NovelToon NovelToon

DENDAM

bab 1

Bruggh!!

Tatapan tajam dan mengerikan itu menusuk mata Liliana, gadis itu tidak bisa memberontak karena kaki tangannya terikat dan mulutnya tertutup.

Seorang gadis yang sedang menatap Liliana seperti hidangan lezat membuat gadis itu merinding, air matanya jatuh dan tubuhnya gemetar hebat.

Malam ini gadis yang bernama Fiona Delvina kembali menempati gudang tuanya untuk menghabisi nyawa seseorang gadis cantik.

"Selamat malam nona Liliana." Sapa Fiona dengan seringainya.

Liliana menggelengkan kepala melihat tatapan mengerikan Fiona seperti itu.

"Bagaimana? Masih ingin bermain?" Tanya Fiona.

"Mm!!!"

Fiona langsung melepas lakban yang membekap mulut Liliana.

"Fiona aku mohon lepaskan aku, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi dengan perkataan ku." Ucap Liliana dengan Isak tangis.

"Siapa yang peduli tentang omong kosong mu? Aku diam bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun nona Liliana."

Suara dingin itu semakin membuat tubuh Liliana merinding, keringatnya semakin deras ketika Fiona mengambil satu buah senjata.

"Kau selalu menggangguku saat tidur sekarang aku akan membantu mu untuk tertidur pulas SELAMANYA." seringai itu sangat amat menyeramkan.

Liliana menjauh dan menjauh hingga tubuhnya terbentur tembok.

"Ja-jangan bunuh aku atau papa ku akan mengulik kematian ku dan kau..."

"Nona Liliana seberapa kaya dan seberapa hebat keluarga mu hingga dia bisa menemukan ku."

Fiona meletakkan pistol tepat didepan kening Liliana, gadis itu memejamkan mata merasakan dinginnya ujung pistol.

"Katakan selamat tinggal pada dunia, aku akan membantumu bertemu dengan Tuhan."

Dorr!!

Peluru menancap bebas dikening Liliana, darah segar mengalir deras hingga menetes dari wajahnya, tubuh itu sudah tidak menegang lagi sekarang.

"Masih berani mengganggu ku?"

Tidak ada rasa bersalah sama sekali Dimata Fiona, dia senang melihat darah itu mengalir dengan deras tanpa hambatan, Fiona malah merobek kening Liliana agar proses pengeluaran darah itu semakin cepat.

Setelah tetesan darah terakhir Fiona memasukkan tubuh Liliana kedalam plastik lalu membawanya ke dasar jurang.

Sampai didepan jurang Fiona membuka plastik tersebut lalu mendorong tubuh Liliana kedalam jurang menggunakan kakinya, tak lupa juga Fiona membuang pistol tersebut ikut bersama Liliana.

"Sampai jumpa esok hari nona." Ucap Fiona sembari menempelkan surat terakhir Liliana didepan pohon dekat jurang.

Setelah semuanya selesai Fiona melepas sarung tangannya lalu pergi meninggalkan jurang, dia harus membersihkan bekas darah Liliana agar karena fajar sudah mulai terlihat dari arah barat.

Tidak ada rasa gugup sekalipun dalam diri Fiona karena dia sudah terbiasa melihat darah dan mengumpulkan nya untuk diberikan kepada anjing anjing dipinggir jalan bercampur dengan daging ayam atau semacamnya.

***

keesokan harinya Fiona terbangun dari tidur nyenyak nya, senyum tipisnya mengembang karena sebentar lagi akan ada berita menghebohkan dikampus nya.

tring...tring

"Fiona!!!"

gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar teriakan orang yang menelponnya.

"kenapa berteriak seperti itu ada apa?" tanya Fiona.

"astaga aku mengagetkan mu? maaf maaf tapi ini berita paling heboh sedunia kau tau apa?"

"apa?"

"Liliana tewas bunuh diri."

"benarkah?"

"iya dan jasadnya baru dibawa pulang oleh keluarga, kurasa hari ini kita semua akan pergi."

"baiklah Ella aku harus bersiap siap terlebih dahulu."

"aku jemput?"

"tidak perlu kita bertemu di kampus saja."

"baiklah."

Fiona memutuskan sambungan lalu berpindah kearah dapur mengambil air minum, senyum tipisnya terlihat ketika melihat bungkusan darah Liliana sedang berada di apartemennya.

bab 2

Beberapa menit setelah bersiap Fiona berangkat menuju kediaman Liliana untuk mengucap bela sungkawa pada keluarganya.

Namun sebelum itu Fiona memberikan makanan untuk anjing anjing dipinggir jalan, darah Liliana yang dicampur dengan daging ayam menjadi santapan pagi hewan itu.

Tin..tin..tin

Ella membunyikan klakson mobilnya melihat Fiona sedang berjalan kaki, untungnya gadis itu sudah agak jauh dengan anjing anjing tadi.

"Fiona." Panggil Ella.

Fiona memutar tubuhnya, ekspresi datar tadi berubah dengan senyum manis berbeda seratus persen dari jati dirinya.

"Ayo masuk."

Fiona mengangguk masih dengan senyum manis, Ella Fitzgerald adalah sahabat Fiona sejak duduk di bangku SMA, tentu saja Ella tidak tau rahasia tersembunyi Fiona walau mereka sudah bersahabat cukup lama.

"Kenapa tidak naik bus?" Tanya Ella.

"Mm aku kira rumahnya dekat ternyata jauh." Jawab Fiona.

"Cih memangnya kau tidak pernah kerumah Liliana?"

"Tidak." Jawab Fiona datar.

Ella sadar Fiona dan Liliana memiliki hubungan yang cukup renggang karena Liliana sangat amat sering mengejek ataupun membully Fiona dikampusnya, rasanya satu hari tanpa membully Fiona merupakan sesuatu yang tidak wajar bagi Liliana.

"Ahh maaf aku lupa kalian tidak memiliki hubungan yang terlalu baik." Ucap Ella.

Haahh

Fiona menyandarkan tubuhnya dibahu kursi, andai saja Ella tidak berada disampingnya mungkin Fiona sudah tertawa puas saat ini.

"Fiona bagaimana mama mu?" Tanya Ella mengalihkan pembicaraan.

"Seperti biasa dia masih ketakutan melihat orang tapi pihak rumah sakit jiwa sudah menangani nya." Jawab Fiona.

"Maafkan sahabat mu ini tidak pernah menjenguk mama mu."

"Tidak masalah kau tau sendiri mama ku tidak bisa bertemu orang baru kecuali aku."

Ella menatap Fiona sekilas lalu mengelus puncak kepalanya, inilah yang membuat Fiona menjadikan Ella sebagai sahabatnya, dia selalu ada disaat Fiona lelah dan putus asa.

"Setelah mama mu sembuh aku pasti menjenguknya."

Fiona mengangguk dengan senyum manis.

"16 tahun mama ku dirawat dirumah sakit jiwa tapi tidak ada perkembangan sama sekali aku tidak bisa memastikan apakah mama berada seumur hidupnya disana." Gumam Fiona.

"Aku yakin mama mu sembuh jangan berpikiran jelek sekarang ayo turun kita sudah sampai."

Fiona melihat bunga bunga yang mengucapkan bela sungkawa menghiasai rumah hingga gerbang keluarga Liliana.

"Fiona ayo." Ella sampai mengetuk pintu mobil agar Fiona sadar dari lamunannya.

Bugh!!

Fiona keluar dari mobil, pakaian hitam seluruh pelayat membuat iringan tangis keluarga Liliana semakin kencang.

"Ayo."

Keduanya masuk kedalam rumah, mereka langsung disambut Isak tangis dan histeris keluarga serta sahabat Liliana yang sedang mengitari kotak jenazah.

Wajah Fiona berubah sendu dan merasa kehilangan yang sangat amat dalam padahal isi hatinya mendengar suara tangisan itu sangatlah merdu.

"Mereka sangat berduka atas kematian Liliana, lagipula kenapa gadis itu memilih mengakhiri hidupnya daripada memperbaiki kesalahan." Bisik Ella.

"Mungkin dia sudah tidak mampu atau dia membantu dirinya agar bisa bertemu dengan Tuhan secara langsung lalu menceritakan keluh kesahnya." Jawab Fiona datar.

Ella melihat tatapan datar dari Fiona, asing sekali melihat wajah sahabat nya seperti itu.

"Kau baik baik saja?" Tanya Ella.

Fiona membuang jauh jauh aura iblis nya disaat seperti ini, dia segera menyadarkan diri dan kembali memasang ekspresi sendu.

"Aku hanya sedang mengingat bagaimana ia sering mengucapkan kata kata kotor padaku." Ujar Fiona.

Ella mengangguk sembari merangkul Fiona, dia pun mengingat bagaimana sang primadona kampus itu mengejek dan menendang makanan Fiona.

bab 3

Dari luar seorang yang telah ditunggu datang, seseorang yang sangat amat langka kehadirannya dalam sebuah acara, inipun dia diminta datang karena calon tunangannya tewas tanpa sebab.

Saat keluar dari mobil pria itu juga menggunakan pakaian serba hitam untuk menghargai pihak keluarga. Dia adalah Elbara Cesar Roosevelt, pria yang semula akan menjadi tunangannya.

"Silahkan tuan."

Rezza sebagai asistennya membukakan pintu mobil.

"Anda datang tuan Bara? Syukurlah luka di hati kami sedikit terobati karena telah kehilangan putri semata wayang kami." Ucap tuan Albert.

"Saya ikut berduka cita tuan Albert." Kata Bara.

"Terimakasih tuan silahkan masuk kedalam, anda bisa melihat putri kami untuk terakhir kali."

Bara mengangguk lalu masuk kedalam rumah, banyak aktor aktor yang ikut melayat karena Liliana merupakan anak produser film.

Sampai di dalam Bara hanya melihat dari belakang, dia tidak ingin mengganggu keluarga mantan calon tunangannya.

"Putri kami tidak berpikir panjang tuan, dia menembak dirinya diatas jurang kami sangat terpukul melihatnya."

"Bisa aku melihat calon tunangan ku untuk terakhir kali?" Tanya Bara.

"Tentu saja tuan."

Tuan Albert mengajak Bara mendekat lalu membukakan kain putih yang ada diatas tubuh Liliana.

Bara memperhatikan sedikit detail dibelakang leher gadis itu ada memar begitu juga dengan tangannya, Bara menutup kain putih tersebut lalu menatap satu persatu pelayat.

Tatapan Bara menyapu seluruh ruangan hingga berhenti disatu arah.

"Dia siapa?" Tanya Fiona.

"Astaga kau benar benar tidak tau?"

Fiona menggelengkan kepala karena memang dia tidak tau siapa orang yang sedang menatapnya ini.

"Dia calon tunangan Liliana, dia CEO dari Roosevelt Group dimana perusahaan itu menggeluti bidang perfilman,banyak aktor yang debut dan sukses dari agensinya." Tutur Ella.

Fiona mendengar sambil membalas tatapan Bara hingga pria itu yang mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.

"Ella kita ada jam kuliah satu jam lagi kau tidak ingin pergi?"

"Ya kita harus pergi karena kita sedang ujian dan itu tidak bisa ditunda." Jawab Ella.

Fiona mengangguk lalu keluar dari rumah duka, tatapan Bara sama sekali tidak menakutkan baginya karena tatapan seperti sudah sangat sering ia dapatkan dari korban korban yang ia bunuh.

Sementara didalam Bara dan Rezza menjauh dari kerumunan, ada sesuatu yang menarik perhatiannya sedari tadi tapi sekarang sesuatu itu menghilang.

"Rezza siapa gadis yang tadi?" Tanya Bara.

"Gadis yang mana tuan, ada banyak gadis disana." Jawab Rezza.

"Gadis yang menggunakan pakaian hitam."

"Semuanya menggunakan pakaian hitam."

Bara menahan kekesalannya untuk sementara, bagaimana ia bisa mendeskripsikan gadis yang tadi.

"Begini saja, teman Liliana yang datang melayat hanya teman satu kampusnya?"

"99% begitu tuan karena teman teman SMA nona Liliana sekolah diluar negeri."

"Baiklah cari alasan agar aku bisa kembali tanpa mengantar gadis itu ketempat peristirahatan terakhirnya."

"Baik tuan."

Rezza menjauh sembari memikirkan alasan agar tuannya bisa pergi dari acara membosankan itu.

"Permisi tuan Albert kami harus kembali karena ada tamu dari luar."

"Baiklah dimana Bara?"

"Tuan Bara sudah berada didalam mobil."

"Begitu rupanya baiklah terimakasih banyak atas kunjungannya sampaikan salam ku pada Bara."

Rezza mengangguk dengan senyum tipisnya lalu keluar dan masuk kedalam mobil.

"Pergi ke kampus Liliana."

"Baik tuan."

Rezza melajukan mobilnya menuju kampus, diperjalanan Bara tidak bisa menghilangkan bayangan dari tatapan gadis yang ia lihat tadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!