NovelToon NovelToon

Callie (Si Genius Yang Tersembunyi)

Awal

Brumm... Brumm...

Aaaaa...

Brugh...

Byurrrr...

Hahaha...

"Aleman sih jadi orang. Udah dibilang bawa sepeda roda tiga aja, pakai nyoba motor segala." ucap seorang pemuda yang tak lain adalah Arthur, Kakak dari gadis remaja yang jatuh. Bahkan dia tertawa melihat nasib dari adiknya itu.

Gadis remaja berusia 15 tahun yang jatuh itu adalah Callie Noura Eleanor. Callie meminta untuk diajari naik motor oleh Arthur. Namun kakinya yang pendek membuat dia tidak bisa menjaga keseimbangan ketika mengerem mendadak. Alhasil motor matic yang dikendarai oleh Callie itu jatuh dan masuk ke dalam sungai kecil dekat lapangan. Keduanya saat ini sedang berada di lapangan. Callie meminta diajari naik motor oleh Arthur agar bisa pergi sendiri kemana pun. Padahal dia bisa naik mobil tapi oleh kedua orangtuanya tidak diijinkan jika mengemudikan sendiri.

Sedangkan Arthur saat ini sedang kuliah jurusan manajemen bisnis semester 1. Sekarang Arthur tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan pendiam. Bahkan pemuda itu jarang sekali berbicara jika hal tidak penting. Namun dia akan menjadi cerewet jika itu berbicara atau mengomeli adiknya. Apalagi Callie yang selalu membantah perintahnya. Terbukti sekarang karena Callie ngeyel, dia malah jatuh ke sungai kecil sampai basah. Bahkan motornya sampai masuk sungai pada bagian depannya. Antara dia kesal tapi juga kasihan pada adiknya itu. Bahkan beberapa anak kecil yang melihat kejadian itu menertawakan Callie.

"Kak avtur, bantuin dong." rengek Callie sambil mengibaskan bajunya yang basah kuyup karena air sungai keruh.

"Panggil Kakak Arthur dulu. Nggak mau Kakak bantu kamu kalau panggilnya pakai nama yang salah," ucap Arthur sambil bersidekap dada. Biar lah dia dan adiknya itu menjadi tontonan warga juga anak-anak kecil. Sebenarnya warga ingin membantu mengeluarkan motor dan Callie dari sungai. Namun Arthur memberi kode pada mereka agar tidak mendekat atau membantu terlebih dahulu.

"Nggak mau. Bagus panggil Kak avtur, kaya lebih berguna gitu." Callie menolak dengan tegas permintaan dari Arthur. Pasalnya sejak kecil, dia sudah nyaman dengan panggilan itu.

"Ya udah. Kakak tinggalin aja di sini. Biar tuh nanti ada kuning-kuning lewat terus masuk ke..."

Iya... Iya...

Kak Arthur yang tampan dan menyebalkan...

Nah gitu dong,

Tentu saja Callie langsung bergidik ngeri membayangkan apa yang bisa saja masuk ke dalam pakaiannya. Walaupun sungai itu terlihat kecil, tapi ternyata lumayan dalam. Jika Callie yang pendek saja, airnya sampai pada bagian perut atas saat berdiri. Arthur dengan senang hati mengulurkan kedua tangannya pada Callie kemudian menariknya naik ke atas. Bibir Callie masih mengerucut sebal karena Arthur terlihat tertawa mengejek.

"Pak, minta tolong bantu saya angkat motornya." ucap Arthur setelah memastikan Callie aman. Bahkan beberapa Ibu-Ibu langsung memberikan minum dan handuk kepada Callie agar tidak kedinginan.

"Ini kayanya bakalan mati kalau nggak segera dibawa ke bengkel mas. Kemasukan air ini," ucap salah satu warga setelah motor yang digunakan Callie berhasil diangkat dari sungai.

"Iya, Pak. Habis ini saya bawa ke bengkel. Rusak ya sudah, biar adik saya itu jalan kaki aja ke sekolahnya." seloroh Arthur saat melihat tatapan iba mengarah padanya dan motor itu. Terlihat sekali jika harga motor itu lumayan mahal sehingga kasihan kalau sampai rusak parah. Padahal Arthur santai saja jika motor itu sampai rusak.

"Ini buat beli kopi, Pak." Arthur menyelipkan beberapa lembar uang pada salah warga yang membantu saat berpamitan pulang.

Mas...

Arthur tidak peduli dengan panggilan itu. Terlihat sekali jika warga pasti menolak. Apalagi nominalnya lumayan banyak untuk ukuran membantu menaikkan motor. Tak berapa lama, sebuah mobil mewah datang mendekati Arthur dan Callie. Keduanya segera masuk ke dalam mobil itu. Kemudian dua orang keluar mobil dan membawa sepeda motor Callie. Beberapa warga yang masih ada di sana sampai melongo tak percaya melihatnya.

"Pantas saja Masnya tadi santai banget waktu kita bilang motornya rusak. Itu aja mobilnya mewah banget. Udah pasti orang kaya, bisa beli motor kaya gituan 10." ceplos salah satu warga.

"Iya, padahal tadi kita malah kasihan." tambah yang lainnya.

Justru malah kita yang seharusnya dikasihani,

Hahaha...

Kenapa itu cewek lucu sekali?

Cari tahu tentang cewek dan cowok itu. Aku kasih kamu waktu dua jam untuk mencari informasi lengkapnya,

Baik, Tuan.

***

Brakkk...

"Siapa yang berani-beraninya mengganggu pekerjaanku?" seru seorang gadis remaja sambil menggebrak meja kerjanya.

Gadis remaja perempuan berusia 15 tahun itu terlihat marah dan tatapannya sangat tajam. Dia adalah Callie. Seseorang tengah ingin membobol identitasnya hingga laptop miliknya berkedip merah. Peringatan bahwa ada seseorang yang ingin mencari tahu tentang dia atau keluarganya. Saat ini Callie tengah berada di ruang kerja perusahaan PT Juchi Tech. Perusahaan game dan robot yang didirikan oleh Julian, Opanya.

Apalagi tadi Callie sedang mengotak-atik sistem dari robot baru yang tengah digarap oleh Uncle-nya, Ronand. Namun malah ada tanda peringatan pada laptopnya. Hal itu sangat mengganggu dia yang tengah fokus. Tentu saja Callie bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah ini. Dia tidak mau identitas dan kemampuannya diketahui oleh orang asing yang tujuannya belum tahu. Kecuali teman sekolahnya yang tahu jika dia berasal daru keluarga Roberto. Walaupun ada beberapa juga yang tidak percaya dan menganggap dirinya hanya mengaku-ngaku saja. Namun mengenai kemampuannya dan perihal dia masuk dunia bawah, itu sama sekali tak boleh ada yang mengetahuinya kecuali keluarga dan orang terdekatnya saja.

"Nih... Lihat coba bisa nggak kamu cari aku," Callie terkikik geli saat harus berperang kode huruf dan angka dengan lawannya.

"Telur gulung, ayo meluncur."

Tak...

Klik... Klik...

Hahaha...

Brakkk...

"Ngapain kamu ketawa sendiri kaya kuntilanak?" seru seorang laki-laki yang tak lain adalah asistennya di perusahaan. Dia adalah Reska, sahabat Mika. Callie merekrut Reska untuk dijadikan asisten karena Gema harus mengurus perusahaan lain bersama Ronand.

"Siapa yang kamu bilang kuntilanak, ha? Dasar asisten nggak sopan," seru Callie sambil mengerucutkan bibirnya sebal.

"Maaf, Bos telur gulung. Habisnya Bos lupa aktifkan kedap suara di ruangan ini, jadinya suara cekikikan terdengar sampai luar. Saya khawatir kalau Bos telur gulung ini nanti berubah jadi Mbak kunti," ceplos Reska dengan polosnya.

Enak aja kamu ngatain aku Mbak kunti dan panggilnya Bos telur gulung,

Callie langsung berdiri dan berkacak pinggang mendengar panggilan dari Reska padanya. Baru kali ini Reska memanggilnya Bos telur gulung. Padahal biasanya hanya Callie gembul atau Bos saja. Sedangkan Reska hanya bisa cengengesan kemudian keluar dari ruang kerja Callie setelah memastikan Bosnya itu baik-baik saja. Walaupun ocehannya tidak penting, itu untuk menutupi rasa pedulinya pada Callie. Reska terlalu gengsi menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada Callie.

"Asem emang itu Kak Reska. Cant..."

Tit... Tit...

Apa lagi itu?

Dia cewek telur gulung, Tuan. Lihat ini,

Ha?

Mau cari informasi tentang cewek telur gulung ya? Nggak akan bisa, wleeekk...

Sial...

Rapat

"Bos, rapat sebentar lagi akan dimulai. Penampilan dan wajahnya tolong dikondisikan," peringat Reska pada Callie yang sedang sibuk dengan laptopnya.

Bukan tanpa alasan Reska mengingatkan Callie begitu. Pasalnya saat ini Callie hanya memakai celana jeans dan kaos oblong. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pemimpin perusahaan. Apalagi yang datang kali ini adalah seorang pengusaha dan pebisnis muda sukses dari luar negeri. Tidak mungkin Callie menemui clientnya itu dengan memakai pakaian seperti ini. Sedangkan Callie yang ditegur oleh Reska hanya menatap malas pada asistennya itu.

"Yang penting tuh otak dan etikanya, bukan penampilannya. Percuma tampil anggun tapi tidak memiliki etika, sopan santun, dan otaknya nol." ceplos Callie dengan ucapan pedasnya itu. Reska menghela nafasnya sabar saat mendengar ucapan dari Bosnya itu.

"Bos Callie, setidaknya kamu menghargai tamu dengan penampilan yang rapi. Jadi biar kelihatan paket komplit. Udah cantik, pintar, dan rapi. Client ini juga masih muda, Bos Callie. Siapa tahu jadi jodohmu," ucap Reska sambil menaikturunkan alisnya.

"Ini aku bawakan blazer dan celana formal. Tenang saja, Bos Callie tidak akan kelihatan tua walaupun memakai pakaian ini. Lagi pula ini dari Tante Rachel," lanjutnya saat melihat Callie akan protes.

Namun Reska tahu kalau sudah membawa nama Mamanya Callie, berarti itu seperti perintah mutlak dan wajib dilakukan. Dengan wajah cemberut, Callie mengambil paper bag yang diletakkan Reska di atas meja kerjanya. Callie masuk ke dalam kamar di ruang kerjanya sambil menghentakkan kaki dan menggerutu.

"Padahal yang penting pakai baju sih. Kalau nggak pakai baju, itu baru diomelin. Udah kaya emak-emak rumpi emang itu Kak Reska," gerutu Callie sesaat sebelum masuk ke kamar di ruang kerjanya.

"Buruan, Callie. Keburu clientnya ngantuk," seru Reska meminta agar Callie tak menggerutu terus dan segera berganti pakaian.

"Sabar... Nanti kalau aku minta pakaikan Kak Reska biar cepat selesai, pasti Kakak bakalan kabur. Jadi sabar aja sih," seru Callie dari dalam kamar membuat Reska memelototkan matanya.

"Callie, jangan asal nyeplos kaya gitu ya kalau di depan cowok lain. Bahaya, ntar malah cowok itu memanfaatkanmu." teriak Reska dengan jantung deg-degan. Ada rasa khawatir pada diri Reska tentang Callie yang selalu asal berbicara seperti itu.

Iya,

Reska pun memilih keluar dari ruangan Callie dan menyiapkan beberapa dokumen untuk pertemuan kali ini. Client meminta untuk kerjasama dalam pembuatan dan pemasaran robot cicak yang digagas oleh PT Juchi Tech. Robot tersebut adalah buatan Callie. Bukan sembarang robot, tapi Callie benar-benar membuatnya sebagai senjata terselubung. Di dalamnya sudah terdapat sistem untuk mengeluarkan petasan dan semburan api. Perusahaan milik Opanya itu akan merambah dalam dunia robot senjata dan dipasarkan ke luar negeri. Pasalnya selama ini yang dibuat secara masal, hanya robot dengan sistem CCTV atau peringatan bahaya saja.

"Cantiknya Callie ini. Udah kaya Ibu CEO. Untung bukan CEO yang menyamar," gumam Callie sambil cekikikan. Callie pun segera keluar dari ruangannya dan melihat asistennya sudah siap.

"Kenapa make upnya nggak dip..."

"Kak Reska mau pakai make up? Sebentar... Callie ambilkan. Siapa tahu Kak Reska mau mangkal di gang seb..."

Stoppp...

"Nggak jadi. Ayo buruan kita temui client. Keburu jadi sumala itu client kita," Reska langsung menghentikan ocehan Callie yang semakin tidak masuk akal. Reska segera menarik tangan Callie agar pergi menuju ruang rapat.

***

Permisi...

Dih... Sok lemah lembut,

Reska mencibir suara Callie yang berkata dengan lemah lembut saat menyapa client. Seorang laki-laki muda dengan tatapan tajamnya dan raut wajahnya begitu datar melihat sekilas ke arah Callie. Tidak ada senyum sekali walaupun Callie sudah menampilkan senyuman terbaiknya dan suara lemah lembutnya. Laki-laki itu adalah Endricko Tagara Zadn atau biasa dipanggil Ricko. Di samping Ricko ada asisten sekaligus sekretarisnya Ben Ranumenza.

"Lelet dan tidak menghargai waktu sama sekali," ucap Ricko dengan sindirannya.

"Berapa harga waktu anda, Tuan Ricko? Saya bisa membelinya, sekali pun itu sampai triliunan." ucap Callie dengan nada sombongnya. Berbeda sekali dengan saat tadi menyapa Ricko dan Ben. Callie tidak merasa tersinggung dengan sindiran dari Ricko itu. Callie pun segera duduk di kursi yang disediakannya dengan senyum polos tanpa dosanya.

"Dasar sombong. Menilai segala sesuatu dari uang," ucap Ricko dengan lirikan sinisnya.

"Terimakasih atas pujiannya, Tuan Ricko. Ini bisnis, jadi wajar kalau saya menilai semuanya dari uang. Kecuali kalau saya sedang bersedekah, yang dinilai ikhlas dan ketulusannya." ucap Callie dengan santainya.

Reska sudah memberi kode pada Callie agar tidak meladeni ucapan Ricko. Pasalnya Reska sudah mencari tahu tentang sepak terjang Ricko dalam dunia bisnis. Sikapnya begitu tegas dan mudah tersinggung. Sikap Callie yang asal dan terkesan menantang Ricko ini membuat Reska ketar-ketir. Pasalnya perusahaan Ricko ini bisa jadi batu loncatan demi robot baru buatan Callie. Hanya perusahaan tertentu yang mau menerima robot dengan sistem senjata membahayakan seperti ini. Entah apa alasan Ricko mau menerima kerjasama ini. Reska belum menemukannya.

"Tolong kembali pada topik pembicaraan, Nona. Setelah ini kami masih harus ada acara lagi," ucap Ben menyela agar Callie tidak lagi membahas hal lain.

"Tuan anda itu yang mulai. Jangan salahkan Callie dong," seru Callie membuat Reska menepuk dahinya pelan.

"Jika memang anda tidak serius, kam..."

"Maafkan Nona Callie, Tuan Ben dan Tuan Ricko. Nona Callie ini sedang datang bulan makanya agak sensitif. Kebiasaannya juga sering berdebat dan ingin berantem kalau sedang datang bulan," sela Reska dengan cepat.

Baru pertama kali perusahaan PT Juchi Tech membuat robot dengan sistem senjata seperti ini. Sehingga mereka membutuhkan channel dari perusahaan lain untuk mengenalkannya. Jangan sampai karena Callie yang berdebat dengan Ricko, usahanya meyakinkan client menjadi gagal total. Callie pun langsung duduk dengan mode seriusnya saat melihat tatapan Reska. Kali ini sikap dan tatapan Callie sangat berbeda. Ricko dan asistennya sedikit terkejut dengan perubahan Callie.

"Robot ini saya buat sendiri, terutama sistemnya. Ada petasan dan api yang bisa keluar dari mulut robot cicak ini saat pemiliknya dalam bahaya. Bisa juga nanti ditambahkan peluru untuk..." Callie menjelaskan panjang lebar tentang spesifikasi robot buatannya. Perbedaannya sangat jelas saat Callie dalam mode serius begini. Ricko dan Ben sedikit kagum dengan Callie yang bisa menjelaskan dengan detail. Walaupun Ricko tahu kalau Callie ini hanya memanfaatkan perusahaannya yang punya channel banyak untuk penjualan robot senjata seperti ini.

"Saya bersedia menjalin kerjasama dengan PT Juchi Tech," ucap Ricko tiba-tiba.

Deal...

Deal...

Jangan sampai anda bermain di belakang saya, Tuan Ricko. Saya bisa saja menjadi macan yang siap menerkam anda kalau kalian sampai macam-macam,

Anda tenang saja. Asal anda jujur dan tidak berkhianat, saya pastikan semua berjalan lancar.

Oke,

Onty Callie...

Keponakan

"Onty Callie, jadi jalan-jalan ndak sih? Lama mamat lho. Kai yang tampan sudah siap lho," seru seorang bocah laki-laki kecil berusia 3 tahun yang sudah tak sabar untuk pergi jalan-jalan bersama Callie.

Brakk... Brakk...

Pintu kamar Callie dipukul kencang oleh bocah cilik bernama Kaizar Abimanyu Rayt itu. Dia biasa dipanggil Kai oleh keluarganya. Kai adalah anak dari Mika dan Axel. Yang artinya adalah keponakan Callie. Sore ini Callie berjanji pada Kai untuk pergi ke taman menggunakan sepeda. Namun Kai yang sudah tidak sabar, menjemput Callie di kamarnya. Pasalnya menurut Kai, Callie sangat lama turunnya. Padahal ini sudah jam 4 sore.

Namun setelah pintu kamar digebrak dan ditendang oleh Kai, tidak terdengar suara Callie. Hal itu membuat Kai mengerucutkan bibirnya sebal. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Salah seorang maid bernama Ayu mendekati Kai yang duduk di lantai sendirian. Melihat ada orang yang mendekatinya, Kai langsung menangis histeris.

Huaaaa...

Onty Callie ndak mau main sama Kai,

"Sebentar... Kita coba ketuk pintunya dulu pelan-pelan ya. Siapa tahu Onty lagi ke kamar mandi makanya tidak dengar," ucap Ayu menenangkan Kai.

"Coba ketuk itu pintu kamalnya. Tangan dan kaki Kai sudah mati lasa ini gala-gala buat pukul pintu," rengek Kai sambil menunjukkan telapak tangannya yang memerah pada Ayu.

"Waduh... Ini kalau Nona Mika tahu, habis lah sudah itu Nona Callie." gumam Ayu yang tahu bagaimana posesifnya Ibu dari Kai itu.

Nona Callie, ini sudah ditunggu sama Tuan kecil.

"Siapa yang bilang kalau Kai itu kecil? Kai sudah besal," seru Kai yang kini malah menyalahkan Ayu.

Iya, besar jempolnya dibandingkan kelingkingnya.

Bi Ayu ngomong apa?

Ndak kok,

Nona Callie, selamatkan diriku dari tikus kecil ini.

Heh...

Ceklek...

Pintu terbuka dan menampilkan Callie dengan rambut berantakan. Tak lupa matanya masih terpejam dan kepala disandarkan pada pintu. Sepertinya Callie baru bangun tidur sehingga tadi tidak mendengar panggilan Kai dan Ayu. Kai yang melihat Callie baru bangun tidur pun langsung memelototkan matanya. Sudah berjanji dengannya malah baru bangun tidur. Padahal dia sudah siap dengan pakaian rapi dan tas kecil pada punggungnya.

"Onty Callie, kenapa balu bangun sih?" teriak Kai sambil berkacak pinggang.

"Sudah bangun kok ini, Kai. Jangan teriak-teriak, nanti lehermu putus lho. Kalau putus, nggak bisa disambung lagi." ceplos Callie dengan suara seraknya.

"Matanya belum telbuka itu. Astaga... Onty Callie minta ditembak dol dol dol," seru Kai yang menirukan gaya bicara Callie saat kesal.

Heh... Jangan ngomong gitu. Dengar Mamamu yang cerewet itu, Onty bisa digantung di pohon mangga depan rumah.

Callie langsung membuka matanya saat mendengar ucapan Kai. Bisa-bisanya Kai mengucapkan kata-kata keramat yang tidak boleh diucapkannya. Tembak dor dor dor itu lah kata keramat yang selalu diucapkan oleh Callie saat sedang kesal. Bahkan Kai pun selalu mengikutinya. Namun Mika tidak suka karena khawatir anaknya yang masih kecil terkontaminasi dengan senjata milik Callie. Mika juga sudah mengingatkan Callie agar tidak mengajarinya aneh-aneh. Walaupun sekarang hampir semua sepupunya bisa menggunakan senjata, tapi Mika tidak mau anaknya mengenal itu saat masih kecil.

"Makanya buluan siap-siap, Onty Callie. Kai tuh belasa dibeli halapan palsu lho ini. Sudah menunggu sejak shubuh tadi lho," seru Kai dengan raut wajah memberengut kesal.

"Itu namanya kurang kerjaan, Kai. Lebay amat ini bocah. Orang perginya sore, ngapain siap-siap dari shubuh." Callie pun memilih masuk ke dalam kamar mandi daripada mendengar ocehan Kai.

"Perasaan di keluarga ini, yang cowok tuh biasanya dingin dan nggak cerewet. Ini keponakan satu cowok kok cerewetnya minta ampun. Mana setiap hari datang ke sini minta diajak jalan terus jajan. Emaknya juga pelit, anaknya pergi nggak dikasih duit." lanjutnya menggerutu.

Buluan, Onty Callie. Kebulu sole jadi pagi lagi ini,

Sabar...

Hatchi...

Kok kaya ada yang lagi ngomongin aku di belakang ya?

***

Saat ini Callie tengah memboncengkan Kai dengan sepeda mininya. Sengaja Callie menggunakan sepeda karena ingin sekalian berolahraga sore. Tampak wajah ceria dari Kai yang bernyanyi lagu anak-anak. Pegangan Kai pada perut Callie begitu erat karena beberapa kali gadis itu mengayuh sepedanya dengan kencang.

"Kai, suaramu kaya kaleng wadah rengginang. Cempreng amat," seru Callie agar Kai menghentikan nyanyiannya.

"Ndak sadal dili kamu ini, Onty Callie. Suala kita sama-sama cempleng," seru Kai membuat Callie memelototkan matanya.

"Suara Onty itu mirip Shakira lho. Sembarangan kamu ngatain Onty ini," seru Callie tak terima.

"Shakila kalau lagi kejepit lemali itu sualanya Onty," Callie mendengus sebal mendengar ucapan dari Kai.

Krek... Krek...

Eh... Kenapa nih sepedanya?

Tiba-tiba saja terdengar bunyi gesekan pada sepeda yang tengah dikayuh oleh Callie. Hal itu membuat Callie segera menghentikan kayuhannya dan membawa sepedanya ke pinggir jalan. Callie turun dari sepedanya kemudian melihat ke arah rantai. Ternyata rantai sepedanya sudah kendor dan berkarat. Callie menepuk dahinya pelan karena lupa memeriksa sepedanya sebelum tadi dipakai.

"Onty, ndak ada ya celitanya sepeda mogok sepelti mobil." peringat Kai yang tahu pasti alasan Callie ketika kendaraan berhenti.

"Rantainya rusak ini," Callie menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia melihat ke arah jalan sekitarnya yang terlihat sangat sepi.

"Katanya sepeda puluhan juta, masa lantainya bisa lusak sih? Beli yang KW supel ini pasti," seru Kai yang mencibir kesombongan Callie.

"Namanya juga barang, pasti rusak kalau tidak dirawat atau kelamaan nggak dipakai. Lagian ini sepeda mahal ya, rusak pun nanti dijual harganya jadi 1 milyar." ucap Callie melebih-lebihkan.

Satu milyal itu uangnya sepelti apa, Onty?

Sebesar gunung himalaya,

Ha?

Tentu saja Callie hanya berucap asal saja untuk menjawab pertanyaan Kai. Lagi pula anak seusia Kai ini masih bisa dibohongi. Callie terkekeh geli melihat Kai tampak kebingungan. Akhirnya Callie pun kembali menaiki sepedanya. Namun tidak dengan Kai yang dimintanya mendorong. Pasalnya rantai sepeda itu tak bisa Callie perbaiki.

"Dorong terus, Kai." seru Callie dengan santainya menjahili Kai.

"Halusnya Kai yang naik lho. Kok ini jadi Onty sih?" seru Kai tak terima. Bahkan wajahnya sudah memerah dan dahinya bercucuran keringat.

"Kakimu kan masih pendek. Nanti gimana bisa kakimu itu menapak jalanan? Jatuh dong," ucap Callie dengan asal. Padahal ini hanya alasan Callie saja agar tidak berjalan kaki sambil membawa sepeda dengan Kai duduk di atasnya.

Aneh sekali. Ada bau-bau Kai kena plenk ini,

Cittt...

Awas...

Dor... Dor... Dor...

Huaaa...

Onty ada yang tembak dol dol dol,

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!