NovelToon NovelToon

Mertuaku Perjaka! Mencintaiku

My first kiss!

H A P P Y R E A D I N G

Malam berbalut sepi, dingin merayu hati. Cahaya bulan ikut menghiasi, nuansa misteri menyelimuti. Seorang gadis cantik yang sudah lengkap dengan gaun pengantin berdiri menatap pantulan cermin. Tetesan air mata perlahan membasahi pipi manisnya saat menyadari indahnya malam ini tapi, tak seindah hati ini.

Arabella Delisa, gadis berumur 27 tahun. Gadis yang selalu pergi dengan memakai kalung berliontin love. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan benda itu. Hidupnya dari keluarga yang sederhana, bahkan dia adalah seorang pengangguran yang hanya menunggu untuk di lamar. Tepat tanggal 1 Januari 2007, dirinya resmi menjadi istri dari seorang pengusaha sukses bergelut di bidang tambang berlian di Kanada.

Pernikahan dadakan yang dilakukan oleh sebelah pihak keluarga membuat Arabella tertekan, pasalnya ia belum mengenal sosok Benny Ton, pria yang telah menjadi suaminya. Sebab, keluarga Arabella mempunyai hutang budi pada keluarga Benny hingga menjadikan Arabella sebagai penembus hutang budi.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Jika aku berdiam diri di dalam kamar pasti Benny akan mengira kalau aku sedang menunggunya di malam pertama,” gumam Arabella dengan raut wajah cemas.

Arabella terlihat cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di mana setiap suami-istri menuaikan tugasnya di malam pertama. Terlintas dipikiran ia harus pergi untuk malam ini. Dengan cepat Arabella berganti pakaian lalu kemudian keluar dengan rasa takut. Celingak-celinguk seperti maling, ia berhasil kabur namun, dirinya hanya pergi untuk menenangkan diri di halaman belakang.

Saat Arabella sedang menunju ke halaman belakang, terlihat tidak jauh dari pandangan matanya. Seorang pria yang juga sedang berdiri mematung. Ia penasaran, hingga membuatnya mendekati pria tersebut. Sampai akhirnya ia tahu sosok itu adalah Ayah mertuanya.

“Papa? Um, sebenarnya kenapa Papa berdiri di tempat gelap seperti ini?” tanya Arabella kebingungan.

“Eh, Arabella rupanya. Um, aku hanya menyukai tempat tenang seperti ini. Lalu kenapa kamu kesini? Bukankah harusnya kamu menunggu Benny di kamar?” sahut Aland sembari melemparkan pertanyaan.

“Anu, Bella hanya ingin di sini lagipula Bella takut dengan malam ini,” jawab Arabella sambil berdiri di samping papa mertuanya.

‘Arabella, akhirnya aku menemukanmu,’ batin Aland.

Aland menatap gadis yang telah menjadi menantunya. Ia kemudian semakin mendekat sampai akhirnya menarik tubuh Arabella dengan tarikan kuat hingga terjatuh kedalam pelukannya.

Mata Arabella melotot merasakan tubuhnya di dalam pelukan Aland. “Papa, apa yang sedang kau lakukan? Aku ini menantu mu.”

“Bella. Kamu memang menantuku tapi, aku bukan Ayah dari Benny. Aku hanya orang lain yang berusaha masuk kedalam keluarga ini demi mencari dirimu,” sahut Aland sembari semakin mempererat pelukannya.

“Apa maksudmu, Papa?” tanya Arabella kebingungan.

Aland tidak menjawab, ia kemudian mendekati dirinya sangat dekat sampai akhirnya sebuah ciuman mendarat. Aland mengecup bibir Arabella dengan penuh kelembutan.

‘Oh no! My first kiss,' batin Arabella sambil melototkan matanya.

Arabella berusaha melepaskan ciuman itu meskipun tenaganya tidaklah sebanding. Namun, pada akhirnya ia berhasil mendorong tubuh Aland sampai ia bisa melepaskan diri kemudian plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Aland.

“Aku ini menantu mu, jadi tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu denganku,” ketus Arabella.

“Arabella, percayalah denganku. Bahwa semua ini aku lakukan untukmu,” ucap Aland penuh dengan keyakinan.

“Ini mustahil, kamu datang bersama dengan keluargamu hanya untuk menikahkan aku dengan putramu lalu sekarang apa maksudnya ini? Lalu berapa usiamu, Papa?” tanya Arabella penasaran.

“Jangan memanggilku dengan sebutan papa tapi, panggilkan aku dengan namaku, Aland, kecuali di depan mereka. Usiaku 35 tahun, meskipun terpaut jauh lebih muda dari Ibu mertuamu. Arabella, akhirnya aku menemukanmu, sosok wanita yang telah lama ku cari,” ungkap Aland sembari memegang kalung yang ada di leher Bella.

“Kenapa dengan kalungku?” tanya Arabella yang kebingungan.

“Sesuatu. Temui aku besok lagi di sini di waktu yang sama. Ah ya, satu lagi. Jika kamu tidak ingin malam ini melakukan hubungan suami-istri maka katakan bahwa kamu sedang datang bulan. Arabella, sebaiknya kita berpisah di sini, sebab di ujungnya sana Benny sedang mencarimu. Selamat malam, sayangku,” ucap Aland dengan cepat.

‘Apa aku tidak salah mendengarnya? Dia memanggilku, Sayang? Oh tidak ... Pertama dia mengambil ciuman pertamaku lalu sekarang panggilan sayang. Benar-benar keluarga yang aneh,’ batin Arabella.

Aland pergi meninggalkan Arabella yang masih berdiri dengan pikiran penuh pertanyaan. Ia bahkan tidak ingin beranjak dari tempat itu meskipun Benny datang mendekatinya.

“Ara, sedang apa di tempat gelap seperti ini? Apa kamu bosan karena lama menungguku? Aku tadi mencarimu kemana-mana lalu pelayan mengatakan kalau mereka melihatmu pergi kesini. Sebenarnya kenapa?" tanya Benny yang begitu banyak pertanyaan.

“Ah, tidak! Aku hanya ingin mencari udara segar. Oh ya, Ben. Sepertinya aku harus istirahat, badanku kelelahan setelah begitu lama berdiri menyambut tamu-tamu,” ucap Arabella dengan rasa malas.

“Arabella, aku tahu jika kamu kelelahan tapi, bagaimana kalau aku membuatmu merasa nyaman? Ara, kau ingat malam ini adalah malam pertama kita,” sahut Benny sembari tersenyum.

‘Duh ... Aku memang tahu malam ini malam pertama kita tapi, aku tidak menyukainya apalagi sampai menyukaimu,’ batin Arabella.

“Ara, kenapa kamu melamun? Apa kamu sedang mencoba untuk berkhayal tentang malam pertama kita? Jika ya, aah ... aku sudah tidak sabar," lanjut Benny sembari memeluk Arabella begitu erat dari belakang.

...----------------...

Selamat datang, dan selamat menyaksikan. Jika suka jangan lupa berikan dukungan, salam sayang, Meldy Ta.

Mampir juga di novel sequel dari MPM Jadi biar makin greget bacain musim kedua alangkah baiknya baca MPM dulu sampai tamat judulnya Istri Sewaan Duda Okay guys terima kasih ditunggu ya.

Juga ada novel pertama author guys mampir ya salam sayang semuanya.

Menuju ke ruangan rahasia

H A P P Y R E A D I N G

Arabella merasa tidak nyaman berada di dalam pelukan Benny meskipun suaminya sendiri. Dengan cepat ia berusaha melepaskan dengan sedikit beralasan.

“Ben, sebaiknya malam ini kita tidur saja. Aku minta maaf tapi, aku sedang datang bulan,” kata Arabella yang mengingat ucapan Aland.

“Yah ... Ara. Ya sudahlah enggak apa-apa aku bakalan tunggu kok, kalau gitu ayo kita tidur," ajak Benny yang langsung menggandeng tangan istrinya.

Tanpa banyak bertingkah Arabella langsung mengiyakan. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan ucapan Aland yang semakin membuat dirinya penasaran bahkan ciuman pertama yang seriusnya tidak terjadi. Saat hampir sampai ke depan pintu kamar pengantin, mereka justru berpapasan dengan Aland. Benny pun langsung menghentikan langkahnya.

“Loh? Papa belum tidur?” tanya Benny.

“Belum, Ben. Badan Papa pegal-pegal enaknya nonton. Temenin Papa nonton yuk!” ajak Aland dengan sengaja.

“Yah Benny mau tidur. Kasian Arabella tadi Benny ajak tidur, Pa.”

“Ayo dong, Ben. Lagian kamu udah lama enggak nonton sama Papa. Kalau ajak mamamu susah malahan ngomel karena ngantuk,” paksa Aland terus-menerus.

‘Yes! Aku enggak rela kalau Benny malam ini tidur dengan Bella,’ batin Aland.

Benny terdiam sejenak hingga akhirnya ia melirik kearah Arabella. “Aku pergi nonton sama Papa sebentar ya, bolehkan?”

“Iya boleh,” sahut Arabella yang langsung berpaling menatap wajah Aland.

“Makasih, sayang,” ucap Benny sambil memberikan kecupan di kening Arabella.

Tatapan Aland kesal melihat Arabella di kecup oleh Benny meskipun hanya ciuman biasa namun, nafasnya memburu tidak beraturan sampai akhirnya ia pergi mendahului Benny.

‘Aneh, siapa Aland sebenarnya? Kenapa dia seperti sengaja menjaga jarak antara aku dengan Benny?’ batin Arabella.

Arabella memilih pergi ke kamarnya, tidak lupa mengunci pintu. Ia begitu penasaran dengan orang yang menjadi Ayah mertuanya sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari data diri tentang Aland melalui internet. Lama ia mencari meskipun yang keluar begitu banyak keanehan sampai akhirnya sebuah situs yang menyediakan nama Aland Dayton.

“Aland Dayton? Seperti nama Benny yang memakai nama Ton. Apa mungkin dia orangnya? Jika waktu itu Aland bilang dia bukan ayahnya lalu siapa sebenarnya dia?” gumam Arabella dengan pikirannya sendiri yang begitu penasaran.

Arabella memutuskan untuk membuka situs internet tersebut hingga akhirnya ia menemukan begitu banyak potret milik Aland bahkan dari usia kecil.

“Dia tampan juga tapi, kenapa dia bisa menjadi keluarga ini?”

Saat sedang sibuk-sibuknya mencari identitas dari Aland, ia menemukan sebuah postingan. Arabella pun memutuskan untuk membaca satu persatu dari isi postingan itu.

“Aland Dayton, bernama asli Aland Han. Pria asli Kanada yang lahir tahun dan tanggal sekian-sekian. Anak yang di adopsi oleh keluarga Han. Di gosip 'kan menjalin hubungan dengan wanita pengusaha berusia 66 tahun sampai mereka menikah. Namun, pernikahan itu banyak yang bilang pernikahan settingan demi harta.” Arabella terus membaca setiap isi dari postingan.

Kemudian ia melihat postingan-postingan lain sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah gambar yang mirip sekali dengan kalung yang ia pakai.

“Loh? Kok sama persis seperti kalungku? Apa jangan-jangan dia memang mengenaliku sebelumnya? Aku harus mencari tahu,” gumam Arabella sembari memegang kalungnya.

Kalung Arabella berliontin love.

Arabella yang penasaran memilih untuk berjalan keluar dengan cara diam-diam tanpa melupakan mengunci pintu kamarnya. Ia melihat jika Benny bersama dengan Aland sibuk menonton televisi namun, tiba-tiba ide cemerlang terlintas dalam pikirannya untuk memanggil Aland tanpa sepengetahuan Benny. Melambaikan tangan dengan menggunakan bahasa isyarat.

‘Arabella? Kenapa dia manggil aku yah? Harus cari cara nih supaya Benny enggak tahu,’ batin Aland.

“Em! Oh ya, Ben. Papa pergi sebentar ya kebelet nih. Kamu lanjut nonton terus ya,” ucap Aland.

“Iya, Pa tapi, kalau acaranya habis Benny langsung pergi tidur ya.”

Aland mengangguk mengiyakan. Ia langsung pergi ke belakang tepat di mana ia bertemu dengan Arabella.

“Bella, perasaan kita belum beberapa menit yang lalu ketemu di sini terus sekarang kamu diam-diam ajak aku buat ketemuan lagi. Kangen ya? Kalau kangen langsung jujur aja,” ucap Aland dengan penuh percaya diri.

“Jangan kepedean. Aku ingin tahu semuanya, sebenarnya kamu siapa?” tanya Arabella langsung to the point.

“Ayolah, Sayang. Aku sudah katakan besok malam untuk memberitahu semuanya denganmu tapi, jika malam ini kamu memaksanya maka aku juga akan memberitahukannya tapi, dengan satu syarat,” ungkap Aland sembari tersenyum dengan hanya salah satu sisi bibir yang terangkat.

“Syarat? Apa syaratnya?” tanya Arabella dengan cepat.

“Syaratnya ... Jadilah milikku,” jawab Aland dengan mendekati mulutnya kearah telinga Bella.

“Hey! Apa maksudmu?” tanya Arabella sambil melototkan matanya.

“Huus! Jangan keras-keras nanti Benny tahu. Bagaimana kalau begini kamu ikut denganku maka nanti aku akan memberitahukan semuanya, dan besok kita akan kembali kesini pagi-pagi sekali. Bagaimana apa kamu mau, Bella?”

“Apa harus kamu menceritakannya di tempat lain? Jika langsung di sini apa tidak bisa?” tanya Arabella kebingungan.

“Tidak bisa, Bella. Kita tidak punya banyak waktu banyak di sini. Apa kamu mau sampai Benny tahu? Lalu menceraikan mu sampai akhirnya nanti langsung menjadi trending topik perbincangan hangat, bahwa seorang Benny baru saja menikah lalu langsung menceraikan Bella dalam waktu dua jam. Tapi, menurutku itu gosip seperti itu menarik,” ledek Aland dengan sengaja.

“Ya ampun ... Pikiran macam apa itu? Tapi, sepertinya aku ingin kamu memberitahukannya langsung di sini,” paksa Arabella.

“Tidak, tidak! Itu mustahil. Ayo ikut denganku, jika kamu tidak mau maka akan aku memaksanya,” ungkap Aland yang langsung membopong tubuh Arabella ke dalam gendongannya.

“Hey, aku tidak-” ucapan Arabella terhenti saat ia menutupi mulut dengan tangannya.

Aland membawa paksa Arabella ikut dengannya namun, pada akhirnya Arabella terdiam tanpa mengatakan apapun sebab tidak ingin sampai seisi rumah tahu. Aland berjalan begitupun langsung di ikuti oleh Bella yang sudah turun dari gendongannya. Sebuah jalan rahasia yang harus masuk melalui lantai keramik yang memang sengaja di buat khusus sedemikian bagus. Mereka masuk kedalam terowongan bawah tanah yang ada di dalam rumah itu.

Arabella phobia dengan kegelapan sampai akhirnya ia memeluk tubuh Aland dengan cepat bahkan Langsung menyembunyikan wajahnya.

‘Ternyata dia masih takut dengan kegelapan,’ batin Aland.

“Bella, apa kamu membawa ponsel? Handphoneku ketinggalan di kamar,” ucap Aland yang langsung di angguk oleh Arabella.

Cahaya kembali menerangi jalan meskipun Arabella yang masih ketakutan. Sekitar dua puluh langkah berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan yang begitu indah bahkan lebih indah dari kamar pengantin milik Arabella.

Bolehkah aku menangis dalam pelukan menantuku?

H A P P Y R E A D I N G

Sebuah ruangan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Arabella. Padahal ia mengira jika dirinya sedang berjalan kedalam jalan maut karena sangking gelapnya namun, siapa sangka justru keindahan yang tercipta.

Ruang rahasia lengkap dengan ranjang tidur.

“Wow amazing! Kita baru saja melewati kegelapan seperti ingin mati lalu sekarang ini menakjubkan tapi, untuk apa ruangan indah ini di sini? Bukankah luas rumah ini besar? Pasti tidak perlu menyediakan kamar tidur di tempat ini," tanya Arabella tiada hentinya.

“Karena itulah aku ingin menunjukkannya padamu besok malam tapi, ternyata kamu menginginkan malam ini. Bella, semua ini untukmu,” sahut Aland sembari tersenyum.

“Untukku?” tanya Arabella kebingungan.

“Ya. Kamu bebas berteriak atau apapun karena ruangan ini tidak akan mendengarkan apapun yang kita ucapkan. Ah ya, pasti kamu penasaran kenapa aku melakukan ini semuanya padamu. Mari kita duduk sambil kamu mendengar dongeng pengantar tidur,” ungkap Aland yang langsung menarik tangan Arabella.

Arabella memutarkan matanya sambil memperlihatkan senyuman di wajah cantiknya. “Ya-ya baik tapi, setelah itu kita harus langsung pergi. Kau tahu, aku bahkan membawa kunci kamar kesini. Entahlah pasti Benny sudah kesal menungguku membuat pintu.

“Lupakan dia, itu lebih bagus untuk kita jadi besok kita bisa kembali pagi-pagi. Oh ya, apa kamu akan mendengarkan semua pertanyaanmu ini ku ceritakan atau kita harus membahas Benny?” tanya Aland dengan raut wajah kesal.

“Em! Baiklah ceritakan tapi, jangan begitu lama bisa-bisa aku tertidur di sini apalagi ini sudah masuk pergantian hari.”

‘Memang itu yang kuinginkan, Bella,’ batin Aland.

Aland menarik nafasnya kemudian merebahkan tubuhnya sambil menatap wajah gadis cantik di depannya.

“Bella, apa kamu tidak lagi mengenaliku?” tanya Aland dengan begitu serius.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku mengenalmu. Kau adalah Ayah dari suamiku, lalu apalagi? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Arabella terlihat kebingungan.

”Mungkin kamu memang melupakanku. Saat umurmu empat tahun yang lalu, kita tinggal bersama di sebuah panti asuhan tapi, naasnya semuanya berubah setelah terjadi kebakaran hebat. Setelah itu kita berpisah karena aku di adopsi oleh keluarga Han, sebab mereka yang ikut serta membiayai bantuan untuk pembangunan panti. Namun, pada akhirnya keluarga baruku mengirim untuk aku ikut pendidikan di Kanada. Tapi, waktu itu aku menyadari bahwa ada seseorang yang ku rindukan. Aku meminta keluargaku untuk membelikan sebuah kalung yang saat ini sedang kau pakai. Sampai akhirnya aku kembali tapi, aku sudah tidak lagi dapat menemukan dirimu. Pemilik panti bilang jika kamu juga sudah di adopsi. Hingga aku berjanji untuk bisa menemukanmu lagi lewat kalung ini. Bagaimana apa kau sudah jelas tahu siapa diriku?”

Arabella terdiam sejenak sambil berpikir hingga akhirnya ia memeluk Aland dengan cepat tanpa meminta persetujuan.

“Kakak! Apa benar kakak adalah kakak Daylan? Orang yang waktu itu selalu menemaniku bahkan di saat aku di bully oleh teman-teman yang lain,” tanya Arabella sambil terus memeluk erat Aland.

“Ya, ini aku, Bella. Daylan tapi, keluarga Han memberiku nama yang lebih keren. Bukankah nama Aland itu cocok untuk wajahku yang tampan? Ha-ha-ha. Lalu setelah menikah aku menambah nama menjadi Dayton, yang artinya Day adalah namaku dulu dan Ton adalah marga dari keluarga ini. Kau tahu, aku bahagia bisa bertemu lagi denganmu, Bella,” sahut Aland dengan semangat.

“Iss dasar! Kakak kepedean! Ha-ha-ha, tapi aku bahagia bisa melihatmu di sini. Eh! Kak, bagaimana dengan Benny? Jika dia tahu apa dia akan marah?” tanya Arabella yang langsung berubah raut wajahnya cemas.

“Panggil aku dengan Aland jangan kakak. Nanti kamu kebiasaan panggil kakak 'kan enggak seru kalau ada panggilan sayang,” ucap Aland sembari menyentuh pipi Arabella.

“Ihh apasih! Tapi, benarkan kak gimana kalau sampai Benny tahu kalau ayahnya adalah kenal denganku?”

“Bella, tenanglah. Benny tidak akan tahu meskipun dia tahu maka aku akan menikahi mu apalagi sampai detik ini aku masih perjaka,” ungkap Aland dengan fakta yang baru.

Mata Arabella melotot saat mendengar semua itu. “Masih perjaka?! Oh no! Kebohongan macam apa ini? Kau sudah menikahi Ibu mertuaku lalu sekarang di depanku kau bilang masih perjaka. Ayolah aku tidak sebodoh itu, Aland!” ketus Arabella yang tidak percaya.

“Aku serius, Bella. Mana mungkin aku mau melakukan semua itu dengan wanita tua lebih baik aku mati saja. Ihhh ngeri banget, udah keriput! Aduh ... Aku mau cepat-cepat drama ini berakhir lalu menikahi mu,' ucap Aland dengan tersenyum sembari menarik tubuh Arabella semakin mendekat.

“Iss dasar! Hehe. Em, jika memang kamu masih perjaka lalu kenapa mau menikah dengan mamanya Benny, dan apa dia tidak menginginkan nafkah batin darimu?” tanya Arabella dengan serius.

“Ya ampun ... Jadi setelah kita berpisah lama lalu sekarang kamu tiba-tiba menjadi seorang wartawan,” ledek Aland dengan sengaja.

“Ya udah! Kalau enggak mau di jawab juga enggak apa-apa. Aku lebih baik kembali ke kamarku daripada di sini, heuh!” ketus Arabella yang langsung bangkit dari ranjang itu.

Dengan angkuhnya Arabella berjalan sampai tiba-tiba langkahnya terhenti padahal baru beberapa langkah.

“Um, aku lupa kalau di jalan itu gelap banget, enggak jadi deh,” ucap Arabella sambil terkekeh.

“Ha-ha-ha, makanya jangan sok berani. Ya udah sini yuk, sayangku. Biar Aland cerita deh semuanya,” ucap Aland yang langsung melebarkan kedua tangannya.

“Ihh ngapain buat tangan gitu? Mau di peluk? Ogah!” ucap Arabella sambil menahan senyumnya.

Wajah Aland cemberut sambil menurunkan tangannya. Lalu dengan tiba-tiba Arabella berlari memeluk Aland dengan begitu erat.

‘Kakak, aku tidak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya kita di pertemukan kembali tapi, yang membuatku bingung posisiku di sini sebagai menantu mu,’ batin Arabella sambil memeluk Aland.

“Bella, apa kamu bahagia melihatku kembali di sini meskipun menjadi mertuamu?" tanya Aland.

“Tentu saja aku bahagia, Aland. Meskipun awalnya aku kecewa di nikahkan dengan orang yang tidak aku cintai,” sahut Arabella yang masih dalam pelukan Aland.

“Ya-ya aku pun sama bahagianya denganmu walaupun pertama kali aku menatapmu dengan tatapan tajam. Kau tahu, kenapa? Karena gadis yang Benny nikahi adalah kesayanganku. Itulah sebabnya aku tidak menyukainya.”

“Oh ya? Jadi aku ini kesayanganmu? Hemm! Begitu tapi, aku tidak menyayangi mu bahkan begitu muak melihat wajah ini,” sahut Arabella kemudian tertawa lepas saat melihat raut wajah Aland berubah kesal.

“Sepertinya aku ingin menangis. Bolehkah seorang pria tampan sepertiku menangis dalam pelukan menantunya?” tanya Aland sembari menahan tawanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!