NovelToon NovelToon

Pendekar Elang Putih

Padepokan Rajawali

Kabar kemunculan dua Pusaka Legenda  tanpa tanding berhasil mengguncang dunia persilatan. Pedang Rembulan dan Keris Megalamat.

Konon, kedua Pusaka Legenda tersebut muncul demi menjaga kedamaian dunia, mengingat begitu kacaunya dunia persilatan kala ini.

Namun sebaliknya, kabar kemunculannya malah menggemparkan hingga menimbulkan kekacauan. Akankah kedamaian bisa tercapai jika kedua pusaka telah ditemukan?

Banyak pihak yang masih mempertanyakan kebenaran isu yang beredar.

Padepokan Rajawali salah satunya.

Pimpinan Padepokan, Bagus Pradita atau yang dikenal dengan Belibis Putih. Meminta anggotanya untuk menahan diri agar tidak mudah terprovokasi.

Wakil Pimpinan, Kolo Ireng justru berbeda pendapat. Menurutnya, padepokan harus mendapatkan kedua pusaka legenda demi memperkokoh pondasi Padepokan Rajawali di mata lawan maupun kawan.

Kolo Ireng merupakan salah satu anggota yang paling sering berselisih paham dengan Belibis Putih. Kekalahan dalam pertandingan saat penentuan pemimpin bisa dikatakan sebagai pemicunya. Namun, hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa dibelakang layar, istri Kolo Ireng (Galih Sindu) selalu memanas-manasi suaminya. Bisa dikatakan hampir semua tindakan Kolo Ireng merupakan bentuk ambisi Galih Sindu yang tidak pernah merasa puas.

Usia Galih dan Kolo Ireng terpaut 20 tahun lebih. Tidak heran, jika banyak anggota padepokan merasa iri. Mereka menilai Wakil Pimpinan Kolo Ireng terlalu beruntung bisa mempersunting Galih. Kecantikan Galih menjadi faktor utama.

Galih adalah gadis muda yang diselamatkan Padepokan Rajawali. Pada kehidupan sebelumnya, Galih berusaha untuk bunuh diri. Dia terjun ke dalam jurang yang dalam. Berusaha mengubur pengalaman masa lalu di dasar jurang. Galih bersumpah, jika tetap bisa hidup, dia akan mengabdikan hidupnya pada siapa saja orang yang bisa menyelamatkan dia dari kematian. Kebetulan, orang itu adalah Wakil Pimpinan Kolo Ireng.

°°

"Mahesa putraku, hal apa yang kau risaukan hingga beban di wajahmu terlihat begitu berat?" suara pria 50 tahunan membuyarkan lamunan Elang Putih.

Elang Putih, pemuda yang selalu memakai topeng berwarna perak di wajahnya. Dengan bentuk bagian hidung menyerupai paruh elang. Dia bangkit lalu memberi hormat.

Di padepokan, hanya ada satu orang yang biasa memanggilnya dengan nama kecil. Yaitu gurunya, Belibis Putih.

Elang Putih adalah murid kesayangan Belibis Putih. Meski berstatus murid, kemampuan Elang Putih jauh diatas Gurunya. Itu disebabkan Elang Putih mewarisi kepandaian kedua orang tuanya.

"Jika kau memikirkan cara untuk pergi mencari Pusaka Legenda, sebaiknya kau pertimbangkan lagi. Salah atau benar suatu tindakan adalah bagaimana kau mengambil keputusan," imbuh Belibis Putih.

Elang Putih menggelengkan kepala.

"Tidak guru. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk membantah keputusan guru. Saya hanya teringat akan ayah dan ibu saya. Sudah lama kami tidak saling berjumpa."

Sinar Wajah Belibis Putih berubah mendengar jawaban muridnya. "Aih, maafkanlah orang tua yang tidak berguna ini. Tidak seharusnya aku melupakan hari ulang tahun muridku".

Masalah yang selalu timbul belakangan ini membuat Belibis Putih banyak kehilangan waktu. Hingga dia hampir lupa, pekan depan adalah hari ulang tahun murid kebanggaannya.

°°

Empat tahun yang lalu,

Saat Mahesa berusia 17 tahun, dia berhasil menyempurnakan ilmu Kanuragan warisan ayah dan ibunya.

"Mahesa Putraku, Ilmu Sepuluh Tapak Penahluk Naga telah menyatu dengan sempurna dalam dirimu. Kau harus bijak menggunakan kedua tanganmu. Selalu gunakan hati dan pikiran agar kau tidak salah saat menggunakan tangan," pesan ayahnya.

"Ayahmu benar putraku, kau juga berhasil menguasai ilmu Rahasia Pedang milik ibu. Jurus Sepuluh Langkah Pedang dan Jurus Dua Belas Pedang merupakan ilmu langka di dunia persilatan. Jangan gunakan Jika tidak mendesak," Ibunya menimpali. Ibu Mahesa menambahkan, sebelum tiba waktu yang tepat, Mahesa dilarang untuk menggunakan pedang.

Mahesa, atau yang dikenal dengan julukan Pendekar Elang Putih mempunyai tubuh yang istimewa. Terlahir dari sepasang pendekar pilih tanding, membuat bakat khusus terpancar sejak dia baru lahir. Tidak heran, diusia yang masih sangat muda, Mahesa berhasil menjadi pendekar dengan ilmu olah kanuragan tingkat sempurna. Dulu, orang tua Mahesa membutuhkan usia dua kali lipat lebih untuk mencapai tahap yang sama.

Ayah dan ibu Mahesa bernama Raditya dan Rengganis. Mereka menikah saat angka usia keduanya mencapai setengah abad. Tidak heran, saat ini rambut keduanya telah bertabur uban.

Raditya dan Rengganis merupakan sepasang pendekar yang mengasingkan diri. Setelah memutuskan untuk menikah, nama keduanya hilang dari dunia persilatan. Mereka bermukim di tempat yang tidak diketahui umum untuk mengasuh dan membesarkan buah hati mereka.

Hingga 17 tahun sudah, sekarang Mahesa tumbuh menjadi seorang pemuda gagah dan tampan. Meski dengan berat hati, Raditya dan Rengganis harus rela berpisah dengan anak tunggalnya. Mahesa harus belajar banyak tentang dunia, mereka berharap anaknya dapat berguna serta menebar kebajikan.

Saat dalam perjalanan, Mahesa bertemu dengan Belibis Putih yang mengangkatnya menjadi murid. Lalu, membawa Mahesa ke padepokan Rajawali yang terletak di lereng Gunung Rajawali. Kebaikan hati dan ketampanan Mahesa, membuat segenap lapisan Padepokan Rajawali bisa menerimanya dengan baik.

°°

"Dihari ulang tahunmu, apa yang kau inginkan dariku Pemuda Tampan?" Galih (istri Wakil Pimpinan Kolo Ireng) tidak menyembunyikan rasa ketertarikannya pada sosok Mahesa. Usia mereka memang sepantar. Galih akan memanfaatkan setiap waktu yang bisa membuat mereka bersama. Namun, hal ini justru membuat ketidak nyamanan bagi Mahesa. Selain Galih sudah memiliki suami, Mahesa memang cenderung mengabaikan perasaan wanita.

Akan tetapi, Galih Sindu menutup mata mengenai hal itu. Terlebih, belakangan dia mengetahui orang yang menyelamatkan nyawanya bukanlah Wakil Pimpinan Kolo Ireng, melainkan Elang Putih. Terlepas dari sumpah, sungguh Galih terlanjur jatuh hati pada sosok Elang Putih.

"Jika Nyonya tetap membuat Wakil Pimpinan tersenyum, saya anggap itu adalah hadiah terindah. Alangkah baiknya, jika Nyonya tidak menyia-nyiakan kebaikan hati Wakil Pimpinan." Mahesa tidak pernah bertatap muka terlalu lama dengan Galih.

Hal itu membuat galih merasa direndahkan sekaligus tertantang. Berbeda dengan anggota Padepokan lain, yang akan berdecak kagum jika bertemu dengannya. Tapi pemuda ini sungguh sangat berbeda ....

''Aku berharap kau pemuda normal yang menyukai lawan jenis, sekuat apapun dirimu, suatu saat aku pasti akan mendapatkan dirimu," batin Galih seraya menatap mahesa dengan penuh dendam asmara.

°°

Raditya dan Rengganis tengah bersiap-siap. Mereka berencana menemui putra tunggalnya di Padepokan Rajawali. 

"Kakang Raditya, sudah lama kita tidak melakukan hal ini, berkemas untuk perjalanan jauh. Aku jadi teringat masa muda dulu." Rengganis tersenyum, kilas balik bayangan masa lalu menghiasi benaknya.

Saat mereka masih menjadi pendekar, selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain. Menyelesaikan masalah dan menambah pengalaman. Namun, masa itu telah berlalu hampir tiga puluh tahun. Sekarang, gerak mereka sudah dibatasi oleh tulang-tulang yang semakin rapuh karena usia. 

"Kalau bukan kerena Mahesa, putra kita satu-satunya. Aku tidak berniat meninggalkan pulau ini. Bukankah dinda sangat merindukan Mahesa?" tanya Raditya pada istrinya.

"Ibu mana yang tidak merindukan anaknya kakang. Sejak kecil kami selalu bersama dan sekarang berpisah hampir empat tahun. Mahesa pasti semakin dewasa. Dia pantas mendapatkan hadiah istimewa dari kita kakang."

Rengganis memandangi sebuah peti kayu yang sangat indah. "Selama ini Kita selalu melarang Mahesa menggunakan pedang. Padahal dia menguasai ilmu rahasia pedang."

Raditya tersenyum.

Pekan depan putranya berusia 21 tahun. Mereka telah mempersiapkan kado spesial.

Raditya hanya bisa berharap semoga perjalanan mereka tidak mengalami hambatan berarti. Selain mereka sudah tua dan telah bersumpah untuk tidak menggunakan ilmu Kanuragan yang mereka miliki, hal lainnya adalah berkaitan dengan kado yang dipersiapkan untuk putranya, yaitu merupakan benda yang selama ini menimbulkan kekacauan.

°°°

Padepokan Rajawali digemparkan dengan adanya kabar bahwa pimpinan Padepokan Giling Wesi tewas dibunuh di kediamannya. Yang paling mengejutkan ialah, Ki Anggada dibunuh dengan menggunakan jurus andalannya sendiri. Jurus Harimau Kegelapan.

Seperti yang diketahui, orang lain yang menguasai jurus Harimau Kegelapan setara dengan Ki Anggada adalah Sekar Harum dari padepokan Walet Merah.

Sementara, Padepokan Walet Merah dan Padepokan Giling Wesi merupakan sahabat seperti halnya dengan Padepokan Rajawali. Jelas, ini unsur adu domba. Ada orang lain yang akan mengambil keuntungan jika perpecahan benar terjadi.

Mahesa bergegas mempercepat langkahnya menuju balai pertemuan.

Mata Mahesa yang tajam menangkap sekelebat bayangan manusia melompat dari arah belakang kediaman Wakil Pimpinan Kolo Ireng. Bayangan itu melesat dengan sangat cepat, namun Mahesa bisa mengenali Orang itu adalah Braja Geni. Salah satu ketua terhormat di Padepokan Rajawali.

Tanpa mengurangi ayunan langkahnya, Mahesa masih mendeteksi bayangan lain yang bergerak dari tempat yang sama.

''Nyonya Galih?" gumam Mahesa dalam hati. Orang yang ditemui Braja Geni adalah istri pemilik rumah.

Setibanya Mahesa di ruang pertemuan, pimpinan Padepokan, Wakil dan para ketua lain sudah berkumpul.

Mereka membahas tentang kematian pimpinan Padepokan Giling Wesi yang sangat mendadak dan misterius.

"Kemungkinan ada fitnah dalam kasus ini, jika memang Sekar Harum yang melakukan, aku harus mengetahui akar permasalahannya. Aku akan menyelidiki sendiri kasus ini. Hari ini juga, aku akan berangkat ke padepokan Giling Wesi," Belibis putih membuat keputusan.

Ki Anggada adalah sahabat baik Belibis Putih. Bagaimana pun, dia merasa sangat terpukul.

Sementara itu, Kolo Ireng bersikeras untuk tetap terlibat dalam pencarian Pusaka Legenda. Seperti halnya Pimpinan Padepokan, Kolo Ireng tidak akan menunda keberangkatan hingga hari esok.

"Baiklah, Wakil Ketua Kolo Ireng pun akan berangkat hari ini. Kami berharap sepeninggalan kami, para ketua mampu menjaga Padepokan hingga kami berdua kembali." 

Untuk sementara waktu, kepemimpinan Padepokan Rajawali di limpahkan pada Braja Geni dibantu Sanca Lurik dan Rupa kenca.

Mahesa tercekat. Dia belum bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rasanya, semua bukan serba kebetulan.

Teka-teki Pembunuh Misterius

"Braja Geni, sementara waktu aku harap ketua bersedia untuk dapat membantu memikul tanggung jawab memimpin padepokan. Jika ada masalah yang sangat mendesak, ketua bisa mengirimkan pesan." Belibis Putih memberi perintah.

Braja Geni bangkit dari duduknya kemudian membungkuk hormat tanda menerima perintah. "Saya akan menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan pada saya. saya bersedia pertaruhkan nyawa demi padepokan. Mohon kepercayaan pimpinan."

"Baik, aku percaya padamu Braja Geni. Sanca Lurik dan kau Rupa Kenca, tugas kalian mendampingi Braja Geni. Bekerjasamalah kalian satu sama lain." Selesai Belibis Putih bicara, mereka langsung meng-iyakan titah pimpinan padepokan.

Kemudian, pandangan Belibis Putih tertuju pada Elang Putih. Dia tidak akan membiarkan kedudukan muridnya lemah selama dirinya tidak berada di padepokan.

"Elang Putih, kau tetap di padepokan. Tugasmu membantu para ketua. Jika mereka salah, tolong tegur mereka atau kau bisa melaporkan kepadaku."

Braja Geni dan yang lain tersedak. Mereka terlihat tidak senang. Blibis Putih selalu meng-anak emaskan Elang Putih sebagai murid kesayangannya.

Dengan demikian, mereka harus bekerja dalam pengawasan bocah kemarin sore. bocah yang baru tinggal beberapa tahun di Padepokan Rajawali ini. Suatu hal yang memalukan. Akan tetapi, andai mereka membantah, bukan tidak mungkin Belibis Putih akan mencabut perkataannya. Bisa-bisa Elang Putih yang ditunjuk sebagai pimpinan. Keadaan akan menjadi jauh lebih buruk.

Dengan menekan perasaan, semua menerima perintah yang diberikan pimpinan padepokan meskipun hati mereka kurang puas.

°°

Rembulan malam sudah condong berat di ufuk barat, menandakan tanggal telah berganti. Hari ketujuh purnama ketiga.

Mahesa menyudahi latihannya. Dia mengatur napas sebelum melangkah pulang. Tempat dia berlatih terletak cukup jauh dari padepokan. Jika orang biasa akan memakan waktu dua jam perjalanan tapi Mahesa hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja.

Mahesa memang terbiasa berlatih sendiri sejak berpisah dari kedua orang tuanya. Gurunya sekarang, Belibis Putih Sangat memanjakan dirinya. tidak pernah membatasi ruang gerak Mahesa.

"Selamat malam ketua." Mahesa menyapa Ketua Rupa Kenca setibanya di Padepokan Rajawali.

Rupa Kenca tidak langsung menjawab. Dia terlihat mencoba mengendalikan diri dari keterkejutan. Raut wajahnya memerah, untuk beberapa saat napasnya terhenti. Seiiring bertambahnya degup jantung. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Mahesa sebelumnya.

Mahesa tersenyum, matanya memandang atap rumah Wakil Pimpinan Kolo Ireng.

"Saya sangat senang, ternyata ketua memiliki kepedulian besar kepada wakil pimpinan Kolo Ireng. Selepas kepergiannya, ketua bersedia meluangkan waktu untuk memastikan keamanan di sekitar sini," ucap Mahesa sambil melepaskan satu senyuman penuh arti.

"Semua tidak seperti yang kau pikirkan Elang Putih. Aku hanya kebetulan melintas, kakang Braja Geni memintaku menemuinya. Salahkah jika aku memastikan keamanan padepokan ku?" jawab Rupa kenca yang masih gugup.

Dia tidak menyangka akan bertemu anak emas pemimpin padepokan. Hatinya mengumpat.

"Ketua, saya sangat kagum pada kebaikan hati Anda. Saya sangat senang jika seisi padepokan saling bekerjasama seperti halnya pesan guru. Maaf, saya tidak bisa menemani ketua. Saya mohon pamit." Selepas berkata, Mahesa memberi hormat kemudian meninggalkan Rupa Kenca yang masih mematung.

Rupa Kenca memandangi punggung Mahesa hingga hilang di balik gelap malam. Dia melihat, sebelum pergi Mahesa melempar senyum penuh makna. Ke arahnya, dan juga ke arah rumah Kolo Ireng.

"Bocah ini, semoga dia tidak banyak mulut!" Rupa Kenca mengepalkan tangannya keras.

°°

"Nyonya Galih, simpan saja arak itu. Akan ada orang lain yang lebih menginginkan arak buatan Nyonya." Mahesa membuang mukanya saat Galih menyodorkan seguci arak mahal.

"Arak ini khusus saya buat untuk Tuan Muda, mana mungkin akan saya berikan pada orang lain." Galih tersenyum manis sambil bergerak kearah depan Mahesa. Namun, pada saat yang bersamaan, Mahesa memutar posisinya hingga tetap membelakangi Galih.

"Apa Tuan Muda tidak bersedia menemani saya minum barang seteguk?" tanya Galih dengan suara manja.

"Nyonya, Wakil Pimpinan sedang tidak ada ditempat. Sungguh tidak baik jika kau minum bersama laki-laki lain. Apa pun alasannya, kau harus menomer satukan suamimu. Buatlah arak terbaik untuk suami Nyonya saat dia kembali. Lakukan kewajibanmu, jangan pikirkan laki-laki lain, baik itu saya ataupun Tamu-Tamu Wakil Pimpinan yang lain. Maaf, Nyonya Wakil Pimpinan. Saya mohon diri."

Tanpa menunggu jawaban, Mahesa melangkah pergi. Galih melotot dengan napas tidak beraturan. Mahesa terdengar begitu menekankan kata "Tamu-Tamu".

''Apa maksudnya? Kurang ajar kau. Aku akan membalas semua penghinaan ini Elang Putih," jerit Galih dalam hati. Dia membanting guci arak di tangannya hingga pecah berhamburan.

°°

Dua bayangan hitam berkelebat ringan. Gerakannya sangat cepat hingga tidak menimbulkan angin.

Mahesa membuka mata, dia melirik kearah kiri. Dua bayangan terlihat mendekat kearahnya. Sebelum bayangan itu semakin dekat, Mahesa berniat menyambut kedatangan mereka lebih awal.

Tangannya menekan batu tempatnya bersemadi membuat tubuhnya melayang ke udara.

Kedua bayangan hitam yang melihat Mahesa mendekat menghentikan gerakan. Salah satu dari mereka langsung menyerang dengan tangan kosong. Gerakan yang sangat cepat hingga tidak terlihat oleh mata biasa, ini menandakan kemampuan orang itu di atas rata-rata.

Mereka bertukar serangan di udara hingga kaki mereka kembali menginjak tanah. Tidak sampai dua puluh gerakan, Mahesa sudah sangat mengenali jurus-jurus mematikan yang dilayangkan lawannya.

Seluruh tubuh kedua orang yang datang dibungkus pakaian serba hitam yang hanya menyisakan mata. Hingga Mahesa tidak bisa mengenali mereka.

''Siapa orang ini? Mengapa dia bisa menguasai Ilmu Sepuluh Tapak Penakluk Naga?'' Mahesa tidak habis fikir. Dia tidak mengetahui ada orang lain yang menguasai jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga selain dirinya dan ayahnya. Menurut ayah, orang yang memiliki Ilmu Sepuluh Tapak Penakluk Naga dengan sempurna hanya orang yang mengajari ayahnya atau kakek gurunya. Namun, kakek gurunya sudah lama meninggal.

''Apa mungkin kakek guru punya murid lain selain ayah?'' Mahesa tidak menemukan jawaban dari semua pertanyaan di benaknya.

'Tapak Naga Api' satu pukulan mengarah ke wajah Mahesa. Dengan cepat dia menyambut pukulan itu dengan 'Tapak Naga Es'.

Benturan keras terjadi. Keduanya sama-sama mengambil jarak. Mahesa terbelalak dia menyadari kemampuan lawannya setara dengannya.

''Orang ini menguasai nya dengan sangat sempurna," batin Mahesa.

Mahesa teringat akan sesuatu,

''Bukankah pimpinan Padepokan Giling Wesi tewas oleh jurus andalannya sendiri? Apakah pelakunya orang yang sama?'' Mahesa meningkatkan kewaspadaan. Ada kemungkinan kedua orang ini menginginkan nyawanya.

''Semoga guru baik-baik saja. Jarak antara Padepokan Rajawali dan Giling Wesi cukup jauh. Jika mereka sudah ada disini, tidak mungkin mereka bertemu guru di Giling Wesi atau Padepokan Walet Merah.''

Gurunya, Belibis Putih sedang pergi menyelidiki kasus pembunuhan Ki Anggada. Mahesa hanya tidak menduga kalau dirinya akan dijadikan target berikutnya.

Belum reda keterkejutannya, seorang berpakaian hitam yang sejak tadi menonton ikut menyerang Mahesa dengan pedang. Mahesa menghunus pedang dipinggangnya menyambut serangan.

''Jurus rahasia dua belas pedang?'' Mahesa terbelalak. Dalam tiga serangan Hampir saja kepalanya berpisah dari tubuh. Sama sekali dia tidak menduga akan mendapat serangan kombinasi dari kemampuan terbaiknya sendiri.

Mahesa yakin. Jika tidak menggunakan segenap kemampuan, dia tidak akan bisa selamat. Keduanya memiliki ilmu Kanuragan yang sangat sempurna. Disisi lain, sesungguhnya dia sangat penasaran, siapa jati diri kedua lawannya. Ada kemungkinan mereka pelaku pembunuhan yang masih menjadi misteri. Satu tugas yang harus dia lakukan ialah harus selamat. Jika memungkinkan, dia akan membongkar jati diri kedua lawannya.

Jika tidak!

Akankah semua pendekar akan dihabisi satu persatu dengan ilmu andalan masing-masing?

''Mungkin mereka orang yang bisa membunuh pimpinan Padepokan Giling Wesi dengan ilmu andalannya sendiri. Tidak. Itu tidak akan terjadi padaku.'' Mahesa berkonsentrasi penuh. Dia akan mengeluarkan kombinasi kemampuan terbaiknya. Ilmu langka warisan ayah dan ibunya. Dia tidak boleh celaka.

Kado Spesial

Pedang di tangan Mahesa memang bukan pedang pusaka. Namun kualitas besinya sangat bagus. Sehingga mampu bertahan saat dialiri tenaga dalam yang tinggi. Pedang itu pemberian gurunya sebagai simbol telah bergabungnya Mahesa dalam Padepokan Rajawali. 

Sebenarnya, Mahesa menolak saat Belibis Putih memberi pedang. Dia berdalih lebih tertarik bertarung dengan tangan kosong, lagi pula keahlian bermain pedangnya sangat rendah. Mahesa tidak mengatakan, sebenarnya dia belum mendapat izin dari ibunda untuk mencabut pedang.

Mungkin Belibis Putih akan muntah darah jika melihat permainan pedang Mahesa saat ini.

Permainan pedang Mahesa bahkan jauh di atas ahli pedang terbaik Padepokan Rajawali. Sebenarnya Mahesa sendiri belum menemukan tanding Ilmu Rahasia Pedang milik ibunya itu.

Baru sekarang Mahesa mendapati orang yang menguasai Ilmu Rahasia Pedang dengan sempurna.

Malam ini, Mahesa harus menghadapi dua orang sekaligus, dua orang dengan kemampuan jelmaan dirinya. Kemampuan mereka sama persis. Jika Mahesa menghadapi mereka satu persatu, dia yakin akan keluar sebagai pemenang. Tapi kenyataannya, sekarang dia bagai bercermin.

Setelah bertarung lebih dari seratus jurus, kedua orang berpakaian serba hitam sedikit mengendurkan serangan mereka. Kelihatannya stamina Mahesa lebih unggul.

'Jurus Pedang Kesembilan - Tapak Naga Suci, Naga Mengguncang Bumi.' Mahesa menyerang secepat kilat menggabungkan kemampuan miliknya.

Usahanya membuahkan hasil, kedua lawannya terpukul mundur. Mahesa berhasil memisahkan mereka.

"Apa tujuan kalian sangat ingin mencelakai saya? Saya rasa, diantara kita tidak ada masalah. Bukankah kita belum pernah bertemu?" Mahesa bertanya. Namun kedua lawannya diam saja.

"Baik. Jika benar kalian menginginkan nyawa saya. Silahkan ambil jika kalian mampu." Mahesa kembali menyerang dengan cepat.

Jurus Sepuluh Langkah Pedang milik Mahesa mampu membuat lawannya dengan jurus yang sama berada dalam posisi bertahan. Seorang lagi, dengan Jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga, tidak juga mampu mendesak Mahesa.

Pertarungan kembali berlanjut dengan Mahesa berada dalam posisi diuntungkan.

Napas Kedua lawannya sudah terputus-putus.

"Kalian sungguh luar biasa. Pantas saja bisa membunuh Pendekar-pendekar ternama dunia persilatan menggunakan jurus andalan mereka. Akan tetapi, Sepertinya malam ini bukan malam keberuntungan kalian." Mahesa memandangi lawannya dengan senyum tipis.

"Tunggu ... Kami bukan orang yang kau bicarakan." Tiba-tiba seorang diantara mereka menyahut.

Mahesa mengerutkan dahi, bukan karena jawaban pendekar itu namun suaranya. Suara itu sepertinya tidak terdengar asing di telinga. Walau dari balik cadar dan terkesan dibuat-buat Mahesa merasa mengenalnya.

"Beberapa tokoh dunia persilatan tewas dengan jurus andalan mereka sendiri. Malam ini, Kalian datang dengan sangat misterius, menyerang dengan kemampuan yang saya miliki dan hampir mencelakai saya. Jika tujuan kalian baik, untuk apa menyembunyikan wajah?"

Kedua lawan Mahesa kembali membisu.

"Jika benar, kalian tidak terlibat dalam kasus pembunuhan yang menggemparkan itu, setidaknya biarkan saya mengetahui siapa gerangan orang yang memiliki kemampuan setara dengan saya," ucap Mahesa lebih lanjut.

"Apa kau berpikir begitu hebatnya dirimu hingga mengira tidak akan ada orang yang akan mengalahkan mu?"

"Saya hanya tidak mengetahui jika ada orang lain yang memiliki kemampuan setara dengan guru."

"Hahaha ... Dan sekarang kau telah menemukan orang nya bukan?"

"Kemampuan kalian memang sungguh luar biasa bahkan berada jauh di atas saya. Namun sayang, kalian telah mempergunakan ilmu yang kalian miliki tidak dengan semestinya. Sekarang kalian sudah datang. Jangan pernah berpikir kalian akan kembali." Mahesa Kembali bersiap menyerang.

"Tunggu. Apa yang akan kau lakukan?"

Seorang lagi bicara. Sejak tadi dia hanya diam, ternyata dia seorang perempuan.

"Ibu?!?" desis Mahesa.

Yah, itu memang suara ibunya. Suara yang sejak tadi dikenali memang mirip suara ayahnya.

Mahesa menatap lekat dua sosok di hadapannya.

"Saya berharap tidak sedang bermimpi jika melihat wajah kalian berdua," ucap Mahesa seraya menyarungkan kembali pedangnya.

Dua orang itu saling pandang. Lalu membuka penutup wajah mereka.

Jantung Mahesa serasa copot ketika melihat wajah keduanya. Wajah ayah dan ibunya yang tersenyum hangat.

Raditya dan Rengganis saling tatap, mereka membiarkan Mahesa menggunakan Ilmu Mata Naga, ilmu yang mampu mendeteksi ilusi tingkat tinggi.

"Ayah, ibu, mohon ampuni anakmu ini ...." Mahesa berlutut dengan setetes air mata disudut pipinya.

Rengganis memeluk putra kesayangannya dengan penuh kasih. Empat tahun berpisah membuat rindu mendalam di hatinya.

Keluarga kecil tersebut kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol melepaskan rindu.

Raditya dan Rengganis sudah mengganti pakaian mereka layaknya orang biasa. Mahesa juga melepas topeng perak di wajahnya. Sekilas mereka tidak terlihat sebagai keluarga Pendekar.

"Ayah, ibu. Apa tidak sebaiknya kita kembali ke Padepokan saja. Akan lebih nyaman tidur di sana." Mahesa masih membujuk kedua orang tuanya.

"Mahesa putraku, ibu sudah terbiasa hidup ditengah hutan seperti ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." 

Raditya mengangguk menyetujui ucapan istrinya.

"Ananda merasa berdosa karena hampir mencelakai ayah dan ibu. Mohon ayah dan ibu membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya. Ananda juga melanggar janji untuk tidak menggunakan pedang."

Mendengar putranya Kembali menyinggung masalah itu, Rengganis merasa menemukan celah untuk mulai membicarakan maksud kedatangan mereka. Sejenak dia menatap Raditya.

Raditya menganggukkan kepalanya. Tanda setuju.

"Mahesa putraku, memang sudah saatnya kau menggunakan semua kemampuan yang kau miliki. Ibu tahu, selama ini kau membawa pedang sebagai simbol Padepokan. Namun ayah dan ibu memang mempunyai suatu hadiah untuk mu." Rengganis menghentikan kalimatnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam fikiran nya.

Sebuah kotak kayu yang sangat indah. Bentuknya panjang seperti kotak pedang.

"Benar putraku, besok adalah hari ulang tahunmu yang kedua puluh satu tahun. Ayah dan ibu akan memberimu kado spesial. Ayah harap kau menerima dengan senang hati."

Raditya mengelus kepala Mahesa dengan penuh kasih.

Mahesa tersenyum haru. Jauh-jauh orang tuanya datang demi memberikan hadiah di hari ulang tahunnya. Anak mana yang tidak akan bahagia. Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan. Mahesa memeluk ayahnya.

"Dengan senang hati ananda menerima hadiah spesial dari ayahnya dan ibu."

Sebilah pedang pusaka.

Setelah menerima dengan penuh suka, Mahesa menyimpan pedang pusaka tersebut dalam jiwanya. Kapan pun dia menginginkan, pedang pusaka akan muncul di tangannya.

Hari yang sangat indah bagi Mahesa.

Meski dia tidak menyadari dan bahkan tidak bertanya bahwa pedang yang baru saja diterima nya adalah PEDANG REMBULAN. Salah satu pedang Pusaka Legenda yang saat ini diperebutkan para Pendekar dunia persilatan.

Malam itu, Mahesa tidak pulang ke Padepokan Rajawali. Dia bermalam di sebuah gubuk tua di tengah hutan bersama kedua orang tuanya. Sudah lama mereka tidak melakukan hal itu bersama.

Bertarung lebih dari seratus jurus membuat dua tubuh tua itu sangat kelelahan dan cepat tertidur.

Mahesa memandangi wajah ayah dan ibunya. Dia sangat bangga terlahir dari rahim seorang pendekar hebat seperti ibunya.

Raditya dan Rengganis merupakan sepasang pendekar yang tak terkalahkan dimasanya.

Mahesa membaringkan tubuhnya disamping ayahanda tercinta.

Tempat itu cukup jauh dari padepokan.

Hari ketiga, Raditya dan Rengganis pamit untuk kembali ke pulau kura-kura. Mahesa hanya bisa menuruti keinginan orang tuanya. Dia menyadari, Raditya dan Rengganis memang tidak akan menampakkan diri didepan khalayak ramai. Mahesa melepas keduanya dengan berat hati.

°°°

Mahesa yang baru menginjakkan kaki di Padepokan Rajawali disambut dengan kabar yang tidak menyenangkan. Salah satu ketua cabang kecil bernama Buta Rota tewas dibunuh.

Menurut kabar, dia dihabisi dengan senjata miliknya sendiri. Tidak disebutkan jika ketua Buta Rota dibunuh oleh jurus andalannya.

Mahesa ditemani dua orang abdi setia Belibis Putih bergegas menuju kediaman Buta Rota yang terletak di kawasan padepokan sebelah barat.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!