NovelToon NovelToon

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

Perkenalan

Maya Anggraini, begitulah namaku tertulis lengkap. Teman-teman memanggilku May, Maya. Aku bukan siswa populer, istilahnya kuper, kurang pergaulan. Keseharianku hanya berkutat pada buku, pelajaran, anime Detektif Conan. Tidak heran kacamata bertengger disangga hidung mungilku karena kegemaran membaca itu. Sahabatku hanya yang berjalan pulang searah ke rumahku. Aturan di rumahku adalah, begitu pulang sekolah, langsung ke rumah. Kesibukan kedua orang tuaku membuatku hidup mandiri. Sendiri di rumah karena aku anak tunggal, membuatku mengerjakan pekerjaan rumah tanpa berbagi dengan yang lain. Nasib anak tunggal. Teman sekolah yang tidak sekelas akan membaca namaku di peringkat teratas setiap kali pengumuman hasil ujian. Begitulah, hidupku hanya sederhana saja.

Herryl Hardiansyah

Seorang Ketua OSIS yang ramah pada semua orang, supel, pergaulannya luas. Anak orang kaya yang suka bergabung dengan anak kampung sekitar komplek perumahannya. Terkenal ramah dan memiliki banyak penggemar. Soal pelajaran masih jauh di bawah Maya tapi juga termasuk yang bisa diandalkan.

Hardi Shiratori

Siswa kelas 3-1 SMA Angkasa. Ketua karate yang juga teman TK Maya. Keturunan Jepang dari ayahnya dan Palembang dari ibunya. Ramah, suka menolong, bertanggung jawab.

Riana

Sahabat Maya, teman SD Maya. Anak orang kaya yang ramah dan menerima kekurangan Maya terkait cinta.

 

Hai, salam kenal. Kali ini sya mau menuliskan kisah Maya dan Herryl. Selamat menikmati. foto mereka menyusul, ya, masih mencari sosok yang tepat. nggak terlalu bening tapi manis. Maya berkacamata, Herryl tinggi banget karena hobi voli. Tentunya, kulit Herryl juga coklat. Ada ide?

Oh iya, mohon maaf bila ada kemiripan cerita. Saya terinspirasi dari kisah seorang teman. Apa kisahnya akan sama saja dengan kisah lainnya? Semoga ada yang sedikit berbeda, yaaaa. Berharapnya sih banyak bedanya, hehehehe. Semoga sukaaaa.

...INFO...

Novel ini segera terbit, cek di akun IG saya untuk infonya

...GIVEAWAY...

Hei ho!! Hai halo hai, temans. Sya mau mengadakan giveaway kecil-kecilan di novel ini. Pulsa 50ribu, 30ribu, dan 20ribu untuk 3 pemenang. Caranya? Kasih dukungan terus ke novel ini. Vote, gift, like, apapun itu yang membuat kalian berada di rank 2, 3, dan 4 pendukung novel ini. Waktunya satu bulan, kok. Sejak 2 Agustus 2021 sampai 2 September 2021. Pemenang diumumkan 5 September 2021 di novel ini. Oke, semoga beruntung ^_^

...PENGUMUMAN PEMENANG...

Hai halo hai, sudah diumumkan di novel ini, ya. Selamat untuk para pemenang. Berhubung Maya adalah penggemar Conan, pengumumannya juga bisa ditemukan dengan cara detektif.

Jaa, matta ne ^_^

Ujian Semester 1

"Selamat pagi," ucap seorang pria muda yang kutaksir usianya masih dua puluhan tahun. Kemeja biru muda dengan lengan panjang yang digulung sampai ke siku menjadi outfit hari ini untuknya. Sepertinya ia guru dari sekolah lain. Begitulah aturan di sekolah kami, SMA Angkasa, setiap mengadakan ujian selalu mendatangkan pengawas dari sekolah lain yang masih berada dalam satu yayasan. Menurut desas-desus yang kudengar, kebijakan itu untuk mencegah bocornya jawaban selama ujian.

"Selamat pagi, Pak," jawab kami para murid kelas 3 dan kelas 2. Ruangan mulai hening dari keriuhan sejenak tadi. Tanpa diperintah, kami mengeluarkan papan alas dan alat tulis. Bersiap menjawab berbagai soal tertulis.

Hei, tadi kubilang kelas 3 dan 2? Yap, kalian tidak salah membaca, kok. Selama ujian, posisi duduk kami dibuat berdampingan. Teman sebangku kelas 3 adalah kelas 2. Kalau yang beruntung bisa bertanya pada teman sebangkunya--tanpa ketahuan pengawas tentu.

Bagaimana denganku? Siswa yang duduk di sampingku ini tidak kuketahui namanya sampai tadi ia mengenalkan diri. Percaya diri sekali, bukan? Lagipula, siapa dia? Hanya siswa yang kulihat hobi bermain voli, itu saja.

Bagaimana aku tahu? Aku sering melihatnya bermain voli saat pergi ke koperasi sekolah atau ke toilet yang lokasinya melewati lapangan sekolah. Aku yang siswi biasa tidak berminat mencari tahu siapa dia.

"Baik. Kenalkan, saya Darrel, pengawas kelas ini untuk ujian matematika. Sekarang saya bagikan lembar soal, kertas buram, dan lembar jawaban. Tolong dioper ke teman di belakangnya, ya," ucap Pak Darrel. Kami menjawab serempak dan melaksanakan sesuai arahannya. Kuangsurkan lembaran yang kuterima dari bangku depan ke belakang, memastikan teman-teman mendapat semua kertas yang dibutuhkan.

Tapi, kok aku tidak mendapat kertas buram?

"Ini, aku bisa minta lagi," ujar lelaki di sampingku sambil mengangsurkan kertas buram. Aku hanya bisa mengangguk, berterima kasih padanya.

"Terima kasih," ucapku. Segera kukerjakan soal-soal yang ada dengan lancar. Syukurlah, soal yang diberikan sesuai dengan materi pemberian guru kami, Pak Handoyo.

Kesibukanku yang mengasyikkan harus terjeda dengan diangsurkannya sebuah rautan merah kecil di meja kami, aku dan adik kelasku itu. Rima adalah pelaku peletakan rautan tersebut.

"May, lo pinjem rautan, kan?" sapanya bertanya. Kutautkan alis. Tangan Rima memberi kode agar aku mengambil rautan tersebut. Kuturuti maunya, dan ... Tadaaaa. Selembar kertas kecil menyelip di dalam rautan tersebut. Kuambil kertas itu dan membukanya. Ada sekitar 10 nomor soal yang kuyakini harus dijawab. Aku mendengus sebal. Selalu begini. Mereka mengenalku hanya saat ujian. Selebihnya? Mereka hanya menyapa sekadar lewat.

Aku sadar wajahku tidak cantik seperti yang lainnya. Penampilanku tidak modis seperti yang lain. Aku memakai seragam sesuai aturan sekolah, hanya itu. Aku tidak berharap banyak pada teman-teman, juga tidak marah kepada mereka. Kebebasan memilih teman adalah hak setiap manusia, bukan? Tapi kalau perbuatan seperti tadi, aku tidak akan mengiyakan.

Kugulung kertas dan kukembalikan pada Rima dengan mengetuk kecil kursinya. Aduh, dia tidak menoleh, lagi.

"Hei, Kak May mau kembaliin rautan, tuh," suara lelaki di sebelahku tertangkap ruang dengar kami semua. Dan tidak hanya Rima, tapi semua orang termasuk pengawas ikut menoleh.

"Suaramu kenceng banget, tahu? Cari masalah ini namanya," ucapku pelan. Raut wajahku sudah tidak tenang ketika Pak Darrel berjalan menuju meja kami. Jujur, aku merasa tegang meskipun merasa tidak bersalah.

"Kamu tidak menyiapkan rautan sendiri?" tanya Pak Darrel yang menjulang tinggi.

"I-ini, Pak ...," ucapanku terbata.

"Rautannya saya yang pinjam, Pak, ke temannya," jawab lelaki di sampingku tenang. Kulihat wajah Pak Darrel. Ada seringai di sana.

"Oke. Lain kali, kalau mau mencontek, jangan ketahuan, ya," ujar Pak Darrel kemudian sebelum akhirnya kembali ke singgasananya.

Apa!? Dia tahu? Tercoreng nanti namaku. Ini gara-gara lelaki di sampingku. Kutatap tajam ia.

"Nggak usah berterima kasih," ucapnya sambil tersenyum. Jahil.

"Ini gara-gara kamu," ucapku kesal sekali. Harus bertahan selama seminggu bersamanya. Semoga kami tidak usah banyak bertemu selain di meja ini, di kelas ini.

Kulanjutkan mengerjakan soal-soal. Ah! Kertas buramku habis. Mau minta lagi, aku tak berani. Bagaimana ini?

Sreeek! Suara kertas disobek di sampingku. Aku menoleh mendapati lelaki itu membagi kertas buramnya menjadi dua.

"Nih, butuh, kan?" tawarnya sambil menyodorkan kertas buramnya yang sudah dibagi dua tadi. Aku terkejut akan kesigapannya.

"Eh? Te-rima kasih," ucapku terbata.

"Sama-sama, Kak."

Seperti biasa, aku mengantuk bila sudah selesai mengerjakan soal. Kututup lembar jawaban dan kupakai pensil serta penghapus sebagai pemberat, setelah kuletakkan di depanku, kupakai bagian kecil meja untuk menumpukan kedua tangan. Lalu, aku tidur dengan kepala bertumpu pada tangan. Lumayan, lelah sekali ujian kali ini.

Aku terbangun saat kepalaku diusap. Tangan siapa?

"Kak, sudah bel," ucapnya. Rupanya dia yang mengusap kepalaku. Aku segera bangun dan bersiap mengumpulkan lembar jawaban milikku. Lho? Di mana?

"Udah dikumpulin sama Herryl. Makasih tuh sama Herryl," ucap Rima yang melihatku kebingungan. Herryl?

"Herryl?" tanyaku.

"Yang duduk sama elo, May," jawab Rima lagi. Aku menoleh dan mendapati Herryl--nama lelaki itu--sedang berdiri, sepertinya akan pergi.

"Ma-makasih," ucapku lagi. Herryl mengangguk dan pamit keluar. Aku mengangguk.

Aku membuka bekalku. Selalu begini saat jam istirahat. Memakan bekal yang dibawakan Mama, menunggu Riana sahabatku datang dan mengobrol apapun. Aku tak sabar untuk menceritakan insiden pagi ini pada Riana.

...***...

Hari ini ujian pertama Sosiologi. Syukurlah, aku paling suka pelajaran ini. Dan aku adalah jagonya. Iya, dong, ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). By the way, siapa teman sebangkuku kali ini?

Pertanyaanku terjawab saat aku meletakkan tasku di bangku. Kak Maya, siswi berprestasi. Gadis berkacamata dan rambut sebahu itu menjadi rekanku seminggu ke depan. Bagaimana sikapnya sekarang? Apakah akan seramah Kak Arkan, siswa juara 2 sesekolahan?

Aku mengamati dirinya yang mendahulukan orang lain. Ya, kertas buram yang dibagikan tidak disimpannya untuk diri sendiri dulu. Ia lebih memilih untuk memastikan bahwa temannya sudah kebagian. Sesuai dugaanku, teman-teman di depannya memilih untuk menyimpan kertas itu untuk diri mereka sendiri. Kak May hanya diam ketika menyadari kertasnya habis. Kuangsurkan saja kertasku. Mudah kok untuk minta lagi.

Sambil mengerjakan soalku, kuamati diam-diam Kak Maya. Bukan, bukan untuk mencontek, toh soal kami berbeda. Aku mendapati energi positif ketika melihatnya. Kak Maya begitu bersemangat menjawab soal-soal ujian. Cantik.

Aku hanya memakai kertas buramku untuk menulis outline tulisanku. Ya, soal ujian Sosiologi ini kebanyakan essay. Tidak seperti kelas 3 yang membutuhkan kertas buram untuk menulis rumus.

Sebuah rautan merah diletakkan oleh Kak Rima di meja kami, tepatnya di depan Kak Maya. Aku sudah hafal trik ini. Kak Rima, gadis modis yang selalu mendekatiku bersama gengnya itu ternyata suka mencontek. Kak Maya sendiri apakah suka memberi contekan?

Kulihat Kak Maya mengambil kertas di rautan itu dan mendengus kesal. Aku tersenyum, lucu juga dia. Kulihat dia mengembalikan rautan dan kertas itu tanpa menjawabnya. Oh, masih ada siswa idealis zaman sekarang, ternyata.

Karena kesal juga melihat sikap Rima yang tampak tidak disukai Kak Maya, kupanggil ia. Sengaja kukeraskan suaraku agar seisi kelas tahu apa yang terjadi.

"Suaramu kenceng banget, tahu? Cari masalah ini namanya," ucapnya pelan. Kutunjukkan raut wajah minta maaf. Wajar ia kesal, lihatlah Pak Darrel menghampiri kami sekarang.

Tapi, aku harus berbohong pada Pak Darrel, meski aku yakin ia mengerti apa yang terjadi. Sudahlah, tak apa. Aku hanya berpikir untuk melindungi Kak Maya, siswi berharga sekolah ini, dan zaman ini.

Setelah ditegur Pak Darrel, kami kembali mengerjakan soal masing-masing. Sampai akhirnya kudapati Kak Maya kehabisan kertas buram. Segera kusobek kertas buramku agar bisa kami pakai berdua.

Setelah belasan menit, Kak Maya selesai terlebih dahulu. Kulihat ia merapikan mejanya lalu ... tidur? Dia tidur? Aku menyelesaikan tugasku kemudian merapikan meja.

Wajahnya mengarah padaku kali ini. Tidak bisa diam rupanya ia kalau tidur. Wajah lelah berkacamata itu lucu juga kalau sedang tidur. Ah, aku harus menutupinya. Kupakai kertas soalku untuk menutupi wajah tidurnya agar teman di samping kami tidak melihat. Aku menopang dagu dan terus melihat ke arahnya, menikmati sedikit waktu yang disediakan untuk kami sampai suara Pak Darrel terdengar.

"Yang sudah selesai, kumpulkan di depan," ucap Pak Darrel. Alih-alih membangunkannya, kuambil saja lembar jawaban milik Kak Maya untuk kukumpulkan bersama.

Meski sudah mengumpulkan jawaban, kami belum dibolehkan keluar kelas sampai bel sebagai tanda waktu ujian pertama ini habis. Kulanjutkan kegiatanku, mengamati Kak Maya. Kegiatanku selesai saat bel berbunyi, kutepuk kepalanya. Halus.

"Kak, sudah bel," ucapku. Aku tersenyum dan pergi setelah memastikan bahwa ia sudah bangun, sudah tahu bahwa tugasnya telah dikumpulkan.

...-bersambung-...

 

Chapter 1 selesai. Semoga suka, yaaaa.

Kenalan Baru

...Aku hanya butuh belajar untuk mencapai cita-citaku menjadi arsitek. -Maya-...

...***...

"May," sapa Riana, sahabatku. Kupersilakan ia duduk di kursi anak kelas 2 tadi. Oke, namanya Herryl.

"Gimana? Bisa pasti, ya? Maya, gitu," ucapnya lagi setelah selesai memakan sepotong sandwich tuna.

"Nggak usah bahas, deh. Aku mau cerita soal Herryl," elakku.

"Tumben, biasanya ceritanya nggak jauh dari Conan, Sherlock, Aslan, Frodo," sahut Riana. Selama ini ia menjadi pendengar setiaku saat menceritakan isi buku yang kubaca. Kuceritakan insiden pagi ini padanya dan semua sikap Herryl.

"Iya, sih. Aku dengar Herryl orangnya baik, nggak sombong meski dia ketua OSIS. Suka nolongin orang lain," ujar Riana menanggapi ceritaku.

"Tunggu. Ketua OSIS?" tanyaku. Kalau iya, kenapa dia tidak muncul di kelasku untuk mengumumkan kegiatan?

"Iya. Kamu baru tahu? Maaaay, ke mana aja?" celetuk Riana lagi.

"Bukan begitu. Dia nggak pernah ke kelas kalau ada pengumuman. Bukan salahku kalau nggak tahu," ujarku mengelak. Bukan karakterku mencari tahu siapa ketua osis sekolah, toh aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh belajar untuk mencapai cita-citaku menjadi arsitek.

"Ya sudah. Eh, iya, habis ini Biologi, kan? Aku bawa buku. Belajar, yuk," ajak Riana sambil meletakkan kotak makannya dan meraih buku paket Biologi.

"Aduh, aku paling nggak bisa Biologi. Siap-siap dimarahin Pak Sam lagi, nih," celetukku.

"Sesusah-susahnya kamu, mah, nilai 7 juga dapat," ucap Riana lagi. Kuikuti ia, membuka buku Biologi sampai jam istirahat hampir berakhir dan Riana pamit.

Ya, aku memang bisa mengerjakan soal-soal Matematika, Bahasa, Fisika, Kimia, Seni, semua kecuali Biologi. Entah mengapa sulit sekali mempelajarinya. Rasanya hanya menghafal dan selesai ujian semua materi menguap. Hilang nyaris tak berbekas.

"May, ini," ujar Rima membuyarkan lamunanku yang meratapi kemampuan Biologi seorang Maya. Kulihat ia menyodorkan kertas. Sudah mulai rupanya. Sudah saatnya fokus pada soal-soal 'tersayang'.

...***...

Maya begitu sibuk dengan soal-soalnya sampai bel tanda ujian selesai terdengar. Yap, Maya tidak sesempurna itu. Ada mata pelajaran yang tidak ia kuasai. Biologi contohnya. Sedikit lunglai dikumpulkannya lembar jawaban miliknya ke meja guru.

"Yuk, pulang," ajak Arkan. Lelaki tinggi berkulit putih dan raut wajah seperti oppa negeri ginseng itu mengarahkan tatapannya ke Maya yang sedang bersiap, membereskan perlengkapannya. "Dan," lanjutnya lagi.

Maya menoleh ke belakangnya. Ada Ramdan yang juga sedang bersiap pulang dan menyahuti ajakan Arkan.

Kirain ngajakin aku, kok tumben. Maya membatin. Dipakainya tas biru miliknya tanpa peduli akan adik kelas bernama Herryl yang sudah pergi sejak tadi.

Riana sudah menunggu Maya di luar kelas. Mereka pulang bersama sambil membahas soal Biologi yang memusingkan.

"Kita memang kelas 3, tapi kenapa harus susah banget soalnya?" keluh Maya. Riana tertawa mendengar keluhan sahabatnya.

"Herryyyyl!!" panggil anggota geng Red Hot. Serentak beberapa siswa memberi jalan pada anggota penyuka warna merah itu. Riana dan Maya segera menoleh, ingin tahu ada kejadian apa meski mereka sudah menebak ulah siswi centil tersebut.

"Bikin kaget. Eh, iya, besok kita Bahasa sama Seni?" tanya Riana memastikan. Maya mengangguk. Di kepala gadis berkacamata itu sudah ada rincian tugas rumah sepulang sekolah: mencuci baju, menyapu, mengepel lantai. Selebihnya, ia bisa leluasa membaca buku yang disukai di ruang tamu.

"Duluan, ya," ujar Riana begitu mereka sampai di gerbang hitam setinggi 1 meter, rumah kedua orang tua Riana. Maya dan Riana saling melambaikan tangan.

Kini, Maya berjalan sendiri sekitar 600 meter dan berbelok ke dalam gang. Ya, rumah Maya berada di dalam sebuah gang. Kontrakan dengan 2 kamar ditempati oleh Maya dan kedua orang tuanya. Mama telah menyiapkan makan siang sebelum berangkat kerja di sebuah yayasan anti narkotika. Bapak bahkan berangkat kerja sebelum Maya sarapan. Beliau adalah seorang supir pribadi seorang purnawirawan angkatan laut. Terkadang Bapak sempat mengantar Maya menggunakan mobil milik bosnya bila kebetulan searah.

Karena kesederhanaan itu Maya tidak enak bila meminta macam-macam layaknya teman-teman sebaya. Maya hanya dibolehkan meminta buku. Itupun hanya sebulan sekali, mengumpulkan uang jajan yang diberi Mama dan Bapak. Syukurlah bos Bapak baik hati sehingga Maya dibiayai belajar karate di sekolahnya. Awalnya Bos Bapak menyarankan perguruan khusus. Maya menolak karena selain biayanya mahal, lokasinya jauh dari rumah. Setiap Selasa dan Jumat sore, Maya akan berlatih karate bersama teman-teman sekolah dan pelatihnya yang merupakan juga penjaga koperasi sekolah, Kak Andi.

Begitu sampai dan berganti pakaian, Maya menuju dapur. Menu hari ini adalah sayur kangkung dan tempe. Maya tersenyum, bersyukur atas nikmat hari ini. Mama selalu mengingatkan bahwa masih banyak orang yang tidak memiliki makanan di luar sana.

Tak ada teman, hanya sendiri di rumah. Maya menggunakan waktunya untuk membersihkan rumah kemudian kembali melanjutkan buku barunya dari Bos Bapak: Serba-serbi Arsitektur. Sebuah buku yang dihadiahkan begitu Bos mendengar cita-cita Maya.

...***...

Sementara itu, Herryl baru saja keluar dari ruang guru. Pak Handoyo, guru pembimbing OSIS sekaligus salah satu orang yang dekat dengan Herryl, baru saja meminta bantuannya mengecek jumlah lembar jawaban apakah sesuai dengan jumlah siswa hari ini.

"Maya Anggraini," ucap Herryl membaca nama yang tertera dalam lembar jawaban.

"Ya, dia anak cerdas. Kamu tahu, Ryl? Di kelas, sekali saya jelasin pasti dia langsung ngerti," ucap Pak Handoyo menanggapi.

"Iya, Pak? Berarti Bapak yang bagus menjelaskannya, hehe," sahut Herryl. Pak Handoyo tertawa mendengarnya.

"Bisa saja, kamu. Coba kamu contoh dia. Bukan soal matematikanya karena setiap orang kan memiliki kecerdasan masing-masing. Contoh sikapnya saat jam pelajaran," ucap Pak Handoyo lagi.

"Maksud Bapak, tidur di kelas, begitu?" tanya Herryl diiringi tawa geli, mengingat yang tadi ia saksikan di kelas.

"Dia nggak pernah tidur di kelas kecuali ujian. Sepertinya dia menguras energinya selama ujian. Begitulah, Ryl, orang yang total dalam tugasnya, hahahaha. Soal tidur di kelas jangan dicontoh, hahahaha," jawab Pak Handoyo. Detil ia menjelaskan tentang energi dalam ujian.

"Ngomong-ngomong, kok kamu tahu soal dia tidur di kelas?" tanya Pak Handoyo.

"Saya sebangku dengannya, Pak, di ujian ini," jawab Herryl lagi.

"Hahaha, begitu rupanya. Kamu beruntung, berkesempatan belajar darinya," ujar Pak Handoyo lagi.

"Dia pelit, Pak. Temannya minta contekan saja nggak dikasih. Tapi sebenarnya bagus, sih," rinci Herryl sambil berpendapat.

"Itu bukan pelit. Dia begitu kalau ujian, kalau belajar di luar ujian dia mau mengajari teman-temannya yang kesulitan. Bagus, kan? Saya dengar malah Maya punya kelompok belajar di kelas, sama Arkan kalau nggak salah."

Pak Handoyo menceritakan anak didiknya yang sekaligus tanggung jawabnya karena ia adalah wali kelas Maya.

"Oh, Kak Arkan," ucap Herryl.

"Iya. Baru kali ini kamu tertarik membahas seorang siswa, Ryl. Bukan siswa populer, lagi. Kamu tertarik?" tanya Pak Handoyo menyelidik.

"Eh.. itu, unik saja, Pak. Iya, unik saja," jawab Herryl tergagap yang ditanggapi tawa Pak Handoyo.

...-bersambung-...

Hai, sudah 2 chapter nih. Gimana? Lebih baik pakai sudut pandang Maya atau orang ketiga dalam menulis?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!