NovelToon NovelToon

Terbelenggu Takdir

EPISODE 1 : MALAM JAHANAM DI RUMAH WIJAYA

Malam telah larut membungkus kota Jakarta. Jarum jam dinding di lorong lantai dua rumah megah milik keluarga Wijaya sudah bertengger tepat di angka sebelas malam. Suasana begitu sunyi, seolah-olah seluruh penghuni rumah sudah terlelap ke dalam mimpi mereka masing-masing. Lampu-lampu koridor utama telah diredupkan, menyisakan keremangan yang dingin dan mencekam.

Di dalam kamarnya, Kalea Azzahra Putri Wijaya sudah tertidur pulas. Gadis berusia 24 tahun yang sehari-hari bekerja keras sebagai General Manager di Hotel Grand Luminance itu benar-benar kelelahan. Tekanan pekerjaan di hotel bintang lima tempatnya memimpin ratusan staf membuatnya langsung jatuh terlelap begitu menyentuh kasur. Malam itu, Kalea tidur tanpa mengenakan jilbab hitam yang biasa membungkus kepalanya di luar rumah. Ia mengenakan baju tidur satin tipis berwarna putih tulang tanpa lengan. Rambut hitamnya yang panjang, tebal, dan bergelombang terurai bebas di atas bantal, membingkai wajahnya yang cantik alami. Kulit leher dan lengannya yang putih bersih tampak kontras di bawah siraman cahaya bulan yang menerobos masuk dari sela-sela gorden jendela.

Tepat ketika jam dinding berdentang halus menunjukkan pukul dua belas malam, sebuah pintu kamar di sebelah kamar Kalea terbuka dengan sangat perlahan.

Seorang pria bertubuh jangkung keluar dari sana. Pria itu adalah Fandi Achmad Mahendra, suami dari kakak tertua Kalea. Fandi, yang berusia 31 tahun dan bekerja sebagai seorang Manajer Keuangan di sebuah perusahaan pialang saham, mengendap-endap di kegelapan koridor. Langkah kakinya sangat pelan, nyaris tak terdengar. Matanya bergerak liar, memastikan situasi rumah benar-benar aman.

Fandi sudah lama mengincar Kalea. Di matanya, adik iparnya yang bermata biru itu memiliki daya tarik yang jauh lebih memikat dibandingkan istrinya sendiri. Sifat Kalea yang tegas dan sulit didekati justru membuat hasrat bejat Fandi semakin menggebu-gebu.

Fandi berhenti di depan pintu kamar Kalea. Tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah kunci duplikat yang sudah lama ia siapkan secara diam-diam. Klik. Suara kunci berputar terdengar sangat tipis. Fandi mendorong pintu itu, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar Kalea, tidak lupa menguncinya kembali dari dalam.

Langkah kaki Fandi mendekati ranjang berukuran king size tempat Kalea terbaru. Begitu sampai di sisi tempat tidur, napas Fandi seketika memburu. Di bawah temaram lampu tidur, ia disuguhi pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat. Ia menatap leher putih Kalea yang jenjang, lekuk tubuh adik iparnya yang tercetak di balik baju tidur satin, serta hamparan rambut panjangnya yang indah. Fandi menelan ludahnya dengan kasar. Tatapannya berubah menjadi sangat mesum dan penuh nafsu, seakan-akan ia siap menerkam singa betina yang sedang tertidur itu sekarang juga.

Tanpa membuang waktu lagi, Fandi merangkak naik ke atas ranjang. Dengan perlahan namun pasti, ia memosisikan tubuhnya di atas tubuh Kalea, menindih wanita itu yang masih terlelap. Fandi mendekatkan wajahnya ke leher Kalea, menghirup aroma tubuh Kalea yang wangi, lalu berbisik dengan suara serak di telinga Kalea, "Kalea... Kamu cantik sekali malam ini..."

Namun, di balik kegelapan di luar kamar, sebuah sepasang mata tengah mengawasi pergerakan Fandi sejak awal.

Gadis itu adalah Shinta Kirana Wijaya, adik bungsu Kalea yang berusia 23 tahun. Shinta bekerja sebagai seorang Content Creator dan Influencer kecantikan yang sangat terobsesi dengan citra kemewahan. Shinta berdiri di balik celah pintu kamar Kalea yang ternyata sengaja ia biarkan sedikit merenggang sebelum Fandi masuk.

Melihat kakak iparnya sedang menindih Kalea yang tertidur sangat pulas, sebuah senyuman sinis dan licik mengembang di bibir Shinta. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Shinta selalu membenci Kalea. Ia benci karena Kalea memiliki mata biru yang indah, ia benci karena Kalea bisa sukses menjadi General Manager hotel di usia muda, ia benci Kalea lebih cantik daripada dirinya dan ia benci karena Kalea selalu bersikap tegar seolah tidak punya kelemahan.

Shinta segera berbalik. Dengan langkah cepat namun senyap, ia menuju ke kamar kakaknya, Fitri Amelia Wijaya, yang berusia 29 tahun dan bekerja sebagai Dokter Spesialis Jantung yang angkuh. Tidak hanya membangunkan Fitri, Shinta juga berlari ke lantai bawah untuk membangunkan kedua orang tua mereka, Hermawan Wijaya dan Sarah Wijaya.

"Mbak Fitri! Ma! Pa! Bangun! Cepat ikut Shinta sekarang ke kamar Kalea!" bisik Shinta setengah berteriak dengan nada panik yang dibuat-buat saat mereka semua sudah berkumpul di koridor.

"Ada apa sih, Shinta? Malam-malam begini bikin ribut!" gerutu Sarah, sang ibu, sambil mengucek matanya.

"Ini darurat, Ma! Ini soal Mas Fandi dan Kalea! Cepat!" seru Shinta memprovokasi.

Mendengar nama suaminya disebut bersamaan dengan nama Kalea, raut wajah Fitri langsung berubah tegang. Mereka berempat bergegas menuju kamar Kalea.

Di dalam kamar, Fandi baru saja memiringkan wajahnya, berniat untuk mencium bibir Kalea yang masih setengah sadar karena merasa tubuhnya mendadak terasa sangat berat.

BRAAAKKK!

Pintu kamar didobrak dengan sangat keras oleh Hermawan Wijaya. Pintu itu terbuka lebar, menampakkan sosok Hermawan yang murka, Sarah yang terkejut, Fitri yang langsung pucat pasi, dan Shinta yang berdiri di paling belakang dengan tatapan penuh kemenangan.

Pemandangan di atas ranjang itu seketika meledakkan amarah di dalam kamar. Fandi langsung terlonjak kaget dan menjauh dari tubuh Kalea, sementara Kalea yang baru saja terbangun karena suara gebrakan pintu langsung terdengar linglung.

"MAS FANDI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Fitri histeris. Suaranya melengking memecah keheningan malam.

Fitri berlari kesetanan ke arah ranjang. Tanpa ampun, ia langsung menjambak rambut suaminya sendiri, menariknya hingga Fandi jatuh tersungkur ke lantai.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fandi. "Kamu keterlaluan, Mas Fandi! Kamu tega mengkhianati aku dengan perempuan murahan ini?!" jerit Fitri sambil menangis histeris.

Kalea yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, duduk di atas kasur sambil memegangi kepalanya yang pening. Matanya yang biru berkedip beberapa kali, menatap kekacauan di depannya dengan bingung. "Ada apa ini? Mbak Fitri, kenapa teriak-teriak di kamarku?" tanya Kalea dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Mendengar pertanyaan Kalea, Sarah Anita Wijaya langsung melangkah maju dengan wajah memerah menahan amarah yang meluap-luap. Sebelum Kalea sempat membela diri atau turun dari ranjang, Sarah sudah mencengkeram jilbab yang ada di atas nakas lalu melemparnya, kemudian tangannya beralih menjambak rambut panjang Kalea dengan sangat kasar.

PLAK!

Tamparan yang jauh lebih keras dari yang diterima Fandi bersarang di pipi mulus Kalea.

"Dasar anak haram tidak tahu diri!" makian Sarah menggelegar. "Kamu menggoda kakak iparmu sendiri di dalam rumah ini?! Hah?! Memang benar-benar darah kotor yang mengalir di tubuhmu itu tidak pernah bisa bohong! Kamu wanita murahan, Kalea!"

"Aw! Sakit, Ma! Apa-apaan ini?!" Kalea meringis kesakitan. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan ibunya dari rambutnya, namun Sarah justru semakin beringas. Dengan penuh kebencian, Sarah mendorong kepala Kalea dengan sangat kuat ke arah samping.

DUG!

Kepala Kalea membentur dinding beton di samping ranjangnya dengan keras. Kalea memekik kesakitan, matanya terpejam erat saat rasa pening yang luar biasa menghantam kesadarannya. Detik berikutnya, cairan merah kental yang hangat mulai mengalir dari dahinya, menetes melewati pelipis dan membasahi pipinya. Dahinya robek dan mengeluarkan darah.

Kalea memegangi dahinya yang terluka, menatap telapak tangannya yang kini berlumuran darah. Ia masih berusaha mencerna situasi gila ini. Mengapa semua orang menuduhnya? Mengapa ia yang diserang?

Fitri yang masih menangis sesenggukan kini mengalihkan pandangan penuh kebenciannya kepada Kalea. "Kalea! Kurang ajar kamu ya! Aku ini kakakmu! Kenapa kamu tega merayu suamiku?! Kamu sengaja mau merusak rumah tanggaku karena kamu iri denganku?!" teriak Fitri dengan suara parau, menunjuk-nunjuk wajah Kalea.

Kalea, meskipun kepalanya pening dan berdarah, sifat tegas dan tangguhnya tidak lantas hilang begitu saja. Ia menatap kakaknya dengan pandangan menantang, matanya yang biru berkilat tajam di balik tetesan darah.

"Jaga bicaramu, Mbak Fitri!" balas Kalea dengan nada tinggi dan lantang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. "Jangan menuduhku sembarangan! Aku baru saja tidur dan kalian tiba-tiba masuk ke kamarku lalu memukuliku! Aku tidak pernah menggoda suamimu! Untuk apa aku menggoda laki-laki tidak berguna seperti dia?!"

Mendengar ucapan Kalea, Fandi yang ketakutan melihat amarah Hermawan langsung mengambil kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia berpura-pura lemas di lantai, memegangi pipinya yang merah akibat tamparan Fitri, lalu menatap Hermawan dan Sarah dengan wajah memelas.

"Papa, Mama, demi Allah... Fandi tidak bersalah," bohong Fandi dengan suara bergetar, berpura-pura menjadi korban. "Fandi tadi cuma mau mengambil minum di bawah, tapi tiba-tiba Kalea memanggil Fandi dari dalam kamarnya. Dia bilang pintunya rusak. Begitu Fandi masuk, dia langsung menarik Fandi ke atas kasur dan menggoda Fandi. Fandi sudah menolak, Pa, tapi Kalea terus memaksa..."

"KAU BOHONG, BAJINGAN!" teriak Kalea murka. Ia hendak melompat dari ranjang untuk mencakar wajah Fandi, namun Shinta langsung maju menyela dengan suara yang sengaja dikeraskan untuk memprovokasi suasana.

"Tuh, kan! Apa Shinta bilang, Pa, Ma! Kalea itu memang kegatelan!" sahut Shinta dengan senyum sinis yang tersembunyi di balik wajah pura-pura prihatinnya. "Dari dulu dia kan memang suka cari perhatian. Mentang-mentang punya jabatan di hotel, dia pikir dia bisa merebut suami Mbak Fitri? Dasar tidak tahu malu! Ingat ya Kalea, kamu itu cuma anak haram di rumah ini! Statusmu itu sampah, jangan berlagak suci!"

"Diam kamu, Shinta! Kamu tidak tahu apa-apa jadi jangan asal bicara!" bentak Kalea, matanya menatap Shinta dengan kilatan amarah yang membara.

"Cukup!!!" suara bariton Hermawan Wijaya menggelegar, membungkam seluruh ruangan.

Hermawan melangkah maju dengan napas memburu. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi guratan amarah yang mendalam. Tanpa memberikan kesempatan bagi Kalea untuk menjelaskan, Hermawan melayangkan tangannya.

PLAK!

Tamparan kedua mendarat di pipi Kalea yang lain, membuat luka di dahinya kembali berdenyut menyakitkan.

"Kau benar-benar anak sialan, Kalea!" desis Hermawan dengan suara dingin yang penuh kebencian. "Kehadiranmu di keluarga ini hanya membawa aib! Sejak lahir sampai sekarang, kau tidak pernah berhenti membuatku malu!" Hermawan kemudian menoleh ke arah anak bungsunya. "Shinta! Pergi ke kamar Papa, ambil ikat pinggang kulit Papa di dalam lemari! Cepat!"

Shinta tersenyum puas. "Baik, Pa. Shinta ambilkan sekarang," jawabnya dengan nada riang yang sengaja disembunyikan, lalu segera berlari keluar kamar.

Kalea menatap ayahnya—pria yang seharusnya melindunginya, namun justru menjadi orang pertama yang selalu menyiksanya. Air mata Kalea menggenang, bukan karena ia lemah, melainkan karena rasa perih yang teramat sangat atas ketidakadilan yang ia terima. Sejak kecil, ia sudah kenyang dengan pukulan, cacian, dan makian dari keluarga ini. Status "anak haram" yang selalu mereka sematkan padanya telah menjadi cambuk yang menyakitkan sepanjang hidupnya.

"Kenapa Papa tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku?!" teriak Kalea dengan suara serak, menahan rasa sakit di kepalanya. "Setiap ada masalah di rumah ini, selalu aku yang disalahkan! Selalu aku yang dianggap kotor! Aku tidak melakukan apa yang dituduhkan si brengsek Fandi itu, Pa! Dia yang masuk ke kamarku memakai kunci cadangan! Kenapa Papa lebih percaya pada menantu asing ini daripada anak Papa sendiri?!"

"Anak?" Sarah menyela dengan tawa mengejek yang hambar. "Kamu bukan anak kami, Kalea! Kamu itu cuma anak haram yang terpaksa kami tampung agar keluarga ini tidak menanggung malu di luar sana! Jangan pernah sebut dirimu anak di rumah ini!"

Shinta kembali ke dalam kamar sambil membawa ikat pinggang kulit hitam milik Hermawan yang tebal. Ia menyerahkannya kepada sang ayah dengan pandangan mata yang mengejek ke arah Kalea.

"Ini, Pa," ujar Shinta memprovokasi lagi. "Pukul saja dia, Pa. Biar dia kapok dan tidak merusak rumah tangga Mbak Fitri lagi."

Hermawan menerima ikat pinggang itu, melipatnya menjadi dua, lalu mengayunkannya dengan kuat ke arah Kalea.

TAAAKKK!

Sabetan ikat pinggang kulit itu mengenai lengan Kalea yang terbuka. Rasa panas dan perih seketika menjalar di kulitnya, meninggalkan bekas kemerahan yang tebal. Kalea memekik, namun ia segera menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia menolak untuk menangis meraung-raung di depan mereka. Ia tidak akan membiarkan orang-orang kejam ini melihatnya hancur.

"Pukul saja terus, Pa! Pukul!" teriak Kalea dengan berani, matanya yang biru menatap lurus ke dalam netra ayahnya yang penuh amarah. "Siksa aku sesuka hati kalian! Tapi sampai kapan pun, kebenaran tidak akan berubah! Suami Mbak Fitri yang brengsek, dan kalian semua adalah orang-orang buta yang memelihara ular di dalam rumah ini!"

"Kau masih berani menjawab?!" Hermawan kembali mengangkat ikat pinggangnya, siap melayangkan sabetan berikutnya.

Keributan yang luar biasa besar dan suara teriakan histeris itu akhirnya membuat para pembantu yang tinggal di paviliun belakang rumah terbangun. Beberapa asisten rumah tangga dan penjaga malam mengintip dari balik pintu koridor yang terbuka dengan wajah penuh ketakutan. Mereka melihat bagaimana Kalea yang berdarah-darah di atas kasur sedang dihujani kemarahan oleh seluruh anggota keluarga Wijaya. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju untuk melerai. Mereka tahu betul bagaimana kejamnya perlakuan keluarga itu kepada Kalea selama bertahun-tahun.

Fitri menarik tangan Fandi dengan kasar untuk berdiri. "Awas kamu ya, Fandi! Urusan kita belum selesai di kamar!" bentak Fitri, lalu menyeret suaminya keluar dari kamar Kalea tanpa memedulikan adiknya yang terluka.

Hermawan menurunkan ikat pinggangnya setelah napasnya mulai terengah-engah. Ia menatap Kalea dengan pandangan jijik seolah-olah sedang melihat tumpukan sampah. "Mulai besok, bersihkan kekacauan yang kamu buat! Kalau sampai masalah ini terdengar oleh kolega bisnis Papa, Papa tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini, anak haram!" ancam Hermawan dengan suara rendah yang penuh penekanan.

Sarah memberikan tatapan sinis terakhirnya, lalu berbalik pergi mengikuti suaminya. Shinta, yang berdiri paling akhir di ambang pintu, menatap Kalea yang terduduk lemas di atas kasur dengan senyuman kemenangan yang sangat lebar.

"Selamat menikmati malammu, Kakak haram," bisik Shinta tanpa suara, lalu menutup pintu kamar Kalea dengan keras.

BAM!

Suasana kamar seketika kembali sunyi, menyisakan kegelapan dan aroma darah yang menusuk hidung.

Kalea perlahan menurunkan tangannya dari dahinya. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang kemerahan akibat tamparan. Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang selalu terbelenggu oleh takdir yang kejam. Di dalam kamar yang dingin itu, Kalea bersumpah dalam hati bahwa ia akan membalas semua rasa sakit ini suatu hari nanti.

EPISODE 2 : SATU-SATUNYA DEKAPAN DI TENGAH BADAI

Malam semakin larut dan dingin terasa menusuk tulang. Di dalam kamar yang berantakan itu, Kalea Azzahra Putri Wijaya masih terduduk lemas di atas lantai. Tubuhnya bersandar pada kaki ranjang. Tangan kanannya gemetar saat memegang selembar tisu untuk mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Bibir mungil itu sobek akibat tamparan keras dari ayah dan ibunya. Setiap kali tisu itu menyentuh lukanya, Kalea harus meringis menahan rasa perih yang luar biasa.

Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung. Bukan hanya fisik yang sakit, tetapi jiwanya hancur berkeping-keping. Mengapa takdir begitu kejam padanya? Mengapa ia harus lahir di tengah keluarga yang menganggapnya sebagai musuh dan sampah?

Cklek...

Suara pintu kamar terbuka dengan sangat pelan. Kalea langsung menengadah dengan waspada. Matanya yang biru berkilat, bersiap untuk membela diri jika ada orang lain lagi yang datang untuk menghinanya. Namun, begitu melihat siapa yang melangkah masuk, pertahanan Kalea runtuh seketika.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster sederhana masuk sambil membawa sebaskom air hangat dan kotak obat. Wanita itu adalah Bi Minah. Beliau adalah pengasuh sekaligus kepala pelayan di rumah itu yang sudah ikut bekerja sejak Kalea masih bayi. Di rumah megah yang penuh dengan kepalsuan ini, hanya Bi Minah yang tulus menyayangi Kalea. Pelayan yang lain memilih untuk menjauhi Kalea karena takut terkena amarah dari majikan besar mereka.

"Non Kalea..." bisik Bi Minah dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Melihat kondisi Kalea yang berdarah-darah, Bi Minah langsung meletakkan baskom di lantai. Beliau berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Kalea dengan sangat erat. Kalea yang biasanya bersikap tegar dan keras kepala, kini tidak bisa menahannya lagi. Ia membalas pelukan Bi Minah dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu wanita paruh baya itu sambil menangis sejadi-jadinya.

"Bibi... Sakit sekali, Bi... Kenapa mereka jahat sekali sama Kalea? Apa salah Kalea, Bi?" tangis Kalea pecah. Suaranya terdengar begitu pilu hingga menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.

Bi Minah mengusap punggung Kalea dengan penuh kasih sayang. Air mata wanita tua itu juga ikut mengalir deras membasahi pipinya yang sudah keriput. "Menangislah, Non. Keluarkan semuanya. Bibi di sini. Bibi tahu Non Kalea tidak salah. Bibi tahu Non Kalea anak baik."

"Kalea tidak menggoda Mas Fandi, Bi! Demi Allah, Kalea lagi tidur! Laki-laki brengsek itu yang masuk ke kamar Kalea!" seru Kalea di sela-sela tangisnya. Suaranya serak dan penuh amarah yang terpendam.

"Iya, Non. Bibi percaya. Bibi tahu betul bagaimana sifat Non Kalea dari kecil. Non Kalea tidak mungkin melakukan hal serendah itu," ucap Bi Minah sambil mengecup puncak kepala Kalea yang tertutup rambut kusutnya. "Mari, Non, kita obati dulu lukanya. Ya Tuhan, dahi Non juga berdarah sampai seperti ini."

Bi Minah melepaskan pelukannya perlahan. Dengan tangan yang gemetar karena sedih dan geram, beliau mengambil kapas lalu mencelupkannya ke dalam air hangat. Dengan sangat hati-hati, Bi Minah membersihkan darah segar yang mengalir di dahi dan bibir sobek Kalea.

"Aw... Pelan-pelan, Bi. Perih sekali," keluh Kalea sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

"Maaf ya, Non. Tahan sebentar ya sayang. Hati Bibi rasanya hancur melihat Non seperti ini. Tega sekali Tuan dan Nyonya melakukan ini pada anak kandung mereka sendiri," kata Bi Minah dengan suara terisak. Beliau benar-benar tidak habis pikir dengan kekejaman keluarga Wijaya.

Kalea membuka matanya yang biru jernih, menatap Bi Minah dengan pandangan yang kosong namun penuh kepedihan. "Anak kandung, Bi? Tadi Mama bilang apa? Mama bilang Kalea ini cuma anak haram. Mereka bilang darah Kalea ini kotor. Sebenarnya... Kalea ini anak siapa, Bi? Kenapa Papa dan Mama benci sekali melihat Kalea hidup?"

Bi Minah tertegun mendengar pertanyaan itu. Tangannya yang sedang memegang kapas sempat terhenti di udara. Ada rasa ragu dan kesedihan yang mendalam di mata Bi Minah, namun beliau segera menguasai diri. Beliau mengusap air mata di pipi Kalea dengan lembut.

"Jangan dengarkan ucapan mereka, Non. Apapun yang mereka katakan, Non Kalea adalah anak yang berharga. Non Kalea tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan sukses. Non bisa jadi manajer hotel tanpa bantuan sepeser pun dari mereka. Non harus kuat," ujar Bi Minah mencoba memberi semangat.

"Kalea selalu mencoba untuk kuat, Bi. Selama 24 tahun Kalea bertahan dari semua pukulan dan cacian mereka. Kalea diam saat Shinta merebut semua barang Kalea. Kalea diam saat Mbak Fitri selalu menghina Kalea. Tapi malam ini... Malam ini keterlaluan, Bi! Mereka membiarkan Mas Fandi bebas tanpa salah, sementara Kalea dipukuli menggunakan ikat pinggang seperti binatang!" Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa benci yang mendalam mulai tumbuh menggantikan rasa sedihnya.

"Gusti Allah tidak tidur, Non. Orang-orang yang berbuat jahat pasti akan mendapatkan balasannya. Mas Fandi itu ular, suatu hari kelicikannya pasti akan terbongkar sendiri," kata Bi Minah sambil menempelkan plester di dahi Kalea yang robek.

Kalea menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat meluap. Ia mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya dengan kasar. Sisi tangguh dan "bar-bar" di dalam dirinya kini kembali bangkit. Ia tidak boleh terus-menerus meratap. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat Shinta serta keluarganya tertawa puas.

"Bibi benar. Kalea tidak boleh lemah. Mulai besok, Kalea akan tetap masuk kerja ke hotel seperti biasa. Kalea tidak akan membiarkan luka-luka ini menghentikan karier Kalea," ucap Kalea dengan nada suara yang kembali tegas dan penuh tekad.

"Tapi Non, kondisi Non masih lemah. Apa tidak sebaiknya Non istirahat dulu di rumah satu hari?" tanya Bi Minah dengan raut wajah khawatir.

Kalea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Bi. Kalau Kalea tetap tinggal di rumah ini besok, mereka pasti akan terus-menerus mengintimidasi dan menyindir Kalea. Lebih baik Kalea sibuk di hotel. Dan satu hal lagi, Bi... Kalea bersumpah, Kalea tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Suatu hari nanti, mereka semua yang harus berlutut meminta maaf kepada Kalea!"

Bi Minah tersenyum tipis melihat binar keberanian yang kembali muncul di mata biru sang nona muda. Beliau mengelus tangan Kalea dengan penuh rasa bangga. "Bibi akan selalu mendukung Non Kalea. Apapun yang terjadi, Bibi selalu ada di belakang Non."

"Terima kasih banyak ya, Bi. Cuma Bibi yang Kalea punya di rumah neraka ini," ucap Kalea tulus sambil tersenyum kecil, meskipun senyuman itu membuat sudut bibirnya yang sobek kembali terasa sedikit nyeri.

Malam itu, di bawah penjagaan dan kasih sayang tulus dari Bi Minah, Kalea akhirnya bisa kembali berbaring di ranjangnya untuk beristirahat. Meskipun hatinya masih menyisakan luka yang amat dalam, dendam dan tekad untuk bangkit telah tertanam kuat di dalam dadanya. Takdir mungkin sedang membelenggunya saat ini, namun Kalea berjanji bahwa ia yang akan memegang kendali atas hidupnya sendiri di masa depan.

...****************...

Sementara di kamar Kalea suasananya penuh dengan air mata dan kasih sayang tulus dari Bi Minah, kondisi yang jauh berbeda terjadi di kamar sebelah. Kamar mewah bernuansa modern minimalis milik Fitri Amelia Wijaya dan Fandi Achmad Mahendra malam itu mendadak berubah menjadi arena perdebatan yang sangat panas. Suara napas memburu dan langkah kaki yang menghentak lantai terdengar jelas di balik pintu kayu yang tertutup rapat.

Fitri berjalan mondar-mandir di depan ranjangnya dengan wajah yang memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya bergetar hebat, sementara air matanya menghapus riasan tipis di wajah cantiknya. Fitri yang berusia 29 tahun bukan hanya seorang wanita angkuh di rumah ini. Di luar sana, ia adalah seorang Dokter Spesialis Jantung yang sangat terkenal di sebuah rumah sakit swasta elit. Ia terbiasa dihormati oleh pasien dan rekan sejawatnya, sehingga melihat suaminya berada di atas ranjang adik iparnya sendiri adalah pukulan telak bagi harga dirinya yang setinggi langit.

"Kamu bajingan, Mas! Kamu benar-benar bajingan!" maki Fitri dengan suara melengking, menunjuk tepat ke arah wajah suaminya. "Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini padaku?! Kurang apa aku selama ini, Mas?! Aku punya karier, aku dokter spesialis, posisiku terhormat! Tapi kamu malah mengendap-endap ke kamar anak haram itu!"

Fandi yang berdiri di dekat lemari pakaian langsung memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. Pria yang bekerja sebagai Manajer Keuangan itu tahu betul bahwa posisinya sedang terancam. Jika Fitri menceraikannya, ia akan kehilangan semua fasilitas mewah dan sokongan dana dari keluarga besar Wijaya. Ia harus memutar otak secepat mungkin untuk menjatuhkan seluruh kesalahan kepada Kalea.

"Astagfirullah, Sayang... Demi Allah, Mas tidak pernah berniat seperti itu," panggil Fandi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat gemetar dan penuh kepalsuan. Ia perlahan melangkah mendekati istrinya. "Dengarkan Mas dulu, jangan terpancing emosi karena ulah wanita gatel itu!"

"Jangan mendekat!" bentak Fitri, mundur satu langkah untuk menghindar. "Mataku sendiri melihat kamu sedang menindih dia di atas kasur, Mas! Kamu mau cium dia! Jangan kira aku bodoh dan bisa kamu bohongi begitu saja dengan kata-kata manismu!"

Fandi menarik napas dalam-dalam, lalu berpura-pura frustrasi. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar, seolah-olah ia adalah korban yang paling menderita malam ini. "Mas justru yang dijebak, Mas! Mas bersumpah! Kamu tahu sendiri kan bagaimana kelakuan adikmu yang tidak jelas asal-usulnya itu? Mas tadi cuma mau ke dapur lewat depan kamarnya karena haus. Tiba-tiba dia membuka pintu, menarik tangan Mas ke dalam, lalu langsung mengunci pintunya dari dalam!"

"Lalu kenapa kamu tidak teriak atau memukulnya kalau kamu memang menolak?!" tanya Fitri, matanya menatap tajam, mencari celah kebohongan di wajah suaminya.

"Mas terkejut, Mas terpaku!" seru Fandi meyakinkan, nadanya naik satu oktav untuk mempertegas kebohongannya. "Dia langsung menjatuhkan dirinya ke kasur dan menarik baju Mas sampai Mas ikut jatuh menindih tubuhnya. Mas bersumpah demi apa pun, Mas merasa sangat jijik, Fitri! Jangankan mau menyentuh dia, melihat matanya yang biru aneh itu saja Mas selalu merasa ngeri! Dia itu cuma anak haram yang haus perhatian karena semua orang di rumah ini mengabaikannya!"

Fandi melihat raut wajah istrinya mulai sedikit goyah. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan gerakan perlahan yang penuh taktik, Fandi maju dan langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Fitri. Meskipun Fitri sempat memberontak dan mencoba mendorong dada suaminya, Fandi mempererat pelukannya, mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa kabur.

"Lepas, Mas! Lepas!" usir Fitri dengan ketus, namun kekuatannya mulai melemah karena kelelahan emosi.

"Tidak, Mas tidak akan melepasmu sebelum kamu percaya pada suamimu sendiri," bisik Fandi dengan suara serak yang seksi tepat di dekat telinga Fitri. Pria itu menundukkan kepalanya, lalu mulai mendaratkan ciuman-ciuman lembut yang basah di sepanjang leher jenjang Fitri, mencoba membakar gairah istrinya yang sedang murka. "Mas hanya cinta sama kamu, Fitri. Kamu istri Mas yang hebat, seorang dokter spesialis jantung yang cantik dan dihormati semua orang. Mana mungkin Mas berpaling pada sampah seperti Kalea? Dia tidak ada apa-apanya dibanding kamu."

Fitri memejamkan matanya, napasnya mulai memburu bukan lagi karena amarah, melainkan karena sentuhan-sentuhan manipulatif dari suaminya yang sangat pandai mengambil hati. "Tapi kejadian tadi... Papa sampai memukul dia dengan ikat pinggang karena kamu, Mas..."

"Dia memang pantas mendapatkan itu, sayang," potong Fandi sambil terus menciumi leher Fitri dengan penuh nafsu. "Dia harus diberi pelajaran supaya tahu diri dan tidak berani lagi menggoda suami kakaknya sendiri. Mas benci sekali melihat mukanya yang sok polos itu. Mas merasa sangat kotor karena sudah menyentuh kulitnya tadi, rasanya Mas ingin mandi memakai sabun antiseptik berkali-kali untuk menghilangkan bekas wanita murahan itu dari tubuh Mas."

Mendengar kata-kata Fandi yang begitu menjelek-jelekkan Kalea, rasa cemburu dan amarah Fitri perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa puas yang egois. Ia merasa menang atas Kalea. Kebenciannya kepada adiknya itu membuat Fitri dengan mudah menelan bulat-bulat semua kebohongan suaminya.

Fandi menghentikan ciumannya sejenak, lalu menatap lurus ke dalam mata Fitri dengan pandangan yang penuh gairah yang dibuat-buat. "Sudah ya, jangan bahas anak haram itu lagi. Malam ini Mas mau membuktikan seberapa besar cinta Mas cuma untuk kamu."

Fitri mendengus pelan, namun tangannya kini sudah beralih melingkar di leher Fandi. "Kamu benar-benar pandai bicara ya, Mas. Awas saja kalau kamu berbohong lagi padaku."

Fandi tersenyum menang di dalam hati. Kelicikannya berhasil seratus persen. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Fitri dengan lembut sebelum berbisik kembali dengan nada menggoda, "Pikirkan saja pernikahan kita, sayang. Kita sudah menikah selama dua tahun, tapi rumah ini masih terasa sepi karena belum ada tangisan bayi. Bagaimana kalau malam ini kita gunakan untuk program membuat anak lagi? Mas ingin sekali punya anak yang cerdas dan cantik sepertimu."

Mendengar ajakan suaminya tentang memiliki anak, pertahanan Fitri runtuh sepenuhnya. Keinginan mendalam untuk segera menimang momongan setelah dua tahun menanti membuat Fitri melupakan semua kejadian mengerikan di kamar Kalea beberapa menit yang lalu.

"Mas... Tapi ini sudah lewat tengah malam," ucap Fitri dengan suara yang melembut, berpura-pura malu.

"Tidak ada kata terlambat untuk membuat buah hati kita, sayang," jawab Fandi dengan senyuman mesum yang tersembunyi. Pria itu langsung menggendong tubuh Fitri ke atas ranjang mereka, menenggelamkan malam jahanam itu ke dalam kepalsuan cinta yang penuh dengan kelicikan dan manipulasi untuk menutupi kebusukan hatinya sendiri.

EPISODE 3 : RAHASIA LAMA DAN KEMARAHAN DI KAMAR UTAMA

Di lantai dua yang lain, tepatnya di dalam kamar utama yang luas dan berlantai marmer mewah, suasana tidak kalah tegang. Kamar milik Hermawan Wijaya dan Sarah Wijaya itu tampak sunyi, namun hawa dingin kecurigaan berembus kencang di antara pasangan suami istri yang sudah menikah selama puluhan tahun tersebut.

Sarah berdiri di depan meja riasnya. Ia sedang mengoleskan krim malam ke wajahnya dengan gerakan yang kasar dan menghentak. Matanya yang tajam berkilat penuh kepuasan saat bayangan Kalea yang dipukuli dengan ikat pinggang tadi kembali terlintas di benaknya. Bagi Sarah, setiap tetes darah dan air mata yang keluar dari tubuh Kalea adalah sebuah kemenangan besar.

"Puas rasanya hatiku melihat anak haram itu dicambuk tadi, Pa," ujar Sarah memecah keheningan dengan nada suara yang penuh kebencian. "Perempuan tidak tahu diri seperti dia memang harus sering-sering diberi pelajaran. Kalau tidak, dia akan terus-menerus membawa sial dan merusak nama baik keluarga kita!"

Namun, tidak ada jawaban dari sang suami.

Sarah membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia mendapati Hermawan sedang duduk termenung di tepi ranjang berukuran besar mereka. Ikat pinggang kulit yang tadi digunakannya untuk memukul Kalea tergeletak begitu saja di lantai dekat kakinya. Kedua tangan Hermawan saling bertautan, dan tatapan matanya kosong menatap lurus ke arah lantai kayu. Pria paruh baya itu tampak melamun jauh, seolah jiwanya tidak sedang berada di dalam kamar tersebut. Ada guratan rasa bersalah, lelah, dan penyesalan yang samar di wajah tegasnya.

Melihat suaminya melamun seperti itu, senyuman puas di wajah Sarah seketika lenyap. Rasa hangat amarah dan kecemburuan lama mendadak mendidih di dalam dadanya.

"Pa! Kamu dengar aku bicara tidak, sih?!" bentak Sarah sambil berjalan mendekati ranjang dengan langkah kaki yang menghentak keras. "Aku sedang bicara bersamamu, Hermawan! Kenapa kamu malah melamun begitu?! Apa yang sedang kamu pikirkan, hah?!"

Hermawan tersentak dari lamunannya. Ia mendongak perlahan, menatap istrinya dengan pandangan yang tampak sangat lelah. "Tidak ada apa-apa, Mama. Papa cuma lelah. Kejadian malam ini benar-benar menguras energi," jawab Hermawan dengan suara berat dan pelan.

"Lelah? Atau kamu sedang meratapi nasib anak haram itu?!" cecar Sarah, suaranya naik beberapa oktav, melengking memecah kesunyian kamar. Tangannya bersedekap di dada, menatap suaminya dengan pandangan menuduh. "Jangan kira aku tidak tahu ya, Pa! Kamu melamun seperti ini pasti karena kamu merasa bersalah setelah memukul Kalea tadi, kan?! Kamu merasa kasihan melihat dahi perempuan itu berdarah karena doronganku tadi?!"

Hermawan memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Mama, sudahlah. Masalah tadi sudah selesai. Kalea sudah dihukum, Fandi dan Fitri juga sudah kembali ke kamar mereka. Untuk apa kita bahas ini lagi malam-malam begini?"

"Tentu saja harus dibahas!" teriak Sarah, wajahnya memerah padam karena murka. Ia melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di depan Hermawan yang masih duduk. "Lihat sikapmu ini! Setiap kali anak haram itu terluka, kamu selalu berubah menjadi pendiam dan melamun seperti orang bodoh! Kenapa, Pa? Apa karena setiap kali kamu melihat wajah Kalea, kamu selalu teringat pada jalang itu?! Kamu teringat pada wanita masa lalumu itu, kan?!"

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sarah, tubuh Hermawan seketika menegang. Matanya yang tadi sayu mendadak melebar, menatap Sarah dengan kilatan kemarahan yang tertahan. "Mama! Jaga bicaramu! Jangan pernah bawa-bawa wanita itu ke dalam masalah ini!" bentak Hermawan, suaranya terdengar bergetar menahan emosi yang meluap.

"Kenapa?! Kenapa aku tidak boleh menyebut wanita itu?!" tantang Sarah, sama sekali tidak takut dengan gertakan suaminya. Ia justru tertawa mengejek, tawa yang penuh dengan rasa sakit hati dan dendam masa lalu yang belum pernah usai. "Kamu takut rahasia busukmu terbongkar lagi? Kamu takut aku mengingatkanmu bahwa Kalea itu adalah bukti nyata dari pengkhianatanmu dengan wanita itu?! Kamu memukul Kalea tadi bukan karena kamu marah dia menggoda Fandi, tapi karena kamu benci melihat kenyataan bahwa anak dari wanita itu tumbuh menjadi pengingat atas dosa masa lalumu!"

"CUKUP, SARAH!" Hermawan berdiri dari ranjang dengan napas yang memburu naik turun. Dadanya bergemuruh hebat. "Jangan pernah sebut wanita itu lagi di rumah ini! Kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu! Wanita itu sudah lama pergi dan tidak ada hubungannya lagi dengan apa yang terjadi malam ini!"

"Dia memang sudah pergi, tapi dia meninggalkan sampahnya di sini! Dia meninggalkan Kalea untuk merusak hidupku!" jerit Sarah hysteris, air matanya mulai mengalir karena rasa cemburu yang membakar hatinya selama 24 tahun ini. "Setiap kali aku melihat mata biru Kalea, aku selalu melihat mata jalang itu, Hermawan! Aku membenci mata itu! Aku membenci keberadaan Kalea di rumah ini! Dan yang paling membuatku muak adalah melihatmu diam-diam masih menyimpan rasa sayang dan bersalah pada anak yang dilahirkan oleh wanita itu!"

Hermawan menghela napas kasar yang terdengar sangat berat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya yang terasa siap meledak kapan saja. Berdebat dengan Sarah tentang masa lalu adalah hal yang paling ia hindari, karena istrinya itu tidak akan pernah mau mendengarkan logika jika sudah dikuasai oleh rasa cemburu.

"Aku tidak pernah membedakan mereka, Sarah," ucap Hermawan dengan suara yang melemah, terdengar sangat frustrasi. "Aku memukulnya tadi karena dia sudah berani melanggar norma di rumah ini. Aku menjaga nama baik keluarga kita, bukan karena hal lain."

"Bohong! Kamu bohong, Hermawan!" tuduh Sarah sambil memukul dada Hermawan dengan kepalan tangannya. "Kalau kamu benar-benar membencinya seperti aku membencinya, kamu pasti sudah mengusirnya dari dulu! Tapi kamu tetap menahannya di sini, memberinya fasilitas, bahkan membiarkannya bekerja! Kamu membiayai kuliahnya sampai lulus! Kamu melindunginya karena kamu masih mencintai wanita masa lalumu itu melalui Kalea!"

Hermawan tidak membalas pukulan tangan Sarah pada dadanya. Ia hanya berdiri mematung dengan tatapan mata yang dipenuhi keletihan batin yang luar biasa. Baginya, kamar ini sudah berubah menjadi ruang sidang yang menyiksa. Teriakan dan tuduhan Sarah terasa seperti paku-paku tajam yang menghantam kepalanya yang sudah sangat pening.

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun lagi, Hermawan membalikkan tubuhnya. Ia berjalan menjauh dari ranjang, mengabaikan Sarah yang masih terus berteriak memanggil namanya dengan penuh amarah.

"Hermawan! Mau ke mana kamu?! Aku belum selesai bicara! Jangan berani-berani mengabaikan aku!" teriak Sarah dari belakang.

Hermawan tidak memedulikan panggilan itu. Ia membuka pintu kamar mandi yang berada di sudut kamar tidurnya, melangkah masuk ke dalam, lalu menutup pintu kaca tebal itu dengan rapat. Klik. Suara kunci pintu kamar mandi berputar, memisahkan dirinya dari lengkingan suara sang istri yang masih terdengar samar dari luar.

Di dalam kamar mandi yang sunyi, Hermawan bersandar pada wastafel marmer. Ia menyalakan keran air, membiarkan suara gemercik air memenuhi ruangan kecil tersebut. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya. Rambutnya yang mulai memutih dan kerutan di dahinya menunjukkan betapa banyak beban rahasia yang ia pikul selama ini.

Hermawan kembali menghela napas kasar, lalu mengambil air dengan kedua tangannya untuk membasuh wajahnya yang terasa panas. Air dingin itu sedikit meredakan ketegangannya, namun ingatan tentang mata biru Kalea yang menatapnya penuh luka di kamar sebelah tadi tetap tidak bisa hilang dari benaknya. Hubungan gelap masa lalu, kemarahan Sarah yang abadi, dan status Kalea sebagai "anak haram" di rumah ini adalah belenggu takdir yang tampaknya tidak akan pernah bisa ia lepaskan sampai akhir hayatnya.

...****************...

Di luar pintu kamar utama, kegelapan koridor lantai dua menjadi saksi bisu dari kehadiran sesosok bayangan. Shinta Kirana Wijaya berdiri mematung dengan punggung menempel pada dinding dingin. Napasnya ditahan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Kedua telinganya terpasang tajam, menangkap setiap patah kata dari pertengkaran hebat antara Hermawan dan Sarah yang baru saja pecah di dalam sana.

Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ibunya mengenai masa lalu sang ayah, jemari Shinta mengepal kuat. Kuku-kukunya yang panjang dan terawat menekan telapak tangannya hingga memutih. Rasa panas menjalar di dadanya, memicu gelombang kebencian yang jauh lebih besar terhadap Kalea.

"Jadi benar... dia memang anak dari wanita masa lalu Papa," batin Shinta dengan penuh kedengkian.

Kenyataan itu membuat Shinta semakin membencinya. Sejak kecil, Shinta selalu merasa tersisih setiap kali orang-orang di luar rumah memuji kecantikan Kalea. Mata biru alami yang dimiliki Kalea selalu menjadi pusat perhatian, sementara Shinta harus puas berada di bawah bayang-bayang pesona kakaknya itu. Kerutan di wajah Shinta mengencang saat menyadari bahwa kecantikan Kalea yang sering dipuji orang adalah warisan dari wanita lain yang pernah dicintai ayahnya.

Setelah memastikan perdebatan di kamar orang tuanya mereda dengan suara pintu kamar mandi yang dikunci, Shinta membalikkan tubuh. Langkah kakinya yang ringan membawanya kembali menuju kamarnya sendiri yang terletak di ujung koridor. Begitu menutup pintu kamar, Shinta langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar bernuansa merah muda.

Sebuah helaan napas lega keluar dari bibirnya. Mengingat kembali bagaimana kekacauan di kamar Kalea tadi, rasa puas yang luar biasa membuncah di dalam hatinya. Rencananya untuk menjatuhkan Kalea di depan seluruh keluarga berjalan dengan sangat sempurna tanpa hambatan.

"Rasakan itu, Kalea," gumam Shinta pada langit-langit kamarnya, bibirnya melengkung membentuk senyuman kemenangan yang sangat lebar. "Kamu pikir kamu bisa terus berlagak suci di rumah ini? Sekarang semua orang menganggapmu sampah."

Cklek...

Keheningan kamar Shinta mendadak terpecah. Gagang pintu kamarnya bergerak ke bawah, dan pintu itu perlahan terbuka. Shinta langsung menoleh dengan cepat, bersiap untuk memaki siapa pun yang berani masuk tanpa mengetuk pintu. Namun, begitu sosok pria jangkung melangkah masuk dari balik kegelapan koridor, amarah di wajah Shinta langsung berganti menjadi binaran mata yang penuh dengan kepuasan.

Pria itu adalah Fandi Achmad Mahendra.

Suami dari kakak tertuanya itu menyelinap masuk dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada pelayan atau anggota keluarga lain yang melihat pergerakannya. Fandi segera berbalik, memutar anak kunci dari dalam hingga terdengar suara klik yang mengunci ruangan itu dari dunia luar.

"Mas Fandi?" panggil Shinta dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat manja dan lembut.

Tanpa membuang waktu, Shinta langsung melompat dari atas kasurnya. Ia berlari kecil ke arah Fandi dan langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu. Kedua kakinya melingkar erat di pinggang Fandi, bergelayut manja seperti bayi dalam gendongan. Fandi dengan sigap menahan tubuh Shinta, melingkarkan kedua tangannya di bawah paha adik iparnya tersebut.

"Kamu berani sekali datang ke sini, Mas? Bagaimana kalau Mbak Fitri bangun?" tanya Shinta, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Fandi dengan tatapan penuh provokasi.

Fandi terkekeh sinis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shinta sejenak sebelum mendongak kembali. "Mbakmu itu sudah tidur pulas setelah Mas buat kelelahan. Dia sama sekali tidak akan tahu kalau suaminya sedang berada di kamar adiknya sekarang."

"Oh ya? Jadi Mas baru saja melayaninya?" Shinta mencibir, berpura-pura merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. "Lalu kenapa sekarang malah datang ke kamarku? Kurang puas?"

"Tentu saja kurang, Shinta," bisik Fandi dengan nada suara yang berat dan serak. Pandangan matanya menatap tajam bibir Shinta yang kemerahan. "Melayani kakakmu itu terasa sangat hambar. Dia terlalu kaku sebagai seorang dokter spesialis jantung, selalu sibuk memikirkan pekerjaannya bahkan di atas ranjang. Mas tidak tahan lagi, Mas mau kamu malam ini."

Mendengar pengakuan itu, senyuman lebar kembali mengembang di wajah Shinta. Rasa kemenangan karena berhasil merebut perhatian suami kakaknya sendiri memberikan kepuasan ego yang tak ternilai bagi dirinya. Tanpa banyak bicara lagi, Shinta memajukan wajahnya dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Fandi.

Mereka berdua terlibat dalam ciuman yang sangat intens dan penuh gairah di dekat pintu yang terkunci. Kedua lidah mereka saling bertautan dan menari dengan liar, bertukar saliva tanpa memedulikan status hubungan mereka yang terlarang di dalam rumah tersebut. Fandi melangkah mundur perlahan sambil tetap menggendong Shinta, membawa tubuh gadis itu menuju ke arah ranjang.

Begitu bagian belakang lutut Fandi menyentuh tepi kasur, ia menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang yang empuk dengan posisi Shinta yang berada di bawah himpitan tubuh kekarnya. Ciuman mereka terlepas sejenak, menyisakan napas yang memburu dari kedua belah pihak.

"Mas... pelan-pelan," desis Shinta dengan napas yang terengah-engah, tangannya mulai bergerak liar membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Fandi satu demi satu.

Fandi tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang kasar dengan cepat membantu Shinta untuk melepaskan pakaian tidur yang melekat pada tubuh gadis itu. Di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang, keduanya dengan cepat menanggalkan pakaian masing-masing hingga tidak ada lagi penghalang yang memisahkan kulit mereka.

Fandi kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan ciuman panasnya yang kini mulai turun ke area leher dan selangka Shinta, meninggalkan tanda-tanda kemerahan yang disengaja di sana. Sentuhan-sentuhan manipulatif dan penuh nafsu dari Fandi membuat Shinta sepenuhnya terbuai, melupakan seluruh batasan moral dan norma keluarga.

Ruangan kamar yang luas itu kini hanya dipenuhi oleh suara gesekan kain seprai dan deru napas yang saling bersahutan di tengah malam yang semakin jahanam.

"Mas... ahhhh..." desah Shinta dengan suara parau yang tertahan, kedua matanya terpejam erat saat merasakan sentuhan Fandi yang semakin berani dan intens pada tubuhnya. "Enak, Mas-ku sayang... ahhhh... lebih cepat lagi..."

Fandi mempercepat pergerakannya, mengabaikan segala rasa bersalah yang seharusnya ada di dalam dadanya. Pria itu sepenuhnya dikuasai oleh hasrat bejat yang selama ini terpendam di balik kedoknya sebagai menantu yang baik di keluarga Wijaya. Di atas ranjang tersebut, mereka melanjutkan aksi terlarang mereka, saling memuaskan nafsu satu sama lain tanpa memikirkan kehancuran besar yang sedang mereka persiapkan untuk masa depan keluarga mereka sendiri, terutama bagi Kalea yang saat itu sedang meratapi nasibnya di kamar sebelah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!