NovelToon NovelToon

Aku Ingin Dicintai

Flora Melinda Putri

Kamu adalah gadis dari kalangan bawah dan bermimpi untuk menjadi seorang putri dengan masuk ke dalam keluarga kami. Jangan bermimpi! Dan satu hal lagi, anak haram seperti dirimu tidak pantas menjadi pendamping anakku, apalagi ibu kamu, wanita murahan seperti dia tidak pantas menjadi besan kami.

Ini peringatan untuk kamu dan ibu kamu, jika kamu masih berhubungan dengan anakku, Daniel, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidup kalian berdua

Memiliki paras yang cantik, hati yang baik, karir yang bagus tidak membuat kisah cinta Flora Melinda Putri berjalan mulus. Sebuah masa lalu ibunya, Seruni, membuat banyak orang yang menyelanya. Menganggap dirinya bukan perempuan baik-baik.

Dicap sebagai anak haram, karena tidak memiliki ayah. Bahkan Flora sendiri juga tidak tahu siapa ayahnya. Saat ibunya tengah hamil dirinya, ibunya juga belum menikah.

Kisah cintanya dengan seorang laki-laki, Daniel A.F yang berasal dari keluarga kaya juga berakhir tragis berujung pada penghinaan terhadap ibunya. Semenjak saat itu, Flora tidak lagi mengenal ungkapan kata cinta pada laki-laki manapun. Apalagi jika laki-laki itu berasal dari keluarga yang berada. Ia takut dan trauma jika kejadian itu terulang kembali.

Setelah 3 tahun peristiwa itu berlalu, hidup Flora hanya diisi dengan bekerja dan bekerja. Kadang Flora juga lupa kapan terakhir kalinya ia merasa bahagia.

Pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang laki-laki playboy, Rivaldo Giovanni Ferdinand membuat ia kembali merasakan bahagia. Laki-laki itu seakan sengaja didatangkan untuk dirinya membawanya sejuta kebahagian dalam hidupnya.

*****

Suara gemericik air terdengar di dalam kamar mandi, di sebuah rumah kontrakan. Seorang perempuan sedang membersihkan tubuhnya pada pagi hari, dia adalah Flora Melinda Putri.

Setelah selesai membersihkan diri, Flora keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimononya. Dengan langkah kecil, Flora melangkah menuju ke kamarnya. Flora berjalan ke arah tempat tidur senyumnya mengembang melihat pakaian kerjanya sudah tertata rapi.

Kemeja lengan pendek berwarna merah muda dengan rok panjang selutut warna hitam sudah tertata rapi di atas tempat tidurnya. Ini adalah hari pertama Flora berkerja di sebuah perusahaan setelah ia lulus kuliah. Flora langsung menyambar pakaian itu dan memakainya.

“Flora.” Flora mendengar suara dari luar kamarnya.

Flora menoleh setelah telinganya mendengar ada yang memanggil namanya. Dia adalah Seruni, ibunya Flora.

“Masuk, Bu!” suruh Flora.

“Kamu belum siap?” tanya Seruni.

“Seberntar lagi. Kenapa, Bu?” tanya Flora.

“Tiara sudah menunggu di luar,” jawab Seruni.

“Oh iya, Bu… sebentar lagi Flora selesai.” Setelah ibunya pergi, Flora kembali fokus pada pantulan dirinya di cermin untuk memeriksa ulang penampilannya.

Flora keluar dari kamarnya setelah dirinya siap. Hari ini Flora akan menggantikan pekerjaan tetangganya yang sekaligus sahabatnya sebagai sekertaris di salah satu perusahaan besar.

Sebenarnya itu tawaran terdengar gila, dan Flora cukup nekat menerima tawaran itu. Flora sebenarnya takut jika dirinya tidak bisa bekerja dengan baik, karena ini pertama kalinya Flora bekerja sebagai sekretaris. Apalagi di perusahaan besar seperti F.G Corporotion, perusahaan yang bergerak di bidang property.

“Mba Tiara,” panggil Flora. “Selamat pagi,” sapa Flora.

“Hai Flo. Selamat pagi juga.” Tiara membalas sapaan Flora. “Kamu sudah siap?” tanya Tiara.

Tiara cuti dari pekerjaannya, karena ia sedang hamil. Bosnya meminta ia untuk mencarikan pengganti dirinya. Dan kebetulan Flora baru menyelesaikan kuliahnya.

“Bagaimana menurutmu penampilanku? Apa ini sudah benar?” tanya Flora gugup.

Tiara memandang penampilan Flora dari atas hingga bawah. “Kayaknya masih ada yang kurang ....”

“Apa? Apa yang kurang?” tanya Flora.

“Senyummu,” jawab Tiara.

Wajah Flora yang antusias berubah malas dan Tiara menyadari perubahan pada wajah Flora.

Tiara berjalan mendekat kearah Flora dan memegang salah satu pundak Flora.

“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Kejadian itu sudah 3 tahun yang lalu,” tanya Tiara.

“Rasanya sangat sulit untuk melupakan itu, Mbak. Hatiku masih terasa sakit jika mengingat kejadian itu,” jawab Flora.

“Aku kangen Flora yang ceria,” ucap Tiara.

Flora tersenyum lalu meraih tangan Tiara yang ada di pundaknya, lalu menggenggamnya dengan erat.

“Aku sangat berterimakasih banyak sama mbak Tiara yang selalu mendukung aku. Aku akan berusaha yang terbaik di sana nanti. Aku tidak akan membuat mba Tiara malu,” ucap Flora

"Mbak tahu kamu pasti bisa melakukan itu. Tapi kamu juga harus ingat, bahagialah untuk dirimu sendiri. Jangan siksa dirimu sendiri dengan kepahitan dari masa lalu kamu,” pesan Tiara.

“Baik Mbak Tiara,” sahut Flora. “Jadi apa penampilan sudah oke?” Kini Flora bertanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

“Sempurna,” jawab Tiara dengan menunjukan jarinya membentuk huruf o.

“Ayo kita berangkat,” ajak Flora.

“Yuk!” seru Tiara. “Kita pamit sama ibu kamu dulu,” lanjut Tiara yang langsung di angguki setuju oleh Flora.

“Ibu,” panggil Flora.

Seruni pun muncul dari balik pintu dapur. “Ya, Nak.”

“Flora sama mbak Tiara berangkat dulu. Doa'in Flo biar semuanya lancar,” pamit Flora.

“Amin,” ucap Seruni dan Tiara bersamaan.

“Kalian hati-hati di jalan,” ucap Seruni.

Flora dan Tiara mengangguk bersamaan dan secara bergantian menyalami tangan seruni.

Flora bersama Tiara berjalan ke rumah Tiara yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keduanya pun masuk ke dalam mobil milik Tiara yang terparkir di depan rumah Tiara. Di dalam mobil sudah ada suami Tiara yang akan mengantar keduanya ke perusahaan yang akan mereka tuju.

“Pagi, Mas Adit,” sapa Flora.

“Pagi juga, Flora,” sapa balik Adit.

Flora duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Tiara duduk di kursi penumpang depan bersebelahan dengan Adit yang sedang mengemudikan mobilnya.

Sepanjang perjalanan, Tiara memberitahukan apa saja yang akan dikerjakan oleh Flora di sana. Tidak lupa juga Tiara memberitahukan seperti apa sosok bosnya pada Flora.

“Bos kita namanya Farhan Ferdinand. Beliau sudah berumur sekitar 50 tahunan. Beliau sangat baik pada semua karyawannya, mobil ini adalah bukti kebaikannya padaku,” ucap Tiara.

Mata Flora melihat sekeliling bagian dalam mobil. “Mbak dibeliin mobil sama bosnya Mbak?”

“Gak, ini sebenarnya mobil kantor. Bapak Farhan nyuruh aku pakai mobil ini untuk pulang pergi ke kantor. Tapi sekarang jadi milik aku. Bapak Ferdinand memberikan ini untukku. Katanya sebagai kenang-kenangan jika aku pernah bekerja di kantornya,” jawab Tiara.

“Wah, baik banget ya bapak Ferdinand itu.” Tiara langsung mengangguki ucapan Flora. “Mbak aku sebenarnya takut kalau aku tidak bisa bekerja dengan baik dan benar di sana. Ini pertama kalinya aku bekerja sebagai sekretaris.”

“Kamu tenang saja, aku masih di sana selama satu bulan untuk mengajari kamu. Dan aku juga percaya kalau kamu pasti bisa,” ucap Tiara.

“Iya Flora … kami yakin kamu pasti bisa, kamu perempuan yang smart,” imbuh Adit, suaminya Tiara.

“Betul kata Mas Adit,” sambung Tiara.

“Terimakasih karena kalian selalu mendukung aku. Aku sudah berhutang banyak pada kalian. Aku juga tidak tahu bagaimana nasib aku dan ibu jika tidak ada kalian yang membantu kami dulu,” ucap Flora.

“Flora, dari dulu kami sudah menganggap kalian seperti keluarga kami sendiri. Dan ya, nanti atau kapan saja aku akan meminta sesuatu sebagai balasannya,” gurau Tiara.

Flora tahu jika ucapan Tiara hanya sekedar gurauan saja. Ketiganya akhirnya tertawa bersama di dalam mobil itu.

Tidak terasa mereka sudah sampai di lobby sebuah gedung pencakar langit, itu adalah gedung kantor F.G Corporotion.

Tiara dan Flora turun dari dalam mobil setelah berpamitan pada Adit. Flora tidak tahu jika pada saat ia pertama kalinya menginjakkan kakinya di tempat itu, pada saat itu pula kisah cintanya akan dimulai kembali.

Pengenalan tokoh.

Flora Melinda Putri, 25 tahun. Sekretaris Revaldo Giovanni Ferdinand. Si cantik dengan sejuta kebaikan. Namun, hatinya dipenuhi oleh sejuta luka. Sifat cerianya hilang setelah kisah cintanya dengan seorang laki-laki berakhir tragis dan berujung pada sebuah penghinaan.

Rivaldo Giovanni Ferdinand, 27 tahun. CEO di perusahaan F.G yang bergerak di bidang properti. Si playboy kelas kakap, tetapi baik hati. Gio tidak pernah memandang seseorang dari status sosial, sifat yang ramah dan mudah bergaul membuat nilai lebih dari si playboy ini.

Daniel Aditya Ferdinand, 27 tahun. Adik sepupu Revaldo Giovanni Ferdinand. Berbanding terbalik dengan sikap Gio, Daniel adalah laki-laki pemuja kesetiaan. Hanya ada satu nama perempuan yang ada di dalam hatinya. Namun, sayang kedua orang tuanya tidak merestui gadis pilihannya.

Pekerjaan Baru

Seorang Satpam dan beberapa karyawan lain di kantor itu menyapa Tiara. Banyak yang mengenal Tiara, karena dia adalah sekretaris dari pemimpin di perusahaan itu.

“Halo, Mbak Tiara Selamat pagi,” sapa salah satu karyawati di sana.

“Halo juga Karin. Selamat pagi,” sapa balik Tiara.

Karin melirik ke arah Flora. “Ini perempuan yang akan menggantikan pekerjaan kamu?”

“Ya, ini Flora. Dia saudari aku,” jawab Tiara.

Dengan sopannya Flora mengulurkan tangannya ke hadapan Karin. Namun disambut tatapan mengejek serta senyum sinis darinya.

“Pak bos dapet daun muda, cantik lagi. Makin semangat kerjanya tuh,” sindir Karin.

Flora bisa mengartikan itu sebagai sebuah ejekan. Namun, Flora membalas itu dengan senyuman ramah.

“Oh iya, Flora, bapak Farhan itu duda loh. Kaya lagi.” Karin sengaja menekan kata-katanya untuk menyindir Flora.

“Hati-hati kamu kalau bicara! Kantor ini full cctv,” balas Tiara. “Dan aku bisa melaporkan langsung sikap kamu ini ke bapak Farhan,” lanjut Tiara.

Karin berdecak kesal lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Tiara dan Flora.

“Kamu harus hati-hati, Flora. Di sini banyak yang suka nyinyir dan bermuka dua,” ucap Tiara.

“Iya, Mbak.” Flora berucap tidak semangat.

Flora dan Tiara masuk ke dalam lift menuju ruang kerja Tiara di lantai 10. Setelah lampu lift menunjukkan angka 10, Tiara dan Flora keluar dari dalam lift. Flora tidak henti-hentinya menatap interior kantor itu, beruntungnya dirinya bisa masuk ke dalam perusahaan itu tanpa menunggu panggilan interview. Flora sebenarnya merasa heran dengan itu. Akan tetapi Flora tidak ambil pusing, anggap saja itu sebuah keberuntungan.

Flora mengambil posisi duduk di samping Tiara dan mengerjakan apa yang Tiara suruh. Tidak lama Tiara menyuruh Flora untuk berdiri dan menyambut pemimpin di perusahaan itu.

“Pagi, Bapak Farhan,” sapa Tiara seraya membungkukkan sedikit badannya. Flora pun melakukan hal sama meski masih terlihat kaku.

“Pagi juga, Tiara,” sapa balik Farhan pandangan Farhan mengarah ke Flora.

“Kalian saya tunggu di ruangan saya!”perintah Farhan.

“Segera, Pak,” sahut Tiara.

Tiara dengan segera membukakan Farhan pintu ruangan kerjanya dan mengikuti langkah bos-nya bersama Flora dan Abi, asisten pribadi Farhan.

Ketiga orang itu menatap lurus ke arah Farhan yang duduk di balik meja besar di ruangan itu, dan Flora adalah orang yang menjadi pusat perhatian Farhan.

“Tiara, jadi ini sahabat kamu yang akan menggantikan pekerjaan kamu?” tanya Farhan pada Tiara.

“Betul, Bapak. Kemarin saya juga sudah memberikan data diri Flora pada Bapak,” jawab Tiara.

“Ya, saya sudah membacanya.” Pandangan Farhan kembali ke Flora. “Kamu belum ada pengalaman menjadi seorang sekretaris?” tanya Farhan pada Flora.

“Belum ada,” jawab Flora.

“Saya akan memberikan kesempatan untuk itu. Saya terima kamu untuk menggantikan posisi Tiara sebagai sekertaris saya dan semoga kamu tidak melanggar kepercayaan saya ini,” ucap Farhan.

“Terimakasih banyak untuk kesempatannya. Saya akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan Anda,”jawab Flora tegas.

Memang Flora belum ada pengalaman menjadi seorang sekretaris, tetapi jangan salah, Flora mempunyai semua syarat untuk menjadi seorang sekretaris. Maka dari itu Tiara merekomendasikan Flora di perusahaan itu. Dan siapa sangka pemimpin di perusahaan itu langsung saja menerima Flora.

“Baiklah, Flora kamu bisa langsung bekerja di perusahaan ini dan selamat bergabung.” Farhan berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya ke arah Flora.

Flora melangkah ke depan untuk menyambut uluran tangan bosnya itu. Saat Flora menyatukan tangannya dengan atasannya, ada sebuah perasaan yang Flora sendiri tidak tahu perasaan apa itu.

“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak untuk kepercayaan Anda,” ucap Flora yang langsung diangguki oleh Farhan.

“Silahkan kalian melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing,” perintah Farhan.

“Kami permisi,” pamit Flora, Abi, dan juga Tiara.

Ketiganya pun keluar dari ruangan Farhan bersama-sama.

“Flora, ini Abi, asisten pribadi bapak Farhan,” ucap Tiara ketika mereka sudah berada di luar ruangan Farhan.

Flora dan Farhan saling mengulurkan tangan mereka.

“Salam kenal. Semoga kamu betah kerja di sini,” ucap Farhan.

Setelah itu Tiara mulai memperkenalkan Flora dengan pekerjaan-pekerjaan di sana. Tiara merasa tidak salah sudah memilih Flora sebagai penggantinya. Dan itu terbukti dari betapa cekatannya Flora di dalam pekerjaannya.

*****

Satu bulan sudah Flora bekerja di perusahaan itu dengan baik dan Farhan juga menyukai cara kerja Flora.

“Flora, ini hari terakhir aku di sini. Setelah hari ini aku tidak bisa lagi menemani kamu. Aku harap kamu bisa menjaga dan melindungi diri kamu sendiri di sini,” ucap Tiara saat mereka telah tengah makan siang di kafe seberang kantor.

Flora berhenti mengunyah makanannya lalu meraih tangan sahabatnya. “Mbak, aku berterima kasih banget sama Mbak yang sudah banyak sekali membantuku.”

Tiara tersenyum dan mengusap tangan Flora. “Dengar Flora, kamu sudah seperti adikku sendiri. Jangan ragu untuk mengatakan segala masalahmu padaku,” balas Tiara Flora pun langsung mengangguk.

“Oh iya, hari ini kamu terima gaji pertama kamu, 'kan?” Tiara tersenyum antusias, “Kamu harus traktir aku makan,” lanjut Tiara.

“Beres. Buat ibu hamil, apa sih yang gak,” ucap Flora. Keduanya pun tertawa bersama.

Hari sudah menjelang sore. Slip gaji pun sudah Flora terima, mata Flora berbinar setelah melihat gaji yang ia terima.

“Alhamdulillah. Ini bisa buat bantu ibu bayar hutang,” batin Flora.

“Wah traktir dong,” goda Tiara.

“Siaap.”

Seperti janji Flora pada Tiara, ia akan mentraktir apapun yang Tiara mau.

“Aku mau martabak coklat keju,” ucap Tiara.

“Berangkat!” Tiara dan Flora berjalan ke lobby kantor itu menunggu suami Tiara, Adit, yang akan menjemput mereka.

Di lobby kedua Sabahat itu berbicara dan terlihat sesekali tertawa.

“Aku senang melihatmu tertawa seperti ini Flora,” ucap Tiara.

“Iya, Mbak.”

“Kamu harus bisa melupakan laki-laki itu. Mungkin saja dia bukan jodoh kamu,” ucap Tiara.

“Kamu tahu Flora? Sebenarnya kamu itu sangat beruntung, karena kamu tidak jadi menikah dengan dia. Kalau iya, kamu akan mendapatkan mertua yang galak seperti itu. Dan mungkin kamu akan cepet menua, karena tekanan batin,” ledek Tiara.

Flora tertawa saat melihat ekspresi lucu sahabatnya.

Tiiin tiin

Flora dan Tiara menghentikan candaan mereka. Pandangan mereka langsung beralih pada mobil berhenti di depan mereka. Kaca mobil itu perlahan bergerak turun dan menampakkan wajah Farhan.

“Sore, Bapak Farhan,” sapa Flora dan Tiara bersamaan.

“Sore,” balas Farhan. “kalian belum pulang?”

“Kami sedang menunggu jemputan.” Tiara menjawab mewakili mereka.

“Oh, ya sudah. Kalau begitu saya duluan.” Pandangan Farhan mengarah ke Flora. “Mari Flora.”

“Silahkan! Bapak hati-hati di jalan,” ucap Flora.

“Kamu juga hati-hati di jalan,” balas Farhan. Flora pun langsung mengangguk dan tersenyum ramah.

Mobil yang ditumpangi Farhan kembali melaju meninggalkan area kantor itu.

“Tenyata kamu bener, Mbak! Bapak Farhan sangat baik. Bahkan meski aku pernah melakukan kesalahan beliau tidak pernah marah, hanya menegur secara baik-baik.”

“Andai aku punya ayah seperti beliau,” batin Flora.

“Tapi kayaknya bapak Farhan punya perasaan lain deh sama kamu, Flora” tebak Tiara. “Atau jangan-jangan … bapak Farhan tertarik sama kamu.”

“Kok kamu bisa mikir gitu?” tanya Flora. “Jangan aneh-aneh deh! Aku jadi takut ini.”

Tiara terkekeh karena berhasil menggoda Flora. “Soalnya pas aku memberikan data diri kamu ke bapak Farhan, beliau terlihat antusias. Bahkan dia tersenyum sendiri saat membaca data diri kamu itu. Di tambah lagi dengan semudah itu beliau langsung menerima kamu.”

“Mbak, jangan aneh-aneh deh! Aku takut nih.” Pikiran negatif muncul di pikiran Flora.

“Kamu tenang saja dan jangan mikir macem-macem. Bapak Farhan tidak akan berbuat sesuatu yang buruk sama kamu, aku sangat menganal beliau. Bapak Farhan itu sangat menghormati seorang wanita,” ucap Tiara seolah ia mengerti apa yang ada di pikiran Flora. “Sudahlah jangan dipikirkan. Anggap saja ini keberuntungan buat kamu.”

“Tapi ... bapak Farhan meski sudah berumur masih terlihat ganteng ya,” ucap Flora dengan senyum nakalnya.

“Iya benar. Sudah duda, ganteng, kaya, baik lagi. Kamu tidak tertarik dengan beliau? Kamu bisa kaya mendadak jika menikah dengan beliau,” ledek Tiara.

“Ngawur nih, Mbak.” Mereka pun tergelak bersama.

“Eh, tapi anak bapak Farhan lebih ganteng,” ucap Tiara dengan mata berbinar.

“Anak? Mbak udah pernah lihat anak bapak Farhan?” tanya Flora, karena selama ini dirinya tidak pernah melihat anaknya Farhan. Flora hanya mendengarnya saja dari karyawan lain.

“Sudah! Dia tampan, baik hati, ramah murah senyum … ya sebelas dua belas sama bapaknya, tapi sayang—”

“Tapi sayang Mbak sudah punya suami jadi gak bisa godain dia,” ledek Flora yang diikuti kekehannnya.

“Huus, ngawur! Sayangnya dia itu tidak bisa setia dengan satu wanita saja,” ucap Tiara.

“Itu sih namanya setia, tapi setiap tikungan ada,” ucap Flora diikuti tawanya dan Tiara.

“Bisa saja kamu,” balas Tiara.

“Tapi jika kamu melihat dia, aku peringatkan jangan pandang mata dan senyumnya karena kamu bisa terhipnotis,” ucap Tiara.

“Tidak akan! Aku akan memilih bapak Farhan dari pada anaknya yang muda tapi gak setia itu.” Flora bergidik, “Bisa tiap hari makan ati,” lanjut Flora.

Tiara tertawa melihat ekspresi wajah Flora, namun dalam hatinya ia bahagia bisa melihat senyum Flora.

“Flora, aku senang melihatmu ceria seperti ini. Aku berharap kamu akan selalu seperti ini dan suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan kebahagiaanmu,” ucap Tiara penuh harapan.

Flora tersenyum dan langsung memeluk tubuh Tiara yang langsung di balas oleh Tiara. Dan beberapa detik kemudian mereka harus saling menarik diri, karena orang yang mereka tunggu datang.

“Yuk kita pulang, mas Adit sudah datang!” ajak Tiara yang langsung diangguki oleh Flora.

Mengenang masa lalu

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.

Happy reading

Jalanan masih terlihat sangat padat, bukan hanya jalanan yang ramai dengan kendaraan pribadi maupun umum yang berlalu-lalang, di trotoar jalan pun banyak perjalan kali yang berlalu lalang salah satunya adalah Flora. Flora sedang berjalan ke arah tukang jualan martabak.

“Bang, martabak manis cokelat-keju satu dan martabak telornya satu,” pinta Flora.

“Di tunggu sebentar ya, Mbak,” sahut penjual martabak itu.

Flora pun mengangguk. Flora memilih duduk di tempat yang sudah disediakan untuk menunggu pesanannya siap. Flora memilih menunggu dengan bermain dengan ponselnya. Setelah setengah jam menunggu, pesanannya pun siap.

“Terimakasih,” ucap Flora.

Flora menerima satu porsi martabak manis coklat - keju pesanan Tiara dan satu porsi martabak telur kesukaan ibunya.

Setelah membayar tagihan martabak itu, Flora kembali ke dalam mobil di mana Tiara dan Adit yang tengah menunggunya.

“Ini, Mbak.” Flora memberikan martabak yang ia beli untuk Tiara.

Tiara menerimanya dengan mata berbinar, air liurnya ikut menetes saat hidungnya mencium wangi martabak manis itu.

“Terimakasih, Flora,” ucap Tiara.

“Sama-sama, Mbak. Dimakan Mbak, biar dede bayinya gak ileran,” ucap Flora disambut tawa kecil Tiara.

Adit kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Flora melihat Tiara menyuapi martabat kepada suaminya. Senyum mereka mengembang, Flora bisa melihat kebahagiaan suam-istri yang ada di hadapannya. Ada rasa senang dan Flora juga tidak memungkiri jika ia merasa iri pada kemesraan mereka.

Flora mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil dan menatap pemandangan jalanan luar. Matanya mendadak melihat sekilas tempat makan yang sering ia kunjungi bersama mantan kekasihnya dulu.

Rasa cinta yang pernah Flora rasakan pada laki-laki itu amatlah tulus. Hubungan mereka pun sudah terjalin 4 tahun, dari semenjak mereka duduk di bangku SMA. Laki-laki itu adalah kakak kelasnya.

Saat laki-laki itu meraih gelas sarjana mereka berniat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Namun, orang tua laki-laki itu tidak merestui hubungan mereka, karena berbeda status sosial. Apalagi saat mereka mengetahui jika Flora lahir tanpa seorang ayah.

Huufff

Flora menghirup udara dalam-dalam mendadak dadanya terasa sesak saat mengingat penghinaan yang orang kaya itu lakukan terhadap ibunya. Semenjak saat itu Flora memilih untuk memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.

“Flora, Flora.”

Flora tersentak saat ada yang menepuk pahanya.

“Eh iya, Mbak? Apa kita sudah sampai?” tanya Flora bodoh.

“Kita sudah sampai dari 5 menit yang lalu,” jawab Tiara.

Flora menengok keluar dan tenyata memang benar mereka sudah sampai bahkan mobil itu sudah masuk ke dalam garasi rumah Tiara.

“Maaf, Mbak. Aku melamun jadi gak sadar kalau kita sudah sampai,” ucap Flora.

Flora langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu.

Tiara tahu apa yang sedang sahabatnya itu pikirkan. Ia pun ikut untuk turun dan langsung menghampiri Flora.

“Flora ... ada apa? Aku perhatikan kamu melamun sepanjang perjalanan,” tanya Tiara.

“Tidak, Mbak! Hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Flora.

“Memikirkan mantan kekasihmu dulu?” tanya Tiara. Ada nada tidak suka di dalam ucapan Tiara.

Flora tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Tiara maka dari itu Flora memilih untuk mengangguk.

“Ya ampun ... apa lagi yang kamu pikirkan? Sudah cukup, Flora,” kesal Tiara.

“Mbak tahu 'kan, perasaan aku ke dia itu gimana? Itu lah yang membuat aku sangat sulit untuk melupakan dia,” aku Flora.

“Kalau begitu kenapa kamu mutusin untuk berpisah dengan dia dulu?” tanya Tiara penuh penekanan.

“Karena aku tidak tahan akan penghinaan yang keluarganya lontarkan untuk ibu aku,” jawab Flora.

“Lalu apa yang kamu pikirkan sekarang? Berharap dia datang dan menemui kamu?” Flora diam.

Sebenarnya memang itu keinginannya. Tiara tersenyum sinis melihat Flora tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Ini sudah 3 tahun, Flora. Kalau dia memang masih mencintai kamu dia akan datang ke sini, bukan kamu yang berharap dia untuk datang,” ucap Tiara.

Benar! Ini sudah tiga tahun.

Tiga tahun Flora seperti orang bodoh menunggu kedatangan laki-laki itu, berharap laki-laki itu akan berdiri di hadapannya dan memeluknya. Namun, pada kenyataannya semua itu hanyalah khayalan Flora yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan.

Bahkan semenjak Flora memilih untuk memutuskan hubungan itu, laki-laki yang ia sebut sebagai kekasihnya, tidak lagi datang dan tidak pernah lagi menghubungi dirinya. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan salam. Seketika air mata Flora menetes meratapi kebodohannya.

“Sudahlah, Flora ... lupakanlah! Kamu harus mencari masa depanmu sendiri. Lupakan orang yang sudah memberikanmu alasan untuk menangis.”

Flora masih diam dan mencoba mencerna ucapan Tiara. Beberapa saat kemudian Flora menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air matanya.

“Kamu benar, Mbak. Aku memang bodoh menunggu sesuatu yang tidak mungkin,” ucap Flora.

Tiara tersenyum lalu mengusap lengan sahabatnya. “Ya sudah ... kamu pulang dan istirahat! Besok kamu harus kerja, 'kan?” Flora langsung mengangguki ucapan Tiara.

“Makasih ya, Mbak, sudah setiap hari ngasih aku tumpangan pulang,” ucap Flora.

“Sama-sama,” balas Flora.

“Aku pulang dulu,” pamit Flora yang langsung diangguki oleh Tiara.

Saat Flora akan melangkah, tiba-tiba ada suara ibu-ibu komplek rumah yang biasa nyinyirin Flora.

“Hati-hati loh Mbak Tiara. Jangan sering-sering baik sama perempuan lain, nanti bisa-bisa perempuan itu ngelunjak,” ucap salah satu dari mereka.

“Bener itu, Mbak Tiara. Apalagi perempuan itu seperti dia. Bisa-bisa nantinya dia merebut suami kamu,” imbuh ibu-ibu yang lain.

Oh ya ampun hati Flora seperti ditikam pisau belati yang berkarat. Apa salah dirinya pada mereka sehingga mereka menuduh jika dirinya akan bertindak sehina itu. Flora merasa sudah tidak bisa menahan ini lagi, biasanya dia akan diam, tetapi kali ini dia tidak akan diam.

“Maksud kalian ngomong kaya gini itu apa?” tanya Flora yang sudah mulai berapi-api.

Tiara bisa melihat itu, tetapi ia akan membiarkan itu. Biarkan saja Flora meluapkan emosinya. Tiara sudah sering melihat Flora hanya diam saja saat dirinya dihina dan dicap sebagai perempuan penggoda.

“Heh, kamu pasti tahu jelas maksud kami, Flora,” ucap salah satu ibu-ibu nyinyir itu. “Kamu 'kan memang wanita penggoda sama seperti ibu kamu,” lanjutnya.

“Jangan berani menghina ibu saya.” Flora menekan kata-katanya.

“Heh, itu kenyataan. Kalau bukan, bagaimana mungkin ibu kamu itu bisa hamil di luar nikah?”

Sudah cukup. Flora sudah tidak tahan mendengar penghinaan terhadap ibunya.

“Hah, iya karena dia ibu kamu dan kamu juga sama seperti ibu kamu, wanita penggoda.”

“Terserah kalian mau bicara apa tentang aku, tapi yang harus kalian tahu aku bukanlah wanita yang akan menjual kehormatanku demi harta. Aku tidak akan rela menjadi istri keempat dari laki-laki yang sudah bau tanah hanya demi harta. Aku bangga pada diriku karana aku mampu untuk mencari rezeki yang halal meski itu hanya sedikit. Dan aku bangga pada ibuku, karena meski beliau hidup tanpa seorang suami, beliau mampu membesarkan aku dan memberikan aku pendidikan yang tinggi, meski harus berhutang ke sana kemari.” Amarah Flora akhirnya meledak.

“Dan jika anda menyebut saya dan ibu saya wanita murahan, lalu sebutan untuk anak anda itu apa?” tanya Flora dengan penuh penekanan.

Tentu saja salah satu dari ketiga ibu-ibu nyinyir itu tahu siapa yang Flora maksud.

“Kenapa diam? Kalian tentu tahu siapa yang aku maksud, bukan?” Flora tersenyum sinis dan masih menatap tajam salah satu ibu-ibu nyinyir itu yang ternyata ibu dari perempuan yang Flora maksudkan.

Mereka diam dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang Flora lontarkan.

“Jangan menilai orang dari sudut pandang kesalahan yang orang itu lakukan. Pada kenyataannya kalian yang mempunyai status keluarga yang jelas saja mampu melakukan hal buruk demi harta,” ucap Flora penuh penekanan.

“Jika kalian berani menghina ibu saya lagi ... saya tidak akan tinggal diam,” ucap Flora dengan suara lantangnya.

Ketiga ibu nyinyir itu langsung terjengit saat mendengar suara lantang Flora dan memutuskan untuk pergi dari sana.

Flora bernafas lega saat ketiga ibu-ibu nyinyir itu pergi dari hadapannya. Flora tidak pernah merasa selega itu saat menghadapi hinaan yang sering ia dengar tentang ibunya.

“Mantap, Flora. Nah gitu dong jangan diam saja kalau mereka menghinamu dan juga ibumu,” ucap Tiara seraya mengacungkan dua jempol tangannya.

Flora menganggu kecil, “Aku pulang dulu ya, Mbak.”

Flora kembali menarik nafas lega dan kembali melangkah menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah Tiara.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!