NovelToon NovelToon

Dendam Berdarah

Di kejar setan!

"Tolong! Tolong!"

Teriakan itu menggema di antara pepohonan yang menjulang tinggi, lalu menghilang ditelan malam yang sunyi. Pria itu terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang.

Cahaya bulan yang sejak tadi menjadi satu-satunya penerang perlahan menghilang ketika awan hitam menutup langit. Kini hanya bayang-bayang pohon yang tampak samar di hadapannya, menciptakan bentuk-bentuk aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Dia tidak tahu sudah berapa lama berlari. Yang dia tahu hanyalah satu hal, sesuatu yang menyeramkan, sedang mengejarnya.

Suara langkah itu masih terdengar, bunyinya tidak teratur. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang terdengar sangat dekat, lalu tiba-tiba menghilang sebelum muncul lagi tepat di belakangnya.

"Tolong!" teriaknya lagi.

Tapi, tidak ada yang mendengar teriakkan yang penuh ketakutan itu. Tidak ada rumah warga disana. Hanya hutan yang terasa semakin rapat dan semakin gelap.

Kakinya tersandung akar pohon hingga tubuhnya hampir terjatuh. Dia berhasil menjaga keseimbangan dan terus berlari. Ranting-ranting tajam mencabik lengan dan wajahnya, tetapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding ketakutan yang sedang menguasainya.

Lalu terdengar suara tawa, tawa seorang perempuan.

Pria itu merasakan darahnya seolah membeku. Tawa itu tidak terdengar jauh. Justru sangat dekat, seakan pemilik suara itu sedang berlari beberapa langkah di belakangnya.

Jangan menoleh.

Jangan menoleh.

Dia terus mengulang kalimat itu dalam hati. Namun rasa takut akhirnya mengalahkan akalnya.

Dengan gerakan cepat dia menoleh. Ingin mencari tahu apakah sosok itu masih ada di belakangnya ataukah telah pergi.

Tapi, ternyata sosok itu masih ada, Rambutnya panjang, Kulit di pipinya tidak hanya mengelupas, tapi terlepas dalam lembaran-lembaran tipis, menggantung seperti tirai-tirai daging mati yang mengerikan.

Setiap terpaan angin membuat lembaran-lembaran itu berayun pelan, memperlihatkan daging merah yang mentah dan mengering di bawahnya.

Sosok itu sekarang hanya beberapa meter darinya. Pria itu menjerit dan memaksa tubuhnya berlari lebih cepat.

Tetapi harapan itu perlahan runtuh setiap kali dia melihat kegelapan tak berujung di hadapannya.

Ke mana pun dia berlari, hutan ini seolah tidak memiliki akhir.

Pepohonan tinggi berdiri seperti tembok raksasa yang mengurungnya. Bayangan cabang-cabang yang bergoyang diterpa angin tampak seperti tangan-tangan hitam yang berusaha meraih tubuhnya.

Napasnya semakin berat, kakinya mulai melemah. Rasa putus asa menyelimuti dirinya, mungkin tidak ada jalan keluar.

Tiba-tiba kabut tebal muncul dari sela-sela pepohonan. Udara menjadi jauh lebih dingin. Suara langkah di belakangnya menghilang.

Di tengah keputusasaan yang hampir menghancurkan seluruh harapannya, sesuatu tiba-tiba muncul di balik kabut tebal itu.

Sebuah bangunan.

Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, berusaha memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mempermainkannya.

Di sana, berdiri sebuah vila mewah bertingkat. Bangunannya tampak besar dan megah, menjulang di antara pepohonan yang gelap. Halamannya luas dengan pagar besi yang terbuka sebagian. Yang membuat jantung pria itu berdebar penuh harapan adalah cahaya yang menyala dari beberapa jendela.

Ada lampu, artinya ada penghuni. Artinya ada orang yang bisa menolongnya.

Dia merasa, secercah harapan muncul untuknya, dia biasa selamat dari teror horor itu.

"Tolong..." Teriaknya dengan suara bergetar.

Tanpa membuang waktu, dia segera berlari menuju vila tersebut. Kakinya yang lemas kembali menemukan tenaga. Dia melewati gerbang yang terbuka dan berlari melintasi halaman luas yang dipenuhi rumput tinggi yang bergoyang diterpa angin malam.

Semakin dekat, semakin jelas bangunan itu terlihat.

Dindingnya berwarna putih kusam. Balkon besar membentang di lantai dua. Beberapa lampu gantung menerangi teras depan, menciptakan suasana hangat yang berlawanan dengan kegelapan hutan di belakangnya.

Pria itu menaiki anak tangga teras hampir tanpa sadar.

Brak!

Brak!

Brak!

Dia menggedor pintu utama sekuat tenaga.

"Tolong! Tolong buka pintunya!"

Tidak ada jawaban, dia kembali menggedor.

"Tolong! Saya dikejar! Tolong saya!"

Suara ketukannya bergema ke seluruh penjuru rumah. Rasa cemas mulai merayapi pikirannya.

"Siapa pun... tolong buka pintunya..." Teriaknya.

Tiba-tiba.

Kreeeek...

Suara engsel tua memecah rasa takut itu, pintu vila perlahan terbuka dengan sendirinya.

Pria itu terdiam, matanya membelalak. Tidak ada siapa pun di balik pintu.

Hanya lorong panjang yang diterangi cahaya lampu kekuningan.

Angin dingin berembus dari dalam rumah, membuat bulu kuduknya meremang.

Untuk sesaat nalurinya berteriak agar dia tidak masuk. Ada sesuatu yang terasa salah.

Namun ketika dia menoleh ke belakang, yang terlihat hanyalah hutan gelap yang diselimuti kabut. Bayangan pepohonan berdiri seperti makhluk-makhluk raksasa yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Dia teringat sosok perempuan menyeramkan yang mengejarnya.

Jika tetap berada di luar, mungkin dia akan menemukannya.

Pilihan itu membuat darahnya semakin dingin.

Dengan napas terengah, pria itu akhirnya melangkah masuk ke dalam vila.

"Ada orang?" Teriaknya dengan suara lantang.

Suaranya menggema di dalam vila yang luas, memantul dari dinding ke dinding sebelum akhirnya lenyap ditelan keheningan.

Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda bahwa tempat itu dihuni seseorang.

Pria itu menelan ludah. Pandangannya terus mengarah ke ujung lorong yang remang-remang. Namun sosok yang tadi sempat dilihatnya sudah tidak ada lagi.

"Bodoh amat." Gumamnya sambil menggeleng.

"Yang penting aku selamat." Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Apa pun yang terjadi di tempat ini, setidaknya dia sudah terbebas dari sosok mengerikan yang mengejarnya di hutan. Dibandingkan berada di luar, vila ini masih terasa jauh lebih aman.

Meski begitu, jantungnya belum juga tenang.

Tangannya masih gemetar, napasnya masih belum teratur.

Untuk mengusir kegelisahan yang terus menghantuinya, dia merogoh saku celananya. Dari sana dia mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah sedikit kusut.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di antara bibir.

Kemudian dia mengeluarkan korek api dan membakarnya. Nyala api kecil muncul di ujung korek, menerangi wajahnya sesaat.

Dalam cahaya singkat itu, bayangannya terlihat memanjang di dinding lorong.

Dia segera menyalakan rokoknya lalu mengisap dalam-dalam.

Asap hangat memenuhi paru-parunya. Sedikit demi sedikit, ketegangan yang mencengkeram pikirannya mulai berkurang.

Dja mengembuskan asap ke udara dan bersandar pada dinding.

"Hantu sialan..." Umpatnya kesal.

Kemarahan perlahan menggantikan rasa takut yang sejak tadi menguasainya.

Dia masih tidak mengerti kenapa makhluk itu mengejarnya.

"Coba saja manusia..." Gumamnya sambil mengepalkan tangan. Matanya menyipit penuh emosi.

"Pasti sudah kubunuh!" Geramnya.

Suara napasnya perlahan mulai normal. Dia mengisap rokoknya sekali lagi.

Lalu...

Krek.

Suara kecil terdengar dari lantai atas, pria itu langsung membeku.

Dia menoleh perlahan ke arah tangga besar yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Tidak ada apa-apa, mungkin hanya tikus.

Dia mencoba mengabaikannya. Namun beberapa detik kemudian terdengar lagi.

Krek...

Krek...

Krek...

Kali ini jelas, seperti suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan perlahan di lantai atas.

Jantungnya kembali berdegup kencang, matanya terus menatap ke arah tangga. Belum sempat ia memastikan dari mana asalnya, seluruh lampu vila tiba-tiba berkedip-kedip.

Cahayanya menyala dan mati secara tidak beraturan.

"Apa lagi sekarang..." Gumamnya marah.

Seluruh lampu padam, kegelapan langsung menelan setiap sudut vila.

Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api.

Nyala api kecil muncul, Cahaya jingga yang redup hanya mampu menerangi beberapa langkah di depannya. Dinding-dinding tua vila tampak kusam dan suram di bawah cahaya yang itu.

"Tenang... tenang..." Bisiknya kepada diri sendiri.

Dia mulai berjalan menyusuri dinding, berharap menemukan saklar listrik.

Tangannya meraba-raba permukaan dinding yang dingin.

Lalu jemarinya menyentuh sesuatu, saat dia Kemabli menyalah korek di tangannya. Pemasangan yang di lihatnya membuat darahnya seketika berhenti mengalir.

Sosok hantu tanpa kepala, dan tangannya saat ini sedang bertengkar di leher putus itu.

Vila yang indah.

Tahun 2006....

Sebuah mobil Toyota Kijang Krista berwarna hitam melaju perlahan di jalan desa yang masih sebagian besar berupa tanah berbatu. Debu tipis beterbangan di belakang kendaraan itu. Di kanan dan kiri jalan terbentang sawah hijau yang luas.

Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang selama ini mereka tinggali. Burung-burung beterbangan rendah di atas pematang, sementara pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan desa.

Di dalam mobil, Pak Gunawan yang duduk di kursi depan tersenyum puas melihat pemandangan itu.

"Bagaimana, Sri? Tempat ini jauh lebih tenang daripada kota, bukan?" tanyanya sambil menoleh ke arah istrinya.

Bu Sri yang tengah hamil delapan bulan mengusap perut besarnya perlahan.

"Iya, Mas. Rasanya bahkan baru menghirup udaranya saja sudah membuatku lebih rileks."

"Syukurlah. Aku memang berharap tempat ini bisa membuatmu lebih nyaman sampai waktu persalinan tiba."

Di kursi belakang, dua asisten rumah tangga mereka, Sumi dan Lela yang sama-sama berusia sekitar dua puluh lima tahun, tampak antusias melihat pemandangan di luar jendela.

"Masya Allah, cantik sekali desanya," ujar Sumi.

"Iya, Mbak. Lihat sawahnya luas sekali," sahut Lela.

Di samping mereka duduk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun bernama Mbok Warsih. Dia sudah bekerja pada keluarga Gunawan selama bertahun-tahun dan dianggap seperti keluarga sendiri.

"Tempat seperti ini memang cocok untuk istirahat," kata Mbok Warsih. "Nyonya pasti bisa tidur lebih nyenyak di sini."

Bu Sri tersenyum.

"Aku juga berharap begitu, Mbok."

Sementara itu, di kendaraan belakang, Aji sang tukang kebun mengikuti perjalanan mereka menggunakan mobil bak kecil yang membawa sebagian barang-barang kebutuhan.

Beberapa menit kemudian rombongan berhenti di sebuah persimpangan kecil. Pak Gunawan turun dan meregangkan tubuhnya.

Bu Sri ikut turun dari mobil dengan hati-hati. Pak Gunawan segera menghampirinya.

"Pelan-pelan, jangan terburu-buru."

"Aku tidak apa-apa," jawab Bu Sri sambil tertawa kecil.

Aji yang baru tiba menghampiri mereka.

"Pak, barang-barang aman semua."

"Bagus, Aji."

Aji memandang sekeliling.

"Desanya tenang sekali ya, Pak."

"Itu alasan saya memilih tempat ini."

Mbok Warsih juga turun lalu menarik napas panjang.

"Udara seperti ini sudah sulit ditemukan di kota."

Sumi mengangguk setuju.

"Rasanya seperti sedang liburan."

Pak Gunawan tertawa.

"Anggap saja memang begitu. Tapi kita akan tinggal cukup lama."

"Berapa lama, Pak?" Tanya Lela.

"Sampai Sri melahirkan dan kondisinya benar-benar pulih."

Bu Sri tersenyum hangat.

"Jadi kalian harus sabar menghadapi aku yang mungkin akan semakin rewel."

Semua tertawa.

"Kalau soal itu kami sudah terbiasa, Bu." canda Sumi.

"Sumi!" seru Bu Sri sambil tertawa.

Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui semakin sepi. Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat.

Lela mulai memperhatikan keadaan sekitar.

"Pak, rumah penduduk sudah tidak banyak."

"Karena vila yang kita tuju berada di ujung desa." Jawab Pak Gunawan.

"Jauh sekali rupanya."

"Justru itu yang saya cari. Tenang, tidak terlalu ramai."

Tak lama kemudian sebuah bangunan megah mulai terlihat di kejauhan.

Mata semua orang langsung tertuju ke sana.

"Wah..." gumam Sumi.

"Itu villanya?" Tanya Lela tidak percaya.

Pak Gunawan mengangguk bangga.

"Ya. Mulai hari ini kita tinggal di sana."

Bangunan itu berdiri di atas lahan luas yang dikelilingi pepohonan. Terdiri dari dua lantai dengan balkon besar menghadap perbukitan dan sawah.

"Ya Allah..." kata Bu Sri pelan.

Pak Gunawan tersenyum.

"Kau suka?"

"Suka sekali."

Mobil memasuki gerbang besi yang tinggi. Halaman vila begitu luas dengan taman yang tertata rapi.

Aji sampai bersiul kagum.

"Pak, ini bukan vila lagi namanya. Ini seperti hotel."

Semua tertawa.

Pak Gunawan turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk istrinya.

"Selamat datang di rumah sementara kita."

Bu Sri menggenggam tangan suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Untukmu dan calon anak kita."

Mbok Warsih memandangi vila itu dengan kagum.

"Pak, tempat ini benar-benar indah."

"Saya berharap begitu."

"Semoga membawa banyak kebahagiaan."

"Amin." Jawab semua hampir bersamaan.

Angin sore berhembus lembut melewati pepohonan di sekitar vila. Dari kejauhan terdengar suara burung dan gemericik air sungai kecil yang mengalir di balik bukit. Suasana terasa damai, seolah menjadi tempat sempurna bagi keluarga kecil itu untuk menunggu kelahiran anggota baru mereka.

Pintu utama vila terbuka perlahan.

Pak Gunawan melangkah sambil merangkul pinggang istrinya penuh perhatian, dan membantunya melangkah melewati ambang pintu. Kandungan yang sudah berusia delapan bulan membuat langkah Bu Sri sedikit lebih lambat dari biasanya.

Di belakang mereka, Mbok Warsih, Sumi, dan Lela ikut masuk sambil membawa beberapa tas kecil. Sementara itu, Aji masih sibuk mengangkat koper-koper besar dan membawanya ke dalam vila.

Begitu memasuki ruang utama, semua orang langsung terdiam.

Ruangan itu sangat besar. Langit-langitnya tinggi hingga lantai dua, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan terkena sinar matahari. Lantai marmer berwarna krem mengilap bersih, sementara jendela-jendela besar membuat cahaya alami memenuhi seluruh ruangan.

"Masya Allah..." Gumam Mbok Warsih.

Sumi menoleh ke kanan dan kiri dengan mata berbinar.

"Indah sekali."

"Ini lebih besar dari yang saya bayangkan." Tambah Lela.

Pak Gunawan tersenyum puas melihat reaksi mereka.

Sementara itu, Bu Sri masih berdiri di dekat pintu sambil memandang sekeliling. Pak Gunawan tetap berada di sampingnya, satu tangan memegang bahunya dengan lembut.

"Bagaimana?" Tanyanya.

Bu Sri tersenyum.

"Aku suka sekali."

"Benarkah?"

"Iya. Rasanya tenang."

Pak Gunawan mengusap lengan istrinya pelan.

"Itu yang paling penting."

Bu Sri menoleh ke arah suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Kamu tidak perlu berterima kasih."

"Tapi kau sudah melakukan banyak hal untukku." Kata Bu Sri.

Pak Gunawan tersenyum hangat.

"Aku melakukan semuanya untuk kalian berdua."

Tangannya berpindah ke perut besar istrinya.

"Untuk ibu dan calon anakku."

Bu Sri tersenyum haru.

Di tengah suasana hangat itu, terdengar suara langkah berat dari arah pintu.

Aji masuk sambil membawa dua koper besar sekaligus.

Dia menurunkan koper-koper itu dengan hati-hati.

"Waduh..." katanya sambil mengusap keringat.

Semua tertawa kecil.

"Baru dua koper, Aji?" Tanya Sumi.

"Masih banyak." Katanya.

"Wah, semangat ya, Pak."

Aji menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau saya tahu barangnya sebanyak ini, mungkin saya minta tambahan tenaga."

Tawa kembali memenuhi ruangan. Pak Gunawan lalu mengajak semuanya menuju ruang keluarga.

Tangannya tidak pernah jauh dari istrinya, sesekali dia memegangi punggung istrinya, memastikan langkahnya tetap nyaman.

Mereka tiba di ruang keluarga yang menghadap langsung ke perbukitan hijau melalui jendela kaca besar.

Bu Sri perlahan duduk di sofa. Pak Gunawan segera duduk di sampingnya.

"Nah, istirahat dulu."

"Aku tidak selelah itu."

"Tetap saja." Kata pak Gunawan.

"Kau terlalu khawatir." Ucap Bu Sri tertawa kecil.

"Aku memang khawatir."

Mbok Warsih yang melihat mereka tersenyum.

"Pak Gunawan dari dulu memang begitu kalau soal Nyonya."

"Dan itu tidak pernah berubah, kan Mas." kata Bu Sri.

"Tentu saja." Sahut Pak Gunawan.

Setelah beberapa saat beristirahat, mereka mulai berkeliling melihat isi vila.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua, Pak Gunawan kembali menggenggam tangan istrinya.

"Pegangan."

"Mas, aku masih bisa jalan sendiri."

"Aku tahu."

"Kalau begitu lepaskan."

"Tidak mau."

Bu Sri menggeleng sambil tersenyum.

"Keras kepala."

"Anggap saja aku suami yang bertanggung jawab."

Sumi dan Lela yang berjalan di belakang mereka saling bertukar pandang lalu tertawa kecil.

"Romantis sekali." Bisik Lela.

"Iya." Jawab Sumi.

Mereka akhirnya tiba di kamar utama.

Begitu pintu dibuka, semua kembali terpukau.

Kamar itu sangat luas dengan tempat tidur besar, lemari kayu jati, dan balkon yang menghadap ke hamparan sawah.

Bu Sri berjalan menuju balkon.

Namun sebelum dia membuka pintu, Pak Gunawan lebih dulu membukanya untuknya.

Angin sejuk langsung masuk ke dalam kamar.

Bu Sri menutup mata sejenak, menikmati udara segar yang menyentuh wajahnya.

Pak Gunawan berdiri di sampingnya sambil memegang salah satu tangannya.

"Pemandangannya indah."

"Sangat indah."

"Apakah tempat ini sesuai harapanmu?"

Bu Sri menoleh dan tersenyum.

"Bahkan lebih baik dari yang aku bayangkan."

Pak Gunawan mengangguk puas.

"Itu berarti aku tidak salah memilih."

Mereka berdiri berdampingan memandang hamparan sawah yang berwarna keemasan diterpa cahaya sore.

Di belakang mereka, suara Aji yang masih bolak-balik membawa koper terdengar samar dari lantai bawah.

Namun saat itu tak ada yang memikirkan apa pun selain rasa bahagia.

Bagi Bu Sri, kehadiran suaminya yang selalu berada di sisinya membuat vila megah itu terasa lebih hangat. Dan bagi Pak Gunawan, tidak ada yang lebih penting selain menjaga istrinya tetap tenang dan nyaman sampai hari kelahiran anak mereka tiba.

Kebahagian di desa

Pagi hari di desa itu terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika matahari mulai muncul dari balik perbukitan.

Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari kejauhan, bercampur dengan suara para petani yang mulai beraktivitas di ladang mereka.

Di vila, penghuni rumah sudah mulai menjalani kesibukan masing-masing.

Bu Sri masih beristirahat di kamar setelah sarapan pagi. Pak Gunawan duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi dan memandang hamparan sawah yang membentang luas di depan vila.

Sementara itu di dapur, Mbok Warsih sedang memeriksa persediaan bahan makanan.

"Sayurnya tinggal sedikit." Gumamnya.

Dia lalu menoleh kepada Sumi dan Lela yang sedang merapikan meja makan.

"Sumi, Lela."

"Iya, Mbok?" jawab keduanya.

"Tolong beli sayur untuk makan siang. Sekalian lihat kebutuhan dapur yang lain."

"Baik, Mbok."

Lela mengangguk.

"Kami berangkat sekarang."

Namun sebelum mereka melangkah keluar, Aji yang baru selesai menyiram tanaman di halaman datang menghampiri.

"Mau ke pasar, Mbak?"

"Iya." Sahut Sumi.

Aji tersenyum.

"Saya antar saja."

"Wah, tidak merepotkan?" Tanya Sumi.

"Tidak. Pasarnya lumayan jauh kalau jalan kaki. Lagi pula saya sekalian mau lihat toko bangunan di desa."

Mendengar itu, Sumi dan Lela langsung setuju.

Beberapa menit kemudian mereka bertiga berangkat menggunakan mobil bak kecil yang biasa dipakai Aji membawa barang-barang.

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman vila.

Sepanjang perjalanan, Sumi dan Lela menikmati pemandangan desa yang masih asri. Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang.

Sesekali mereka berpapasan dengan petani yang sedang berjalan membawa cangkul atau mengendarai sepeda tua.

"Indah sekali ya." k

Kata Lela sambil melihat keluar jendela.

"Iya." Sahut Sumi.

"Baru dua hari di sini rasanya sudah betah."

Aji tertawa kecil.

"Makanya Pak Gunawan memilih tempat ini."

Mobil terus melaju melewati jalan desa yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Tak lama kemudian mereka tiba di pusat desa.

Beberapa warung berdiri berjajar di sepanjang jalan utama. Ada yang menjual sembako, ikan, buah-buahan, hingga sayur-mayur segar hasil kebun warga.

"Nah, sudah sampai." Kata Aji yang memarkir mobil di pinggir jalan.

"Saya tunggu di sini saja. Kalian belanja dulu." Katanya.

Sumi dan Lela mengangguk lalu berjalan menuju warung sayur.

Belum lama mereka berada di sana, beberapa warga mulai memperhatikan.

Bukan karena mereka berbuat sesuatu yang aneh, melainkan karena wajah mereka tidak dikenal.

Desa itu tidak terlalu besar. Hampir semua penduduk saling mengenal satu sama lain. Kehadiran orang baru tentu mudah menarik perhatian.

Seorang ibu yang sedang memilih tomat menatap mereka beberapa saat.

"Itu siapa ya?"

"Belum pernah lihat."

"Mungkin penghuni vila baru itu."

Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar. Lela tersenyum kecil kepada Sumi.

"Kayaknya kita jadi pusat perhatian."

"Namanya juga orang baru." Ucap Sumi terkekeh.

Mereka kemudian berhenti di sebuah warung sayur milik seorang perempuan paruh baya yang tampak ramah.

"Pagi, Nak." Sapa perempuan itu.

"Pagi, Bu." Jawab Sumi sopan.

Perempuan itu memperhatikan mereka sejenak.

"Kalian bukan warga sini ya?"

"Iya, Bu."

"Pantas saja saya belum pernah lihat."

Lela mulai memilih beberapa ikat kangkung dan bayam.

Sementara itu sang penjual kembali bertanya.

"Tinggal di mana?"

Sumi menunjuk ke arah jalan yang mereka lalui tadi.

"Di vila besar yang ada di ujung desa itu, Bu."

"Oh..." Perempuan itu tampak terkejut, Karena tahu jika pasti bukan orang sembarang. Vila itu terkenal mewah oleh penduduk desa. Bahkan penduduk desa terkagum-kagum olehnya.

"Jadi memang ada penghuni baru di sana?" tanya seorang ibu paruh baya sambil menggeser keranjang sayur yang dibawanya. Matanya tampak penuh rasa ingin tahu saat menatap kedua perempuan muda yang berdiri di depannya.

"Iya," jawab Sumi sambil menganggukkan kepala pelan. Dia tersenyum sopan kepada para warga yang mulai berkumpul di sekitar mereka.

"Majikan kami tinggal di sana untuk sementara." Lanjutnya dengan nada ramah.

"Begitu," sahut ibu itu sambil mengangguk-angguk. Wajahnya menunjukkan pemahaman, meski rasa penasaran masih terlihat jelas dari sorot matanya.

Tak lama kemudian, beberapa warga lain yang sebelumnya hanya memperhatikan dari kejauhan mulai mendekat.

Seorang bapak tua yang mengenakan caping lusuh melangkah maju. Kerutan di wajahnya memperlihatkan usia yang tidak lagi muda, tetapi senyumnya begitu hangat dan bersahabat.

"Selamat datang di desa kami." Ucapnya dengan suara tenang dan penuh ketulusan. Dia menganggukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.

"Terima kasih, Pak." Jawab Lela dengan senyum lebar.

"Semoga betah tinggal di sini." Lanjut bapak tua tersebut. Tangannya menggenggam tongkat kayu sederhana, sementara tatapannya terlihat tulus.

"Iya, Pak." Sahut Lela dengan ramah. Dia merasa senang melihat sambutan hangat dari warga desa.

Seorang ibu lain yang berdiri di samping bapak tua itu ikut berbicara. Di tangannya tergenggam sebuah kantong berisi hasil kebun yang baru dipetik pagi tadi.

"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang." Katanya sambil tersenyum. Nada bicaranya terdengar akrab seolah mereka sudah lama saling mengenal.

"Iya, Bu. Terima kasih banyak." Jawab Sumi dengan tulus. Dia merasa lega karena warga desa tampak menerima kehadiran mereka dengan baik.

Mereka mulai berbincang santai tentang keluarga Pak Gunawan dan alasan kedatangan mereka ke desa tersebut.

"Nyonya kami sedang hamil besar." Jelas Sumi.

"Pak Gunawan ingin beliau lebih tenang sampai waktu melahirkan."

"Keputusan yang bagus." Kata seorang warga.

"Udara di sini memang masih bersih."

"Semoga persalinannya lancar."

"Iya Pak." Sumi tersenyum.

Suasana perlahan menjadi hangat dan penuh keakraban. Obrolan ringan mulai mengalir di antara mereka.

Beberapa warga bertanya dari mana mereka berasal, sementara yang lain bercerita tentang kehidupan desa yang tenang dan damai.

Tawa kecil sesekali terdengar, membuat pertemuan singkat itu terasa begitu menyenangkan. Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, hubungan antara penghuni baru vila dan warga desa mulai terjalin dengan baik.

Setelah semua kebutuhan dapur selesai dibeli, mereka membayar belanjaan dan berpamitan.

"Hati-hati di jalan, Nak."

"Terima kasih, Bu."

"Salam untuk keluarga majikannya di vila."

"Iya Bu."

Sumi dan Lela kembali menuju mobil yang sudah menunggu di pinggir jalan.

Aji yang sedang duduk santai langsung berdiri.

"Sudah selesai?"

"Sudah."

"Banyak juga belanjaannya."

"Namanya juga buat satu rumah." Jawab Lela sambil tertawa.

Aji membantu memasukkan kantong-kantong belanja ke dalam mobil.

Tak lama kemudian mereka kembali berangkat menuju vila.

Sementara mobil perlahan menjauh dari pusat desa, beberapa warga masih sempat melambaikan tangan kepada mereka.

Senyuman ramah itu membuat Sumi dan Lela merasa bahwa desa tersebut bukan lagi tempat asing.

Menjelang siang, mobil bak kecil yang dikendarai Aji akhirnya kembali memasuki halaman vila.

Mesin kendaraan itu berhenti tepat di depan teras. Sumi dan Lela turun lebih dulu sambil membawa beberapa kantong berisi sayuran dan kebutuhan dapur lainnya.

Aji segera membantu menurunkan barang-barang yang lebih berat.

Mereka lalu membawa semua barang masuk ke dalam vila.

Dari ruang keluarga terdengar suara alunan musim yang menyala pelan. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar, membuat ruangan itu terasa hangat dan nyaman.

Bu Sri sedang duduk di sofa dekat jendela.

Di pangkuannya terdapat sekeranjang benang wol berwarna putih dan biru muda. Kedua tangannya sibuk merajut sesuatu dengan hati-hati.

Sesekali dia tersenyum sendiri sambil memandangi hasil rajutannya yang mulai terbentuk.

Sementara itu, Mbok Warsih duduk di bawah dekat sofa sambil memijit perlahan kaki Bu Sri yang mulai membengkak karena usia kehamilan yang sudah tua.

"Pelan saja, Mbok." Kata Bu Sri.

"Iya, Nyonya."

"Rasanya akhir-akhir ini kakiku cepat pegal."

"Itu wajar. Kandungannya sudah besar."

Bu Sri mengangguk pelan, tangannya kembali melanjutkan rajutan.

"Aku tidak sabar melihat wajah anak ini."

Mbok Warsih tersenyum.

"Sebentar lagi, Nyonya."

Saat itulah suara pintu terbuka terdengar dari arah depan.

Sumi dan Lela masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.

"Wah, sudah pulang?" Tanya Bu Sri.

"Iya, Nya." Jawab Sumi ceria.

"Kami dapat banyak sayur segar."

Aji menyusul dari belakang sambil membawa keranjang yang lebih besar.

"Petani di sini baru panen, Nya."

"Pantas masih segar-segar."

Mbok Warsih berdiri lalu membantu menerima barang belanjaan.

"Taruh di dapur saja." Kata Mbok Warsih.

"Baik, Mbok." Sahut Lela.

Setelah semua barang diletakkan, Sumi dan Lela kembali ke ruang keluarga.

Wajah keduanya terlihat bersemangat.

"Nya, penduduk desa di sini baik-baik sekali." Kata Lela.

"Oh ya?" Tanya Bu Sri sambil tetap merajut.

"Iya."

Sumi langsung ikut bercerita.

"Tadi waktu kami ke pasar, hampir semua orang memperhatikan kami."

Bu Sri tertawa kecil.

"Pasti karena kalian orang baru."

"Nah, itu dia."

"Lalu?" Tanya Mbok Warsih penasaran.

"Awalnya kami kira mereka tidak suka ada pendatang."

"Ternyata mereka cuma penasaran."

Lela duduk di kursi dekat sofa.

"Mereka langsung menyapa kami dengan ramah."

"Benarkah?" Tanya Bu Sri.

"Iya, Bu." Sumi mengangguk.

"Ada ibu penjual sayur yang bertanya kami tinggal di mana."

"Lalu?"

"Saya bilang tinggal di vila ujung desa."

"Terus?"

"Dia langsung bilang, Oh, jadi memang ada penghuni baru di sana.'"

Semua tertawa kecil, Lela melanjutkan cerita.

"Terus ada bapak-bapak yang bilang kalau kami butuh bantuan jangan sungkan bertanya."

"Baik sekali."

"Iya, Nya."

"Mereka juga mendoakan agar persalinan Nyonya nanti lancar."

Mendengar itu, senyum Bu Sri melebar.

"Masya Allah."

"Mereka bilang udara desa bagus untuk ibu hamil."

Mbok Warsih mengangguk setuju.

"Orang desa memang biasanya lebih ramah."

Bu Sri tampak senang mendengarnya. Dia meletakkan rajutannya sejenak lalu mengusap perut besarnya perlahan.

"Senang rasanya mengetahui kita diterima dengan baik di sini."

"Iya, Nya."

"Saya juga jadi merasa lebih tenang."

Aji yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ikut menimpali.

"Memang warga sini baik-baik."

"Lumayan banyak yang menyapa saya juga."

"Berarti Bapak memang tidak salah memilih tempat." Kata Bu Sri.

Saat itu Pak Gunawan yang baru turun dari lantai atas ikut bergabung.

"Ada apa ini? Ramai sekali."

"Kami sedang cerita soal warga desa, Pak." Sahut Sumi tersenyum.

"Oiya." Ujar Pak Gunawan tampak tertarik dengan pembicaraan itu.

"Mereka ramah sekali." Lanjut Sumi dengan wajah ceria. Dari nada bicaranya terlihat jelas bahwa dia merasa nyaman dengan sambutan yang diberikan warga desa.

Pak Gunawan tersenyum mendengar hal itu. Ada rasa lega di hatinya. Salah satu alasan dia memilih tinggal sementara di desa itu adalah karena suasananya yang tenang dan masyarakatnya yang dikenal baik.

"Syukurlah." katanya pelan. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya.

Dia lalu duduk di samping istrinya.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Bu Sri menunjukkan rajutan kecil yang sedang dibuatnya.

"Lihat."

Pak Gunawan memperhatikan benda mungil itu.

"Ini apa?"

"Penutup kepala untuk bayi kita."

"Bagus sekali." Ucapnya dengan begitu antusias dengan senyum yang lebar.

"Masih belum selesai." Mendapat ekspresi yang seperti itu dari suaminya, Bu Sri tersenyum malu.

"Anak kita pasti akan menyukainya." Kata Pak Gunawan.

"Kalau dia tidak suka bagaimana?"

Pak Gunawan tertawa kecil.

"Kalau itu dibuat oleh ibunya sendiri, dia pasti suka."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!