NovelToon NovelToon

Rumah Baruku

Pindah

Burung berkicau merdu,berterbangan bebas dari pohon ke pohon.Sebuah keluarga berdiri di depan rumah mereka sendiri dengan pandangan penuh arti.Entah kenapa,rasanya berat sekali untuk meninggalkan desa tercinta.

Merekalah Fadhil beserta isterinya,Anjelita Susilawati yang memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal masa kecil mereka.Karena sebuah pekerjaan yang terbilang 'baru bermula',mereka rela menjual rumah untuk dijadikan modal nantinya.Kini,uang mereka masih tersisa.Dan sisanya itu akan mereka gunakan untuk membeli rumah yang baru.

Masalah rumah baru,Fadhil dan isterinya tidak terlalu khawatir.Salah satu teman Fadhil telah menawarkan sebuah rumah dengan harga pas dikantong.Namun,rumah itu bukanlah berada di desa ataupun di kota,melainkan di area penghujung kota.

Dengan sebuah mobil sewaan,mereka akhirnya berangkat setelah melakukan perpisahan dengan tetangga.

Tangis dan lambaian tangan memenuhi di sepanjang jalan.Siapa yang tak mengenal keluarga penuh dengan keramah-tamahan ini.Semua orang akan mengingatnya walau mereka sudah diujung dunia pun.

Tak terkecuali dengan teman-teman sepermainan anak-anak mereka.Anjani,satu-satunya anak perempuan mereka dan juga anak pertama.Gadis dengan rambut sebahu itu nampak bersedih saat melihat teman-temannya yang semakin menjauh darinya.Mobil yang membawa mereka berjalan dengan sangat cepat.Rasanya,Anjani ingin mencopot pedal gas supaya mereka tidak jadi meninggalkan tempat ini.

Rumah-rumah sederhana yang berada di pinggir kiri dan kanan jalan akhirnya habis,dan digantikan dengan jajaran pohon-pohon tinggi setelah mereka melewati gapura desa yang bertuliskan,'Selamat Datang'.Helaan nafas keluar begitu saja dari mulut mereka,hingga membuat Sang supir tersenyum tipis.

Selain pohon,mata mereka hanya memandang awan dan juga semak-semak yang bergoyang.Kerasnya sapuan angin akibat mobil yang melaju kencang membuat Al kapok untuk mengeluarkan kepalanya lagi dari jendela mobil.

Al Fatih,nama dari seorang anak laki-laki yang masih menduduki bangku Sekolah Dasar itu,merupakan anak terakhir dari pasangan Fadhil dan Anjelita.Selain tampan,bocah yang akrab dipanggil Al itu nyatanya memiliki sifat yang suka membuat orang kesal.Tak heran jika ia mendapat ceramah panjang saat Anjelita mengetahui tingkah nakal yang dilakukannya barusan.

Pagi berganti siang.Matahari yang mulanya tidak terlalu tampak,kini terang-terangan menampakkan diri.Sinarnya yang menyilaukan mata membuat Alex menutup kaca jendela mobil dengan cepat.

Alex,nama yang singkat dan juga keren itu nyatanya tidak memalsukan.Sikapnya yang pendiam dan juga peduli menjadi idaman setiap perempuan sebaya yang ada di desanya.Alex memang populer.Anak kedua dari pasangan Fadhil dan Anjelita ini juga masih menginjak bangku sekolah dasar.Walau belum remaja,nyatanya Alex sudah pernah berpacaran.

Ada yang bilang,sifat anak tidak jauh beda dengan orang tuanya.Hal itulah yang mungkin menjadi tamparan keras pada Sang Ayah,Fadhil.

Namanya Fadhil.Nama yang singkat dan mudah diingat itu sudah mencapai umur 35 tahun.Laki-laki berkulit sawo matang itu juga pernah pacaran saat menginjak bangku SMP.Fadhil hanya memanfaatkan ketampanan juga kebaikan hati yang dimilikinya untuk menggait wanita.Tapi,dari semua wanita yang pernah ia kencani,hanya ada satu wanita yang sampai sekarang ia pertahankan.

Dialah Anjelita Susilawati,wanita berbadan ideal yang membuat Fadhil tergila-gila pada masanya.Entah bagaimana mereka bertemu,mereka langsung suka sama suka saat pertama kali berpandang-pandangan.

Mobil terus berjalan dan tak menghiraukan kumpulan debu yang berterbangan.Saat ini,waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan mereka sudah sampai di pusat kota.Setelah makan-makan sebentar di pinggi jalan,mereka kembali melanjutkan perjalanan guna mengejar waktu.Alhasil,mereka sampai di ujung kota pada saat langit sudah mulai gelap.

Kerlap-kerlip cahaya lampu,hiruk-pikuk keramaian kota,kini berakhir sudah saat mereka telah melewati gapura pembatas kota.Kesenangan sesaat yang mereka rasakan mendadak hilang,saat mata mereka memandang kembali pepohonan yang berjajar.Karena suasananya yang sudah menjelang malam,lingkungan yang nampak seperti hutan itu jadi terlihat menyeramkan.Anjelita bahkan menganggap jika mereka sudah salah jalan.

"Mas,apa benar ini tempatnya??" Tanyanya sedikit khawatir.

"Sesuai arahan.aku yakin ini tempatnya." Balas Fadhil sembari tersenyum.Ia menggenggam jari-jemari isterinya itu dengan maksud menenangkan.

Mendengar jawaban dari suaminya sekaligus melihat senyuman itu,membuat hatinya jadi sedikit lebih damai.Ia membalas senyuman itu sembari menyenderkan kepalanya ke dada bidang Fadhil.

---

Dua puluh menit kiranya berkendara dari gapura pembatas desa,hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang menjadi tujuan mereka.

Mobil berjenis Toyota Kijang Kapsul itu berhenti tepat di pinggir jalan.Mereka sengaja tidak masuk karena lebih dulu kaget melihat bentuk rumah baru keluarga Fadhil.Sebelum menjelaskan tentang rumahnya,lebih dulu mereka melihat pekarangan rumahnya yang amat luas.Walaupun dalam keadaan yang remang-remang,mereka sangat yakin jika mereka tidak salah melihat.

"Ayo,paman,kita masuk!aku sudah tidak sabar ingin melihat rumahnya!" Antusias Anjani.Matanya berkilau karena cahaya bohlam kuning yang berasal dari rumah tersebut.

Dengan menaikkan gigi kemudian menginjak pedal gas,mobil itu akhirnya kembali berjalan dalam kecepatan sedang.

Rumah itu semakin dekat dan apabila dipandang,maka semakin membuat terpana.Entah karena mereka yang tidak pernah melihat rumah sebesar itu,atau karena rumah itu yang memang terlalu bagus.Mobil berwarna hitam itu kemudian berhenti,tepat didepan beberapa anak tangga sebelum menuju pintu masuk utama.

Kejutan lain kembali mengagetkan mereka dengan menampakkan sesosok orang yang berdiri tegak di depan pintu.Senyumannya terlihat jelas karena sorotan cahaya remang-remang dari bohlam lampu yang ada di atasnya.

"Ben?!"

Teriakan yang tiba-tiba itu mengagetkan semua orang yang baru turun dari mobil.Pandangan mereka tertuju pada satu orang yang menjadi pusat perhatian saat ini.

"Fadhil?!"

Sama seperti sebelumnya,orang itu juga ikut menjerit.Kedua orang yang saling tatap dengan pandangan penuh rindu itu,kini sudah berdekatan dan berpelukan.

"Apa kabarmu?kau baik-baik saja?"

"Begitulah!" Balas Fadhil. "Aku rindu sekali denganmu!aku rindu masa-masa dimana kita suka mencuri saus sachet di kantin sekolah!" Sambungnya.

Fadhil dan pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu,kemudian nampak melepas tawa.Masa-masa kenakalan mereka kembali diceritakan,membuat mereka asyik sendiri.Mereka bahkan tidak menghiraukan sama sekali keberadaan orang-orang yang mendadak diam karena melihat keakraban mereka itu.

"Mas,kapan kita akan masuk?anak-anak sepertinya sudah mulai lelah."

Anjelita membuka suara.Ia tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut.Ia tidak ingin melihat orang-orang disekitarnya mendadak pingsan karena kelelahan.

"O-oh,Iya!" Fadhil mendadak gugup.Sambil menggaruk kepalanya,ia mempersilahkan isteri dan anak-anaknya untuk memasuki rumah baru mereka.Tak lupa juga ia menawarkannya kepada Sang supir,yang tak lain adalah tetangga lama mereka sendiri.

---

Benka Irawan atau yang biasa dipanggil Ben,adalah seorang pria berusia 35 tahun.Pria yang memiliki brewok dan berkulit putih itu ternyata teman sekolah Fadhil waktu SMA.Dia juga yang menjual rumah ini kepada Fadhil dengan harga terjangkau.Tak heran jika Fadhil sangat berterima kasih kepada teman lamanya itu.

"Aku hanya ingin membalas budi.bukankah,kau juga menolongku disaat aku susah?"

Fadhil tersenyum.Pria berkulit sawo matang itu memang suka menolong orang-orang yang membutuhkan.Tak terkecuali teman-teman kelasnya.

"Harusnya,kau tidak perlu melakukan ini." Balas Fadhil. "apa aku merepotkanmu?" Tanyanya merasa tidak enak.

"Tidak,bukan begitu!" Sanggah Ben. "aku juga ingin melihat rumah ini kembali hidup.dan aku mempercayakannya padamu." Sambungnya.Ia tersenyum membuat Fadhil ikut tersenyum sembari mengucap terima kasih.

"Tapi,kenapa kau menjual rumah ini?kenapa tidak kau saja yang menempatinya??"

Sambil menyeruput kopi,Fadhil memandang temannya itu dengan bingung.Padahal,rumah sebesar ini adalah warisan dari orang tuanya.

"Entahlah,aku hanya merasa tidak nyaman." Balasnya. "aku juga sudah punya rumah sendiri." Sambungnya.

"Yang benar?!dimana??" Tanya Fadhil antusias.

"Di pusat kota."

Fadhil mengangguk,mengiyakan ucapan temannya itu sembari menyeruput kembali kopi hangatnya.

Obrolan mereka terus berlanjut hingga hampir menjelang tengah malam.Entah apa yang mereka bicarakan,nampaknya obrolan yang sama sekali tidak mengandung apa-apa itu membuat mereka terlena.Karena sudah gelap dan mustahil untuk berjalan pulang,Fadhil mempersilahkan Ben dan tetangga lamanya untuk menginap di rumah barunya.

"Bagaimana kalau kita tidur di sini saja??hitung-hitung sebagai bonus pertemuan."

Fadhil memberi saran.Dan sarannya itu langsung disetujui dengan seruan kegembiraan.Alhasil,mereka bertiga tidur di ruang tamu beralaskan karpet tebal.

---

Rumah Baru

Langit kembali cerah.Kicauan burung terdengar sangat jelas.Entah karena memang masih pagi atau tidak ada lagi penghuni lain,suara-suara alam seperti itu lebih jelas terdengar.

Layaknya ibu rumah tangga biasa,Anjelita kembali jatuh ke dapur.Pagi-pagi buta sekali ia sudah bangun dan menyiapkan makanan.Saat langit sudah mulai terang,ia membangunkan satu per satu orang dan mengajaknya untuk sarapan bersama.

Klontang-klonteng bunyi dentuman antara sendok dan piring memenuhi area dapur.Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara.

Setelah mengisi perut,masing-masing dari mereka bergerak meninggalkan dapur dan melakukan aktivitas yang menyangkut tubuh masing-masing.

Lain halnya dengan Anjani.Gadis berambut sebahu itu masih berada di dapur.Dirinya berkutat dengan tumpukan piring dan gelas.Kegiatan semacam ini memang sudah biasa ia lakukan.Malahan,ada pertandingan mencuci piring di desanya dulu.Beruntungnya,Anjani mendapatkan juara 1 tingkat desa.

"Anjani..."

Gadis berambut sebahu itu menoleh.Ia menjawab panggilan ibunya tersebut kemudian menghampirinya,sesaat setelah membilas tangannya dengan air.

"Ada apa,Bu?"

"Apa kau tau,alasan mengapa kita pindah dari desa?"

"Tidak." Balas Anjani singkat. "Memangnya kenapa?" Tanyanya lagi.

"Ibu dan ayahmu diajak bekerja sama dengan sebuah perusahaan."

Sewaktu mereka masih bertempat tinggal di desa,ada seorang pria yang datang ke warung makan mereka.Tanpa sengaja,pria tersebut melihat Fadhil yang saat itu tengah sibuk berkutat dengan sebuah komputer.Saat itu pula,keberuntungan Fadhil mendadak hadir.

Pria yang tak lain adalah seorang pekerja dengan jabatan Marketing di sebuah perusahaan itu,sangat kagum dengan gaya bicara Fadhil.Selain itu,sikap baik dan ramah yang ada pada diri Fadhil membuat pria bertubuh gemuk itu yakin,jika Fadhil pantas untuk bergabung di perusahaan Bos-nya

"Wah,hebat!!" Ucap Anjani kagum. "tapi,kenapa kita harus pindah?" Tanyanya lagi.Hal inilah yang membuatnya sedikit bersedih.

"Karena uang." Balas Anjelita singkat.

Kala itu,kegembiraan Fadhil dan Anjelita mendadak terhenti,disaat mereka mendengar tentang modal yang harus dikeluarkan.

Perusahaan itu terletak di pusat kota.Jika mereka ingin benar-benar bergabung,mereka harus berangkat ke kota dan pastinya akan membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Satu hari full mereka memikirkan tentang masa depan,dan mereka diberi waktu sampai hari esok.Karena ingin mencoba dan juga tidak ada cara lain,Fadhil dan Anjelita memutuskan untuk menjual rumah mereka untuk dijadikan modal.

Awalnya,Fadhil mengusulkan untuk tinggal di rumah orang tuanya sampai mereka bisa membeli rumah lagi.Tapi,usul itu tidak disetujui oleh Anjelita.Beruntungnya,Salah satu teman Fadhil menawarkan sebuah rumah bekas peninggalan orang tuanya dengan harga yang terjangkau,dialah Ben.

"Uang dari hasil menjual rumah ternyata banyak.selain cukup untuk modal,ternyata juga cukup untuk membeli rumah baru.kau tau,Anjani?sekarang,uangnya sekarang masih bersisa."

Anjelita tersenyum membuat Anjani bertambah kagum.Entah kenapa,akhir-akhir ini mereka selalu mendapat keberuntungan.Entah karena kebaikan masa lalu,atau memang masa keburukannya saja yang belum datang.

"Anjani," Panggil Anjelita lagi. "ibu dan ayah akan ke kota besok lusa.ibu tidak tahu sampai kapan kami berada di sana.tapi,jika ibu dan ayah sudah diterima dan mendapatkan pekerjaan itu,secepatnya kami akan pulang!"

Hening.Anjani hanya diam tanpa menjawab.

"Ibu titip Alex dan Al padamu." Ucap Anjelita lagi.

Merasa tidak enak jika harus diam dan mendengarkan saja,Anjani menggangguk sebagai respon.

"Ya,bu,jangan khawatirkan mereka." Ucap Anjani. "semoga ibu dan ayah diterima bekerja di sana!" Sambungnya.Ia tersenyum membuat Anjelita mendekat dan memeluknya.

---

Angin sepoi-sepoi menerbangkan anak-anak rambut mereka dengan lembut.Pagi hari yang ditemani secangkir kopi,memang membuat mood meningkat.Apalagi lingkungan yang sepi dan menyejukkan,membuat siapa saja akan merasakan ketenangan tiada tara.

Rumah ini benar-benar berdiri sendiri.Tidak ada rumah lain,dan tidak ada orang-orang yang biasa disebut dengan tetangga.Lingkungannya juga terbilang lebih menjurus ke hutan.Karena jika mereka berjalan lebih lurus lagi,mereka akan menemukan papan kayu pembatas,yang didalamnya tumbuh berbagai pohon dan juga semak belukar yang lebat.Mungkin saja,ada banyak hewan hutan liar di dalamnya.

Duduk santai sambil menikmati secangkir kopi bersama teman,ternyata memang lebih menyenangkan.Obrolan basa-basi yang dibicarakan sejak tadi nyatanya belum menunjukkan tanda-tanda kebosanan.Mereka malah gencar bercerita sembari sesekali tertawa lebar.

"Bagaimana kabar orang tuamu,Ben?apa mereka sehat?" Tanya Fadhil sesaat sebelum menyeruput kopinya lagi.

"Syukurlah,mereka masih dalam kondisi yang baik." Balas Ben.

"Apa mereka juga tinggal bersamamu?di pusat kota?"

"Ya!"

"Wah,ternyata kau sama saja seperti dulu,ya,Anak manja!"

Fadhil tertawa membuat Mas Yono - salah satu tetangga yang membantunya pindah-pindah rumah - terlihat ikut tertawa walaupun sedikit canggung.

Yang Fadhil tau,dari dulu Ben memang anak rumahan.Ia bahkan tidak berani keluar jika matahari bersinar sangat terik.Jika keluarpun ia harus mendapatkan izin dari orang tuanya, terutama ibunya.

"Oh,ya,Ben!" Ucap Fadhil tiba-tiba. "apa kau sudah menikah?"

Hening.Baik Ben maupun Mas Yono tidak ada yang bersuara.Mereka mendadak diam dengan bentuk ekspresi wajah membingungkan masing-masing.Terutama Ben yang membuat Fadhil mengerutkan alisnya heran.

"Kenapa wajahmu pucat seperti itu?kau sakit??" Tanya Fadhil membuat Ben sedikit tersentak.

"A-ah,tidak!hanya saja,angin disini membuat tubuh sedikit menggigil."

Ben terkekeh sembari menggaruk kepala.Entah kenapa,seperti ada sesuatu hal yang tersimpan di kepala bulatnya itu.Dan Fadhil juga merasakannya.

"Kau belum punya isteri??"

Fadhil kembali bertanya.Nampaknya,pertanyaan inilah yang membuat temannya itu sedikit gugup.

"Belum." Balas Ben singkat. "padahal,mama sudah memberikan wanita-wanita terbaik dengan karier yang bagus.tapi,entah mengapa aku tidak tertarik."

Laki-laki brewok itu menunduk,meratapi nasibnya yang entah bagaimana.Dengan umur yang sudah mencapai 35 tahun dan ia belum mendapatkan isteri untuk membahagiakan orang tuanya.

"Kudoakan,semoga kau cepat mendapatkan jodoh.kau tidak akan menolak jika jodohmu itu bukan dari anak orang kaya,Kan?"

Ben mendongak.Matanya yang mendadak bulat itu perlahan mengangguk sembari tersenyum.Apapun jodohnya nanti,ia akan menerimanya dengan senang hati.

---

Langit semakin terang,matahari pun semakin meninggi.Kedua pria baik yang pernah ia temui itu,ternyata berniat untuk pulang.Sebelumnya,Fadhil sudah membujuk mereka untuk kembali menginap.Namun,mereka menolaknya dengan halus.

"Kasihan isteriku,dia pasti rindu denganku." Ucap Mas Yono dengan senyum malu-malu.

Fadhil dan Ben hanya mengangguk saja sebagai jawaban.Mereka juga tidak ingin membicarakan terlalu panjang mengenai hubungan suami isteri.

"Oh,ya,Ben!" Panggil Fadhil tiba-tiba. "bisakah kau mecarikanku mobil taxi?aku memerlukannya besok."

Karena Fadhil sudah menceritakan alasan mengapa ia pindah,Ben jadi tau kalau Fadhil dan isterinya tengah mencari pekerjaan di pusat kota.

"Baiklah!akan kukirimkan satu mobil taxi untukmu pagi-pagi sekali.jangan khawatir!" Balas Ben.

Setelah berpamitan,mereka akhirnya masuk ke dalam mobil masing-masing.Kedua pengendara itu terlihat melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi dan meninggalkan asap kendaraan yang mengepul di jalanan.

---

Teman

DRRAAK

DRRAAK

"Ngeeeng... ngeeeng..."

Di sebuah ruang keluarga,ada dua kakak beradik tengah bersantai-santai disana.Meskipun terlihat tidak berkomunikasi satu sama lain,nyatanya mereka bergembira dengan dunianya masing-masing.

Alex,bocah kurus nan jangkung itu tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.Bukan karena ia tengah bermain game ular,melainkan ia tengah bertukar pesan dengan seseorang.

Wajahnya yang kesemsem saat membaca dan membalas pesan membuat perhatian Al tertuju padanya.

"Kakak kenapa?" Tanya Al. "Kakak sedang bermain game??"

Anak laki-laki bertubuh jangkung itu mendadak gugup.Namun,ia mencoba untuk bersikap biasa saja.

"Tidak!" Balasnya. "ada pesan masuk dari teman.pesannya lucu membuat kakak menahan tawa." Tambahnya.Ia tertawa canggung membuat Al terdiam bingung.

"Aku ingin lihat pesannya!" Seru Al antusias membuat Alex memelototkan matanya.

"Kau tidak akan mengerti.kau,Kan belum bisa membaca!"

Alex menyentak adiknya dan menyuruhnya untuk kembali bermain dengan mobil-mobilannya saja.Alex tak begitu suka jika ada orang yang selalu ikut campur dengan masalahnya.Menurutnya,hal tersebut sangat mengganggu.

Dilain sisi,Alex bahkan tidak memahami perasaan adiknya.Laki-laki yang masih menduduki bangku kelas 2 Sekolah Dasar itu mendadak diam.Dua mobil yang masing-masing dipegang mendadak terlepas dengan sendirinya ke lantai.Al memang nakal.Namun nakal yang wajar bagi anak kecil.Tak seharusnya Alex bersikap seperti itu padanya.

Disaat hatinya tengah bersedih, sayup-sayup ia mendengar sebuah bisikan yang seperti memanggil dirinya.Bisikan-bisikan itu terus menggema di telinganya hingga membuatnya mendadak bangkit dan berniat untuk mencari asal suara bisikan-bisikan itu.

DRRTT

DRRTT

Alex semakin gencar membalas pesan-pesan tersebut.Setiap kali notifikasi pesan yang datang,ia langsung membalasnya dengan cepat.Alex bahkan tidak menyadari jika Anjani melangkah mendekatinya,kemudian menepuk pundaknya dengan keras.

"Aw!!"

Alex menjerit membuat Anjani kaget.Ia melontarkan kekesalannya kemudian mengumpat.Gadis berambut sebahu itu hanya berdesis.Ia juga menganggap reaksi Alex berlebihan.

"Tumben kalian akur."

Seorang wanita datang dan langsung menilai apa yang dilihatnya.Ia tersenyum membuat kedua anaknya itu mendelik kesal.

"Dimana Al?"

Anjani mendongak,menatap ibunya dengan pandangan heran.

"Aku pikir,dia bersama ibu." Balas Anjani.

"Tidak,ibu bahkan belum melihatnya hari ini."

Anjelita sedikit panik.Ia yang awalnya ingin bersantai dengan anak-anaknya,mendadak merasakan perasaan tidak enak saat melihat Al tidak ada.

"Alex,dimana Al??" Tanya Anjani kepada adik keduanya itu.

"Itu,Disana!"

Alex berdecak.Ia begitu heran dengan sepasang mata yang dimiliki oleh ibu dan kakaknya.Bahkan,ia menyarankan jika mereka harus segera pergi ke dokter mata.

"Alex!" Panggil Anjelita tegas. "Apa yang kau tunjuk??Al tidak ada Disana!" Sambungnya.

Alex diam.Ia juga menghiraukan berbagai pesan yang terus-menerus masuk ke ponselnya.Kali ini,ia merasakan apa yang ibu dan kakaknya rasakan.Al yang semula duduk di lantai yang berjarak dekat dengannya,kini sudah menghilang.

"T-tadi dia ada di sini!dia bermain mobil-mobilan..."

Alex nampak diam sejenak.Ingatan dimana ia sempat menyentak Al mendadak muncul.Anak laki-laki bertubuh jangkung itu mendadak mengusap wajahnya.

"Ada apa??"

Melihat gelagat Alex yang mencurigakan,Anjelita mendadak bangkit.Rasa kekhawatirannya kini bertambah.

"T-tadi,aku menyentaknya.d-dia membuatku kesal."

Anjelita menghela nafas.Semuanya akan terlihat rumit jika Al sudah merajuk.

"Kita cari dia!" Perintah Anjelita. "Alex,beritahu ayahmu apa yang sebenarnya terjadi.dan jangan coba-coba untuk berbohong!"

Alex hanya menunduk.Ketakutannya akan mata yang melotot membuatnya terlihat lemah.Ia hanya bisa mendengar suara langkah kaki terburu-buru meninggalkan ruang keluarga.Saat keadaan benar-benar sepi,ia mulai bangkit dan bergerak mencari ayahnya.Ia juga sudah mempersiapkan diri,jika harus menerima ceramahan panjang dari ayahnya.

---

Di siang itu,semua orang mendadak panik.Semua ruangan bahkan gudang sudah mereka periksa,namun Al tidak ada Disana.

Dilain sisi,anak laki-laki yang masih menduduki bangku kelas 2 Sekolah Dasar itu nampak tengah berjalan-jalan di area belakang gudang.Entah apa yang dipikirkannya,ia malah terlihat santai.Kejadian barusan yang membuat hatinya sedih kini mendadak hilang.Saat ini,ia bergembira karena ada seseorang yang mengajaknya bermain bersama.

Orang itu berwajah pucat,bermata sayu dan bersuhu tubuh dingin.Tinggi tubuhnya juga sama seperti Al.Sepertinya,mereka sepantaran.Meski begitu,Al sangat menyukainya.Mereka bahkan mengobrol dan bergandeng tangan,seolah mereka sudah akrab sejak lahir.

"Kau tinggal dimana?"

Al bertanya banyak hal.Ia juga bercerita jika rumahnya berdiri sendiri,dengan kata lain tidak memiliki tetangga.Namun,bocah laki-laki sepantaran Al itu hanya diam saja dan juga tidak menoleh.Bahkan kalau dilihat-lihat,bocah itu tidak pernah berkedip.

Langkah kaki Al mendadak terhenti saat bocah yang menggandengnya diam ditempat.Al bingung.Ia juga tidak tahu dimana keberadaannya sekarang.Lingkungan tempat ia berpijak pun kini bukanlah daerah pekarangan rumahnya,melainkan pohon-pohon dan juga kumpulan semak yang seperti hutan.

"Kita dimana??" Tanya Al lagi.Namun,bocah itu tetap tidak menjawab apapun.Kali ini,ia hanya menunjuk lurus seolah memberitahu pada Al apa yang ada di hadapan mereka.

Jari telunjuk yang terlihat imut itu menunjuk sebuah gerbang tinggi yang berada di hadapan mereka.Karena mungkin dimakan usia,warna putih dari gerbang tersebut nampak terkelupas dan juga berkarat.Ditengah-tengahnya,ada sebuah gembok besi besar yang tergantung di sana.

Al hanya diam.Otaknya hanya mencerna apa yang ia lihat,bukan apa keanehan yang ada dibaliknya.Dengan polos,bocah tampan itu hanya tersenyum menanggapinya.

"Rumah kau disana?" Tanya Al lagi. "Wah,ternyata rumah kita berdekatan,Ya!kita jadi bisa main bersama setiap hari!" Serunya.

Bocah laki-laki berwajah pucat itu melepaskan genggamannya,kemudian berjalan seorang diri menuju gerbang tersebut.

"Kau mau pulang??" Tanya Al sedih. "bagaimana kalau minum susu hangat dulu??kau bahkan belum mampir ke rumahku." Sambungnya.

Namun,bocah misterius itu tetap melangkah.Bahkan menembus gerbang tinggi itu layaknya hantu.Pemikiran Al yang hanya mengerti tentang perpisahan hanya menjerit-jerit memanggil temannya.

"Hey,Kau!!" Teriaknya.Walaupun tidak tahu namanya,Al tetap memanggilnya sembari terisak.Entah mengapa,ia begitu sedih saat bocah misterius itu sudah raib dari hadapannya.

"Al Fatih!"

"Al!!"

"Al??!"

Bocah tampan itu menoleh.Matanya yang berair memandang ayah,ibu,dan kakak-kakaknya yang mendekat padanya.Entah apa yang terjadi,mereka terlihat panik di mata Al.

"Kau kemana saja?!"

"Kenapa kau ada di sini??"

"Al..."

Anjelita bahkan langsung memeluk anak bungsunya itu dengan erat.Nafasnya yang menggebu juga rasa khawatirnya yang berlebihan,kini terhapus sudah dan dibawa mengalir bersama tetesan air matanya.

"Kenapa kau ada di sini??tempat apa ini??" Tanya Fadhil lagi.Ia bahkan mengamati sekelilingnya yang layak disebut dengan hutan.

"Tadi aku bermain bersama temanku,teman baruku." Jelas Al. "dia membawaku ke sini untuk menunjukkan keberadaan rumahnya." Sambungnya.

"Rumahnya dimana??" Tanya Anjani cepat.Setahunya,mereka tidak memiliki tetangga disini.

Sama seperti bocah misterius tadi,Al mengacungkan jari telunjuknya dan menunjuk gerbang tinggi tersebut.Ia juga mengatakan jika temannya baru saja pulang dan meninggalkannya sendirian.

"Al,kau salah lihat.mana mungkin ada orang yang bisa menembus gerbang-"

"Aku tidak salah lihat,Ayah!" Bentaknya. "Teman baruku itu memang hebat!dia bisa menembus benda apapun yang dilewatinya!!" Sambungnya.

Fadhil,Anjelita,Anjani,bahkan Alex hanya terdiam sebagai tanggapan.Mereka tahu jika Al masih anak kecil dan ucapannya itu memang suka dibuat-buat.Mereka juga tidak bisa membantah lagi karena Al nampaknya tengah merajuk.Ia bahkan menarik Anjelita untuk keluar bersamanya tanpa mengajak ayah dan juga kakak-kakaknya.

"Alex,kali ini kau akan kuberi hukuman." Ucap Fadhil tiba-tiba.Ia menatap anak keduanya itu dengan tegas.

---

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!