NovelToon NovelToon

Sumpah Badai

Deklarasi dipuncak gunung

Suatu sore yang hangat, keheningan pinggiran desa pecah oleh sebuah suara.Srek... tak... tak...Itu adalah suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa namun penuh energi. Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun berlari membelah kerumunan warga desa. Wajahnya yang polos tampak begitu riang, sama sekali tidak peduli pada pandangan heran orang-orang di sekitarnya.Tujuannya hanya satu: hutan di kaki gunung.Dengan napas yang mulai memburu dan terengah-engah, bocah itu terus memacu kakinya menanjak menuju puncak. Keringat bercucuran membasahi pakaiannya, menetes melewati pipinya yang memerah karena kelelahan. Namun, langkahnya tidak melambat sedikit pun. Semangat yang membakar dadanya jauh lebih kuat daripada rasa lelah di kakinya.Begitu menginjakkan kaki di puncak gunung yang menghadap langsung ke hamparan dunia luar, dia berhenti. Dia menghirup oksigen banyak-banyak, mengisi paru-parunya yang terasa panas. Sambil mendongak ke langit sore, dia berteriak sekuat tenaga."Namaku Yuse Yatama! Aku akan menjadi ksatria nomor satu di dunia!"Suaranya menggema di antara pepohonan dan tebing gunung. Teriakan itu bukanlah bualan kosong tanpa alasan. Sepanjang sore itu, bayangan kejadian siang tadi terus menari-nari di kepalanya. Di pusat kota kerajaan Palipurna, Yuse melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sang jenderal nomor satu di kerajaan, Jenderal Aloska.Sosok Aloska begitu mengintimidasi sekaligus mengagumkan. Badannya kekar tegap bagai batu karang, mengenakan zirah yang berkilau di bawah matahari. Di medan perang, dia adalah legenda hidup yang dijuluki sebagai "Sanca Maut". Kehadiran sang jenderal telah menyalut api di dalam jiwa kecil Yuse.Wajar bagi bocah seusia Yuse untuk mulai bermimpi. Namun, berbeda dengan anak-anak lain yang mimpinya mudah luntur, Yuse berbeda. Sore itu, di puncak gunung yang sunyi, dengan tekad yang kokoh dan senyum polos yang mengembang di wajahnya, Yuse Yatama baru saja mengunci takdirnya sendiri.

Pertemuan dengan pendekar nomor satu

Terang perlahan berubah menjadi malam. Angin berembus kencang, membuat Yuse memeluk tubuhnya sendiri.

“Dingin…” gumamnya.

Dia nggak mau sakit lagi. Jadi tanpa banyak pikir, Yuse berbalik dan berlari pulang.

Sesampainya di rumah, langkahnya terhenti.

Di depan pintu, ada seorang tamu. Seorang wanita asing duduk bersama ibunya, Cyena.

Yuse langsung masuk tanpa ragu.

“Ibu! Aku pulang!” serunya.

Cyena menoleh, wajahnya langsung melunak. Dia membuka kedua tangan.

“Akhirnya pulang. Ke mana aja kamu? Baju kamu kotor semua!”

Sambil bicara, Cyena mengacak pelan rambut Yuse yang berantakan.

Yuse nyengir lebar.

“Tadi aku ketemu Jenderal Aloska, Bu! Keren banget dia!”

Cyena tertawa kecil mendengar itu.

“Sudah-sudah, sana mandi dulu. Nanti cerita sambil makan.”

Yuse mengangguk semangat. Dia terlalu keburu senang buat nanya siapa wanita di samping ibunya.

Setelah mandi dan ganti baju bersih, dia dipanggil lagi ke ruang tengah.

“Nah, sini Yuse,” kata Cyena sambil menepuk tempat di sampingnya.

“Ini Bibi Liana. Mulai sekarang panggil dia Bibi ya.”

Yuse menatap wanita itu bingung. Wajahnya masih muda, palingan 22 tahun. Cantik, rambutnya panjang diikat kuda.

‘Kenapa harus aku panggil bibi?’ batinnya.

Dia menoleh ke ibunya, alisnya naik.

“Bu... kenapa dia harus aku panggil bibi?”

Cyena mencondongkan tubuh dan berbisik pelan di telinga Yuse.

“Dia seumuran sama Ibu.”

“MASA?!”

Yuse hampir teriak. Matanya membulat kaget.

‘Ibu kan udah kepala tiga. Tapi Bibi Liana kelihatan kayak kakak kakak sekolah!’

Sebelum Yuse bisa berkomentar lagi, Cyena sudah melanjutkan dengan bangga.

“Bibi Liana itu hebat loh. Dia pendekar wanita nomor satu di desa ini. Pernah ngusir bandit sendirian tanpa bantuan siapa-siapa.”

Mata Yuse langsung berbinar.

‘Pendekar wanita nomor satu?!’

Tanpa mikir panjang, dia langsung berlutut di depan Liana.

“Bibi! Ajarin aku jadi kuat! Jadikan aku murid Bibi!”

Liana tersentak kaget. Dia melirik Cyena cepat.

“Cyena, jangan bilang hal aneh ke anak ini!”

Cyena hanya tersenyum lirih, menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berbinar geli melihat semangat anaknya.

Yuse nggak peduli. Dia masih menatap Liana dengan mata berapi-api, tangannya menggenggam erat ujung baju Liana.

“Tolong, Bibi! Aku mau jadi ksatria nomor satu! Ajarin aku!”

Liana belum sempat menjawab. Tiba-tiba Cyena berdiri dan menepuk pelan pundak Yuse.

“Sudah, Yuse. Sana makan dulu. Nanti keburu dingin.”

Wajah Yuse langsung cemberut. Tapi matanya tetap nggak lepas dari Liana.

“Aku nggak mau pergi sebelum Bibi Liana jawab!”

Cyena menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya ketarik senyum.

“Nanti Ibu marah loh. Cepat makan.”

Yuse menggerutu pelan, pipinya menggelembung. Tapi akhirnya dia menyerah dan berjalan pelan ke dapur, kepalanya tertunduk.

Meski begitu, wajah polosnya yang penuh kecewa itu malah bikin Cyena tertawa kecil.

Liana memperhatikan semua itu, lalu bertanya pelan.

“Dia kenapa tiba-tiba kayak gini?”

Cyena duduk kembali di samping Liana, suaranya lembut.

“Dari umur tujuh tahun dia udah suka main pedang kayu. Entah kenapa. Mungkin kebawa ayahnya…”

“Begitu ya,” gumam Liana pelan, matanya melirik ke arah dapur.

Nggak lama, suara Yuse terdengar dari dapur.

“Mama! Aku udah habis makannya!”

Dia berlari kembali ke ruang tengah, matanya berbinar lagi.

“Bibi! Bibi! Jadi mau kan jadi guruku?”

Dia tersenyum lebar, penuh harap.

Liana menghela napas. Dia berjongkok supaya sejajar dengan mata Yuse.

“Yuse… sebenarnya kenapa kamu mau jadi pendekar nomor satu?”

Yuse terdiam. Alisnya mengerut bingung.

“Haaa…?”

Liana melanjutkan dengan sabar.

“Kamu mau jadi raja? Mau jadi prajurit buat melindungi negara? Atau ada alasan lain?”

Yuse menggaruk kepalanya.

“Ng… nggak kepikiran sampai situ, Bib.”

Jawaban polos itu bikin Liana terdiam sesaat. Dia kaget sekaligus bingung.

Anak ini mau jadi pendekar, tapi nggak tahu alasannya?

Liana menatap dalam-dalam mata Yuse. Di sana cuma ada satu hal: harapan yang murni, tanpa tipu-tipu.

Akhirnya dia menghela napas pelan.

“Baiklah… kalau begitu kamu ikut Bibi ke padepokan. Tapi ingat, kamu bakal jauh dari ibumu.”

Mendengar itu, Yuse langsung menoleh ke ibunya.

Cyena hanya tersenyum lembut, mengangguk pelan. Seolah berkata, _“Ibu dukung kamu.”_

Yuse berdiri tegak, dadanya membusung.

“Aku mau! Aku bakal tetap jadi pendekar! Apapun alasannya, aku bakal jadi pendekar!”

Suara semangatnya menggema di ruangan kecil itu.

Untuk pertama kalinya, langkah Yuse menuju mimpinya dimulai.

Yg tak terucap

Malam itu gelap, tapi bintang di atas jalan setapak bersinar lebih terang dari biasanya.

Dengan dikelilingi pepohonan yuse berjalan setengah berlari di samping Bibi Liana, napasnya masih tersengal karena terlalu semangat. Bagi anak seusianya, perjalanan ke padepokan terasa seperti petualangan pertama menuju dunia yang lebih besar. Bagi Liana, ini adalah jalan pulang ke masa lalu yang ia coba lupakan.

Langkah kaki mereka memecah keheningan hutan. Pepohonan tinggi di kiri-kanan seolah menjadi penjaga yang bisu.

Di bawah temaram cahaya bulan, Yuse menoleh.

“Bibi, kenapa kamu memilih jalan menjadi seorang ksatria?”

Pertanyaan itu memecah kesunyian. Sederhana, tapi berat.

Liana menghentikan langkahnya. Ia menatap Yuse lama, seolah mencari jawaban di mata polos itu. Di dalam hatinya, suara tua berbisik pilu, _‘Andai kamu tahu, Yuse… darah ksatria yang mengalir di tubuhmu adalah alasan mengapa aku harus terus menggenggam pedang ini. Untuk melindungimu dari takdir kejam yang menanti.’_

Ia menelan sesak yang tiba-tiba naik ke dadanya. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Liana mengusap kepala Yuse.

“Suatu saat nanti, kamu pasti akan tahu jawabannya.”

Yuse mengangguk, meski penasaran. Ia tidak memaksa. Baginya, jawaban Bibi sudah cukup untuk malam ini.

Perjalanan kembali berlanjut. Yuse mulai bercerita, suaranya penuh semangat.

“Waktu kecil, aku sering diam-diam lihat Ayah berlatih pedang. Gaya Ayah keren banget, Bib! Setiap ayunan rasanya bisa membelah langit.”

Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi cepat meredup.

“Tapi Ibu selalu melarang. Katanya berbahaya. Aku rasa… ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dariku.”

Liana hanya diam. Ia tahu. Tapi belum waktunya.

“Bahkan kemarin malam,” lanjut Yuse pelan, “saat Ibu melepas keberangkatanku, senyumnya aneh. Ada kekhawatiran dalam di matanya. Seolah-olah Ibu nggak rela aku pergi.”

Liana berhenti lagi. Ia menatap wajah samping keponakannya.

“Kalau kamu tahu Ibumu sekhawatir itu, kenapa masih mau pergi?”

Yuse kikuk. Ia tertawa lebar sambil menggaruk kepala.

“Aku juga nggak tahu, Bi!”

Tawa itu hilang seketika. Ia berhenti, mendongak ke langit. Jutaan bintang menyambutnya.

“Tapi aku benar-benar ingin jadi ksatria,” bisiknya. Tangannya terangkat, seolah ingin menggapai bintang.

“Aku merasa… kalau jadi ksatria, aku bisa menggapai langit dan melihat seberapa luas dunia ini.”

Liana terdiam. Ada bangga, ada takut.

Anak ini membawa harapan yang murni. Dan harapan murni di dunia ksatria… seringnya patah duluan.

“Seperti itu ya,” gumam Liana pelan. Lalu ia menepuk pundak Yuse cukup keras.

“Kalau begitu, latihanlah dengan sungguh-sungguh! Jangan malu-maluin gurumu!”

“Tentu saja!” Yuse membusungkan dada. “Aku akan jadi ksatria nomor satu!”

Canda tawa mereka mengusir dingin malam. Untuk Yuse, ini awal dari mimpi.

Untuk Liana, ini awal dari kekhawatiran yang harus ia simpan sendiri.

Namun masih ada kekhawatiran terhadap keponakannya itu, namun liana tidak bisa terlalu terlihat untuk kwatir "semoga kau menggapai apa yg kau inginkan yuse. berkata dalam hatinya dalam hatinya!"

Keduanya kembali melanjutkan langkah. Sisa perjalanan malam itu tidak lagi terasa sunyi, digantikan oleh canda tawa dan gurauan hangat yang mengusir dinginnya angin malam.

Langkah mereka semakin cepat.

dengan girang yuse bergumam "apakah itu padepokan yang akan aku tempaiti"

wah... dengan kegirangan nya

Di kejauhan, lampu padepokan mulai terlihat—tempat di mana harapan Yuse akan diuji.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!