NovelToon NovelToon

Menantu Terhebat

Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan

Dalam sebuah mobil mewah berwarna merah cerah, Hansen Pratama diajak pergi oleh istrinya, Andini Wisnu. Saat itu, dia mengenakan jas hitam dengan aksen putih yang terlihat cukup elegan dan mewah. Sedangkan istrinya mengenakan gaun merah yang seksi.

Andini mengarahkan mobil mereka menuju sebuah tempat perjamuan makan malam yang mewah.

Selama perjalanan, seperti biasa, Andini memulai percakapan karena Hansen jarang berbicara jika tak diajak bicara. Melirik tajam, Andini berkata, "Ingat, saat di sana nanti, jangan lakukan hal yang bisa membuatku malu. Bersikaplah sewajarnya dan jangan buat masalah!"

Hansen tersenyum, "Baiklah, aku mengerti."

...

Sesampainya di tempat perjamuan, Hansen dan Andini keluar dari mobil dan berjalan bersama memasuki ruangan.

Saat baru memasuki ruangan, seorang pria datang menyambut mereka. Dia mengenakan jas putih dan berambut pirang. Wajahnya cukup tampan sehingga banyak wanita meliriknya.

"Wah, wah, lihat siapa yang baru datang! Aku sangat beruntung bisa melihat seorang bidadari di perjamuan makan malamku!" ucap pria itu dengan senyuman lebar di wajahnya.

Andini membalasnya dengan senyuman.

"Siapa dia?" tanya Hansen.

"Dia adalah orang yang mengadakan perjamuan ini dan yang mengundang kita kemari. Pria muda tersukses yang berhasil menjalankan banyak perusahaan ternama," jawab Andini sambil melirik Hansen.

"Ah, jadi dia yang bernama David Hermanto?" pikir Hansen sambil menatap pria itu.

"Aku benar-benar beruntung malam ini. Tak hanya kedatangan seorang bidadari, tapi juga mendapat pujian darinya. Sungguh sebuah keberuntungan luar biasa!" sambung David sambil melangkah mendekat.

Setelah berada tepat di hadapan mereka, David langsung menyodorkan tangannya. Tanpa mengabaikan Hansen yang jelas-jelas berada di samping Andini, dia berkata, "Bolehkah aku meminjam tanganmu sebentar?"

"Untuk apa?" tanya Andini heran.

"Aku ingin mengajakmu ke tempat yang tidak terlalu ramai. Ada urusan bisnis yang ingin kubicarakan denganmu," ucap David sambil menatap lekuk tubuh Andini.

Hansen yang merasa diabaikan pun berdeham, "Ehm!"

"Ah, aku lupa kalau suamimu ada di sini! Sepertinya kita tak bisa membicarakan urusan bisnis sekarang," sambung David kecewa.

"Jangan pedulikan suamiku,” ucap Andini, “Dia takkan keberatan kalau aku pergi bersamamu. Lagipula kita hanya akan membicarakan soal bisnis, bukan?"

"Ah, tentu saja begitu. Bisnis ini sangat penting dan mungkin bisa meningkatkan keuntungan perusahaan ayahmu. Tapi ini masih rahasia, jadi aku tak ingin orang lain ikut mendengarnya."

"Kalau begitu, ayo kita pergi," jawab Andini sambil melangkah melewati David.

"Oh iya, bagaimana dengan suamimu?" tanya David, lalu melirik Hansen, "Apakah dia bisa dipercaya?"

"Ah, dia tak mengerti soal bisnis. Lagipula, kau tak perlu khawatir soal dia. Suamiku tak akan mengikuti kita. Benarkan suamiku?"

"Tapi…"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hansen dipaksa diam oleh Andini dengan tatapan tajam.

Biasanya Hansen langsung diam saat Andini melakukan itu, namun kali ini dia merasakan sesuatu yang mencurigakan pada David. Dia bersikukuh meminta untuk ikut.

Akhirnya, Andini menyuruh agar David pergi lebih dulu.

"Baiklah, akan kutunggu kau di lantai dua, nona Andini," jawab David sambil tersenyum sebelum melangkah pergi.

Begitu David menjauh, Andini langsung menyeret Hansen keluar ruang perjamuan.

"Kau ini kenapa sih!? Bukankah aku sudah bilang agar tak membuat masalah!" bentak Andini.

"Kau memang bilang begitu dan aku paham. Tapi entah mengapa aku merasa David mencurigakan. Aku rasa kau tidak akan aman jika pergi bersamanya. Makanya aku minta ikut," jawab Hansen dengan pandangan tertunduk.

"David adalah teman masa kecilku. Jangan bicara sembarangan tentang dia! Kau ini hanya suami kontrakku. Ingat itu baik-baik! Jika kau tetap membuatku jengkel, kembalikan uang 2 milyarku dan batalkan saja kontrak pernikahan ini!" bentak Andini.

Hansen pun terdiam dan berpura-pura setuju agar tidak mengikutinya. Dia tahu betul sifat Andini. Pendirian wanita itu begitu kokoh, tak mudah digoyahkan saat sudah memutuskan sesuatu.

Ketika Andini pergi meninggalkannya, Hansen mengikutinya secara diam-diam.

...

Andini terus berjalan sambil memperhatikan ponselnya. Sebuah pesan dari David masuk, berisi nomor kamar VIP yang biasa digunakan untuk pertemuan bisnis.

Tanpa ragu, Andini langsung menuju kamar tersebut dan memasukinya. Di dalam kamar, Andini melihat David sedang duduk mengobrol bersama empat pria.

Andini mengenal mereka. Mereka adalah investor penting perusahaan David. Oleh karena itu, dia pun langsung mendekat tanpa rasa ragu sedikit pun.

Melihat Andini masuk, David menyuruhnya duduk dan memberinya segelas anggur untuk merayakan kesuksesan bisnisnya. Mereka pun bersulang.

Karena kedekatannya dengan David sebagai teman masa kecil, Andini meminum anggur itu tanpa ragu.

Tak lama setelah meminum anggur, tubuhnya terasa aneh. Andini merasa lemas dan mengantuk, tubuhnya sempoyongan, dan kelopak matanya terasa begitu berat.

"Kau baik-baik saja, nona Andini?" tanya David khawatir.

Beberapa detik kemudian, Andini langsung lumpuh tak berdaya. Namun, ia masih bisa mendengar suara semua orang. Ia mendengar tawa David dan para pria lainnya yang ternyata bersekongkol untuk memberinya obat bius.

Tak hanya itu, ia juga merasakan suntikan jarum di salah satu lengannya. Cairan perangsang yang disuntikkan membuatnya merasa sangat bergairah.

"Apakah benar cairan itu berpengaruh sekuat itu?"

"Kalau benar, luar biasa. Tapi, sampai kapan efeknya bertahan?"

"Akan lebih menyenankan jika memainkannya saat korban masih sadar," ujar salah satu investor dengan liur di wajahnya.

"Kau memang benar, tuan. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada itu."

"Oh iya, obat bius di anggur sebelumnya tidak terlalu kuat. Jadi, mungkin dia akan sadar dalam beberapa menit. Saat itu, permainan akan dimulai," ujar David dengan senyuman menjijikkan. Semua orang tertawa.

Andini yang mendengar itu hanya bisa menangis di dalam hatinya. Ia meneteskan air mata. Dalam tangisannya, ia teringat ucapan Hansen dan berharap dia akan menolongnya.

Dan benar saja, saat semua orang sedang tertawa, Hansen mendobrak pintu kamar.

"Apa yang kalian lakukan terhadap istriku!?"

Melihat Hansen muncul, David langsung bersiul memanggil anak buahnya.

Perkelahian pun terjadi.

Andini yang mengira Hansen seorang pecundang lemah hanya bisa berkata dalam hati, (Dasar bodoh, kenapa kau datang sendirian!? Kau hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka, dasar payah!)

Namun, orang-orang berbadan kekar langsung menerjang Hansen. David tersenyum sinis. Tapi senyum itu sirna saat melihat Hansen, tanpa bergerak sedikit pun, melancarkan pukulan jab yang membuat setiap anak buah David jatuh seketika.

Mereka semua tumbang begitu saja.

David dan yang lainnya panik, mencoba melarikan diri. Namun, Hansen dengan mudah menangkap mereka dan menghakimi mereka hingga tak sadarkan diri.

Hansen menggendong Andini menuju mobil dan pulang.

Sesampainya di rumah, dia meletakkan Andini di tempat tidur.

Tiba-tiba, Andini menggenggam tangan Hansen. Wajahnya merah merona.

Mendesah lemah, Andini berkata, "Jangan pergi, aku butuh bantuanmu."

"Bantuan apa?" tanya Hansen bingung.

Tanpa menjawab, Andini menarik Hansen ke tempat tidur secara agresif.

Lalu terjadilah hubungan suami istri yang tak direncanakan.

Bab 2 : Situasi yang mendesak

Setelah melewati malam yang penuh emosi, Andini terbangun di pelukan Hansen yang masih tertidur lelap. Badannya tidak tertutup pakaian, yang membuat Andini terkejut. Matanya terbuka lebar, dan dia menutupi mulut dengan tangan.

"Kenapa Hansen tertidur di sampingku!?"

"Dan kenapa dia tak memakai baju!?"

"Sebenarnya apa yang terjadi!?" Andini memegangi kepalanya, kebingungan. "Bukankah aku seharusnya sedang membahas bisnis dengan David?"

Ingatan Andini samar-samar karena pengaruh obat. Yang dia ingat terakhir kali adalah merasa pusing dan lelah setelah meminum anggur. Dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi pada dirinya, yang hampir ternoda oleh pria bejat, serta Hansen yang datang menolongnya.

Andini terdiam, berusaha keras mengingat kejadian semalam. Lalu, matanya menatap tubuhnya dan baru sadar bahwa dirinya juga tidak berbusana.

"Kyaaaaa!"

Hansen terbangun kaget mendengar teriakan Andini.

"Kenapa kau berteriak?" tanya Hansen sambil duduk, tubuhnya masih tertutup selimut sebagian.

Andini meneteskan air mata dan berbicara dengan suara sesenggukan, "Hiks... hiks... Kau bertanya kenapa aku berteriak? Dasar kau pria kotor!" teriak Andini, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. "Hansen, jawab dengan jujur. Jelaskan padaku, apa yang telah terjadi tadi malam?"

"Kenapa kita tidak berbusana dan tertidur dalam satu ranjang seperti ini?"

"Jawab aku, Hansen!" bentak Andini, air matanya terus mengalir.

"Itu..."

"Apakah... kita telah melakukannya?" potong Andini, suaranya terdengar cemas.

Hansen hanya terdiam, takut salah menjawab.

"Jangan diam saja, pria kotor! Cepat jawab pertanyaanku! Apakah kita telah melakukannya!?" bentak Andini dengan suara semakin keras.

"Ya," jawab Hansen, menunduk.

"Apa kau lupa perjanjian kontraknya? Meski kita telah menikah, aku sudah menegaskan padamu kalau kita tidak akan pernah menjalin hubungan layaknya suami istri."

"Aku membayarmu agar bisa selamat dari desakan ayahku, bukan untuk bersenang-senang! Apakah kau tak mengerti!?" bentak Andini, air matanya terus mengalir bersamaan dengan luapan emosinya.

Karena Andini terus menyalahkan dirinya tanpa henti, Hansen tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengangkat suaranya, "Cukup Andini!"

"Berhenti membentakku!"

"Biarkan aku menjelaskannya lebih dulu!"

"Oh, begitu ya... Setelah berhasil meniduriku, kau jadi semakin berani, ya?" Andini melanjutkan, "Beraninya kau mengangkat suaramu kepadaku!" bentaknya.

Andini melayangkan tangannya ke pipi Hansen, namun Hansen berhasil menangkap pergelangan tangan Andini.

"Aku tak akan berani menyentuhmu jika bukan kau yang memulainya. Tolong ingat kejadian tadi malam dengan baik, Andini!" ucap Hansen dengan tenang.

Karena tangannya ditahan, Andini mencoba menamparnya dengan tangan yang satunya. Namun, Hansen kembali menghentikannya. Andini tidak bisa menggerakkan kedua tangannya sama sekali.

Andini meronta-ronta, berusaha melepaskan kedua tangannya, tetapi kilasan kejadian semalam mulai kembali sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia pun terdiam.

Hansen melepaskan genggaman tangannya dan berkata, "Apakah kau sudah mengingat semuanya?"

Andini terdiam sejenak, merasa kesal. Lalu dia memegang keningnya dan berkata, "Lupakan kejadian semalam! Dan jangan berharap untuk mendapat pengalaman itu lagi. Kau mengerti!?"

"A... Aku mengerti," jawab Hansen, memalingkan wajahnya.

"Kenapa kau memalingkan wajahmu?" tanya Andini curiga.

"Itu..."

Andini baru menyadari bahwa selimut yang menutupi tubuhnya telah terlepas. Dia pun berteriak dan membentak Hansen agar pergi.

Gugup, Hansen buru-buru mengenakan celananya, masih tertutup selimut, dan segera berlari keluar.

Andini mengenakan pakaiannya, namun dia menyadari aDa beberapa noda dan goresan pada pakaiannya. Andini yang tak suka terlihat kotor pun meraih ponselnya dan menelpon Hansen agar kembali ke kamar.

Setelah Hansen kembali masuk, Andini berkata, "Kita menyewa apartemen ini karena tempat perjamuan semalam cukup jauh dari rumah kita."

"Tentu saja aku tahu, memangnya kenapa?" jawab Hansen.

"Ada noda dan goresan pada pakaianku, aku tak bisa keluar dengan penampilan seperti ini. Belikan aku baju baru untuk dipakai!"

"Apa kau tak membawa baju ganti?" tanya Hansen heran.

"Aku salah membawa koper karena terburu-buru. Jadi hanya ada pakaian ini yang bisa kupakai," jawab Andini sambil memegangi dahinya karena merasa pusing.

"Begitu ya, ya sudahlah, akan kubelikan," ucap Hansen sambil mengulurkan tangannya.

"Apa?" tanya Andini sinis.

"Apalagi kalau bukan meminta uang untuk beli baju baru. Bukankah kau menyuruhku untuk membelinya?"

"Kau telah menikmati tubuhku semalam, tak bisakah kau membayarnya dengan membelikanku baju?"

"Tapi, kau ‘kan tahu kalau aku tak punya banyak uang," ucap Hansen.

"Tak ada kata ‘tapi’, kalau kau tak mau membelikanku baju dengan uangmu, maka aku akan berhenti memberimu uang!" ancam Andini kesal.

Hansen tak lagi membantah. Dia masih memerlukan uang Andini untuk membayar biaya perawatan adiknya. Akhirnya, Hansen pun terpaksa menurut. Dia menerima deskripsi baju yang Andini inginkan, lalu pergi keluar untuk membelinya.

Sesampainya di toko pakaian, Hansen mendapati pakaian yang Andini inginkan. Namun harganya sekitar empat ratus ribu rupiah, sedangkan uangnya hanya ada enam ratus ribu rupiah. Kembaliannya tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan adiknya hari ini.

Hansen mencoba menghubungi Andini melalui telepon. Dia memintanya untuk mentransfer uang untuk membeli baju, namun Andini kembali menolak dan mengancam akan mengakhiri kontraknya.

Hansen yang tak punya pilihan lain akhirnya terpaksa membayar pakaian itu dengan uangnya sendiri. Karena hal itu, dia pun harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk menutupi biaya perawatan adiknya.

Setelah membelikan Andini baju, Hansen pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi adiknya. Dia sempat mengajak Andini, namun Andini menolak untuk pergi karena masih merasa kesal dengan kejadian semalam.

Sesampainya di rumah sakit, Hansen langsung menuju ke ruangan tempat adiknya dirawat. Namun langkahnya terhenti begitu melihat ayahnya sedang duduk di luar ruangan adiknya.

Ayah Hansen, Hendra Pratama, sedang memegang dahinya, pusing. Dia mengenakan pakaian putih, celana hitam yang cukup terang, dan masker hijau yang menutupi mulutnya.

Hansen yang bingung melihat ayahnya berada di luar ruangan langsung mendatanginya, "Kenapa ayah di luar?"

"Tidak apa-apa, ayah hanya sedang mencoba menenangkan pikiran dan membiarkan Cindy beristirahat," jawab Hendra sambil menyentuh dahinya.

Sadar apa yang terjadi, Hansen memasang tampang serius dan berkata, "Apakah pihak rumah sakit mendesak biaya perawatan Cindy lagi?"

Hendra hanya menganggukkan kepala pelan. Dia merasa malu sekaligus kesal karena tak dapat menolong putrinya sendiri.

Tak sanggup melihat ayahnya bersedih, Hansen menyentuh pundak sang ayah dan berkata, "Jangan khawatir ayah, Hansen berjanji akan melunasi tagihan perawatan Cindy. Hansen berjanji akan mengurus semuanya. Ayah hanya perlu tetap di sini untuk menjaga Cindy."

"Baiklah," ucap Hendra. Dia terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya setelah mengingat sesuatu. Sambil menghela napas, dia bertanya, "Di mana Andini?"

“Dia… ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hari ini,” ucap Hansen berbohong.

"Oh, begitu ya."

"Kau begitu beruntung mempunyai istri sebaik Andini. Dia seorang pekerja keras dan dari kalangan atas, namun mau menikahimu, dan bahkan membantu membayar biaya perawatan Cindy. Jika bukan karena dia, tagihan rumah sakit Cindy saat ini..."

“Tapi kita tak boleh terus bergantung padanya, kita harus bekerja dan berusaha mengumpulkan uang. Apakah kau mengerti, putraku?" tanya Hendra sambil menatap mata Hansen.

"Aku mengerti ayah," jawab Hansen.

Setelah berbincang dan melihat kondisi Cindy yang belum membaik, Hansen beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Namun dia tak langsung kembali ke apartemen untuk bertemu Andini. Dia ingin membiarkan istrinya merasa lebih tenang terlebih dulu dan berusaha untuk tidak bergantung padanya lagi.

Hansen memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan

Hansen hendak beranjak pergi, namun tiba-tiba, suara teriakan dari dalam ruangan adiknya membuatnya terhenti. Dengan langkah cepat, ia kembali ke luar ruangan, tempat suara itu terdengar. Di sana, ia melihat ayahnya, Hendra Pratama, sedang terjatuh bersujud di depan dokter yang tampak kelelahan dan frustrasi.

"Tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya, dok! Saya janji akan membayar biayanya nanti!" Hendra memohon dengan suara gemetar, mata merah karena menangis. Tubuhnya tampak lunglai, lelah, dan penuh keputusasaan.

Dokter itu menatap Hendra dengan pandangan tajam, jelas merasa tidak nyaman dengan permohonan yang datang dari orang yang sudah berutang terlalu banyak kepada rumah sakit. "Tagihan Anda terus menumpuk, Pak. Rumah sakit ini bukan tempat amal. Maafkan saya, tapi saya bisa dipecat jika saya memaksakan untuk menanganinya tanpa persetujuan dari pemilik rumah sakit."

Ayah Hansen, yang tidak bisa menahan kesedihannya, sekali lagi bersujud, berusaha memohon dengan segenap hati. "Tolonglah, dok! Berikan saya kelonggaran, saya akan mencicil biaya pengobatannya, tapi tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya. Cindy... Cindy adalah satu-satunya anak saya!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa. Tentu saja, dia tahu bahwa di dunia ini, orang-orang seperti Hendra yang terjebak dalam lingkaran utang medis adalah pemandangan yang tidak asing. "Saya bukan pemilik rumah sakit ini, Pak. Perintah dari mereka sangat jelas: tidak ada perawatan tanpa pembayaran. Lagipula, lihat kondisinya sekarang. Dia sedang kritis, dan kondisi tubuhnya terus memburuk setiap harinya."

Hendra semakin terisak, seakan tak bisa menerima kenyataan. Tiba-tiba, suara keras datang dari mulut pintu, menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Cabut saja! Cabut saja jika kau berani!" seru Hansen dengan suara yang menggema. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang, matanya memancarkan amarah yang tak terbendung.

Hansen mengangkat ponselnya, membuka aplikasi rekaman suara, dan memutar ulang kata-kata dokter yang tadi ia rekam. "Kau dengar itu?" kata Hansen dengan tegas, matanya menatap dokter itu tajam. "Jika kau berani memutuskan alat bantu pernapasan adikku, aku akan sebarkan rekaman ini ke seluruh dunia. Aku akan tuntut rumah sakit ini sampai habis!"

Dokter itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Dalam situasi seperti ini, mengabaikan ancaman adalah hal yang sangat berbahaya. Akhirnya, dokter itu menyerah dan mengangguk pasrah. "Saya akan menemui pemilik rumah sakit dan meminta kelonggaran. Saya akan menceritakan semuanya," ujarnya dengan suara pelan, namun terlihat jelas jika ia merasa terpojok.

Setelah beberapa saat, Hansen mendampingi ayahnya dengan tenang. Setelah kondisi Cindy berhasil melewati masa kritis, Hansen berpamitan untuk meninggalkan rumah sakit. Tak lupa, ia memberikan semua sisa uang yang ia miliki kepada ayahnya agar bisa digunakan untuk keperluan Cindy.

"Aku harus mendapatkan pekerjaan ini," gumam Hansen dengan penuh tekad, meski langkahnya terasa berat. Ia pergi meninggalkan rumah sakit tanpa sepeserpun uang di saku, hanya bermodalkan selembar koran di tangannya dan sedikit harapan.

Beruntung, tempat kerja yang ia tuju tak jauh dari rumah sakit. Dalam koran yang ia pegang, terdapat iklan lowongan pekerjaan di Hotel Permata, sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal. Ia tahu bahwa hotel tersebut bukan sembarang tempat; hotel megah yang dikenal dengan kualitas pelayanan terbaik ini menawarkan posisi sebagai penjaga keamanan.

Mata Hansen menyala ketika melihat peluang itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju ke sana, menembus keramaian jalanan, dan langsung melangkah ke pintu hotel yang mengkilap seperti permata. Dengan langkah mantap, ia menghampiri resepsionis dan menyatakan niatnya.

Gadis resepsionis yang tampaknya masih muda itu langsung menghubungi kepala keamanan dan menanyakan apakah Hansen memenuhi syarat untuk pekerjaan itu. Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tegap keluar dari ruang belakang. Kepala keamanan itu menilai Hansen dari ujung kaki hingga kepala, seolah menimbang apakah pria ini bisa diandalkan.

"Kamu ingin bekerja sebagai penjaga keamanan di sini?" tanya kepala keamanan itu dengan suara rendah, matanya penuh penilaian.

"Ya, saya siap untuk menjadi penjaga keamanan di sini!" jawab Hansen dengan mantap, meski dalam hatinya masih ada rasa ragu.

"Kemampuanmu dalam berkelahi bagaimana?" tanya kepala keamanan itu lagi, kali ini sambil menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban dari Hansen.

"Saya yakin dengan kemampuan saya berkelahi. Kalau Bapak mau, kita bisa sparring sebentar. Tidak bermaksud sombong, tapi kalau boleh jujur, saya rasa saya bisa mengalahkan Bapak dengan mudah," jawab Hansen, walau sedikit merasa gugup karena sikap kepala keamanan yang begitu serius.

Kepala keamanan itu terdiam sejenak, seolah menilai kejujuran dan kepercayaan diri Hansen. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam bidang keamanan, ia bisa merasakan aura seseorang hanya dari cara berbicara dan penampilan fisik. Dan meskipun pria ini tampak sederhana, ia bisa merasakan bahwa Hansen bukan orang sembarangan. Hansen tidak hanya percaya diri, tetapi juga memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga keamanan.

"Baiklah, kamu diterima kerja di sini. Jangan terlambat besok pagi, ya?" kata kepala keamanan itu, suara tegasnya menandakan bahwa ini bukan candaan.

Hansen hampir tak percaya dengan kata-kata itu. "Eh, begitu saja? Saya diterima? Anda tidak sedang bercanda, kan Pak?" tanyanya lagi, untuk memastikan bahwa ini bukan lelucon.

"Tentu saja tidak! Siapa yang sedang bercanda di sini? Kalau kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran," jawab kepala keamanan itu dengan tawa kecil.

Hansen tidak bisa menahan perasaan lega dan terkejutnya. "Tunggu! Jangan berubah pikiran, Pak! Tolong terima saya!" serunya refleks, sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih.

Kepala keamanan itu hanya tersenyum, melihat sikap Hansen yang mulai canggung. "Aih, ternyata kau bisa membungkuk juga, ya? Kupikir kamu orang yang sombong karena berani mengatakan seperti itu tadi."

Hansen tidak menyangka bahwa pencariannya untuk pekerjaan pertama akan berjalan begitu lancar. Namun, ia tidak mau terlalu terlarut dalam kebahagiaan karena pikirannya tetap tertuju pada Cindy yang masih membutuhkan biaya perawatan.

Setelah Hansen mendapat konfirmasi bahwa ia diterima kerja, kepala keamanan memberitahunya bahwa ia harus kembali esok hari karena seragam baru untuk penjaga keamanan belum tersedia. Dengan demikian, Hansen harus menunggu sehari lagi.

Hari itu sudah memasuki pukul 12:00 siang, dan Hansen merasa perutnya mulai kosong. Namun, karena tidak punya uang, ia terpaksa menahan lapar sambil berjalan kembali menuju apartemen.

Saat sedang berjalan, matanya tertumbuk pada sebuah kafe yang terlihat ramai. Di depan kafe, ada papan pengumuman besar yang menyatakan bahwa mereka sedang mempromosikan produk terbaru mereka: secangkir kopi gratis untuk setiap pelanggan. Hansen merasa tertarik dan memutuskan untuk mampir.

Ia melangkah masuk ke dalam kafe dan duduk di salah satu meja kosong. Kopi yang diberikan ternyata cukup nikmat, memberikan sedikit kehangatan bagi tubuhnya yang lelah. Namun, suasana hatinya berubah seketika saat matanya tertuju pada sosok yang duduk di sudut kafe. Andini. Dia tengah duduk bersama David, pria yang jelas-jelas memiliki niat buruk terhadap Andini di masa lalu.

Hansen memandangi mereka dengan tatapan penuh kebencian. Melihat Andini yang tampak begitu nyaman di samping David membuat hatinya dipenuhi rasa kesal dan jijik. Terlebih lagi, saat David dengan tidak sopan menggesekkan kakinya ke kaki Andini, sebuah tindakan yang semakin membuat Hansen merasa marah.

Namun, sebelum ia bisa berbuat sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Hansen menoleh dan melihat pesan singkat yang masuk. Matanya membelalak saat membaca isi pesan itu: “125 juta.”

Itulah yang tertulis dalam pesan singkat tersebut, disertai permintaan Andini agar Hansen bergabung dengan dirinya dan David. Tidak hanya itu, Andini bahkan menawarkan uang sebesar 125 juta sebagai imbalan.

Hansen terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang terjadi pada Andini? Mengapa dia berubah begitu cepat? Semua perasaan campur aduk di hatinya. Ia merasa bingung, marah, dan kecewa, tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah tawaran uang itu. Apa sebenarnya yang Andini inginkan?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!