NovelToon NovelToon

Dear Disya

Diterima Magang

SMK Dubles yang terletak di wilayah Jakarta adalah sekolah favourite. Jurusan Administrasi Perkantoran selalu menjadi minat tersendiri bagi perusahaan-perusahaan untuk mempekerjakan lulusan SMK Dubles baik dengan sistem magang ataupun karyawan kontrak.

Saat ini Disya sedang berada di semester 4. Disetiap semester ini, para siswa diwajibkan untuk mengikuti magang atau Praktek Kerja Lapangan yang diselenggarakan paling lama adalah 3 bulan dan paling cepat adalah 1 bulan. Disya duduk dikelas 2 AP 1 semester 4 dan dia harus mengikutinya.

Beruntung Disya dan teman-temannya yang ada di kelas 2 AP 1 mendapatkan Bu Lidya. Bu Lidya adalah penanggung jawab dalam tugas Praktek Kerja Lapangan di SMK Dubles jurusan Administrasi Perkantoran.

"Bu, jika nanti sudah diterima magang, bagaimana dengan absen sekolah kami" tanya Disya.

"Absen sekolah kalian diambil dari absen kehadiran kalian di perusahaan tempat kalian magang" jawab Bu Lydia

"Oiya, pesan ibu satu lagi. Karena sebagian besar murid dikelas ini adalah perempuan. Ibu hanya berpesan jagalah nama baik kalian, sekolah dan keluarga. Berhati-hatilah terhadap rayuan atau tipuan yang bisa merugikan diri kalian sendiri. Berfikirlah seribu kali lipat untuk memutuskan sesuatu. Jika kalian sulit menentukan keputusan, kalian bisa konsultasikan kepada ibu, Insya Allah ibu akan bantu" pesan Bu Lydia membuat hening kelas.

Bu Lydia adalah guru SMK Dubles mengajar materi Ilmu Bisnis. Bu Lydia adalah guru yang sangat dihormati dan dicintai oleh murid-muridnya dan kerapkali menjadi tempat curhatan murid-muridnya.

Tak terasa bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Tepat pukul 12:00 WIB murid-murid SMK Dubles berhamburan keluar kelas untuk lekas pulang membawa tumpukan PR dan berbagai prakarya disekolah.

Seminggu kemudian...

Berhubung kegiatan kelas tetap harus berlanjut tanpa harus mengosongkan kelas, ibu Lydia akan mengacak perminggu ada 5 orang anak yang akan melakukan magang terlebih dahulu. Karena sebagian besar memilih untuk dicarikan dari sekolah. Pihak sekolah sudah mendapatkan beberapa nama perusahaan yang telah melakukan kerjasama. Jadwal untuk lusa yang berangkat adalah Disya, Klara, Paula, Dewi, Ayu ke PT Inti Garuda Persada" kata Bu Lydia

"Wah... perusahaan bonafit itu" celetuk murid-murid.

"Semoga kalian lulus ya dari kriteria perusahaan tersebut. Karena perusahaan tersebut sangat disiplin dan tahapan seleksi yang ekstra ketat. Ibu berharap berpakaian rapi dan sopan, tidak terlambat dan ingat jaga nama baik sekolah dan keluarga. Jangan lupa sarapan terlebih dahulu ya" pesan Bu Lydia mengingatkan murid-muridnya.

Dua hari kemudian

Hari yang mendebarkan dan dinanti oleh 5 siswi itu telah tiba. Disya, Klara, Paula, Dewi dan Ayu berangkat dari sekolah menuju perusahaan PT Inti Garuda Persada dengan membawa surat pengantar dari sekolah.

Mereka berangkat dari sekolah naik angkutan umum. Setiap angkutan umum yang lewat selalu saja penuh. Akhirnya penantian selama 15 menit menunggu, ada juga angkutan yang masih kosong. Selama perjalanan mereka mengobrol dan memperhatikan setiap nama perusahaan yang dilewatinya.

Ada seseorang yang selalu menatap Disya di dalam angkutan umum itu, namun Disya asyik memperhatikan jalan dan teman-temannya.

Sepanjang perjalanan Klara, Paula, Dewi dan Ayu tak henti-hentinya berbicara membuat penumpang lain geleng-geleng kepala. Disya memilih diam saja dan hanya memandangi pemandangan sepanjang jalan lagi. Disya belum pernah jalan hingga sejauh ini. Selama ini dia hanya mengetahui lokasi rumahnya dan sekolahnya saja.

Sesampainya mereka di PT Inti Garuda Persada, security yang berjaga memeriksa ekstra ketat kepada lima murid tersebut sebelum memasuki perusahaan. Menanyakan surat dan memeriksa isi tas yang mereka bawa. Setelah melewati pemeriksaan yang panjang. Salah satu security mengantarkan mereka menuju Lobby HRD. Mereka disuruh menunggu di Lobby dan Security tersebut masuk ke ruang karyawan dengan membawa surat dari sekolah.

Tak lama kemudian salah satu staff HRD keluar dan Security tersebut bergegas pergi. Staff HRD menyuruh mereka menunggu di aula ruang rapat.

"WOW... gede banget perusahaannya. Komputernya kayak ga ada CPUnya." Paula kagum.

"Ruang rapatnya besar banget, kursinya empuk dan wangi ya" tambah Klara.

"Sret.. Sret.." bunyi botol minyak wangi yang disemprotkan Ayu.

"Bagi donk yu. Lo bawa parfum ga bilang-bilang" kata Dewi sambil merebut parfumnya dari tangan Ayu lalu mengembalikannya lagi.

"Mau dunk" Disya meminta parfumnya ayu.

"Nih. Untung gue bawa ya" sambil mengulurkan botol minyak wangi kepada Disya.

Setelah Disya memakainya, kemudian dioper ke Klara dan Paula Hingga kembali lagi ke tangan Ayu sudah tinggal sepertiga botol kecil. Ayu lalu meminta teman-temannya jika nanti dapat uang, maka harus patungan mereffil parfumnya.

Tak lama kemudian seorang pegawai perempuan dengan sepatu heels dan berpakaian rapi masuk ke ruangan aula rapat yang dimana anak magang itu berada. Perempuan itu bernama Siska. Siska lalu membawa berbagai kertas ujian untuk seleksi magang dan menjelaskan aturan selama proses seleksi. Seleksi magang cukup memakan waktu hingga 3 Jam lamanya karena ada pemeriksaan fisik kesehatan yang harus dilakukan.

Setelah menjalani rangkaian proses seleksi magang, mereka masih harus menunggu pengumuman kurang lebih selama satu jam. Setiap Kepala Devisi disana dipanggil untuk melihat hasil jawaban dari peserta magang. Kepala Divisi dari unit Produksi memilih jawaban Disya tanpa melihat fotonya karena baginya penampilan itu tidak penting yang penting adalah kinerja yang akan ia hasilkan dari setiap jawabannya. Jawaban yang Disya berikan pada soal ujian essay sangat realistis dan relevan. Namun karena pekerjaannya padat ia hanya memberikan jawaban terpilih pada Siska. Sedangkan yang lain masih memilih-milih berdasarkan penampilan. Sambil menunggu pengumuman hasil seleksi, Siska mengajak mereka mengelilingi PT Inti Garuda Persada. Pabriknya cukup luas dari satu bagian ke bagian lain harus berjalan kaki sepanjang garis hijau. Setelah berkeliling, mereka kembali lagi ke Aula rapat untuk pengumuman hasil seleksi.

"Adik-adik mohon maaf sebelumnya. Disini kami hanya membutuhkan 3 siswi magang. Mohon maaf kepada yang tidak terpilih, bisa mengikuti seleksi magang di kami di bulan depan. Bagi yang terpilih dimohon untuk menunggu dan mengikuti pelatihan magang selama 1 jam ke depan" kata Siska. Siska adalah Staff HRD di PT Inti Garuda Persada.

"Baik Bu Siska" jawab mereka bersamaan.

Setelah 15 menit berlalu, Bu Siska memasuki Aula Ruang Rapat dengan membawa amplop coklat beserta seragam untuk siswi magang. Pengumuman tersebut membuat mereka deg degan.

"Baik saya akan bacakan hasil seleksi magang. Nama yang saya sebutkan akan diberikan seragam dan melanjutkan mengikuti pelatihan."

"Aduuhhh.. Jadi deg-degan.." kata Dewi

"Nama yang lolos yaitu Masayu Pertiwi"

"Alhamdulillah" kata Ayu senang

"Selanjutnya Dewi Sekartaji"

"Alhamdulillah"

"Dan yang terakhir Disya Prameswari"

"Alhamdulillah"

"Selamat ya teman-teman" kata Paula dan Klara

"Makasih Paula, Klara ya.." dan mereka berpelukan. Siska yang melihat tampak lucu dan mengabadikan moment ini di HPnya. Lalu berniat ditunjukkan kepada anak magangnya nanti jika sudah selesai magang disini.

"Kami pamit undur diri Bu Siska dan teman-teman. Terima kasih sudah memberikan kami banyak pengalaman dan berkeliling di perusahaan ini. Semoga bulan depan kami berhasil dan menyusul magang kalian disini" pamit Klara dan Paula lalu meninggalkan Aula Ruang Rapat.

Tinggallah ibu Siska, Dewi, Ayu dan Disya untuk melanjutkan proses pelatihan magang. Selama pelatihan, mereka diberikan ID card, buku modul panduan magang dan buku catatan kerja selama magang 3 bulan ke depan.

Rapat berdua

Hari ini hari pertama bagi Disya, Dewi dan Ayu untuk menyelesaikan tugas magang di PT Inti Garuda Persada. Sesampainya di kantor, mereka bekerja ditempat terpisah Dewi di bagian Engineering, Ayu di bagian Quality Control dan Disya di bagian Produksi.

Disya memegang ujung almamater dan menarik-narik kancingnya karena merasa gugup. Bagaimana kalau nanti bossnya galak atau bossnya genit, apa yg harus dilakukan??

"Disya, ayo masuk" Kata Siska membuyarkan pikirannya Disya

"Aa..iya.." jawab Disya gugup.

Arya menatap terpesona saat Disya memasuki ruangan. Disya tampak seperti orang yang dikenalnya. Ya..Jihan.. wajahnya mirip dengan mantan pacarnya Arya. Bedanya Jihan berhijab sedangkan Disya tidak berhijab, rambutnya di kuncir kuda dan memakai Almamater berwarna merah Maroon lengan panjang.

Tak mau terlihat oleh Siska, buru-buru Arya beranjak dari tempat duduknya menuju tempat dimana Disya sedang berdiri lalu menyambutnya.

"Disya perkenalkan dirimu" kata Siska

"Selamat pagi pak, perkenalkan na nama saya Disya Prameswari. Sa..saya dari SMK Dubles semester 4. Mohon arahan dan bimbingannya pak" kata Disya yang sempat terbata dalam perkenalan berusaha tersenyum.

"Pagi Disya, Saya Arya Narendra. Saya Kepala Divisi Produksi disini. Selamat bergabung di PT Inti Garuda Persada. Mohon bantuannya ya" sapa Arya sambil mengulurkan tangan pada Disya.

"Sama-sama pak mohon arahannya" sambut Disya mengulurkan tangannya.

Saat mereka berjabat tangan, entah kenapa jantungnya Disya berdebar kencang. Ini pertama kalinya Disya menjabat tangan lelaki selain Ayah dan gurunya. Arya pun merasakan hal yang sama. Ada sesuatu dalam diri Disya yang membuatnya tertarik. Apakah masa lalunya yang membuatnya rindu. Ataukah memang benar-benar suka.

"Ehm.." Siska bedehem membuat jabat tangan antara Arya dan Disya segera dilepaskan.

"Baik Pak Arya, kalau begitu saya izin permisi dulu" pamit Siska.

"Oo.. iya.. Makasih ya Siska" kata Arya

"Sama-sama pak" kata Siska beranjak pergi dari ruang produksi.

Kini Arya dan Disya hanya berdua di ruangan kerja itu. Arya kemudian membuka loker lemarinya untuk mengosongkan benda-benda yang berserakan di lokernya.

"Tasnya bisa diletakkan di loker ini. Ini kuncinya kamu pegang, jangan sampai hilang ya. Selanjutnya kamu ikut saya ke Line Produksi." perintah Arya

"Baik pak" jawab Disya sambil memasukkan tasnya lalu mengunci loker yg kini menjadi miliknya.

"Pakai helm keselamatan yang tergantung di sana" Arya menunjuk pada salah satu sudut ruangan dekat pintu terdapat beberapa helm keselamatan berwarna putih, biru, kuning dan merah yang tersusun rapi.

"Warna apa ya pak yang akan saya pakai?" tanya Disya

"Warna putih"

"Oiya Disya boleh saya minta tolong, tolong ambilkan formulir di odner biru yang tertulis F4.7 Sample Sampling ambil sebanyak 2 lembar ya." perintah Arya kembali.

"Baik pak" kata Disya lalu mengambil beberapa formulir di ordner yang tersimpan rapi di dalam lemari arsip.

"Kamu harus fokus pada ucapan dan perintah saya ya"

"Baik pak"

"Tunggu.. Kenapa helmnya tidak dikancing?" kata Arya sambil membenarkan posisi helm yang dipakai Disya. Muka Arya dan Disya kini berhadapan. Disya tak sengaja menjatuhkan papan berisi formulir ke lantai karena gugup.

"Maafkan saya pak"

"A..iya ga papa" kata Arya kemudian membalikkan badannya utk menutupi wajah bahagianya bisa menatap Disya lebih dekat.

"Ayo Disya, ikuti saya" perintahnya kembali sambil tersenyum.

"Baik pak"

Kemudian Disya mengikuti Arya dari belakang. Langkah kaki Arya dua kali lipat dari langkah Disya. Hingga Disya sedikit agak berlari mengikutinya.

Sebelum ke Line Produksi, Arya memperkenalkan assisten barunya kepada rekan kerjanya dalam tim produksi. Hingga semua Staff tangan kanannya dibuatnya bingung dan heran. Tidak biasanya Pak Arya mau mengajak assistennya berkeliling Line Produksi.

"Tumben boss sangat bersemangat dengan Assisten barunya" celetuk Galih. Galih adalah Staff Quality Control yang kerjanya mendesign mesin untuk tim produksi.

"Mungkin karena cewe jadi bersemangat dia" kata Dedi

"Kali ini rajin-rajin akh ke atas, mau ngepoin assistennya boss. Syukur-syukur dapat nomor HPnya. Hehehe.." niat Galih iseng.

"Nggapain loe ke atas, mau di omelin boss kalau ketahuan godain assistennya" Cegah Dedi pada Galih.

"Kalau mau dapat nomor HPnya bisa lewat aplikasi kepegawaian aja. Gampang kan??" tambah Dedi memberikan solusi.

"Cakeeep. Penuh Solusi..Terima kasih ya" kata Galih dengan penuh semangat membuka file kepegawaian. Saat galih membuka file kepegawaian, ternyata data yang diinginkan galih tidak tersedia, Galih memikirkan cara lain untuk mendapatkan nomornya nanti.

Selama berkeliling Line Produksi banyak yang berusaha menggoda Disya dengan bersiul atau langsung berkata. Namun Disya tak menghiraukan itu, yang dipikirkan saat ini adalah fokus pada pekerjaannya. Disya mencatat jumlah setiap barang yang ada di line baik yg diproduksi atau reject.

Setelah selesai mencatat barang-barang yang diperintahkan oleh pak Arya, ia mengajak Disya menulis laporan di sebuah Aula rapat kecil yang berada di pojok line produksi menghadap ke mushola kecil yang biasanya dipakai oleh para karyawan beristirahat makan siang. Arya memberikan tumpukan kertas pada Disya untuk dipilah-pilah berdasarkan kelompok unitnya dan dia meninggalkan Disya sebentar untuk mengambil laptopnya.

Ruangan Aula kecil ini ber AC dan tembus pandang kearah produksi mesin, namun kedap suara. Baru saja Arya pergi, tiba-tiba datang seorang karyawan senior langsung duduk berhadapan dengan Disya untuk mengajaknya berkenalan. Kemudian disusul temannya duduk disamping Disya.

"Kamu anak magang baru disini ya?" tanya karyawan senior itu.

"iya pak"

"Namanya siapa??

"Disya pak"

"Lho koq manggilnya bapak. Panggil aja kakak, Abang, Mas, atau Aa."

Disya hanya senyum saja lalu fokus melihat berkasnya lagi.

"kamu tinggal dimana??"

Sebelum Disya menjawab terdengar deheman pak Arya dari balik punggung karyawan senior itu.

"Baru ditinggal sebentar rupanya ada yang datang."

"Eh bapak, maaf mengganggu." permohonan maaf karyawan itu

"Bisa tinggalkan kami berdua. Banyak laporan dan tugas yang harus kami selesaikan. Jika ingin berkenalan mohon diluar jam kerja saja." tegur Arya pada bawahannya. Bawahannya hanya mengangguk dan pergi dari ruangan itu.

Arya lalu berjalan ke arah tempat duduk Disya. Begitu dekat mereka berdua duduk. pak Arya membuka laptopnya. Disya memilah milah berkas. Arya sibuk input dengan laptopnya lalu sesekali meminta sebuah dokumen kepada Disya. Arya pun menjelaskan segala dokumennya dan Disya mencatat, catatan penting yg harus diingat Disya dan tidak boleh salah.

Sudah hampir 3 jam mereka mengerjakan tugas di ruang rapat, hingga hampir tiba jam makan siang. Arya mengajak Disya merapikan berkas dan membawanya ke ruang Management Produksi. Sesampainya mereka diruangan, ternyata sudah banyak orang berada disana. Arya lalu memperkenalkan kepada Disya masing2 kepala Head Office dan para Foreman. Rupanya Disya disambut dengan hangat oleh mereka. Disya agak bingung dan bagaimana ia harus bersikap dan juga saat ini dia khawatir bagaimana kalau di dijahili karena isi dari management Produksi, semuanya adalah lelaki.

Makan Siang Bersama

Ringgggg

bunyi Alarm terdengar dan waktunya semua karyawan menghentikan sejenak pekerjaannya dan segera melaju makan siang dikantin kantor yang berada di luar ruang Produksi.

kemudian Disya membuka lokernya dan mengeluarkan sebuah handphone. Ternyata sudah banyak yang menelponnya. Kemudian Disya menelpon kembali panggilan tidak terjawab di Handphonenya.

Arya hanya memperhatikan sebentar kelakuan asistennya itu yang masih berdiri didepan loker sambil menatap layar Handphonenya serta Disya tak beranjak pergi ke kantin.

"Disya, kamu ga makan?" tanya Arya membuat Disya mematikan HPnya.

"Iya pak saya mau makan tapi.. tapi.. saya tidak tahu kantinnya ada dimana?"jawab dan tanyanya. Arya lalu tertawa kecil karena disya menjawabnya seperti gugup.

"Ayo, ikuti saya dan cepat kunci lokermu itu" perintah Arya

Disya mengunci loker dan beranjak meninggalkan ruangan produksi bersama dengan pak Arya.

Arya melangkah dengan cepat sehingga Disya seperti setengah berlari mengejarnya. Menyadari langkahnya yang membuat Disya ngos-ngosan. Arya lalu memelankan langkahnya dan menyeimbangkan langkah dengan langkah Disya.

"Apakah masih jauh pak jaraknya?" tanya Disya.

Arya menunjuk ruang besar terbuka sebelah lapangan tenis yg kini sedang berjejer antrian karyawan yang ingin makan di kantin.

Tidak biasa-biasanya Arya mau makan dikantin. Biasanya dia mengambil mobilnya lalu makan diluar kantor. Penuh tanya dan heran karyawan-karyawan yang melihatnya.

Suara dering ringtone HP Disya berbunyi dengan lagu Kita milik Sheila on 7.

lalu Disya mengeluarkannya dari kantong Almamater maroonnya. Disya mengangkat panggilan dari temannya. Dari nada bicara Disya, Disya sepertinya sangat kesal kepada teman-temannya karena sudah duluan pergi ke kantin.

Disya lalu memecar matanya melihat ke sekeliling area. Tak lama Disya melihat lihat teman-temannya, lalu melambaikan tangannya juga untuk melihat kearah yang mencarinya.

Arya memandang Disya lalu memandang kearah lambaian tangan Disya. Disya melemparkan senyumnya kepada temannya. Lalu menutup panggilannya

Deg

'Kenapa senyumnya membuat jantungku berdebar?' ucap batinnya Arya melihat Disya tersenyum seakan melihat mantan kekasihnya dulu

"Maaf pak, saya mau menyusul teman saya disana. Saya duluan ya pak. Dan terima kasih pak sudah diantar." kata Disya mengucapkan terima kasih dan hormatnya menundukkan kepala

"Silahkan"

Kemudian Disya berlari melewati jalur hijau untuk menemui temannya. Arya menyadari bahwa ada kontainer sedang melaju dan melintas hampir menabrak Disya. kemudian Arya berlari mengejar Disya. Secepat mungkin dia berlari lalu menarik lengan Disya dan dibenamkan kepalanya dalam pelukan Arya

'Bruk'

'Auw..'

Supir Kontainerpun kaget sehingga ngerem mendadak dan berusaha turun untuk melihat apakah orang yang nyaris tertabrak baik- baik saja.

" Maaf pak saya tidak melihat. Bagaimana dengan kondisi bapak? Adakah yang terluka?" tanya seorang supir dengan seragam rapih itu cemas.

Sadar Disya yang masih dalam pelukan Arya. Buru-buru melepaskan pelukannya. Arya lalu berkata kepada seorang sopir.

" Tidak apa-apa. Lanjutkan perjalanannya." perintahnya kembali kepada supir.

Arya amat khawatir dan mulai menasihati Disya.

"Tetaplah berada di jalurnya Disya" bentaknya

" Lihat jalur hijau ini. Ini adalah tanda jalur untuk pejalan kaki. Hampir saja tertabrak kontainer tadi. Lalu aku, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana dengan orang tuamu dan juga guru-gurumu disekolah jika kamu mengalami kecelakaan di kantor ini. Walaupun kau tergesa-gesa tetap ingat untuk berada pada jalurnya sampai ada zebra cross kamu baru bisa menyebrang. Kamu paham kan?" marahnya lagi pada Disya

"Baa.. baik pak.. Ma.. Maafkan saya yang tidak tau akan hal ini." ungkap Disya yang takut

"Terima kasih pak sudah menolong saya" ucapnya

Kemudian Arya menggenggam tangan Disya untuk menyebrang dan melewati jalur bergegas menuju kantin.

Setibanya di kantin kantor, Arya melepaskan genggamannya dan mempersilahkan Disya mencuci tangan mengambil nampan terlebih dahulu. Lalu disusul Arya yang cuci tangan dan mengambil nampan dan mereka saling memilih-milih makanan.

Seisi kantin sedang memperhatikan boss mereka yang jarang sekali ia makan dikantin kantor. Apalagi melihat bossnya datang bergandengan tangan dengan seorang pemagang. Desas desus dan kasak kusuk para karyawan sedang membicarakan bossnya itu terdengar ditelinga Arya. Arya hanya bersikap masa bodoh saja terhadap trending topik yang terjadi saat ini.

"Adakah makanan yang tidak mengandung udang?" tanya Arya pada penjaga makanan kantin

"Rolade Ayam, Bistik Sapi, Bandeng Presto, pepes Tahu, semur Daging, Ayam Bakar, Ayam Goreng, Nila Bakar" Jawabnya

"Nila Bakar saja"

"Disya kamu mau makan apa?" tanya Arya padanya

" Sama pak. Nila Bakar saja" jawab Disya.

" Kalau begitu berikan kami dua dan Sayur Asamnya ya" pesan pak Arya

Setelah mereka memilih milih makanan dan minuman, mereka segera menuju tempat teman-temannya Disya berada. Teman-teman Disya justru terpaku pada ketampanan bossnya Disya dengan kulit putih, hidung mancung bak artis Korea dan memiliki badan yang tinggi dan tegap sedang berjalan menuju arah meja mereka.

'Wow... Apakah ia malaikat??' gumam Dewi.

'Tampan sekali' sahut Ayu

Disya yang melihat kearah temannya dan mengetahui tatapan teman-temannya hanya mengarah ke bossnya itu, lalu segera berpindah meja dan mengajak pak Arya duduk sedikit menjauh dari mereka.

'Lho kenapa mereka memilih kursi berdua?' sengajakah mereka?' Tanya Dewi kepada Ayu.

Ayu dan Dewi sangat kesal kepada sikap Disya yang seolah sengaja mau pamer punya boss tampan.

" Disya, kenapa kau tak bergabung dengan teman- temanmu?" tanya Arya yang masih berdiri menunggu jawaban dari mulut mungil Disya

" Disana sisa kursinya tinggal 1, saya mengajak bapak kesini. Ga mungkin saya bisa makan dengan tenang kalau bapak duduk sendirian." jawab Disya dengan tak tenangnya.

"Oh" kata Arya singkat.

Kemudian Arya mendekat ke kawanan Disya.

"Bolehkah saya bergabung disini?" tanya Arya pada teman-temannya.

'Lho koq kenapa jadi aku yang makan sendiri' gumam Disya dalam hati.

"Bo..bo...boleh pak" sahut mereka

Arya meletakkan makanannya di meja. Lalu menggeser sepasang kursi dan mejanya ke dekat meja dimana teman-temannya Disya berada. Disya nampak bingung akan sikap pak Arya.

"Disya, ayo lekaslah kemari" ajak Arya.

Melihat Disya yang tak kunjung mendekat, Arya lalu mengambil dan membawakan nampan makanan Disya ke meja samping Ayu berada. Sedangkan Disya hanya membawa botol minuman mereka.

Setelah Disya duduk, kemudian Arya duduk disamping Disya. Disya yang merasa canggung kepada pak Arya dan teman-temannya yang dari tadi memberi kode menginjak kaki serta menyikut lengannya, Disya pun akhirnya memperkenalkan Arya kepada teman-temannya. Begitupun sebaliknya.

"Boleh saya bergabung disini?" Siska bertanya.

Arya menoleh ke arah suara lalu menjawab "Tentu".

Sambil sesekali matanya melihat ke sekeliling meja makan kantin yang ternyata memang telah dipenuhi oleh karyawan-karyawan yang sedang makan.

"Lho disini ada Disya juga rupanya." Siska memperhatikan orang-orang yang sedang duduk dengan Arya adalah anak magang semua

" Iya kak" jawabnya singkat

"Tumben boss makan disini. Pantesan aja jadi trending topik" ledek Siska pada Arya yang jarang sekali dilihatnya makan dikantin

"Uhuk..uhuk.." Arya keselek langsung meneguk minuman untuk meredakan rasa sakit keseleknya.

"Mengantar Disya, dia ga tau jalan ke kantin" Arya memberikan alasan

"Oiya Sis, mau nanya apakah kamu sudah memberikan pengarahan kepada adik-adik magang ini saat berada di kantor?" tanya Arya pada Siska.

"Maksudnya boss?"tanya Siska agak kesal

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!