NovelToon NovelToon

PILAR HATI 3 KSATRIA

Cerita Si Sulung

Ia tersenyum melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Membetulkan dasi berwarna maroon yang kontras indah dengan setelan jas yang dikenakan, dan juga kacamata yang mempermanis tampilannya. Pria dengan kulit yang putih bersih dengan tinggi diatas rata-rata. Bahkan wajahnya yang putih cemerlang sering membuat iri para saudarinya. Salah satu keberuntungan dari mengalirnya darah Korea di genetika yang dimiliki.

" Namu.... Tante Hana sudah menelpon lagi loh ", sebuah suara menyeruak seiring masuknya sosok wanita cantik yang terlihat lembut dan penuh aura keibuan.

" Iya ma, ini sudah selesai kok ".

" Lihat ..... gantengnya anak mama ini ".

Namu tersenyum mendapati reaksi ibunya yang takjub. Wanita mungil yang sangat disayanginya ini nampak tak bisa menyembunyikan senyum takjubnya. Padahal dalam kehidupan sehari-harinya, ia dikelilingi oleh dua orang pria sangat tampan lainnya. Ya ... papa nya dan adik laki-lakinya, tapi ia tidak pernah mendapatkan bias basa-basi dan kepura-puraan di mata wanita ini. Karena itulah, sebuah pelukan hangat harus segera dihadiahkan.

" Thank you so much mom.... Luv you " . Dan pelukan itu berlanjut dengan kecupan sayang pada pipi sang mama.

" Sudah .... sudah... Tante Hana sudah heboh dari tadi. Segera berangkatlah ".

" Bye mah.... love you .... ". Dan Namu pun beranjak keluar dari kamarnya setelah mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat.

Pria muda yang sangat tampan itu adalah Baskara Namu Perkasa Arsenio, putra sulung dari pengusaha tersohor Mandala Runako Arsenio. Ketampanan yang menyamai artis-artis K-Pop membuat nya menjadi incaran banyak media. Belum lagi reputasinya yang tak kalah hebat dari sang ayah, membuat pria muda ini selalu menjadi kandidat menantu idaman.

Tapi semua hal itu tetap membuat seorang Namu tetap tak bergeming. Walaupun ia selalu tersenyum ramah dan sopan, tapi saat kehidupan pribadinya disinggung.... ia akan langsung hengkang tanpa kompromi. Nama besar ayah dan keluarganya terasa begitu membebani dan membuatnya merasa semakin berat menyandang nama Arsenio. Ya... karena dia hanyalah seorang putra angkat. Dalam dirinya tidak ada setetes pun darah Arsenio yang mengalir.

" Akhirnya..... Untung kamu ganteng banget ... ayo... ayo , Cinta sudah siap menunggu mu dari tadi ".

Sambutan meriah itu datangnya dari sang Tante. Hana yang kini sudah berusia lebih dari limapuluh tahun namun masih tampak cantik memukau, segera menggandeng tangan keponakannya untuk masuk. Antusiasme wanita itu tak terbendung.

" Maaf ya, Tante selalu merepotkan mu. Kalau saja si badung itu bisa diandalkan .... hiiiiy gemes aku " .

" Memang sekarang dia kemana Tante ? " .

" Ah entahlah .... pusing aku memikirkannya ".

Namu tertawa kecil mendapati ekspresi sang Tante yang demikian. Putra kedua mereka, seorang dokter yang bengal, Raka namanya. Tidak jauh berbeda baik usia dan juga sifatnya dengan Haidar, adik Namu. Sama-sama suka membuat para ibu menjadi uring-uringan.

" Aku sudah siap...... untuk pertemuan selanjutnya dengan pria-pria membosankan yang sengaja di jodohkan untuk ku ".

Sebuah suara mengalihkan perhatian perhatian Namu dan Hana. Kini dua orang itu menatap sosok cantik yang menuruni tangga dengan anggunnya. Tapi wajahnya yang cantik tidak mampu menyembunyikan rasa kesal yang kental.

" Cinta, wajah cantik mu itu tetap cantik walaupun kau menggeram ... ", Namu menggoda.

" Halaaah..... gombal. Kau sama saja dengan para pria itu. Ayo kak, kita berangkat .... lalu segera pulang ".

Hana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri sulungnya itu. Beruntung ia mempunyai keponakan yang sangat baik dan selalu bisa diandalkan terutama untuk urusan menjaga Cinta yang manja dan sedikit temperamental. Tapi sebenarnya sifat itu tak jauh beda dengan dirinya sendiri. Kini ia memahami bagaimana perasaan orang tua yang memiliki anak gadis yang sudah cukup umur untuk menikah, tapi tak kunjung mengenalkan calon. Hana tersenyum dengan sedikit guratan rasa sedih. Ia teringat almarhum papa nya.

" Kak, kau tahu siapa yang kali ini sengaja akan dipertemukan dengan ku ? ", tanya Cinta masih dengan wajah ditekuk enam belas.

" Yang jelas ada .... Andara putra Vega Group, Ryan Kamajaya... kau pasti tidak asing dengan namanya 'kan , dan tentunya .... masih ada banyak lagi para putra mahkota dan CEO muda " .

" Apa di sana tidak ada rakyat jelata yang hanya punya cinta .... tanpa berkalung kekuasaan atau bermahkota ? ".

Namu tertawa mendengar pertanyaan itu. Ia sekilas menatap wajah jelita yang kini tampak muram. Satu sentilan kecil didaratkan di hidung mungil namun menjulang itu. Membuat si empunya menjadi semakin berwajah masam.

" Ada, tapi pasti kamu tidak mau dengan dia ".

" Oh ya.... kau yakin ?? ". Sepasang mata yang indah itu membulat, berkerjap penuh antusias. " Kalau begitu, kenalkan aku dengan dia. Akan segera kubawa pulang.... biar mama tenang ".

" Kau sudah mengenalnya ". Namu yang masih fokus dengan jalanan di depannya terkesan berteka-teki.

" Oh ya ?, siapa sih .... Kak, jangan bikin penasaran dong ", rengek Cinta.

Namu hanya berkali-kali tertawa dan membuat Cinta semakin merengek dan merajuk. Usia gadis itu yang sudah hampir memasuki dua puluh tujuh tahun, seolah tak mengurangi sifat manjanya.

" Tentu saja aku .... ha... ha... ha... ha... ". Tawa Namu meledak membahana. Tapi sejujurnya ia memang menertawakan dirinya sendiri. Yah... dirinya yang menyandang gelar sebagai putra sulung Mandala Runako Arsenio, tapi tanpa mahkota.

" Kakak.... andai saja kau bukan putra Om Mandala, aku pasti sudah memilih mu. Andai kita bukan sepupu , andai saja kau bukan kakak ku. Sudah ku bungkus kau, kubawa pulang dan ku hadiahkan pada mama. Ma... ini, aku bawakan oppa ganteng ... gitu ".

Dan Namu pun semakin tertawa dengan keras, tapi kali ini Cinta pun melakukan hal yang sama. Keduanya tertawa dengan lepas seolah mengenyahkan semua beban yang tersandang di beban mereka. Hingga kendaraan mewah itu telah sampai membawa keduanya di depan lobby sebuah hotel yang gemerlap.

" Ayo ....", Namu memberikan lengannya pada Cinta.

Dan dua orang berparas rupawan itupun melangkah dengan elegan memasuki hotel itu. Menyibak konsentrasi puluhan pasang mata para tamu undangan dan pengunjung hotel.

" Time to show ", bisik Cinta dengan sebuah senyuman penuh arti.

" Kali ini apa imbalan untuk ku ", balas Namu dengan berbisik pula.

" Makan bakso gajah sepuasnya, gimana ".

" Kemarin sudah. Ganti ah !!! " .

" Nanti aku pikirkan. Pasang senyum dulu kak, sudah ada yang mulai cari perhatian ".

Sungguh Namu benar-benar harus mengikuti akting ini dengan sepenuh hati. Walaupun sejujurnya ia sudah hampir tidak kuasa menahan tawa. Tapi Cinta sudah bergelayut sangat manja di lengannya. Dan iapun mengikuti kemauan gadis cantik itu.

Mereka tumbuh besar bersama, walaupun tidak setiap hari bertemu, sehingga kedekatan yang tercipta begitu erat. Pria ini adalah sosok yang sangat baik, dewasa dan menjadi satu-satunya tempat Cinta melarikan diri dari segala masalah.

Sesibuk apapun, saat dirinya menerobos masuk ke ruang kerja Namu, tidak pernah ada penolakan. Kakak tampan itu akan selalu mendengarkan semua ceritanya, menanggapi seluruh keluh-kesahnya. Sejak dulu, sejak keduanya bocah, belia, remaja hingga kini sudah dewasa.

Menjadi anak sulung dari keluarga Mandala Runako Arsenio merupakan beban yang tidak mudah untuk disandang. Walaupun Namu hanyalah seorang putra angkat, tapi kasih sayang dan beban tanggung jawab dari ayah ibunya tidaklah berbeda. Bahkan sang ayah, Mandala justru begitu nampak bergantung padanya.

Pribadi Namu yang penuh tanggungjawab, seorang anak yang penurut dan manis, membuat Mandala begitu mempercayakan segala sesuatunya pada si anak sulung ini. Pembawaannya begitu dewasa, lembut dan juga tegas, sangat pas sebagai anak tertua. Setidaknya seorang Baskara Nama Perkasa yang memang punya empat orang saudara yang lebih muda usia, mereka adalah Cinta, Haidar, Raka dan Kirana sudah begitu terbiasa menjadi kakak pelindung sejak kecil.

Para orang tua, baik pasangan Mandala - Orlin ataupun Arjuna - Hana sebagai Om dan tantenya, selama ini lebih percaya pada Namu. Hal yang selalu dimanfaatkan oleh tiga orang adiknya jika mereka menginginkan sesuatu. Bahkan hingga sekarang saat mereka berempat sudah dewasa.

" Aku mau menyapa seseorang di sana, kau mau ikut ? ".

Cinta mengikuti pandangan Namu yang tertuju pada tiga orang pria yang sedang asyik berbincang. Dari penampilan mereka, terlihat jelas kalau ketiganya ada para eksekutif muda.

" Jangan bilang kalau itu juga salah satu tugas rahasia dari mama ".

" Kalau iya.... bagaimana ? ", goda Namu dengan berbisik.

" Kalau begitu .... aku tidak ikut ", Cinta cemberut dan melepaskan lengan Namu.

" Oh, okay. Itu... ada si kembar Yulia & Julian sedang memperhatikan mu. Pasti sebentar lagi kemari.... kau tidak akan merasa kesepi pastinya ".

" Kalau begitu aku ikut kakak " .

Namu terkikik geli, sementara Cinta langsung mendaratkan sebuah cubitan di pinggang pria itu dengan gemas. Justru kini Cinta yang penuh semangat menarik tangan Namu, bergegas menuju tiga pria yang ia sendiri juga belum mengenalnya.

Daripada harus meladeni kakak beradik kembar yang menurutnya terlalu berisik dan narsis. Lebih baik menemani kakak gantengnya ini berbincang bisnis. Ia pun bisa menggali ilmu lebih banyak lagi. Walaupun mungkin sebenarnya salah satu atau bisa jadi ketiga pria di sana itu adalah mision point yang diberikan ibunya untuk Namu. Mau bagaimana lagi, keluh Cinta.

" Halooo oppa ganteng ... ", sapaan ramah itu mulus meluncur dari salah satu pria yang dihampiri Namu dan Cinta. Pria ini tersenyum ramah, wajahnya yang bersih walaupun kulitnya sedikit gelap menyinarkan keramahan tulus.

" Mas Joko .... ", Namu menjabat erat pria itu dengan ramah pula. " Oh ya... ini adikku Cinta. Kenalkan ...".

Cinta tersenyum saat ketiga orang pria itu mengulurkan tangannya. Ia pun menyambutnya, sambil menerka-nerka dalam hati, yang mana orangnya target misi sang mama. Tapi lebih baik begini dari pada harus berurusan dengan si kembar tadi.

" Boy ... ", si pria ramah tadi memperkenalkan diri.

" Loh ?! ", Cinta kebingungan. " Bukan mas Joko ? ".

" Ha.. ha.. ha.. itu panggilan sayang dari kakakmu yang tidak rela memperkenalkan ku sebagai mas Boy... Purbaya Hariman ".

" Oh ... ", dan Cinta pun tertawa kecil. " Oke ... mas Boy ".

" Adiasa... panggil saja Dias, sepertinya kita sebaya ". Si kacamata berlesung pipit ini pun tersenyum ramah.

" Cinta... oke Dias, sepertinya juga begitu ".

" Dan yang ini .... Mr.Zach .. ", sela Namu dengan cepat sebelum si punya nama angkat bicara. " Beliau ini adalah senior kami.... kakak guru yang kami sayangi ".

Cinta membulatkan matanya, tapi ia terkikik geli. Sementara pria terakhir ini tampak sedikit kikuk karena candaan yang dilontarkan Namu.

" Syailendra, kau bisa panggil Alend. Jangan ikuti kakak mu. Mr.Zack.... kesannya seperti penjahat saja ".

Dan tawa kelima orang itupun pecah, menghangatkan suasana. Ternyata tiga orang kenalan Namu adalah pria-pria yang cukup menyenangkan. Dari obrolan yang terjadi, terlihat kalau isi kepala mereka cukup cemerlang dengan kemampuan otak bisnis yang mumpuni. Tidak ada muatan pembicaraan yang penuh kebanggaan pada diri sendiri. Mereka saling bertukar informasi dan saling dukung. Rupanya tiga orang ini adalah pemimpin-pemimpin muda di perusahaan mereka.

Cinta cukup menikmati acara kali ini. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang membuatnya merasa sangat bosan. Menempel erat pada kakak sepupunya, ternyata cara ini sangat efektif untuk menyingkirkan lalat berdasi berstelan jas.

Sementara itu Namu hanya tersenyum-senyum saja melihat kelakuan adik cantiknya ini. Ia pun sebenarnya juga merasa diuntungkan dengan sikap Cinta. Dirinya pun aman tanpa gangguan para putri cantik yang sejak tadi meliriknya. Jika ada yang berani mendekat, pastilah mereka telah sangat paham dengan hubungan keluarga antara Cinta dan dirinya. Sejauh ini masih sangat aman, bahkan hingga acara perjamuan bisnis ini hampir berakhir, sama sekali belum ada gangguan.

" Kapan kau akan melihat inovasi medicub kami ?", Syailendra bertanya saat acara itu sudah sepenuhnya berakhir.

" Itu lebih cocok Cinta yang menjawabnya ", Namu melirik wanita di sebelahnya.

" Medicub .... Ooh... jadi ini mas Alend yang itu ya.... ".

" Ha.. ha.. ha... lola' amat non. Ya ..iya ini Syailendra Thoriq Zachary.... bisa-bisanya kamu tidak tahu ", Namu tertawa.

" Maaf ... ", sesal Cinta. Ia merasa malu karena tidak mengenali sang direktur dari perusahaan yang menjalin kerja dengan Rumah Sakit milik keluarganya.

" Oh ... jadi ini nona Kanaya Cinta. Akhirnya kita malah bertemu di sini. Ayahku kenal baik dengan Om Mandala, mereka bersahabat sejak dulu. Dari situlah akhirnya terjalin kerjasama. Dokter Hana... beberapa kali kami bertemu. Rupanya ini putrinya... pantas saja sesaat tadi aku merasa kau mirip seseorang ".

" Naaah.... sudah saling kenal 'kan..... mission accomplished ", seringai Namu dengan senyuman puas.

" Traktiran ... batal !!! ", geram Cinta.

Sementara itu Syailendra menatap keduanya dengan bingung.

" Santai mas Alend..... adikku ini hanya... aduh !!!! ", Namu mengaduh keras saat cubitan maut dari Cinta itu kembali mendarat di pinggangnya.

" Nggak usah didengerin.... kakak ku ini sableng.... efek jomblo terlalu lama ".

Syailendra yang melihat semua kekonyolan itupun pada akhirnya ikut tertawa.

" Kau harus berguru pada ku untuk mengatasi sableng itu. Sepertinya lebih lama aku menjomblonya ". Masih dengan sisa tawa, Syailendra mengucapkannya.

" Hah ?!!! ". Tiba-tiba saja wajah Cinta menjadi merona, ia merasa malu dan tidak enak hati.

" Siaaap ... kakak guru. Tolong ajari aku ajian penangkal sableng itu ".

' Iiisshhh.... kalian ini. Dasar para pria '.

Dan Cinta pun tersenyum garing ditengah derai tawa tanpa beban dari dua pria tampan yang kini melangkah mengapitnya. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan iri para gadis di tempat itu. Dan malam yang mulai beranjak larut, akhirnya mengantarkan pesta itu pada akhir yang sebenarnya.

" Kak.... boleh tanya ? ", Cinta membuka pembicaraan saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang.

" Sejak kapan tanya padaku itu harus ijin..... tentang Syailendra ? ".

" Iya....tapi bukan juga sih ".

" Kenapa ? ganteng ya dia ".

" Dug ", satu pukulan yang tidak terlalu keras menghantam lengan Namu. Sementara itu Cinta terlihat sedikit cemberut.

" Serius lah sedikit ... ".

" Okay.... tanyakanlah ", Namu tersenyum sambil tetap menatap jalanan yang terhampar. Saat itu gerimis mulai turun.

" Proyek Medicub itu..... duluan mana, Medicub atau Proyek perjodohannya ? "

" Menurut mu ? ".

" Bisa nggak kalau jawab saja..... tidak usah balik bertanya ". Cinta pun nampak sangat sebal dengan sikap Namu.

" Ha.. ha.. ha... kalau ngambek begitu ... tambaaah maniiiis. Hati-hati looh.... disebelah mu juga jomblo, nanti kalau jatuh cinta bagaimana ? ", goda Namu.

" Jatuh Cinta saja..... mungkin lebih baik begitu, daripada dijodohkan dengan pria-pria tidak jelas begitu ", Cinta pun bersungut-sungut kesal.

" Tidak jelas bagaimana ?. Itu Syailendra Thoriq Zachary .... putra sulung dari pak Rayhan teman papa ku, direktur Real Big Company Building.... masa kamu tidak tahu ".

" Yang juga nggak laku-laku .... ", Cinta menyergah dengan ketus.

" Yang nggak laku bukan cuma Alend kaleee.... sebelahmu juga nggak laku-laku ".

Mau tidak mau akhirnya Cinta pun tertawa. Jika tawa itu pada awalnya begitu lepas, tapi di akhir terdengar seperti nada miris yang mengiris. Namu yang juga ikut tertawa, menoleh dan sejenak menatap adik sepupu di sebelahnya .

" Kenapa ? ", tanya Namu.

" Kita ini.... sepertinya .... kena kutukan. Yang disebabkan oleh kebengalan adik-adik kita..... playboy kelas kakap ", suara Cinta terdengar bersungguh-sungguh.

" Hem.... apa perlu kita para sulung ini diruwat untuk menghilangkan sial ? " .

" Mungkin .... biar cepat ketemu jodoh gitu ?", Cinta pun seolah sepakat dengan Namu.

" Ya .... bisa saja. Tapi mungkin saja ini hanya permainan waktu. Berpayung langit yang sama, di belahan dunia yang sama..... mungkin sebenarnya sudah ada jodoh kita ".

" Atau mungkin ..... jodoh kita sudah sangat dekat ya kak. Hanya kita yang terlalu bodoh .... untuk bisa menyadarinya ".

" Ya ... mungkin saja ".

............................

Pojok Author ......

Penasaran 'kan ?....... Ikuti terus ceritanya para ksatria yang berjuang menemukan tambatan hatinya.

Lalu bagaimana dengan Cinta ?.....

ini baru awal cerita .... simak terus. Dan kasih doa serta semangat buat ku ya .

Bagi yang belum pernah baca RINDUKU PADA SANG ELANG dan BIDADARI BIRU...... silahkan baca dulu. Biar lebih "klik" .... di cerita ini.

Semoga 'dear reader' semua dalam limpahan berkah, kesehatan dan keselamatan. Terimakasih atas cinta dan dukungannya.

...😘😘😘😘😘😘😘...

Cerita Si Sulung (2)

Gerimis itu terasa begitu romantis, mengiringi malam yang melarut. Gemintang tak terlihat karena mendukung yang pekat. Dua orang di dalam kendaraan yang meluncur dengan kecepatan sedang, melaju menembus jalanan kini saling diam terhanyut dalam pikirannya masing-masing.

Ada resah yang kentara disetiap tarikan nafas mereka. Gundah pun ikut serta mengiringi, membuat hati semakin terombang-ambing. Terkadang keduanya menghembuskan nafas yang berat hampir bersamaan. Tapi tetap saling diam. Hingga kemudian Namu mendengar sebuah isak yang lirih tersamar oleh helaan nafas.

" Hei.... ", pria itu menoleh menatap Cinta yang segara berpaling menyembunyikan air matanya. Mobil itupun dibawa menepi pada sebuah area parkir taman yang cukup luas. Walaupun sebenarnya, jarak rumah sudah tinggal beberapa belas menit saja.

" Ada apa ? .... ceritakan padaku ".

Namu perlahan menyentuh pundak Cinta, lalu jemarinya pun turun dan menggenggam jemari Cinta dengan lembut. Membuat gadis itu menoleh dan mendapati kakak tampannya tengah tersenyum lembut menatapnya.

" Aku lelah kak ", lirih terucap dari bibir Cinta.

" Bersandarlah..... ada kakak mu di sini ".

Perlahan Namu menarik kepala gadis itu dan menyandarkan di pundaknya. Lalu seperti yang sudah-sudah, Cinta pun akan menangis lama di sana. Dan Namu pun tidak akan beranjak sedikit pun, hingga tangisan Cinta benar-benar telah usai.

" Sudah ? ".

Cinta mengangguk sebagai jawaban. Kini sekotak tissue telah berpindah ke pangkuannya dan menjadi penghapus jejak kesedihan tadi. Namu tersenyum melihat hal itu, ia pun sedikit membuka kaca mobil dan membiarkan gerimis kecil menularkan hawa dinginnya.

" Aku..... berdebat hebat dengan mama. Apa ku turuti saja ya kak permintaannya ..... menikah. Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan kebahagiaan anaknya, bukan ?. Pasti pilihan mama itu orang yang baik ...... ".

" Kau menerima permintaan itu bukan semata-mata karena kamu jenuh. Tapi kamu harus yakin Cinta. Aku memang juga belum pernah menikah, tapi menurut ku .... saat kita sudah menikah dengan seseorang, itu artinya adalah mengikat hidup selamanya. Bagaimana jika tidak ada cinta sama sekali ? apakah bisa terus terikat bersama? bukankah hanya saling menyakiti ? ".

" Aku juga bilang seperti itu pada mama... tapi katanya, cinta itu pun bisa tumbuh seiring waktu berjalan dalam sebuah pernikahan ".

" Bagaimana jika tidak ? ".

Cinta terdiam dan sedikit menunduk. Ia kembali menghela nafas panjang sebelum berkata-kata lagi.

" Umur ku menjelang dua puluh delapan tahun..... ".

" Aku sudah tiga puluh tahun lebih sebulan ... ", sambar Namu dengan cepat.

" Tapi kau pria kak.... aku perawan tua ".

" Cinta ..... Tante Hana hanya sangat khawatir padamu dan berusaha membantu mu. Bicaralah baik-baik dengannya ..... perlu bantuan ku ?".

" Kau ..... hi.. hi.. hi.. ", Cinta tekikik. " Memang bisa membantu ku?. bantu dirimu sendiri dulu kak.... bawa pacar atau sekalian calon istri .... baruuuu aku percaya kau bisa membantu ku ".

" Oh iya ... ya.... ". Namu pun tertawa terbahak-bahak menyadari betapa ironisnya.

" Sudah ah.... ayo pulang. Biarkan saja semuanya, kupingku sudah tebal kok ".

Rumah keluarga Arjuna berada satu kompleks dengan rumah keluarga Mandala. Hanya berjarak beberapa menit saja. Malam itu sudah mulai larut saat Namu mengantarkan Cinta sampai di rumah.

" Kau tidak mampir dulu kak ? ".

" Sudah terlalu malam, pasti Om dan Tante juga sudah tidur ".

Namun kemudian Cinta mengerutkan keningnya ketika melihat Namu yang katanya tidak akan mampir, justru malah mendahului turun. Saat ia masih sibuk berkutat melepaskan sabuk pengaman, pria itu sudah siap di samping pintu sambil membuka payung lebar-lebar. Cinta tersenyum, inilah kakak yang sangat disayanginya.

" Ayo ", dan Namu merengkuh pundak Cinta membawa gadis itu berjalan mendekati pintu pagar.

Belum lagi mereka tiba didepan pintu pagar, benda itu tiba-tiba saja sudah bergeser perlahan. Seorang pria mengangguk hormat pada dua orang majikannnya.

" Terimakasih pak Jo ", ucap Cinta lembut yang disambut pria itu.

" Sendirian pak ? ", tanya Namu Kemudian.

" Dengan Kasan kok mas ", jawab pria itu ramah.

Namu mengantarkan Cinta hingga ke depan pintu rumahnya yang tinggi dan lebar. Membukakan pintu itu perlahan tanpa ikut serta masuk kedalam. Diambang pintu itu, keduanya berdiri saling berhadapan dan berbagai senyuman.

" Aku pulang ya. Ingat, dengarkan kata hatimu..... jangan mengambil keputusan apapun saat sedang marah ".

Cinta hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju. Ia menahan telapak tangan Namu yang membelai pipinya. Memejamkan matanya, seolah menyesap damai yang diberikan seorang kakak

" Kakakku.... ", desisnya.

" Aku pulang dulu ya .... ".

Cinta pun melepaskan genggamannya dan membiarkan Namu membalikkan badan. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu bergegas meninggalkan kediaman Om dan Tante nya. Kepergiannya seolah-olah menyongsong gerimis yang melebat.

***Pria hujan.....

Seribu boneka pemanggil hujan ku buat dengan sejuta perasaan

Aku menyukai hujan,

Karena airnya menyembunyikan air mata ku

Karena dinginnya menenangkan sukma ku

Seorang pria yang datang bersama hujan

Entah mana yang lebih aku sukai

Pria itu, atau hujan yang datang menyertai

Seribu boneka pemanggil hujan

Cukuplah hanya mereka yang memahami

Karena akupun tidak ingin mengerti

Pria yang pergi bersama hujan

Entah siapa yang membuatku sesedih ini

Pria itu, atau hujan yang mengiringi***

.................

Hari Sabtu pagi di rumah kediaman keluarga Mandala. Saat itu Orlin baru saja menyeduh sepoci teh panas di dapur, ketika sebuah pelukan dan kecupan hangat menghampiri.

" Selamat pagi mama tersayang ".

Si putra sulung datang menghampiri dengan manja. Namu terlihat segar dengan sisa-sisa air yang membasahi keningnya. Setelan joging yang berwarna biru muda menambah berlipat-lipat kadar ketampanan pria itu.

" Waaah.... nggak ajak papa sekalian nak ?".

" Nggak mah, biar aja..... papa lebih baik temani mama jalan sehat aja. Hi .. hi.. hi.. biar nggak encok ".

" Kata siapa encok ?", suara lain mengagetkan keduanya.

Mandala sudah berdiri dengan setelan joging yang hampir sama. Pria ini sudah melewati usia setengah abad, rambutnya sudah banyak yang beruban. Tapi wajahnya masih sangat tampan, dan sinar mata itu begitu lembut. Apalagi jika tersenyum seperti saat ini.

" Bukan hanya encok.... tapi kasihan mama nggak ada temennya buat olahraga pagi. Limited edition loh pah.... susah cari gantinya ", Namu mengerling menggoda.

Sambil berlari kecil melewati ayahnya, pria muda itu menepuk pundak sang ayah dengan senyuman menggoyang.

" Lihat kelakuannya.... ", Mandala tersenyum dan menunggu kedatangan sang istri. Lalu menggandeng tangan wanita tercinta ini, kemudian melangkah keluar bersama.

" Bukankah sama usilnya dengan mu. Persis seperti kamu mas " .

" Iya ... ya ... ha.. ha.. ha... ".

Dan sepasang cinta yang telah teruji dalam kurun waktu yang tidak sebentar itupun berjalan bergandengan dengan mesra. Menyusul si sulung yang telah berlari, sementara mereka berjalan dengan santai menikmati embun menyongsong fajar.

" Ingat hari dimana kita pertama kali berciuman ? ", Mandala tersenyum mengenang hari itu.

" Tentu saja ", balas Orlin dengan mantap tanpa ragu. " Diawali dari tipu muslihat di pagi hari, di track joging. Tunggu !!.... ada yang keliru... bukan pertama kali kita berciuman. Tapi pertama kalinya kau menciumku ".

" Istriku .... bagaimana mungkin aku keliru. Aku masih ingat bagaimana rasa bibir mu yang manis dan lembut itu .... tiba-tiba saja berubah menjadi asin oleh air mata. Di pinggiran jalan tol itu..... ".

" Itu ciuman paksa mu yang kedua mas ", sanggah Orlin dengan cepat.

" Yang pertama ? ", Mandala kebingungan. Padahal ia yakin sekali kalau ingatannya tidak meleset.

" Yang pertama .... di halaman parkir IGD dengan 'Blui' sebagai saksi ".

" Oh ... ", Mandala terpaku sesaat. Namun kemudian ia tertawa. " Heiii.... saat itu ya. Itu hanya sebuah kecupan kecil di pipi. Itu bukan kategori ciuman, sayang ".

" Kau ini !!! seharusnya kau turunkan sedikit kepiawaian mu sebagai playboy pada dua anak lelaki mu. Mereka seperti bukan anakmu saja ... ".

" Bukankah doa mu terkabul sayang, mempunyai dua orang anak lelaki yang santun dan setia ".

" Iya juga sih .... ", Orlin nampak mengangguk-angguk membenarkan. " Tapi tidak seperti ini juga, usia keduanya sudah lewat seperempat abad, tapi belum pernah ada satu gadis pun yang nampak menggoyahkan hari mereka .... ini menghawatirkan mas ".

" Karena standar yang mereka pake cukup tinggi. Melebihi standar yang ku terapkan. Pasti mereka memilih gadis yang minimal ..... seperti mu ".

" Oh ya.... memang aku bagaimana ? dan dari mana kau tahu itu mas ? ".

" Tentu saja aku tahu, karena mereka anak-anakku. Kamu itu....... wanita manis yang lembut, cerdas, hangat dan mampu menyempurnakan .... that's it ".

Orlin tersipu malu mendengar pujian itu. Ia pun melingkarkan kedua lengannya ke pinggang sang suami. Berbalas sebuah rengkuhan lembut. Sejoli itu pun berjalan dalam kehangatan cinta yang sudah tidak diragukan lagi.

" Tapi aku sangat berharap .... Namu dan Haidar segera menemukan tambatan hati mereka ", ucap Mandala kemudian penuh pengharapan.

" Oh ya.... kalian para pria juga jangan over protective sama Kirana. Pemuda-pemuda takut dengan kalian para bodyguard yang tampan "

" Yang takut dan tidak sesuai standar..... minggir. Minimal... yang bisa dekat dengan Kirana harus yang setara dengan ku ".

" Heiii.... ini tentang Cinta. Standar dan kriterianya hanya hati yang bisa mengukurnya. Jangan paksakan dengan semua standar dan kriteria versi kalian ".

Mandala tidak menjawab, ia hanya tertawa berderai. Ia tahu betul bagaimana sang istri yang tidak pernah silau dengan harta dan tahta. Bahkan untuk mendapatkan hati wanita ini, seluruh hartanya tidak berguna, begitu juga dengan wajah tampannya.

" Om ..... Tante... ".

Sebuah sapaan terdengar dari arah belakang mereka. Sesosok yang ramping dengan tubuh tinggi semampai menyusul keberadaan mereka. Cinta dengan rambut ekor kudanya nampak berpeluh dengan sesungging senyuman manis.

" Hei... tadi Namu sudah di depan Cinta ", kata Orlin.

" Oh ya ". Cinta tetap berlari kecil dengan arah mundur. Sehingga ia tetap bisa berhadapan dengan om dan tantenya.

" Cinta.... susul Namu. Kalau bubur ayamnya sudah buka..... booking tempat buat kita berempat ya " .

" Okay Om ..... yuk, duluan ".

Cinta pun memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Lalu berlari kembali meninggalkan Orlin dan Mandala yang masih tetap berjalan santai.

" Cinta..... bukan kah sebentar lagi usianya dua puluh tujuh tahun ya ", tanya Orlin.

" Ya.... dan dia mengikuti dua pria kita.... masih jomblo. Mba Hana sangat khawatir, ia minta tolong padaku ".

" Apa itu ? ".

" Mencarikan pria yang tepat untuknya " .

" Sudah kau dapatkan ? ", tanya Orlin dengan rasa penasaran yang meletup-letup.

" Masih ingat Rayhan dan Nilam ? ".

" Ah ya..... tentu saja. Kau jodohkan dengan putra mereka ?, yang mana ? ".

" Yang sulung, kalau si kembar sudah punya pasangan semua. Kebetulan Rayhan banyak bercerita padaku.... dan aku juga sudah beberapa kali bertemu Syailendra, anaknya Rayhan " .

" Oh yaaa..... si kecil yang cerdas berlogat British dengan sepasang mata kelabu yang bening itu ya. Waaaah... seganteng apa dia sekarang?. Mba Hana dan bang Juna setuju ? ", Orlin terlihat sangat berantusias.

" Tentu saja. Tadi malam itu... kenapa aku dan Juna sama-sama mewakilkan undangan jamuan bisnis ...... itulah misi tersembunyinya. Pasti Namu sudah sukses mempertemukan keduanya ".

" Waaaaaah.... aku tidak sabar ..... menunggu lanjutan kisah ini ". Orlin nampak berbinar-binar sesaat, namun ia tiba-tiba saja terlihat sedikit murung. " Lalu bagaimana dengan Namu ? ".

" Oh .... si oppa itu. Tentu saja ada seorang gadis pintar, cerdas, sederhana namun sangat cantik untuk nya ".

" Benarkah ? ... kenalkan padaku ", Orlin kembali terlihat sangat bersemangat.

" Kau sudah kenal kok ", Mandala hanya tersenyum tak mengindahkan tatapan penasaran istrinya. " Tunggu saja.... perlahan.... biarkan terjadi secara natural... tapi pasti ".

" Tapi harusnya mas memberitahu ku juga ".

" Sabar.... biar ku tata semuanya dulu. Biar Namu nggak curiga dan kabur. Okay ???? ".

Walaupun tenggelam dalam rasa penasaran, Orlin pada akhirnya mengangguk menyetujui. Sementara itu beberapa puluh meter di depan pasangan itu, nampaknya Cinta sudah bergabung dengan Namu yang berlari mengelilingi taman.

" Om dan Tante minta kita booking tempat di bubur ayam. Kau yang booking ya kak.... aku tambah satu putaran dulu ".

Tanpa menunggu persetujuan Namu, gadis itu mempercepat larinya mendahului. Namu hanya menggeleng kecil dan membuat statis larinya tepat di samping tenda bubur ayam. Masih dengan mengatur nafasnya, ia pun mendekati si mamang tukang bubur.

" Mas Namu..... selamat pagi ", sapa pria penjual bubur itu ramah.

" Kapling tempat untuk empat orang ya mang. Bubur nya nyusul ya ...... nunggu yang tiga sampai dulu ".

" Okay mas.... minum nya? ".

" Air putih hangat ya.... empat. Oh ya.... nanti bungkus dua ya mang ".

Pria itu menautkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya tanda mengerti. Dengan senyuman riang, iapun menyiapkan satu meja dengan empat kursi. Beberapa saat kemudian Cinta yang sudah menyelesaikan putaran terakhirnya tampak mendekat, di susul Mandala dan Orlin.

" Empat bang..... satu porsi jumbo ya ", seru Namu penuh semangat.

" Whiiiy...... porsi ngamuk ", goda Cinta sambil duduk menyebelahi Namu.

" Habisnya ..... tadi malam ada yang ngambek nggak mau makan malam ".

" Suruh siapa meninggalkan ku dengan sengaja..... diumpamakan pada para pria itu ".

" Tapi Syailendra bukan buaya loooh ...... ".

" Bukan dia.... tapi temennya yang reseh itu ".

" Berarti kalau dengan mas Alend.... mau dooooong ", Namu menyeringai menggoda.

" Diem ..... ", Cinta dengan sengaja menginjak kaki Namu membuat pria itu meringis.

" Berarti mau ya.... ".

" Ish!!! kakak ".

" Mau apa ? ", tanya Orlin yang baru saja tiba dan langsung duduk dihadapan Cinta.

" Mau sate telor mudanya dua.... oh ya, Om Mand mau ekstra bawang goreng 'kan ? ", Cinta berusaha mengalihkan perhatian.

" Pfftttt.... ", Namu menahan tawanya. Tapi sebuah hentakan yang menghantam kakinya kembali membungkam dan membuatnya meringis.

" Kenapa ? ", tanya Mandala keheranan melihat ekspresi si sulung.

" Oh .... itu pah.... ada meteor jatuh ".

" Ooooh ..... meteor ", seloroh Mandala menahan geli.

Sementara Cinta semakin mendelik kesal. Lalu pinggang ramping Namu dengan otot perut yang padat itu kembali menjadi sasaran empuk dari serangan ajian cubit maut dewi Cinta. Namu meringis, mengaduh dan juga tertawa.

" Heeeeeiiii....... kalian ini, tidak berubah.... dari kecil selalu seperti ini ", lerai Orlin.

Cerita Si Sulung (3)

" Sungguh ? ", suara Hana terdengar tidak percaya.

" Iya.... tapi jangan buru-buru mba. Yang jelas Namu bilang untuk kali ini Cinta tidak menunjukkan ekspresi penolakan ".

" Syukurlah.... semoga ini awal yang baik untuknya. Terimakasih banyak ya adikku "

Dan Hana pun menutup telepon itu, wajahnya terlihat sumringah. Sementara itu Arjuna memperhatikan istrinya dengan tatapan penasaran.

" Semoga yang kali ini berhasil ".

" Dengan yang mana ? ", tanya Juna sambil menerima semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepul dan beraroma wangi nikmat.

" Yang dari Semarang itu.... anaknya .... Rayhan atau ... siapa ya tadi ".

" Ooh Rayhan... ya aku kenal, mereka teman di Inggris dulu. Kisah cinta Rayhan dan istrinya sungguh luar biasa' ".

" Oh ya .... boleh dong aku diceritain "..

Arjuna tersenyum sambil menikmati bubur kacang hijau yang manis, gurih dan hangat itu. Lalu ia pun sedikit bercerita.

" Rayhan dan Nilam istrinya, terpisah enam tahun. Lalu di negara seribu peri dengan berhiaskan bunga bluebell itu... mereka kembali bertemu. Cinta yang indah, tulus... dan luar biasa ".

" Waaaah.... ", sepasang mata Hana berbinar-binar. " Berarti nggak salah dong kalau Cinta kita jodohkan dengan anak mereka ".

" Heeem ..... jodoh itu hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai orang tua hanya berikhtiar ".

" Iya sih.... , tapi ngomong-ngomong.... sudah pernah bertemu dengan anak itu? Syailendra maksud ku ".

" Pernah dua kali. Tinggi... tampan .... tapi senyumannya sedikit dingin. Dan sepasang matanya.... sebening warna gerimis yang kelabu ".

" Waaaaah ...... jangan-jangan malah aku yang jatuh cinta duluan nih ".

" Coba saja kalau berani ". Arjuna mengacungkan tinjunya gemas, Hana pun tertawa.

" Sayang, .... apa pernah terlintas di benakmu ?. Jika sebenarnya Cinta memang tengah menunggu seseorang ? ", tanya Juna kemudian.

" Aku sungguh tidak berharap penantian seperti yang kita alami ..... juga dirasakan olehnya. Iya kalau pria itu paham.... dan punya perasaan yang sama. Kalau tidak ? ", wajah Hana terlihat murung diakhir kalimat.

" Apa tidak sebaiknya kita tanya dia baik-baik ", usul Juna

" Cinta...... dia seperti ku. Tidak mungkin mau bercerita. Dia akan memendamnya sendiri ".

Sejenak sepasang orang tua itu terdiam, memikirkan sulung mereka.

" Sayang, siapa pria kelihatan dekat dengan putri kita. Maksudku .... dalam pengamatan mu ? " tanya Hana kemudian.

Arjuna terlihat berpikir sejenak. Pria yang dekat dengan putrinya, seseorang yang mungkin sebenarnya sudah mereka kenal hanya saja tidak menyadarinya. Siapa pria itu ?

" Seperti nya tidak ada . Cinta terlalu tertutup memang. Atau kita yang sudah abai dengannya ? ".

" Itu yang aku takutkan. Mungkin kita terlalu disibukkan dengan masalah-masalah yang dibuat Raka. Ah, anak itu ..... ". Hana memegang keningnya.

" Sudahlah .... doakan saja yang terbaik untuk anak-anak. Kau menikah dengan ku juga usia tiga puluh lebih. Cinta masih dua puluhan .... ", hibur Arjuna.

" Iya juga sih.... kini aku paham yang dirasakan almarhum papa dulu ".

" Aku nanti akan bicara dengan Namu... siapa tahu dia mengerti sedikit banyak tentang Cinta. Mereka berdua 'kan cukup dekat selama ini ".

Hana pun mengangguk menyetujui apa yang disampaikan suaminya.

....................

Siang itu belum terlalu terik saat Namu mendengar suara mamanya bercakap-cakap dengan seseorang di dapur. Bukan suara ibu tukang masak yang biasanya. Benar saja, ada tiga orang wanita yang sibuk dengan berbagai peralatan dan bahan makanan di dapur yang cukup luas itu.

" Naaaah.... ini dia si sulung. Namu ... kenalkan, ini Tante Lita dan Astrid putrinya ", Orlin memanggil Namu yang terlihat di ambang pintu

Dengan sedikit canggung, pria muda ini pun datang menghampiri. Sementara seseorang yang disebut sebagai tante Lita itu nampak tersenyum lebar, wajahnya terlihat bersemangat.

" Halo Namu, kami baru pindah ke kompleks ini dua bulan yang lalu ". Wanita yang terlihat sangat modis itu menyapa dengan riang. Sepintas usianya terlihat seperti tiga puluhan, walau pastinya sudah mendekati atau mungkin lebih dari lima puluh tahun.

Namu membalas dendam tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Menjabatnya sesaat dengan gesture hormat.

" Astrid anak tante yang bungsu. Baru selesai magister di Leiden Holland. Biar mandiri gitu ... jadi ya kita kirim ke sana..... bla... bla... bla..... ".

Namu meringis kecil dan memberikan isyarat jengah pada Orlin mamanya. Wanita ini masih sibuk bercerita membanggakan putrinya. Orlin hanya tersenyum saja melihat ekspresi Namu. Sementara si topik pembicaraan nampak tersipu dan tersenyum sambil sesekali mencuri pandang pada Namu.

" Eh Astrid.... ayo kenalan dong ".

" Astrid ", akhirnya gadis itupun memperkenalkan dirinya pada Namu.

" Namu ".

" Kalian ini .... kok malah pada kayak anak SD gitu. Ngobrol dong .... ".

Namu melirik Orlin, berharap pertolongan dari mamanya. Dalam posisi seperti ini untuk kesekian kalinya tetap saja masih membuat pemuda itu tidak bisa menemukan jalan untuk kabur.

" Assalamualaikum .... ", tiba-tiba sebuah salam menyeruak. Masuklah seorang gadis cantik tinggi semampai mengenakan celana jeans dan t-shirt merah muda yang manis. Rambut ekor kudanya bergoyang seirama langsung riang, sementara senyuman manis pada wajah dengan make up minimalis itu terasa sangat memikat.

" Wa'alaikusalam ....", jawab serempak empat orang yang ada di situ.

" Ada tamu rupanya ". Cinta yang baru saja datang langsung memeluk dan mencium Orlin sesaat .

Pemandangan yang tak luput sama sekali dari dua orang tamu di keluarga Mandala, tiba-tiba saja merubah gesture dan mimik Lita. Wanita itu nampak kurang nyaman dan merasa seperti tersaingi.

Namu tersenyum dalam hati menyadari perubahan itu. Inilah kesempatan untuk melarikan diri, pikirnya.

" Kok kesiangan ?. Aku hampir meninggalkan mu ".

" Hah ?!!", Cinta bengong. Tapi tidak butuh waktu lama karena ia sudah harus mengikuti langkah Namu dengan terpaksa. Pemuda itu menggelandangnya tanpa kompromi terlebih dahulu.

" Mohon maaf ya semua, ada urusan penting dan genting dengan nona ini.... saya permisi dulu Tante, Astrid ... ".

" Ah .... ya... ya.... maaf. Permisi dulu Tante ... ", Cinta dengan tergeragap mengikuti tingkah polah kakaknya.

Sepeninggalan Namu yang menyeret Cinta, Orlin menangkap aura tidak suka dari Lita. Ia pun merasa tidak nyaman dan akhirnya harus meluruskan semua prasangka yang pastinya sedang berkecamuk di hati wanita yang kini terlihat cemberut di hadapannya.

" Itu Cinta, putri sulung mba Hana ... kakaknya suamiku. Rumahnya juga dikompleks ini kok. Mereka memang dekat sejak kecil. Kali ini baru ada proyek yang dikerjakan bersama ".

" Ohhhh.... ". Nampak sekali kelegaan di wajah Lita. " Kalau begitu..... mungkin Astrid bisa ikut bantu-bantu dong.... ya sekalian biar bisa lebih akrab lagi ".

Orlin yang sangat memahami arah pembicaraan ini hanya bisa tersenyum saja. Tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Akhirnya Orlin pun mulai terbiasa.

..................

" Calon untuk mu ya kak ? ". Pertanyaan itu sama sekali bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tapi lebih untuk menggoda. Cinta yang masih setengah diseret oleh Namu untuk mengikuti langkahnya yang panjang, terkikik geli.

" Ikut aku.... ". Hanya itu yang terucap. Tanpa melepaskan tangan Cinta, iapun juga membawa serta adiknya itu masuk ke dalam kamar.

" Tunggu sebentar ".

Tanpa menunggu lagi, Namu melepaskan pegangan tangannya lalu berjalan menghampiri lemari pakaian. Mengambil sebuah atasan bergaya casual berwarna coklat pekat. Berurutan, ia melepaskan kaos santai yang dipakainya dan segera mengganti dengan atasan casual yang baru saja di ambilnya. Tanpa rasa canggung memperlihatkan deretan otot kekar yang berbarid rapi di selebar dada dan perutnya.

" Bruk ", dengan iseng melempar kaos bekas dipakainya ke arah Cinta.

" Iiih..... dasar!!!. Bau tau ... ", gerutu Cinta dengan kesal.

" Wangi kaleeee ..... masa abang ganteng bau... ".

" Halah.... ganteng tapi nyalinya kecil. Tante-tante macam itu saja takut ".

" Bukan takut.... ngeri ".

Dan Cinta pun tak kuasa menahan tawanya. Air matanya sampai keluar karena tawa yang lepas.

" Kita pergi yuk ... ke rumah lama ku ".

" Nggak ah ... jauh ".

" Lah... bukannya kamu kesini mau bayar utang?. Nggak usah bakso Gajah deh... temani aku saja ".

" Kak.... sandiwara barusan ? tidak termasuk pembayaran ? ".

" Sudah beda cerita adiiiik.....".

" Aaaww.... ".

Namu tertawa puas melihat Cinta yang mengaduh saat ia berhasil memencet hidung yang manis itu. Perbuatan yang berbuah satu tinjuan di pundaknya. Tapi pemuda itu hanya tertawa saja.

" Kita langsung ke bawah, nggak usah pamit mamah. Masih ada duo gurita di sana ".

"Pfffft.. hi.. hi ..hi..", Cinta berusaha keras menahan tawanya yang tak urung terloloskan juga.

" Cewek ini ....iiih ".

Dengan cepat Namu membekap mulut gadis itu. Tapi yang terjadi adalah tawa itu akhirnya tak bisa terkendali. Bahkan keduanya kini tertawa berderai-derai. Sambil melangkah cepat menuruni tangga dan bergegas menuju garasi, menghindari dapur tentunya.

Tapi tingkah dua orang sulung yang kompak itu terekam dengan baik oleh sepasang mata yang tajam mengawasi.

" Maaf ya ... boleh aku tanya sesuatu padamu. Tapi kalau tidak berkenan, tidak usah kau jawab ... ".

Orlin menatap Lita yang tiba-tiba saja menjadi sangat serius sekembalinya dari menerima telpon tadi. Menutupi rasa penasarannya, Orlin mengembangkan senyum.

" Boleh mba, apa yang ingin mba tanyakan ".

" Ini tentang Namu dan sepupunya itu. Mereka sepertinya sangat dekat ya. Kau tidak khawatir ? ".

Mendengar pertanyaan itu, Orlin mengernyitkan kening. Mencoba memahami maksud dari wanita ini.

" Maksudnya mba Lita apa ya ? ", Orlin balik bertanya.

" Yaaa... walaupun keduanya bersaudara, tapi mereka 'kan tetep saja pria dan wanita. Kedekatan seperti itu bukankah cukup .... ".

" Mengkhawatirkan ? ", sergah Orlin dengan cepat. " Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Cinta sangat menyayangi Namu sebagai kakaknya. Mungkin karena di usia toddler, keduanya sudah punya adi, akhirnya timbul perasaan saling mendukung yang kuat, membuat mereka sangat dekat. Kedekatan dua orang sulung ".

" Oh begitu ....... tapi, kalau orang yang tidak tahu, pasti mengira mereka pasangan kekasih. Akhirnya yang pada mau mendekat jadi mundur ..... nggak khawatir dengan usia mereka ? ".

Orlin tidak segera menjawab, ia sebenarnya merasa risih dengan topik pembicaraan ini. Apalagi yang mengajak bicara hanyalah sekedar tetangga baru yang belum dia kenal dekat. Walaupun para suami sudah cukup lama saling kenal dalam hubungan bisnis, tapi bukan berarti istrinya harus ikut campur terlalu dalam. Tapi Orlin kembali hanya mengulas senyum.

" Terimakasih mba Lita perhatian sekali. Tapi biarlah mereka menemukan cinta dengan alami.... mereka sudah dewasa ", kata Orlin dengan bijak.

" Mau ku bantu cari jodoh buat Namu ? ".

" Hah ?!!!!! ".

..................

" Kenapa kau tidak bilang kalau ada dia ", Cinta menggeram dengan gemas pada Namu yang cengar-cengir.

" He... he... he.... memang sudah janjian sejak kemarin. Kehadiran mu adalah bonus ".

" Bonus ??? .... hei!!!! aku menyelamatkan mu dari dua gurita tadi ya. Kini malah kau umpankan aku ".

" Waduuuuh..... sadis amat mba. Nggaklah... mungkin kalian memang benar 'jodoh' ". Penekanan pada kata terakhir yang diucapkan Namu tentu saja membuat Cinta kembali menggeram.

Tapi sosok tinggi yang semakin dekat menghampiri itu pada akhirnya membuat Cinta mengubah sikapnya. Ia tersenyum dengan manis seperti yang dilakukan Syailendra. Sementara Namu cengar-cengir tanpa dosa.

" Wah ... Cinta ikut juga nih. Bisa taekwondo juga ? ".

" Hah ?!! .... ah nggak nggak kok. Ini .... disandera abang bengal ini ". Tentu saja maksud kata-kata itu merujuk pada Namu yang nampak pura-pura bodoh.

Berada diantara dua pria rupawan dengan postur yang mempesona tentu saja sangat menyenangkan. Apalagi kau bisa bergelayut manja pada salah satunya, karena dia kakakmu. Tapi ternyata tidak seindah itu juga kenyataan.

Semenjak dari keberangkatan mereka dari hotel tempat Syailendra menginap hingga tiba di rumah lama keluarga Namu yang kini sudah beralih fungsi menjadi 'dojo tempat latihan taekwondo, Cinta tak henti-hentinya menerima tatapan iri. Tentu saja dari para gadis-gadis yang mereka lewati. Tentu saja, gadis mana yang tidak akan terpesona dengan oppa Namu. Apalagi mereka yang penggila K-Pop, pasti akan klepek-klepek begitu Namu memperlihatkan sebaris gigi-giginya yang rapi seperti untaian mutiara dalam senyuman yang menawan.

Sekarang malah ditambah satu lagi pria limited edition yang mempunyai sepasang mata kelabu, bening dan sangat berkharisma. Perawakan Syailendra yang menurun dari ayahnya, membuat pria ini seperti seorang panglima dari kerajaan Turki Utsmani. Perpaduan genetik antara bangsa yang membuatnya nampak demikian indah.

Cinta tersenyum sendiri, melihat dua orang pria ini yang saling mencengkeram kerah baju latihan mereka dengan kaki berusaha saling jegal untuk melanjutkan. Pasti beberapa kerumunan gadis-gadis itu sedang membayangkan seandainya mereka adalah piala untuk hadiah pertandingan itu.

" Hai.... ".

Cinta menoleh saat sebuah sapa membuyarkan lamunannya. Seorang pria tersenyum dan tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya.

" Aku pernah melihat mu sebelumnya. Kau saudaranya Namu 'kan ? ".

" Iya ... ".

" Aku Glen... ", pria itu mengulurkan tangannya.

Sesaat Cinta nampak ragu. Ia memperhatikan pria ini. Dari seragam taekwondo atau dobok yang dikenakan, Cinta tahu kalau pria ini berasal dari satu Dojo dengan Namu. Tapi pernah bertemu dengannya, sungguh ia tidak ingat sama sekali.

" Tidak apa kalau kau tidak ingat. Namu tidak pernah mengajak gadis kesini selain Kirana adiknya dan tentu saja kau ". Glen menarik uluran tangannya yang tidak kunjung disambut oleh Cinta.

" Ah ... maaf, ya Glen. Aku benar-benar tidak ingat kalau kita pernah bertemu. Namaku Cinta ". Akhirnya Cinta pun membalas perkenalan dari Glen.

" Ha.... ha... ha... aku paham kok. Pasti Namu sangat protektif padamu ya Cinta.... nama yang indah, cocok sekali dengan kecantikan mu ".

" Terimakasih .... kau bisa saja Glen ".

" Oh ya, mau ku ajari beberapa teknik pertahanan diri ? ".

" Aku ? ", Cinta menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Iapun lalu tersenyum garing sambil berkata, " Tidak ah... aku nggak cocok untuk oleh raga ini ".

" Kata siapa ?. Justru sangat cocok untuk wanita secantik dan semenarik kamu. Akan sangat berguna untuk berjaga-jaga ..... mau ya ? ".

Cinta terdiam sesaat sambil mengernyitkan keningnya, kemudian dia mengangguk. Glen tersenyum penuh semangat.

" Ayo..... kita mulai, di sana ".

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!