NovelToon NovelToon

Marry The Heir

Winnie the pooh

POV: Disa

“Siiuuttt… dhuarr…. Siuuttt… dhuaarr…”

Suara petasan dan kembang api saling bersahutan memeriahkan malam pergantian tahun baru. Langit malam yang gelap berubah terang seketika saat semburat percikan kembang api menerangi hitamnya langit yang hanya di temani beberapa gemintang.

Bibirku selalu latah ikut merekah saat melihat orang-orang tersenyum dan tertawa melewati malam pergantian tahun yang tidak pernah sepi dari keriangan dan dentuman live musik yang dimeriahkan oleh para penyanyi terkenal ataupun sekedar tawa yang menggelegar meluapkan kebahagiaan.

Semua berpesta pora seolah semua yang mereka lewati di tahun lalu hanya jadi cerita dan menyambut hari baru dengan harapan baru.

Aku masih di sini, di dalam kostum badut karakter winnie the pooh yang sedari siang tadi aku kenakan. Rasa panas dan gerah sudah menjadi kawan dan tidak lagi berarti apa-apa saat aku melihat kebahagiaan mereka. Anak-anak kecil berlarian mengelilingiku dan tertawa dengan ceria. Sesekali mereka mengajakku berfoto, sesekali mereka menciumku dan sesekali pula mereka jahil mendorongku. Semuanya sudah terlalu biasa untukku mendapat perlakuan seperti ini.

Bukan tanpa alasan aku ikut merasa senang pada hari ini. Jika dilihat dalam kalender masehi, hari ini tepat usiaku 20 tahun. Kata mendiang ayah dulu, aku terlahir saat detikan jam dari puncak tertingi bergeser sepuluh detakan ke kanan mereka menyambut kelahiranku dengan tangis haru dan ucapan syukur.

Aku selalu merasa, orang-orang ikut merayakan kelahiranku. Dalam imajinasiku, aku adalah seorang tuan putri dengan gaun indah yang tengah mengadakan pesta. Bukan sebagai cinderela tapi aku adik pangeran Henry. Lucu bukan, aku bahkan menciptakan karakter imajinasiku sendiri untuk menyenangkan hatiku.

Sayangnya, rasa bahagia itu begitu mudah hilang. Imajinasi itu begitu mudah terhapus. Seperti halnya percikan kembang api yang menyala indah di langit gelap, kebahagiaan itu pun begitu mudah hilang tanpa bekas seiring padamnya percikan indah itu.

Bagiku semuanya semu dan bagiku semuanya hanya sesaat. Mereka menghilang bersamaan dengan tawa yang mulai meredup dan kembali meninggalkanku sendirian. Seperti halnya nyala Chrysanthemum yang mulai padam. Ibu pun pergi di detakan ke 60 setelah kelahiranku. Tanpa sempat memelukku tanpaa sempat mengecupku atau sekedar berkata, "Hay bayiku,.."

“Tuhan, engkau mengambil semua milikku. Tapi lihat, aku masih bisa berdiri dan tersenyum. Tidakkah engkau merasa kesal karena aku terlalu kuat?”

Kalimat itu yang aku ucapkan setiap malam kelahiranku. Ya, tuhan telah mengambil semuanya tapi aku tidak akan meratap. Bahkan, aku tidak pernah meminta apapun di hari ulang tahunku. Bisa berdiri tegak melewati setiap masalah yang memberi warna dalam hidupku, sudah karunia terbesar yang tuhan berikan. Lantas, apa lagi yang harus aku minta?

******

“Wah pendapatanku  cukup banyak…” seru Disa dalam hati. Begitu biasa gadis manis itu di panggil.

Ia mulai menghitung lembaran rupiah yang ia keluarkan dari saku depan kostumnya. Rambutnya masih sangat berantakan selepas ia melepas kepala Winnie the pooh yang menutupi kepalanya seharian. Hembusan angin malam ikut menerbangkan bau asam keringat dari helaian rambutnya yang tebal.

“Enam, tujuh, delapan, tambah ini receh tujuh ribu lima ratus. Yes! Enam ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah!” seru Disa seraya mengepalkan tangannya ke udara dengan senyum terkembang.

Hal paling menyenangkan saat bekerja seperti ini adalah bisa mendapatkan banyak uang tips. Dikepalanya sudah mulai tersusun rencana apa saja yang akan ia lakukan dengan uang tersebut. Disa melipat uangnya dan mencengkramnya kuat-kuat. Sesekali ia menciuminya dengan gemas.

“A pooh, terima kasih sudah menemaniku. Aku akan mencucimu dan menghilangkan semua noda eskrim di wajahmu. Lihat, kamu semakin menggemaskan!” Disa mencubit dan menciumi pipi Winnie the pooh yang ia peluk di depan perutnya.

Ia tersenyum sendiri dengan rasa syukur dalam hatinya saat mengingat hari yang cukup menyenangkan ia lewati bersama Winnie the pooh yang di pakainya. Ia selalu tersenyum, seperti halnya Disa dengan lengkungan bibir tipisnya yang tidak pernah pudar. Sesulit apapun hari yang ia hadapi, nyatanya terasa lebih ringan saat ia masih bisa tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri.

“Dengan uang ini aku akan mengirimi nenek dan sebagian buat tante meri. Lalu sebagian lagi aku tabung buat bayar kuliah. Ya, bayar kuliah.” Gumam Disa seraya menengadahkan wajahnya memandangi langit malam.

Selesai dengan rencananya, Disa segera beranjak pergi menemui teman-temannya sesama badut. Suasana arena permainan yang mulai sepi, membuat Disa merasakan perubahan drastis dari banyaknya tawa menjadi sangat hening. Fairy horse pun sudah berhenti berputar dan lampunya sudah seluruhnya padam.

“Astaga!!” langkah Disa terhenti dan terperanjat di tempatnya saat mendapati sosok laki-laki yang sedang berdiri menghadang jalannya.

“Mana bagian gue?” tanya laki-laki yang saat ini menengadahkan tangannya pada Disa.

Disa segera menyembunyikan uang dalam genggamannya di belakang tubuhnya.

“Jangan sekarang ya kak, aku cuma dapet dikit.” sahut Disa dengan gugup.

Sepertinya wajah memelas Disa tidak menyurutkan langkah laki-laki yang kini justru malah mendekat. Ia berdiri tepat 2 langkah di depan Disa dan menatapnya dengan tajam.

“Lo tau kan, selain gue bisa minta baik-baik gue juga bisa ngambil secara paksa?” Damar berbisik di telinga Disa, membuat nyali gadis itu menciut. Terang saja, ia sudah bisa mengira apa yang bisa dilakukan Damar kalau ia menolaknya.

Disa hanya bisa mengerjapkan matanya dan menelan salivanya kasar. Dengan tangan gemetar ia menunjukkan uang yang ada di tangannya.

“Sret!” Damar mengambil lembaran uang utuh dari tangan Disa.

“Wuihhh, banyak juga!” seru Damar dengan seringai tipis dan tatapan tajamnya. Ia menghitung jumlah rupiah di tangannya sedang senang hati. “Buat lo, segitu cukup kan buat beli telor sama kerupuk?” imbuh Damar dengan puas.

Disa menatap uang receh di tangannya. Ya lumayan cukup untuk 3 butir telur dan sebungkus kerupuk, makanan favoritnya. Bukan, menu putus asanya.

“Tapi kak, aku harus..”

“Sssttt!!!!” Damar menempatkan telunjuknya di bibir. “Inget, adik yang baik akan selalu nurutin perintah kakaknya.” Lagi, tatapan Damar begitu mengintimidasi.

Disa yang semula menengadahkan wajahnya menatap wajah Damar yang berada di atasnya, hanya bisa terangguk kemudian menunduk. Matanya mulai memerah dengan jemari saling memilin. Damar hanya berdecak sebal melihat ekspresi adik sepupu tirinya. Ia memalingkan wajahnya karena enggan melihat wajah sendu itu lagi.

Dalam beberapa saat Damar beranjak pergi meninggalkan Disa tanpa rasa bersalah. Bukankah ini memang bukan pertama kalinya Damar melakukan hal ini? Tentu saja ia sudah sangat terbiasa.

Kembali terlintas di pikiran Disa bayangan wajah sang nenek yang sudah lebih dari sebulan tidak ia kirimi uang. Disa segera menyadarkan dirinya dan menghampiri Damar.

“Kak, jangan di ambil semua, aku butuh buat nenek.” Disa meraih tangan Damar namun Damar mengibaskannya dengan kasar. “Kak, aku mohon....” kali ini Disa terisak.

“Pergi sebelum gue ngelakuin hal gila!” gertak Damar tanpa menoleh Disa sedikitpun.

“Aku gag akan pergi, aku butuh,”

“PERGI!!!!!” teriak Damar membuat Disa terpaku di tempatnya. Bibirnya mengatup kuat dan sedikit bergetar menahan tangis.

Rasanya kakinya mulai lemas mendengar teriakan Damar padanya. Jantungnya berloncatan dan berdebar sangat kencang. Teriakan Damar tidak hanya mengagetkannya, lebih dari itu telah menyakiti hatinya.

Disa tidak lagi bergeming, ia membiarkan saja Damar pergi membawa semua uangnya.

“ARGH SHIT!!!” hanya suara dengusan itu yang Disa dengar sebelum Damar berlalu dari hadapannya.

Dalam beberapa saat pikiran Disa kosong. Ia melangkahkan kakinya tidak tentu arah. Malam semakin kelam dengan buliran air mata yang menutupi korneanya dan bisa menetes kapan saja.

Dari kejauhan ia melihat bangku kosong. Tujuannya saat ini ia hanya ingin sampai di sana agar ia tidak terjatuh karena tubuhnya yang terasa lemas. Ia butuh sandaran.

Disa mendudukkan tubuhnya di bangku berwarna coklat. Ia mulai terisak dengan bahu yang bergerak naik turun. Walau Damar tidak pernah benar-benar melakukan kontak fisik tapi dari gertakannya Disa bisa membayangkan apa yang akan dilakukan kakak sepupu tirinya yang kerap mabuk-mabukan. Mungkin Damar akan benar-benar menghajarnya.

Disa hanya bisa menangis, usahanya seharian tidak berarti apa-apa.

“Aaaaahahhahaha... Kak damar, kamu jahat kak....” tangis Disa kali ini benar-benar pecah, ia menangis sejadinya mengupati sang kakak. Kedua tangannya menutup wajahnya yang tengah menangis.

“Kamu tau aku udah cape-cape, gag makan seharian, dehidrasi dan tubuhku bau matahari. Tapi gampang banget kamu ngambil uang dari aku. aku salah apa hah, aku salah apa?!” teriak Disa memaki laki-laki yang ada di pikirannya.

“WOY!!! BERISIK!!!” seru sebuah suara di belakangnya. Disa terdiam seketika dengan mulut yang mengatup rapat. Segukan tangisnya pun ia coba tahan.

Ini kali kedua ia mendapat bentakan dan lebih keras dari yang dilakukan Damar. Bayangkan saja, rasanya jantungnya akan jatuh melorot ke dasar perutnya yang mulai terasa mual. Entah mengapa orang-orang begitu suka membentaknya.

Rupanya, tanpa ia sadari, bangku di belakangnya di tempati oleh seseorang yang tengah berbaring dan harus terbangun karena mendengar tangisan dan umpatan Disa. Disa tidak berani menoleh sedikitpun tapi dari suaranya yang berat dan dalam, ia yakin itu adalah suara seorang laki-laki.

Dalam pikirannya, laki-laki itu bertubuh tegap dan berotot tebal. Mungkin alisnyapun menukik seperti angry bird. Tidak terbayang betapa tajam tatapan mata yang mungkin tertuju padanya dan kesepuluh jarinya memiliki cakar yang bisa mencabik-cabik tubuhnya menjadi tidak berbentuk.

Disa bergidik sendiri, ia segera mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak bisa terlarut dalam imajinasinya yang terkadang menyiksa dirinya sendiri.

“Maaf om kalau saya mengganggu.” Lirih Disa dengan suara bergetar.

“Om kamu bilang?! Sejak kapan saya menikah dengan tante kamu?!” gertak laki-laki tersebut yang mulai beranjak dari tempat tidurnya.

Nyali Disa semakin menciut. Ia semakin tidak berani untuk menoleh ke belakang. Mungkin saja laki-laki itu sedang mengangkat pedang atau mengarahkan pistol ke kepalanya dan bersiap menembak Disa kapan saja kalau dia kembali salah bicara.

Disa segera memakai kepala Winnie the pooh yang ada di pelukannya. Nafasnya memburu dan tubuhnya gemetaran, ia ingin bersembunyi dan menyelamatkan dirinya.

“Maaf, saya tidak akan menganggu lagi.” Ucapnya seraya beranjak pergi dengan langkah cepatnya.

“Woyy!! Saya belum selesai bicara!!! Kamu menganggu tidur saya dan malah kabur. Woooyy tanggung jawab lo!!!!” teriak laki-laki itu.

Disa semakin mempercepat langkahnya walau kepayahan karena kostum yang di pakainya, ia memilih terus berjalan menjauh dengan tergesa-gesa. Beberapa kali ini hampir terjatuh tapi rasa takutnya membuat Disa berusaha bertahan.

Ia membayangkan mungkin laki-laki itu tengah mabuk dan bisa menyerangnya kapan saja. Astaga, imajinasinya kali ini benar-benar menyiksanya.

*****

 

 

Cicitan burung

Kemarahan Kean masih belum hilang saat ia masuk ke dalam mobilnya. Tangis wanita itu benar-benar mengganggu pikirannya. Sudah sering kali ia mendengar wanita menangis karena cintanya ia tolak tapi tidak pernah sedalam dan semenyakitkan yang beberapa saat lalu ia dengar.

Saat tangis itu terdengar, baru sekitar 10 menit ia bisa memejamkan mata dan mengendalikan pikirannya yang berantakan. Percayalah, tidak hanya gadis itu yang memiliki masalah dan ingin menangis.

“Shhiittt!!! Kepala gue sakit banget lagi!” gerutu Kean seraya mengacak rambutnya yang sudah tidak beraturan.

Sisa-sisa pomade yang mengatur tatanan rambut rapinya kini sudah hilang dan membuat rambutnya tegak berdiri siap meledakkan balon kapan saja. Wajah sudah tidak karuan, tidak lagi terlihat wajah tampan khas pria asia yang selalu membuat para gadis terpesona dan berteriak histeris. Terlalu kuat ekspresi dingin yang terlihat di wajahnya.

Tubuh tegap dan jangkungnya melengkung tengkurap dengan setir mobil sport-nya sebagai sandaran. Ia membentur-benturkan kepalanya ke stir tapi rasa pusingnya tidak kunjung hilang.

Berkali-kali hembusan nafas kasar tersengar dari sela bibirnya yang berisi. Ia menatap jalanan sepi dengan pencahayaan minim yang ada di hadapannya. Sudah jam 2 dini hari dan tidur selama 10 menit saja begitu sulit bagi Kean.

Begitulah Kean, di siang hari ia bekerja seperti orang gila walau tidak di apresiasi dan di malam hari ia berkeliling mencari kesibukan atau tempat yang sekiranya bisa membuat ia terlelap dan melupakan semua masalahnya.

Penyakit Claustrophobia telah benar-benar menyiksanya. Bahkan di dalam rumahnya sendiri ia tidak bisa merasakan ketenangan. Hanya rasa pengap dan sesak yang selalu menyiksanya.

Mesin mobil produksi itali milik Kean kembali menyala. Ia mulai melajukan mobilnya perlahan menyusuri garis pantai yang tadi ramai pengunjung. Jika biasanya ia memacu kendaraannya di atas kecepatan 100 km/jam, kali ini mungkin hanya 20 km/jam. Jendela dan atap mobilnya pun ia biarkan terbuka. Rasanya ini lebih baik dari pada merasa terkurung sendirian.

Banyak hal yang berkecambuk dalam pikiran Kean , tidak hanya masalah phobianya tapi juga masalah kehidupannya.

“Sebagai anak laki-laki, kamu harus memiliki rasa tanggung jawab dalam diri kamu. Apa pun yang kamu lakukan, bertanggung jawab adalah hal utama yang harus dilakukan seorang laki-laki. Jangan lari atau kabur atas perbuatan dan tindakan kamu sendiri.” Kalimat itu terus terngiang di telinga Kean sejak siang tadi.

Adalah Sigit Hardjoyo yang menyampaikan kalimat itu dengan tatapan tajam dan penuh kekecewaan. Baru 2 bulan ia pulang untuk meneruskan salah satu anak perusahaan sang ayah. Namun bukannya membuatnya semakin baik, Kean malah membuat perusahaan rugi hingga milyaran rupiah. Sejarah terkelam perusahaan, ia sendiri yang membuatnya.

Dunia bisnis memang tidak selamanya mulus, banyak kerikil tajam dan batu sandungan yang di hadapi. Namun kondisi terendah seperti ini tidak pernah terbayang dalam pikiran Kean. Kean yang terbiasa bermain-main dan menikmati kekayaan orang tuanya, kali ini diberi tanggung jawab besar oleh ayahnya. Menghamburkan uang sebagai pelampiasan kemarahan dan rasa sepinya, menjadi satu-satunya yang ia lakukan.

Kepulangannya ke Indonesia adalah bentuk paksaan dari orang tuanya. Sang pewaris yang di gadang-gadangkan ayahnya namun di balik itu ia hanya boneka yang tidak memiliki hak untuk berkeinginan apa lagi mengikuti kata hatinya. Ia bahkan bingung, apa yang ia inginkan. Terlalu banyak penentangan dan pergolakan dalam hati dan pikirannya.

Satu kesalahan telah membuatnya jatuh ke lubang terdalam dan nyaris kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya. Untuk alasan itulah ia memerlukan waktu untuk menyegarkan pikirannya. Memikirkan setiap cacian dan tatapan kecewa dari orang-orang yang berada di bawahnya. Tidak kompeten, mungkin itu 2 kata yang cocok di sandingkan dengan dirinya.

Kean masih terus melajukan mobilnya membelah jalanan sepi. Entah ke mana tujuannya, yang jelas ia sedang tidak ingin pulang.

*****

“Krieett...” Disa memutar handle pintu perlahan dan mendorongnya untuk membuka daun pintu yang berat dan kerap berbunyi nyaring saat di buka.

Rumah masih tampak sepi, belum terlihat Meri yang berjibaku mengolah makanan untuk ia jual di siang hari. Disa segera menuju kamarnya yang hanya cukup untuk tempat tidur nomor 3, kamar mandi 1x1 meter dan sebuah lemari yang berdampingan dengan meja rias. Tidak ada jarak yang jauh antara tempat tidur dengan mulut kamarnya. Hingga ia bisa langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur begitu sampai di mulut pintu.

“Huft, cape banget...” Disa membaringkan tubuhnya terlentang di atas tempat tidur. Penampilannya yang tidak karuan dan bau matahari sudah tidak ia hiraukan lagi. Ia hanya ingin memejamkan mata dan mengistirahatkan sejenak tubuhnya.

Disa mengangkat kedua kakinya dan menyandarkannya di dinding kamar. Ia memandang sepasang kaki yang terlihat bengkak di bagian punggung kakinya. Terang saja selama lebih dari 12 jam ia berdiri di tambah harus mengayuh sepeda bolak-balik untuk bekerja tentu membuat betisnya ikut berkedut ngilu.

Atas keibuan, bawah kesebelasan, sepertinya sindiran itu memang cocok disematkan padanya.

Disa menatap kedua kakinya lalu memijatnya perlahan. Ia masih bersyukur memiliki sepasang kaki yang kuat. “Kaki, terima kasih sudah berusaha sangat kuat. Walau kita mendapatkan hasil yang sedikit tapi kita sama-sama tidak menyerah.” Ungkap Disa. Kali ini pandangannya beralih pada kedua tangannya. “Tangan, terima kasih sudah berusaha sangat kuat. Walau kita kesulitan, kita tidak pernah menengadah untuk meminta sesuatu yang bukan hak kita.” lanjutnya Disa seraya membunyikan satu per satu jarinya yang terasa pegal.

Terdengar helaan nafas dalam dari mulut Disa yang perlahan memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya yang singkat. Ya, tidur singkat sebelum Meri kembali membangunkannya yang menyuruhnya membantu menyiapkan barang dagangan.

*****

Cicitan burung terdengar jelas di telinga Disa memaksanya untuk membuka mata. Dengan daun mata yang baru terbuka setengahnya, ia bisa melihat cahaya matahari yang sudah terang menerobos tirai kamarnya.

“Astaga! Kelewat subuh!” seru Disa yang sadar ia sudah kesiangan. Ia segara bangun namun dalam beberapa saat terdengar ia mengaduh. “Adduuhh kesemutan lagii..” Ia merasakan kakinya yang sebagian kesemutan dan sebagian lagi kebas.

Rupanya karena terlalu lelah dan tertidur pulas ia lupa menurunkan kakinya yang menempelkan ke dinding. Untuk beberapa saat Disa hanya bisa berguling-guling di atas tempat tidurnya seraya menunggu rasa kesemutan dan kebasnya hilang.

Sudah jam 8 pagi dan Disa belum bersiap apa pun. Ia segera masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi cepatnya. Ada yang aneh dengan hari ini, Meri tidak meneriakinya ataupun menggedor pintu kamarnya. Entah karena Disa terlalu lelap sehingga tidak mendengar atau karena alasan lain. Setelah memakai bajunya, Disa segera menghampiri Meri yang pasti sudah ada di dapur.

Disa keluar kamarnya dengan berjinjit. Ia celingukan mencari seseorang di dapur, tapi sepertinya Meri tidak ada di sana. Di lihatnya meja makan yang hanya ada nasi kering dan sebungkus kerupuk serta sambal, menu biasanya yang tersaji setiap hari.

“Mana lapar, gag punya uang lagi.” Gumam Disa seraya mengusap perutnya yang keroncongan.

Terdengar suara televisi yang menyala di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Barang yang dilarang untuk dinyalakan karena menghabiskan banyak listrik itu kali ini terdengar begitu heboh. Suara tawa bersahutan yang sepertinya suara para artis membawakan acara musik. Disa memberanikan diri untuk mengintip.

Dari balik dinding Disa mengintip dan tampak Meri yang sedang terbaring di sofa dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Disa segera mendekat.

“Tante sakit?” tanya Disa dengan ragu.

“Kamu pikir tante sedang malas-malasan.” Selalu, ketus adalah bagian tidak terpisahkan dari Meri.

Disa hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O tanpa suara. Ia duduk di dekat ujung kaki Meri yang menggunakan kaos kaki sementara di pelipis kiri dan kanannya di tempeli koyo cabe.

“Kita gag jualan hari ini tan?” Disa menoleh etalase di depan rumahnya yang tampak kosong.

“Mau jualan gimana, ada anak perempuan tapi jam segini baru bangun.” Timpal Meri dengan lirikan tajam.

“Maaf tante, disa kesiangan.” Lirihnya seraya meraih kaki Meri untuk ia pijat.

“Kamu dari mana semalem, tengah malem belum pulang! Mau sok-sok-an ngerayain ulang tahun di ancol?” sinis Meri tanpa menoleh Disa.

“Em, nggak tante. Semalem Disa kerja.” Lirihnya dengan cepat. Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Meri saat mendengar jawaban Disa.

“Jangan alesan! Kalo kerja ya harus ada hasilnya.” Sindir Meri yang kembali fokus menatap layar televisinya dan mengganti chanel untuk mencari acara gosip favoritnya.

Ingin rasanya Disa mengatakan kalau kakak sepupunya lah yang mengambil uangnya tapi ia urungkan, ia tidak mau menambah beban pikiran Meri.

Selama ini Meri sudah sangat bekerja keras. Baginya Damar adalah putra kesayangannya yang sangat ia banggakan. Jika sekarang Disa menceritakan kelakukan Damar selama ini, tentu ia akan sangat sedih.

Dulu kondisi ekonomi keluarga Meri tidak sesulit sekarang. Mereka memiliki kehidupan yang cukup karena Sugih, mendiang om Disa, bekerja di sebuah perusahaan yang cukup bonafit. Namun sepeninggal Sugih 2 tahun lalu, keadaan ekonomi keluarga ini mulai terpuruk.

Meri bekerja dengan menjual masakan dan kue-kue kecil, sementara Damar bekerja di salah satu bengkel dekat rumah mereka. Kuliah Damar harus terhenti karena mereka tidak sanggup untuk membayar biaya kuliahnya. Saat ini sudah cukup beruntung bagi Disa, Meri masih mau merawatnya. Padahal sepeninggal Sugih, mereka tentu sudah bukan siapa-siapa lagi.

Jadi, seketus dan sekasar apa pun Meri saat ini, Disa masih bisa bersyukur ada rumah tempat ia pulang dan masih ada orang-orang yang bisa ia anggap sebagai keluarga. Berdo'a saja semoga suatu saat hati Meri melunak.

*****

 

 

Kampus

“Tante, Disa ke kampus dulu yaa..” pamit Disa saat melihat Meri yang masih terbaring di tempatnya semula.

Ia meraih tangan Meri untuk ia cium dan meminta restu wanita ini dalam hatinya.

“Hem..” hanya itu jawaban Meri.

Disa mengabaikan saja sikap dingin Meri dan memilih untuk berangkat ke kampus.

Dengan sebuah bis Disa bergegas menuju kampusnya. Pagi yang ramai dengan orang-orang yang sama-sama sibuk memulai rutinitasnya, membuat Disa harus berjejalan saat naik bis dan terpaksa berdiri sambil berpegangan pada besi di depannya. Ia memeluk beberapa buku di dadanya. Ia berharap tidak terlambat karena kelas akan segera di mulai.

Seperti biasa, kampus sudah mulai ramai dan anak-anak mulai memenuhi ruangan kelas. Disa duduk di tempat biasa, kursi paling belakang di samping jendela. Ia mulai mengeluarkan buku sketsa yang sudah disiapkannya sejak beberapa hari.

“Lo bikin aksesoris apa?” tanya seorang gadis yang tidak lain adalah Rianti, teman sekampusnya.

“Oh hay ri, gue bikin design gelang.” Tutur Disa seraya menunjukkan sketch book-nya.

“Wah bagus sa,, Materialnya apa?” Rianti melihat dengan seksama design milik Disa.

“Emm... Gue ngebayangin ini terbuat dari biji pandan yang diukir dan dibentuk diamond.” Disa membayangkan biji-bijian tersebut di benaknya.

“Biji pandan?” Rianti tampak penasaran dengan ide unik milik Disa.

“Iyaa... Di beberapa daerah banyak yang menanam pandan dan menjadikannya tikar tapi untuk bijinya jarang diolah. Nah, kalo bisa bikin aksesoris dari biji pandan dan sampe terkenal, akan banyak orang yang mendapatkan keuntungan bukan?” tutur Disa meyakinkan Rianti.

“Heemm... Iya juga sih... Sumber bahannya banyak yaaa...” Sepertinya Rianti mulai menyukai ide Disa.

Disa hanya terangguk seraya tersenyum. Ia kembali menggoreskan pensilnya di atas sketch book untuk merapikan design yang di buatnya.

Memperhatikan Disa yang tampak serius, sepertinya Rianti ingin mengatakan sesuatu. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan dan pandangannya tidak lepas dari teman sekelasnya. “O iya sa, gue ngeliat nama lo di papan pengumuman. Kalo gag salah lo di suruh ngehadap dosen kemahasiswaan.” ujarnya dengan ragu.

“Oh ya? Kapan?”

“Kurang tau persis kapan, tapi coba lo liat lagi di papan pengumuman.” Terang Rianti.

Tanpa menunggu lama Disa segera membereskan bukunya dan bergegas menuju ruang dosen kemahasiswaan. Rasanya ia tahu apa yang menyebabkan ia harus menghadap.

****

Saat ini Disa tengah duduk di hadapan dosen pembimbing akademiknya. Ia mendapat surat panggilan untuk ke tiga kalinya karena masalah biaya kuliah. Tangan Disa masih gemetar saat melihat surat yang ditujukan untuknya.

“Disa, saya paham, untuk masalah ekonomi memang cukup berat. Saya juga sudah bantu untuk menjelaskan ke pihak kampus dengan menunjukkan bukti nilai kamu yang sangat baik. Tapi, peraturan tetaplah peraturan. Kamu bisa terancam DO dari sini.” Tutur Hilman, dosen kemahasiswaannya.

Disa memang anak yang cerdas. Ia kerap mendapatkan nilai nyaris sempurna di tiap semesternya selama 2 tahun perkuliahan. Tapi lagi, masalah ekonomi harus membuatnya mengurungkan niatnya untuk lulus dari salah satu universitas unggulan ini.

Disa terangguk paham. Setelah Damar yang terpaksa DO dari kampus, mungkin kali ini gilirannya.

Melihat ekspresi wajah Disa, rasanya Hilman sedikit iba. Disa memang salah satu mahasiswi terbaik. Selain ia memang mumpuni di kelasnya, ia pun sangat jago melukis. Ruang seni kampus banyak memajang lukisan buatannya yang terlihat begitu artistik.

“Disa, boleh saya ngasih saran?” Hilman menatap lekat wajah manis di hadapannya. Disa terangguk seraya mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. “Saya tau ini bukan solusi tapi, bagaimana kalau kamu mengajukan dulu cuti kuliah?”

“Maksud bapak?”

Hilman menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia mencondongkan tubuhnya pada Disa dengan suara yang lebih pelan.

“Saat kamu cuti kuliah, kamu di bebaskan dari biaya kuliah yang harus kamu bayar tiap semesternya. Kamu bisa cuti maksimal 2 tahun dan selama itu kamu bisa mengumpulkan biaya kuliah. Jadi saat kamu ingin melanjutkan kembali kuliah kamu, kamu tidak perlu memulainya dari awal lagi. Bagaimana?”

Disa hanya bisa  terpaku seraya menatap sang dosen di hadapannya. Ia masih perlu berpikir dan belum bisa memutuskan. 2 tahun memang waktu yang cukup lama tapi ia tidak bisa menjanjikan dalam 2 tahun ia bisa mengumpulkan biaya untuk kuliah.

“Saya akan memikirkannya pak.” Hanya itu jawaban sementara Disa yang di angguki paham oleh Hilman.

"Kabari saya saat kamu sudah membuat keputusan."

"Baik pak, terima kasih." tandas Disa kemudian.

Disa beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya gontai keluar dari ruangan Hilman. Di tangannya masih ada surat pemberitahuan dari kampus yang entah harus ia apakan. Pikirannya kosong, ia bahkan belum tahu harus seperti apa ia menyampaikan berita ini pada Meri dan tentu saja pada neneknya, Jenar.

"Cucuku calon sarjana, nanti kampung kita akan merasa bangga." Masih teringat jelas di benak Disa saat kalimat penuh kebanggan itu diungkapkan Jenar.

Disa menghela nafasnya dalam, berusaha menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba datang. Tangannya meremas kertas yang ada di tangannya, mungkin ia tidak bisa mewujudkan harapan Jenar.

"Maaf nek,.." gumamnya dengan berat hati. Ia menarik nafasnya dalam dan mengurut dadanya yang terasa ada yang mengganjal.

“Duk!” karena melamun, tanpa sengaja Disa menabrak seorang laki-laki.

“Maaf..”

“Maaf..” ujar keduanya bersamaan.

Disa segera mengusap air matanya dan menengadahkan wajahnya sebelum menatap laki-laki jangkung yang ada di hadapannya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya laki-laki tersebut saat melihat mata Disa yang masih basah.

Disa hanya terpaku. Laki-laki tampan di hadapannya terasa menyihir matanya untuk tidak berkedip. Seperi ada matahari yang menjadi latar laki-laki dengan tampilan rapi dan klimis ini. Di tangannya ia membawa sebuah buku tebal dengan tas punggung yang terlihat berat. Sungguh menyilaukan mata sendu Disa.

“Kamu tidak apa-apa?” laki-laki tersebut mengulang kalimatnya seraya mengibas-ibaskan tangannya di depan mata Disa.

“Oh iya, saya baik-baik saja.” Sahut Disa yang gelagapan. Laki-laki itu tersenyum tipis, sangat manis dan nyaman di pandang mata.

“Kamu mahasiswi di sini?” tanya laki-laki itu selanjutnya.

Disa mengangguk. “Dan sebentar lagi akan menjadi alumni dengan catatan khusus.” Lirihnya yang tidak begitu terdengar oleh laki-laki tersebut.

“Saya mencari ruang dekan, di sebelah mana ya?”

Kali ini Disa memandangi laki-laki itu lebih seksama. Dari penampilannya sepertinya ia bukan mahasiswa.

“Di lantai 5..” Disa refleks mengacungkan telunjuknya ke atas.

“Okey, terima kasih.” Timpal laki-laki itu seraya tersenyum. Disa hanya mengangguk pelan, matanya masih mengikuti arah langkah laki-laki tersebut hingga menghilang dari pandangannya.

“Cakep banget... Kenapa aku baru liat pas udah mau keluar dari kampus ini?” lirihnya.

Ada raut kecewa di wajah manis Disa. Mengingat penampilan laki-laki tersebut membuat Disa menghadapkan tubuhnya pada kaca jendela di sampingnya. Ia memegang baju yang di pakainya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.

“Astaga, kasta kami berbeda. Kamu mikir apa disa...” gumam Disa seraya mengacak rambutnya kesal.

Ya jelas sangat berbeda. Laki-laki tampan yang rapi dan wangi dengan outfit modern dan pasti berharga fantastis dengan dirinya yang hanya mengenakan celana jeans nyaris belel dengan kemeja putih yang mulai berubah warna menjadi warna gading. Sangat jauh bandingannya.

“Sudahlah disa, bukan waktunya untuk memikirkan khayalan menjadi cinderela.” Gumamnya seraya berlalu pergi meninggalkan bangunan kampus yang mungkin akan menjadi tempat ia memulai sekaligus mengubur semua mimpinya.

****

Meninggalkan bangunan megah kampusnya, Disa pergi ke tempat peminjaman buku di dekat kampus. Ia bahkan tidak lagi menemui Rianti teman kuliahnya untuk sekedar berpamitan. Tugas terakhirnya sebagai mahasiswi ia serahkan langsung ke dosennya sebagai bentuk perpisahan. Mungkin benar, ia harus mulai mengakhiri mimpinya.

“Selamat siang pak, saya mau mengembalikan buku.” Sapa Disa pada seorang laki-laki paruh baya yang tengah menjaga toko bukunya. Laki-laki itu biasa di sapa Pak Hamid.

“Oh nak Disa, udah selesai bacanya?” ia mulai mencari nomor pelanggan Disa di komputer jadulnya.

“Sudah pak.” Disa mengembalikan kelima buku yang dua minggu lalu di pinjamnya. “Berapa pak? Buku yang ini saya telat 3 hari pengembaliannya.” Disa menunjukkan buku fashion “How to Be Parisian Wherever You Are: Love, Style, and Bad Habits” karya tangan - Anne Berest.

“Oh gag pa-pa, kamu pelanggan tetap toko ini jadi gag saya kenakan denda.” Ungkap Hamid dengan senyum lebarnya. “Oh iya, saya ada buku baru. Ini dikirim sama anak saya yang kerja di luar negri.”

Hamid tampak mengambil buku yang masih berada di dalam kardus.

“Nih buku barunya, The Little Dictionary of Fashion: A Guide to Dress Sense for Every Woman karya Christian Dior. Kamu pasti suka.” Hamid menyerahkan buku berhard cover warna abu tersebut pada Disa.

“Wah ini buku bagus pak...” Mata Disa terlihat berbinar-binar.

Tentu saja Christian Dior adalah salah satu fashion designer favorit Disa. Karena banyak membaca tentang tokoh inilah Disa mulai memiliki mimpi sebagai fashion designer di samping kecintaannya pada melukis.

“Ya udah, kamu baca dulu sambil menunggu hujan reda.” Timpal Hamid.

Disa menoleh ke belakang, benar saja, beberapa saat lalu hujan mulai turun. Untuk beberapa saat Disa memandangi butiran air yang turun semakin deras. Sepertinya ia memang tidak bisa pulang cepat. “Ya udah, saya pinjam dulu pak. Nanti bayarnya sekalian.” Sahutnya.

Hamid hanya mengangguk sebagai respon.

Disa memilih tempat di pinggir kaca jendela untuk membaca buku di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya juga ada beberapa orang yang juga asyik membaca berbagai buku ataupun komik. Disa memesan minuman hangat untuk menemaninya menghabiskan waktu.

“Eh, nak reza... Ayo masuk nak..” sambut Hamid beberapa saat setelah suara ketukan di kaca jendela berbunyi.

Seorang laki-laki masuk dan membuat riuh suasana karena bisik-bisik para gadis.

“Apa kabar pak? Lama gag ketemu.” Laki-laki bernama Reza itu menjabat tangan Hamid kemudian menciumnya dengan sopan.

“Iya lama gag ketemu, ayo kita ngobrol di sana.” Hamid mengajak Reza masuk ke salah satu ruangan yang sepertinya ruang tamu rumah sekaligus toko Hamid. Mereka menghilang di balik tembok ruangan tersebut.

“Itu kayaknya mahreza adji, sang pianist itu kan?” bisik salah satu wanita pada rekannya.

“Iya, kabarnya dia akan mengajar di fakultas seni. Waahh seneng banget dong yaa anak seni dapet dosen ganteng level malaikat gitu.” Ungkap  gadis satunya. Mereka terkekeh lirih seraya menyembunyikan wajahnya di balik buku.

Disa hanya melirik kedua gadis tersebut saat Disa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tidak terlihat laki-laki tampan mana pun. Ia kembali fokus pada bukunya.

****

 

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!