ku tarik rokku, berharap rok yang ku kenakan ini akan menanjang dan bisa menutupi pahaku.
begitupun baju yang mulai mengetat di badanku, membentuk bodiku meskipun saat ini aku masih duduk dikelas 6 SD namun payudaraku mulai tumbuh dan ini sangat membuatku tak nyaman.
aku sudah protes kepada mamaku berulang kali,
"ma, belikan aku baju seragam baru, malu ma...
rokku sudah sangat pendek, bajuku juga sudah ngetat, gak nyaman lagi dipakai ma." begitulah protesku ketika sampai dirumah.
ini bukan pertama kalinya aku mengatakan aku ingin seragam sekolah baru, aku ingin mengenakan hijab.
namun dengan berbagai alasan mama tetap menolak permintaanku
"nanggung, bentar lagi kan tamat SD, tahan aja dulu." begitulah mama selalu menjawab.
dari kelas 4 aku sudah mempunyai niat untuk mengenakan hijab, meskipun di sekolah hanya 1 atau 2 siswa yang mengenakan hijab tapi aku sudah sangat ingin namun selalu ditentang dengan banyak alasan.
terkadang diluar sekolah, aku memakai hijab meskipun tidak setiap saat, ketika aku memakai baju dan celana panjang, aku mengenakan hijabku,
tapi terkadang aku tak berhijab karna baju yang ku kenakan lengan pendek.
dan bisa dihitungi bajuku yang panjang.
aku malu, ketika ada lawan jenisku melihat ke arahku, aku merasa jadi sorotan dengan berpakaian terbuka, aku tak pede..
suatu hari
"ma,,,... mohon, kalo gak boleh pake hijab, bajunya besarin dong, roknya panjangin, rara malu ma."aku berusaha membujuk mama lagi.
sebenarnya seragam pramuka saja yang sudah pendek, seragam yang lainnya masih bisa dipakai meskipun tidak besar tidak juga kekecilan.
kali ini, mama beralasan "rara, sayang rambutmu kan panjang, nanti kalo pake hijab rambutnya rusak dan gak keurus lagi."
dengan cemberut aku masuk ke kamarku, aku tak tau harus dengan cara apalagi agar mama mau mengizinkan aku berhijab.
karna sudah berulang kali dan sudah lelah selalu ditolak akhirnya aku pun tak pernah protes lagi sampai lulus SD.
******
awal masuk SMP
rara nur hidayah, seorang guru memanggilku. aku maju ke depan kelas, tiba waktunya aku mengukur baju seragam SMPku.
guru tersebut bertanya "rara, pakai hijab atau tidak?"
dengan yakin aku menjawab," iya buk guru, aku berencana untuk mengenakan hijab."
akhirnya pengukuran baju pun selesai.
------
setibanya dirumah, aku langsung meletakan sepatu dan tasku di tempatnya,
aku menghampiri mama yang sedang menyiapkan makan siang,
"sudah pulang ra,"sapa mama.
"iya ma," sambil duduk di kursi meja makan.
"ma, ntar setelah makan ada yang ingin rara kasih tau ke mama ya..."lanjut rara.
setelah makan, rara menyusul mama yang lebih dulu ke ruang keluarga sambil menonton televisi.
aku duduk disamping mama, dan berkata
"ma hari ini, pengukuran baju seragam sekolah, rara memesan seragamnya panjang, soalnya rara pengen pake hijab."
"kamu yakin? " tatap mama tajam ke arahku.
mata itu menatap sangat tajam seolah siap menerkamku. aku sudah menebak mama akan menolaknya, namun kali ini mama tak ada alasan lagi untuk menolak keinginanku.
"ya ma,aku sangat yakin, bahkan mama sudah tau dari SD aku sudah sangat ingin berhijab, aku selalu menantikan acara-acara isro mi'raj, maulid nabi, pesantren kilat saat masih SD dulu, karna aku berpakaian muslim, aku berhijab."
aku semakin yakin ketika teman-teman mendukung dan mengatakan" rara cantik lo, dengan mengenakan hijab."
itu semakin membuat hati ingin cepat berhijab.
akhirnya dengan menghela nafas panjang mama membuka suara,
ia pegang kedua tanganku sambil menatapku
"rara, berhijab itu, bukan hanya sekedar penutup badan, bukan hanya sebagai model atau mengikuti gaya dan tren."
diam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya lagi
"ketika rara memutuskan berhijab, ada banyak yang harus dijaga. sikap, perkataan, perilaku harus sesuai dengan pakaian yang dikenakan nak,"
aku mendengarkan setiap penuturan mama, aku baru sadar, mengapa mama selama ini bersikeras menolak keinginanku, ada rasa khawatir di hatinya.
"mama gak mau, nantinya kamu merasa terkekang dan memutuskan untuk membuka hijabmu.
ketika dirimu mulai hai pertama, artinya rara sudah masuk usia balig, setiap perbuatan akan ditanggung oleh rara sendiri,"lanjut mama
"ketika rara memutuskan berhijab, rara harus pinter berprilaku, haru bisa menjaga kehormatan rara. bukan berarti dengan tidak berhijab bebas, tapi dengan berhijab semua tingkah laku kita akan berdampak dengan apa yang kita kenakan dan itu berpengaruh kepada agama kita.
jika kita tak bisa membela agama kita, setidaknya kita jangan menjadi salah satu orang yang mencoreng ajaran baik agama kita."
"ya ma, sekarang rara baru ngerti kenapa mama gak mudah memberikan izin sama rara.
rara janji, rara akan menjaga kehormatan rara, menjaga prilaku rara, setelah rara berhijab."sambil tersenyum meyakinkan mama.
"kalo begitu, tolong jaga kepercayaan mama ya,
kalo emang rara sudah yakin dan gak berubah fikiran lagi mama mengizinkan rara menggunakan hijab"
"ya ma, rara janji akan menjaga kepercayaan mama".jawab rara tegas dengan sangat yakin.
semenjak mama memberi izin berhijab, aku membatasi pergaulanku, aku hanya mengikuti kegiatan-kegiatan positif dan berusaha memilih teman yang baik untukku, aku tak ingin mama mendengar kabar tak baik tentangku.
sejak saat itu, aku membatasi diriku dari hal-hal yang akan berdampak buruk terhadap apa yang aku kenakan.
meskipun di usiaku yang belum balig dengan ilmu agama yang belum begitu dalam, aku fikirkan saat ini hanya berfikir dengan berhijab aku nyaman, aku bisa menjaga kehormatanku, keluargaku, dan agamaku.
seiring waktu berjalan aku makin paham bahwa menutup aurat bagi setiap wanita muslimah balig adalah sebuah kewajiban tak memandang baik buruk prilaku manusia itu sendiri.