NovelToon NovelToon

Majikanku Ayah Anakku

Putri

Hai, Readers! Selamat datang di karya terbaru author. Semoga kalian suka😊

Happy reading...

"Putri! Ini sudah jam berapa, kok belum bangun? Apa kamu sakit?" tanya seorang ibu yang baru pulang dari warung sayur sambil menenteng plastik belanjaannya. Ia kemudian mengaitkan plastik itu pada paku di dinding dapur.

Dengan enggan Putri mengerjapkan mata dan beranjak dari tidurnya. Sambil merapikan selimut, Putri menatap ibunya yang kini sedang mengenakan baju hangat.

"Jangan lupa bawa payung. Ibu tadi lihat di berita, katanya sore ini mau turun hujan."

"Iya, Bu." Sahutnya sambil tersenyum.

"Jangan lupa sarapan," ucap Ibunya lagi.

"Iya, Ibu." Putri mengulumkan senyumnya.

Setelah ibunya pergi, Putri membasuh mukanya di kamar mandi. Ia pun bersiap menikmati sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan untuknya sambil menonton televisi.

"Sudah sarapan, Nak?" tanya Putri pada seorang anak laki-laki yang membuka pintu.

"Sudah, Ma." Jawabnya. Anak itu bergegas keluar setelah membawa satu kaleng kelereng miliknya.

Dari kaca jendela, Putri bisa melihat beberapa anak sedang bermain kelereng di depan rumahnya. Senyumnya tersungging melihat kebahagiaan mereka.

Ia pun mulai menyuapkan nasi goreng buatan ibunya. Setelah habis tiga suap dibawanya nasi goreng itu kembali ke dapur.

Putri meletakkan sisa nasi gorengnya di atas kertas nasi bungkus. Setelah diikat karet gelang, dimasukkannya nasi bungkus itu ke dalam tote bag yang selalu dibawanya. Tidak lupa ia juga memasukkan sendok dan payung lipat sesuai anjuran ibunya.

Putri pun mulai bersiap untuk berangkat kerja. Ia menyambar handuk dan menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia mengenakan setelan kerjanya.

"Ma, Alfi minta uang buat jajan!"

"Ini, harus cukup sampai sore ya. Jangan minta lagi sama Nenek," ujar Putri.

"Iya," sahut Anak itu sambil mencium punggung tangannya lalu berlalu lagi menghampiri teman-temannya.

Setelah semua selesai, Putri menutup pintu rumahnya.

"Al, jangan jauh-jauh mainnya ya! Sebentar lagi mandi!" Serunya.

"Iya, Ma!"

"Berangkat kerja, Put?" tanya seorang tetangganya.

"Iya, Bu. Mari.." Pamitnya sambil tersenyum.

"Al, Mama pergi." Putri melambai pada putranya yang juga melambai padanya. Putri pun berjalan menyusuri gang yang berbelok-belok untuk menuju tempat kerjanya.

Putri Rinjani, wanita berparas ayu yang biasa disapa Putri. Bekerja sebagai pegawai sebuah toko kelontong bersama seorang temannya.

Putri tinggal bersama ibunya yang bernama Ibu Rita dan juga Alfi, putra semata wayangnya yang baru menginjak usia sepuluh tahun. Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana.

Setiap hari, Ibu Rita bekerja serabutan. Dari hari Senin sampai Jum'at, wanita paruh baya itu bekerja sebagai buruh cuci-setrika di beberapa tempat berbeda. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, ia membantu di sebuah catering yang tidak jauh dari rumahnya.

"Selamat pagi, Mia! Aduh, maaf ya aku terlambat." Ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.

"Enggak kok, Put. Aku juga baru datang," sahut Mia, teman kerja Putri.

Mereka berdua mulai bebenah mempersiapkan semuanya. Setelah tepat pukul tujuh, mereka berdua membuka pintu untuk mempersilahkan pembali datang.

"Putri, sepertinya kamu kurang tidur. Lingkar mata kamu terlihat agak gelap," ujar Mia.

"Hehe, kelihatan ya. Iya nih semalam aku tidur agak larut malam." Sahutnya.

"Kenapa? Masih bingung mencari tambahan untuk beli seragam anakmu?"

Putri mengangguk lesu sambil membuang kasar nafasnya.

"Kalau aku punya pasti aku pinjamin kamu uang, Put. Apa daya, aku juga lagi bingung." Keluhnya.

"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Pinjam uang sama Bu Bos juga nggak dikasih."

Putri mengangguk lemas. Kemudian mereka tersenyum mengesampingkan perasaan sedih mereka. Beberapa pembeli mulai berdatangan dan sebisa mungkin mereka memasang raut wajah yang ramah.

Toko itu tidak seramai dulu. Kini toko itu sepi pembeli, setelah ada dua minimarket yang berjejer berdekatan dengannya.

Putri dan Mia bekerja saling membantu. Tidak ada pembagian tugas khusus bagi keduanya. Selama tiga tahun lebih mereka saling melengkapi sebagai rekan kerja yang baik dan kompak.

Waktu berlalu begitu cepat. Bila sedang tidak ada pembeli, Putri dan Mia mengerjakan apa saja. Mereka mengisi waktu luang dengan menata barang-barang atau sekedar mengelapnya.

"Putri, mau beli apa buat makan siang?" tanya Mia yang sudah bersiap hendak keluar.

"Aku bawa bekal," sahut Putri.

"Oke deh, kalau begitu aku beli bakso dulu ya."

Putri mengangguk pelan. Ia menoleh pada temannya yang berlalu menuju kios bakso di depan toko.

"Huft, belum cukup juga." Desahnya.

Putri mencorat-coret kertas menghitung uang yang akan digunakannya untuk membeli seragam sekolah putranya. Uang gajinya hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah dan jajan anaknya. Sedangkan untuk sehari-hari mereka mengandalkan penghasilan ibunya. Dan uang jatah makan siang yang ia sisihkan masih belum cukup untuk membelikan seragam baru untuk Alfi, putranya.

"Hei, ngelamun aja. Yuk, makan!" ajak Mia dengan semangkuk bakso yang dipegangnya.

Mereka duduk di lantai beralaskan dus di tempat kasir. Kebetulan toko sedang sepi pembeli.

Putri mengeluarkan bekal juga sendok dari dalam tasnya.

"Nasi goreng lagi?" Mia menatap nanar pada bekal yang dibawa temannya.

"Memangnya kamu berharap apa? Bekal nasi rendang? Yang ada nanti kamu minta," gurau Putri sambil mulai menyuapkan bekal nasi gorengnya.

"Nggak bosen kamu tiap hari makan nasi goreng?"

"Ya nggak lah. Kan kamu sendiri yang bilang kalau nasi goreng buatan ibuku enak." Sahutnya.

"Nggak tiap hari juga dong, Put."

"Aku harus irit, Mia. Bahkan sekarangpun uangku belum cukup. Mana libur sekolah tinggal empat hari. Kasihan anakku selama tiga tahun ini nggak punya baju ganti. Masih untung Bu Bos membolehkan aku kasbon buku dan peralatan sekolah di sini. Kalau tidak, semakin pusing kepalaku ini."

Mia menatap sendu wajah Putri. Ia kagum sekaligus kasihan pada sosok wanita di hadapannya.

"Kamu nggak coba mencari tahu tentang ayahnya Alfi, Put? Mendengar ceritamu, aku yakin dia mau membantumu membiayai anak kalian. Apalagi semakin besar usianya, semakin besar juga biaya sekolah dan yang lainnya."

Mendengar penuturan Mia, Putri menghela nafasnya. Diakuinya sekarangpun ia sudah merasa kewalahan dengan biaya hidup keluarganya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Mencari pekerjaan lain dengan ijazah SMA yang bahkan tidak tamat sangatlah susah.

"Aku nggak tahu dia dimana," ucap Putri pelan.

"Apa kamu tidak ada kabar sama sekali dari teman sekolahmu yang ada di desa, Put?"

Putri menggeleng pelan. Sepuluh tahun lebih ia dan ibunya meninggalkan desa tempat kelahirannya. Tidak ada teman atau saudara yang mengetahui keberadaan mereka. Dan ayah Alfi, ia sama sekali tidak tahu. Karena sebelum pergi, pria itu sudah lebih dulu meninggalkan desa.

Dokter Alby

Happy reading...

Langit gelap yang berpadu dengan angin kencang. Juga suara gemuruh yang saling bersahutan membuat suasana jam enam sore terasa seperti malam yang mencekam. Suasana itu menciutkan nyali dua wanita yang akan kembali ke rumah setelah seharian bekerja.

Putri dan Mia saling menatap sesaat, kemudian memutuskan untuk mengambil langkah seribu. Sesekali kilatan yang terlihat membuat mereka terkesiap. Di pertigaan gang, mereka berpisah. Mengambil jalan berbeda menuju rumah mereka.

Sementara itu dari balik jendela, seorang anak sedang menunggu kepulangan ibunya.

"Kok Mama belum pulang juga ya, Nek." Ucapnya cemas.

"Sabar. Sebentar lagi," sahut Neneknya dari dapur.

Bu Rita membawa satu persatu menu makan malam mereka ke ruang depan. Diliriknya cucu laki-laki yang sedang menunggu ibunya itu. Dalam hati ia pun harap-harap cemas. Berharap putrinya segera datang agar mereka merasa tenang.

"Mama!" pekik anak itu sambil membuka pintu.

Putri tersenyum mendapati putranya yang bahagia menyambut kepulangannya.

"Syukurlah kamu sudah sampai, Put," ucap Bu Rita lega.

"Iya, Bu. Padahal nggak hujan, tapi gelap sekali di luar." Sahutnya.

"Ya sudah, ayo kita makan."

Setelah mencuci tangan, mereka menikmati makan malam dengan menu yang sederhana. Namun begitu tidak mengurangi kenikmatan yang mereka rasakan.

***

Seorang pria berdiri menatap ke luar jendela kaca. Suasana alam yang mencekam membuatnya terdiam dalam lamunan.

Suara pintu yang diketuk mengembalikan kesadarannya. Sambil mengusap wajah ia berkata, "Masuk."

"Selamat malam, Dokter Al! Aku kira kamu sudah pulang," sapa seorang wanita yang mengenakan jas serupa dengan pria tersebut.

"Sebentar lagi mungkin. Di rumah juga sepi, nggak ada siapa-siapa." Sahutnya. Pria itu menggantungkan jas dokternya.

"Mau aku temani?" Wanita itu memeluk dari belakang.

Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan rekan sekaligus tunangannya tersebut. Ia melepaskan tautan tangan yang melingkar di pinggangnya.

"Kenapa, memangnya salah? Lagi pula sebentar lagi kita menikah," ucap wanita itu sambil menatap pria yang tengah melipat lengan kemejanya.

"Ya, tapi kan belum."

"Al, kamu kok gitu sih? Aku juga kan ingin seperti yang lainnya. Kencan sama pacar atau tunangan. Masa aku kalah sama para perawat itu, mereka selalu saja menceritakan pengalaman kencan mereka. Sedangkan aku cuma bisa gigit jari." Gerutunya.

"Kalau gitu cari aja yang lain. Yang bisa kamu ajak kencan. Gampang kan?"

"Enak aja." Deliknya.

Seseorang mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.

"Maaf, Dokter Intan. Pasien anda sudah menunggu," ucap seorang perawat.

"Oke, saya ke sana." Sahutnya.

Perawat itupun pamit dan menutup pintu.

"Kamu mau pulang sekarang?"

"Iya, aku mau istirahat."

Dokter wanita itu memeluknya.

"Intan, kamu sudah ditunggu pasien."

"Sebentar aja." Gumamnya sambil membenamkan wajah di dada pria yang berstatus tunangannya tersebut.

Setelah puas menghirup aroma maskulin dari tubuh pria-nya, Intan melepaskan pelukannya.

"Hati-hati ya, Sayang." Ucapnya.

Pria itu mengangguk sambil mengusap pelan surai wanita-nya. Satu helaan nafas dibuangnya kasar setelah wanita itu meninggalkan ruangannya. Tak lama, ia pun meninggalkan ruangan itu.

"Selamat malam, Dok." Sapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya.

"Malam." Angguknya sambil berlalu.

"Dokter Al, Alby!" seru seseorang dari belakang.

Pria itu menoleh. Seorang rekannya berlari kecil menghampirinya.

"Ada apa?"

"Hari Sabtu-Minggu tukar shift, bisa nggak? Aku ada acara. Please, bisa ya?"

"Oke, tapi nggak gratis." Guraunya.

"Siap, siap! Aku pasti bakalan traktir kamu," ujar pria itu senang.

"Thanks, ya." Ujarnya sambil berlalu.

Pria itu tersenyum tipis dan kembali melanjutkan langkahnya.

Alby Sanjaya, namanya. Seorang Dokter Umum di sebuah rumah sakit swasta ternama. Baru satu bulan ia ditugaskan di kota ini. Karena sebelumnya, ia mendapat tugas di satu daerah pedesaan.

Sejujurnya Alby merasa lebih betah di tugaskan di sana. Selain udaranya yang masih segar, orang-orangnya pun sangat ramah dan apa adanya.

Di awal kedatangannya, ia tinggal di rumah saudari ayahnya yaitu Tante Ira. Namun sudah hampir satu minggu ini, ia tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang ia beli berada di sebuah kawasan perumahan yang di belakangnya terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat.

Di rumah sakit yang sama juga ada Intan, wanita yang ditunangkan dengannya. Intan adalah keponakan Om Hasan, suami Tante Ira. Kebetulan mereka pernah mengenyam pendidikan di kampus yang sama di ibukota.

Dalam perjalanan, ia sempatkan membeli makan malam. Setelah sampai di rumah, sambil menonton televisi Alby menikmati makan malamnya.

Deringan ponsel mengalihkan perhatiannya. Rupanya Tante Ira yang menghubunginya.

📱 "Halo, Al! Sudah sampai rumah?"

📱 " Sudah, Tante. Ini lagi makan."

📱 "Syukurlah. Oh iya, Al. Tante akan minta carikan ART untuk rumahmu. Kebetulan teman Tante tinggal di dekat daerahmu. Kamu nggak keberatan kan?"

📱 "ART? Tante, Alby tidak keberatan. Tapi kalau bisa carikan ART yang tidak menginap dan hanya bekerja di akhir pekan."

📱 "Lho, kenapa?"

📱 "Nggak kenapa-napa, Tan. Hanya saja Alby merasa risih kalau harus tinggal serumah dengan orang lain. Apalagi ART kan biasanya perempuan. Dan lagi pula rumah ini tidak akan terlalu kotor. Cukuplah kalau dibereskan seminggu sekali juga."

📱 "Oh, jadi kerjanya hari Sabtu sama Minggu aja, gitu?"

📱 "Iya, Tante."

📱 "Oke. Nanti Tante akan minta teman Tante untuk mencarikannya."

📱 "Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan."

📱 "Tante nggak repot kok. Sudah dulu ya, Al. Tante mau langsung menghubungi teman Tante. Bye!"

📱 "Bye, Tante."

Setelah menutup panggilannya, Alby kembali menikmati makanannya. Sejenak ia tertegun menatap layar televisi. Terpaku mendengarkan acara talk show di televisi yang membahas hari Satelit Palapa.

Saat tampilan televisi itu berganti dengan iklan komersial, Alby tersadar dan menyeringai tipis. Ia lalu kembali menikmati makanannya sampai habis.

Di tempat lain, di waktu yang bersamaan. Putri yang merebahkan tubuhnya di kursi menatap lekat pada tontonannya. Tatapannya kosong seolah menerawang entah kemana.

"Putri, jangan tidur di situ. Nanti badanmu bisa sakit," ujar Ibunya.

"Sebentar lagi, Bu. Putri belum mengantuk," sahut Putri.

"Ibu perhatikan belakangan ini tidurmu selalu larut malam. Ada apa? Bicarakan dengan ibu," ujar Bu Rita menghampiri Putri.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja Putri memang belum ngantuk." Elaknya.

"Benar tidak ada mengganggu pikiranmu?"

"Tidak ada, Bu."

"Kalau begitu ibu tidur dulu ya. Ingat, jangan terlalu malam."

Putri mengangguk. Di tatapnya punggung ibunya dengan tatapan sendu. Ia kemudian beranjak menuju kamar mandi.

Rumah yang ditinggali mereka hanya terdiri dari sebuah ruangan depan yang sempit. Selain itu ada ruangan yang cukup luas dan dijadikan kamar. Juga kamar mandi dan dapur yang sangat kecil.

Saat melewati ruangan yang dijadikan kamar, ia mengintip putranya yang sudah terlelap. Di samping Alfi, Ibunya sedang memejamkan mata sambil melafalkan doa.

Putri kembali membaringkan tubuhnya di kursi. Tatapannya kembali menerawang menatap langit-langit ruangan itu.

Kamu ada dimana, Al? Batinnya.

 

Hai, Readers!

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😁

Dukung author dengan like👍 comment, Vote dan juga rate bintang lima-nya.

Terima kasih.

kerja sampingan

Happy reading...

Sejuknya udara pagi yang berhembus berpadu dengan cahaya matahari yang mulai menampakkan diri. Cicitan burung-burung saling bersahutan seakan melengkapi harmoni alam. Sesekali juga terdengar kokokan ayam yang menemani aktivitas pagi.

Pagi ini Putri sedang menjemur pakaian di depan rumah. Dari dalam rumah terdengar suara televisi yang menyala juga aroma nasi goreng yang sedang dibuat ibunya.

"Put, sudah beli belum seragam untuk Alfi?" tanya seorang tetangganya.

"Belum, Ran. Uangku belum cukup," sahut Putri pelan.

"Aku baru kemarin beli. Sekarang pada mahal, Put."

"Iya, aku juga tahu. Apa yang yang murah zaman sekarang, Ran? Kalau ada kerjaan aku pengen banget, buat nambah-nambah. Toko sekarang sepi, gaji juga dikurangi." Keluhnya.

"Kerjaan? Mmm, kemarin majikanku nawarin kerja di rumah. Katanya sih untuk di rumah keponakan temannya, tapi seminggu cuma dua kali. Mana ada yang mau. Gajinya nggak akan cukup buat biaya hidup sehari-hari, belum buat bayar kontrakan."

"Seminggu dua kali? Kerja apa, Ran?" tanya Putri penasaran.

"Kerja di rumah, seperti aku gini jadi pembantu. Tapi cuma hari Sabtu sama Minggu," sahut Rani.

"Nginap nggak?"

"Enggak. Kamu berminat? Benar juga ya, kamu kan Sabtu dan Minggu nggak kerja." Rani dan Putri terlihat antusias.

"Nanti aku tanyakan lagi sama majikanku ya, Put. Mudah-mudahan belum ada yang ngambil." Ujarnya lagi.

"Mudah-mudahan, Ran. Bayarannya harian kan?"

"Iya," sahut Rani.

"Jangan lupa kabari aku secepatnya," ucap Putri sambil melangkah ke dalam.

Bu Rita yang berpapasan dengannya terlihat heran.

"Kabari apa, Put?"

"Pekerjaan, Bu. Kerja di rumah tapi cuma hari libur aja. Lumayan kan, Bu? Putri ada kerja sampingan, bisa buat nambah-nambah untuk keperluan kita."

Bu Rita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian memberi uang jajan pada Alfi, cucunya.

"Nggak usah, Bu. Jajan Alfi biar dari Putri aja," cegah Putri.

"Nggak apa-apa, tadi ada kembalian."

"Terima kasih, Nek."

Bu Rita mengusap pucuk kepala cucunya. Ia pun pamit berangkat bekerja.

Seperti hari kemarin, Putri menyisakan sarapannya untuk makan siang nanti. Ia menatap nanar putranya Alfi yang sedang makan dengan lahap.

"Ma, Alfi jadi dibelikan seragam baru? Teman-teman Alfi sudah pada beli, kok Alfi belum?" tanya Alfi disela suapannya.

"Iya, sabar dulu ya. Kan sekolahnya hari Senin, hari Minggu juga masih bisa beli." Sahutnya.

Besar harapan Putri akhir pekan ini mendapatkan pekerjaan. Agar ia bisa mewujudkan keinginan putranya yang ingin membeli seragam.

Pekerjaannya di toko beberapa bulan ini hanya sampai hari Jum'at saja. Mungkin karena toko sepi sehingga pemilik toko itu sendiri yang menjaganya di akhir pekan. Selain itu setiap hari ia dan Mia bekerja sampai jam enam sore. Selebihnya anak dari majikannya yang meneruskan sampai jam sembilan malam.

***

Alby bersiap akan berangkat ke rumah sakit. Tepat saat ia membuka pintu gerbang rumahnya, suara klakson mobil Intan menyapanya.

"Intan, mau apa pagi-pagi kesini? Bukannya langsung pulang. Memangnya nggak cape jaga semalaman?" tanya Alby yang menghampiri mobil Intan.

"Aku ikut tidur sebentar ya. Di rumahku berisik lagi ada keponakanku." Sahutnya.

Alby nampak ragu. Namun kemudian, memberikan kunci rumahnya pada Intan. Wanita itu memajukan bibirnya berharap pria di hadapannya mau memberikan ciuman sekali saja.

"Jangan lupa nanti kunci lagi," ujar Alby berlalu begitu saja. Sepertinya pria itu tidak memahami isyarat yang diberikan tunangannya.

Raut wajah Intan terlihat kecewa. Namun melihat kunci rumah itu berada dalam genggamannya, senyuman kembali terlihat.

Setelah Alby meninggalkan pelataran rumahnya, Intan pun memasukkan mobilnya. Langkahnya terasa ringan memasuki rumah tunangannya tersebut. Rumah bergaya minimalis itu cukup besar untuk ditempati seorang diri.

Tanpa ragu ia membuka pintu salah satu kamar tamu dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil menatap langit-langit kamar ia bergumam, "Setelah kunci rumahmu, aku pasti akan mendapatkan kunci untuk membuka hatimu, Al."

Intan beranjak ke dapur. Ia menuangkan susu UHT yang diambilnya dari dalam lemari pendingin. Sesaat ia menatap ke arah tangga. Di atas sana kamar Alby berada.

Intan harus kecewa saat mencoba memutar gagang pintu kamar Alby yang ternyata di kunci. Hal itu membuat rasa penasarannya semakin menjadi pada sosok Alby, tunangannya.

Mereka memang telah bertunangan. Tepatnya ditunangkan oleh orang tua mereka. Namun sepertinya hanya ia yang merasa senang, karena selama dua tahun ini Alby seolah tidak menganggapnya ada.

***

Tengah hari, Bu Rita baru pulang dari tempatnya bekerja. Hari ini ia pulang lebih cepat karena pekerjaannya tidak terlalu banyak.

Bu Rita berjalan menyusuri jalanan perumahan yang di lewatinya. Langkahnya cepat karena ingin segera memasak untuk makan siang cucunya.

Langkahnya terhenti saat ada sebuah mobil yang keluar dari pintu gerbang. Setelah pintu gerbang itu otomatis tertutup, ia pun berniat melanjutkan langkahnya.

"Bu, Bu! Tolong buangkan ini ke situ!" pinta seorang wanita muda yang berada di dalam mobil tadi.

Bu Rita menoleh dan mengernyitkan keningnya menatap heran pada kantong plastik yang di sodorkan. Ia kemudian mengambilnya dan berlalu membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata sepatah katapun juga.

"Terima kasih ya," ucap wanita itu sambil berlalu melajukan mobilnya.

Bu Rita menyeringai lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Mentang-mentang orang kaya, kelakuan seenaknya." Gumamnya.

Bu Rita kembali melangkahkan kakinya menuju gang yang cukup panjang dan berkelok untuk sampai ke rumah kontrakannya. Ia tersenyum senang mendapati Alfi yang sedang menata buku-buku barunya.

"Kamu sudah nggak sabar ingin cepat sekolah, Al?"

"Iya, Nek. Alfi juga sudah tidak sabar ingin pakai seragam baru yang akan dibelikan Mama," sahut Alfi riang.

"Seragam baru?" gumam Bu Rita.

"Iya, Nek. Nanti hari Minggu Alfi sama Mama mau beli seragam baru."

Bu Rita tersenyum dengan wajahnya yang sendu.

Jadi karena itu Putri mencari pekerjaan di hari libur? Batinnya.

Bu Rita menghela nafasnya. Merasa pilu mengingat nasib putrinya selama ini. Di usianya yang masih muda, terlalu berat beban hidup yang harus dipikulnya.

Tanpa terasa air matanya menetes. Cepat-cepat ia mengusapnya dan melanjutkan memasak.

***

Pagi sekali Putri sudah bangun dan mencuci pakaian. Hari ini ia akan berangkat bersama Rani ke rumah majikan temannya itu. Nantinya ia akan dipertemukan dengan orang yang akan menjadi majikannya.

Setelah selesai, ia berpamitan pada ibunya. Kebetulan putranya belum bangun. Namun Putri tetap menghampiri dan mencium pipinya.

Putri dan Rani berjalan menusuri gang sambil berbincang ringan. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di perumahan tempat rumah majikan Rani berada.

"Kamu sendirian bekerja di sini, Ran?"

"Iya," angguk Rani.

"Rumah ini kan besar, pasti capek ya." Ujarnya pelan.

"Ya, mau bagaimana lagi? Namanya juga kerja. Untung majikanku baik, kalau enggak? Malas Put, bertahan di sini."

Putri mengangguk pelan. Ia kemudian diperkenalkan pada majikan Rani. Sambil menunggu teman majikan Rani yang akan menjemputnya datang, Putri membantu pekerjaan temannya di rumah itu.

Disela pekerjaan, mereka sempatkan untuk sarapan. Putri terlihat sangat lahap menikmati roti dan susu hangat yang disediakan temannya itu.

"Kamu setiap hari begini, Ran? Enak ya, bisa sarapan lezat setiap hari."

"Biasa aja, Putri. Ini juga nggak setiap hari. Kadang beli bubur, nasi kuning, atau apa saja yang kebetulan majikanku minta. Makanya aku sengaja tidak sarapan dari rumah," tutur Rani.

Putri mengacungkan ibu jarinya sambil mengunyah.

"Put, itu sepertinya yang mau jemput kamu sudah datang."

Belum juga Putri menjawab, suara majikan Rani sudah memanggilnya. Putri cepat-cepat menghabiskan makanannya lalu menghampiri ke ruang utama.

Ibu Ira, namanya. Ia menjelaskan semua hal yang harus di lakukan Putri di rumah keponakannya yang seorang dokter muda. Putri mendengarkan dengan seksama penuturan wanita itu.

"Bagaimana, kamu sanggup?" tanya majikan Rani.

"Iya, Bu." Sahutnya.

"Baiklah kalau begitu, ayo kita ke rumahnya. Tidak jauh dari sini, hanya terhalang beberapa blok. Kebetulan kalau hari Sabtu dan Minggu dia ada di rumah, tidak sesibuk hari-hari biasanya." Tuturnya.

"Baik, Bu."

Putri berpamitan pada Rani dan majikannya. Ia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih atas pekerjaan barunya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!