NovelToon NovelToon

Namaku Aya

Eps. 1

Aya baru saja menjadi murid sekolah menengah atas. Aya bersekolah di salah satu sekolah swasta yang ada di dekat rumahnya. Kehidupan Aya sama saja seperti kebanyakan remaja lainnya. Selain sekolah, kegiatan Aya lainnya, hanya membantu ibunya di rumah.

Aya bersekolah dari siang hingga sore hari. Karena sang ibu berdagang lauk matang di teras rumah mereka, ketika pagi hari, Aya pun sibuk membantu ibunya memasak. Aya juga sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk dibawa oleh ayahnya ketika bekerja.

"Terimakasih, anak sholehah ayah," ucap sang ayah, ketika Aya memberikan bungkusan bekal makan siang untuk sang ayah.

"Sama-sama ayah yang paling baik sedunia," ucap Aya sembari mencium tangan sang ayah. Pak Budi—ayahnya Aya, selalu membelai lembut rambut Aya ketika anak itu mencium punggung tangannya.

"Buk ... ayah berangkat dulu ya," ucap pak Budi. Bu Retno yang tengah melayani pembeli pun menyodorkan pipinya hingga suaminya itu bisa mengecupnya.

"Duh ... pamer kemesraan terus deh Bu Retno dan Pak Budi," ucap salah satu pelanggan warung Bu Retno. Kedua orang tua Aya pun hanya tertawa kecil menanggapinya. Aya pun merasa sangat bahagia dengan kehidupannya. Walaupun bukan orang berada, namun hidup Aya dan keluarganya, begitu penuh cinta.

Menjadi anak seorang buruh bangunan, tidak membuat Aya berkecil hati. Dia bahkan sangat menyayangi ayah dan ibunya. Aya pun selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah, bahkan Aya selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Berkat prestasinya, Aya pun selalu mendapat beasiswa sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Kehidupan Aya berubah drastis, semenjak sang ayah mengalami kecelakaan kerja, dan pihak kontraktor tidak mau bertanggung jawab untuk pengobatan sang ayah. Kecelakaan itu membuat sang ayah menjadi lumpuh. Hal tersebut mau tidak mau, membuat Aya ingin berhenti sekolah, dan membantu perekonomian keluarganya.

"Bukan begini caranya, Ya. Kalau kamu tidak melanjutkan sekolah, kehidupan kita akan terus seperti ini. Kamu anak ayah dan ibu satu-satunya. Kami berdua ingin kamu jadi orang sukses, Nak," ucap Retno—ibunya Aya.

"Trus biaya sekolah Aya bagaimana Bu? kalau hanya mengandalkan penghasilan ibu berjualan lauk, pasti tidak akan cukup," ucap Aya.

"Kamu kan dapat beasiswa Ya, jadi kita hanya tinggal berpikir untuk uang buku dan seragam kamu aja."

Aya terus saja memikirkan pendidikannya. Sebenarnya dia sangat ingin melanjutkan pendidikannya, bahkan ingin berkuliah. Namun pikirannya terus tertuju untuk pengobatan sang ayah, juga kehidupan sehari-hari mereka.

.

Sore ini, Aya baru saja pulang dari sekolah, dan sedang berjalan menuju rumahnya. Gadis itu terus menerus menghela napas dengan wajah cemberutnya.

"Aya ... Aya ...!"

Aya pun menoleh ketika ada yang memanggilnya, dan gadis itu langsung tersenyum ketika melihat orang yang memanggil dirinya adalah bu Lina, salah satu orang terpandang di daerah tempat tinggal Aya.

Bu Lina adalah salah satu pelanggan tetap bu Retno. Setiap pagi Aya selalu mengantarkan lauk pesanan bu Lina.

"Ada apa Bu?" tanya Aya, ketika dia sudah menghampiri bu Lina.

"Aya, kamu ada kenal orang yang mau jadi asisten rumah tangga gak? cuma cuci setrika dan beberes rumah, bekerjanya hanya pagi aja kok," ucap bu Lina.

"Aya mau Bu," jawab Aya.

"Memangnya kamu sudah lulus sekolah?"

Aya menggelengkan kepalanya, dan menceritakan mengenai kondisi sang ayah. Karena merasa iba, bu Lina pun menerima Aya untuk bekerja di rumahnya.

Dengan langkah girang, Aya pun bergegas menuju rumahnya. "Bu ...," ucap Aya yang sudah memeluk ibunya yang tengah menyapu halaman, sore itu.

"Senang banget kamu, ada apa?"

"Aya dapat pekerjaan Bu," ucap Aya girang.

Bu Retno pun menatap kecewa, "kan sudah ibu bilang kemarin, ibu dan ayah mau kamu sekolah yang bener. Jangan memikirkan hal lain. Kamu harus terus bersekolah, Aya," ucap Bu Retno sendu.

"Aya tetap sekolah seperti biasa kok Bu," ucap Aya. Aya pun menceritakan mengenai pekerjaan barunya.

"Apa nanti sekolah kamu tidak terganggu?" Aya pun menggelengkan kepalanya. "Ibu tenang aja, Aya bisa bagi waktu," ucap Aya meyakinkan.

Dan sejak itu, Aya menjadi asisten rumah tangga paruh waktu, demi mengumpulkan uang, untuk tabungan masuk ke perguruan tinggi tahun depan.

Setiap pagi, sembari mengantarkan masakan pesanan bu Lina, Aya pun lanjut bekerja di rumah itu. Begitu tiba di rumah Bu Lina, dengan arahan sang majikan, Aya mulai mengambil pakaian yang menumpuk di keranjang khusus pakin kotor, dan memasukkannya ke mesin cuci. Bu Lina pun mengajari Aya memakai alat itu.

Sembari menunggu pakaian selesai di cuci, Aya pun membersihkan rumah yang cukup luas itu. Aya bekerja dengan penuh semangat. Bahkan, sesekali terdengar suara gadis itu bernyanyi kecil, bu Lina pun sangat senang melihatnya.

Aya selesai membersihkan rumah itu, tepat lima menit sebelum mesin cuci selesai beroperasi. Aya pun mengeluarkan pakaian-pakaian yang telah dicuci itu dari sana, kemudian menjemurnya.

Pekerjaan Aya tidak hanya sampai di situ, Aya juga harus menyetrika pakaian yang telah di cuci kemarin.

Tepat jam sepuluh pagi, Aya sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Gadis itu pun berjalan pulang. Sesampainya di rumah, Aya langsung membantu ibunya mencuci alat masak dan piring-piring kotor sehabis memasak tadi subuh.

"Sudah, kamu istirahat aja Ya. Nanti siang ibu yang cuci," ucap bu Retno.

"Gak apa-apa Bu. Ibu kan udah capek, Aya masih kuat kok," ucap Aya. Bu Retno tersenyum lembut kepada anak gadisnya itu. Wanita paruh baya itu pun mengelus kepala Aya. "Ibu beruntung banget, punya anak seperti kamu," ucap bu Retno.

Aya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, membersihkan rumahnya sendiri. Setelah tepat jam dua belas siang, Aya pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.

...****************...

.......

.......

.......

...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...

...BERI HADIAH & VOTE yaaa .......

...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

Eps. 2

Hari ini seperti biasa, setiap jam tiga dini hari, bu Retno melajukan sepeda motornya, untuk berbelanja bahan makanan ke pasar. Semenjak pak Budi sakit, bu Retno terpaksa harus berbelanja ke pasar seorang diri.

Sehabis berbelanja, bu Retno langsung melajukan kendaraannya menuju rumah. Begitu tiba di rumah, bu Retno mulai menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak hari itu.

Sementara Aya, baru terbangun dari tidurnya, setelah adzan subuh berkumandang. Gadis itu bergegas sholat, kemudian membantu pekerjaan ibunya. Bu Retno pun langsung membersihkan diri, kemudian lanjut sholat subuh, sebelum akhirnya kembali memasak.

"Udah, kamu istirahat aja lagi, nanti jam tujuh kan harus bekerja. Ibu bisa kok sendiri," ucap Bu Retno.

Namun Aya hanya tersenyum dan tidak mengindahkan ucapan sang ibu. Semua masakan itu selesai di masak, tepat pukul enam pagi. Aya pun membantu sang ibu menata lauk-pauk itu di etalase.

Ada beberapa pelanggan yang sudah mengantri, untuk membeli lauk-pauk masakan Bu Retno. Sementara ibunya melayani pembeli, Aya pun menyiapkan sarapan buat sang ayah.

"Terimakasih, anak sholehah ayah," ucap pak Budi dengan air mata yang tidak bisa ditahannya. Pak Budi benar-benar merasa sedih saat ini. Hatinya hancur, ketika mendengar dari sang istri, jika Aya bekerja menjadi asisten rumah tangga paruh waktu di rumah bu Lina.

"Ayah kenapa? Ada yang sakit?" tanya Aya. Pak Budi menggelengkan kepalanya, "ayah hanya sedih, karena membuat anak sholehah ayah kesusahan," ucap pak Budi.

"Aya gak pernah merasa susah, Yah. Aya justru bahagia, bisa meringankan beban ayah dan ibu," ucap Aya. Gadis itu pun sarapan bersama dengan sang ayah.

Dan ketika waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Aya pun bergegas mengantarkan lauk pesanan bu Lina, sekaligus langsung mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ditugaskan kepadanya.

.

Hari demi hari berlalu, sudah satu bulan Aya bekerja di rumah bu Lina. Kini saatnya Aya menerima penghasilan pertamanya. "Ini Ya, semoga kamu betah ya, kerja di sini. Saya suka dengan hasil kerja kamu," ucap bu Lina.

Aya pun tersenyum dan mengangguk, "terimakasih Bu. Aya juga senang bisa bekerja di sini," ucap Aya.

Sesampainya di rumah, Aya melihat isi amplop itu bersama kedua orang tuanya. "enam ratus ribu, Bu," ucap Aya senang. Melihat binar di wajah Aya, bu Retno pun tersenyum.

Aya kemudian menyerahkan separuh penghasilannya kepada bu Retno. Namun ibunya itu menolak, "buat tabungan kamu aja, Ya,"ucap bu Retno. Aya pun menganggukkan dan memeluk ibu dan ayahnya bergantian.

......................

Waktu berjalan dengan cepat, kini Aya sudah lulus SMA. Aya juga termasuk salah satu siswa dengan nilai ujian akhir tertinggi di sekolahnya. Sebenarnya Aya ingin mengikuti ujian penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Namun karena keterbatasannya, Aya pun memilih perguruan tinggi swasta khusus karyawan, sehingga dia bisa berkuliah di malam hari.

Setelah lulus SMA, Aya diterima bekerja sebagai cleaning service di sebuah gedung perkantoran di pusat ibukota. Bahkan gedung itu tidak jauh dari kampus Aya.

Seperti biasa, setiap selesai sholat subuh, Aya membantu ibunya, namun dia tidak bisa membantu terlalu lama, karena pada pukul 06:00 WIB, Aya harus berangkat bekerja.

Aya bekerja dari jam 07:00 WIB hingga pukul 18:00 WIB. Setelah selesai bekerja, Aya akan lanjut berkuliah hingga jam 21:00 WIB. Aya baru tiba di rumah pukul 22:00 WIB.

Ketika melihat Aya di ujung jalan, bu Retno berlari kecil ke dapur rumahnya, kemudian kembali keluar rumah sembari membawa teh manis hangat.

"Assalamualaikum ...," ucap Aya kemudian mencium punggung tangan ibunya. Setiap malam, bu Retno selalu menanti anak gadisnya itu di teras rumah.

"Wa'alaikumussalam, capek Nak?" tanya bu Retno. Aya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bu Retno pun memberikan teh manis hangat tersebut untuk Aya.

"Bu, gak perlu membuatkan Aya teh manis setiap malam. Kalau Aya mau, Aya bisa buat sendiri kok," ucap Aya.

"Gak apa-apa, udah cepat duduk dan minum tehnya, keburu dingin," ucap bu Retno. Aya pun menuruti ucapan ibunya. Setelah itu Aya pun membersihkan diri dan beristirahat. Karena besok subuh, dia harus kembali dengan rutinitasnya.

Setiap hari, Aya selalu membawa tas yang sangat penuh, karena di dalam tas miliknya itu, selalu ada bekal makan siang, sekaligus makan malam. Tidak lupa, Aya juga membawa buku-buku perkuliahannya.

Aya selalu belajar, disela-sela waktu istirahatnya. Tak jarang Aya juga sering mendapatkan tip dari beberapa karyawan di gedung itu, karena sering membantu mereka membelikan makanan dan lainnya.

Kesibukan Aya, membuatnya hanya bisa berkumpul dengan orang tuanya pada hari Minggu. Karena di hari Sabtu pun, Aya harus berkuliah dari pagi hingga siang hari.

...****************...

.......

.......

.......

...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...

...BERI HADIAH & VOTE yaaa .......

...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

Eps. 3

Wajah Aya yang manis, dan sikapnya yang santun serta pekerja keras, membuat gadis itu banyak disukai di lingkungan kerjanya. Bahkan banyak pria yang jatuh hati dengan Aya, walaupun gadis itu hanya seorang cleaning service.

Aya berusaha menghindari pria-pria yang mendekati dirinya. Karena Aya benar-benar ingin fokus bekerja dan kuliah. Karena setelah lulus kuliah, Aya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik.

Bulan demi bulan pun berlalu, sudah hampir tiga tahun Aya menjalani kehidupannya sebagai cleaning service sekaligus mahasiswi. Dengan bekal tabungan gajinya, Aya pun menyewa kursi roda, agar ayahnya dapat menghadiri hari kelulusannya. Air mata pak Budi dan bu Retno tak berhenti menetes, ketika melihat Aya memakai toganya.

Aya pun menatap ijazahnya, "Ayatul Husna, A.Md." Gadis itupun tersenyum simpul saat melihat nama yang tertera di ijazah itu.

Keesokan harinya, Aya pun kembali bekerja seperti biasanya. "Mau ke mana Ya?" tanya salah satu tetangga Aya. "Mau pergi kerja Bu."

"Masih jadi tukang bersih-bersih kamu?"

Aya hanya tersenyum dan mengangguk lalu beranjak dari sana.

"Orang susah aja, gaya-gayaan kuliah. Ujung-ujungnya jadi tukang bersih-bersih juga."

Aya hanya bisa menghela napas mendengar ucapan tetangganya yang terkenal nyinyir itu. Pukul 07:00 WIB, Aya pun tiba di gedung perkantoran itu.

Bekerja di gedung perkantoran, mempunyai keuntungan tersendiri buat Aya. Gadis itu pun mengetahui lowongan kerja terbaru di beberapa perusahaan yang berkantor di gedung itu. Hingga satu bulan sejak kelulusannya, Aya diterima bekerja sebagai salah satu staff administrasi di salah satu perusahaan logistik terbesar di Indonesia.

Dengan besaran gaji yang dia terima sekarang, Aya merasa sanggup untuk membiayai kehidupan dirinya dan kedua orang tuanya. Aya pun meminta ibunya untuk tidak berdagang lagi dan fokus mengurus sang ayah.

"Biar Aya yang menanggung semuanya Bu, Aya sanggup," ucap Aya. "Penghasilan berdagang lauk-pauk itu lumayan Ya. Bisa buat tambahan biaya pengobatan bapak."

"Sekarang kan biaya pengobatan bapak ditanggung asuransi kantor Aya."

Akhirnya Bu Retno pun menyetujui permintaan anaknya. Karena penyakit suaminya, semakin lama, semakin bertambah parah. Berulangkali istrinya mengingatkan sang suami untuk terus berpikir positif dan berserah diri. Namun beban pikiran pak Budi, membuat penyakitnya bertambah parah.

Waktu berlalu, dan saat ini Aya sudah bekerja di perusahaan besar itu selama enam bulan. Penyakit sang ayah pun semakin bertambah parah. Bahkan pak Budi kini tidak dapat lagi menggerakkan anggota tubuhnya.

Sebenarnya Aya ingin sekali merawat ayahnya. Apalagi ketika melihat wajah lelah ibunya setiap hari. Aya merasa menjadi anak tidak berbakti, karena tidak bisa merawat kedua orang tuanya dengan baik. Namun, Aya harus menguatkan dirinya, karena dia harus mencukupi kebutuhan keluarganya.

Aya hanya bisa membantu sang ibu, ketika akhir pekan tiba. Setiap akhir pekan, Aya membersihkan seluruh rumahnya. Gadis itu pun memasak untuk kedua orang tuanya. Dia juga menyuapi ayahnya dengan telaten. Aya bahkan membeli alat pijat elektrik untuk sang ibu.

Walaupun Aya dan ibunya sama-sama lelah, tapi mereka berdua tidak pernah mengeluh dengan keadaan dan hidup yang mereka jalani.

Namun takdir berkata lain, baru satu tahun Aya bekerja di perusahaan logistik itu, pak Budi — ayahnya Aya, harus menghadap sang pencipta. Aya pun harus kehilangan cinta pertamanya.

Itulah pertama kalinya Aya merasa terpuruk, seolah dunianya ikut rubuh. Saat inilah, untuk pertama kalinya, Aya mengeluh. Saat ini, untuk pertama kalinya, Aya bertanya 'mengapa' kepada sang pencipta.

Adzan ashar berkumandang, ketika Aya dan bu Retno tiba dari pemakaman pak Budi. Aya pun bergegas mengambil wudhu dan menyapa penciptanya.

"Kenapa kau cepat sekali memanggil ayahku, ya Allah. Aku bahkan, belum bisa membahagiakan ayah," ucap Aya terisak di sela do'anya. Aya bahkan terus mengeluhkan kepergian ayahnya.

Bu Retno yang mendengar ratapan Aya, langsung menghampirinya. Sang ibu pun menguatkannya. "Allah tau yang terbaik buat hambanya," ucap bu Retno.

"Mungkin ini yang terbaik buat ayah, buat kita juga. Ayah sudah sakit bertahun-tahun. Dengan begini, ayah tidak perlu merasa sakit lagi. Dan kita berdua bisa belajar untuk saling menguatkan," lanjut bu Retno. Aya sebenarnya paham akan hal itu. Tapi rasa sesak yang mengganjal di hati, membuat dirinya terus mengeluh.

"Kita harus ikhlas, Ya. Kita juga harus yakin dengan ketentuan Allah," ucap bu Retno lagi. Aya pun menganggukkan kepalanya, kemudian menghambur ke pelukan sang ibu.

...****************...

.......

.......

.......

...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...

...BERI HADIAH & VOTE yaaa .......

...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!