NovelToon NovelToon

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat

Pagi itu, langit Jakarta berwarna merah darah, seolah matahari sendiri telah menyerah menyinari dunia yang telah mati. Asap hitam menggantung rendah di udara, menutupi sisa-sisa gedung pencakar langit yang kini hanya menyisakan kerangka beton yang rapuh. Jalanan yang dahulu dipenuhi deru kendaraan berubah menjadi hamparan bangkai mobil berkarat, tulang-belulang manusia, dan lolongan makhluk yang pernah disebut manusia. Sepuluh tahun telah berlalu sejak dunia jatuh ke dalam kiamat, dan selama itu pula umat manusia belajar bahwa monster paling mengerikan bukanlah rasa lapar, melainkan harapan yang terus dipaksa bertahan hidup.

Arga berlari tanpa menoleh sedikit pun. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup pecahan kaca, sementara darah terus mengalir dari pelipis kirinya dan lengan kanannya hampir mati rasa akibat luka sobek yang belum sempat sembuh. Meski tubuhnya berada di ambang kehancuran, genggamannya pada sebuah kristal merah muda seukuran bola bisbol tidak bergeming sedikit pun. Kristal Zombie Tier 6 itu adalah hasil pertaruhan nyawa puluhan kelompok pemburu yang saling membantai, tiket menuju kekuatan Awakener Tier 6, sekaligus harga yang harus ia bayar dengan mengorbankan seluruh rekan seperjuangannya.

Ledakan dahsyat mengguncang bangunan di belakangnya. Sebuah dinding beton runtuh ketika sesosok makhluk transparan menerobos keluar tanpa kehilangan sedikit pun kecepatannya. Tubuh makhluk itu menyerupai kaca buram, sepasang mata putih kebiruan memancarkan cahaya dingin, dan setiap langkahnya nyaris tidak menimbulkan suara. Itulah Zombie Tier 7, varian Zombie Hantu yang bahkan peluru kendali tidak pernah mampu dihentikan.

"Dia di sana!"

Suara itu terdengar begitu jelas, namun bukan berasal dari manusia. Makhluk transparan itu mengucapkannya dengan nada datar yang justru terasa lebih mengerikan daripada raungan monster mana pun. Arga tetap berlari tanpa menoleh. Sepuluh tahun bertahan hidup telah mengajarinya satu aturan sederhana: ketika seseorang menoleh kepada kematian, berarti kematian sudah berada tepat di belakangnya.

Ia melompati celah sempit antar gedung, berguling di atas atap bangunan berikutnya, lalu kembali memacu tubuhnya yang hampir mencapai batas. Sepatu tempurnya yang telah rusak nyaris terlepas dari kedua kaki, tetapi rasa sakit tidak lagi berarti dibandingkan keinginan untuk bertahan hidup. Dari ketinggian, ia dapat melihat ribuan zombie memenuhi setiap ruas jalan. Ada Zombie Tier 1 yang tubuhnya telah membusuk, Zombie Tier 3 dengan cakar baja yang mampu mencabik baja tipis, Zombie Tier 5 yang memimpin gerombolan, hingga beberapa Zombie Tier 6 yang merobohkan bangunan hanya dengan hentakan kaki. Seluruh Jakarta telah berubah menjadi sarang neraka, dan semua monster itu tunduk kepada satu pemimpin yang kini terus mengejarnya.

Arga akhirnya tiba di ujung atap. Di hadapannya terbentang jurang selebar hampir lima puluh meter menuju gedung berikutnya, jarak yang bahkan mustahil dilompati oleh Awakener Tier 5 sekalipun. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sosok transparan yang berjalan santai menghampiri. Makhluk itu tidak tampak tergesa-gesa maupun marah. Sebaliknya, senyum tipis yang terukir di wajahnya seolah menunjukkan bahwa pertemuan ini adalah sesuatu yang telah lama dinantikan.

"Sudah lama tidak bertemu... Arga."

Jantung Arga seolah berhenti berdetak. Suara itu terdengar terlalu manusia untuk keluar dari mulut seekor zombie.

"Ternyata benar," ucap makhluk itu sambil tersenyum tipis. "Kau masih hidup sampai sekarang."

Arga mempererat genggamannya pada pedang Tier 5 miliknya. Pedang emas sepanjang satu setengah meter itu masih dipenuhi bercak darah hitam zombie, sementara aura keemasan samar menyelimuti bilahnya hingga membuat zombie-zombie lemah di bawah gedung tidak berani mendekat. Tatapannya tajam menembus sosok di hadapannya. "Aku tidak mengenalmu."

Zombie itu tertawa pelan, lalu memiringkan kepalanya seolah tengah menikmati kebingungan Arga. "Kalau begitu..." katanya lirih, "bagaimana dengan nama Sari?" Tubuh Arga membeku seketika. Nama itu menghantam kesadarannya jauh lebih keras daripada ledakan apa pun.

"Adikmu," lanjut zombie itu dengan suara yang nyaris lembut. "Gadis yang mati sambil memanggil namamu pada tahun ketiga kiamat."

Bayangan seorang gadis SMA berambut sebahu memenuhi benak Arga. Senyumnya yang cerah, tawanya yang selalu menghangatkan suasana, dan tangannya yang sering menarik lengannya saat mereka pulang bersama muncul begitu jelas di hadapan matanya. Namun kenangan indah itu segera berubah menjadi mimpi buruk ketika tubuh mungil Sari yang berlumuran darah kembali terbayang, tercabik-cabik oleh gerombolan zombie sementara dirinya datang terlambat untuk menyelamatkan.

Arga menggeram keras. Aura emas meledak dari tubuhnya, lalu ia melesat seperti peluru dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Pedang Tier 5 di tangannya mengayunkan tebasan berlapis yang mampu membelah kendaraan lapis baja, tetapi serangan itu hanya menghantam udara kosong. Tubuh zombie transparan tersebut berubah menjadi bayangan sesaat sebelum bilah pedang menyentuhnya.

"Masih sama," bisik suara itu dari belakang Arga. "Terlalu emosional."

Sebelum Arga sempat berbalik, sebuah cakar hitam menghantam pedangnya dengan kekuatan yang mustahil dibendung. Retakan kecil muncul pada bilah emas itu, kemudian menjalar begitu cepat hingga memenuhi seluruh permukaannya. Dalam sekejap, pedang yang telah menemaninya selama enam tahun bertarung hancur menjadi ribuan serpihan yang berhamburan di udara.

"Tidak..."

Belum sempat ia bereaksi, tangan zombie itu telah menembus dadanya. Daging, tulang, dan jantungnya tertusuk begitu mudah, seolah tubuh manusia hanyalah selembar kertas basah. Arga memuntahkan darah ketika Kristal Tier 6 terlepas dari genggamannya dan menggelinding di atas lantai beton. Penglihatannya mulai kabur, udara terasa semakin dingin, dan seluruh tenaganya perlahan menghilang.

Zombie itu mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Dengan nada tenang yang justru terasa lebih mengerikan daripada amarah, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun terakhir ia sengaja membiarkan Arga tetap hidup. Menurutnya, menyaksikan Arga kehilangan satu demi satu orang yang dicintainya jauh lebih menyenangkan daripada membunuhnya sejak awal.

Air mata bercampur darah mengalir di pipi Arga. Ia tidak menangis karena takut menghadapi kematian, melainkan karena penyesalan yang menyesakkan dada. Ia gagal melindungi kedua orang tuanya, gagal menyelamatkan Sari, gagal menyatukan umat manusia, dan gagal menghentikan penyebaran Necrovirus Sapiens yang mengubah sembilan puluh persen populasi dunia menjadi monster. Bahkan ilmuwan misterius yang menemukan ramuan Awakener pun tewas dibunuh para pengkhianat yang dahulu ia anggap sebagai saudara. Selama sepuluh tahun bertahan hidup, yang tersisa darinya hanyalah tumpukan penyesalan yang tidak pernah bisa ditebus.

Pandangannya semakin gelap hingga langit merah yang dipenuhi abu menjadi satu-satunya hal yang masih mampu ia lihat. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, bibir Arga bergerak perlahan, mengucapkan harapan yang bahkan terdengar mustahil.

"Kalau... aku bisa kembali..."

Kesunyian.

Bunyi notifikasi ponsel memecah keheningan. Arga membuka mata dengan napas tersengal, lalu mendapati langit-langit putih, kipas angin tua yang berputar pelan, aroma mi instan yang memenuhi ruangan, dan dinding kos sempit dengan cat yang telah mengelupas. Ia langsung terduduk dan refleks meraba dadanya. Tidak ada luka, tidak ada darah, dan tidak ada lubang menganga tempat jantungnya seharusnya telah berhenti berdetak.

Dengan tangan gemetar, Arga memandangi kedua telapak tangannya. Kulitnya kembali halus tanpa bekas luka maupun kapalan akibat bertahun-tahun menggenggam pedang. Ketika pandangannya beralih kepada kalender yang tergantung di dinding, pupil matanya langsung mengecil.

14 Juni 2026.

"Tidak mungkin..."

Ponselnya kembali berbunyi. Saat layar menyala, sebuah pesan singkat muncul dari seseorang yang seharusnya telah lama tiada.

Sari: "Mas, nanti pulang jangan lupa beliin es krim ya. Katanya dekat kosmu lagi diskon, hehe."

Napas Arga tercekat. Nama itu, pesan sederhana itu, adalah sesuatu yang selama sepuluh tahun hanya bisa ia temui dalam mimpi. Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung ketika memeluk ponsel itu erat di dadanya.

"Tidak... kali ini tidak."

"Aku tidak akan membiarkanmu mati."

Belum sempat emosinya mereda, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya. Seluruh ingatan dari sepuluh tahun kehidupan sebelumnya membanjiri pikirannya tanpa ampun. Ia mengingat lokasi kemunculan gerbang zombie pertama, asal mula penyebaran Mikroba Necrovirus Sapiens dari lapisan es Siberia, resep ramuan Awakener yang memerlukan sepuluh kristal zombie sesuai tier yang direbus bersama daun mint dan garam selama satu jam, cara menempa senjata bertier tinggi, letak gudang persenjataan, identitas para pengkhianat yang akan menjual umat manusia demi kekuasaan, hingga lokasi ilmuwan misterius yang kelak mampu mengubah sejarah dunia.

Arga memegangi kepalanya sambil terengah, tetapi rasa sakit itu belum berakhir. Tiba-tiba sebuah ruang gelap tanpa batas terbuka di dalam kesadarannya. Tempat itu begitu luas, sunyi, tanpa cahaya, dan seolah tidak mengenal konsep waktu. Sebuah suara asing bergema di benaknya, menjelaskan bahwa sebuah Ruang Dimensi telah terikat dengan jiwanya. Segala benda yang disimpan di dalam ruang tersebut tidak akan mengalami kerusakan, perubahan, ataupun penuaan meskipun melewati ribuan tahun, dan seluruh proses penyimpanan maupun pengambilan cukup dilakukan melalui pikiran.

Arga membelalak. Ia menatap botol air mineral di atas meja, lalu mencoba memerintahkannya masuk ke dalam ruang dimensi. Dalam sekejap botol itu lenyap dari hadapannya, sementara di dalam kesadarannya ia melihat benda tersebut mengambang tenang di ruang gelap itu. Ketika ia memerintahkannya keluar, botol tersebut kembali muncul tepat di atas meja tanpa mengalami perubahan sedikit pun.

Perlahan Arga menarik napas panjang. Takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua, dan kali ini ia tidak berniat mengulang kesalahan yang sama. Ia segera mengambil sebuah buku tulis lusuh dan mulai menyusun rencana dengan tenang. Dalam benaknya telah tersusun urutan tindakan yang harus dilakukan: mengumpulkan seluruh persediaan makanan dan obat-obatan, menyiapkan tempat perlindungan, membawa Sari serta kedua orang tuanya ke lokasi yang aman, menemukan ilmuwan misterius sebelum organisasi lain bergerak, merebut kristal zombie pertama, menempa senjata sejak dini, menyingkirkan para pengkhianat sebelum mereka berkembang, dan membangun kekuatan sebelum kejadian kehidupan lalu terulang kembali.

Setelah semua rencana itu selesai dituliskan, Arga memandang matahari pagi yang menyinari jendela kosnya. Dunia masih tampak damai. Orang-orang masih berangkat bekerja seperti biasa, anak-anak masih tertawa di pinggir jalan, dan tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi bumi akan berubah menjadi neraka.

Arga menutup buku itu perlahan. Senyum tipis terukir di wajah yang selama sepuluh tahun hanya mengenal keputusasaan, sementara tatapannya memancarkan keyakinan yang belum pernah ia miliki pada kehidupan sebelumnya.

"Kali ini..."

"...aku yang akan tersenyum terakhir."

Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat

Arga masih menggenggam ponselnya ketika air mata terakhir jatuh ke layar yang memantulkan wajahnya sendiri. Nama Sari masih terpampang di ruang obrolan, disertai pesan sederhana yang beberapa menit lalu nyaris membuat dadanya runtuh. Di kehidupan sebelumnya, pesan itu menjadi kenangan yang tak pernah bisa ia balas lagi. Kini, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun penuh darah dan kematian, ia menyadari bahwa takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua.

Tangannya perlahan menutup layar ponsel, tetapi jari-jarinya tetap bergetar. Ingatan tentang tubuh adiknya yang dingin, tangisan yang tak pernah sempat ia dengar untuk terakhir kalinya, dan penyesalan yang menemaninya selama bertahun-tahun datang silih berganti seperti ombak yang menghantam karang. Napasnya memburu, lalu ia memejamkan mata seraya mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Cukup," bisiknya lirih. "Aku sudah menangis selama sepuluh tahun."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi seolah menjadi garis pemisah antara dua kehidupan. Ketika Arga kembali membuka mata, tatapannya tidak lagi dimiliki seorang pria berusia dua puluh tiga tahun yang baru memulai hidup. Sorot matanya jauh lebih tua, lebih dingin, dan menyimpan ketenangan yang hanya bisa dimiliki seseorang yang telah berkali-kali melihat kematian menari di depan wajahnya. Sejak saat itu, Arga tahu bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama. Ia adalah manusia yang telah hidup dua kali.

Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela kamar kos yang sempit. Di luar sana, Jakarta masih bernapas seperti biasa. Klakson kendaraan saling bersahutan, pedagang kaki lima mulai membuka dagangan, sementara para pekerja bergegas mengejar waktu yang mereka kira akan terus berputar selamanya. Tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi, jalanan yang ramai itu akan dipenuhi darah, jeritan, dan mayat hidup yang berburu tanpa mengenal lelah.

Sudut bibir Arga terangkat tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Ia menatap langit biru yang cerah, mengingat bagaimana warna yang sama berubah menjadi merah darah ketika dunia runtuh. Dulu ia hanya bisa mengikuti arus, berlari tanpa arah, kehilangan keluarga, teman, dan harapan sedikit demi sedikit. Kali ini, ia tidak akan membiarkan masa depan menelan semua yang ia sayangi.

Ia menarik sebuah buku tulis lusuh dari laci meja belajar. Buku itu dulunya hanya dipenuhi catatan pekerjaan dan hitungan pengeluaran bulanan, tetapi sekarang lembaran-lembarannya akan menjadi peta perang terbesar dalam sejarah hidupnya. Begitu ujung pulpen menyentuh kertas, tangannya bergerak nyaris tanpa jeda, seolah seluruh ingatan yang tersimpan selama sepuluh tahun takut menghilang jika tidak segera dituliskan.

Tanggal pertama yang ia tulis adalah hari ketika wabah dimulai. Setelah itu, ia menggoreskan lokasi kemunculan gerbang zombie pertama di Jakarta, tempat ribuan manusia akan terjebak karena menganggapnya sekadar ledakan biasa. Di bawahnya, ia menuliskan gudang logistik yang dalam kehidupan sebelumnya baru ditemukan enam bulan setelah kiamat, ketika hampir seluruh persediaannya sudah dijarah orang lain.

Pulpen terus bergerak, meninggalkan jejak tinta yang semakin rapat memenuhi halaman. Nama ilmuwan misterius yang menyebarkan resep ramuan Awakener ia lingkari beberapa kali meski identitas asli pria itu masih menjadi teka-teki. Arga tidak mengetahui siapa sosok tersebut, tetapi ia tahu di mana jejak pertama penelitiannya muncul dan bagaimana informasi itu perlahan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan total.

Keningnya berkerut ketika mulai menuliskan resep ramuan Awakener. Kristal zombie, daun mint, garam dapur, lalu proses perebusan selama satu jam. Di masa lalu, resep sederhana itu dipandang sebagai omong kosong sebelum akhirnya terbukti mampu mengubah manusia biasa menjadi petarung yang sanggup melawan para monster. Ia masih mengingat berapa banyak orang yang mati sia-sia karena terlambat mempercayainya.

Halaman berikutnya berisi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada lokasi ataupun resep. Arga mulai menulis nama demi nama orang yang suatu hari nanti akan mengkhianati umat manusia demi kekuasaan dan keselamatan pribadi. Beberapa di antaranya kelak menjadi pemimpin kelompok besar, sementara yang lain menjual lokasi markas penyintas kepada gerombolan zombie demi mendapatkan perlindungan sementara. Ujung pulpen berhenti sejenak ketika satu nama muncul di benaknya, lalu ia menarik garis tebal di bawahnya.

"Kali ini..." gumamnya pelan sambil menatap nama itu. "Aku tidak akan membiarkan kalian hidup cukup lama untuk mengulang dosa yang sama."

Tanpa terasa, hampir seluruh isi buku telah dipenuhi tulisan. Ada lokasi kristal evolusi pertama, jalur evakuasi yang paling aman, hingga beberapa tempat yang kelak menjadi wilayah kematian karena munculnya zombie-zombie tingkat tinggi. Semakin banyak yang ia tulis, semakin ia menyadari bahwa pengetahuan adalah senjata paling mematikan yang ia miliki. Orang lain membutuhkan sepuluh tahun penuh darah untuk mempelajari semua itu, sedangkan ia telah membawanya kembali ke masa lalu.

Arga memandang kalender yang tergantung di dinding. Tanggal empat belas Juni ditandai lingkaran merah kecil, sementara pikirannya otomatis menghitung mundur menuju hari ketika dunia berubah menjadi neraka. Bibirnya mengeras. Tiga puluh hari terdengar panjang bagi orang biasa, tetapi bagi seseorang yang harus mengubah takdir seluruh umat manusia, waktu itu terasa lebih pendek daripada satu tarikan napas.

Saat hendak menutup buku, tiba-tiba sebuah sensasi aneh memenuhi kepalanya. Seolah ada ruang kosong yang terbuka jauh di dalam kesadarannya, sebuah tempat luas tanpa batas yang tidak memiliki cahaya maupun kegelapan. Arga terdiam cukup lama, lalu secara naluriah mengulurkan tangan ke arah botol air mineral yang berada di atas meja.

Botol itu menghilang.

Bukan jatuh.

Bukan hancur.

Benar-benar lenyap dari dunia nyata.

Detik berikutnya, Arga merasakan keberadaan botol tersebut berada di dalam ruang asing yang baru saja muncul di benaknya. Ia mencoba mengeluarkannya kembali, dan benda itu langsung muncul di telapak tangannya dengan suhu, isi, bahkan embun yang sama persis seperti sebelum menghilang.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengambil ransel yang tergeletak di lantai, memasukkannya ke dalam ruang itu, lalu mengeluarkannya lagi. Tidak ada perubahan sedikit pun. Resleting masih terbuka, posisi buku di dalam tas tidak bergeser, bahkan debu yang menempel di permukaannya tetap sama.

Rasa penasaran mulai mengalahkan keterkejutannya. Kali ini ia mendorong meja kecil di samping kasur sambil memusatkan pikirannya. Dalam sekejap, meja itu lenyap tanpa suara. Arga memanggilnya kembali beberapa detik kemudian, dan meja tersebut muncul tepat di tempat semula tanpa meninggalkan bekas sedikit pun pada lantai.

Ia mengulang percobaan berkali-kali menggunakan benda yang berbeda. Gelas, pakaian, sendok, hingga kipas angin kecil yang biasa ia gunakan saat listrik padam. Hasilnya tidak pernah berubah. Tidak ada kerusakan, tidak ada penyusutan, bahkan waktu seolah benar-benar berhenti begitu benda memasuki ruang tersebut.

Arga mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Perlahan senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang jauh lebih tulus dibandingkan sebelumnya. Kemampuan ini jauh melampaui sekadar tempat penyimpanan biasa. Di dunia yang sebentar lagi dipenuhi perebutan makanan, obat-obatan, senjata, dan bahan bakar, ruang tanpa batas itu sama berharganya dengan kehidupan itu sendiri.

"Kalau begitu... tidak ada alasan bagiku untuk miskin sebelum kiamat."

Ucapan itu memunculkan ide yang membuat matanya perlahan berbinar. Jika waktu benar-benar berhenti di dalam ruang tersebut, maka makanan tidak akan basi, obat tidak akan kedaluwarsa, bahan bakar tidak akan rusak, bahkan persediaan apa pun bisa disimpan selama bertahun-tahun tanpa kehilangan kualitasnya. Untuk pertama kalinya, Arga melihat peluang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan pada kehidupan sebelumnya.

Ia segera mengambil dompet dan membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Saldo yang tersisa tidak seberapa, hanya cukup untuk menjalani hidup sederhana selama beberapa bulan. Arga tersenyum tipis. Jumlah itu memang kecil, tetapi uang hanyalah alat. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengubah setiap rupiah menjadi peluang bertahan hidup.

Ia membuka laci dan mengeluarkan beberapa barang yang masih memiliki nilai jual. Laptop lama, kamera yang jarang dipakai, koleksi jam tangan pemberian rekan kerja, hingga motor yang selama ini menjadi kendaraan hariannya. Semua itu tidak akan berarti apa-apa ketika kiamat tiba. Sebaliknya, makanan, obat, logam, dan bahan bakar akan menjadi mata uang baru yang menentukan siapa hidup dan siapa mati.

Beberapa menit kemudian Arga sudah berdiri di depan pintu kamar kos. Setelah memastikan buku catatan tersimpan aman di dalam ransel, ia melangkah keluar menuju tangga dengan wajah tenang. Matahari pagi menyinari jalanan Jakarta yang masih dipenuhi tawa anak-anak, aroma sarapan dari warung pinggir jalan, dan orang-orang yang sibuk mengejar rutinitas mereka.

Arga menghentikan langkah sejenak sebelum menatap keramaian di depannya. Dalam benaknya, semua pemandangan damai itu perlahan bertumpuk dengan bayangan masa depan yang dipenuhi kobaran api, reruntuhan gedung, dan lautan zombie yang tak berujung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju bank dengan langkah mantap sambil bergumam pelan, "Nikmatilah kedamaian ini... karena tiga puluh hari lagi dunia akan berakhir."

Chapter 2: Pengumpulan Logistik

Pintu kamar kos menutup pelan dengan bunyi klik, tetapi bagi Arga, suara itu terasa seperti lembar terakhir dari kehidupan lamanya yang akhirnya tertutup rapat. Di dalam ransel yang tergantung di bahunya tersimpan barang-barang yang selama ini menjadi hasil jerih payah bertahun-tahun bekerja, sementara di kepalanya hanya ada satu pikiran: semua benda itu lebih berguna jika berubah menjadi kesempatan hidup.

Udara Jakarta menyambutnya dengan panas yang mulai menyengat. Kendaraan berseliweran memenuhi jalan, suara klakson bersahut-sahutan, tin... tin... brummm..., dan para pejalan kaki berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa kota yang mereka cintai sedang menghitung mundur menuju kehancuran. Arga melangkah tenang di tengah keramaian, seolah dirinya hanyalah pekerja kantoran biasa yang sedang menyelesaikan urusan akhir pekan.

Toko elektronik pertama yang ia datangi masih ramai oleh calon pembeli. Seorang pegawai menyambutnya dengan senyum ramah, tetapi ekspresi pria itu berubah menjadi bingung ketika melihat Arga mengeluarkan laptop, kamera digital, dan beberapa aksesori yang masih tampak terawat.

"Mas mau jual semua?" tanya pegawai itu sambil memeriksa kondisi laptop. Jemarinya mengetuk keyboard, terdengar bunyi tak... tak... tak..., lalu ia mengangguk puas karena perangkat itu masih berfungsi sempurna.

"Iya, semuanya."

Pegawai itu mengangkat alis. "Sayang juga. Laptop begini masih bagus buat kerja. Kameranya juga lumayan mahal. Lagi butuh uang cepat?"

Arga hanya tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu."

Pegawai itu menawarkan harga yang menurut orang kebanyakan sudah cukup pantas. Tanpa menawar sedikit pun, Arga langsung menyetujuinya. Sikap itu justru membuat si pegawai semakin heran karena hampir semua pelanggan selalu berdebat soal selisih puluhan ribu rupiah.

"Mas yakin? Biasanya orang mikir dulu."

"Ada hal yang jauh lebih penting daripada selisih harga."

Pegawai itu tertawa kecil sambil menyerahkan uang hasil transaksi. Baginya, kalimat itu terdengar seperti ucapan seseorang yang sedang putus asa. Ia tidak tahu bahwa di mata Arga, laptop secanggih apa pun tidak akan berguna ketika listrik padam selamanya.

Perhentian berikutnya adalah pegadaian. Jam tangan yang selama ini selalu melingkari pergelangan tangannya dilepas perlahan, lalu diletakkan di atas meja kaca. Kilau logamnya masih memantulkan cahaya lampu ruangan, mengingatkan Arga pada hari ketika ia membeli benda itu sebagai hadiah untuk dirinya sendiri setelah memperoleh promosi jabatan.

Petugas pegadaian memeriksa jam tersebut cukup lama sebelum menyebutkan harga. "Kalau dijual sekarang agak rugi, Mas. Sebaiknya disimpan saja. Nilainya bisa naik."

Arga menggeleng pelan. "Sebulan lagi nilainya justru turun."

Petugas itu mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Tidak ada apa-apa."

Arga menerima uang itu tanpa penjelasan tambahan. Ia tidak sedang berbohong, hanya saja kebenaran yang ia ketahui belum waktunya dipercaya siapa pun.

Sore menjelang ketika ia berdiri di depan dealer motor bekas. Motor sport hitam yang selama ini menemaninya bekerja diparkir perlahan. Jemarinya sempat mengusap tangki bensin yang mengilap, lalu ia terkekeh pelan karena teringat betapa bangganya dirinya saat pertama kali membawa pulang kendaraan itu.

Pemilik dealer mengelilingi motor tersebut sambil bersiul pelan. "Kondisinya masih bagus. Kenapa dijual?"

"Butuh uang."

"Lagi banyak cicilan?"

"Bisa dibilang... sedang mempersiapkan masa depan."

Pemilik dealer tertawa keras. "Kalau begitu justru jangan dijual. Motor ini aset."

Arga menatap jalanan di luar toko. Dalam ingatannya, jalan yang sama akan dipenuhi bangkai kendaraan yang saling bertumpuk hanya tiga puluh hari lagi. Mobil mewah, motor sport, bahkan truk militer, semuanya akan menjadi besi tua yang tak bisa bergerak karena dipenuhi mayat hidup.

"Sebulan lagi," gumamnya dalam hati, "sebotol air akan lebih mahal daripada kendaraan apa pun."

Ia menandatangani dokumen penjualan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ketika uang tunai berpindah ke tangannya, ia justru merasa lebih ringan dibanding kehilangan motor kesayangannya.

Menjelang siang, seluruh aset yang bisa dijual telah berubah menjadi tumpukan uang di dalam tas. Jumlahnya memang belum cukup untuk membeli segalanya, tetapi lebih dari cukup untuk memulai perlombaan yang bahkan belum diketahui orang lain.

Supermarket besar menjadi tujuan berikutnya. Begitu troli didorong masuk, roda kecilnya berbunyi kriiit... kriiit... mengikuti setiap langkah Arga yang berjalan cepat menyusuri lorong demi lorong. Matanya tidak tertarik pada makanan siap saji atau camilan mahal, melainkan langsung menuju rak berisi makanan kaleng, mi instan, biskuit tinggi kalori, dan beras kemasan.

Kaleng demi kaleng berpindah ke troli. Kardus air mineral menyusul setelahnya. Susu bubuk, gula, garam, minyak goreng, kopi, hingga berbagai makanan yang mampu bertahan bertahun-tahun memenuhi troli pertama. Saat pegawai sedang sibuk membantu pelanggan lain, Arga mendorong troli menuju area parkir belakang yang sepi.

Ia memastikan tidak ada seorang pun memperhatikannya.

Dalam satu tarikan napas, seluruh barang di depannya lenyap tanpa suara.

Wusss...

Troli yang semula penuh mendadak kosong.

Arga dapat merasakan semua logistik itu tersimpan rapi di dalam Ruang Dimensi. Tidak ada yang rusak. Tidak ada yang berubah. Seolah waktu berhenti tepat ketika benda-benda itu masuk ke sana.

Ia kembali ke dalam supermarket sambil mendorong troli kosong.

Seorang pegawai kebetulan melihatnya dan bertanya, "Mobilnya dekat ya, Mas? Cepat banget balik lagi."

"Iya."

Pegawai itu hanya mengangguk tanpa curiga sedikit pun.

Hal yang sama terus berulang sepanjang hari. Arga berpindah dari satu supermarket ke supermarket lain, dari toko grosir menuju apotek, lalu ke toko perlengkapan outdoor. Senter, baterai, power bank, kompor portable, tabung gas kecil, pisau lipat, tali nilon, pakaian lapangan, jas hujan, hingga kotak P3K memenuhi Ruang Dimensi sedikit demi sedikit.

Di apotek, seorang kasir bahkan memandangnya dengan heran ketika melihat jumlah obat yang dibelinya.

"Mas mau buka klinik?"

Arga tersenyum kecil. "Semoga tidak perlu."

Obat penurun panas, antibiotik, vitamin, cairan antiseptik, perban, obat diare, salep luka bakar, semuanya berpindah ke dalam tas belanja sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak di sudut parkiran.

Meski telah menghabiskan hampir seluruh uangnya, dada Arga justru terasa semakin berat. Ketika ia menghitung isi Ruang Dimensi, persediaan itu tampak sangat banyak untuk ukuran satu orang. Namun ia tahu, jika harus bertahan bertahun-tahun sambil melindungi orang-orang yang akan ia selamatkan, semua itu masih belum ada artinya.

Saat sedang memikirkan langkah berikutnya, ponselnya bergetar.

Bzzzt... bzzzt...

Nama yang muncul di layar membuat wajah Arga langsung melunak.

"Sari."

Begitu panggilan diterima, suara ceria adiknya langsung terdengar. "Bang, jangan bilang lupa sama janjimu."

Arga tersenyum tanpa sadar. "Janji apa?"

"Es krim. Masa baru beberapa jam udah pikun?"

Ia terkekeh pelan, suara yang hampir tidak pernah keluar selama bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya. "Kamu di mana sekarang?"

"Minimarket dekat kampus. Lima belas menit lagi aku pulang."

"Aku ke sana."

Sari bersenandung kecil sebelum menutup telepon. Bagi gadis itu, percakapan tadi sama sekali tidak istimewa. Ia tidak tahu bahwa kakaknya rela menukar seluruh harta di dunia demi bisa mendengar suara itu sekali lagi.

Lima belas menit kemudian Arga tiba di depan minimarket. Dari kejauhan ia melihat Sari melambaikan tangan sambil membawa tas kuliah yang menggantung di bahunya. Gadis itu tampak sama seperti dalam ingatannya, penuh semangat dan selalu tersenyum seolah dunia tidak pernah memiliki sisi gelap.

"Kamu lama," protes Sari sambil menyilangkan tangan.

"Macet."

"Halah, alasan."

Mereka akhirnya duduk di kursi depan minimarket sambil menikmati es krim. Lelehan vanila menetes perlahan ke ujung cone, dan Sari buru-buru menjilatnya sambil tertawa kecil ketika sebagian mengenai hidungnya.

"Apa?" tanyanya saat melihat Arga terus memperhatikannya.

"Nggak."

"Kok senyum-senyum sendiri?"

"Aku cuma lagi mikir..."

"Mikir apa?"

Bahwa aku pernah kehilanganmu.

Kalimat itu berhenti di tenggorokan. Arga hanya menggeleng pelan sebelum menggigit es krimnya.

Sari mendengus. "Aneh."

Angin sore berembus lembut, menggoyangkan rambut gadis itu. Orang-orang keluar masuk minimarket seperti biasa, anak kecil menangis karena minta dibelikan permen, sementara suara mesin kopi otomatis berbunyi ssshhh... dari dalam toko.

Arga memandangi semua itu dengan dada yang sesak.

Di kehidupan sebelumnya, hari-hari sederhana seperti ini menghilang terlalu cepat. Yang tersisa hanyalah suara geraman zombie dan tangisan manusia.

"Aku bakal sibuk beberapa minggu ke depan," ujar Arga pelan.

Sari mengangguk santai. "Kerjaan?"

"Iya."

"Jangan lupa istirahat. Jangan kayak dulu lagi."

Arga tersenyum tipis. "Aku janji."

Namun di dalam hatinya, ia mengucapkan sumpah yang sama sekali berbeda.

Apa pun yang terjadi...

Kali ini aku akan menyelamatkanmu.

Malam turun ketika Arga kembali ke kamar kos. Setelah memastikan pintu terkunci, ia mengeluarkan sebuah peta Jakarta yang dulu hanya dipakainya untuk keperluan pekerjaan. Peta itu dibentangkan di atas meja, lalu ia mengambil spidol merah dan mulai menelusuri jalan demi jalan dengan ujung jarinya.

Akhirnya, spidol itu berhenti di sebuah kawasan yang tampak biasa saja. Dengan bunyi cekrek, tutup spidol terbuka, lalu sebuah lingkaran merah perlahan terbentuk di atas lokasi tersebut.

Tatapan Arga berubah tajam.

Di sanalah, dalam kehidupan sebelumnya, kristal zombie pertama muncul sebelum siapa pun memahami nilainya.

Ia menatap kalender sekali lagi.

Masih ada dua puluh sembilan hari.

Besok... aku mulai mengumpulkan semua yang kubutuhkan sebelum dunia menyadarinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!