka karyaku.
"Cika.... Jika seperti ini, aku tidak mengerti Sssttt........"
"Apa kau masih tidak mengerti sayangku?" aku membuka kemeja Audy. Ups... Sulit melepaskannya. Robek saja. Aku membuat sayatan besar untuk merobek lengan kemeja Audy. Tapi sepertinya aku tidak sengaja ikut merobek lengannya. "Maaf-maaf aku terlalu sengaja."
"Aauuu." Audy menahan teriakannya.
"Kenapa di tahan? Teriak saja semaumu tidak ada yang tergagu kok," aku tersenyum manis sambil menepuk pipih Audy. Tidak ah. Tampar saja sekalian! "Aku bosan bermain pisau. Tidak seru," aku berjalan mengitari berbagai alat yang sudah aku beri pita merah dan stiker love. Cantik bukan. "Aku pilih ini saja," aku memilih katana. Aku membuka sarumnya terlihat katana itu mengkilat di bawah sinar lampu.
"Aaah........! Tidak........!! Cika Cika aku minta maaf kalau aku salah," sindy meronta-ronta ketika katana itu aku arahkan pada area V nya.
"Salah....? Em...... Apa salahmu padaku? Bisa kau mengingatkannya," aku menancapkan katana itu pada area V nya sampai tembus. Hebat ia masih hidup. Aku biarkan katana itu disana. Sekarang aku mengambil...... Cutter.
"Cika kau gila!!! Apa kau mau membunuhnya?!!!" maki Audy.
"Berisik!!" teriakku sambil merobek mulut Audy sampai ke telinga. "Dengar ya. Apa kau ingat? Kau sudah melanggar janji kita pada malam dua hari yang lalu. Aku ada di rumahmu loh," aku memainkan cutter ku di dadah Audy membentuk kata LOVE besar. Cantik. Dari raut wajahnya kesakitan masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Aku beralih ke Sindy. "Hai sahabatku, kau masih hidup."
"Cika... Auu....!! Ku mohon Sstt..... Maaf kan aku. Hisk.... Jangan seperti ini Cika," rintih pilu Sindy membuatku semakin bersemangat memberi goresan kecil sesuai kalimatnya.
"Lebih panjang lebih baik. Tapi stop dulu. Sudah tidak ada tempat lagi," sekarang tubuh mereka berdua sudah merah oleh darah. Termasuk baju putih ku juga.
"Hisk..... Hisk......" tangis Sindy bergema di seluruh gedung tua.
"Diam!!" aku mencabut katana tadi secara perlahan. "Berhenti menangis Sindy. Bukankah kau menikmatinya saat itu."
"Cika! Hentikan ini!!!" teriak Audy. Ia masih bisa bicara rupanya.
"Kalian ini banyak maunya ya," aku berjalan menghampiri ember berisi air dingin dan sedikit bumbu. Aku cicip sedikit. "Em... Asin," tanpa aba-aba aku langsung menyiramkannya pada mereka berdua. Mereka menggeliat kesakitan seperti cacing kepanasan. Rintihan dan teriakan mereka mengingatkan ku pada malam itu. Tapi dengan hati yang riang.
"Aaaa......... Cika. Aku........ Akan membalasmu......!!!!!!"
"Hm....." aku menancapkan katana tepat di lehernya membuat ia mati seketika. Wajahku penuh percikan darah. "Lakukan saja di kehidupan selanjutnya," aku melirik ke Audy. "Sayangku jika kau tidak menghiyanatiku, mungkin malam ini akan sangat bahagia untuk kita." aku kembali mengambil pisau. Aku merobek dadanya. Uu.... Terlihat gumpalan merah itu berdetak lemah. "Tidak ada namaku di hatimu. Payah..." aku menancapkan pisau ku secara bertubi-tubi ke jantungnya dan mengakhiri kisah perselingkuhan mereka.
"Em...... Hoam........." aku meregangkan tubuhku. Malam ini terlalu panjang. Udara hangat yang terpancar dari api perselingkuhan tidak cukup mengusir hawa dingin malam ini. Bau khas darah terbakar begitu menyengat di hidungku. Asap tebal mengepul di udara membawah cinta dan kasihku terbang di malam kasih sayang penuh darah.
.
.
.
.
.
.
.
aku harap kalian suka.