"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Elena yang sedang membasuh wajahnya di wastafel seketika membeku. Ia menoleh dengan mata membelalak lebar, mengabaikan sisa air yang menetes dari dagunya.
"Apa kamu bilang? Membayar ku mahal-mahal hanya untuk ons dengan lansia? Kamu sudah gila, ya?!"
"Yang gila itu kamu, Elena Anastasia. Kamu kabur dari rumah tanpa rencana. Meninggalkan semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati hanya karena tidak terima ayahmu menikahi sahabat mendiang ibumu. Sekarang lihat dirimu."
"Aku tahu, Bel. Tidak usah diperjelas," lirih Elena membela diri.
"Aku harus memperjelasnya supaya otakmu terbuka! Kamu sudah tiga bulan hidup sebagai pelarian. Awalnya kamu mengira kebebasan dari ayahmu akan terasa indah, kan? Tapi kenyataannya berbeda. Dunia tidak peduli apakah kamu putri seorang pengusaha kaya atau bukan. Dunia hanya peduli apakah kamu punya uang atau tidak!"
Perut Elena tiba-tiba kembali berbunyi pelan.
Bella menghela napas, nadanya sedikit melunak. "Lihat? Kamu bahkan lapar."
"Ini tidak separah itu," elak Elena dengan suara cicitan.
"Jangan bohong. Aku dengar jelas suara perutmu," ketus Bella.
Elena memejamkan mata sesaat. Benar. Sejak siang ia hanya makan sepotong roti tawar yang dibagi dua dengan Bella agar cukup sampai malam. Rasa lapar ini mulai membuatnya pusing.
"Tapi kenapa harus pria tua, Bella? Dan kenapa mataku harus ditutup?" tanyanya akhirnya, mulai goyah.
Bella mengangkat bahu santai. "Aku juga tidak tahu detailnya. Yang jelas, klien ini sangat kaya raya. Katanya dia punya kelainan atau alergi aneh terhadap sentuhan wanita biasa."
"Hah? Alergi wanita? Aneh sekali," gumam Elena heran.
"Sangat aneh. Karena itu dia punya banyak syarat tak masuk akal. Salah satunya, identitasnya harus dirahasiakan rapat-rapat."
Elena mengernyit curiga. "Jadi dia semacam selebriti?"
"Bisa jadi."
"Atau jangan-jangan dia buronan?"
Bella langsung tertawa renyah. "Kalau dia buronan, mana mungkin berani menyewa presidential suite hotel paling mahal di kota ini, Elena?"
Itu masuk akal. Namun tetap saja, semuanya terdengar terlalu misterius bagi Elena.
"Kalau dia ternyata menyeramkan atau psikopat bagaimana?"
"Elena, dengar aku. Semua orang kaya itu menyeramkan dengan caranya masing-masing. Tapi serius, kamu hanya perlu datang, menutup mata, ikuti aturannya, lalu pulang membawa uang. Selesai."
Uang.
Satu kata yang belakangan terus menghantui Elena setiap detik. Tagihan kos harus dibayar minggu depan, dan pemilik kos sudah mengancam akan melempar barang-barangnya ke jalanan. Elena lelah berpura-pura kuat di atas kakinya sendiri.
"Berapa bayaran yang ditawarkan?" tanyanya lirih.
"Cukup untuk membuatmu hidup sangat nyaman selama beberapa tahun ke depan tanpa perlu memikirkan kerja keras," bisik Bella.
Elena menatap sahabatnya tidak percaya. "Jangan bercanda! Mana ada orang membuang uang sebanyak itu hanya untuk satu malam?"
"Aku serius, Ele Sayang. Aku tidak pernah bercanda soal uang."
"Yakin untuk beberapa tahun ke depan?" ulang Elena memastikan.
Bella mengangguk mantap. "Ya, beberapa tahun. Kata asistennya pria tua itu royalnya bukan main."
Nominal sebesar itu bahkan tidak pernah Elena pegang sendiri dalam bentuk tunai saat masih hidup mewah bersama ayahnya. Akal sehatnya berteriak agar menolak pekerjaan gila ini, namun kenyataan hidup berteriak jauh lebih keras di telinganya.
"Aku masih tidak percaya dengan tawaranmu ini, Bel. Ini terasa seperti jebakan."
"Percaya saja padaku. Kesempatan emas seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya dalam hidupmu."
Elena menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut berantakan, wajah pucat, dan lingkar hitam di bawah mata membuat dirinya terlihat menyedihkan. Gadis yang dulu hidup berkecukupan kini bahkan kesulitan membeli makan malam.
Akhirnya, ia mengembuskan napas panjang, menyerah pada ego.
"Oke."
"Kamu setuju?"
"Aku mau melakukannya. Aku butuh uang itu," jawab Elena mantap.
Bella tertawa keras dan langsung memeluk Elena. "Ini baru Elena yang aku kenal! Realistis!"
"Tapi ingat ya, kalau ternyata dia benar-benar kakek tua bangka yang keriput dan bau tanah, aku akan menyalahkanmu seumur hidup!" ancam Elena kesal.
"Silakan, salahkan saja aku sesukamu asal kantongmu penuh," sahut Bella abai.
"Bagaimana kalau dia bau minyak angin dan mendengkur keras?"
"Sudah, berhenti mencari alasan! Sekarang ganti pakaianmu," ujar Bella sambil menarik tangan Elena keluar dari kamar mandi.
"Mobil jemputan sudah menunggu di bawah."
Satu jam kemudian, Elena sudah duduk kaku di tepi ranjang hotel mewah yang ukurannya bahkan lebih besar daripada keseluruhan kamar kosnya. Yang lebih parah, matanya kini telah tertutup rapat oleh selembar kain sutra hitam. Ia sama sekali tidak bisa melihat apa pun.
"Kenapa aku bodoh sekali sampai mau melakukan ini?" gumamnya pelan pada diri sendiri.
Klek!
Suara pintu terbuka membuat tubuh Elena langsung menegang. Langkah kaki seseorang perlahan terdengar mendekat ke arah ranjang.
Elena menelan ludahnya dengan susah payah, tangannya meremas sprei kasur.
"K—kakek, apa kamu sudah datang?" tanya Elena dengan panik. "Aki-aki? Opa? Atau harus aku panggil apa?"
Di sisi lain ruangan, Leonard hampir saja menyemburkan tawanya. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berani memanggilnya dengan sebutan aki-aki.
"Panggil saja apa yang membuatmu nyaman," jawab Leonard.
Elena langsung merinding ngeri. Suara itu benar-benar mirip kakek-kakek renta yang setiap pagi menyiram tanaman di depan kos Bella.
Perlahan, Leonard melangkah semakin dekat hingga jarak mereka mengikis.
Elena refleks mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Tunggu! Jangan mendekat dulu!"
Leonard menghentikan langkahnya, menatap Elena heran dari balik topengnya.
"Ada apa?"
Elena menggigit bibir bawahnya. "Kakek pakai gigi palsu tidak?"
Ruangan mewah itu mendadak hening total selama beberapa saat. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Leonard yang berkuasa, ia kehilangan kata-kata karena pertanyaan konyol seorang wanita.
"Apa katamu?!" geram Leonard tertahan, merasa harga dirinya agak tercoreng.
"Gigi palsu," ulang Elena dengan polos tanpa dosa. "Aku cuma penasaran saja, Kek."
Leonard memijat pelipisnya. "Tidak!Gigiku masih utuh."
"Oh, syukurlah kalau begitu." Elena mengembuskan napas lega.
Leonard mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus bersyukur soal itu?"
"Soalnya aku takut kalau nanti giginya copot saat kita... ya, begitulah. Pasti menyeramkan," ucap Elena dengan kejujuran yang teramat sangat.
Leonard hampir tersedak oleh ludahnya sendiri mendengar kepolosan gadis di hadapannya.
Saat Leonard akhirnya berdiri tepat di depan Elena, aroma parfum maskulin yang sangat mahal dan elegan langsung menyergap indra penciuman gadis itu.
Elena mengernyitkan dahinya di balik kain penutup mata. "Lho? Kok aromanya begini?"
"Apalagi kali ini!" gumam Leonard mulai gemas.
"Kakek kok wanginya mahal sekali? Aromanya seperti pria-pria eksekutif muda di televisi," komentar Elena.
Leonard menahan senyumnya agar tidak lolos. "Lalu menurut imajinasimu, aku harus wangi seperti apa?"
"Minyak kayu putih atau minyak telon."
Kini Leonard benar-benar harus sekuat tenaga menahan tawa yang hampir meledak di dadanya. Namun, saat tangannya bergerak maju dan menyentuh pundak mulus Elena, ekspresi jenakanya seketika lenyap. Tubuh Leonard seolah membeku di tempat.
Tidak ada rasa panas yang membakar kulitnya. Tidak ada rasa gatal yang menyiksa. Bahkan tidak ada ruam merah yang biasanya langsung menyerang tubuh Leonard setiap kali ia tidak sengaja bersentuhan dengan orang lain akibat penyakit alergi psikosomatis akutnya.
"Ini mustahil," batin Leonard berteriak syok sekaligus takjub.
Sementara Leonard masih tenggelam dalam keterkejutan yang luar biasa, Elena justru sibuk memikirkan hal lain. Karena tangan Elena tanpa sengaja meraba dada bidang pria tua itu untuk memastikan keberadaannya.
Tunggu dulu! Bukankah pria ini seharusnya seorang kakek tua bangka yang keriput dan lemas? Lalu kenapa dadanya begitu bidang sekeras batu, lengannya begitu kokoh bak baja, dan otot perutnya terasa sangat sempurna seperti pria muda yang rutin berolahraga setiap hari?
Keesokan harinya...
"Astaga, kenapa rasanya seperti habis ikut lomba angkat karung beras sekampung, sih?" tangannya refleks memegangi pinggang.
Elena meringis kesakitan sambil duduk perlahan di atas ranjang super empuk itu.
"Oh, pinggangku! Ini pasti gejala penuaan dini atau efek samping menghadapi aki-aki tenaga kuda semalam."
Setelah berhasil membuka mata sepenuhnya, Elena menoleh ke samping. Pria tua itu masih tertidur tenang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara wajahnya tetap tersembunyi.
Elena menyipitkan mata, menatap curiga. Ia memperhatikan sosok itu beberapa detik. Semakin diperhatikan, semakin banyak hal yang terasa janggal.
"Tangannya tidak keriput, bahunya juga lebar banget untuk ukuran lansia," gumamnya heran. "Lengan sebesar itu dia dapat dari mana? Apa saking kayanya dia sanggup beli suplemen pembesar otot khusus lansia?"
Semakin dipikirkan, semuanya semakin tidak masuk akal.
"Tidak, tidak! Uangnya terlalu banyak untuk dipikirkan. Otak miskin sepertiku dilarang kritis kalau urusan duit."
Prioritas utama Elena sekarang adalah keluar dari sana secepat mungkin. Ia buru-buru turun dari ranjang dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku harus segera pergi sebelum dia bangun dan minta ronde kedua. Bisa encok permanen aku!"
Elena berjalan tertatih menuju pintu dan akhirnya berhasil keluar dari kamar hotel mewah tersebut.
"Selamat, Elena Anastasia. Kamu resmi selamat dari malam paling aneh sekaligus paling menegangkan dalam sejarah hidupmu!"
Ting!
Ponsel di kantongnya berbunyi nyaring. Sebuah pesan masuk dari Bella.
[Elena! Cepat cek rekeningmu sekarang juga! Sekarang!]
Elena mengernyitkan dahi. "Kenapa, sih? Pagi-pagi sudah heboh," gerutunya sembari membuka aplikasi mobile banking.
Beberapa detik kemudian saat angka di layar muncul—
"Hah?!" Matanya membulat sempurna, hampir keluar dari tempatnya.
Seorang tamu hotel berjas rapi yang kebetulan lewat di koridor sampai menoleh heran melihat ekspresi syoknya. Elena buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Angka di layar ponselnya masih tetap sama. Tidak berubah, tidak berkurang, dan nolnya berderet sangat panjang.
"Ini serius? Aku tidak sedang bermimpi akibat kurang tidur, kan?" Ia mengucek matanya berkali-kali, lalu melotot lagi ke arah layar.
"Ini beneran saldo uang atau nomor telepon layanan masyarakat, sih? Banyak banget!"
Jumlah itu bahkan jauh lebih besar daripada seluruh uang saku yang pernah ia kumpulkan selama hidup mewah bersama ayahnya. Ponselnya kembali bergetar di genggaman.
[Sudah lihat belum, Ele?! Jawab!] tanya Bella di pesan baru.
Elena dengan cengiran konyol langsung mengetik balasan dengan kilat. [Bel, mulai hari ini ubah nama kontakku di ponselmu. Panggil aku Nyonya Sultan!]
Balasan Bella datang dalam hitungan detik.
[Jangan halu! Cepat pulang!]
Sementara di dalam kamar, Leonard berdiri tegak di dekat jendela besar sambil memandangi pintu kamar yang baru saja tertutup. Setelah bertahun-tahun lamanya, kulitnya sama sekali tidak bereaksi negatif terhadap sentuhan seorang wanita.
Dan fakta itu membuat isi kepala Leonard jauh lebih kacau dan berantakan daripada Elena.
"Siapa sebenarnya gadis semalam?"
Leonard menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Lalu menekan satu nomor cepat. Tidak sampai dua kali dering, panggilan langsung terhubung.
"Selamat pagi, Sir," sapa suara di seberang sana.
"Jojo," panggil Leonard tanpa basa-basi.
Joni yang berada di apartemennya langsung mengernyit, menahan kantuk.
"Maaf, Sir. Nama saya Joni. Bukan Jojo."
"Apa bedanya? Sama-sama berawalan Jo!" potong Leonard mutlak. "Sekarang, periksa seluruh rekaman cctv hotel tempatku menginap tadi malam."
Joni yang masih setengah mengantuk langsung tersedak kopi hitam yang baru saja ia sesap.
"Hah? Rekaman cctv Sir? Ada masalah apa?"
"Cari identitas wanita yang bersamaku semalam di kamar," perintah Leonard dingin.
"Baik, Sir. Segera saya urus."
"Lakukan sekarang juga. Jangan menunda. Kalau sampai dalam waktu dua puluh empat jam kamu tidak berhasil menemukan data dirinya—"
"Baik, Sir! Saya mengerti, Sir! Dua puluh empat jam!" potong Joni cepat-cepat karena nyawanya terasa terancam.
Sambungan langsung diputus sepihak oleh Leonard.
Leonard berjalan santai menuju kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin besar. Perlahan, tangannya terangkat ke wajah. Kemudian, ia mengelupas topeng silikon tipis yang semalam membuatnya tampak seperti pria tua berusia enam puluh tahun.
Lapisan kulit buatan itu terangkat sedikit demi sedikit, dan pantulan seorang pria muda dengan wajah luar biasa tampan, rahang tegas, serta pahatan visual yang sempurna segera muncul di depan cermin.
Leonard menyisir rambut hitam pekatnya ke belakang menggunakan jari-jari tangan. Sebuah senyum tipis yang misterius terbentuk di sudut bibirnya.
"Akhirnya, aku berhasil menemukan penawarku"
Sudah bertahun-tahun ia menderita kondisi psikologis yang aneh. Setiap kali bersentuhan dengan wanita, tubuhnya langsung menolak.
Dokter-dokter terbaik di dunia pun angkat tangan gagal menjelaskan penyebabnya.
"Gadis itu, dia satu-satunya wanita di dunia ini yang bisa ku sentuh selain mama. Aku harus menemukannya kembali, apa pun caranya," seringai tipis terukir dari sudut bibirnya.
*
*
"Bella! Aku pulang! lihatlah sahabatmu yang kaya raya ini!"
Elena membuka pintu rumah kos mereka dengan tendangan pelan dan wajah super cerah. Ia masih tersenyum lebar sejak melihat isi rekeningnya pagi tadi.
Namun, senyum lebar itu langsung lenyap dalam sekejap mata.
Elena melongo menatap isi dalam kosan mereka. Sebuah kursi kayu tergeletak mengenaskan di lantai. Laci-laci lemari terbuka paksa. Pakaian-pakaian mereka berserakan ke mana-mana seperti habis diterjang angin puting beliung.
"Apa kita baru saja kerampokan? Tapi apa yang mau dirampok dari kosan semiskin ini?" jantungnya langsung berdegup kencang, disergap rasa takut yang luar biasa.
"Bella! Jangan main-main ya! ini tidak lucu!"
Tiba-tiba, terdengar suara bisikan super pelan dari arah sudut ruangan.
"Ele... jangan berteriak..."
Elena menoleh cepat ke sumber suara. "Bella? Kamu dimana?!"
"Di sini, di dalam lemari pakaian!"
Elena berjalan mendekat dengan hati-hati. Saat ia membuka pintu lemari pakaian yang agak reot itu, wajah Bella langsung muncul dengan raut pucat pasi seperti habis melihat hantu.
"Ya Tuhan, Bella! Kenapa kamu bersembunyi di dalam sana?!" pekik Elena kaget.
Bella buru-buru melompat keluar, membekap mulut Elena dengan telapak tangannya, lalu menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Kecilkan suaramu, Elena Anastasia! Kita dalam masalah besar sekarang!"
Elena melepaskan bekapan tangan Bella dengan kesal. "Masalah apa, sih? Cepat jelaskan kenapa kosan kita hancur seperti kapal pecah begini?!"
Bella menelan ludahnya dengan susah payah, matanya bergerak panik ke kanan dan kiri.
"Pria tua... kakek-kakek kaya raya yang semalam bersamamu di hotel..."
"Iya, kenapa dengan kakek itu? Uangnya sudah masuk kok ke rekeningku," sahut Elena bingung.
Bella mencengkeram kedua bahu Elena dengan sangat erat, tangannya gemetar. "Dia bukan pria tua biasa, Ele! Tadi ada beberapa pria berbadan kekar, berjas hitam, dan berwajah sangar datang mendobrak pintu kosan kita!"
"Apa? Pria berjas? Mereka mencari siapa?"
"Mereka mencari mu! Mereka memegang tablet yang menunjukkan rekaman cctv hotel saat kamu keluar pagi tadi!" seru Bella panik.
"Astaga, kenapa kakek itu mencari ku lagi?" Elena mulai ikutan panik dan gemetaran.
"Aku tidak tahu! Tapi orang-orang seperti itu biasanya bekerja untuk mafia atau orang yang sangat berkuasa di kota ini!" Bella bergerak cepat menarik sebuah koper besar dari bawah tempat tidur darurat mereka. "Kita harus pergi sekarang juga!"
"Bella, tunggu dulu! Kita mau kemana?"
"Tidak ada waktu untuk bertanya, Ele! Cepat masukkan baju-bajumu! Malam ini juga, kita harus pergi sejauh mungkin dari negara ini!" perintah Bella tegas sembari melempar beberapa potong pakaian ke arah wajah Elena.
"Maksudmu?!"
"Indonesia!" jawab Bella mantap sembari menarik resleting kopernya dengan paksa.
Satu bulan kemudian...
Suara jangkrik bersahut-sahutan. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, Elena duduk bersila di atas kasur kapuk sambil memeluk lututnya. Wajahnya kusut, persis seperti pakaian yang belum disetrika.
"Bella, aku benci ayam jago tetangga depan!" rengek Elena.
Bella, yang sedang sibuk memukul nyamuk dengan raket listrik, menoleh dan menghela napas panjang.
"Ayamnya sedang tidur, Ele. Ini jam dua belas malam. Kenapa kamu tiba-tiba mengomel tidak jelas?"
"Aku benci semuanya!" Elena mengusap wajahnya frustrasi. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan di dunia ini? Punya uang miliaran di rekening, tapi terjebak di pelosok desa yang bahkan ke minimarket saja harus naik angkot setengah jam! Belum lagi angkotnya bau solar campur ikan asin!"
Ya, satu bulan tinggal di daerah pelosok membuat Elena berdua mulai terbiasa dengan itu semua. Kalau Bella, jangan ditanya. Ia sudah pernah tinggal di Indonesia cukup lama.
Bella memutar bola matanya malas, kembali mengayunkan raket nyamuknya. "Ele, kita ini sedang sembunyi. Kamu lupa ada kakek-kakek super kaya yang sedang memburumu? Daripada kamu ditangkap lalu disuruh melayani kakek itu seumur hidup, lebih baik kamu berteman dengan ayam jago Pak RT!"
"Tapi aku ini sultan, Bella! Masa sultan mandinya pakai air gayung yang ada jentik nyamuknya?!" protes Elena tidak terima. Bibirnya mengerucut maju sejauh lima sentimeter.
"Syukuri saja, Ele. Besok pagi kubelikan obat jentik nyamuk," sahut Bella abai. "Sudah, cepat tidur."
Suasana kembali hening selama beberapa menit. Bella baru saja memejamkan mata saat tiba-tiba terdengar suara isakan tertahan dari ranjang sebelah.
Hiks... hiks...
Bella langsung membuka mata lebar-lebar. Ia menoleh perlahan ke arah Elena. Sahabatnya itu kini sedang menangis tersedu-sedu sambil menggigit ujung selimut.
"Astaga! Elena, kamu kenapa malah menangis begini? Kesurupan penunggu pohon mangga di depan?!" pekik Bella panik, langsung mendekati Elena.
"Bella... hiks... aku mau makan..." rengek Elena, air matanya bercucuran membasahi pipi.
Bella mengelus dadanya lega.
"Ya ampun, bilang dong kalau lapar! Bikin kaget saja. Kamu mau makan apa? Tadi sore aku beli mie instan rasa soto ayam. Mau kumasakkan pakai telur setengah matang?"
Elena menggeleng keras, tangisannya malah semakin kencang. "Tidak mau mi instan! Itu makanan rakyat jelata! Aku tidak mau!"
Dahi Bella berkerut. "Lalu kamu mau makan apa, Nyonya Sultan?"
"Aku mau makan truffle mushroom yang dipanggang pakai butter," isak Elena tersendat-sendat.
Mulut Bella sedikit terbuka, otaknya loading. "Di kebun belakang rumah paman ada jamur tiram, besok aku masakkan untukmu."
"Bukan jamur tiram, Bella! Tapi truffle!" jerit Elena frustrasi sambil memukul-mukul kasur. "Dan aku juga mau caviar! Caviar beluga dari Rusia! Lalu untuk pencuci mulutnya, aku mau croissant asli dari bakery bintang lima di Paris yang pinggirannya kering tapi dalamnya selembut awan!"
Bella melongo tak percaya. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Elena, memastikan sahabatnya itu tidak sedang demam tinggi.
"Ele, kamu sadar tidak kita ada di mana sekarang? Kita di desa! Desa! Boro-boro truffle mushroom, tukang sayur lewat sini saja paling mewah cuma bawa kangkung sama tempe mendoan! Lagipula sejak kapan seleramu jadi begini? Biasanya makan ayam geprek level sepuluh saja kamu sudah sujud syukur!"
"Aku tidak peduli!" Elena menangis makin meraung-raung, meronta-ronta di atas kasur kapuk seperti anak TK yang tidak dibelikan mainan. "Aku mau caviar, Bella! Kalau tidak makan caviar malam ini, rasanya aku bisa mati! Pesankan lewat ojek online, ya? Please."
"Ojek online mana yang mau menyeberang benua bawa caviar jam dua belas malam, Elena Anastasia?!" bentak Bella, mulai kehabisan kesabaran. "Kamu ini kenapa? Aneh sekali!"
Elena mengabaikan omelan Bella dan terus menangis tersedu-sedu. Namun, di tengah tangisan histerisnya meminta makanan super mewah yang mustahil didapat itu, tiba-tiba Elena terdiam kaku.
Wajahnya yang memerah karena menangis mendadak berubah pucat pasi.
"Ele? Kamu kenapa?" tanya Bella curiga melihat perubahan drastis sahabatnya.
Elena membelalakkan mata sembari menelan ludahnya susah payah. "Bella..."
"Jangan bilang sekarang kamu mau minta rendang daging dinosaurus?"
Bukannya menjawab, Elena malah menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Ia langsung melompat dari atas kasur, berlari secepat kilat menerobos pintu kamar, dan menuju kamar mandi kecil di area belakang rumah.
Terdengar suara muntahan yang sangat hebat dari dalam sana.
"Howek! howek!"
Bella berdiri terpaku di dalam kamar, memeluk raket nyamuknya dengan raut wajah kebingungan yang teramat sangat. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memproses rentetan kejadian absurd malam ini.
Minta makanan super mewah di tengah malam buta. Menangis histeris tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang, muntah-muntah hebat.
"Elena kamu kenapa, sih? Masuk angin?" gumam Bella pelan.
Sedetik kemudian, sebuah pemikiran gila melintas bebas di otak Bella. Matanya membulat sempurna, rahangnya seolah hampir jatuh ke lantai.
"Tunggu sebentar," gumam Bella, menatap horor ke arah pintu kamar mandi. "Mual? Muntah? Ngidam aneh yang tidak masuk akal? Jangan-jangan, si kakek tua itu..."
Bella langsung menelan ludahnya dengan sangat susah payah, membayangkan skenario paling mengerikan yang bisa menimpa sahabat itu.
*
*
Malam itu juga, berbekal senter ponsel dan jaket seadanya, Bella nekat membawa Elena yang masih pucat pasi ke rumah bidan desa. Perjalanan jauh melewati jalan tanah di tengah malam tak menyurutkan niat Bella.
Toh, sudah tugas bidan siaga dua puluh empat jam, bukan?
Setibanya di sana, Bidan Ningrum yang terpaksa bangun dengan daster berlapis jas putih langsung memeriksa Elena yang terbaring lemas.
"Duh, perutku rasanya seperti diaduk-aduk, Bu. Tolong berikan obat masuk angin yang paling ampuh. Yang impor dan berkualitas ya kalau ada," keluh Elena sambil memegangi perutnya yang mual.
Bella memutar bola matanya kesal. "Banyak gaya kamu! Dikasih tolak angin seribuan juga sembuh."
Bidan Ningrum hanya tersenyum maklum. Setelah memeriksa perut Elena dengan saksama dan melihat garis pada alat tes urine darurat, senyum wanita paruh baya itu semakin lebar dan hangat.
"Selamat ya, Mbak," ucap Bidan Ningrum lembut sembari mencuci tangannya di wastafel. "Masuk angin apanya? Ini mah usia kehamilannya sudah masuk empat minggu. Dijaga ya kandungannya, jangan kecapekan."
Hening sesaat. Suara jangkrik di luar jendela bahkan sampai terdengar jelas.
"A—apa?!" pekik Elena dan Bella bersamaan.
"Aku hamil?!" Elena langsung bangkit. "Bu Bidan jangan mengada-ada, ya! Alat tesnya pasti kedaluwarsa, kan? Atau stetoskopnya rusak?"
"Saya tidak sedang bercanda, Mbak."
Wajah Elena mendadak semakin pucat. Ingatannya langsung tersedot pada malam panjang di hotel bintang lima bersama si pria tua sebulan yang lalu.
Di sisi lain, rahang Bella nyaris jatuh ke lantai. Ia menepuk jidatnya keras-keras.
"Pantas saja malam-malam begini dia ngidam makanan sultan! Minta caviar sama truffle mushroom segala. Ternyata benih si kakek kaya raya itu langsung jadi! Gila, jos beneran tuh aki-aki!" batin Bella.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!