Hari ini adalah hari Sabtu. Aku begitu membenci saat hati itu tiba. Kenapa ? Karena di hari Sabtu aku selalu mendapatkan kemalangan.
Aku diputuskan oleh cewekku di hari Sabtu. Satu minggu berikutnya dompetku terjatuh di jalan dan hilang juga di hari Sabtu. Apalagi saat Sabtu malam, jalan penuh dimana-mana. Akses jalan kemanapun terhambat oleh muda-mudi yang sedang kasmaran. Dan masih banyak hal yang menyebalkan bagiku di hari Sabtu. Bagiku hari Sabtu adalah hari kelabu.
Siang ini terasa terik. Aku keluar membeli es teh di seberang rumah untuk mengusir dahaga ku. Aku kembali membawa dua plastik es teh dan duduk di teras melihat ramainya jalan. Ku tatap ke atas, langit menjadi semakin gelap, petir menyambar dan turunlah hujan.
Aku menghabiskan es teh ku dan menyisakan satu plastik es teh. Aku teringat pada jeruk purut yang dibeli Ibu pagi tadi. Pasti rasanya akan segar jika aku tambahkan jeruk purut. Lalu aku ke dapur mengambil jeruk purut, kemudian aku potong-potong dan kubawa kembali ke teras.
Aku mengambil tiga iris jeruk purut, kemudian aku teteskan ke es teh ku, jadilah lemon tea. Lalu aku menghabiskannya, rasanya benar-benar segar.
Beberapa saat kemudian hujan reda, namun jalanan masih licin bekas akibat genangan air hujan yang belum sepenuhnya meresap. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras di jalan raya.
''Tolong..." suara seseorang yang berteriak minta tolong.
Aku berlari untuk melihatnya. Terjadi kecelakaan antara pengendara sepeda motor tunggal dan pengemudi tronton. Korban meninggal di tempat, seorang perempuan yang merupakan pengendara motor yang terlindas oleh tronton dengan kondisi tubuh hancur dan darah mengalir ke jalan raya.
Beberapa saat kemudian polisi turun tangan untuk menanganinya. Ambulan datang setelahnya dan mengangkat jenazah untuk di identifikasi karena korban tidak membawa identitas diri dan warga sekitar tidak ada yang mengenali nya.
"Semuanya bubar..." kata polisi meminta warga yang berkerumun melihat segera pergi, karena menyebabkan kemacetan di jalan. Dan warga pun bubar.
Dua jam kemudian jalanan kembali sepi. Aku melihat sisa darah korban kecelakaan tadi, dan entah kenapa aku seperti mendapat bisikan untuk mengambil potongan jeruk purut yang aku taruh di meja teras.
Aku mengambil satu potong irisan jeruk purut, lalu. iseng aku meneteskan perasan jeruk purut di atas darah itu.
"Aku ingin membuktikan apakah hal itu hanyalah sebuah mitos ataukah rekaan belaka."
Malam hari di rumah, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku kemanapun aku pergi.
"Adrian kenapa kau duduk merapat denganku ?" tanya Kakak ku, Fahmi.
"Aku teringat kejadian kecelakaan siang tadi jadi merinding."
"Ha...ha...ha....dasar kau penakut ! Jangan ganggu aku melihat TV, sana pergi !"
Akupun pergi ke dapur untuk mengambil makan.
trang... trang...trang...
Suara sendok beradu dengan piring di dapur.
Aku menoleh tidak ada orang di dalam. Lalu dengan perasaan takut aku mengambil sendok.
bruk
Suara sendok jatuh ke lantai. Seketika lampu di dapur mati, kemudian menyala lagi. Aku berhasil mengambil sendok dan piring. Kemudian aku mengambil nasi. Aku menelan nasi di piring yang terasa lengket dan amis saat aku memakannya. Lalu aku memuntahkan di piring, nasi itu berwarna merah darah.
"Darah... kenapa nasi bisa berubah menjadi darah... woek..." kataku kemudian muntah.
Aku mengambil air putih dan meminumnya, saat aku menoleh ke belakang ada bayangan seorang wanita berjalan mendekati ku.
"Perih... rasanya perih... kau membuatku kesakitan." kata wanita itu merintih kesakitan yang membuat bulu kuduk ku merinding.
"Aaa.... hantu...!" teriak ku sambil menutup mata dengan kedua tanganku.
Fahmi ke dapur karena mendengar teriakanku.
"Ada apa, kenapa kau berteriak ketakutan ?"
"Aku melihat hantu."
"Hantu apa... dimana ? Ini jam tujuh malam. Tidak ada siapa pun di sini. Kau memang berimajinasi tinggi. Dasar penakut ! Makanya jangan suka lihat film horor kalau kau penakut."
"Jangan pergi, temani aku makan."
"Ogah. Males...aku mau melihat TV lagi." ucap Fahmi kemudian pergi.
Aku melangkahkan kaki keluar dari dapur. Lampu mati lagi.
"Kau menyakiti ku...perih...jeruk purut mu membuatku merasakan pedih." kata sesosok wanita berambut panjang dengan wajah yang rusak berbaju putih di depanku.
Aku berlari keluar dari dapur lalu menuju ruang TV dan duduk di sebelah Fahmi.
"Kenapa ku keringatan ?"
"Aku di kejar hantu. Tolong aku. " kataku memeluk Kakakku dari samping.
"Kau ini apaan sih ? Lepaskan tangan mu !" bentak Fahmi padaku.
Kemudian aku duduk diam tak jauh dari Fahmi dan ikut menonton TV. Beberapa jam kemudian ia ketiduran di kursi.
Aku masuk ke kamarku dengan ragu dan dengan perasaan takut yang menyelimutiku. Aku menyandarkan kepalaku di bantal. Aku memejamkan mata.
Aku buka mataku, gelap. Lampu di kamarku mati. Aku mendengar suara wanita menjerit dan menangis di kamarku.
Aku menutup telingaku. Lampu kembali menyala, dan suara itu hilang.
brak
Suara jendela kamarku yang terbuka sendiri di tengah malam. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Sial. Kenapa pintunya tidak bisa kubuka." kataku kesal.
Jendela di depanku tertutup lagi. Beberapa saat kemudian terbuka lagi. Muncul lagi sesosok wanita dengan berlumuran darah berjalan ke depanku.
"Tolong aku..." kata wanita itu berjalan semakin dekat.
"Maafkan aku... aku tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah jangan ganggu aku." kataku dengan berani.
Sosok wanita itu menghilang. Ia telah pergi.
brak
Suara buku dan tas dari meja terjatuh. Angin bertiup kencang masuk ke kamarku, dingin menyayat tulang. Aku melangkah lagi untuk menutup jendela. Aku berhasil menutupnya kemudian kembali duduk di kasur.
dok dok dok
Suara orang memukul paku. Aku menoleh lagi dengan gemetar. Dan suara bertambah kencang.
Buku yang tadi jatuh, melayang berputar di udara. Aku terus mendapatkan teror sampai pagi.
Suara adzan subuh berkumandang, dan semua teror berhenti.
"Untunglah datang pagi. Teror hantu jeruk purut berakhir. Aku bisa tidur sekarang." kataku kembali merebahkan badan di kasur.
Dalam tidur aku bermimpi, bertemu dengan sosok wanita yang meneror ku tadi. Ia mengejar dan menangkapku, kemudian ia menyeretku dan mengikatku di pohon besar. Ia menyalakan api di bawah pohon untuk membakar ku.