NovelToon NovelToon

Dokter Cantik Milik Ceo

Episode 1

Nama ku Anggia Tiffani.

Aku adalah seorang Dokter kandungan.

Menjadi seorang dokter adalah cita-cita ku dari sejak kecil. Alasannya adalah aku sangat suka dengan anak kecil dan aku juga ingin menjadi salah satu orang yang bisa menolong orang lain.

Aku bukan terlahir dari keluarga kaya atau pun orang terpandang yang punya banyak harta berlimpah.

Ibu ku bernama Intan dan Ayah ku bernama Bian.

Ibu ku bekerja sebagai seorang pembantu dan Ayah ku menjadi tukang kebun di rumah keluarga tuan Pasha Wiratma.

Keluarga itu adalah keluarga yang terpandang dan sangat disegani oleh banyak orang. Ia bukan hanya kaya harta namun juga kaya hati.

Aku sangat dekat dengan tuan Pasha Wiratma hingga beliau menganggap ku seperti putrinya, ia memang tidak memiliki anak perempuan dan ia sangat menginginkan anak perempuan.

Aku sangat berterimakasih padanya karena berkat bantuannya aku bisa memakai jas putih kebanggaan ku. Dan berkat beliau aku bisa meraih cita-cita ku saat ini.

Namun, suatu ketika Ayah ku mengalami penyakit yang cukup parah dan mengharuskan melakukan pencangkokan jantung.

Aku adalah seorang dokter sehingga, sedikit demi sedikit tau tentang penyakit Ayah ku.

Walau pun aku bukanlah dokter spesialis jantung.

Aku bingung dan sedih karena Ayah ku harus segera melakukan tindakan operasi.

Namun, semua terhambat karena biaya yang cukup besar yang harus ku dapatkan secepat mungkin.

Hingga tuan Pasha menawarkan dirinya yang menjadi penjamin biaya operasi Ayah sampai sembuh.

Aku bahagia. Namun, siapa sangka ternyata di balik tawaran itu ia mengajukan syarat menikah dengan putra tunggalnya.

Aku tau seperti apa putra tunggal tuan Pasha, angkuh, sombong, di tambah lagi ia seorang casanova.

Jujur saja aku terkadang merasa jijik melihatnya, bukan aku sombong namun, aku tidak suka dengan pria yang suka bergonta-ganti wanita, dari yang masih terlihat remaja sampai wanita dewasa.

Namun, mau bagaimana lagi aku baru saja menyelesaikan pendidikan, aku juga baru bekerja dua bulan lalu di rumah sakit ternama di kota ini.

Uang tabungan ku tidak seberapa, masih jauh kurang sekali bila ku gunakan untuk pengobatan ayah yang berjumlah ratusan juta rupiah di tambah lagi biaya perawatan dan obat yang harus di tebus.

Aku tidak lagi memikirkan diri ku. Tanpa ku pikir panjang aku menerima tawaran tuan Pasha dengan harapan kalau anak nya bisa menerima ku sebagai seorang istri.

Lagi pula tuan Pasha sudah sangat banyak membantu ku, aku pun ingin membalas budi baiknya mungkin ini lah caranya.

Aku menikah dengan putra tunggal seorang pengusaha hebat yang bernama Brian Wiratma setelah Ayah ku selesai melakukan operasi.

Selama satu tahun ini aku menjalani rumah tangga yang hampa. Jangan kan untuk tutur kata yang lembut, senyumnya pun tidak pernah ia berikan pada ku.

Kami memang tinggal satu atap tapi, kami tidak tidur satu ranjang.

Orang di luar sana mungkin mengira aku bahagia menikah dengan anak tunggal dari seorang pengusaha hebat. Tapi mereka tidak tau seperti apa sebenarnya rumah tangga ku.

Aku memang seorang istri dan aku masih memiliki suami namun, siapa sangka kalau aku masih wanita yang suci. Tidak pernah di sentuh oleh suami ku sendiri.

Jujur saja sebagai wanita yang normal dan sudah dewasa aku juga mendamba belaian hangat dari suami ku. Ya, aku ingin juga merasakan menjadi seorang wanita yang bisa membahagiakan suami.

Apa lagi kalau aku bisa memberikan anak pada suami ku, itu adalah impianku.

Namun, impian sepertinya hanyalah impian.

Selama satu tahun lamanya aku menikah ia tidak pernah menyentuhku.

Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik, bahkan selalu memperhatikan nya mulai dari bangun tidur sampai ia akan tidur lagi. Hanya demi mendapat satu ucapan terimakasih dari bibir nya yang mungkin bisa membuatnya menerima ku.

Namun, lagi-lagi bukan ucapan terimakasih yang ku terima, tapi hinaan bahkan terkadang yang ku dapat siksaan.

Aku tidak menyerah sampai di situ, terus berusaha menjadi wanita yang bisa di terima menjadi istrinya.

Sampai suatu hari dengan sengaja aku memakai lingerie yang sangat mini.

Sebenarnya aku merasa jijik melihat penampilan ku, tapi rasa itu ku buang jauh-jauh karena niat ku ingin meluluhkan hati suami ku dan aku tau itu tidak dosa.

Menyedikan, ternyata yang ku dapat bukan sesuai dengan keinginanku. Yang kudapat justru hinaan dan makian bahkan aku di sebut seorang wanita murahan.

Bagaimana perasaan ku di sebut seperti itu oleh suami ku sendiri?

Sakit!

Aku tersenyum, getir air mata yang selama ini ku tahan sudah tidak sanggup ku bendung.

Air mata itu tumpah tanpa permisi, aku ingin menjadi kuat namun, aku terlalu rapuh hingga hanya air mata yang mampu menghibur kesedihan ku.

Kami awalnya tinggal di rumah tuan Pasha namun, karena Brian ingin kami tinggal di Apartemen nya, tuan Pasha mengijinkannya.

Bukan tanpa alasan Brian ingin tinggal di Apartemen semua itu di lakukan karena ingin bebas dari orang tua nya.

Tepatnya agar tuan Pasha tidak tau kalau ia tidak berubah sama sekali dan bebas membawa wanitanya ke dalam apartemen ini.

Terkadang ia bukan hanya membawa satu wanita tapi dua. Ia membawanya masuk kedalam kamar milik nya. Bahkan hampir setiap malam aku mendengarkan *******-******* wanita yang membuat hati ku sakit.

Aku hanya bisa meremas baju ku.

Aku tidak berani mengatakannya pada Ibu dan Ayah ku, karena aku sangat takut mereka khawatir dengan ku.

Dan aku juga tidak berani mengatakan nya pada Ayah mertua ku. Karena sejak awal menikahkan aku dengan anaknya dengan harapan Brian berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Lain lagi dengan Ibu mertua ku, ia sama sekali tidak menyukai ku, bahkan sangat menentang aku menjadi istri Brian.

Menurutnya anak pembantu tidak pantas bersanding dengan anak pengusaha.

Itu terbukti pernikahan ku dan Brian hanya ijab kabul saja tidak ada resepsi sama sekali.

Bahkan orang-orang terdekat ku pun tidak banyak yang tau kalau aku sudah menikah.

Bahkan selama satu tahun ini aku rasanya mulai menyerah menghadapi suami ku yang sepertinya tidak akan pernah bisa menerima pernikahan ini dan aku pun sudah sedikit tidak perduli lagi padanya.

Aku yang selalu di hina mulai terbiasa dan sudah tidak mengharapkan lagi kalau ia bisa menerimaku.

Sekarang aku hanya pasrah pada keadaan semua sudah ikhlaskan, ku biarkan mengalir dengan jalannya sendiri.

Aku hanya berharap dan berdoa pada pada Tuhan Yang Maha Esa kelak akan memberiku kebahagian.

Episode 2

"Pagi Mas."

Sapa Anggia ramah pada suaminya yang baru keluar dari kamar.

"Pagi," jawab wanita yang keluar di belakang Brian, ikut keluar dari kamar mengikuti Brian.

Anggia menatap suami dan pacarnya itu keluar dari dalam kamar sambil memeluk lengan Brian dengan manjanya.

Di tambah lagi Anggia dapat melihat ada banyak tanda di leher wanita itu.

Anggia menunduk, air mata terjatuh di meja makan.

Selalu menyiapkan makanan untuk Brian dan juga pacarnya sebelum berangkat bekerja.

"Sayang, kamu mau sarapan apa?" Tanya Sila dengan suara manjanya setelah Brian duduk.

"Nasi goreng sayang," jawab Brian dengan senyum manisnya.

"Ya sebentar ya," jawab Sila.

"Anggi bikinin aku kopi juga dong," kata Sila.

"Iya," jawab Anggia.

Anggia mulai melangkah ke dapur meninggalkan Brian dan Sila yang sedang memakan sarapan buatannya.

Tidak berselang lama Anggia sudah selesai membuatkan secangkir kopi untuk sila.

Meletakan perlahan di atas meja makan.

Dengan santai Sila mengambil kopi dan tiba-tiba menyemburkan nya pada Anggia.

Byurr!!!

Sila menyemburkan kopi itu tepat di wajah Anggia.

Anggia mengusap wajahnya, bingung kenapa Sila melakukan itu pada nya.

Belum sempat Anggia bertanya tiba-tiba tangan Sila menyiram kopi panas pada Anggi lalu melempar gelas di lantai.

Krang!

Suara pecahan gelas yang di lempar Sila dengan sengaja.

Ruangan itu sudah sangat berantakan dan kopi hitam sudah mengotori lantai yang tadinya sudah bersih.

"Kamu sengaja bikin kopi sepahit ini!" bentak Sila.

"Maaf Sila," jawab Anggia dengan gemetar dan menahan rasa perih serta panas di tubuhnya akibat terkena air kopi panas yang sengaja di siram oleh Sila.

"Beresin!" Titah Sila.

"I-iya, tapi aku obati dulu luka aku ya," kata Anggia.

"Enak saja, beresin ini dulu," bentak Sila lagi.

Brian hanya diam saja dan ia tidak perduli Sila memperlakukan Anggia seperti seekor binatang.

Ia hanya fokus pada sarapannya.

Anggia duduk berjongkok dan ia mulai mengambil satu persatu serpihan kaca yang berserakan di lantai.

Ia melihat Brian namun, tidak dengan sebaliknya. Anggia sangat berharap Brian membelanya terapi, sepertinya itu sangat tidak mungkin.

"Ah," ringis Anggia, melihat jari telunjuknya berdarah dengan cepat menghisap nya.

"Makanya jangan menghayal," Sentak Sila yang sedang duduk bersama Brian di kursi meja makan.

Anggia terus membereskan serpihan kaca gelas, kemudian di lanjutkan dengan mengepel lantai. Namun, saat ia mulai selesai mengerjakan itu semua dengan sengaja Sila menyenggol gelas yang berisi susu milik nya.

Tepat pada Anggia yang berada di bawahnya.

Tumpahan susu menetes jatuh di kepala Anggia, hingga membasahi rambut rambut wanita malang ber- nama Anggia.

Berdiri sambil berusaha membersihkan tubuh nya.

Menepuk-nepuk perlahan noda susu yang menempel pada dirinya.

"Ups."

Sila menutup mulutnya dengan tangan, seakan mengejek Anggia.

"Kamu tega sekali."

Kata Anggia dengan suara bergetar dan air mata pilu kembali jatuh akibat perbuatan Sila sungguh sangat membuat Anggia menderita.

Sudah sering kali Sila melakukan itu pada nya namun, tidak pernah sekalipun Brian melihat atau pun membelanya.

"Maaf," kata Sila dengan entengnya.

"Sayang yuk ke kamar," kata Brian menarik tangan Sila.

"Yuk," jawab Sila tersenyum penuh kemenangan.

Anggia membersihkan meja makan dan lantai yang kotor, padahal baru saja ia membersihkan.

Setelah itu ia mulai membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Tidak lama kemudian sudah selesai, lalu memakai pakaian bersih.

Anggia mulai mengobati lukanya yang terasa perih, lalu meminta izin tidak masuk bekerja untuk hari ini saja.

Anggia duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kamar Brian.

Anggia kembali menangis suaminya sama sekali tidak pernah menghargainya, sedikit pun entah sampai kapan ia akan hidup dalam keadaan yang menyiksanya lahir dan batin itu.

"Kamu tega sekali Mas," gumam Anggia sambil mengusap kasar jejak air mata di pipinya.

Anggia terus membersihkan lukanya dan juga di tambah lagi ia harus memberikan obat dan ia mulai mendengar seseorang mengetuk pintu apartemen tempat tinggal nya.

Anggia berdiri kemudian berjalan menuju pintu lalu membukanya dan ternyata yang datang Ibu mertuanya.

"Ibu," kata Anggia sambil berniat mencium punggung tangan mertuanya tetapi, dengan cepat di tepis oleh Sindi.

"Minggir," Sindi menyenggol Anggia yang berdiri di hadapannya.

"Ibu," kata Sila saat ia keluar dari kamar.

Sebelumnya Sindi memang sudah mengatakan akan datang ke apartemen Brian karena tahu Sila ada di sana.

Sila adalah seorang model, memiliki bayaran yang tinggi dan Sindi sangat bangga Brian bisa berpacaran dengan Sila.

Apa lagi kalau Brian menikah dengan Sila itu akan membuatnya semakin bahagia.

"Sayang," jawab Sindi lalu keduanya saling berpelukan.

"Ibu makin cantik aja," puji Sila sambil kedua tangannya memegang bahu Sindi, dan matanya melihat Sila dari atas sampai bawah.

"Kamu bisa saja," kata Sindi dengan senyum bahagia yang tidak pernah luntur di bibirnya.

Saat bertemu Sila.

"Heh. Ngapain di situ!!" bentak Sila

Anggia hanya berdiri mematung di tempatnya menyaksikan dua wanita itu yang sedang bercengkrama hangat.

"I-iya," kata Anggia yang berjalan pergi.

"Heh, bikin Ibu minum dasar!" Bentak Sila lagi.

"Heh ingat ya kalau bukan karena suami saya Ayah kamu yang penyakitan itu tidak bisa operasi. Dan kalau bukan karena kebaikan suami saya kamu tidak akan menjadi seorang Dokter, ingat itu!" kata Sindi berkata dengan meremehkan Anggia.

"Iya Bu," jawab Anggia.

"Cepat sana!" Titah Sila lagi.

"Ayo duduk Bu," keduanya mulai duduk di sofa dan bercerita tentang barang-barang mahal keluaran terbaru.

"Aku punya Bu tas yang keluaran terbaru itu," kata Sila dengan bangga.

Padahal tas yang bernilai ratusan juta itu ia dapat dari Brian sendiri.

"Oh ya?" Tanya Sindi tidak percaya menatap Sila sang menantu idamannya.

Menurutnya Sila sudah sangat pantas bersanding dengan anak nya Brian, apa lagi jika ia membawa Sila berkenalan pada teman-teman nya, yakin sekali mereka semua akan merasa iri.

"Ya Bu."

Anggia kembali dengan membawa nampan dan berisi dua cangkir teh perlahan mulai meletakkannya di atas meja. Setelah itu pergi tanpa berbicara meninggalkan dua orang wanita yang sedang bercerita dengan penuh bahagia

Anggia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, duduk di ranjang sambil memeluk kedua lututnya dan mulai meneteskan air mata.

Tangisan Anggia terdengar begitu pilu dan menyedihkan, selama satu tahun sudah ia merasakan hal menyedikan hanya bisa menangis keadaannya.

Sampai kapan?

Bolehkah menyerah.

Menyerah pada keadaan yang sangat menyulitkan, antara balas Budi dan penderitaan.

Kapan bahagia itu hadir, kapan bisa dianggap di sekitar nya. Di hargai dengan selayaknya.

Episode 3

Kini Anggia sedang menyiapkan makan malam dan ia sedang menata semua makanan yang ia masak beberapa saat lalu di meja makan sambil menunggu kepulangan Brian. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka Anggia yakin itu pasti suaminya.

TAP TAP TAP!

Terdengar suara langkah yang mulai melewati Anggia begitu saja bahakan tanpa meliriknya sedikit pun.

"Mas," Anggia memanggil Brian yang sudah mulai menjauh dari nya.

"Mas," panggil Anggia lagi karena Brian sama sekali tidak menghiraukannya.

"Mas, aku mohon hargai aku sedikit saja," kata Anggia.

Brian mulai menghentikan langkah nya. Karena mendengar ucapan Anggia ia mulai membalikan tubuhnya lalu berjalan mendekati Anggia dan kini keduanya saling berhadapan dengan Brian menatap tajam manik mata Anggia yang terlihat berkaca-kaca.

"Apa belum cukup uang yang di berikan Ayah ku selama ini?" tanya Brian dengan sinis.

"Maksudnya?" tanya Anggia kembali karena ia tidak mengerti.

"Kau tadi bilang ingin di hargai. Memangnya berapa harga yang kau tawarkan? Bukan kah Ayah ku sudah membeli mu dengan uang yang kau gunakan untuk menggapai impian mu menjadi seorang Dokter dan di tambah lagi uang pengobatan untuk Ayah mu? apa itu belum cukup?" tanya Brian sambil memandang intens Anggia.

Anggia tidak percaya mendengar apa yang di ucapkan oleh Brian padanya. Air mata nya mulai mengalir begitu saja. Hatinya begitu sakit mendengar Brian yang selalu menghina dan merendahkannya. Tapi Anggia tidak mau menyerah ia akan berusaha meluluhkan hati suaminya itu. Karena itu lah janjinya pada tuan Pasha Ayah mertuanya.

"Beri aku satu kesempatan saja Mas. Aku ingin satu kali saja menikah dalam hidup ku. Dan aku tidak ingin mempermainkan pernikahan," kata Anggia mencoba memohon pada Brian ia ingin Brian memberinya satu kesempatan saja.

"Tapi kau bukan selera ku. Aku tidak sudi beristri anak pembantu. Dan pernikahan ini hanya karena kau balas budi pada Ayah ku Itu saja. Dan kau tidak perlu mencampuri urusan ku," jawab Brian dengan nada membentak Anggia.

"Aku mohon Mas satu kesempatan saja. Bila aku tidak bisa maka kau boleh menceraikan aku," kata Anggia ia sangat berharap Brian mengabulkan keinginannya

"Aku tidak akan pernah sudi untuk hidup bersama mu. Kau tau sendiri alasan ku menikahi mu. Itu semua karena Ayah ku yang memaksa dan Ayah ku mengancam akan mengambil perusahan yang ku miliki sekarang kalau aku menolak menikah dengan mu," kata Brian mengungkapkan rasa bencinya pada Anggia.

"Lalu sampai kapan pernikahan kita ini Mas. Aku tidak sanggup bila hidup begini?" tanya Anggia dengan suara putus asanya.

"Kenapa kau mengeluh bukankah kau sudah menjual hidup mu pada Ayah ku?" tanya Brian dengan senyum meremehkan Anggia yang menurutnya Anggia hanyalah sampah yang tidak berarti di matanya.

"Aku mohon pada mu Mas. Aku ingin kejelasan dengan rumah tangga kita ini. Aku sungguh tidak sanggup bila terus hidup begini hiks hiks hiks," Anggia mulai menangis karena hidup yang ia jalani sungguh menyakitkan.

"Kalau kau mau aku beri kesempatan duduk dan berlutut di kaki ku lalu memohon pada ku," kata Brian.

Brian menarik kursi meja makan dan ia membuang jas yang ia pegang di lantai. Ia duduk dengan melipatkan kaki nya. Dan tersenyum sinis pada Anggia.

Anggia diam ia sedang berusaha mencerna ucapan Brian ia tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Iya pernah membayangkan semasa kecilnya bila ia dewasa ia akan menikah dengan pangeran yang mencintainya bayangan seperti sinderela selalu membayanginya. Namun yang ia dapat saat ia dewasa justru sebaliknya. Ternyata menikah itu tidak sebahagia yang ia bayangkan.

"Hey kenapa diam?" tanya Brian yang menyadar kan Anggia dari lamunan nya.

"Apa kau tidak sedikit pun merasa iba pada ku?" tanya Anggia.

"Kalau kau mau aku kasian pada mu ayo duduk di lantai dan memohon di kaki ku," kata Bilmar sambil menunjuk sepatu yang masih melekat di kakinya.

"Apa tidak ada cara lain?" tanya Anggia.

"Kenapa? Apa kau tidak mau?" tanya Brian.

"Baik lah," jawab Anggia.

Anggia terus meneteskan air mata nya. Ia mulai mendudukan tubuh nya di lantai. Dan ia menundukkan kepalanya. Anggia sudah seperti tidak memiliki harga diri lagi ia sudah kehabisan akal bagaimana cara meluluhkan hati Brian. Banyak cara yang sudah ia lakukan namun tidak satu pun berhasil, dan kali ini ia sangat berharap Brian akan berbaik hati pada nya.

"Ayo cepat!" bentak Brian.

"Aku mohon Mas. Beri aku satu kesempatan saja untuk menjadi istri yang baik untuk mu. Aku ingin menjalani rumah tangga seperti orang-orang yang bahagia dan bangga dengan pernikahannya," kata Anggia dengan kepala yang masih tertunduk.

Brian mengambil gelas yang berisi air putih yang tadi di tata oleh Anggia di meja makan. Dan ia mulai menuangkan air itu tepat di kepala Anggia yang sedang menduduk di kakinya.

BYUUURRR!

Suara air itu mengguyur kepala Anggia. Anggia tersadar ia mulai mendongkak dan menatap wajah suaminya. Ia sudah terbiasa dengan kekejaman Brian terhadap nya. Ia hanya menangis tanpa bisa melakukan apa-apa.

"Kenapa Mas. Bukan kah tadi kau menyuruh ku berlutut di kaki mu. Dan setelah itu kau memberikan ku satu kesempatan itu?" tanya Anggia dengan kepala dan wajahnya yang basah.

"Mimpi!" kata Brian.

Brian bangun dari duduknya. Ia berdiri dan mendorong tubuh mungil Anggia hinga wanita itu tersungkur di lantai. Brian berjongkok dan tanyannya mulai mencengkram rahang Anggia dengan sangat kuat. Anggia mulai gemetar dan merasa takut.

"Kau yang sudah membuat aku terpaksa menikahi mu. Dan aku yakin kau menghasut Ayah ku agar ia memaksa ku menikahi wanita seperti mu. Aku yakin tujuan mu menikah dengan ku itu karena harta," kata Brian dan tangannya melepaskan rahang Anggia yang terlihat memerah.

"Tidak Mas hiks hiks hiks," jawab Anggia dengan sesegukan dan rasa dingin akibat air yang di tumpahkan Brian tadi tepat di kepalanya.

"Dan karena kau sudah berani membuat aku masuk kedalam hidup mu. Maka nikmati penderitaan mu. Aku akan membuat mu menderita setelah itu baru kau ku buang," kata Brian dan ia mengambil satu gelas lagi yang masih berisi air putih. Brian mulai mendeguk air itu dan melempar gelas kosong itu ke lantai tepat di samping Anggia.

KRAAANGGG!

Suara gelas itu pecah Anggia tersentak karena terkejut.

"Besok Ayah ku kemari, bersikaplah seolah kita baik-baik saja. Kalau kau mau Ayah mu masih tetap bernapas," kata Brian setelah itu ia meninggalkan Anggia yang sedang menangis. Ia tidak perduli seperti apa keadaan Anggia, yang ia tau Anggia sangat bersalah karena sudah menyetujui keinginan Ayah nya untuk menjadi istrinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!