Tepat tiga tahun kepergian Rinjani "Gadis Pemimpi", laki-laki berparas tampan ini masih belum bisa menerima bahwa gadis itu telah pergi ke surga dengan mimpi-mimpi nya. laki-laki itu baru sadar setelah pemeran yang ia asing kan dulu adalah pemeran utama dalam hidupnya yang selalu menciptakan cerita-cerita indah dan sekarang ia mengharapkan gadis itu untuk kembali.
"Kenapa kamu pergi secepat ini, Jan." Ucap Yoga, dengan air mata yang membasahi wajah putihnya.
Kini Yoga berada dikamar Gadis Pemimpi itu, ia menatap lekat isi kamar domininan abu-abu itu, kamar tersebut dipenuhi peta-peta dan lokasi impian yang mungkin sudah direncanakan Rinjani sebelum ajal menjemputnya. Tatapan Yoga terhenti pada buku diary lusuh milik Rinjani, tangan beruratnya terulur meraih buku tersebut.
"Nak Yoga?." Ucap Yani—Ibu Rinjani.
Dengan cepat Yoga menghapus air matanya. "Iya Bu?,"
Yani mengusap punggung Yoga, memberikan ketenangan.
"Ikhlaskan Jani, ibu yakin dia sudah bahagia. Jalanin hidupmu dengan baik, pasti Jani bahagia melihatnya, Nak." Yoga langsung memeluk Yani erat.
ia tak habis pikir pada sosok Yani yang selalu sabar menghadapi cobaan, seharusnya Yani marah terhadap Yoga karena tidak bisa menjaga Jani dengan baik.
"Ya sudah, lanjutkan. Ibu tinggal ke belakang dulu." Yani meninggalkan Yoga sendiri, laki-laki itu mulai membuka lembar demi lembar, hingga berhenti di bab terakhir yang gadis itu tulis, ia membacanya.
Hidup itu pilihan, dimana kita harus memilih untuk bahagia atau bersedih. Mungkin dari banyaknya orang yang mengenalku, mereka mengira bahwa pilihan hidupku adalah sebuah kesalahan atau kesedihan ketika memilih untuk mencintai laki-laki tampan namun berhati dingin yang tidak sama sekali mencitaiku, tapi itu tak menjadi masalah untukku, karena aku yakin hati dinginnya akan luluh dan bisa mencintai kekasihnya yang tak sempurna.
Aku tau Yoga memiliki hati yang hangat, hanya saja sebuah peristiwa yang menimpahnya yang membuat hatinya berada disuhu 31,5°C. Dan itu sangat dingin, membuat siapa saja mengira bahwa ia tidak memiliki hati dan perasaan. Aku cukup mengenal Yoga, dia adalah laki-laki manis yang bisa mencintai seseorang dengan tulus, dan aku harap ia bisa mencintaiku dengan ketulusannya tersebut, meski itu terdengar mustahil.
Kini laki-laki itu tengah berdiri dengan Carrier dipundaknya serta topi kesayangannya. Ya, sebentar lagi aku dan Yoga serta teman-teman akan mendaki Gunung Rinjani— seperti namaku wkwk. Dimana Gunung tersebut menempati urutan kedua tertinggi di Pulau Lombok dan salah satu gunung yang sudah menjadi impian ku sejak dulu.
Aku dan Yoga tengah menunggu teman-teman yang sedang mengurus pendaftaran di RIC (Rinjani Information Center). Aku diam-diam memotret Yoga namun tiba-tiba saja ia menyadari apa yang aku lakukan.
"Ngapain Lu?." tanyanya ketus.
"enggak, cuma lagi foto langit aja." Tiba-tiba kameraku di ambil paksa olehnya.
"Hapus." Ucapnya dengan wajah yang sangat datar.
Aku tersenyum,"aku akan hapus, kalo kita foto berdua." Ia langsung menggeleng cepat dan menjauh dariku dan aku terus mengikutinya.
"Sekali aja, ayolah." Akhirnya ia pun mau, itu sangat membuatku senang sekali. Senyumnya yang dulu terngiang-ngiang dalam ingatanku, sangat manis. Namun sayang, sekarang sudah tidak ada lagi senyum indah itu.
Setelah berdoa tadi, kini aku dan yang lain sudah mulai berjalan cukup jauh dari pintu masuk menelusuri jalan yang disamping kiri dan kanannya bagai Savana yang luas, mataku tak bisa bohong, aku takjub akan keindahan digunung Rinjani ini. Namun sayang, pemandangan itu menjadi tak seindah saat aku belum menyadari tentang genggaman Anggun ditangan Yoga. Ingin sekali aku menangis, aku yang pacarnya saja tidak pernah digenggam tangannya, kenapa sekarang Anggun bisa menggenggam tangan itu dengan leluasa? Aku terus melanjutkan langkahku mencoba untuk menghiraukan mereka, namun tak mudah. Aku tau Anggun adalah teman masa kecilnya, tapi apa pantas ketika ada aku, mereka malah sengaja menebar ke mesraan, hancur sekali hatiku saat itu dan bersamaan dengan air mata yang tidak aku harapkan kedatangannya.
Sekarang aku berada di pos 3 dengan ketinggian 1800Mdpl. Cukup melelahkan, tapi tak mengurangi sedikit niatku untuk sampai puncak dan kembali dengan selamat. Tapi lagi-lagi rasa sakit datang, kali ini melihat sikap Yoga yang semakin dingin dan tak perduli padaku. Aku tidak mampu menahan ini semua, ketika aku butuh dia, kenapa seakan-akan aku tidak pernah ada didekatnya. Segelas teh yang aku buatkan pun, tak dilirik sama sekali olehnya, dan lebih memilih teh dari perempuan lain.
"Ga, kok kamu gak minum teh dari aku?." Tanya ku pada Yoga.
"Gue udah minum teh dari Anggun," Aku menarik nafas, gusar.
"Buang aja teh nya." Sungguh sakit, pemberianku bagai sampah yang tidak berarti untuk Yoga, dan sekarang aku bener-bener kecewa dengannya.
Kini aku tengah duduk didepan tenda sambil menyesap coklat panas yang dibuatkan oleh Riyyan, laki-laki itu lebih perduli ketimbang pacarku sendiri. Tiba-tiba saja, Anggun datang menghampiriku dan menatapku remeh.
"Hai Rinjani" aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Luh itu gak cocok untuk Yoga, kayanya Yoga lebih cocok sama gue. Dan keliatannya, dia juga suka sama gue, siap-siap aja ya denger kata putus dari dia."
Aku menatap lurus, mataku mulai memanas tapi jelas aku tidak akan menangis di depan sainganku, aku tak mau terlihat lemah. "Aku pastikan, kata itu gak akan Yoga ucapkan." Anggun kembali tersenyum remeh kepadaku dan meninggalkan tempat itu. Sukses mataku basah, aku bener-bener tak kuat lagi, apa aku harus mengakhiri perjuanganku dan membiarkan impianku pupus.
Dira datang menghampiriku, "kamu kenapa?."
Aku hanya membalasnya dengan senyum, rasanya malas sekali untuk membuka mulut ini untuk sekedar bercerita.
"Ya udah, kita tidur aja yuk. Besok pagi hari kita harus melanjutkan perjalanan." Ucap Dira mengajakku masuk kedalam tenda, karena malam telah tiba.
Pukul 5 pagi kami sudah siap untuk kembali kejalur, dan kini aku serta rombongan telah sampai di Bukit Penyiksa, dimana Bukit tersebut adalah Bukit yang tiada akhir, yang memiliki jalur terus menanjak yang akan membuat para pendaki tersiksa. Disinilah, kepercayaan diriku mulai goyah, dimana kakiku sudah sangat-sangat lelah untuk melangkah, mataku sedikit kabur dan tubuhku mati rasa. Aku menatap Yoga dengan penuh harap agar ia membantuku, tapi harapan itu pupus saat Yoga lebih memilih menolong Anggun.
"Rinjani, Luh gak papa?." Ucap Riyyan khawatir.
"Aku gak papa kok yan." Aku berusaha meyakinkan mereka semua akan kondisiku. Akhirnya kita memutuskan beristirahat sebentar disana, kulihat air minum Yoga habis dengan kekuatan yang tersisa aku menghampirinya dan memberikan botol minumku padanya.
"Ini minum punya aku, Ga." Yoga menatapku sebentar, "minum ya, Ga. Kamu butuh minum yang banyak nanti kamu sakit." Bahagia sekali, aku bisa menggenggam tangan Yoga meski hanya aku saja yang mencoba menggenggam. Meskipun aku sangat haus, tapi tak ada salahnya ketika aku berkorban untuk orang yang aku cintai untuk terakhir kalinya.
Kini kami sudah sampai di Plawan Sembalun dan kembali memasang tenda untuk beristirahat sejenak dan melanjutkan langkah untuk menuju puncak. selangkah lagi aku bisa berada di puncak impianku—Rinjani 3.726 Mdpl. Kini aku menemani Riyyan untuk menuju mata air yang terletak di lereng Plawangan yang tak jauh dari tempat camp kita, aku yang tidak hati-hati hampir terjatuh namun dengan cepat Riyyan menahan tubuhku. Saat itu ada Yoga dan Anggun, dengan mulutnya yang tajam Anggun mengucapkan kata-kata yang semakin membuat aku dan Yoga berjarak.
"Tuh kamu liat kelakuan pacar kamu, lagi mesra-mesraan sama manta pacarnya." Yoga menatapku intens, aku berusaha menghampiri nya namun aku terjatuh, dan Yoga meninggalkan aku begitu saja.
Malam pun tiba, namun saat itu aku mendengar bahwa Anggun kedinginan dan kulihat wajah Yoga begitu khawatir, akupun berusaha menenangkan dia dengan mengusap punggungnya, Yoga berusaha mencari selimut dan jaket untuk Anggun dan saat itulah aku memutuskan untuk melepaskan jaketku dan selimut yang aku punya untuk Anggun. "Pake ini aja." Ucapku, aku tidak mau melihat Yoga khawatir karena itu bisa membuat nya dalam bahaya.
Dini hari, kini aku dan teman-temanku mulai menanjak lagi untuk sampai puncak. Tapi rasanya tubuhku sungguh lesu, dan lemas, nafasku memburu, jantungku terus berdetak cepat, aku merasa kedinginan sekali namun aku tidak ingin mengakhiri ini, aku ingin setidaknya aku bisa sampai puncak bersama Yoga. Kakiku terus melangkah di track pasir yang cukup licin, cukup menghabiskan banyak waktu disana karena track nya yang sangat-sangat ekstrem dan dalam waktu 6 jam dari Plawangan akhirnya aku sampai dipuncak Rinjani di ketinggian 3.726Mdpl. rasanya ini mimpi untukku, aku melihat Yoga tersenyum senang begitupun aku.
Dan inilah, akhirnya aku bisa memenuhi mimpiku yang sedari dulu aku inginkan, dan disinilah aku mengakhiri jurnal diary ku, disinilah bagian akhir yang aku tulis di Puncak Rinjani—3.726Mdpl.
Salam manisku, Rinjani Hariyanti.
Rinjani—3.726Mdpl
Yoga menutup buku diary itu dengan air mata yang terus menetes membasahi wajahnya, ia kembali mengingat bagaimana terakhir kalinya Rinjani menutup mata.
Saat itu Yoga yang tengah menikmati keindahan Puncak Rinjani dikagetkan dengan teriakan dari Riyyan,
"Yoga... suhu tubuh Rinjani menurun, dia Kedinginan Ga. situasi darurat, Ga." dengan cepat Yoga menghampirinya dan sudah mendapati Rinjani yang berwajah sangat pucat.
Perlahan Yoga mendekat, memeluk tubuh mungil gadis itu, Rinjani tersenyum dan berusaha menyentuh wajah Yoga. Gadis itu menangis begitu juga Yoga.
"Yoga, makasih," Yoga menggeleng.
"sudah mengajarkan aku mencintai dengan sabar, sudah mengajarkan aku sebuah perjuangan. Kini impian terakhirku bisa terwujud," ucap Rinjani lirih,
Yoga menghapus air mata gadis cantik itu. "Ak-aku titip i-ibu, Ga. Jaga ibu aku, ingetin ibu untuk minum obatnya." Saat itu nafas Rinjani semakin memburuk, semua teman-teman hanya menyaksikan dan menangis melihat itu.
"Yoga janji, tapi Jani harus kuat. Harus tahan, kita masih punya banyak mimpi untuk diwujudkan." Ucap Yoga mencium kening Rinjani.
gadis itu tersenyum, "ak-ku udah gak kuat, Ga. Aku rasa perjuanganku mimpiku cukup sampai disini. Kamu harus janji sama aku, kamu harus jadi diri kamu yang dulu. Jalanin hidup kamu dengan baik." Wajah Rinjani makin pucat, bakhan tangannya sangat dingin layaknya es.
"Aku pamit, Ga. Jaga ibu aku, jaga diri kamu baik-baik." Saat itu juga, mata gadis itu terpejam dan nafasnya pun berhenti. Yoga menggeleng tak percaya.
"RINJANI...BANGUN, MAAFIN YOGA. BANGUN." ia berusaha membangunkan gadisnya, namun sayang, kini arwah sang gadis telah pergi kembali kepelukan sang Khalik.
Tepat 1 tahun, setelah membaca buku diary milik Rinjani kini Yoga telah menjadi seorang penyair, ia telah menerbitkan buku yang berjudul "Gadis Pemimpi" ia menceritakan sosok Rinjani dalam bukunya, sosok perempuan yang memiliki banyak impian, berjiwa petualang dan selalu gigih dalam pendiriannya. Ia memberikan pesan pada penggemarnya, tentang arti sebuah mimpi.
"Rinjani bukanlah tokoh fiksi untuk gue, dia nyata. Dia adalah gadis yang tangguh untuk mewujudkan mimpinya, dan berkat dialah, gue bisa menulis tuntas novel ini. Untuk kalian yang punya mimpi besar seperti nya, teruslah berjuang dan berdo'a, karena suatu saat nanti perjuangan dan doa kalian akan membawa kalian kepada mimpi tersebut,"
"Jadikanlah tokoh Rinjani, menjadi contoh kalian untuk meraih mimpi." Ucap Yoga. Dan tepuk tangan riuh pun terdengar.
"jaga sesuatu itu selagi ada, peluk ia, genggam ia, sebelum penyesalan itu tiba." ucap Yoga.
"Jan, kamu akan terus punya tempat di hatiku. kamu Rinjaniku."
Inilah bagian akhir dari kisah Rinjani dan Yoga, bagian yang mungkin akan terus dikenang oleh penggemar mereka.
Selesai
Terimakasih:)
Mohon maaf bila ada kesalahan
Selamat membaca.
Menerima kritik dan saran:)