NovelToon NovelToon

Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

AYAH BILANG AKU HARUS MENIKAH

"PRANG."

Gelas tergelincir dari genggaman Alena—pecahan memercik, satu serpihan menancap di sela jemarinya. Lantai keramik dingin, suara kaca yang pecah masih bergaung ketika kata terakhir ayahnya terhenti di udara

"Ayah... bercanda, kan, Yah?" Suara Alena terdengar tipis. Herman—yang biasanya berdiri tegak seperti pagar—duduk dengan punggung melengkung, kedua telapak menekan pelipisnya.Ia tidak menjawab. Dan diamnya itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun.

Alena berjongkok, memunguti potongan-potongan gelas itu perlahan. Jari-jarinya gemetar sehingga beberapa serpihan nyaris meleset. Serpihan terakhir menggores telapak; darahnya masih hangat, tapi ia menekannya saja tidak perduli.

Ayah bilang aku harus... menikah? Sama orang yang aku bahkan belum pernah lihat?" Alena menatap Herman, napasnya tersendat. Di ambang pintu, Ibu menahan suaranya seperti sesak didada. "Duduk dulu, Nak," suaranya pelan, getir. "Biarkan Ayah jelaskan."

Alena duduk juga, padahal setiap sel tubuhnya ingin bangkit dan kabur—meninggalkan rumah, meninggalkan nama keluarga yang kini terdengar seperti beban. Tapi dia tetap duduk, menunggu alasan yang bisa membuat akalnya menerima kebohongan in

Herman mengangkat kepala. Matanya merah, bukan karena marah tapi karena sesuatu yang lebih pekat: malu yang terasa seperti batu di tenggorokan. Ia menatap Alena bukan seperti ayah yang biasa menasehati, melainkan seperti orang yang sedang meminta pengampunan dan pengertian.

"Perusahaan Ayah... sudah di ujung tanduk, Nak. Bukan cuma rugi. Sudah diambang bangkrut. Ia mengeluarkan selembar surat dari sakunya, tepi kertasnya terkulai. "Ini surat dari bank.Mereka minta pelunasan pekan ini. Kalau tidak, aset disita: rumah, tabungan Ibu, bahkan uang kuliah adikmu." Ia menyodorkan kertas itu seperti sudah pasrah dengan keadaan.

"Kenapa harus aku?" Alena menyentak. "Kenapa bukan Ayah yang cari jalan lain—pinjaman, restrukturisasi, apapun?" Tangannya mengepal di pangkuan, seperti menahan sesuatu yang ingin ia lepaskan.

Sudah, Nak." Suara Herman patah. "Ayah sudah putar semua pintu—bank menutup, investor mundur begitu berita bocor. Hanya satu pihak yang mau ambil risiko dan menutup semuanya dalam semalam."

"Siapa?"

Herman menurunkan suara sampai serak. "Keluarga Mahardika."

Saat disebut "Mahardika" seperti kata yang menelan udara. Di televisi, nama itu mengisi kepala dengan logo dan angka. Bagi Alena, itu sebelumnya cuma judul di koran—sekarang tiba-tiba masuk ke ruang makan keluarganya, berat dan asing.

Semua orang di Jakarta tahu nama Mahardika—salah satu grup bisnis terbesar di negeri ini, tangannya ada di properti, energi, sampai teknologi. .

"Mereka nggak asal baik hati, Yah. Pasti ada syaratnya."

Herman meraih bawah meja, mengeluarkan sebuah map cokelat yang disisipkan erat. Tangannya bergetar waktu mendorongnya ke arah Alena, seperti menaruh bom kecil di pangkuan anaknya.

"Mereka mau kamu menikah dengan putra sulung keluarga itu. Namanya Adrian Mahardika."

Alena membuka map itu dengan tangan yang masih basah oleh darah tipis dari luka goresan tadi. Di dalamnya ada satu lembar foto—seorang pria duduk di kursi roda, mengenakan jas hitam rapi, wajahnya tajam namun datar, seolah sengaja tidak menunjukkan emosi apa pun untuk kamera.

"Dia... pakai kursi roda?" Alena bertanya, dengan wajah bingung.

Herman mengangguk. "Kecelakaan dua tahun lalu. Media bilang dia lumpuh dari pinggang ke bawah." ,Herman menatap putrinya dengan mata memohon. "Alena, Ayah tahu ini nggak adil buat kamu. Tapi keluarga itu cuma minta satu tahun. Satu tahun jadi istrinya, lalu kalian bisa bercerai baik-baik, dan semua utang kita lunas."

"Satu tahun," Alena mengulang, suaranya kosong seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa angka itu kecil. Tapi tiga ratus enam puluh lima hari terasa seperti seumur hidup ketika taruhannya adalah kebebasannya sendiri.

Malamnya, Alena duduk sendirian di balkon sempit apartemen kosnya, memandangi lampu-lampu kota yang berkedip tak peduli pada kehidupan siapa pun yang sedang hancur di baliknya. Ponselnya bergetar. Pesan dari sahabatnya, Tania.

Tania: Gimana? Ayah lo udah cerita?

Alena: "Udah. Aku disuruh nikah sama pewaris Mahardika. Yang di kursi roda itu."

Tania: ANJIR SERIUS?? Itu kan yang foto-fotonya sering muncul di majalah bisnis. Katanya dingin banget orangnya.

Alena: Aku mau nikah bukan karena cinta, Tan. kalau Aku nggak mau nikah, keluarga aku abis.

Tania: Lo yakin bisa jalanin ini?

Alena menatap layar cukup lama sebelum menjawab.

Alena: Nggak ada pilihan lain. Aku cuma perlu bertahan setahun. Itu aja.

Ia meletakkan ponsel, memeluk lututnya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi, ia membiarkan air mata benar-benar jatuh—bukan karena takut menikahi orang asing, tapi karena menyadari betapa kecilnya kendali yang ia punya atas hidupnya sendiri.

Besok paginya, kesepakatan itu resmi ditandatangani di kantor pengacara keluarga Mahardika. Ruangan itu dingin, formal, dipenuhi orang-orang berjas yang bicara seolah Alena hanyalah satu klausul dalam kontrak, bukan manusia yang sedang mempertaruhkan hidupnya.

Ibu Adrian, seorang wanita anggun bernama Ratna Mahardika, menyambutnya dengan senyum yang terlalu sempurna untuk terasa tulus.

"Selamat datang di keluarga kami, Alena. Aku harap kamu mengerti, pernikahan ini murni kesepakatan bisnis. Adrian tidak butuh cinta. Dia hanya butuh status pernikahan yang sah di depan dewan direksi."

"Saya mengerti, Bu."Jawab Alena

"Setelah satu tahun, kalian bercerai baik-baik. Kamu bebas, keluargamu aman. Sederhana, kan?"

Alena mengangguk, meski di dalam dadanya ada sesuatu yang berdenging tidak nyaman—sebuah firasat kecil bahwa tidak ada apa pun dalam hidup yang benar-benar sesederhana itu.

Pintu ruangan terbuka. Dan untuk pertama kalinya, Alena melihat langsung sosok yang fotonya sudah ia pandangi semalaman.

Adrian Mahardika didorong masuk dengan kursi rodanya, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna, rahangnya tegas, matanya tajam menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun berusaha terlihat ramah.

Ia berhenti tepat di hadapan Alena. Diam beberapa detik, mengamatinya dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang, bukan calon istri.

"Jadi kamu," katanya akhirnya, suaranya datar tapi tajam, "yang akan menyelamatkan keluargaku dari skandal pernikahan paksa."

"Dan kamu," balas Alena, mencoba menahan getar di suaranya, "yang akan menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan. Kurasa kita berdua sama-sama terjebak, Pak Adrian."

Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata pria itu—bukan marah, bukan juga tersinggung. Lebih mirip... terkejut. Seolah tidak ada satu pun orang yang pernah membalas ucapannya seperti itu.

"Jangan kasihan padaku," ucapnya pelan, hampir seperti peringatan.

"Saya juga nggak kasihan," jawab Alena cepat. "Saya cuma capek dikira harus takut sama orang yang katanya nggak bisa apa-apa."

Ratna yang berdiri di sisi terlihat menahan senyum kecil, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi di rumah itu.

Adrian menatap Alena lebih lama dari yang seharusnya, sebelum akhirnya memutar kursi rodanya sendiri, meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun lagi.

Alena menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia pikir pertemuan pertama itu sudah berakhir.

Ia salah.

Malam itu, ketika ia dibawa ke kediaman keluarga Mahardika untuk pertama kalinya dan melewati koridor menuju kamar yang disiapkan untuknya, ia melihat sesuatu dari celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.

Sesosok bayangan berdiri tegak di depan jendela, tanpa kursi roda sama sekali.

Alena berhenti, jantungnya berdetak cepat. Ia mengucek matanya, yakin itu hanya efek lelah setelah hari yang panjang.

Tapi bayangan itu masih di sana. Berdiri. Tegak. Menatap keluar jendela seolah dunia ada dalam genggamannya.

Dan sedetik kemudian, sosok itu berbalik—dan menatap lurus ke arah pintu, tepat ke arah Alena.

TERNYATA PENGANTIN PRIA BUKAN PILIHANKU

DEG.

Jantung Alena serasa berhenti sepersekian detik ketika sosok itu—yang seharusnya duduk di kursi roda sejak dua tahun lalu—berdiri tegak dan menatap lurus ke arahnya dari balik pintu ruang kerja.

Ia ingin lari. Tapi kakinya seperti terpaku di lantai marmer dingin koridor itu.

"Kamu lihat apa?"Suara itu datang dari belakang—sebuah nada yang datar dan tenang, bukan dari ruang kerja. Alena menoleh dan bertemu dengan wajah seorang pria berjas hitam; alisnya terangkat seperti sedang menilai.

Saya... saya kira melihat seseorang berdiri di dalam," jawab Alena, suaranya bergetar tipis.

Pria itu—Pak Bram, kepala staf yang kelak Alena kenali—tersenyum tipis yang tak mencapai matanya. "Mungkin bayangan lampu, Nona Alena. Ruang kerja itu memang sering dibiarkan gelap. Mari, kamarmu sudah disiapkan."

Alena menoleh sekali lagi ke arah pintu. Ruangan itu sudah gelap total, seolah tidak pernah ada siapa pun di sana. Tapi ia yakin—sangat yakin—matanya tidak menipu barusan.

Kamar yang disiapkan untuknya besar, terlalu besar untuk ukuran seorang wanita yang biasa tidur di kos sembilan meter persegi. Ranjangnya empuk, ada balkon menghadap taman belakang yang rapi seperti dipangkas dengan penggaris. Tapi kemewahan itu tidak membuatnya nyaman. Justru sebaliknya—ia merasa seperti tamu yang menginap di rumah orang yang diam-diam tidak menginginkannya di sana.

Ia baru saja duduk di tepi ranjang ketika ponselnya berbunyi. Panggilan video dari Tania.

"Gimana? Udah ketemu suami masa depan?" suara Tania penuh rasa ingin tahu yang berlebihan, seperti biasa.

"Ketemu. Tapi..." Alena ragu sebentar. "Tan, aku kayaknya lihat dia berdiri."

"HAH? Berdiri gimana? Kan katanya lumpuh?"

"Iya, itu masalahnya. Cuma sekilas. Terus pas aku lihat lagi, ruangannya udah gelap, kosong."

"Lo capek, Na. Hari ini kan berat banget buat lo."

Mungkin Tania benar. Mungkin itu cuma efek lelah dan syok bercampur jadi satu. Tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang menolak percaya penjelasan sesederhana itu.

"Eh, oh iya," Tania melanjutkan, "orangnya ganteng nggak sih? Foto yang lo kirim tadi lumayan."

Alena tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak pagi. "Tan, ini bukan waktunya bahas ganteng-gantengan."

"Justru harus dibahas! Kalau udah kepalang nikah paksa, minimal ada hiburan matanya, kan?"

Untuk sesaat, percakapan konyol itu berhasil membuat dada Alena yang sesak sejak siang terasa sedikit lebih ringan. Ia butuh itu—satu momen kecil yang terasa normal di tengah hidupnya yang mendadak berubah total.

Pagi berikutnya, Alena dipanggil ke ruang makan besar keluarga Mahardika. Di sana sudah ada Ratna, Pak Wisnu Mahardika—ayah Adrian yang jarang bicara namun tatapannya berat penuh perhitungan—dan seorang pria lain yang belum pernah Alena temui.

Ini pamanmu, Wirawan," Ratna memperkenalkan, suaranya tetap terukur. "Adik saya, komisaris perusahaan."Wirawan tersenyum ramah—terlalu ramah untuk makan pagi yang tenang. "Jadi kamu yang akan menikah dengan Adrian. Selamat, kamu beruntung sekali bisa jadi bagian keluarga besar ini."

"Terima kasih, Om." Alena menjawab sopan, meski ada sesuatu di nada suara Wirawan yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang—seperti orang yang memuji sambil menilai, bukan sambil tulus senang.

"Di mana Adrian?" Ratna bertanya pada pelayan yang baru masuk."Tuan muda sedang di ruang terapi, Nyonya. Akan menyusul," jawab pelayan.

Beberapa menit kemudian, Adrian didorong masuk dengan kursi rodanya, rambutnya masih sedikit basah seperti baru selesai mandi. Ia duduk di ujung meja tanpa menyapa siapa pun, langsung mengambil kopi yang sudah disiapkan.

"Pagi, Adrian," sapa Alena, mencoba bersikap wajar meski semalam pikirannya masih dipenuhi bayangan sosok yang berdiri di ruang kerja.

Adrian hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada kopinya. "Pagi."

Singkat. Dingin. Seperti biasa.

Tapi Alena tidak menyerah begitu saja. "Kudengar hari ini kita akan foto pra-nikah. Kamu sudah tahu?"

"Aku tahu semua jadwal yang dibuat asisten pribadiku, Alena. Tidak perlu diingatkan."

Nadanya tajam, hampir menyakitkan telinga. Ratna langsung menegur, "Adrian, jangan bicara begitu pada calon istrimu."

"Calon istri," Adrian mengulang kata itu dengan nada sinis yang jelas terdengar, "atau lebih tepatnya, solusi cepat untuk masalah keuangan keluarganya."

Seluruh meja hening. Bahkan Wirawan yang sedari tadi tersenyum ikut terdiam.

Alena merasa wajahnya panas, bukan karena malu, tapi karena marah. Ia meletakkan sendoknya pelan-pelan, menahan diri untuk tidak langsung meledak.

"Kalau begitu," katanya, suaranya tenang tapi tegas, "solusi cepat ini juga menyelamatkan reputasi keluargamu dari gosip pernikahan gagal yang direncanakan sejak lama, kan? Jadi kurasa kita berdua sama-sama diuntungkan, Adrian. Nggak perlu sok jadi korban di sini."

Untuk kesekian kalinya, sesuatu berkelebat di mata Adrian—bukan marah, justru semacam kaget yang cepat ia sembunyikan di balik wajah datarnya.

Ratna menahan tawa kecil di balik cangkir kopinya. Wisnu, ayah Adrian, hanya menatap Alena lama, seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

Adrian tidak membalas. Ia hanya meletakkan cangkirnya, lalu memutar kursi rodanya keluar dari ruang makan tanpa pamit.

Sore harinya, sesi foto pra-nikah dilaksanakan di taman belakang rumah, disaksikan fotografer dan beberapa staf humas perusahaan. Adrian tampak semakin kaku setiap kali kamera diarahkan padanya, seolah setiap detik dalam sesi itu adalah siksaan tersendiri.

"Coba lebih dekat sedikit, Pak," arah fotografer, "tangan Ibu Alena di bahu Bapak, seperti tadi."

Alena mendekat, meletakkan tangannya perlahan di bahu Adrian. Ia merasakan otot di bahu itu menegang seketika, seperti tersengat listrik kecil.

"Aku nggak akan gigit," bisik Alena, mencoba mencairkan suasana.

"Aku tahu," jawab Adrian pelan, hampir tidak terdengar. "Cuma... nggak terbiasa disentuh."

Kalimat itu keluar begitu saja, lalu Adrian tampak menyesal mengucapkannya, rahangnya mengeras seolah ingin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur lepas.

Alena tidak berkomentar apa-apa. Tapi ia menyimpan kalimat itu baik-baik di kepalanya—satu petunjuk kecil bahwa di balik sikap dingin dan tajam itu, ada sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada yang ditunjukkan pria itu ke dunia.

Sesi foto berakhir menjelang magrib. Saat semua orang sudah membubarkan diri, Alena berjalan sendiri melewati koridor menuju kamarnya, melewati ruang kerja yang semalam membuatnya bertanya-tanya.

Pintunya sedikit terbuka.

Ia berhenti sejenak, ragu antara penasaran dan takut. Lalu, pelan-pelan, ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.

Ruangan itu kosong. Rapi. Tidak ada tanda siapa pun pernah ada di sana—kecuali satu hal yang membuat langkah Alena terhenti di ambang pintu.

Di atas meja kerja, layar sebuah laptop masih menyala, belum sempat dimatikan. Dan di layar itu, terpampang jelas susunan struktur organisasi perusahaan, lengkap dengan foto-foto para direktur—dan di posisi paling atas, bukan nama ayah Adrian atau Wirawan yang tertera sebagai pemegang otorisasi tertinggi.

Melainkan nama Adrian sendiri.

Alena baru sempat menatapnya selama dua detik sebelum terdengar suara roda kursi mendekat cepat dari koridor belakang.

"Kamu sedang apa di sini?"

Suara itu tajam, dingin, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, terdengar benar-benar panik.

NAMANYA ADRIAN PEWARIS YANG LUMPUH

"Kamu sedang apa di sini?"

Suara Adrian menggantung di udara, tajam seperti pecahan kaca. Alena berbalik cepat, jantungnya masih berdebar kencang dari apa yang baru saja ia lihat di layar laptop itu.

"Aku... pintunya terbuka. Aku cuma lewat, terus lihat—"

"Terus lihat apa?" Adrian mendorong kursi rodanya mendekat, matanya menatap tajam ke arah laptop yang masih menyala di meja. Dengan gerakan cepat, ia menutup layar itu, seolah menutup sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar data perusahaan.

"Struktur organisasi. Namamu ada di posisi paling atas."

Untuk sesaat, ekspresi Adrian berubah—bukan marah, tapi sesuatu yang lebih rumit, campuran antara terjebak dan waspada. Ia menarik napas, lalu menjawab dengan nada yang dipaksa terdengar biasa saja.

"Itu file lama. Sebelum kecelakaan aku memang wakil direktur utama. Datanya belum diperbarui, itu saja."

"Tapi tadi malam aku lihat kamu berdiri di ruangan ini. Tanpa kursi roda."

"Kamu bermimpi."

"Aku nggak bermimpi, Adrian."

"Kalau begitu kamu berhalusinasi. Atau capek. Atau apa pun itu." Suaranya semakin meninggi, terdengar seperti orang yang sedang mempertahankan tembok yang mulai retak. "Yang jelas, aku tidak bisa berdiri sejak kecelakaan itu. Titik."

Alena menatapnya lama. Ada sesuatu dalam caranya bicara—terlalu cepat, terlalu defensif—yang justru membuat Alena semakin yakin bahwa dirinya benar.

"Oke," katanya akhirnya, memilih untuk mundur, bukan karena percaya, tapi karena sadar tidak ada gunanya memaksa malam itu. "Kalau kamu bilang begitu, ya sudah."

Ia berbalik hendak keluar, tapi suara Adrian menahannya.

"Alena."

Ia berhenti.

"Jangan cerita soal ini ke siapa pun. Ke Tania kamu, ke ibumu, siapa pun."

"Kenapa? Kalau memang cuma halusinasi, harusnya nggak masalah, kan?"

Adrian tidak menjawab. Diamnya jauh lebih jujur daripada semua bantahan yang baru saja ia ucapkan.

Dua hari berselang, undangan pernikahan resmi disebar ke media. Alena duduk di ruang tamu utama bersama Ratna, menyaksikan tim humas menyusun jadwal wawancara dan sesi foto yang begitu padat hingga membuat kepalanya pusing.

"Kenapa harus seheboh ini?" tanya Alena pada Ratna, saat mereka berdua sempat berdua saja di teras.

"Karena publik harus percaya ini pernikahan yang tulus, Alena. Bukan kesepakatan bisnis." Ratna menyesap tehnya pelan. "Grup sebesar Mahardika tidak bisa terlihat rapuh, apalagi di tengah rumor kesehatan Adrian yang sudah cukup meresahkan investor."

"Rumor kesehatan?"

"Ada yang menyebar kabar kalau kondisi Adrian memburuk, kalau ia tidak lagi cakap memimpin perusahaan di masa depan." Ratna menoleh, menatap Alena lekat-lekat. "Kamu tahu siapa yang paling diuntungkan kalau rumor itu benar dan Adrian dianggap tidak layak?"

Alena terdiam. Ia sudah bisa menebak jawabannya, tapi memilih tidak mengucapkannya.

"Pamannya," lanjut Ratna, suaranya merendah. "Wirawan sudah lama ingin posisi itu. Sejak kakaknya—suami saya—mulai menyerahkan sebagian besar keputusan ke Adrian sebelum kecelakaan itu terjadi."

Kalimat itu menempel di kepala Alena sepanjang hari, bergesekan dengan ingatan tentang senyum Wirawan yang terlalu ramah saat pertama kali mereka bertemu.

Malamnya, ponsel Alena berdering. Nomor ayahnya.

"Na, Ayah mau tanya sesuatu."

"Ada apa, Yah?"

"Soal... uang tambahan. Ternyata masih ada sisa utang ke Pak Halim, rekan bisnis lama Ayah. Kalau nggak dibayar bulan ini, dia bisa lapor polisi, bawa-bawa nama keluarga kita ke media."

Dada Alena mendadak sesak. "Berapa, Yah?"

"Nggak banyak. Cuma dua ratus juta."

"Dua ratus juta itu 'nggak banyak', Yah?"

"Ayah tahu ini berat, tapi kamu sekarang kan sudah di keluarga Mahardika. Mungkin kamu bisa minta bantuan sedikit ke mereka—"

"Yah." Suara Alena menegang. "Aku baru dua hari di sini. Aku nggak bisa langsung minta uang ke keluarga yang bahkan belum sepenuhnya percaya sama aku."

"Kalau bukan kamu yang bantu, siapa lagi, Na?"

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Alena menutup mata, mencoba menahan campuran rasa sayang dan lelah yang selama ini selalu ia rasakan setiap kali berhadapan dengan ayahnya.

"Aku... coba pikirkan, Yah. Tapi jangan janji apa-apa dulu ke Pak Halim."

Setelah telepon ditutup, Alena duduk lama di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar yang asing itu. Ia baru saja mulai membangun sedikit keberanian untuk berdiri tegak di rumah ini, dan sekarang keluarganya sendiri kembali menariknya turun.

Keesokan paginya, saat sarapan, Adrian tampak lebih diam dari biasanya, matanya sesekali melirik ke arah Alena seolah ingin memastikan sesuatu tanpa harus bertanya langsung.

"Kamu kelihatan capek," katanya akhirnya, mengejutkan Alena yang tidak menyangka pria itu memperhatikan.

"Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur."

"Ada masalah?"

Alena menatapnya, ragu sejenak apakah harus jujur. "Keluarga," jawabnya singkat, memilih tidak membebani Adrian dengan detailnya.

Adrian mengangguk pelan, tidak mendesak lebih jauh, tapi ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti pengertian—bukan simpati yang dibuat-buat, melainkan seolah ia sendiri tahu betul rasanya terjepit oleh ekspektasi keluarga.

"Kalau butuh sesuatu," katanya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, "bilang saja."

Kalimat sederhana itu membuat dada Alena terasa hangat sekaligus bingung. Pria dingin yang kemarin membentaknya di ruang kerja kini menawarkan bantuan tanpa diminta.

Sebelum Alena sempat menjawab, seorang staf humas tergesa masuk ke ruang makan, wajahnya pucat, ponsel di tangannya bergetar tanpa henti.

"Tuan Muda... ada masalah. Salah satu staf dapur bilang, semalam ada orang asing yang berhasil masuk sampai ke lantai dua. Kamera keamanan menangkap sosoknya sedang berdiri tepat di depan ruang kerja Tuan Muda, memotret ke dalam lewat celah pintu."

Adrian menegang seketika. "Fotonya sudah tersebar?"

"Belum, Tuan Muda. Tim keamanan berhasil mencegat orang itu sebelum keluar gerbang. Tapi—" staf itu ragu sejenak, "—kartu memori kameranya sudah kosong. Isinya sudah lebih dulu ia kirim ke seseorang, sebelum ditangkap."

"Ke siapa?"

Staf itu menggeleng pelan. "Belum diketahui, Tuan Muda. Tapi orang itu mengaku dibayar. Dan dia menyebut satu nama sebagai orang yang menyuruhnya."

"Siapa?" desak Adrian, suaranya kini benar-benar tegang, jauh dari nada dingin yang biasa ia jaga.

Staf itu menelan ludah, matanya sekilas melirik ke arah pintu ruang makan yang masih terbuka, seolah takut didengar orang yang salah.

"Dia cuma sebut inisial, Tuan Muda. Katanya orang itu memaksa dibayar duluan, bilang 'kalau Om W tahu aku ketahuan, aku bisa dalam bahaya'. Tim keamanan masih menginterogasi lebih lanjut."

Adrian terdiam. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Alena menatapnya, mencoba membaca ekspresi itu. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, ia melihat sesuatu yang jelas sekali di mata Adrian—bukan amarah biasa, melainkan seolah satu nama sudah muncul di kepalanya, dan ia sedang berusaha keras untuk tidak mengucapkannya keras-keras di depan semua orang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!