NovelToon NovelToon

Sistem Supir Angkot

Episode 1 : Sisah Asap Rokok Di Terminal

Aroma solar, aspal basah, dan bau pesing berbaur menjadi satu di bawah langit Terminal Baranangsiang, Bogor, yang mulai meredup. Farrel menyandarkan kepalanya di setir mobil angkotnya yang sudah kusam warnanya. Tangannya yang kasar dan hitam karena oli meraba kantong celana jinnya yang bolong.

Hanya ada dua benda di sana: selembar uang sepuluh ribu rupiah yang kumal dan sebatang rokok kretek murahan.

"Setoran kurang lima belas ribu, Rel. Lu mau cari mati?" Suara serak dan berat mendadak menggedor kaca pintu angkot.

Itu Bang Jay, mandor pangkalan yang bertubuh gempal dengan tato dekoratif yang sudah pudar di lengannya.

Di belakang Jay, berdiri dua orang pemuda berseragam ormas loreng oranye-hitam yang sedang memutar-mutar kunci motor dengan angkuh.

"Tolonglah, Bang. Hari ini sepi banget. Penumpang pada naik ojek online."

"Ini aja cuma sisa buat makan nasi bungkus saya nanti malam," kata Farrel, suaranya parau.

Matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam. Sejak jam lima pagi ia narik, perutnya baru diganjal sepotong gorengan dingin.

"Gak peduli gua! Lu denger ya, anak haram," sahut salah satu anggota ormas bernama Dika, melangkah maju sambil meludah ke tanah.

"Anak-anak pangkalan bilang lu tadi siang dapet carteran ke Sentul tapi gak lapor. Lu korupsi uang pangkalan, kan?!"

"Fitnah itu, Bang! Demi Allah, saya gak ada carteran!" Farrel panik.

Ini fitnah ketiga minggu ini yang dilemparkan padanya karena ia menolak memberikan "uang jago" tambahan pada ormas tersebut.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Farrel, membuatnya terhuyung keluar dari pintu angkot. Belum sempat ia berdiri, sebuah tendangan bersepatu laras mendarat tepat di rusuknya.

Farrel tersungkur di atas aspal yang tergenang air hujan bercampur oli.

"Lu berani bohong, hah?!" Dika menginjak punggung Farrel, menekannya ke aspal dingin.

"Supir miskin kayak lu tuh pantesnya mati aja!"

Di sela-sela rasa sakit yang menjalar di dadanya, pandangan Farrel mengabur. Orang-orang di sekitar terminal hanya menonton. Beberapa pedagang asongan memalingkan wajah, ketakutan pada seragam loreng itu.

Di kota ini, jika kau miskin, suaramu tak lebih berharga dari dengung lalat di tempat sampah.

Bugh! Bugh!

Dua tendangan terakhir di kepala membuat kesadaran Farrel benar-benar berada di ambang batas. Mulutnya mengeluarkan darah segar, membasahi uang sepuluh ribu yang tadi ia pegang erat.

Saat pandangannya mulai menggelap dan dadanya terasa sesak seolah akan mati, sebuah suara asing, dingin, dan bernada mekanis tiba-tiba bergema langsung di dalam batok kepalanya.

【 Ding! Mendeteksi gelombang otak target berada di titik kritis keputusasaan. 】

【 Kriteria kelayakan terpenuhi: Miskin, tertindas, memiliki dendam mendalam, dan memiliki gen fisik yang murni. 】

【 Sistem Afeksi Kekayaan (Rich Goddess System) berhasil dipasang! 】

【 Mengikat Jiwa Pengguna: Farrel Aditama. 】

【 Memulihkan cedera fisik pengguna... Proses selesai dalam 3 detik. 】

Wuss!

Sebuah aliran hangat yang sangat kuat tiba-tiba menjalar dari tulang belakang Farrel ke seluruh ujung sarafnya.

Rasa sakit di rusuknya hilang seketika. Kepalanya yang tadinya pening mendadak menjadi sangat jernih. Bahkan, otot-otot di tubuhnya yang semula kurus kering, perlahan menegang dan memadat secara instan di balik baju kausnya yang robek.

【 Ding! Hadiah Paket Pemula berhasil dikirim. 】

• 1. Saldo Sistem Tunai Khusus Wanita: Rp 10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah)

[Catatan: Hanya dapat dibelanjakan untuk target wanita dengan tingkat afeksi di bawah 90%].

• 2. Ramuan Penguat Tubuh Tingkat Rendah (Telah otomatis diintegrasikan).

• 3. Poin Atribut Awal: 10 Poin (Silakan distribusikan). Default: Dialokasikan ke Kekuatan dan Stamina.

Farrel membuka matanya. Pandangannya yang tadi kabur kini menjadi sangat tajam, bahkan ia bisa melihat helai rambut di lengan Dika yang masih menginjak punggungnya.

"Sistem...?"

bisik Farrel dalam hati, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Eh, ini anak malah bisik-bisik. Pingsan lu, nyet?!"

Dika mengangkat kakinya, bersiap memberikan injakan terakhir ke wajah Farrel.

Namun, sebelum kaki itu turun, tangan kanan Farrel bergerak secepat kilat.

Ia mencengkeram pergelangan kaki Dika dengan kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Cengkeraman itu begitu kuat hingga terdengar bunyi gemertak dari tulang muda di pergelangan kaki sang anggota ormas.

"Arghhh!! Kaki gua! Lepas, bajingan!"

Dika berteriak histeris, wajahnya mendadak pucat pasi.

Farrel bangkit berdiri perlahan. Tubuhnya yang biasanya membungkuk kini tegak lurus, memancarkan aura intimidasi yang pekat. Tatapan matanya yang semula layu kini sedingin es di puncak Gunung Salak.

"Siapa yang lu sebut supir miskin gak berguna?"

tanya Farrel dengan nada rendah, namun sanggup membuat Bang Jay dan satu anggota ormas lainnya merinding ketakutan.

Hari itu, di bawah gerimis kota Bogor, roda nasib Farrel tidak lagi berputar di atas aspal jalanan, melainkan mulai melindas siapa saja yang pernah menginjaknya.

Episode: 2

"Lepas! Sialan, tangan lu terbuat dari besi apa, hah?!"

Dika menjerit, wajahnya yang sangar kini berubah pucat menahan rasa sakit.

Cengkeraman Farrel di pergelangan kakinya terasa seperti tangan baja yang siap meremukkan tulang.

Bang Jay dan satu anggota ormas lainnya, Dani, tertegun di tempat. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Farrel si supir angkot ringkih yang biasanya pasrah menerima makian dan tendangan kini berdiri tegak dengan tatapan mata yang begitu mengintimidasi.

Aura di sekitar tubuh Farrel mendadak terasa dingin dan menekan, membuat bulu kuduk mereka meremang di tengah gerimis Bogor yang kian menderu.

Brak!

Tanpa membuang kata, Farrel menyentakkan tangannya. Tubuh Dika yang berbobot hampir delapan puluh kilogram itu terlempar ke samping, menghantam bodi samping angkot hingga menimbulkan penyok yang cukup dalam.

Dika mengerang kesakitan, memegangi pinggangnya yang membentur besi tua itu.

"Farrel! Lu udah gila, ya?!"

Bang Jay membentak, mencoba menyembunyikan getaran ketakutan di suaranya.

Ia mencabut sebilah pisau belati dari balik pinggangnya.

"Berani lu ngelawan kami? Lu gak bisa narik lagi di Bogor, hah?!"

Farrel tidak menjawab. Di dalam kepalanya, sebuah layar transparan berwarna biru muda melayang, menampilkan status terbarunya.

[Status Pengguna]

• Nama: Farrel Aditama

• Kekuatan: 18 (Rata-rata manusia normal: 10)

• Kecepatan: 15 (Rata-rata manusia normal: 10)

• Stamina: 20 (Rata-rata manusia normal: 10)

• Saldo Khusus Wanita: Rp 10.000.000.000

• Saldo Pribadi: Rp 10.000 (Uang kumal di saku)

Efek dari Ramuan Penguat Tubuh Tingkat Rendah benar-benar nyata. Farrel merasa setiap otot di tubuhnya dipenuhi oleh energi yang meledak-ledak.

Rasa lapar yang tadinya menyiksa perutnya kini menguap begitu saja, digantikan oleh adrenalin yang berpacu cepat.

"Gua udah cukup sabar selama ini, Bang Jay," kata Farrel, melangkah maju setapak demi setapak.

 Sandal jepitnya yang tipis menapak mantap di atas genangan air.

"Setiap hari gua setor tepat waktu. Tapi lu pada selalu nyari alasan buat meras gua. Hari ini, gua gak akan kasih sepeser pun."

"Kurang ajar! Dani, pukul dia!" teriak Bang Jay memberi perintah.

Dani, yang memegang sebatang balok kayu, langsung mengayunkannya ke arah kepala Farrel.

Gerakan itu di mata manusia biasa mungkin cepat, namun di mata Farrel yang telah ditingkatkan oleh sistem, gerakan Dani terasa sangat lambat seperti video yang diputar dengan kecepatan setengah.

Farrel dengan mudah memiringkan kepalanya ke kiri, menghindari hantaman balok kayu tersebut. Sebelum Dani sempat menarik kembali senjatanya, tangan kiri Farrel melesat maju, mencengkeram kerah jaket loreng Dani,

sementara tangan kanannya mengepal kuat dan menghantam tepat di rahang bawah pria itu.

Bugh!

Suara hantaman daging bertabrakan dengan tulang terdengar begitu solid. Dani langsung ambruk ke tanah, matanya mendelik ke atas sebelum akhirnya pingsan seketika dengan air liur bercampur darah yang menetes dari sudut mulutnya.

Satu pukulan bersih yang mematikan.

Melihat rekannya tumbang dalam satu detik, nyali Bang Jay langsung ciut.

Belati di tangannya bergetar hebat.

"Lu... lu bukan Farrel..."

Farrel menatap Bang Jay dengan dingin.

 "Pergi dari sini. Dan kasih tahu ketua kalian... mulai hari ini, Terminal Baranangsiang bukan lagi ladang duit haram kalian."

Tanpa perlu diperintah dua kali, Bang Jay segera memapah Dika yang masih merintih kesakitan, lalu mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan pangkalan angkot, mengabaikan Dani yang terkapar pingsan di atas aspal.

Farrel menghela napas panjang. Ketegangan di tubuhnya perlahan mereda. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit lebih bersih dan kokoh dari sebelumnya.

Sistem ini benar-benar nyata. Ia bukan lagi Farrel yang lemah.

Namun, perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Kekuatan fisik yang besar ternyata membutuhkan asupan energi yang besar pula.

Farrel teringat uang sepuluh ribu rupiah miliknya yang terjatuh di genangan air. Ia memungutnya, mengibaskan sisa air, lalu melangkah keluar dari area terminal yang mulai sepi menuju sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menyajikan soto kuning khas Bogor.

Aroma kuah santan kuning yang kaya rempah dan uap panas dari daging yang direbus langsung menyapa indra penciumannya, membuat air liurnya menetes.

"Eh, Farrel. Baru kelar narik, Rel?" Sebuah suara lembut menyapa dari balik etalase kaca warung.

Seorang gadis berusia sekitar 20 tahun sedang mengelap mangkuk dengan cekatan. Namanya Nisa.

Dia adalah anak dari pemilik warung soto ini. Nisa memiliki wajah yang manis khas gadis Sunda, dengan kulit kuning langsat dan mata bulat yang jernih.

Rambutnya yang hitam panjang diikat ekor kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang.

 Di mata Farrel, Nisa selalu menjadi oase di tengah kerasnya kehidupan terminal, meskipun Farrel tahu diri untuk tidak pernah menyatakan perasaannya karena kondisinya yang miskin mampus.

"Iya, Nis. Mau makan, tapi..." Farrel menunjukkan uang sepuluh ribu rupiahnya yang basah dengan senyum canggung.

"Dapatnya cuma segini. Bisa dapet nasi pakai kuah sama kerupuk aja gak?"

Nisa menatap uang kumal itu, lalu menatap wajah Farrel yang tampak memiliki beberapa bekas goresan samar (sisa pengeroyokan yang belum sembuh total dari sistem).

Tatapan mata Nisa berubah menjadi penuh rasa iba, namun bercampur dengan ketulusan yang mendalam.

"Sini duduk dulu, Rel," kata Nisa sambil tersenyum manis, lesung pipitnya terlihat di pipi kirinya.

"Gak usah dipikirin uangnya.

"Kebetulan hari ini warung lagi mau tutup, dan masih ada sisa daging lumayan banyak. Biar aku buatin yang spesial buat kamu."

Farrel duduk di bangku panjang kayu. Tak lama kemudian, Nisa datang membawa semangkuk besar soto kuning yang penuh dengan potongan daging sapi, babat, dan empal yang empuk, lengkap dengan sepiring nasi putih yang mengepul hangat.

"Makan yang banyak, Rel.

"Kamu kelihatan capek banget hari ini,"

ucap Nisa lembut, duduk di bangku seberang Farrel sambil menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Farrel dengan pandangan teduh.

Saat itulah, suara mekanis sistem kembali berdering di otak Farrel, mengejutkannya hingga hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang.

【 Ding! Mendeteksi target wanita potensial di dekat Pengguna. 】

【 Analisis Target: Nisa Amanda (20 tahun). Tingkat Kecantikan: 85/100 (Sangat Cantik/Gadis Desa). Status: Perawan. Tingkat Kesukaan (Favorability) Awal terhadap Pengguna: 45% (Memiliki rasa simpati dan ketertarikan terpendam). 】

【 Misi Sistem Diaktifkan: Tingkatkan afeksi Nisa Amanda hingga mencapai 60% dalam waktu 24 jam. 】

【 Aturan Penggunaan Saldo: Pengguna dapat membelanjakan uang sistem senilai Rp 10.000.000.000 hanya untuk kepentingan target. Setiap kenaikan 5% afeksi, Pengguna akan mendapatkan hadiah uang tunai pribadi senilai Rp 50.000.000 yang langsung masuk ke rekening bank pribadi. 】

Farrel tertegun. Jantungnya berdegup kencang saat menatap Nisa yang sedang tersenyum di hadapannya.

Sepuluh miliar rupiah siap digunakan, dan jika ia berhasil membuat Nisa menyukainya lebih dalam, ia akan mendapatkan uang asli untuk dirinya sendiri!

"Nis..." Farrel menelan ludah, mencoba menenangkan suaranya yang mendadak gugup.

"Kamu... lagi butuh sesuatu gak sekarang? Maksudku, ada yang lagi kamu pengen banget tapi belum kesampaian?"

Nisa sedikit terkejut dengan pertanyaan Farrel yang tiba-tiba. Ia sempat terdiam, lalu menghela napas pendek yang terdengar agak berat, membuat senyum manisnya sedikit memudar.

"Kenapa nanya gitu, Rel?" Nisa terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Tapi kalau ditanya jujur... sebenarnya aku lagi pusing."

"Ibu besok harus bayar tunggakan sewa tempat warung ini ke pemilik ruko sebesar lima belas juta. Kalau gak dibayar besok, tempat ini mau disegel dan diganti jadi toko kelontong sama pemiliknya."

"Aku bingung harus cari pinjaman ke mana lagi..."

Mata Nisa berkaca-kaca saat menceritakan hal itu. Warung soto ini adalah satu-satunya mata pencaharian keluarganya setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu.

Farrel merasakan dadanya bergetar. Ini adalah kesempatan emas yang diberikan oleh sistem, sekaligus kesempatannya untuk membalas kebaikan Nisa yang selalu tulus membantunya saat kelaparan.

"Jangan nangis, Nis," kata Farrel, tangannya bergerak secara refleks menggenggam jemari Nisa yang terasa halus namun sedikit kasar karena sering bekerja di dapur.

 "Masalah sewa ruko itu... biar aku yang selesaikan sekarang juga."

Episode: 3

Nisa tertegun.

Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Farrel yang menggenggam jemarinya. Namun, akal sehatnya segera mengambil alih.

Ia menatap Farrel dengan pandangan tidak percaya, bahkan mengira supir angkot di hadapannya ini sedang berdelusi karena terlalu stres memikirkan kerasnya hidup di terminal.

"Rel... kamu jangan bercanda. Ini bukan uang seratus atau dua ratus ribu. Ini lima belas juta rupiah,"

kata Nisa pelan, perlahan menarik tangannya kembali dengan raut wajah cemas.

"Aku tahu kamu berniat baik mau menghibur aku, tapi pliss, jangan main-main sama masalah ini. Aku lagi bener-bener pusing."

Farrel tidak menyalahkan reaksi Nisa. Di mata semua orang, dia hanyalah Farrel yang miskin. Jangankan lima belas juta, uang lima belas ribu saja dia harus bertaruh nyawa dengan ormas pangkalan.

"Aku gak bercanda, Nis. Tunggu sebentar," kata Farrel tenang.

Dalam pikirannya, Farrel segera berkomunikasi dengan sistem.

"'Sistem, gimana cara gua makai uang sepuluh miliar itu? Gua gak punya kartu debit atau rekening yang isinya segitu!'

【 Ding! Menjawab Pengguna. Sistem telah membuatkan Rekening Bayangan Internasional yang terikat dengan sidik jari dan wajah Pengguna.Pengguna dapat melakukan transfer instan melalui aplikasi m-banking tiruan yang telah terpasang di ponsel Pengguna, atau menggunakan fitur penarikan tunai tak terlihat jika diperlukan. 】

Farrel segera meraba kantong celananya yang lain, mengeluarkan ponsel Android jadulnya yang layarnya sudah retak seribu.

Benar saja, di layar utama ponselnya kini muncul sebuah ikon aplikasi emas berlambang dewi keberuntungan dengan nama 'Goddess Pay'.

Tanpa ragu, Farrel membuka aplikasi tersebut. Layar ponselnya menampilkan sisa saldo yang membuat jantungnya berdegup kencang: Rp 10.000.000.000,00.

"Nis, sebutin nomor rekening kamu atau nomor rekening ibu kamu," ujar Farrel sambil menatap tajam ke mata Nisa.

Tatapannya begitu penuh keyakinan hingga membuat Nisa sedikit ragu untuk menolak.

"Buat apa, Rel? Kamu jangan bikin aku makin bingung..."

"Sebutin aja, Nis. Gak ada ruginya, kan? Kalau dalam dua menit uangnya gak masuk, kamu boleh anggap aku gila dan usir aku dari sini," potong Farrel dengan nada yang begitu tegas namun lembut.

Nisa yang merasa terhipnotis oleh perubahan sikap Farrel yang mendadak sangat dominan, akhirnya pasrah.

Dengan tangan sedikit bergetar, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar kertas kecil berisi nomor rekening Bank Mandiri atas nama ibunya, Siti Aminah.

"Ini... rekening Ibu."

Farrel dengan cepat mengetik nomor rekening tersebut di aplikasi Goddess Pay. Ia memasukkan nominal transfer: Rp 30.000.000,00.

Farrel sengaja melebihkan nominalnya dua kali lipat dari biaya sewa ruko. Dia ingin memastikan Nisa dan ibunya memiliki modal lebih untuk mengembangkan warung soto ini tanpa harus memikirkan utang lain.

Setelah menekan tombol konfirmasi, Farrel menempelkan ibu jarinya ke sensor sidik jari di bagian belakang ponselnya yang sudah agak longgar.

【 Ding! Transfer Berhasil. Saldo Khusus Wanita berkurang Rp 30.000.000. Sisa Saldo: Rp 9.970.000.000. 】

Hanya dalam hitungan detik setelah notifikasi sistem itu muncul, ponsel Nisa yang tergeletak di atas meja bergetar hebat.

 Sebuah SMS notifikasi dari bank masuk. Nisa dengan malas membukanya, mengira itu hanya SMS spam dari operator.

Namun, begitu matanya membaca deretan angka di layar, seluruh tubuh Nisa mendadak kaku. Matanya membelalak sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan.

[Mandiri SMS Notifikasi]

Dana masuk sebesar Rp 30.000.000,00 dari REK UTAMA SYSTEM. Saldo Anda saat ini: Rp 30.450.000,00.

"I-ini... ini gak mungkin..."

Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya menetes tanpa bisa dibendung.

Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja.

"Tiga puluh juta? Rel... ini uang dari mana?! Kamu... kamu gak melakukan sesuatu yang ilegal, kan? Kamu gak ngerampok bank, kan?!"

Ketakutan Nisa sangat beralasan. Bagaimana mungkin seorang supir angkot yang beberapa menit lalu mengemis nasi seharga sepuluh ribu, tiba-tiba bisa mengirimkan uang tiga puluh juta rupiah dalam sekejap mata?

Farrel tersenyum tipis, meraih kembali jemari Nisa dan menggenggamnya erat untuk memberikan ketenangan.

"Nis, dengerin aku. Uang ini seratus persen halal dan legal. Anggap aja aku dapat rezeki nomplok dari hasil investasi online yang selama ini aku pelajari diam-diam."

"Aku gak mau lihat kamu nangis lagi karena masalah uang. Bayar ruko itu besok, dan sisanya pakai buat modal Ibu."

Nisa menatap Farrel dengan pandangan yang benar-benar berbeda. Rasa iba dan kasihan yang selama ini ia miliki untuk Farrel runtuh, digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa, rasa aman, dan getaran aneh yang mendalam di lubuk hatinya.

Pria di hadapannya ini bukan lagi Farrel si supir angkot yang malang, melainkan seorang pria sejati yang menjadi pelindungnya di saat paling kritis.

【 Ding! Tingkat Kesukaan (Favorability) Nisa Amanda terhadap Pengguna naik dari 45% menjadi 65%! Misi Berhasil! 】

【 Kenaikan total: 20%. Menghitung Hadiah Tunai Pribadi Pengguna... 】

【 Ding! Selamat! Pengguna mendapatkan uang tunai pribadi sebesar Rp 200.000.000 (Dua Ratus Juta Rupiah) yang telah ditransfer ke rekening bank BCA pribadi Pengguna yang baru dibuat! 】

【 Ding! Karena tingkat kesukaan target telah melewati 60%, target kini berada dalam fase 'Terpikat'. Sistem membuka opsi interaksi tingkat lanjut (Intimasi/Bercocok Tanam) untuk memicu Mega Bonus! 】

Bzzzt!

Ponsel di saku Farrel kembali bergetar, kali ini sebuah SMS asli dari Bank BCA masuk ke nomor pribadinya, menyatakan bahwa saldo sebesar 200 juta rupiah telah berhasil masuk.

Farrel hampir saja berteriak kegirangan. Dua ratus juta rupiah uang nyata yang bisa ia gunakan untuk dirinya sendiri!

Nisa yang masih menangis haru tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Tanpa memedulikan keadaan sekitar warung yang mulai sepi karena gerimis yang kian lebat, gadis itu langsung menghambur ke pelukan Farrel.

Ia mendekap tubuh Farrel dengan sangat erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang Farrel yang kini terasa begitu kokoh.

"Terima kasih, Rel... Terima kasih banyak... Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu pakai apa," bisik Nisa di sela tangisnya, napasnya yang hangat menerpa leher Farrel.

Aroma tubuh Nisa yang wangi alami bercampur sedikit aroma sabun mandi langsung menyeruak masuk ke hidung Farrel.

Pelukan itu begitu erat hingga Farrel bisa merasakan kelembutan dua gundukan kenyal di dada Nisa yang menekan pas di dadanya.

 Gairah muda Farrel yang selama ini terpendam mendadak bergejolak hebat di bawah pengaruh Ramuan Penguat Tubuh dari sistem yang membuat staminanya berada di puncak performa.

Farrel membalas pelukan itu, mengusap rambut hitam Nisa yang halus dengan lembut.

"Kamu gak perlu balas apa-apa, Nis. Cukup selalu ada di samping aku."

Nisa mendongak, menatap mata Farrel dengan tatapan sayu yang penuh dengan hasrat tersembunyi dan kepasrahan total.

 Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Deru napas mereka saling memburu, berpacu dengan suara rintik hujan yang kian menderu di luar tenda warung yang tertutup rapat.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!